You are on page 1of 21

LAPORAN KASUS

BRONKOPNEUMONIA
OLEH :
Benediktus Bayu Anggoro Putro
PEMBIMBING :
dr. Sutopo, Sp. RM
Dr. Tagor Sibarani
MODUL REHABILITASI MEDIK DAN EMERGENCY MEDICINE

PENDAHULUAN
Bronkopneumonia didefinisikan sebagai
peradangan akut dari parenkim paru pada bagian
distal bronkiolus terminalis dan meliputi bronkiolus
respiratorius, duktus alveolaris, sakus alveolaris,
dan alveoli.
Menurut UNICEF dan WHO (2006), pneumonia
merupakan pembunuh anak paling utama yang
terlupakan (major forgotten killer of children).
Pneumonia merupakan penyebab kematian yang
tinggi, yaitu sebanyak 19%. Lebih tinggi bila
dibandingkan dengan total kematian akibat AIDS
(3%), malaria (8%) dan campak (4%).

Message
Pneumonia lobaris paling sering mengenai usia dewasa
muda, sedangkan bronkopneumonia dan bronkiolitis sering
mengenai balita dan anak-anak.
Riskesdas tahun 2010, prevalensi pneumonia pada anak
11,2%. Pneumonia menduduki tempat ke-2 sebagai
penyebab kematian bayi dan balita setelah diare, yaitu
sebesar 15,5% dan menduduki tempat ke-3 sebagai
penyebab kematian pada neonatus.
Menurut UNICEF dan WHO (2006), pneumonia merupakan
pembunuh anak paling utama yang terlupakan (major
forgotten killer of children). Pneumonia merupakan
penyebab kematian yang tinggi, yaitu sebanyak 19%. Lebih
tinggi bila dibandingkan dengan total kematian akibat AIDS
(3%), malaria (8%) dan campak (4%).

LAPORAN KASUS

Primary survey : An. MF


Vital sign : Respirasi 60x/menit, nadi 114x/menit, suhu 38,7C.
Airway : tidak ada tanda sumbatan jalan napas.
Breathing : respirasi spontan, 60x/menit, torako-abdominal,
toraks simetris, ditemukan retraksi dinding dada.
Circulation : CRT < 2 detik, nadi kuat angkat, akral hangat.
Dissability : Tampak sakit sedang, dimana GCS pasien
(E4V5M6)
Evaluasi masalah : Kasus ini termasuk dalam priority sign
dimana pasien mengalami Sesak napas.
Penanda warna : kuning
Tatalaksana awal : Pasien dibawa ke ruang non bedah,
pemasangan IV line dan dilakukan secondary survey

Airway : tidak ada tanda sumbatan jalan napas.


Breathing : respirasi spontan, 18x/menit, torakoabdominal, toraks simetris, ditemukan retraksi dinding
dada
Circulation : CRT < 2 detik, nadi kuat angkat, akral hangat.
Dissability : Kesulitan bernapas akibat rasa menyesak di
dada
Evaluasi masalah : Kasus ini termasuk dalam priority sign
dimana pasien mengalami sesak napas.
Penanda warna : Kuning
Tatalaksana awal : Pemberian oksigen 4 lpm dengan nasal
cannul neonatus.

ANAMNESIS

Nama : An. MF
Usia : 2 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Berat Badan : 11 Kg
Agama : Islam
Pekerjaan : Alamat : Jl. Bandeng 2
Anamnesis dilakukan pada hari Senin
tanggal 3 Oktober 2015 WIB

ANAMNESIS

Anamnesis
Keluhan Utama : Sesak napas
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang diantar orangtuanya dengan keluhan batuk
dan sesak 2 hari SMRS, disertai demam 1 hari lalu.
Riwayat kebiruan disangkal, riwayat sesak disertai mengi
disangkal. Sebelumnya pasien ada dirawat di RSUD 5 hari
yang lalu karena diare. Setelah pulang dari rumah sakit
keluhan muncul batuk dan sesak baru muncul. Pasien tidak
ada diberi obat, dan tidak kontrol ke dokter. Untuk obat yang
diminum pasien hanya meminum obat zink sirup, L-bio, dan
juga obat puyer yang didapat dari saat ia dirawat. Saat
dirawat dibangsal pasien ada satu ruangan dengan yang
menderita batuk sesak, riwayat tb paru disangkal.

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat di rawat di RSUD 5 hari lalu
karena diare
Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat kelainan jantung dari keluarga
disangkal, Asma disangkal, riwayat
pengobatan TB paru disangkal

PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan Umum : tampak sakit sedang, kesadaran E4V5M6
2. Tanda vital : nadi 114x/menit, lemah dan cepat, suhu
38,6C, respirasi 60x/menit.
3. Kulit :lembab, akral hangat, CRT < 2 detik
4. Kepala :
Kepala : Mesosefal, tidak ditemukan deformitas,
Mata : Isokor, Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-,
diameter pupil 3mm/3mm, reflek cahaya +/+
Hidung : Napas cuping hidung +
Mulut : Bibir kebiruan -, gigi sulit dinilai 5. Leher
JVP : tidak meningkat, KGB > (-)

PEMERIKSAAN FISIK
6. Toraks : Dada tampak simetris, retraksi supra
sternal +, fremitus taktil normal, simetris, sonor,
vesikuler +/+, rhonki -/-, wheezing -/-, retraksi
intercostal + ictus cordis terlihat dan teraba
dimidclavicula sinistra SIC V, S1-S2 reguler,
gallop-, murmur-.
7. Abdomen : Datar, supel, bising usus +
normal, timpani, nyeri tekan 8. Ekstremitas : akral hangat, lembab, CRT < 2
detik.
9. Genital : tidak dilakukan pemeriksaan

PEMERIKSAAN PENUNJANG

A. LABORATORIUM
HB : 13,1/dl,
HCT: 39,7%,
Leukosit: 14,98x103/uL,
Eritrosit:4,88 x106/uL,
Trombosit 340x103/uL,
GDS: 78 mg/dl

Foto Rontgen

Pemeriksaan rontgen
Jantung tampak kardiomegali,
pelebaran aorta asendens dan
elongansi aorta, tampak corakan paru
meningkat dan diafragma serta sinus
baik.
Pada gambaran abdomen tampak
jumlah udara usus meningkat
terutama di colon dan tampak fecalit
material. Kesan Meteorismus

USULAN
PEMERIKSAAN

Rontgen
Pemeriksaan IgG, IgM,
CRP, Serologi

DIAGNOSIS

a. Diagnosis Banding :
Bronkiolitis,
Bronkopneumonia, TB
paru, Asma bronkial
b. Diagnosis Kerja :
Bronkopneumonia

PENATALAKSANAAN
Infus D51/4 NS 10 tpm
Cefotaxim 3x350 mg (IV)
Kalmetason loading 4
mg, selanjutnya 3x1,5gr
(IV)
Po : Ambroxol 5,5 mg
dan salbutamol 0,6 mg/
puyer 3x1
Nebulisasi : combivent
amp dalam nacl 3cc

PROGNOSIS

Quo ad vitam : Dubia


ad bonam
Quo ad functionam :
Dubia ad bonam
Quo ad sanationam :
Dubia ad bonam

PEMBAHASAN
Bronkopneumonia didefinisikan sebagai peradangan
akut dari parenkim paru pada bagian distal bronkiolus
terminalis dan meliputi bronkiolus respiratorius, duktus
alveolaris, sakus alveolaris, dan alveoli.
Etiologi pneumonia pada neonatus dan bayi kecil
meliputi Streptococcus grup B dan bakteri gram negatif
seperti E. colli, Pseudomonas sp, atau Klebsiella sp.
Pada bayi yang lebih besar dan balita pneumonia
sering disebabkan oleh Streptococcus pneumonia, H.
influenzae, Stretococcus grup A, S. aureus, sedangkan
pada anak yang lebih besar dan remaja, selain bakteri
tersebut, sering juga ditemukan infeksi Mycoplasma
pneumoniae.

Kriteria Rawat Inap


Neonatus hingga usia 20 hari dengan gejala dan tanda curiga bronkpneumonia
sebaiknya dirawat inap untuk monitoring dan mencegah komplikasi. 12
Bayi
Saturasi oksigen 92%, sianosis
Frekuensi napas > 60 x/menit
Distress pernapasan, apnea intermitten, atau grunting
Tidak mau minum/ menetek
Keluarga tidak bisa merawat di rumah. 5,30
Anak
Saturasi oksigen < 92%, sianosis
Frekuensi napas > 50 x/menit
Distress pernapasan
Grunting
Terdapat tanda dehidradi
Keluarga tidak bisa merawat di rumah.5,30

Tatalaksana Umum
Pasien dengan saturasi oksigen 92%, berikan terapi
oksigen dengan kanul nasal, head box, atau sungkup
untuk mempertahankan saturasi >92%
Pada pneumonia berat atau asupan per oral kurang,
diberikan cairan intravena dan dilakukan balans cairan
ketat
Antipiretik dan analgetik dapat diberikan untuk menjaga
kenyamanan pasien dan mengontrol batuk
Nebulisasi dengan 2 agonis dan/atau NaCl dapat
diberikan untuk memperbaiki mucociliary clearance
Pasien yang mendapatkan terapi oksigen harus
diobservasi setidaknya 4 jam sekali, termasuk saturasi
oksigen.5

Pemberian Antibiotik
Amoksisilin merupakan pilihan pertama untuk antibiotik oral pada anak <5 tahun karena
efektif melawan sebagian besar patogen yang menyebabkan pneumonia pada anak,
ditoleransi dengan baik, dan murah. Alternatifnya adalah co-amoxiclav, cefaclor,
eritromisin, dan azitromisin
M. Pneumoniae lebih sering terjadi pada anak yang lebih tua maka antibiotik golongan
makrolid diberikan sebagai pilihan pertama secara empiris pada anak 5 tahun
Makrolid diberikan jika M. Pneumoniae atau C. Pneumoniae dicurigai sebagai penyebab
Amoksisilin diberikan sebagai pilihan pertama jika S. pneumoniae sangat mungkin
sebagai penyebab
Jika S. aureus dicurigai sebagai penyebab, diberikan makrolid atau kombinasi
flucioxacillin dengan amoksisilin
Antibiotik intravena diberikan pada pasien pneumonia yang tidak dapat menerima obat
per oral (misalnya karena muntah) atau termasuk dalam pneumonia berat
Antibiotik intravena yang dianjurkan adalah : ampisilin dan kloramfenikol, co-amoxiclav,
cefuriaxone, cefuroxime, dan cefotaxime
Pemberian antibiotik oral harus dipertimbangkan jika terdapat perbaikan setelah
mendapatkan antibiotik intravena

Rekomendasi untuk community acquired


pneumonia adalah sebagai berikut :
Neonatus 2 bulan : ampisilin dan gentamisin
Lebih dari 2 bulan : lini pertama ampisilin, jika
dalam 3 hari tidak ada perbaikan ditambahkan
kloramfenikol. Lini kedua sefriakson.
Bila klinis perbaikan, antibiotik intravena dapat
diganti dengan preparat oral dengan antibiotik
golongan yang sama dengan antibiotik
intravena sebelumnya.5

Daftar pustaka
Correa Armando.G, Starke Jeffrey R. Kendigs Disorder of the Respiratory Tract in Children: Bacterial Pneumoniasi,
Sixth Edition. WB. Saunders Company Philadelphia, London, Toronto, Montreal, Sydney, Tokyo. 1998.
Guyton, Hall. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Buku Kedokteran EGC. Jakarta : 1997. Hal 633.
Konsensus Pneumonia. Bagian Pulmonologi FKUI/RSUP Persahabatan. Jakarta : 2000.
OBrodovich Hugh M, Haddad Gabriel G. Kendigs Disorder of the Respiratory Tract in Children: The Functional Basis
of Respiratory Pathology and Disease, Sixth Edition. WB. Saunders Company Philadelphia, London, Toronto,
Montreal, Sydney, Tokyo. 1998.
Pasterkamp Hans. Kendigs Disorder of the Respiratory Tract in Children :The History and Physical Examination ,
Sixth Edition. WB. Saunders Company Philadelphia, London, Toronto, Montreal, Sydney, Tokyo. 1998.
Pedoman Terapi Ilmu Kesehatan Anak, Unpad. Bandung : 2005.
Reinhard V. Putz, Reinhard Pabst. Atlas Anatomi Manusia Sobotta Jilid 2. Edisi 21. Buku Kedokteran EGC. Jakarta :
2000. Hal 99.
Sectish Theodore C, Prober Charles G. Nelson Textbook of Pediatrics : Pneumonia. Edisi ke-17. Saunders. 2004.
Rahajoe, Nastini.N.2008.Buku Ajar Respirologi,Edisi 1.Jakarta : IDAI

Udobi KF, Touijer K. Acute Respiratory Distress Syndrome. Am Fam Physician. 2003 Januari 15; 67 (2) :315-322.
Harman EM. Acute Respiratory Distress Syndrome Overview. Updated: Juli 2011. Diunduh dari:
http://emedicine.medscape.com/article/165139-overview
Farid. Acute Respiratory Distress Syndrome. Maj Farm 2006;4: 12
Ware LB, Matthay MA. The Acute Respiratory Distress Syndrome. N Engl J Med 2000; 342:1334-1349
Harman EM. Acute Respiratory Distress Syndrome Work Up. Updated: Juli 2011. Diunduh dari:
http://emedicine.medscape.com/article/165139-workup
Harman EM. Acute Respiratory Distress Syndrome Treatment & Management. Updated: Juli 2011. Diunduh dari:
http://emedicine.medscape.com/article/165139-treatment