You are on page 1of 20

Perencanaan

Audit

Perencanaan Audit

Perencanaan audit adalah total lamanya waktu yang dibutuhkan


oleh auditor untuk melakukan perencanaan audit awal sampai pada
pengembangan rencana audit dan program audit menyeluruh.
Variabel ini diukur dengan menggunakan jam perencanaan audit.
Keberhasilan penyelesaian perikatan audit sangat ditentukan oleh
kualitas perencanaan audit yang dibuat oleh auditor.

Perencanaan audit meliputi pengembangan strategi menyeluruh


pelaksanaan dan lingkup audit yang diharapkan. sifat, lingkup, dan
saat perencanaan bervariasi dengan ukuran dan kompleksitas
entitas, pengalaman mengenai entitas, dan pengetahuan tentang
bisnis entitas.

Perencanaan Audit

o
o
o

Ada tiga alasan utama mengapa auditor harus


merencanakan penugasan dengan baik:
Untuk memperoleh bukti yang cukup dan kompeten
Untuk menentukan biaya audit
Untuk mengurangi kesalahpahaman dengan klien

Tahap Penerimaan Penugasan Audit

Evaluasi Integritas Manajemen


Mengindentifikasi Keadaan-Keadaan Khusus dan Risiko
Tidak Biasa
Menetapkan Kompetensi untuk Melakukan Audit
Evaluasi Independensi
Menentukan Kemampuan untuk Bekerja dengan Cermat
dan Seksama
Menyiapkan Surat Penugasan

Komunikasi dengan Auditor Pendahulu


(Sebelum Penunjukan)

Bagi klien yang pernah diaudit oleh auditor lain, pengetahuan tentang
manajemen klien yang dimiliki oleh auditor pendahulu merupakan
informasi penting bagi auditor pengganti. Sebelum menerima
penugasan, PSA No.16, Komunikasi Antara Auditor Pendahulu dengan
Auditor Pengganti (SA 315.02), mengharuskan auditor pengganti untuk
berkomunikasi dengan auditor pendahulu, baik secara lisan maupun
tertulis.

Dalam berkomunikasi, auditor pengganti harus mengajukan pertanyaan


yang spesifik dan wajar mengenai berbagai hal yang berpengaruh atas
pengambilan keputusan menerima atau penolak penugasan, seperti :
Integritas manajemen, Ketidaksepakatan dengan manajemen mengenai
prinsip akuntansi dan prosedur audit, dan Pemahaman auditor
pendahulu mengenai alasan klien melakukan penggantian auditornya.

Engagement Letter ( Surat Perikatan)


Engagement

Letter adalah suatu kesepakatan antara


KAP dengan klien tentang sejumlah persyaratan atas
penugasan audit serta sejumlah jasa lainnya yang terkait

Surat

perikatan dapat pula mendokumentasikan


dan menegaskan penerimaan auditor atas
penunjukan perikatan, tujuan dan lingkup audit,
dan luasnya tanggung jawab auditor kepada
klien dan bentuk laporan.

Pembuatan Surat Perikatan (Engagement


Letter)

Tujuan audit atas laporan keuangan.

Tanggung jawab manajemen atas laporan keuangan.

Lingkup audit, termasuk penyebutan undang-undang, peraturan,


pernyataan dari badan profesional yang harus dianut oleh auditor.

Bentuk laporan atau bentuk komunikasi lain yang akan digunakan oleh
auditor untuk menyampaikan hasil perikatan.

Fakta bahwa karena sifat pengujian dan keterbatasan bawaan lain suatu
audit, dan dengan keterbatasan bawaan pengendalian intern, terdapat
risiko yang tidak dapat dihindari tentang kemungkinan beberapa salah
saji material tidak dapat terdeteksi.

Akses yang tidak dibatasi terhadap catatan, dokumentasi, dan informasi


lain apa pun yang diminta oleh auditor dalam hubungannya dengan
audit.

Pembatasan atas tanggung jawab auditor.

Komunikasi melalui e-mail.

Pembuatan Surat Perikatan (Engagement Letter)

Auditor dapat pula memasukkan hal berikut ini dalam surat


perikatan auditnya:
Pengaturan berkenaan dengan perencanaan auditnya.
Harapan untuk menerima konfirmasi tertulis dari manajemen
tentang representasi yang dibuat dalam hubungannya dengan
audit.
Permintaan kepada klien untuk menegaskan bahwa syaratsyarat perikatan telah sesuai dengan membuat tanda
penerimaan surat perikatan audit.
Penjelasan setiap surat atau laporan yang diharapkan oleh
auditor untuk diterbitkan bagi kliennya.
Basis perhitungan fee dan pengaturan penagihannya.

Pembuatan Surat Perikatan (Engagement Letter)

Jika relevan, butir-butir berikut ini dapat pula


dimasukkan dalam surat perikatan audit:
a) Pengaturan tentang pengikutsertaan auditor lain
dan/atau tenaga ahli dalam beberapa aspek audit.
b) Pengaturan tentang pengikutsertaan auditor intern
dan staf klien yang lain.
c) Pengaturan, jika ada, yang harus dibuat dengan
auditor pendahulu, dalam hal audit tahun pertama.
d) Pembatasan atas kewajiban auditor jika
kemungkinan ini ada.
e) Suatu pengacuan ke perjanjian lebih lanjut antara
auditor dengan kliennya.

Tahapan Perencanaan Audit

Pemahaman bisnis klien dan industri klien


Melakukan prosedur analitis
Melakukan penilaian awal terhadap materialitas
Menilai risiko audit
Mengembangkan strategi audit pendahuluan untuk
asersi-asersi yang signifikan
Pemahaman terhadap struktur pengendalian intern klien

Pemahaman Bisnis Klien dan Industri Klien

Hal yang berkaitan dengan bisnis dan industri klien yang perlu
dipahami auditor adalah sebagai berikut:
Jenis bisnis dan produk klien
Lokasi dan karakteristik operasi klien seperti metoda produksi
dan pemasaran
Jenis dan karakteristik industri
Eksistensi ada tidaknya pihak terkait yang mempunyai hubungn
erat dengan klien misalnya sama-sama anak perusahaan dari
suatu holding company
Regulasi pemerintah yang mempengaruhi bisnis dan industri
klien
Karakteristik laporan yang harus diberikan kepada badan
regulasi.

Pemahaman Bisnis Klien dan Industri Klien

Pemahaman auditor tentang bisnis klien dan industri klien dapat


diperoleh melalui:
penelaahan kertas kerja tahun lalu
penelaahan data industri dan data bisnis
peninjauan terhadap operasi klien
pengajuan pertanyaan pada dewan komisaris maupun komite
audit
pengajuan pertanyaan pada manajemen
penentuan keberadaan hubungan ekonomis dengan perusahaan
lain dalam satu kelompok usaha

Melakukan Prosedur Analitis

Prosedur Analitis adalah evaluasi informasi keuangan yang


dilakukan dengan mempelajari hubungan logis antara data
keuangan dan non keuangan. Prosedur analitis meliputi
perbandingan jumlah-jumlah yang tercatat dengan ekspektasi
auditor.

Tahapan Prosedur Analitis :


a) Mengidentifikasi perhitungan / perbandingan yang akan dibuat
b) Mengembangkan ekspektasi atau harapan
c) Melakukan perhitungan / perbandingan
d) Analisis data dan Identifikasi perbedaan signifikan
e) Menyelidiki selisih tak diharapkan yang signifikan
f) Menentukan pengaruh atas perencanaan audit

Melakukan Penilaian Awal terhadap Materialitas


Dalam

merencanakan suatu audit, auditor harus


mempertimbangkan materialitas pada dua tingkat,
yaitu :
Tingkat laporan keuangan (karena pendapat
auditor mengenai kewajaran mencakup laporan
keuangan sebagai keseluruhan )
Tingkat saldo rekening ( karena auditor
melakukan verifikasi atas saldo-saldo rekening
untuk dapat memperoleh kesimpulan menyeluruh
mengenai kewajaran laporan keuangan .

Risiko Audit

Risiko bawaan (inherent risk)


Risiko bawaan adalah kerentanan suatu saldo rekening atau
golongan trasaksi terhadap suatu salah saji yang material, dengan
asumsi bahwa tidak terdapat kebijakan dan prosedur struktur
pengendalian intern yang terkait.

Risiko pengendalian (control risk)


Risiko pengendalian adalah risiko bahwa suatu salah saji material
yang dapat terjadi dalam suatu asersi tidak dapat dicegah atau
dideteksi secara tepat waktu oleh struktur pengendalian intern
satuan usaha.

Risiko deteksi (detection risk)


Risiko deteksi adalah risiko bahwa auditor tidak dapat mendeteksi
salah saji material yang terdapat dalam suatu asersi.

Strategi Audit Pendahuluan

Primarily Substantive Approach


Strategi ini biasa digunakan dalam audit klien yang pertama kali daripada
auidit atas klien lama. Strategi ini lebih mengutamakan pengujian
substantif dari pada pengujian pengendalian. Auditor relatif lebih sedikit
melakukan prosedur untuk memperoleh pemahaman mengenai struktur
pengendalian intern klien.

Lower Assessed of Control Risk Approach.


Ini merupakan kebalikan dari strategi yang pertama, dimana yang lebih
diutamakn dalam strategi ini adalah pengujian pengendalian daripada
pengujian substantif. Tetapi auditor dalam hal ini auditor bukan berarti
tidak melakukan pengujian substantif tapi tidak se-ektensif pada
pendekatan yang pertama. Auditor lebih banyak melakukan prosedur untuk
memperoleh pemahaman mengenai struktur pengendalian intern klien.
Strategi ini sering digunakan dalam auidit klien lama.

Pembuatan Program Audit

Program audit merupakan daftar prosedur audit yang akan


dilaksanakan oleh pekerja lapangan atau penghimpun bukti.
Program audit membantu auditor dalam memberikan perintah pada
asisten mengenai pekerjaan yang harus dilakukan.

Dengan demikian program audit berfungsi sebagai:


a) Petunjuk tentang apa yang harus dilakukan, dan instruksi
bagaimana harus dilakukan dan diselesaikan.
b) Alat untuk melakukan koordinasi, pengawasan, dan
pengendalian audit
c) Alat penilai kualitas kerja yang dilaksanakan

Penentuan Waktu Pelaksanaan Prosedur Audit


Waktu

pelaksanaan pekerjaan lapangan biasanya


diklasifikasikan dalam dua kategori yaitu:
Kerja intern: pada umumnya dilaksanakan antara
6 bulan sebelum tanggal neraca sampai dengan
tanggal neraca
Kerja akhir tahun : yaitu pekerjaan audit yang
dilaksanakan sejak tanggal neraca sampai dengan
dua tiga bulan sesudahnya.

Menentukan Staf Untuk Melaksanakan Pemeriksaan

Seorang partner yang bertanggung jawab secara


keseluruhan atas pemeriksaan
Satu atau lebih manajer bertanggung jawab pada
koordinasi dan supervisi pelaksanaan program audit
Satu atau lebih auditor senior yang bertanggung jawab
pada bagian program audit dan pengawasan kerja asisten
Akuntan junior atau asisten yang bertanggung jawab
untuk melaksanakan prosedur audit

Pengawasan Audit

Menurut SA 310 Pengawasan Audit meliputi:


Memerintah asisten untuk mencapai tujuan prosedur
audit yang dilaksanakan
Menjaga informasi mengenai masalah penting yang
diperoleh dari pelaksanaan prosedur audit
Meneliti/mereview hasil kerja yang dilakukan
Menangani perbedaan pendapat antar anggota staf
pemeriksa