You are on page 1of 29

Hubungan Persetujuan

Tindakan Kedokteran
dengan
Tindakan Bedah Jenazah
Dosen Pembimbing : dr. Ngesti Lestari,SH, Sp.F(K)

ADELIA PUTRI W
ERWIN KURNIAWAN A
DIAN AYU MURTI
SAYYIDA KAMILA Z
DINI FAKHRIZA A

115070100111043
115070101111007
125070100111049
125070100111011
125070100111059

PENDAHULUAN

memulihkan kesehatan. atau menghilangkan atau mengurangi penderitaan . meningkatkan.Tindakan Kedokteran tindakan professional oleh dokter terhadap pasien dengan tujuan memelihara.

2008) . wali.Persetujuan Tindakan Kedokteran (informed consent) pernyataan persetujuan dari orang yang berhak (pasien yang kompeten. atau keluarga terdekat) kepada dokter untuk melakukan tindakan kedokteran setelah diberi penjelasan atau informasi tentang tindakan kedokteran yang akan dilakukan dengan bahasa yang mudah dimengerti (Kementerian Kesehatan RI.

ketika seluruh tubuh dan rongga-rongga badan diperiksa dan dicatat apa yang ditemukan.Tindakan Bedah Jenazah (otopsi) pemeriksaan ilmiah terhadap tubuh yang sudah meninggal. serta memikirkan segala kemungkinan yang akan ditemukan berdasarkan kejadian untuk membantu menentukan sebab kematian dan membantu penegakan hukum (Afandi. 2009) .

Realita  keluarga dapat menolak PL / PD Sehingga perlu pemberian informasi kepada keluarga pasien dan persetujuan oleh keluarga pasien untuk tindakan bedah mayat atau otopsi (Rustyadi et al.Berdasarkan KUHAP pasal 134 ayat (3)  pada otopsi forensik. 2016) . penyidik meminta visum et repertum tanpa diperlukan izin keluarga jika dalam 2 hari tidak ada tanggapan.

RUMUSAN MASALAH Apa yang dimaksud dengan persetujuan tindakan kedokteran atau informed consent ? Apa yang dimaksud dengan tindakan bedah jenazah ? Bagaimana hubungan antara persetujuan tindakan kedokteran atau informed consent dengan tindakan bedah jenazah ? .

TUJUAN PENULISAN Mengetahui tentang persetujuan tindakan kedokteran atau informed consent Mengetahui tentang tindakan bedah jenazah Mengetahui hubungan antara persetujuan tindakan kedokteran atau informed consent dengan tindakan bedah jenazah .

MANFAAT PENULISAN Dapat dijadikan sebagai dasar teori untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan sekaligus sebagai dasar untuk pengembangan penulisan berikutnya Dapat dijadikan masukan bagi profesi kedokteran tentang pentingnya persetujuan tindakan kedokteran atau informed consent pada tindakan bedah jenazah .

TINJAUAN PUSTAKA .

PERSETUJUAN TINDAKAN KEDOKTERAN (INFORM CONSENT) .

 dokter yang melakukan tindakan tanpa Informed consent dapat dikenakan sanksi berupa teguran lisan. 290 Tahun 2008 tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran. teguran tertulis sampai dengan pencabutan Surat Ijin Praktik. .Pasal 19 Permenkes No.

Persetujuan diberikan oleh individu yang kompeten Kitab Undang-Undang Hukum Perdata  seseorang yang berumur 21 tahun atau lebih atau telah menikah dianggap sebagai orang dewasa dan oleh karenanya dapat memberikan persetujuan. Dengan demikian mereka dapat diperlakukan sebagaimana orang dewasa yang kompeten. Selain itu. Berdasarkan UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak   setiap orang yang berusia 18 tahun atau lebih dianggap sebagai orang yang sudah bukan anak-anak. dan oleh karenanya dapat memberikan persetujuan. . Untuk itu mereka harus dapat menunjukkan kompetensinya dalam menerima informasi dan membuat keputusan dengan bebas. persetujuan atau penolakan mereka dapat dibatalkan oleh orang tua atau wali atau penetapan pengadilan. Mereka dapat diperlakukan seperti orang dewasa dan dapat memberikan persetujuan tindakan kedokteran tertentu. khususnya yang tidak berisiko tinggi.

 Memerlukan pembukaan tubuh jenazah dengan menggunakan irisan. .Otopsi (Bedah Jenazah) Oto  sendiri. meliputi pemeriksaan bagian luar dan bagian dalam dengan menggunakan caracara yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah oleh ahli yang berkompeten. opsis melihat  pemeriksaan terhadap tubuh jenazah untuk kepentingan tertentu.

Macam Otopsi UNTUK KEPENTINGAN PENDIDIKAN OTOPS I ANATO MIS OTOPS I KLINIS OTOPS I FOREN SIK (KEHAKIM AN) MENGETAHUI SEBAB KEMATIAN DAN HASIL PEMULIHAN UPAYA KESEHATAN ATAS PERMINTAAN YANG BERWAJIB UNTUK PERADILAN .

Otopsi Anatomis Syarat otopsi anatomis (PP 18 tahun 1981)  Adanya surat wasiat dari yang bersangkutan yang menghendaki supaya mayatnya diserahkan kepada suatu Fakultas Kedokteran untuk otopsi anatomis yang sesuai dengan apa yang telah diatur dalam Burgelijk Wetboek (B.  Mayat diawetkan dengan formalin 10% disimpan sedikitnya 6 bulan sebelum dilakukan otopsi anatomis .  Surat persetujuan keluarga yang terdekat yang menyerahkan mayat yang bersangkutan kepada Fakultas Kedokteran. bila dalam waktu 2 x 24 jam (dua kali dua puluh empat jam) tidak ada keluarga terdekat dari yang meninggal dunia datang ke Rumah Sakit untuk mengurus mayat.  Tanpa persetujuan keluarga yang terdekat.W) atau Kitab Undang-Undang Hukum Perdata pasal 935.

Otopsi Klinik Histopatolog i DILENGK API PEMERIK SAAN Bakteriologi / Virologi Toksikologi Seroimunologi .

134.Otopsi Forensik Yang berwenang minta otopsi kehakiman / forensik Penyidik (KUHAP 133. 135)  Hakim pidana (KUHAP 180)  Yang berwenang melakukan pemeriksaan mayat maupun korban luka (KUHAP 133) Ahli Kedokteran Kehakiman  Dokter/Ahli  .

Otopsi forensik untuk peradilan tidak perlu persetujuan keluarga  dokter menghadapi keluarga pertama kali (menjelaskan permintaan VeR untuk diotopsi) Keberatan keluarga tersering adalah agama. walaupun tidak ada satu agama pun yang melarang otopsi (untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan menegakkan keadilan) VeR dicabut  dokter hanya membuat surat kematian untuk kepentingan pemakaman yang diberikan ke keluarga .

Hak Undur Diri Dokter Permenkes No.1993/kdj/U/70  Perawatan Penderita Penyakit Jiwa pasal 17 ditentukan  Dokter yang ditunjuk dapat menggunakan hak undur diri. jika ada hubungan keluarga dengan penderita terdakwa atau dengan orang yang menjadi korban. .

Dokter daerah diharapkan mendidik mantri melakukan otopsi  Setelah mantri selesai mengerjakan otopsi. Jika dokter daerah yang memeriksa tadi mendapat kesukaran dalam mengambil kesimpulan  meminta nasehat pada ahli forensik  Jika ia setuju dengan nasehatnya. maka kesimpulan ahli diambil alih menjadi kesimpulannya. . dokter sendirilah yang memeriksa setiap alat tubuh yang dikeluarkan dan mencatat apa yang telah diamati dan ditemukan  mantri tidak boleh memeriksa alat tubuh dan mencatat apa yang telah diperiksa.

KESIMPULAN .

Persetujuan tindakan kedokteran (inform consent)  persetujuan yang diberikan oleh pasien atau keluarga terdekat setelah mendapat penjelasan secara lengkap mengenai tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan terhadap pasien Tindakan bedah jenazah (otopsi) pemeriksaan terhadap tubuh jenazah untuk kepentingan tertentu. . meliputi pemeriksaan bagian luar dan bagian dalam dengan menggunakan caracara yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah oleh ahli yang berkompeten.

Hubungan persetujuan tindakan kedokteran Keluarga korban dapat menolak dilakukan PL / PD sehingga perlu pemberian informasi kepada keluarga pasien dan persetujuan oleh keluarga pasien untuk tindakan bedah mayat atau otopsi  .

TERIMA KASIH .

DAFTAR PUSTAKA .

kemkes. 2004.pdf.V. Njowito H.%20290%20ttg%20Persetujuan%20Tindakan%20Kedokteran. 1980. 1983. Sampurna B. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. Suartha IDM.. Denpasar: Fakultas Hukum Universitas Udayana. Majalah Kedokteran Indonesia. 27 Tahun 1983.org/file/download/KMK%20No. Peranan ilmu forensik dalam penegakan hukum. Soetomo Tjokronegoro: Beberapa hal tentang Ilmu Dokter kehakiman. www. Diakses tanggal 8 Mei 2016 Kementerian Kesehatan RI. Diakses tanggal 8 Mei 2016 Moeljatno.id/documents/uu_29_2004. Budi.mhsblogspot. 2013. 2016.U.Afandi D. cetakan ke VII. Diakses tanggal 1 September 2015. Manual Persetujuan Tindakan Kedokteran. Ramadhan. Otopsi Virtual. Visum et Repertum dan Pelaksanaannya.. Implementasi Otopsi Forensik di Instalasi Kedokteran FOrensik Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. http://pdk3mi. Jakarta. cetakan Pertama. cetakan pertama. Keneng IK. Percetakan Minerva. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 290/MenKes/Per/III/2008. 59: 327-332 Atmodirono.H.. Peraturan Pelaksanaan K. . 2008.com.A. KonsilKedokteran Indonesia.. Sampurna. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 290/MENKES/PER/III/2008 tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran. Jakarta: Pustaka Dwipar. Visum et Repertum. Rustyadi D.P. Putu. Samsu Z. Penerbit Pradnya Paramita. Kementerian Kesehatan RI. Airlangga University Press. 2006. Pustaka Rakyat. H. Madiun 1971. et al. http://ropeg. 2009. Jakarta.go.pdf. Surabaya. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. 1952. Penerbit Kebangsaan. Jakarta. 2003. N.

Tindakan kedokteran yang mengandung risiko tinggi adalah tindakan medis yang berdasarkan tingkat probabilitas tertentu. dapat mengakibatkan kematian atau kecacatan. tidak mengalami kemunduran perkembangan (retardasi) mental dan tidak mengalami penyakit mental sehingga mampu membuatkeputusan secara bebas. Tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang selanjutnya disebut tindakan kedokteran adalah suatu tindakan medis berupa preventif. tidak terganggu kesadaran fisiknya. anak-anak kandung.Permenkes RI No. . dokter gigi dan dokter gigi spesialis lulusan pendidikan kedokteran atau kedokteran gigi baik di dalam maupun di luar negeri yang diakui oleh pemerintah Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan.290/Menkes/Per/III/2008 tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran Pasal 1  Persetujuan tindakan kedokteran adalah persetujuan yang diberikan oleh pasien        atau keluarga terdekat setelah mendapat penjelasan secara lengkap mengenai tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan terhadap pasien. Tindakan Invasif adalah suatu tindakan medis yang langsung dapat mempengaruhi keutuhan jaringan tubuh pasien. Dokter dan dokter gigi adalah dokter. ayah atau ibu kandung. diagnostik. Pasien yang kompeten adalah pasien dewasa atau bukan anak menurut peraturan perundang-undangan atau telah/pernah menikah. saudara-saudara kandung atau pengampunya. Keluarga terdekat adalah suami atau istri. terapeutik atau rehabilitatif yang dilakukan oleh dokter atau dokter gigi terhadap pasien. mampu berkomunikasi secara wajar. dokter spesialis.

Pasal 2  Semua tindakan kedokteran yang akan dilakukan terhadap pasien harus mendapat persetujuan. Dalam hal persetujuan lisan yang diberikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dianggap meragukan.  Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diberikan secara tertulis maupun lisan.  Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah pasien mendapat penjelasan yang diperlukan tentang perlunya tindakan kedokteran dilakukan. . Persetujuan tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuat dalam bentuk pernyataan yang tertuang dalam formulir khusus yang dibuat untuk itu.   Pasal 3  Setiap tindakan kedokteran yang mengandung risiko tinggi harus memperoleh     persetujuan tertulis yang ditandatangani oleh yang berhak memberikan persetujuan. Tindakan kedokteran yang tidak termasuk dalam ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diberikan dengan persetujuan lisan. Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan dalam bentuk ucapan setuju atau bentuk gerakan menganggukkan kepala yang dapat diartikan sebagai ucapan setuju. maka dapat dimintakan persetujuan tertulis.