You are on page 1of 23

KARAKTERISTIK KLINIK

PENYAKIT SALURAN NAFAS
PADA ANAK
Nora Septia
Pembimbing :
dr. H. Suherjati Setiyadi, SP.A

Pendahuluan
Pernafasan atau respirasi adalah menghirup udara dari luar
yang mengandung oksigen (O2) kedalam tubuh serta
menghembuskan udara yang banyak mengandung
karbondioksida (CO2) sebagai sisa dari oksidasi keluar dari
tubuh. Sisa respirasi berperan untuk menukar udara ke
permukaan dalam paru-paru. Udara masuk dan menetap
dalam sistem pernafasan dan masuk dalam pernafasan otot
sehingga
trakea
dapat
melakukan
penyaringan,
penghangatan dan melembabkan udara yang masuk, juga
melindungi organ lembut. penghisapan ini disebut inspirasi
dan menghembuskan disebut ekspirasi.

Melembabkan udara.Mengambil oksigen yang kemudian dibawa oleh darah keseluruh tubuh (sel-selnya) untuk mengadakan pembakaran 2. kemudian dibawa oleh darah ke paruparu untuk dibuang (karena tidak berguna lagi oleh tubuh) 3. .Fungsi Pernapasan Adapun fungsi pernapasan.Mengeluarkan karbon dioksida yang terjadi sebagai sisa dari pembakaran. yaitu : 1.

Penyebab-penyebab Utama Penyakit Pernapasan Sebab-sebab utama penyakit pernapasan. yaitu Terganggunya pengangkutan O2 ke sel-sel atau jaringan tubuh Mikroorganisme pathogen yang mampu bertahan terhadap fagositosis Paparan terus-menerus terhadap debu .

yaitu :  Batuk  Sputum  Dispneu  Nyeri dada  Breath sound  Hiperinflasi .Tanda-tanda dan Gejala Gangguan Pernapasan Gangguan pada saluran pernapasan ditandai dengan gejala-gejala.

Anak yang datang dengan batuk/ kesulitan bernapas Anamnesis -Lama dalam hari -Malam/dini hari -Faktor pencetus -Paroksismal dengan whoops/muntah -Kontak dengan pasien TB -Gejala lain (demam. wheezing. dll) -Riwayat tersedak -Riwayat asma . pilek.

Wheezing.Anak yang datang dengan batuk/ kesulitan bernapas Pemeriksaan Fisik  Merintih. PCH. Stridor  Gerakan kepala yang sesuai dengan inspirasi      distress pernapasan berat Frekuensi pernapasan Tarikan dinding dada Suara paru (ronki) / suara napas bronkial Tanda efusi pleura (redup)/ pnumothorax (hipersonor) .

Diagnosis banding anak usia 2 bulan – 5tahun yang datang dengan batuk dan sulit napas Pneumonia Bronkiolitis Asma Tuberkulosis Pneumothorax Benda asing .

Diagnosis banding anak dengan wheezing Diagnosis Gejala Asma -Riwayat wheezing berulang -Berespons baik terhadap bronkodilator Bronkiolitis -Episode pertama wheezing usia <2tahun -Respons kurang terhadap bronkodilator Wheezing dengan batuk dan pilek -Wheezing selalu berkaitan dengan batuk pilek -Respons baik terhadap bronkodilator Benda asing -Riwayat tersedak Pneumonia -Batuk dengan nafas cepat -Demam -PCH -Merintih .

Data sekunder berasal dari catatan medik pasien yang dirawat di bangsal Respirologi Anak. . sejak bulan Januari sampai Desember 2010.Metode Penelitian Metode penelitian Analitik Deskriptif Retrospektif dari data sekunder yang diambil dari status pasien rawat inap.

.

terlihat jelas perbedaan modus umur.75 tahun dengan umur termuda 8 bulan dan tertua 14. Rerata umur pasien 3. gizi buruk. dengan rerata pasien sebesar 22 pasien/bulan Gambar 2 menunjukkan modus umur pasien dikelompokkan menurut diagnosis utama. sedangkan anak di atas lima tahun sering menderita penyakit tuberkulosis paru dan asma. Distribusi status gizi terbanyak mempunyai status gizi baik. dan paling banyak terdapat pada kelompok umur satu tahun kebawah. dan gizi lebih. diikuti gizi kurang. .Tabel 1. Gambar 1 menunjukkan distribusi insidens penyakit pernafasan menurut bulan masuk rawat. Tampak bahwa pasien dirawat terbanyak pada bulan Maret (n= 38) dan paling sedikit pada bulan Juni (n=10).60 tahun. Lebih dari separuh pasien telah diimunisasi lengkap (51. pneumonia dan meningitis TB. Anak di bawah lima tahun cenderung menderita ISPA atas.50%).

.

Empat jenis penyakit terbanyak adalah ISPA atas 21 (45. pasien anak yang masuk ke bangsal respirologi terbagi menjadi 12 jenis menurut diagnosis akhir. Selama tahun 2010. . tuberkulosis paru 15 (5. dan asma 6 (2. pneumonia 106 (40.Tabel 2 memperlihatkan berbagai diagnosis penyakit pernapasan dan hubungannya dengan beberapa karakteristik klinik.14%).68%).83%).2%) orang.

.

6%) berumur kurang dari setahun.Tabel 3 memperlihatkan karakteristik kasus pneumonia.72). Di antara 106 orang pasien. Terbanyak pasien adalah laki-laki (57.54%). . 78 (73. Pada pneumonia tidak ditemukan hubungan antara gizi buruk dan hitung leukosit (p=0.522) dan tidak ditemukan pula hubungan antara gizi buruk dan lama rawat (p=0. Hitung leukosit rata-rata di atas nilai normal. Usia termuda 1 bulan dan tertua 12 tahun.

.

Demikian juga tidak terdapat perbedaan antara kelompok TB paru dan meningitis TB dalam hal kontak TB dewasa (p=0.93).Tabel 4 memperlihatkan beberapa karakteristik pasien tuberkulosis yang dirawat. keadaan gizi (p=0.93 tahun. Satu-satunya perbedaan bermakna adalah pasien meningitis TB mempunyai frekuensi pernafasan lebih cepat dari pada jenis TB yang lain (p=0.20). Rerata umur pasien 7. suhu badan saat masuk (p=0.04).37). .11). dan lama rawat (p=0.10).37). Tuberkulosis berat (TB paru milier dan meningitis TB) cenderung terjadi pada usia balita. namun nampaknya perbedaan ini tidak bermakna (p=0. diameter uji Mantoux (p=0.

Sejumlah faktor seperti status gizi.Pembahasan Kelompok umur yang paling rawan terkena penyakit saluran pernapasan adalah kelompok umur di bawah satu tahun. umur. status imunisasi. pemberian ASI eksklusif akan mempengaruhi gejala klinik. dan hitung leukosit pada berbagai penyakit saluran pernapasan . umur. Pada penelitian terdapat perbedaan bermakna pada status gizi. lama rawat.

dan hitung leukosit pada berbagai penyakit saluran pernafasan. dan lama rawat.Pada penelitian terdapat perbedaan bermakna pada status gizi. Pneumonia lebih dipengaruhi umur dan gizi buruk. tidak ditemukan hubungan antara berbagai karakteristik klinik seperti suhu. umur. Pada pasien ISPA akut. lama rawat lebih panjang dan hitung leukosit relatif lebih tinggi dibandingkan penyakit pernapasan lainnya. sedangkan pada meningitis TB. lama rawat. hitung leukosit. .

walaupun dampak terhadap lama rawat tidak berbeda dengan tanpa ASI eksklusif. .Pada pasien pneumonia. beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan antara status gizi dan outcome. tetapi pada penelitian ini tidak terdapat hubungan antara status gizi dengan parameter laboratorium seperti hitung leukosit dan juga tidak mempengaruhi lama rawat. Pemberian ASI eksklusif sebagai salah satu bentuk asupan nutrisi yang ideal juga mempengaruhi kejadian pneumonia.

status gizi. dan lama rawat berbeda diantara berbagai penyakit pernafasan. . hitung leukosit. tuberkulosis. dan asma. Umur saat masuk. pneumonia.Kesimpulan Penyakit terbanyak adalah ISPA atas.

TERIMA KASIH .