You are on page 1of 50

BIOLOGI SEL

Drs. Akhmadi, M.Si.

Prodi Pend. Biologi, FKIP UNPAR

IV. NUKLEUS
Kompetensi Dasar :
Mahasiswa mampu memahami komposisi kimia, struktur
ultra dan fungsi nukleus bagi sel.

Isi Materi :
4.1.
4.2.
4.3.
4.4.
4.5.

Selaput Inti
Matriks Inti
Nukleolus
Materi Genetik
Fungsi Inti

Nukleus (Inti Sel)

Nukleus dan Nukleolus

Mitocondria

Nucleus
Nucleolus

Nukleus

Nukleus
Bentuk: bulat, oval, batang, bersegmen (sel
leukosit), untaian (sel stentor).
Inti sel dibungkus oleh selaput nukleus
Inti sel umumnya terletak di bagian tengah sel.
Sel umumnya memiliki 1 inti (monosit atau
monokariotik)
Sel memiliki 2 inti (dikariotik): sel hati manusia,
sel Paramaecium, sel hifa jamur Basidiomycetes.
Sel memiliki banyak inti (senosit atau polikariotik):
sel otot serat lintang, sel ovum Angiospermae.
Sel tanpa inti : sel eritrosit dan trombosit dewasa.
Sel tanpa selaput inti (prokariotik) : sel bakteri.
Nukleus mengandung 1 atau 2 nukleolus.

Bentuk dan Jumlah Nukleus pada Macam-macam Tipe Sel

4.1. Selaput Inti


Struktur Ultra Selaput Inti
Selaput atau selubung inti (nuclear emvelope) merupakan
struktur membran ganda yang membatasi daerah inti.
Membran luar ataupun membran dalam tebalnya 8-9 nm.
Membran luar inti biasanya mengikat ribosom dan
bersinambung dengan membran RE.
Membran dalam inti mengikat protein-protein filamen
membentuk korteks inti.
Di antara membran luar dan membran dalam terdapat
ruang perinukleus.
Membran luar dan membran dalam inti dapat fusi
membentuk pori inti.

Nukleus dan Komponennya

Nukleus dan sistem selaputnya

Ruang Perinukleus
Ruang perinukleus berisi cairan matriks yang umumnya
mengandung: filamen protein, deposit kristal, tetes lipida,
dan bahan-bahan padat elektron (inklusio).
Lebar ruang perinukleus dapat berkisar 10-70 nm, tetapi
umumnya 20 nm.

Ruang Perinukleus

Kompleks Pori
1)
2)
3)
4)

Kompleks pori memiliki komponen :


Anulus ; struktur silinder bukan membran yang
mengelilingi bagian dalam pori.
Granula pusat ; merupakan sumbat longgar.
Serabut protein ; yang ke luar dari granula pusat.
Diafragma ; dibentuk oleh bahan-bahan amorf di sekitar
inti.

) Jumlah kompleks pori per unit luas selaput inti bervariasi


sesuai tipe dan keadaan fisiologi sel.
) Diameter kompleks pori berkisar 40-100 nm, tetapi
umumnya 80 nm.
) Diameter saluran pori berukuran sekitar 9 nm.

13

14

Korteks Inti
Korteks inti merupakan serabut protein yang tebalnya
sekitar 300 nm yang tersusun dalam gelungan.
Korteks tidak menghalangi pori, tetapi berfungsi sebagai
corong yang mengarahkan bahan yang akan ke luar melalui
saluran (pori) inti.

Komposisi Kimia Selaput Inti


Selaput inti yang diisolasi mengandung: protein (dominan
sekitar 65-75 %), fosfolipid, dan asam nukleat (kromatin).
Protein selaput inti berjumlah sekitar 20 jenis, 6 jenis di
antaranya merupakan protein khas selaput inti.
Komposisi lipida/fosfolipid pada selaput inti relatif sama
dengan yang terdapat pada membran RE.
Aktivitas enzim pada selaput inti relatif sama dengan
yang terdapat pada membran RE, misalnya : glukosa 6fosfatase, beberapa enzim transfer elektron, sitokrom P-450.

Fungsi Selaput Inti


Selaput inti merupakan pemisah dua kompartemen, yaitu
antara nukleoplasma dan sitoplasma.
Selaput inti berperan dalam proses transportasi antar dua
kompartemen dengan beberapa cara:
1) Kompleks pori sebagai saluran untuk proses transportasi
langsung. Pengangkutan dari nukleoplasma menuju
sitoplasma, atau sebaliknya).
2) Transprtasi langsung dan pinositosis melalui membran
dalam. Pengangkutan dari nukleoplasma ke ruang
perinukleus, kemudian ke sisterna RE atau ke luar sel.
3) Pinositosis melalui selaput inti, dari nukleoplasma menuju
sitoplasma, atau sebaliknya.

Permeabelitas selaput inti :


Ion-ion anorganik dan molekul organik kecil (gliserol, sukrosa,
nukleosida fosfat) dapat melewati selaput inti dengan cepat,
melalui saluran pori yang berdiameter 9 nm.
Beberapa jenis protein yang melaksanakan funsi enzim (DNAase, RNA-ase, dan tripsin), protein struktur, dan zat pengatur
dengan diameter molekul 2-4 nm, dapat masuk melewati
saluran selaput inti.
Molekul organik dengan diameter 9 nm akan dibatasi masuk
melalui pori inti, sedangkan yang berdiameter 15 nm akan
ditolak masuk ke dalam inti.
Subunit-subunit ribosom (d= 23 nm) dan mRNA yang
berkombinasi dengan protein (d= 40-50 nm) dapat melewati
saluran pori inti yang berdiameter 9 nm, karena terjadinya
modifikasi pori.

Dinamika selaput inti selama siklus sel (mitosis):


Selama siklus sel, awalnya selaput inti masih tampak membatasi
kromosom yang tebal. Kemudian selaput inti lenyap, sehingga
kromosom-kromosom bebas bergerak di dalam sel (profase).
Kemudian kromosom terorientasi pada bidang ekuatorial dan
saling berhadapan antar pasangan kromosom. Selaput inti
belum muncul (metafase).
Selanjutnya kromosom-kromosom bergerak ke arah 2 kutub sel
yang berlawanan. Selaput inti belum muncul (anafase).
Setelah masing-masing perangkat kromosom berkumpul pada
masing-masing kutub sel, selaput inti terbentuk kembali pada
kedua kutub sel, dan akhirnya sel membagi diri menjadi 2 sel
(telofase).

Mitosis

20

4.2. Matriks Inti


Komponen kimia matriks inti yang paling banyak (selain
H2O) adalah protein (sekitar 90 %), sisanya adalah DNA, RNA,
dan fosfolipida.

22

Matriks inti berperan dalam 3 peristiwa penting di dalam


inti, yaitu :
Replikasi ; proses penggandaan (duplikasi) DNA.
Transkripsi ; proses pembentukan RNA oleh DNA.
Splicing ; proses pengolahan RNA post-transkripsi.
Transcription

Splicing

Replikasi
(Duplikasi) DNA

24

25

Transkripsi
RNA-duta (mRNA)

26

27

28

29

30

Proses Splicing mRNA

31

32

RNA-transport (tRNA)

33

RNA-ribosom (rRNA)

34

35

36

4.3. Nukleolus

Nukleolus (anak inti) di dalam inti terdapat di daerah yang


khas pada kromosom tertentu, yaitu pada konstriksi sekunder
atau Nucleolar Organizer Regions (NORs).
Nukleolus merupakan tempat pembentukan dan akumulasi
prekursor ribosom (rRNA dan protein ribosom) sebelum diangkut
ke sitosol.
Jumlah nukleolus di dalam inti tergantung pada jumlah
kromosom yang mengandung konstriksi sekunder.
Selama daur sel (mitosis dan meiosis), bentuk nukleolus
dapat berubah, yaitu :
Nukleolus jelas : pada telofase dan interfase.
Nukleolus tidak jelas : akhir profase, metafase, anafase.

Struktur Ultra Nukleolus


Nukleolus dapat dibedakan atas 3 komponen :
1) Komponen granular ; terdapat pada zona granular yang mengandung partikel/granular berdiameter 15 nm, yaitu partikel prekursor ribosom yang telah matang.
2) Komponen fibrilar ; terdapat pada zona fibrilar yang mengandung
fibril-fibril berdiameter 5 nm, yaitu serabut ribonukleoprotein
halus yang merupakan transkrip RNA yang mengelilingi komponen granular.
3) Komponen kromatin ; yang berasosiasi dengan nukleolus, yang
berupa kromatin perinukleolus dan kromatin intranukleolus. Fibril
ini merupakan rantai DNA yang membentuk NORs.

Fungsi Nukleolus
Fungsi nukleolus terlihat pada 3 peristiwa :
1) Transkripsi gen-gen yang mengkode RNA ribosom.
DNA yang membentuk NORs (rDNA) mentranskripsi RNA
ribosom (rRNA) dengan bantuan RNA polimerase I, sehingga
terbentuk transkrip rRNA primer (pre-rRNA). Pada sel eukariota
transkripnya berupa pre-rRNA 45S.
2) Pengelolaan pre-RNA.
Transkrip pre-rRNA 45S mengalami metilasi, dipotong, dan
tereduksi menjadi 3 unit yaitu : rRNA 18S, rRNA 5,8S, dan rRNA
28S.
3) Perakitan subunit-subunit ribosom.
Subunit (protein) pre-ribosom dibentu di dalam inti yang tahap
awalnya terjadi di nukleolus. Kemudian subunit pre-ribosom
bermigrasi ke sitosol melalui pori selaput inti.

4.4. Materi Genetik


Genom Prokariota: DNA Bakteri
DNA E. coli jika direntang panjangnya 1,4 nm, BM 2.500 x 106
dalton, jumlah gen sebanyak 400.
Molekul DNA E. coli berantai ganda, tanpa asosiasi dengan
protein, dan berbentuk sirkuler.
Tingkat kekusutan DNA sangat tinggi, tetapi dapat direplikasi
setiap 17 menit tanpa gangguan.
DNA bakteri terdapat pada nukleoid yang tidak dibatasi oleh
membran, tetapi memiliki batas daerah yang tegas.

DNA Bakteri dan Nukleoid

42

Genom Eukariota
Genon atau DNA pada sel eukariota terdapat di dalam inti sel
sebagai satu kompleks nukleopratein, yaitu kromatin.
Selama mitosis/meiosis, kromatin menebal dan memendek
membentuk kromosom.

44

Komposisi Kimia Kromatin


Kromatin mengandung DNA dan protein (histon dan non-histon).
Protein histon bersifat sangat basa karena mengandung asam
amino golongan basa, yaitu: arginin dan lisin.
Protein histon terdiri dari 5 tipe : H1, H2A, H2B, H3, dan H4.
Histon H2A, H2B, H3, dan H4 masing-masing sepasang membentuk kompleks oktamer histon (core), yaitu suatu zarah pusat
tempat melilitnya pita DNA sebanyak 2 lilitan yang membentuk
nukleosom.
Histon H1 berada di luar zarah dan peran sebagai pengunci
pita DNA pada nukleosom.
Protein histon berperan dalam memelihara integritas struktur
dan fungsi kromatin.

46

Struktur Ultra Kromatin


Serabut kromatin umumnya berdiameter 3-25 nm, sedangkan
serabut kromatin pada sel manusia berdiameter 20 nm.
Jika serabut kromatin diuraikan menjadi pita DNA, maka
perbandingan panjang antara serabut kromatin dengan pita DNA
adalah 7,6 : 220 atau 1 : 29.
Struktur ultra serabut kromatin tampak sepeti untaian manikmanik yang merupakan subunit-subunit kromatin berdiameter 10
nm yang disebut nukleosom.
Satu unit nukleosom (mononukleosom) terdiri dari 9 protein
histon dan 200 pasang basa-N (nukleotida).
Sejumlah 8 protein histon membentuk oktamer core yang
berdiameter 11 nm dan tingginya 6 nm.

Berdasarkan diameternya, serabut kromatin dibedakan atas 2


macam, yaitu :
Serabut kromatin berdiameter 10 nm yang dibentuk oleh
nukleosom yang tersusun linier.
Serabut kromatin berdiameter 30 nm yang dibentuk oleh
serabut kromatin 10 nm yang membelit secara heliks.
Setiap putaran heliks pada serabut kromatin 30 nm terdiri dari
6 nukleosom, dan satu putaran sempurna disebut solenoid.
Solenoid berdiameter 30 nm dapat mengalami belitan super
sehingga membentuk supersolenoid yang berdiameter 400 nm.

49

Terima
kasih
50