You are on page 1of 61

Pembimbing

Dr. Agah Gadjali,
Sp.M
Dr. Gartati Ismail,
Sp.M
Dr. Henry A.W, Sp.M
Dr. Hermansyah,
Sp.M
Dr. Mustafa, Sp.M

KEPANITERAAN KLINIK STASE MATA

PRESENTASI KASUS

UNIVERSITAS YARSI – RS SAID SUKANTO
Muchamad Rinaldy - 1102008157

Periode 9 Februari – 15 Maret 2015

Identitas Pasien
Nama
: Tn. S
Jenis kelamin
: Laki-laki
Tempat/tanggal lahir
: Ngawi, 09-12-1966
Usia
: 49 Tahun
Agama
: Islam
Suku Bangsa
: Jawa
Status Nikah
: Menikah
Pendidikan
: S1
Pekerjaan
: MABES POLRI
Alamat
: Jl. Bhineka III no. 57 Kp
rumbut, Depok
Jawa barat
Tanggal Kunjungan : 17 Februari 2015

Anamnesis
• Dilakukan secara
autoanamnesis
• Hari/Tanggal: Rabu, 17 Februari 2015
• Tempat
: Poli Mata RS POLRI Said
Sukanto
• Jam
: Pk. 10.45 WIB

Keluhan Utama Mata merah dan nyeri pada mata kiri sejak 6 hari yang lalu .

Keluhan Tambahan • Penglihatan menurun pada mata kiri • Silau pada mata kiri • Rasa tidak nyaman pada mata kiri .

. silau serta rasa tidak nyaman pada mata kiri. • Pasien mengaku seringkali menutup mata kirinya agar dapat melihat dengan jelas dan tidak silau.Riwayat Penyakit Sekarang • Pasien datang dengan keluhan mata merah dan nyeri pada mata kiri sejak 6 hari SMRS yang diikuti dengan penglihatan menurun pada mata kiri. • Penurunan penglihatan pada mata kiri dirasakan pasien semakin lama semakin buruk.

demam. ataupun wilayah hitam pada penglihatan disangkal oleh pasien. • Mata kanan tidak ada keluhan. sekret pada mata. pandangan ganda. . gatal pada mata.• Keluhan muntah. • Pasien telah menggunakan obat tetes yang dibeli di warung sejak 5 hari SMRS namun tidak ada perbaikan. nyeri kepala.

ataupun Kolesterol •Riwayat mata terkena bahan kimia disangkal •Pasien tidak memiliki riwayat penggunaan kacamata sebelumnya •Riwayat trauma/infeksi mata disangkal oleh pasien •Pasien tidak memiliki riwayat pembedahan •Pasien tidak memiliki riwayat penyakit seksual menular •Pasien tidak memiliki riwayat penyakit artritis .Riwayat Penyakit Dahulu •Pasien tidak memiliki riwayat hipertensi. DM. Asam Urat.

Riwayat Keluarga •Tidak ada keluarga pasien mengalami penyakit mata yang pernah •Riwayat DM dan hipertensi pada keluarga disangkal .

• Pasien tidak kucing.Riwayat Kebiasaan • Pasien memiliki kebiasaan berolahraga secara rutin • Riwayat konsumsi minuman beralkohol dan obatobatan terlarang disangkal oleh pasien. memiliki hewan peliharaan seperti .

Riwayat Konsumsi Obat • Riwayat konsumsi obat-obatan panjang disangkal oleh pasien. jangka .

Riwayat Alergi • Riwayat alergi terharap obat-obatan ataupun makanan tertentu disangkal oleh pasien. .

Pemeriksaan Fisik Diperiksa pada 17 Februari 2015 Pk. Pemeriksaan Umum •Keadaan Umum : Sakit Ringan •Kesadaran : Compos Mentis (E4V5M6) •Tanda Vital     TD Nadi RR Suhu : : : : 120/80 mmHg 92x/menit 14x/menit afebris . 10.45 WIB i.

0 mmHg Ortoforia Gerakan bola mata Palpebra superior Edema (-). luka (-). panas (-) Palpebra inferior Edema (-). hiperemis (-). nyeri tekan (-). hematom (-). hiperemis (-). papil (-). nyeri tekan (-). hiperemis (-). hiperemis (-).Visus TIO Kedudukan bola mata OD OS 5/5E 3/60 TDK PH(-) 13. pus (-). papil (-). hematom (-). panas (-) Edema (-). benjolan (-) nyeri tekan (-) Konjungtiva tarsal superior Hiperemis (-). luka (-). benjolan (-) nyeri tekan (-) Edema (-).1 mmHg 9. edema (-) . pus (-). edema (-) Hiperemis (-). benjolan (-). benjolan (-).

Jernih. 3mm. RL(+) RL(+) Irregular. sinekia anterior (-). RL(-) RTL(-) Lensa Jernih. Kripte (+). hipopion (-) Nodul (-). hipopion (-) Dalam. keratik presipitat minimal (+) Dalam. sinekia posterior (-) Nodul (-). sinekia posterior (+) Pupil Regular.OD OS jernih Injeksi Siliar (+) Arkus Senilis (+). Flare (+). shadow test (-) Jernih. Kripte (+). jernih Arkus Senilis (+). shadow test (-) Konjungtiva Bulbi Kornea Bilik Mata Depan Iris Funduskopi = tidak dilakukan .

Sinekia + Arkus senilis Injeksi Siliaris .OKULAR SINISTRA Presipitat Kornea Injeksi konjungti va Pupil Iregular.

• Pemeriksaan oftalmologi: Visus OS 3/60 TDK PH(-). serta pegal pada mata kiri. photophobia (+). Reflek langsung dan tidak langsung (-) pada mata OS. Flare (+) pada BMD OS. sinekia posterior OS. Keluhan bersifat progresif tanpa perbaikan sejak onset. . Injeksi Silier (+) pada OS. Pasien juga mengeluh penurunan visus.Resume • Seorang Laki-laki 49 tahun datang dengan keluhan mata merah dan nyeri pada OS sejak 6 hari SMRS. pupil OS irregular. TIO OS 9.0 mmHg. keratik prespitat minimal (+) pada kornea OS.

Diagnosis Kerja Uveitis Anterior OS non Granulomatosa Idiopatik Derajat Sedang .

Tatalaksana Medikamentosa yang diberikan: •Dexamethasone 1 mg/ml 6 x OS .000 IU/ml •Midriasil 3 x OS •Ciprofloxacin 2 x 500 mg .Cendo •Neomycin Sulfat 3.5 mg/ml Xitrol •Polymyxin B Sulfat 6.

Komplikasi • • • • • • • Glaukoma sekunder Katarak komplikata Band keratopathy Edema kornea Cystoid macular edema PAS (Peripheral Anterior Sinekia) Katarak Subkapsular Posterior .

Prognosis Quo Quo Quo Quo ad ad ad ad vitam functionam sanactionam comesticam : : : : ad bonam dubia ad bonam dubia ad bonam dubia ad bonam .

TINJAUAN PUSTAKA .

Panuveitis  Radang pada seluruh uvea diikuti oleh vitritis.PENDAHULUAN • Uveitis: Radang pada Uvea • Berdasarkan Anatomi: . Iridosiklitis . papillitis. retinitis. retinitis. retinal vaskulitis . vitritis .Intermediate  Siklitis/Pars Planitis. papillitis.Anterior  Iritis. dan retinal vaskulitis .Posterior  koroiditis.

Pria > Wanita .000 orang di Indonesia menderita Uveitis. Tingkat prevalensi terbanyak adalah pada usia 20-50 th. terutama usia 30-an. dimana 75% .Uveitis Anterior dan 25% sisanya adalah Uveitis Intermediate dan Posterior 2.000 penduduk mengalami uveitis anterior per tahunnya. Estimasi sekitar 15 per 100. Di AS : 8-12 orang dari 100.Epidemiologi 1. Di Indonesia belum ada data yang akurat mengenai jumlah kasus uveitis.

Anatomi Uvea .

Iris – Bersambungan dengan bagian anterior badan siliar dan berada pd permukaan anterior lensa – Memisahkan kamera anterior dari kamera posterior – Membentuk pupil ditengahnya. sirkulus major iris . suatu celah yang dapat berubah ukurannya dg kerja otot sfingter dan dilator utk mengatur jumlah cahaya yg masuk ke mata – Otot sfingter dipersarafi sistem saraf parasimpatis – Otot dilator dipersarafi sistem saraf simpatis – Pasokan darah diberikan lewat a.1.

dan pars plana – Otot siliaris dipersarafi saraf simpatik. berpigmen dan tidak berpigmen dg stroma vaskular.2. Korpus Siliaris – Membentang ke depan dari ujung anterior koroid ke pangkal iris (+6 mm) – Terdiri dari 3 bagian: otot siliaris. pars plikata (prosesus siliaris). berfungsi untuk proses akomodasi lensa – Prosesus siliaris dibentuk oleh epitel dua lapis. – Pars plana terdiri dari stroma yg relatif avaskuler .

3. venula. dan anyaman kapiler berpenestrasi yang padat – Melekat longgar ke sklera – Pemberi nutrisi lapisan luar retina bagian dalam – Membran dasarnya bersama membran dasar epitel pigmen retina (EPR) membentuk membran Bruch yang aselular . Koroid – Berada di antara retina dan sklera – Dibentuk oleh arteriol.

dan sklera.Uveitis Anterior Uveitis anterior : Peradangan iris dan bagian depan badan siliar (pars plikata). kadangkadang menyertai peradangan kornea. Iritis + Siklitis = Iridosiklitis = Uveitis Anterior .

Etiologi Uveitis Anterior • Reaksi imunitas – Infeksi – Benda asing/antigen • Penyakit autoimun Deposisi kompleks imun dalam traktus uvealis .

Etiologi (2) .

Patofisiologi .

Klasifikasi .

berulang <=3bulan setelah putus obat post uveitis anterior akut • Keluhan Unilateral/Bilateral . berlangsung selama <=3bulan • Keluhan Unilateral • Uveitis Anterior Kronik • Perlahan (insidious).Manifestasi Klinis: Uveitis Anterior • Uveitis Anterior Akut • Mendadak.

Uveitis Granulomatosa vs Non-Granulomatosa .

Pemeriksaan Fisik: Uveitis Anterior • Injeksi perikorneal/siliar • Presipitat keratik • Nodul iris • Sel-sel aquos dan Flare pada BMD • Hipopion atau Hifema • Miosis dan iregularitas pupil • Refleks pupil menurun/hilang • Sinekia Posterior/Anterior (Iris Bombe) • Shadow Test +/• Penurunan /Peningkatan TIO .

berkurang ke arah forniks -Lakrimasi (+). Nyeri tekan kornea (+) .Injeksi Siliaris Melebarnya a. siliar anterior (arteri perikorneal): -Hiperemis padat daerah sekitar kornea. Fotofobia (+).

Mutton Fat (Uveitis Granulomatosa) .Presipitat Kornea 1.

2. Presipitat kornea pada Uveitis non Granulomatosa

Cells & Flares pada BMD

Eksudat (+) pada BMD
Hipopion

Hifema

Sinekia Sinekia posterior Sinekia anterior (iris bombe) .

Nodul Iris Koeppe Nodules Busacca Nodules .

Grading Sel dan Flares Grade Flare Cells 0 Complete Absences No Cells 1+ Faint (Barely Detectable) 5-10 cells/field 2+ Moderate (iris and lens details clear) 10-20 cells/field 3+ Marked (iris and lens are hazy) 20-50 cells/field 4+ Intense (fixed. coagulated aqueous with considerable fibrin) >50 cells/field .Grading Uveitis 1.

2. Grading Uveitis Anterior berdasarkan Gejala Klinis .

Komplikasi • • • • • • • • Glaukoma Sekunder Katarak Edema Kornea Ablasio Retina Panuveitis Endoftalmitis Panoftalmitis Kebutaan .

heterokromia  BMD  Cell and Flares • Tonometri • Gonioskopi . Nodules.Pemeriksaan PEMERIKSAAN UMUM •Pemeriksaan Visus •Pemeriksaan Slit Lamp  Kornea  Presipitat  Iris  Atrofi.

• Funduskopi • Pemeriksaan Lab  Antinuclear Antibody (ANA) = pemeriksaan kelainan autoimun  Complete Blood Count (CBC)  Erythrocyte Sedimentation Rate (ESR)  ELISA Test .

Mengembalikan tajam penglihatan 2.Meredakan nyeri pada mata 3.Mencegah terbentuknya sinekia 5.Tatalaksana Tujuan terapi uveitis menurut AOA: 1.Mengendalikan tekanan intraokular .Menemukan sumber inflamasi dan menghentikannya 4.

Medikamentosa 1. Corticosteroid (topikal) Menghentikan proses inflamasi  Menghambat pembentukan eksudat  Stabilisasi membran sel  Menghambat produksi lisozyme o/ granulosit  Menghambat sirkulasi limfosit dan sel radang .

Sikloplegik dan Midriatik Mengurangi nyeri lewat imobilisasi iris Mencegah terjadinya sinekia Stabilisasi blood-aqueous barrier dan mencegah terjadinya flare. .2.

Corticosteroid (oral) dan NSAIDs Digunakan apabila pengobatan steroid topikal tidak memberi perbaikan .3.

Oral Aspirin atau ibuprofen 2 tablet/hari 4. Prednisolone 1% 3.TERAPI BERDASARKAN GRADING A. Mild Uveitis 1. Cyclopentolate 1% atau homatropine 5% 2. Follow up 4-7 hari .

Kacamata hitam 6. Prednisolone 1% 3. Follow up 2-4 hari . Oral Aspirin atau ibuprofen 2 tablet/hari 4.• B. Beta Blocker jika TIO meningkat 5.25% 2. Moderate Uveitis 1. Homatropine 5% atau Scopolamine 0.

Prednisolone 1% 3.C.Oral Aspirin atau ibuprofen 2tablet/hari 4.Follow up 1-2 hari . Severe Uveitis 1.Atropine 1% atau homatropine 5% 2.Beta Blocker jika TIO meningkat 5.Kacamata hitam 6.

Dosis terapi diturunkan apabila terdapat perbaikan terhadap jumlah sel dan flare. Setelah kondisi mata stabil. dan evaluasi perbaikan dari terapi. 1-7 hari tergantung grading uveitis 2. dilakukan follow up minimal 6 bulan sekali. sel dan flare. . sambil dilakukan tappering of.• Evaluation (Followup) 1. 4. 5. 3. Terdiri dari: pemeriksaan visus. Steroid dilanjutkan sampai respon patologis selular absent/minimal. slitlamp. pemeriksaan TIO.

Edukasi pasien mengenai uveitis anterior 2.Menjelaskan mengenai efek samping yang mungkin terjadi dari diberikannya pengobatan steroid .Edukasi pasien untuk rutin meminum obat dan melaksanakan jadwal follow up yang telah ditentukan 3.Edukasi 1.

Prognosis Uveitis Anterior • Umumnya kasus uveitis anterior prognosisnya baik bila didiagnosis lebih awal dan diberi pengobatan yang tepat. • Keterlibatan retina. koroid atau nervus optikus cenderung memberi prognosis yang lebih buruk. • Prognosis visual pada iritis kebanyakan pulih dengan baik tanpa adanya katarak. . glaukoma dan uveitis posterior.

nyeri pegal pada mata. • • • • • • • • Injeksi perikorneal/siliar Presipitat keratik Nodul iris Sel-sel aquos dan Flare pada BMD Hipopion atau Hifema Miosis dan iregularitas pupil Refleks pupil menurun/hilang Sinekia Posterior/Anterior Pasien Pria. penurunan visus. dan adanya lakrimasi.Pembahasan Teori Epidemiolo Sebagian besar pasien gi adalah pria berusia 2050 tahun Gejala Klinis Pemeriksa an Fisik Fotofobia. mata merah. usia 49 tahun Fotofobia (+) Pegal pada mata (+) Mata Merah(+) Penurunan visus (+) • • • • • • • Injeksi Perikorneal (+) Presipitat Keratik (+) Sel dan Flare (+) Pupil iregular Refleks cahaya langsung dan tidak langsung (-) Sinekia Post (+) Penurunan TIO (+) .

http://www. Linssen A. Smith RE. one diagnosis. Dermatol Clin 1992. 2nd ed.org/documents/cpg-7.aoa. 79(5). Callen JP. Am J Ophthalmol 1987. Catania LJ. Norwalk. American Optometric Association. 2004 3. Rosenbaum JT. 5. 10. Rothova A. 36(3):223-32. Riordan P. van Veenendaal W.545-7. Clinical features of acute anterior uveitis. Nicholls A. Wakefield D. Uveitis: many diseases. 103(2):137-45. 6. CT: Appleton & Lange. Whitcher J. Genstler AJ. Acute anterior uveitis and HLA-B27.pdf. 2. Lange. 7. Montanaro A. et al. 17 th ed. Changing patterns of uveitis. 1995:372. Acute anterior uveitis and spondyloarthropathies. Am J Med 1985. General Ophthalmology. 2:994-6.Daftar Pustaka 1. Brewerton DA. . Lancet 1973. Surv Ophthalmol 1991. Rosenbaum JT. McGraw Hill. Nozik RA. Caffrey M. Henderly DE. Rheum Dis Clin North Am 1992. et al. 9. et al. Mahl CF. 103(2):131-6. 18(1):143-9. 10(4):709-16. Am J Ophthalmol 1987. Primary care of the anterior segment. Oculocutaneous manifestations observed in multisystem disorders. Acute anterior uveitis and HLA-B27. 4. 8. McCluskey P.

THANK YOU .