You are on page 1of 55

KAS DAN SETARA KAS

KELOMPOK 1 :
DIAN YULITA
REZA OKTAVIANI
SISKA MAYANG SARI
SYAHNASTHALIA

PENGERTIAN KAS DAN SETARA
KAS
 Apakah

pengertian kas dan setara
kas secara umum ?

Kas adalah aktiva yang paling
likuid,
merupakan
media
pertukaran standar dan dasar
pengukuran
serta
akuntansi
untuk semua pos-pos lainnya.
Kas terdiri dari uang logam,
uang kertas, dan dana yang
Setara pada
Kas deposito
adalah di
investasi
tersedia
Bank.
yang sifatnya likuid, berjangka
pendek, dan yang dengan cepat
dapat
dijadikan
kas
dalam
jumlah
tertentu
tanpa

CONTOH CEK

CONTOH
BILYET GIRO

CONTOH SLIP
DEPOSIT

Yang tidak termasuk dalam pengertian kas,
baik menurut akuntansi maupun perpajakan
adalah :
1. Deposito yang jatuh temponya lebih dari tiga
bulan atau rollover
2. Perangko dan materai
3. Kasbon atau uang muka
4. Cek mundur dan cek kosong

Menurut PSAK No.2, hal 2.2 dan 2.3 (IAI :
2002) :
Kas terdiri dari saldo kas (cash on hand) dan
rekening giro. Setara kas (cash equivalent) adalah
investasi yang sifatnya sangat liquid, berjangka
pendek dan yang dengan cepat dapat dijadikan kas
dalam jumlah tertentu tanpa menghadapi risiko
perubahan nilai yang signifikan.

Menurut SAK ETAP (IAI, 2009: 28)
Setara kas adalah investasi jangka pendek dan sangat likuid
yang dimiliki untuk memenuhi komitmen kas jangka pendek,
bukan untuk tujuan investasi atau lainnya. Oleh karena itu,
investasi umumnya diklasifikasikan sebagai setara kas hanya
jika akan segera jatuh tempo dalam waktu tiga bulan atau
kurang sejak tanggal perolehan. Cerukan bank pada umumnya
termasuk aktifitas pendanaan sejenis dengan pinjaman. Namun,
jika cerukan bank dapat ditarik sewaktu-waktu dan merupakan
bagian yang tak terpisahkan dari pengelolaan kas entitas, maka
cerukan tersebut termasuk komponen kas dan setara kas.

TUJUAN PEMERIKSAAN KAS DAN SETARA
KAS
1. Untuk memeriksa apakah terdapat internal control yang
cukup baik atas kas dan setara kas serta transaksi
view
penerimaan dan
pengeluaran kas dan bank.
2. Untuk memeriksa apakah saldo kas dan setara kas yang
ada di neraca pertanggal neraca betul-betul ada dan
dimiliki oleh perusahaan.
3. Untuk memeriksa apakah ada pembatasan untuk
penggunaan kas dan setarakas. Jika perusahaan
menyisihkan sebagian dana yang dimiliki untuk keperluan
pelunasan obligasi.
4. Untuk memeriksa seandainya ada saldo kas dan setara
kas dalam valuta asing, apakah saldo tersebut sudah
dikonversikan ?
NEXT

Ciri- ciri adanya Pengendalian internal dalam perusahaan :
1. Adanya pemisahan tugas dan tanggung jawab antara
yang menerima dan yang mengeluarkan kas dengan
yang melakukan pencatatan, memberikan otoritas atas
pengeluaran dan penerimaan kas dan bank
2. Pegawai yang membuat rekonsiliasi bank harus lain
dari pegawai yang mengerjakan buku bank. Rekonsiliasi
bank dibuat setiap bulan dan harus ditelaah oleh kepala
bagian akuntansi
3. Digunakannya impress fund system untuk mengelola
kas kecil
4. Penerimaan kas, cek & giro harus di setor ke bank
dalam jumlah seutuhnya
5. Uang kas disimpan di tempat yang aman

Kenapa ada pemisahan tugas dan
tanggung jawab ?
 Bagaimana pemisahan tugas antara yang menyimpan kas,
yang mengeluarkan, menerima, dan melakukan pencatatan.
Pemisahan ini dilakukan dalam rangka pengendalian
terhadap kas, seharusnya dilakukan oleh individu yang
berbeda. Hal ini hanya boleh digabung pengerjaannya oleh
pemilik perusahaan. Caranya perusahan harus membuat
susunan kerja, dan menunjuk karyawan berbeda untuk
mencatat, menerima dan mengelurkan kas
 Pemisahan tugas memastikan bahwa tidak ada satu orang
atau departemen pun yang memproses transaksi sendiri
secara keseluruhan, dan untuk menghindari terjadinya
kecurangan.

BACK

KERTAS KERJA PEMERIKSAAN
Prosedur Kertas Kerja
 Kertas Kerja Audit (KKA) dapat meliputi skedul (daftar),
analisa, memorandum, surat konfirmasi, surat pernyataan,
salinan atas dokumen dan perjanjian penting, komentar yang
dibuat atau diperoleh auditor, rekap, dan laporan yang
disiapkan oleh klien dan diperiksa oleh auditor. Dalam KKA
auditor mengungkapkan dokumen-dokumen sumber yang
diperiksa, bukti bukti audit yang diperoleh, dan prosedurprosedur audit yang dilaksanakan, serta opini auditor untuk
masing-masing akun yang diaudit.
 Auditor akan mengumpulkan data keuangan dari berbagai
sumber, kemudian menganalisis dan meringkas data
keuangan tersebut dalam KKA, dan berdasarkan data
tersebut auditor membuat laporan audit sesuai dengan jenis

Sumber Kertas Kerja
Pemeriksaan dari Klien :
• Neraca Saldo (Trial balance)
• Rekonsiliasi bank (Bank reconciliation)
• Analisa Umur Piutang (Accounts Receivable
Aging Schedule)
• Rincian Persediaan (Final Inventory List)
• Rincian Utang
• Rincian Biaya Umum dan Administrasi
• Rincian Biaya Penjualan
• Surat Pernyataan Langganan

Sumber Kertas Kerja
Pemeriksaan dari Analisa
Auditor
:
• Berita Acara
VIE Sheet)
Kas Opname
(Cash Count
• Internal Control Questionare

W

• Analisis Aktiva Tetap
• Analisis kecukupan allowance for bad debt (penyisihan
piutang/cadangan kerugian piutang)
• Working Trial Balance, dapat dipecah menjadi dua :
-Working Balance sheet
-Working Profit and Loss
• Top Schedule
• Supporting Schedule
• Konsep Laporan Audit
next

BACK

Contoh Internal Control
Questionare

Contoh Working
Balance Sheet

Contoh Working Profit
and Loss

Contoh Top Schedule

Contoh
Supporting
Schedule

Sumber Kertas Kerja
Pemeriksaan dari Pihak
ketiga Independen :

Konfirmasi Piutang

Konfirmasi Utang

Informasi dari Bank

Pernyataan dari penasihat
hukum

Contoh
Konfirm
asi
Piutang

Contoh
Konfirm
asi
Utang

Contoh
Konfirmasi
dari Bank

Tipe kertas kerja
pemeriksaan




Audit Program
working trial balance
summary of adjusment journal entries
top schedules
supporting schedule

1. Audit Program
Audit program (program
pemeriksaan)
merupakan daftar
prosedur pengauditan
untuk seluruh
pemeriksaan elemen
tertentu.
Program pemeriksaan
dapat digunakan untuk
merencanakan berapa
orang yang diperlukan
untuk melaksanakan
pemeriksaan, serta
jadwal pemeriksaan
yang direncanakan.

2. Working Trial Balance
Merupakan suatu daftar yang memuat saldo dari seluruh
rekening buku besar pada akhir tahun yang diperiksa dari akhir
tahun sebelumnya, koreksi yang diusulkan serta saldo menurut
hasil pemeriksaan.

SISTEM PENGENDALIAN INTERNAL
IAI mendefinisikn SPI sebagai suatu proses yang dijalankan
oleh dewan komisari, manajemen dan personel lain entitas yang
didisain untuk memberikan keyakinan memadai tentang
pencapaian 3 golongan tujuan :
a. keandalan pelaporan keuangan
b. efektifitas dan efisiensi operasi dan
c. kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku.

Sistem pengendalian intern yang baik dalam sistem kas mensyaratkan
agar dilibatkan pihak luar (bank) ikut serta dalam mengawasi kas
perusahaan dengan cara sebagai berikut :
1. Semua penerimaan kas harus di setor penuh ke bank pada hari yang
sama dengan penerimaan kas atau pada hari kerja berikutnya. Selain
itu tidak diperkenankan melakukan pengeluaran kas dari kas yang di
terima dari sumber-sumber tersebut. Dengan demikian catatan
penerimaan kas dalam jurnal penerimaan kas dapat di rekonsiliasi
dengan catatan setoran ke bank yang tercantum dalam rekening
koran bank.
2. Semua pengeluaran kas di lakukan dengan cek. Pengeluaran kas
dengan cek dapat menjamin di terimanya pembayaran tersebut oleh
perusahaan yang berhak menerimanya dan memungkinkan di
libatkanya pihak ketiga (dalam hal ini bank) untuk ikut mengawasi
pengeluaran kas perusahaan. Catatan kas perusahaan dapat di cek
ketelitiannya dengan cara membandingkannya dengan rekening
koran bank yang di terima secara periodik dari bank kepada
perusahaan.
3. Pengeluaran kas yang tidak dapat di lakukan dengan cek (karena
jumlahnya kecil), hal ini dilakukan melalui dana kas kecil yang di

PENJELASAN PROSEDUR PEMERIKSAAN KAS DAN SETARA
KAS
1. Pahami dan evaluasi Internal Control atas kas dan
setara
kas
serta
transaksi
penerimaan
dan
pengeluaran kas.
•.Kemudian auditor juga harus melakukan Compliance test
(pengujian ketaatan) ! namun sebelumnya perlu disusun audit program
untuk pengujian ketaatan atas transaksi penerimaan dan pengeluaran
kas/bank.

 Sebelumnya mari
kita lihat
penjelasannya, apa
itu Compliance Test
atau Tes
Kepatuhan ?

Compliance Test (Tes
Kepatuhan)
• Compliance test (Tes
atau test

Kepatuhan)

of

recorded

transaction adalah Test terhadap bukti
pembukuan untuk mengetahui apakah
setiap transaksi yang terjadi sudah
diproses dan dicatat sesuai dengan
sistem dan prosedur yang ditetapkan
manajemen.

Jika

terjadi

pemrosesan
transaksi,
(rupiahnya)

penyimpangan
dan

pencatatan

walaupun
tidak

memperhitungkan

dalam

material,
pengaruh

jumlah
auditor
dan

Compliance Test (Tes
Kepatuhan)
Jenis Transaksi

Sampel yang Digunakan

Penjualan

Faktur Penjualan

Penerimaan Kas

Kwitansi

Pengeluaran Kas

Nomor Cek/Giro

Pembelian

Purchase Order

Pebayaran Gaji/Upah

Daftar Gaji

Jurnal Koreksi/Penyesuaian
Journal
Voucher
Dalam
melaksanakan compliance
test,
auditor

harus

memperhatikan :
• Kelengkapan bukti pendukung (supporting schedule,
• Kebenaran perhitungan matematis (footing, cross footing,
extension),
• Otorisasi dari pejabat perusahaan yang  berwenang,
• Kebenaran nomor perkiraan yang di Debit / Kredit,

Penerimaan Kas :
1. Ambil sample bukti penerimaan kas/bank secara random :
misal semua penerimaan kas yang berjumlah Rp 10 juta
ditambah 10 penerimaan kas/Bank yang berjumlah Rp 10
juta.
2. Periksa apakah bukti penerimaan kas tersebut :
a. Sudah diotorisasi pejabat perusahaan yang berwenang
b. Lengkap bukti pendukungnya (misal kwitansi bernomor
urut cetak, deposit slip)
c. Mencantumkan nomor prkiraan yang kredit dengan
benar dan perhitungan mathematisnya sudah benar.
3. Periksa apakah posting ke buku kas (untuk penjualan tunai)
dan piutang (untuk pelunasan piutang) serta buku besar
penjualan sudah dilakukan dengan benar. Begitu juga
posting ke sub buku besar piutang .
4. Tarik kesimpulan mengenai hasil compliance test.

Sampel Tes Transaksi Penerimaan Kas

Pengeluaran Kas/Bank
1. Ambil sample bukti pengeluaran kas/bank secara random :
semua pengeluaran kas yang misalnya berjumlah RP 5 juta
ditambah 10 pengeuaran kas/bank berjumlah Rp 5 juta.
2. Periksa apakah bukti pengeluaran kas tersebut :
a. Sudah diotorisasi pejabat perusahaan yang berwenang.
b. Lengkap bukti pendukungnya ( misal PR,PO, supplier
invoice, RR, kwitansi dari supplier dan lain-lain).
c. Mencantumkan nomor perkiraan yang di debit dengan
benar
d. Perhitungan mathematisnya sudah benar.
1. Periksa apakah posting ke buku besar dan sub buku besar
( misalnya hutang) sudah dilkakukan dengan benar.
2. Tarik kesimpulan mengenai hasil compliance test.

Contoh
garis
besar dan
prosedur
penerima
an dan
pengeluar
an kas

at Top Schedule Kas dan Setara Kas per tanggal Neraca.

3. Lakukan Cash Count
Perbedaan journal entry antara Imprest fund system dan
fluctuating fund system dalam pengelolaan kas kecil adalah
sebagai berikut I:mprest Fund

Fluctuating Fund

Pengadaan Petty Cash

Pengadaan Petty Cash

DR. Petty Cash xx

Dr Petty cash xx

CR Cash in Bank xx

Cr cash in bank xx

Penyaluran kas kecil untuk membayar biaya rutin
No Entry

Dr Biaya telepon xx
Dr biaya transport xx
Cr Petty cash xx

Penerimaan uang dari hasil penjualan tunai
No entry

Dr Petty cash xx
Cr Sales xx

Penerimaan kembali petty cash dengan membuka cek
DR Biaya-biaya xx
CR Cash in Bank xx

Dr Petty cash xx
Cr Cash in Bank xx

4. Kirim Konfirmasi atau dapatkan pernyataan saldo
dari kasir dalam hal tidak dilakukan kas opname
Untuk kas yang berada di cabang yang jauh dan saldonya
tidak besar (misalnya di Iria Jaya dengan saldo Rp
1.000.000) tidak perlu auditor secara khusus mengunjungi
cabang tersebut untuk melakukan kas opname, karena
tidak berimbang cost dan benefitnya. Sehingga cukup
dikirim surat konfirmasi atau diminta pernyataan saldo dari
kasir.Cash Opname adalah pemeriksaan fisik pada
uang kas tunai antara saldo yang terdapat
pada Catatan Akuntansi dengan Uang kas yang
ada di brankas/di tangan (cash on hand). 

5.

Kirim
konfirmasi
untuk
seluruh
rekening
bank
yang
dimiliki
perusahaan. Surat
konfirmasi
harus
tetap
dikirim
walaupun
perusahaan sudah
menerima rekening
Koran dari bank.

6 dan 7. Minta Rekonsiliasi bank per tanggal neraca
dan lakukan pemeriksaan atas rekonsiliasi bank
tersebut.
Rekonsiliasi bank harus dibuat oleh klien dan tugas
auditor
tersebut,

adalah

memeriksa

serta

mengusulkan

kebenaran
audit

rekonsiliasi

adjustment

jika

ditemukan suatu kesalahan.
Prosedur audit yang biasa dilakukan adalah :

Cocokkan saldo menurut rek. Koran bank dengan rek.
Koran bank yang bersangkutan dan jawaban konfirmasi
bank

Periksa footing dan cross footing

Cocokkan saldo menurut pembukuan dengan saldo
buku kas/bank dan buku besar

Periksa biaya administrasi bank, jasa giro ke rek koran

8. Review jawaban konfirmasi dari bank, notulen rapat
dan perjanjian kredituntuk mengetahui apakah ada
pembatasan

dari

rekening

bank

yang

dimiliki

perusahaan.
•. Untuk mengetahui apakah ada pembatasan atau tidak,
auditor bisa menanyakan pada klien, me-review jawaban
konfirmasi bank, notulen rapat dan perjanjian kredit.
•. Kemungkinan juga ada saldo kas/bank yang merupakan
“sinking fud” sehingga boleh digunakan untuk membiayai
kegiatan

rutin

digunakan
perusahaan.

perusahaan,

untuk

pelunasan

karena
obligasi

dana
atau

itu

akan

expansi

9. Periksa interbank transfer +/- 1 minggu sebelum
dan sesudah tanggal neraca, untuk mengetahui
adanya

kitting

dengan

tujuan

untuk

window

dressing.
Kitting  merupakan transfer uang dari satu bank ke
bank
lain
dan
pembukuan
transfer
yang
tidak semestinya sehingga jumlah yang dibukukan
sebagai aktiva di dalam kedua akun itu; praktek ini
digunakan
dengan
penyelewengan
guna
menyembunyikan defalkasi kas.
Window Dressing adalah penyajian laporan keuangan
yang lebih baik daripada keadaaan, untuk mempercantik
kinerja perusahaan dengan tujuan dan kepentingan
tertentu, dalam hal ini adalah untuk kepentingan
manajemen, kreditur, pajak ataupun publik.

10. Periksa transaksi kas sesudah tanggal neraca,
sampai mendekati tanggal selesainya pemeriksaan
lapangan.

Hal ini dilakukan tujuannya adalah :
•. untuk mengetahui apakah ada kewajiban yang belum
tercatat per tanggal neraca yang baru dibayar periode
berikutnya, baik yang berasal dari pembelian aset ataupun
biaya-biaya perusahaan.
•. Untuk mengetahui apakah utang per tanggal neraca sudah
dilunasi di periode berikutnya, sehingga auditor lebih yakin
mengenai kewajaran saldo utang per tanggal neraca,

11.Seandainya ada saldo kas dan setara kas dalam mata
uang asing per tanggal neraca :
•. periksa apakah saldo tersebut sudah dikonversikan ke dalam
rupiah dengan menggunakan kurs tengah Bank Indonesia
pada tanggal neraca dan apakah selisih kurs yang terjadi
sudah

dibebankan

atau

dikreditkan

pada

laba

rugi

tahunberjalan.
•. Menurut SAK ETAP (IAI; 2009: 153) :
Entitas harus mencatat transaksi mata uang asing, pada
pengakuan awal dalam dalam mata uang fungsional, dengan
menggunakan kurs tunai pada tanggal transaksi antara mata
uang fungsional dan mata uang asing tersebut.
Tanggal transaksi adalah tanggal di mana transaksi pertama kali

Menurut PSAK No. 10 (Revisi 2010) :
Indikator Penentuan Mata Uang Fungsional :

Mata uang yang sebagian besar mempengaruhi lingkungan ekonomi
utama entitas (“primary economic environment”).

Mata uang dimana dana dari aktivitas pendanaan dan operasi pada
umumnya dihasilkan dan ditahan  Management judgements

Pengukuran dan Penyajian Mata Uang :

Pengukuran: menggunakan mata uang fungsional.

Penyajian : dapat menggunakan mata uang selain mata uang
fungsional.

Kapitalisasi Selisih Kurs :

Tidak ada kapitalisasi selisih kurs akibat devaluasi atau depresiasi
luar biasa.
Prosedur Pengkuran Kembali :
Prosedur pengukuran kembali tidak diatur secara eksplisit.

12. Periksa apakah penyajian kas dan setara kas di
neraca dan catatan atas laporan keuangan, sesuai
dengan standar akuntansi keuangan yang berlaku di
Indonesia (SAK, ETAP, IFRS).
Penyajian di neraca pada umumnya kas dan setara kas
merupakan harta lancar, saldo deposito berjangka tidak
boleh dilaporkan sebagai dari kas dan bank, jika ada saldo
bank bersaldo kredit dengan jumlah yang material, harus di
reklasifikasi sebagai utang jangka pendek.

KAS KECIL DAN REKONSILIASI BANK

Dana kas kecil adalah uang kas yang disediakan untuk
membayar pengeluaran-pengeluaran yang jumlahnya relatif
kecil dan tidak ekonomis bila dibayar dengan cek. Dana ini
diserahkan kepada kasir kas kecil yang bertanggung jawab
terhadap pembayaran-pembayarandari dana ini dan
terhadap jumlah dana kas kecil.
Jika jumlah kas kecil
tinggal
sedikit, kasir kas kecil akan meminta
agar dananya ditambah. Penambahan
kas kecil kadang-kadang dilakukan
setiap periode tertentu misalnya
mingguan.

Imprest fund system (Sistem dana Tetap)
Di dalam sistem ini jumlah dalam rekening kas kecil selalu
tetap, yaitu sebesar cek yang diserahkan kepada kasir kas
kecil untuk membentuk dana kas kecil. Apabila jumlah kas
kecil tinggal sedikit, kasir kas kecil akan meminta pengisisan
kembali kas kecilnya sebesar jumlah yang sudah dibayar dari
kas kecil. Pengisian kembali pada akhir periode perlu dilakukan
agar biaya-biaya yang sudah dibayar dari kas kecil bisa
dicatat,karena dalam sistem imprest pengeluaran-pengeluaran
kas kecil baru dicatat pada saat pengisian kembali.
 

Fluctuating fund system (sistem dana berubah)
Dalam

metode

Fluktuasi

pembentukan

dana

kas

kecil

dilakukan dengan cara yang sama seperti dalam sistem
imprest. Perbedaanya dengan sistem imprest adalah dalam
metode Fluktuasi saldo rekening kas kecil tidak tetap,tetapi
berfluktuasi sesuai dengan jumlah pengisian kembali dan
pengeluaran-pengeluaran dari kas kecil. Kalau dalam sistem
imprest pencatatan terhadap pengeluaran-pengeluaran kas
kecil baru dilakukan pada saat pengisian kembali,dalam
metode fluktuasi setiap terjadi pengeluaran uang dari kas
kecil lansung dicatat.

Imprest System
Pembentukan Dana Kas Kecil

Fluctuating System

Rp xx

Kas

Kas Kecil
Rp xx

Rp xx

Kas

Pengeluaran-

Biaya-biaya yang

pengaluaran biaya

Dikeluarkan

Rp xx
Rp xx

Kas Kecil
Pengisian Kembali

Biaya-biaya yang
dikeluarkan
Rpxx
Kas
Rpxx

Rpxx
Kas kecil
Kas

Rp xx
Rpxx

Rekonsiliasi Bank (Bank Reconciliation) adalah scedule
yang menjelaskan setiap perbedaan antara catatan kas bank
dengan catatan kas perusahaan. Jika perbedaan ini hanya
berasal dari transaksi yang belum dicatat oleh bank, maka
catatan kas perusahaan di pandang yang benar. Namun, jika
beberapa bagian dari perbedaan itu berasal dari pos lain
maka catatan bank atau catatan perusahaan harus
disesuaikan.

PERLINDUNGAN FISIK TERHADAP KAS
 Penerimaan dan pengeluaran kas tidak hanya harus
dilindungi dengan sarana pengendalian internal, tetapi
kas ditangan dan kas di bank juga harus dilindungi.
Karena penerimaan akan menjadi kas ditangan dan
pengeluaran akan dilakukan dari kas yang ada di bank,
maka pengendalian yang memadai atas penerimaan dan
pengeuaran merupakan bagian dari perlindungan atas
saldo kas. Namun beberapa prosedur lainnya juga perlu
dipertimbangkan.
 Setiap perusahaan memiliki catatan atas kas yang
diterima, dikeluarkan, dan saldonya. Namun karena
banyaknya transaksi kas, maka kesalahan atau kelalaian