You are on page 1of 18

ASMA dan DBD

Definisi ASMA
Merupakan penyakit heterogen, yang biasanya
ditandai dengan inflamasi kronik dari saluran
nafas. Bisa didapatkan gejala pernapasan seperti
wheezing, napas pendek, dada terasa terikat, dan
batuk yang disertai dengan limitasi expiratori

Gejala yang
memungkinkan asma
Wheezing, napas pendek, batuk, chest tightness
Memburuk pada malam hari atau saat pagi hari
Triggered by viral infections (colds), exercise,
allergen exposure, changes in weather, laughter,
or irritants such as car exhaust fumes, smoke or
strong smells.

Gejala yang
menyingkirkan asma
Batuk dengan tanpa gejala repirasi
Produksi sputum kronik
Napas pendek dengan dizziness, light-headedness
or peripheral tingling (paresthesia)
Nyeri dada

PF dan PP
Pemeriksaan didapatkan normal
Pada auskultasi biasa didapatkan wheezing tetapi
bisa juga negatif pada eksaserbasi asma berat
Spirometri
Forced expiratory volume in 1 second >12%
dan >200ml dari baseline
Peak expiratory flow 20%

Uji Provokasi Bronkus gejala asma dan faal paru


normal.
Sensitivitas tinggi, spesifisitas rendah hasil
negatif menyingkirkan diagnosis asma, hasil
positif belum tentu asma.
Alergi test asma alergi skin prick testing atau
penilaian IgE serum
Skin prick test common environmental allergen
(sensitivitas tinggi)

Medikasi Asma

Controller medications: these are used for regular


maintenance treatment. They reduce airway inflammation,
control symptoms, and reduce future risks such as
exacerbations
Reliever (rescue) medications: these are provided to all
patients for as-needed relief of breakthrough symptoms,
including during worsening asthma or exacerbations. They
are also recommended for short-term prevention of
exercise-induced bronchoconstriction. Reducing and,
ideally, eliminating the need for reliever treatment is both
an important goal in asthma management and a measure
of the success of asthma treatment.
Add-on therapies for patients with severe asthma : these
may be considered when patients have persistent
symptoms and/or exacerbations despite optimized
treatment with high dose controller medications (usually a
high dose ICS and a LABA) and treatment of modifiable risk
factors

Untuk efek yang baik, pengobatan harus segera


dimulai setelah diagnosa asma ditegakkan:
Low dose ICS great improvement in lung
function if symptoms have been present more
than 2-4 years.
Patients not taking ICS who experience a severe
exacerbation have a greater long-term decline in
lung function than those who have already started
ICS.

DBD
Disebabkan oleh virus dengue, genus flavivirus
Diameter 30 nm terdiri dari asam ribonukleat
rantai tunggal
4 serotipe virus: DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4
Ada 3 fase: febris, critical, recovery

Fase febrile
Demam tinggi 2-7 hari
Facial flushing, eritema, nyeri otot, nyeri sendi,
nyeri retro orbital, fotofobia, dan sakit kepala,
lemas, anorexia, muntah
Test torniquet (+) susp. DBD
Mild haemorrhagic ptekie dan perdarahan
mukosa (hidung/ gusi)
Hepar membesar dan nyeri beberapa hari setelah
demam
CBC leukopeni (high probability)

Critical Phase
Transisi dari febrile to afebrile phase
Pasien dengan peningkatan permeabilitas kapiler
ditandai dengan warning sign plasma leakage
Warning signs beginning of the critical phase
progresif leukopenia dan penurunan trombosit,
peningkatan Ht
Warning sign biasanya terjadi hari ke 3-7.
Muntah dan abdominal pain

Recovery phase
Ditandai dengan isles of white in the sea of red:
Ht stabil atau lebih rendah karena efek reabsorbsi
cairan
Komplikasi:

Virological dan serological


markers
Masa inkubasi 4-10 hari setelah gigitan nyamuk.
Selama periode ini virus bereplikasi
Primary infection
Viremia 1-2 hari sebelum muncul demam, hingga 45 hari.
Anti-dengue IgM terdeteksi 3-6 hari setelah demam.
IgM masih terdeteksi sekitar 1-3 bulan setelah
demam.
IgG naik sedikit dan akan mencapai puncak hari ke
9-10 indication of a past dengue infection.