VARIKOKEL

Putu Aryuda Bagus Hanggara, S.Ked
Npm.09310010

DEFINISI
• Varikokel adalah dilatasi abnormal dari vena
pada pleksus pampiniformis akibat gangguan
aliran darah balik vena spermatika interna.
• Varikokel merupakan salah satu penyebab
infertilitas pada pria; dan didapatkan 21-41%
pria yang mandul menderita varikokel.

Struktur Anatomi &
Histologi
•Fungsi
Testis adalah
organ genitalia pria, berjumlah 2
Testis
buah dan terletak didalam skrotum, bentuk ovoid.
• Otot kremaster yang berada di sekitar testis
memungkinkan testis dapat digerakkan mendekati
ruang abdomen untuk mempertahankan
temperatur testis agar tetap stabil.
• Testis di vaskularisasi oleh a.testikularis,
a.diferensialis, a.kremasterika, dan a.pudenda
interna.

• Aliran darah balik melalui vena testikularis
membentuk plexus pampiniformis pada
funiculus spermaticus. Plexus ini berperan
sebagai tempat pertukaran panas, sehingga
dapat mempertahankan temperatur testis
beberapa derajat dibawah temperatur
tubuh.
• Plexus ini sering melebar membentuk
varises yang disebut varicocele.

EPIDEMIOLOGI
• Prevalensi varikokel pada remaja,
berhubungan dengan infertilitas pada laki-laki.
• varikokel muncul pada kira-kira 20% populasi
laki-laki secara umum, kebanyakan terjadi
pada populasi subfertil (40%).
• Pada referensi lain disebutkan varikokel
ditemukan kira-kira pada 15% anak remaja
laki-laki dan predominan pada sisi sebelah kiri.

ETIOLOGI
• hilangnya mekanisme pompa otot atau atrofi otot
kremaster, kelemahan kongenital, proses degeneratif
pleksus pampiniformis.
• Hipertensi v. renalis atau penurunan aliran ginjal ke vena
kava inferior.
• Turbulensi dari v. supra renalis kedalam juxta v. renalis
internus kiri berlawanan dengan kedalam v. spermatika
interna kiri.
• Tekanan segment iliaka (oleh feses) pada pangkal v.
spermatika .
• Tekanan v. spermatika interna meningkat
• Sekunder : tumor retro, trombus v. renalis, hidronefrosis.

PATOGENESIS
Varikokel  mengganggu proses spermatogenesis dengan
cara:

1.
Terjadi stagnasi darah balik pada sirkulasi testis 
hipoksia
2.
Refluks hasil metabolit ginjal dan adrenal
(katekolamin dan prostaglandin) melalui vena
spermatika interna ke testis.
3.
Peningkatan suhu testis.
4.
Adanya anastomosis antara pleksus pampiniformis
kiri dan kanan  zat-zat hasil metabolit tidak dapat
dialirkan dari testis kiri ke testis kanan  menyebabkan
gangguan spermatogenesis testis kanan  infertilitas.

GEJALA KLINIS
• Pasien biasanya mengeluh belum
mempunyai anak setelah beberapa tahun
menikah, atau kadang-kadang mengeluh
adanya benjolan di atas testis yang terasa
nyeri.
• Varikokel jarang menimbulkan rasa tidak
nyaman.
• Keluhan yang biasa dimunculkan antara
lain adanya rasa sakit yang tumpul atau
rasa berat pada sisi dimana varikokel
terdapat.

PEMERIKSAAN FISIK
• Pemeriksaan dilakukan dgn pasien dalam
posisi berdiri, perhatikan keadaan
skrotum kemudian dilakukan palpasi 
bentukan seperti kumpulan cacing-cacing
di dalam kantung (bag of worms) yang
berada di sebelah kranial testis, adanya
distensi kebiruan dari dilatasi vena.
• Jika varikokel tidak terlihat secara visual,
struktur vena harus dipalpasi dengan
manuver valsava.

Secara klinis varikokel dibedakan dalam 3
tingkatan/derajat:
1. Derajat I kecil: varikokel dapat dipalpasi
setelah pasien melakukan manuver valsava
2. Derajat II sedang: varikokel dapat dipalpasi
tanpa melakukan manuver valsava
3. Derajat III besar: varikokel sudah dapat
dilihat bentuknya tanpa melakukan manuver
valsava.
(manuver valsava = mengedan)

• pemeriksaan auskultasi dengan
memakai stetoskop Doppler sangat
membantu, karena alat ini dapat
mendeteksi adanya peningkatan aliran
darah pada pleksus pampiniformis.
• Untuk lebih objektif dalam menentukan
besar atau volume testis dilakukan
pengukuran dengan alat orkidometer.

• pemeriksaan analisis semen dilakukan
untuk menilai seberapa jauh varikokel
telah menyebabkan kerusakan pada
tubuli seminiferi.
• Hasil analisis semen pada varikokel
menunjukkan pola stress yaitu
menurunnya motilitas sperma,
meningkatnya jumlah sperma muda
(immature,) dan terdapat kelainan
bentuk sperma (tapered).

PEMERIKSAAN PENUNJANG
• Angiografi/Venografi
• Ultrasonografi (USG)

PENATALAKSANAAN
Indikasi Operasi :
• Varikokel secara klinis pada pasien dengan parameter
semen yang abnormal terkait dengan atrofi testikular
ipsilateral atau dengan nyeri ipsilateral testis yang
makin memburuk setiap hari, harus segera dioperasi
dengan tujuan membalikkan proses yang progresif dan
penurunan durasi-dependen fungsi testis.
• Remaja dengan varikokel grade I – II tanpa atrofi
dilakukan pemeriksaan tahunan untuk melihat
pertumbuhan testis, jika didapatkan testis yang
menghilang pada sisi varikokel, maka disarankan untuk
dilakukan varikokelektomi.

TINDAKAN OPERASI
Ligasi dari vena spermatika interna
dapat dilakukan dengan berbagai
teknik.
1.Teknik Retroperitoneal (palomo)
2.Teknik Inguinal (ivanissevich)
3.Teknik Laparoskopik
4.Microsurgical varicocelectomy (MarmarGoldstein )
5.Teknik Embolisasi

Evaluasi Pascaoperasi
Pasca tindakan dilakukan evaluasi keberhasilan terapi,
dengan melihat beberapa indikator antara lain:
•Bertambahnya volume testis
•Perbaikan hasil analisis semen (setiap 3 bulan)
•Pasangan menjadi hamil
Pada kerusakan testis yang belum parah, evaluasi
pascabedah vasoligasi tinggi dari Palomo didapatkan
80% terjadi perbaikan volume testis, 60-80% terjadi
perbaikan analisis semen, dan 50% pasangan menjadi
hamil.

PROGNOSIS
• 6 bulan setelah operasi didapatkan
perbaikan signifikan volume testis
kiri dan konsentrasi spermatozoa.
• Kehamilan terjadi pada 3 bulan pasca
operasi berkisar 25% dan meningkat
menjadi 50% pada 6 bulan pasca
operasi.

TERIMAKASIH