Zona intertidal merupakan zona yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut dengan luas area yang

sempit antara daerah pasang tertinggi dan surut terendah.

Zona ini merupakan bagian laut yang mungkin paling banyak dikenal dan dipelajari karena sangat mudah dicapai manusia. Hanya di daerah inilah penelitian terhadap organisme perairan dapat dilaksanakan secara langsung selama periode air surut, tanpa memerlukan peralatan khusus. Zona intertidal memiliki keanekaragaman biota laut yang sangat tinggi, sehingga merupakan bagian laut yang sering menjadi objek penelitian tentang biota laut. Di samping itu, penelitian di zona ini bisa dilakukan tanpa memerlukan peralatan khusus terutama bagi penelitian pemula.

Zonasi
Zonasi adalah distribusi atas & bawah organisme yang dipengaruhi berbagai faktor . Faktor fisik : Kemiringan permukaan berbatu, Kisaran Pasang Surut & Keterbukaan terhadap gerakan ombak Akibat : Kekeringan, Suhu, Salinitas & Gelombang Cahaya Faktor biologis : Kompetisi,Predator &Grazing *Kompetisi : Pantai berbatu terbatas persediaan ruang karena luas daerah yang terbatas *Predator utama : Bintang Laut *Grazer : Limpet,BuluBabi,Siput litorina

Zona intertidal memiliki kedalaman sampai berkisar 6 meter, dengan tipe substrat sebagai berikut : Pantai berbatu (rocky shores) Tebing pantai Terumbu karang Paparan berlumpur dan Berbatu

Ti e-ti e a tai ya g a at ite

i iz

a i terti al yait :

a tai er at Ter e t ari at gra it ari er agai eca . a asa i i ali g a at a r rga is e a tai er asir isi i ti a Ma r rga is e ya g i a tai er at , a are a isi li g ya g a a ce er g e g r a iri ya

ra te ya.

at

a

se a at i a asa ga ya rga is e e ala s strat.

Pantai berlumpur Terbentuk disekitar muara-muara sungai dan mempunyai ukuran butiran yang paling halus. Pantai berkarang Terbentuk dari rumah/cangkang yang dibangun oleh hewan laut yang disebut Acropora, Fungia dan Porites (dalam Filum Coelenterata).

Menurut Skema Stephenson daerah intertidal dibagi menjadi tiga divisi utama, yaitu : Tepi Supralitoral,batas atasnya adalah zona untuk teritip (orgisme penempel) dan meluas ke batas atas untuk siput dari genus Littorina. Bagian dari zona ini dapat dicapai oleh pasang purnama (Full Moon), akan tetapi lebih dominan oleh gelombang yang pecah di pesisir. Di atas zona ini adalah zona supralittoral daratan. Zona Midlittoral, adalah zona yang paling luas, batas teratasnya bertepatan dengan batas teratasnya dari zona teritip sedangkan batas bawahnya ditempati oleh jenis Laminaria yang mencapai penyebaran yang paling tinggi. Tepi infralitoral, membentang dari pasang surut terendah sampai batas atas dari kebun kelp (adalah sejenis tumbuhan air yang banyak hidup di zona intertidal).

Pada kawasan intertidal, banyak di dominasi oleh hewan-hewan yang bergerak cepat untuk mencari makan seperti beberapa jenis kepiting dan beberapa jenis kerang-kerangan (bivalve) serta cacing pantai (Annelida) yang dapat mengubur diri kedalam pasir. Di perairan pantai, padang lamun membentuk satu kesatuan dari bagian dalam daerah intertidal disekitar daratan. Sedangkan terumbu karang terdapat di bagian luar daerah intertidal. Kepiting Calappa hepatica umumnya hidup pada substrat berpasir dan seringkali tersembunyi di karang-karang dan di daerah-daerah padang lamun. Kepiting ini dapat juga ditemukan di daerah pasang surut (zona intertidal).

Beberapa organisme yang hidup di daerah ini ialah abalone, anemon, rumput laut cokelat, chitons, kepiting, ganggang hijau, hydroids, isopods, limpets, kerang, nudibranchs, sculpin, mentimun laut, selada laut, telapak tangan laut, bintang laut, bulu babi, udang, siput, spons, selancar rumput, cacing tabung, dan whelks.

Makhluk-makhluk di wilayah ini dapat tumbuh dengan ukuran yang lebih besar karena ada lebih banyak tersedia energi dalam ekosistem setempat serta air dangkal yang cukup untuk memungkinkan banyaknya cahaya yang masuk untuk mencapai vegetasi yang memungkinkan fotosintetik.

Anemon laut (Actinia) merupakan hewan dari kelas Anthozoa. Bentuk dari anemon laut sekilas terlihat seperti tumbuhan, tapi jika diamati lebih jauh, anemone laut merupakan jenis hewan. Beberapa anemon laut dapat bergerak. Pergerakan anemon laut seperti siput, bergerak secara perlahan dengan cara menempel. Sebagian besar anemon laut memiliki sel penyengat. Berguna untuk melindungi dirinya dari predator. Di alam anemone laut berfungsi sebagai tempat hidup dari ikan badut. Kedua organisme ini melakukan simbiosis mutualisme. Pada anemon laut, pengambilan sampel dapat dilakukan dengan cara pengambilan secara langsung. Anemon laut bisa langsung diambil dengan cara dicabut langsung dari substratnya, atau bisa juga dengan cara dipotong.

Sekarang ini, anemon laut sudah banyak yang dibudidayakan. Beberapa anemon laut yang sudah banyak dibudidayakan antara lain : 
Anemon Karang  Anemon Matahari  Anemon Pasir

Kondisi lingkungan di zona intertidal oleh faktor faktor erikut : asang surut uhu Gerakan Ombak Salinitas aktor-faktor lain

iasanya di engaruhi

a. Pasang surut Merupakan faktor lingkungan yang paling penting yang mempengaruhi kehidupan di zona intertidal. Merupakan Naik turunnya permukaan laut secara periodik.

b. Suhu Daerah intertidal biasanya dipengaruhi oleh suhu udara selama periode yang berbeda-beda. Pasang turun terjadi ketika suhu udara minimum atau ketika suhu udara maksimum, batas letal dapat terlampaui dan organisme dapat mati. Kisaran suhu yang ekstrim menyebabkan organisme semakin lemah.

c. Gerakan Ombak Gerakan ombak mempunyai pengaruh terbesar terhadap organisme dan komunitas dibandingkan dengan daerah lainnya . Pengaruh mekaniknya antara lain menghancurkan dan menghayutkan benda . Memperluas zona intertidal . Mencampur atau mengaduk gas ke dalam air yang akan meningkatkan kandungan oksigen .

d. Salinitas Perubahan salinitas mempengaruhi organisme di zona intertidal melalui : Zona intertidal terbuka pada saat pasang turun dan kemudian digenangi air atau aliran air akibat hujan sehingga menyebabkan salinitas akan turun . Ada hubungan dengan genangan pasang surut, yaitu daerah yang menampung air laut ketika pasang surut . Salinitas akan tinggi jika terjadi penguapan yang sangat tinggi pada siang hari. e. Faktor-faktor lain Adanya pasir, batu dan lumpur.

Adaptasi Organisme Intertidal a) Daya Tahan terhadap Kehilangan air b) Pemeliharaan Keseimbangan Panas c) Tekanan mekanik d) Pernapasan e) Cara Makan f) Tekanan Salinitas g) Reproduksi

a) Daya Tahan terhadap Kehilangan air

Begitu organisme laut berpindah dari air ke udara terbuka, mereka mulai kehilangan air. Mekanisme yang sederhana untuk menghindari kehilangan air terlihat pada hewan-hewan yang bergerak seperti kepiting dan anemon. b) Pemeliharaan Keseimbangan Panas Organisme intertidal juga mengalami keterbukaan terhadap suhu panas dan dingin yang ekstrim dan memperlihatkan adaptasi tingkah laku dan struktur tubuh untuk menjaga keseimbangan panas internal.

c) Tekanan mekanik Gerakan ombak mempunyai pengaruh yang berbeda, pada pantai berbatu dan pada pantai berpasir. Untuk mempertahankan posisi menghadapi gerakan ombak, organisme intertidal telah membentuk beberapa adaptasi. d) Pernapasan Diantara hewan intertidal terdapat kecenderungan organ pernapasan yang mempunyai tonjolan kedalam rongga perlindungan untuk mencegah kekeringan. Hal ini dapat terlihat jelas pada berbagai moluska dimana insang terdapat pada rongga mantel yang dilindungi cangkang.

e) Cara Makan Pada waktu makan, seluruh hewan intertidal harus mengeluarkan bagian-bagian berdaging dari tubuhnya. Karena itu seluruh hewan intertidal hanya aktif jika pasang naik dan tubuhnya terendam air. Hal ini berlaku bagi seluruh hewan baik pemakan tumbuhan, pemakan bahan-bahan tersaring, pemakan detritus maupun predator. f ) Tekanan Salinitas Zona intertidal juga mendapat limpahan air tawar yang dapat menimbulkan masalah tekanan osmotik bagi organisme intertidal yang hanya dapat menyesuaikan diri denagn air laut. Kebanyakan tidak mempunyai mekanisme untuk mengontrol kadar garam cairan tubuhnya dan disebut osmokonformer. Adaptasi satu-satunya sama dengan adaptasi untuk melindungi dari kekeringan

g) Reproduksi Kebanyakan organisme intertidal hidup menetap atau bahkan melekat, sehingga dalam penyebarannya mereka mmenghasilkan telur atau larva yang terapung bebas sebagai plankton. Hampir semua organisme mempunyai daur perkembangbiakan yang seirama dengan munculnya arus pasang surut tertentu, seperti misalnya pada waktu pasang purnama.