You are on page 1of 50

Laporan

Kasus

IUFD
( Intra Uterine Fetal Death)
Oleh :

Suryanita Atinirmala Listiahadi, S.Ked
NPM. 10700030

Pembimbing :

dr. H. Aminuddin, Sp.OG

DEFINISI
WHO dan American College of Obstetricians
and Gynecologist menyatakan Intra Uterine
Fetal Death ( IUFD ) adalah kematian pada
fetus dengan berat lahir 500 gram atau lebih,
terjadi pada usia kehamilan kurang dari 20
minggu atau lebih.

Etiologi

 
Faktor Maternal
Kehamilan post-term (≥ 42 minggu).
Diabetes Mellitus tidak terkontrol
Systemic lupus erythematosus
Infeksi
Hipertensi
Pre-eklampsia
Eklampsia
Hemoglobinopati
Penyakit rhesus
Ruptura uteri
Antiphospholipid sindrom
Hipotensi akut ibu
Kematian ibu
Umur ibu tua

Faktor fetal
Kehamilan ganda
Intrauterine growth restriction (Perkembangan

Janin Terhambat)
Kelainan kongenital
Anomali kromosom
Infeksi (Parvovirus B-19, CMV, listeria)

Faktor Plasenta
Cord accident (kelainan tali pusat)
Abruptio Plasenta (lepasnya plasenta)
Insufisiensi plasenta
Ketuban pecah dini
Vasa previa
Perdarahan Feto-maternal

.

.

.

Faktor Resiko Status sosial ekonomi rendah Tingkat pendidikan ibu yang rendah Usia ibu >30 tahun atau <20 tahun Paritas pertama dan paritas kelima atau lebih Kehamilan tanpa pengawasan antenatal Kehamilan tanpa riwayat pengawasan kesehatan ibu yang inadekuat Riwayat kehamilan dengan komplikasi medik atau obstetric .

Penegakkan Diagnosis  Anamnesis  Ibu tidak merasakan gerakan janin dalam beberapa hari atau gerakan janin sangat berkurang  Ibu merasakan perutnya tidak bertambah besar. bahkan bertambah kecil atau kehamilan tidak seperti biasanya.  Penurunan berat badan .

. Pemeriksaan Fisik Pertumbuhan janin tidak ada. yang terlihat pada: Tinggi fundus uteri menurun Berat badan ibu menurun Lingkaran perut ibu mengecil Dengan fetoskopi dan Doppler tidak dapat didengar adanya bunyi jantung janin.

 Pemeriksaan Tambahan • Pemeriksaan hCG urin menjadi negative setelah beberapa hari kematian janin • USG tampak gambaran janin tanpa tanda kehidupan: gerak anak tidak ada denyut jantung anak tidak ada tampak bekuan darah pada ruang jantung janin .

Tanda ini ditemui setelah janin mati paling kurang 12 jam • Diagnosa pasti ditegakkan dengan pemeriksaan ultrasound.• Foto radiologik (X-Ray). .  Nanjouk¡’s sign (+) : tulang punggung janin sangat melengkung  Robert’s sign (+) : tampak gelembunggelembung gas pada pembuluh darah besar.setelah 5 hari tampak:  Spalding’s sign (+) : tulang-tulang tengkorak janin saling tumpah tindih. pencairan otak dapat menyebabkan overlapping tulang tengkorak.

.

Sehingga dapat mengantisipasi pada kehamilan selanjutnya.Untuk diagnosis pasti penyebab kematian sebaiknya dilakukan otopsi janin. pemeriksaan plasenta serta selaput. Diperlukan evaluasi secara komprehensif untuk mencari penyebab kematian janin termasuk hal-hal yang berhubungan dengan penyakit maternal. 7 . HbA1c dan TORCH. yaitu perlunya diperiksa kadar TSH.

• Hati-hati pada induksi dengan uterus pascaseksio sesarea ataupun miomektomi. bekas SC ( dua atau lebih). bahaya terjadi rupture uteri. . umumnya tanpa komplikasi. • Tindakan perabdominal ini hanya dilakukan pada kasus yang dinilai dengan plasenta previa. dan letak lintang.Penatalaksanaan • Persalinan pervaginam dapat ditunggu lahir spontan setelah 2 minggu. • Persalinan dapat terjadi secara aktif dengan induksi persalinan dengan oksitosin atau misoprostol.

pemberian dilakukan dengan dosis oksitosin dinaikkan pada hari berikutnya. . dosis dinaikkan menjadi 40 unit Pada kasus yang induksinya gagal.Cara induksi persalinan ini sering dilakukan dan efektif pada kasus-kasus dimana telah terjadi pematangan serviks. Pemberian dimulai dengan 5-10 unit oksitosin dalam 500 ml larutan Dextrose 5% melalui tetesan infus intravena Bila tidak terjadi kontraksi setelah botol infus pertama. Infus dimulai dengan 20 unit oksitosin dalam 500 ml larutan Dextrose 5% dengan kecepatan 30 tetes per menit.

Pemberian dapat diulang setelah 6-8 jam.9 . Langkah induksi ini dapat ditambah dengan pemberian oksitosin.Prostaglandin  Pemberian gel prostaglandin (PGE2) per vaginam di daerah forniks posterior sangat efektif untuk induksi pada keadaan dimana serviks belum matang.

. Operasi ini hanya dilakukan pada kasus yang dinilai dengan plasenta praevia. dan letak lintang.Operasi Sectio Caesaria (SC)  Pada kasus IUFD jarang dilakukan. bekas SC ( dua atau lebih).

Komplikasi DIC (Disseminated intravascular coagulation) Hemoragik Post Partum Dampak psikologis .

prognosis untuk ibu baik (dapat kembali hamil).Prognosis Jika dapat dideteksi segera. .

. khususnya yang sudah atau mendekati aterm adalah bila ibu merasa gerakan janin menurun. perlu dilakukan pemeriksaan ultrasonografi. tidak bergerak. atau gerakan janin terlalu keras.Pencegahan Upaya mencegah kematian janin.

RESPONSI KASUS .

Riwayat Penyakit Sekarang Pasien merasa hamil 6 bulan. Pasien mengaku pernah terpeleset ringan saat mengepel lantai di rumahnya dua minggu yang lalu. tetapi janin ANAMNESIS dirasakan tidak bergerak sejak kemarin (05-012015). kemudian pada malam tahun baru (tanggal 31 Desember 2014 pasien dan suami menempuh perjalanan jauh dari Probolinggo-Surabaya. Pasien mengeluh selama seminggu terakhir sering merasa kram pada perut bagian bawah.Probolinggo dengan mengendarai sepeda motor. .

pasien dan suami sempat melakukan hubungan suami istri (coitus) sebanyak 2 kali (Pasien mengalami kelelahan). .Setelah menempuh perjalanan jauh. Selama ini pasien tinggal di rumah mertuanya. dan jauh dari suami membuat kondisi psikologis pasien kurang stabil (sering sedih dan stress). Pasien sering merasa stress dan tertekan karena sering disuruh melakukan pekerjaan rumah tangga oleh mertuanya. Pasien melakukan pemeriksaan ANC (Ante Natal Care) secara rutin ke Bidan. sedangkan suaminya bekerja di Surabaya. bidan mengatakan gerakan janin kadang terlalu aktif sehingga bidan khawatir jika janin dapat lahir lebih cepat dari perkiraan.

OG dan dinyatakan bahwa janin telah mati. dengan keluhan tidak ada gerak janin. dilakukan USG oleh dr. oleh bidan diperiksa dan djj(-) maka pasien dirujuk ke poli kandungan RSUD dr. Saleh.M.Sp.Pada tanggal 5-01-2015 pasien periksa ke bidan. .

Riwayat minum obatobatan dalam jangka lama disangkal. riwayat makan makanan setengah matang / panggang disangkal. dan pasien juga tidak menikah dengan saudara jauh atau saudara dekat. . riwayat memelihara binatang peliharaan disangkal. riwayat melakukan pijat pada perut saat hamil disangkal. riwayat minum alkohol dan merokok juga disangkal pasien. Pasien menyatakan tidak ada riwayat demam tinggi dan alergi selama hamil. riwayat keputihan disangkal.

DM. . alergi dan asma disangkal oleh pasien Riwayat Penyakit Keluarga : Hipertensi.Riwayat Penyakit Dahulu : Hipertensi. alergi dan asma disangkal oleh pasien. DM.

.

.

.

Analisa Kasus .

keluhan.Kurangnya kemampuan tenaga kesehatan di puskesmas untuk melakukan pemeriksaan yang detail memberikan saran. edukasi yang baik kepada pasien. Pada buku KIA hanya tertulis pasien disarankan makan sedikit-sedikit tapi sering .  Pasien melakukan pemeriksaan rutin ANC ke puskesmas untuk memeriksa kesehatan ibu dan kandungannya baru dimulai saat usia kehamilan 12 minggu. dalam pemeriksaan setiap bulannya didapatkan hasil pemeriksaan berupa pemeriksaan fisik. kaya asam folat yang berfungsi untuk perkembangan dan pertumbuhan janin terutama penting perkembangan otaknya dan organ-organ vitalnya. dan saran untuk pasien. tidak pula disarankan kepada pasien untuk memakan jenis makanan tertentu seperti makanan yang tinggi protein. akan tetapi tenaga kesehatan (bidan) kurang menggali informasi secara detail dari anamnesa pasien. Tidak ditanyakannya informasi tentang riwayat makan selama kehamilan.

akan tetapi bidan yang memeriksa tidak memberikan saran yang jelas yang harus dilakukan oleh pasien.Pasien mengatakan gerak janin sangat aktif. bidan yang memeriksa mengatakan bahwa dengan gerak janin yang terlalu aktif dikhawatirkan dapat menyebabkan janin dapat lahir lebih cepat dari perkiraan. . Ada beberapa penyebab mengapa gerak janin menjadi terlalu aktif. Padahal gerakan janin yang terlalu aktif dapat menyebabkan tali pusat terpilin yang akhirnya menyebabkan aliran oksigen dan makanan menjadi terhambat kepada janin. dua diantaranya adalah kondisi psikologi ibu yang stress. dapat menyebabkan asfiksia dan kematian. dan jumlah cairan amnion terlalu banyak (polihidramnion).

Pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang yang tidak lengkap .

Pada pasien ini disarankan melakukan tes non stress pada janin Pemeriksaan USG hanya dilakukan 1 kali saat sudah muncul keluhan pada pasien . sebaiknya dilakukan pemeriksaan golongan darah dan rhesus untuk suami dan istri tujuannya agar dapat diprediksi ada atau tidaknya kemungkinan terjadinya reaksi ketidak cocokan rhesus. Pada pasien ini hanya di tes golongan darah yaitu “B” namun tidak dicantumkan jenis rhesusnya + atau -.Tes albumin urine dilakukan. hasilnya – ini berarti ibu tidak ada resiko mengalami preeklamsia maupun eklamsia. Pemeriksaan laboratorium lain yang tidak dilakukan tetapi seharusnya dilakukan adalah pemeriksaan lab TORCH untuk mengetahui apakah ibu terinfeksi virus TORCH sehingga nantinya bisa mempengaruhi kehamilan.

seperti tidak adanya gerakan janin dan DJJ ( . Intra uterine. Spalding’s Sign ( + ) sehingga dapat ditegakkan diagnosis IUFD dengan pasti. dengan presentasi bokong.). Pada pemeriksaan USG. dan dapat diatasi sedini mungkin keselamatan ibu dan janin dapat terjaga. sehingga . kemungkinan dapat mendeteksi kelainan- kelainan atau masalah yang terjadi pada kehamilan. letak placenta pada corpus. ditemukan Janin Tunggal. Jika pemeriksaan – pemeriksaan di atas dilakukan dari awal. didapatkan kesan janin IUFD disertai dengan deskripsi yang menjadi dasar diagnosis IUFD.

LILA pada pasien berukuran 19 cm (< 23.5 cm Resiko Kekurangan Energi Kronis) Batas ambang LILA WUS(Wanita Usia Subur) resiko KEK di Indonesia adalah 23.5 cm yakni di bagian merah pita LILA.5 cm diperkirakan akan menghasilkan bayi BBLR( Bayi Berat Lahir Rendah). . maka BMI = (36 / 1. Bila pengukuran LILA hasilnya kurang dari 23.502) = 36/2. BeratFisik Badan 43 kg. terdapat peningkatan 7 kg.25 = 16 (berat badan kurang/ underweight) . Pada pemeriksaan LILA (Lingkar Lengan Atas). BMI = (BB) / [(TB) * (TB)] Misalnya: BB = 36 dan TB = 150 cm. Berat badan pasien meningkat seiring bertambahnya usia kehamilan pasien.Hamil BB pra hamil : 36 kg Kondisi Pasien:Selama Tinggi Badan : 150 cm Jika dihitung dengan standar BMI maka (BB) seseorang (kg) dibagi dengan tinggi badan (TB) pangkat dua (m2). pada saat usia kehamilan 24 minggu berat badannya menjadi 43 kg.

. diantaranya Fe.Kepatuhan Pasien Untuk Meminum Obat  Bidan dari puskesmas telah memberikan obat yang wajib dikonsumsi oleh ibu hamil. dan vitamin namun tidak ada monitoring atau laporan secara detail apakah pasien memiliki kepatuhan untuk mengkonsumsi obat secara teratur dan rutin.

00 diberikan drip oxytocin yang kedua dengan dosis ditingkatkan menjadi 20 iu dalam 500 cc RL.Penatalaksanaannya Pada tanggal 6-01-2015 pukul 17.00 setelah mendapat persetujuan pasien dan keluarga maka dilakukan drip bertingkat dengan menggunakan oxytocin. his tidak adekuat. Jam 19. konsistensi cervix masih keras. Setelah 1 botol habis. his + tidak adekuat . Setelah botol kedua habis dan pasien kembali dievaluasi ternyata pembukaan pada cervix belum ada.00 ini diberikan drip oxytocin sebanyak 10 iu dalam RL 500cc 20 tpm (tetes per menit). belum ada blood show. Pada jam 17. ketuban -. maka pasien dievaluasi ternyata belum ada pembukaan pada servix. konsistensi cervix masih keras belum ada show (blood sylm).

Ini sudah merupakan dosis maksimal dari induksi persalinan. .00 diberikan drip oxytocin yang keempat dengan dosis 40 iu dalam 500 cc RL 20 tpm. Setelah botol ketiga habis dan pasien kembali dievaluasi ternyata pembukaan pada cervix belum ada. belum ada blood show. belum ada blood show.10.00 diberikan drip oxytocin yang ketiga dengan dosis 10 iu dalam 500 cc RL 20 tpm. his + (3’.Jam 21. Setelah botol ketiga habis dan pasien kembali dievaluasi ternyata pembukaan pada cervix belum ada. tidak boleh ditambahkan lagi dikarenakan efek sampingnya dapat menyebabkan ruptura uteri. konsistensi cervix masih keras. konsistensi cervix kenyal.20’’). his + tidak adekuat Jam 00.

dan meningkatkan tonus otot-otot uterus. Oxytocin bekerja selektif pada otot polos uterus dan menyebabkan kontraksi ritmis pada uterus.Efek klinis penting dari oxytocin adalah menyebabkan kontraksi otot polos uterus selama masa kehamilan dan nifas. meningkatkan frekuensi kontraksi yang telah ada. . Dan hal ini tampaknya tergantung dosis dan ambang rangsang uterus terhadap obatini.

Setelah pemberian cytotec yang ke 4 pada tanggal 8-01-2015 jam 08.00 Induksi dengan oxytocin dihentikan.Tanggal 7-01-2015 jam 13. blood slym -. Setelah pemberian ke tiga cytotec ½ tablet setiap 8 jam. diganti/ dilanjutkan dengan induksi menggunakan cytotec ½ tab/vaginam tiap 8 jam.00 dievaluasi terdapat tanda persalinan : keluar blood slym pervaginam +. terdapat pembukaan cervix 2 cm. belum ada pembukaan. .00 kemudian jam 11. belum ada tanda kemajuan persalinan. Tujuan pemberian cytotec adalah untuk mempercepat proses pematangan cervix.

dengan indikasi gagal drip. . Gagal drip adalah suatu kondisi dimana telah dilakukan induksi persalinan (drip) sebanyak 3 kali namun tidak terjadi kemajuan pembukaan cervix dan tidak terjadi tanda-tanda persalinan.40 pasien di bawa ke Kamar Operasi untuk menjalani Sectio Caesaria.Pada jam 13.

untuk menghindari kondisi yang lebih buruk untuk ibu yaitu resiko ruptura uteri dan gangguan psikologis yang lebih berat maka dipilih tindakan SC. . serta telah diberikan cytotec untuk mempercepat pematangan cervik dan dinyatakan gagal. tidak ada bekas sc karena ini kehamilan pertama. bekas SC ( dua atau lebih). akan tetapi pada pasien ini telah dilakukan drip bertingkat dengan oxytocin sebanyak 4 kali dan sudah diberikan dosis maksimal 40 iu.tidak ada plasenta previa dan tidak ada riwayat SC sebelumnya. tidak letak lintang melainkan letak bokong(dari gambaran usg). Sementara pada kasus ini posisi janin presentasi bokong.Pada kasus IUFD jarang dilakukan. dan letak lintang. Namun pada pasien ini tidak ditemukan tanda-tanda placenta previa. Operasi ini hanya dilakukan pada kasus yang dinilai dengan plasenta praevia.

.

KESIMPULAN Pada pasien ini ditegakkan diagnosis kematian janin intra uterin (IUFD) berdasarkan anamnesis. yaitu faktor trauma yang terjadi pada ibu. Penanganan aktif lebih baik untuk mencegah komplikasi lebih lanjut pada ibu dan mengurangi gangguan psikologis keluarga. kemungkinan penyebab IUFD ialah faktor maternal. Penatalaksanaan IUFD dibagi menjadi penanganan ekspektatif dan aktif. penyebab pasti hanya dapat ditegakkan bila pada bayi yang dilahirkan dilakukan autopsi. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Namun. . terutama ibu. faktor tali pusat karena terjadi simpul pada tali pusat. Pengetahuan ibu mengenai pemeriksaan Ante Natal Care yang teratur dan efektif sangat dibutuhkan untuk mengetahui kesejahteraan janin untuk mendeteksi penurunan kesejahteraan janin dan komplikasi pada ibu dapat dihindari. Pada kasus ini. Dukungan moril / psikologis dari pihak dokter dan keluarga sangat berperan penting pada kasus IUFD.

KESIMPULAN Pemeriksaan Laboratorium TORCH dan Antifosfolipid yang merupakan faktor resiko IUFD sebaiknya sebelum pasien merencanakan kehamilan selanjutnya. sehingga bila terjadi penurunan kesejahteraan janin dapat di deteksi dini. Pada kasus kematian janin intra uterin dapat ditentukan sebab kematian dengan pemeriksaan autopsi. dengan syarat persetujuan dari pihak keluarga. 1x pada setiap trimester untuk mendeteksi dini adanya kelainan pada kehamilannya dan untuk pemantauan kesejahteraan janin. Pemeriksaan USG minimal 3x selama kehamilan. misalnya menghitung gerakan janin dengan cara Cardif count. Penyuluhan pada para ibu dengan kehamilan untuk dapat melakukan pemantauan kesejahteraan janinnya sendiri dengan cara yang sederhana. . Penyuluhan bagi para ibu dengan kehamilan untuk melakukan Ante Natal Care secara teratur di RS atau Bidan.

.

TERIMA KASIH .