You are on page 1of 40

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI

KURKUMIN DARI RIMPANG
TEMULAWAK
(Curcuma xanthorriza Roxb )
Kelompok 2A :
Tubagus Gita P
3311131005
Rizki Mulia Insani
3311131008
Evi Seing
3311131009
Yosinta Putri Pertiwi 3311131010
Retno Widiati
3311131011
Cici Sari Novianti
3311131012
Algi Ikhsan A
3311131013

LABORATORIUM BIOLOGI FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI
CIMAHI
2016

PENDAHULUAN

 Temulawak merupakan tanaman yang termasuk ke dalam famili
Zingiberaceae, rimpangnya banyak digunakan untuk berbagai keperluan
terutama sebagai tanaman obat.
 Salah satu senyawa khas yang terkandung dalam Temu lawak dan
digunakan sebagai senyawa penanda yaitu xantorizol dan kurkumin.
 Xantorizol sebagai salah satu senyawa penting pada rimpang Curcuma
xanthorrhiza dilaporkan memiliki aktivitas biologi sebagai antimikroba.
 Di sisi lain, kurkumin adalah pigmen kuning utama yang menunjukkan
aktivitas antimikroba, antioksidan, anti-inflamasi dan hepatoprotektor.
 Ketersediaan senyawa penanda xantorizol dan kurkumin pada saat ini
masih sangat kurang terutama untuk dikembangkan sebagai bahan baku
obat tradisional. Berdasarkan hal tersebut peneliti melakukan isolasi dan
identifikasi senyawa penanda yang terkandung dalam rimpang Temu
lawak.

IDENTIFIKASI MASALAH
3) Apakah golongan senyawa
dari isolat rimpang Temulawak
(Curcuma xanthorrhiza) ?
1) Bagaimana
kandungan metabolit
sekunder dalam
rimpang Temulawak
(Curcuma
xanthorrhiza) ?

RIMPANG
TEMULAWA
K

2) Bagaimana metode
isolasi dan identifikasi
senyawa marker dari
rimpang Temulawak ?

TUJUAN PENELITIAN
 Mengetahui metabolit sekunder yang
terkandung dalam rimpang Temulawak
(Curcuma xanthorrhiza).
 Mengetahui tahapan metode isolasi dan
identifikasi senyawa marker (dari rimpang
Temulawak (Curcuma xanthorrhiza).
 Mengisolasi dan mengidentifikasi golongan
senyawa dari senyawa penanda dalam
rimpang Temu lawak (Curcuma
xanthorrhiza).

. temu raya. temo labak (Madura). tommo (Bali). Temulawak juga memiliki nama daerah dan asing di antaranya: Koneng gede. koneng tegal. temulawak (Jawa).TINJAUAN BOTANI gdom: Plantae isi : Spermatophyta b divisi : Angiospermae as : Monocotyledonae do : Zingiberales milia : Zingiberceae nus : Curcuma esies : Curcuma xanthorrhiza Roxb (1) Sinonimnya adalah Curcuma zerumbed Rumph. temulawak (Sumatra). aci koneng. temu besar.

BM 218 g/mol.XANTORIZOL  Ciri xantorizol menurut Hwang (2000) adalah sebagai berikut: golongan seskuiterpen. tidak berwarna. stabil terhadap suhu dan .

metanol. dan alkali hidroksida. aseton. etanol. dan alkali hidroksida. alkohol.KURKUMIN  Kurkuminoid rimpang temulawak adalah suatu zat yang terdiri dari campuran komponen senyawa kurkumin dan desmetoksikurkumin. 2005)  Kurkumin mempunyai rumus molekul C21H20O6 dengan BM 368. berbentuk serbuk dengan rasa sedikit pahit. asam asetat glasial. asam asetat glasial.37 serta titik lebur 183°C. mempunyai warna kuning atau jingga. larut dalam aseton. . larut dalam etil asetat. asam asetat. tidak larut dalam air dan eter.  Kurkumin ialah suatu diferuloylmethane yang ada dalam ekstrak tanaman dan merupakan penyebab warna kuning pada kunyit dan temulawak (Aggarwal et al. benzene.

KURKUMINOID .

METODE PENELITIAN Simplisia Penapisa n Fitokimia Ekstraksi (Maserasi) Pemisahan Lanjutan/Frak sinasi (Kromatografi Kolom ) Kromatografi Lapis Tipis KLTP Isola t Identifikas i dengan Spektofot ometri UV-Visible .

HASIL PENAPISAN FITOKIMIA Uji alkaloid (+) Mayer terbentuk endapan Dragendorf terbentuk endapan jingga kuning sampai merah bata Uji alkaloid (-) Mayer tidak menghasilkan endapan Dragendrof menghasilkan larutsn berwarna coklat .

Penapisan Fitokimia Uji polifenol (+) warna hijau biru kehitaman >>Uji polifenol tidak terjadi perubahan Uji kuinon (+) menghasilk an warna jingga >>Uji kuinon Uji tannin dengan gelatin (+) terbentuk endapan putih >>Uji tannin tidak Uji tannin dengan steasny (+) mengahasilka n endapan merah muda >>Uji tannin tidak terbentuk Uji flavonoid (+) mengahasilk an warna kuning merah muda dan terbentuk cincin .

Penapisan Fitokimia Uji saponin(+) mengahsilkan bisa dengan tinggi lebih dari 1 cm >>Uji saponin (+) .

Uji monoterpenoid dan seskuiterpenoid (+) menghasilkan warna coklat .Penapisan Fitokimia >>Uji triterpenoid dan steroid (-) >>Uji monoterpeniod dan seskuiterpenoid (+) Uji Tritepenoid dan steroid (+) menghasilkan residu warna ungu atau merah berubah menjadi biru atau hijau.

3) Berdasarkan hasil penelitian Herdiyanto pada tahun 2014 yang berjudu “PENGOPTIMUMAN METODE EKTRAKSI DAN ISOLASI XANTORIZOL DARI TEMULAWAK (Curcuma xanthorriza Roxb)” menunjukkan kadar xantorizol hasil ekstraksi dengan metode maserasi lebih baik dibandingkan dengan metode cara panas ekstraksi sinambung dengan alat soxhlet.EKSTRAKSI  Metode ekstraksi yang dipilih yaitu ekstraksi cara dingin maserasi dengan pelarut gradien dari non polar (n-heksana) dan semi polar (etil asetat)  Pertimbangan : 1) Senyawa xantorizol adalah golongan seskuiterpen (C 15) yang secara teori larut dalam pelarut organik. Berdasarkan unsur penyusunnya yang terdiri dari rantai karbon senyawa ini dapat larut dalam pelarut non polar 2) Senyawa kurkumin merupakan senyawa diarilheptonoid yang dapat larut dalam pelarut semi polar. .

EKSTRAKSI Gambar 1 Hasil penelitian Herdiyanto pada tahun 2014 .

EKSTRAKSI Simplisia Direndam dalam 600 mL n-heksana selama 24 jam Ekstrak nheksana Diuapkan pelarut dengan penguap putar* Ektrak Kental Residu Ditambahkan etil asetat 600 mL . lalu didiamkan selama 24 jam Ekstrak etil asetat Diuapkan dengan penguap putar” *Dilakukan pada suhu 55°C Ekstrak kental Residu .

3616 gram  Rendemen : 0.7667 gram  Rendemen : 7.HASIL EKSTRAKSI Ekstrak n-heksana  Organoleptis : Berwarna coklat kekuningan  Bobot ekstrak : 18.145 % .50668 %  Ekstrak Etil asetat  Organoleptis : Berwarna coklat sedikit jingga  Bobot ekstrak : 0.

PEMANTAUAN EKSTRAK DENGAN KLT Ekstrak etil asetat Gambar 3 Eluen kloroform dan metanol (95:5) .

Elusi gradien untuk memaksimalkan penarikan senyawa berdasarkan . Pemisahan lebih bagus 3.  Pertimbangan : 1. Jumlah hasil ekstraksi baik ekstrak nheksana dan etil asetat yang relatif besar (>1 gram) 2.METODE PEMISAHAN LANJUTAN (FRAKSINASI)  Pada tahap fraksinasi dipilih metode kromatografi kolom klasik dengan elusi gradien .

2)  Fase gerak : n-heksana : etil asetat  Elusi : Gradien  Diperoleh 73 vial Gambar 2 Kromatografi Kolom .KROMATOGRAFI KOLOM KLASIK  Sampel : Fraksi n-heksana  Fase diam : Silika gel 60 (0.

.PEMANTAUAN FRAKSI DENGAN KLT 4 KLT fraksi n-heksana dengan eluen n-heksana:etil asetat (9:1) dibawah sinar U an fraksi 1-fraksi 39.

.Gambar 5 KLT fraksi n-heksana dengan eluen n-heksana:etil asetat (9:1) dibawah sinar UV 254 nm. Dari kanan fraksi 1-fraksi 39.

0208 % 2 II 7-10 0.3464 % 3 III 11-15 0.6632 % 6 VI 29-34 0.7212 % 7 VII 35-39 0.KROMATOGRAFI KOLOM No Sub Fraksi Vial Rendemen 1 I 1-6 0.26 % .3244 % 5 V 24-28 0.6172 % 4 IV 16-23 0.

Sub Fraksi nheksana .KROMATOGRAFI KOLOM Gambar 6.

Sub Fraksi 1 (kiri) sampai sub fraksi 7 (kanan) . a) dibawah sinar UV 365 nm . Kromatogram sub fraksi n-heksana dengan eluen nheksana:etil asetat (9:1) . b) dibawah sinar UV 254 nm .PEMANTAUAN SUB FRAKSI DENGAN KLT a b Gambar 7.

Sub Fraksi setelah disemprot dengan Vanilin 10% H2SO4 .PEMANTAUAN SUB FRAKSI DENGAN KLT Gambar 8.

a) dibawah lampu UV 365 nm. 10:1 .925.9.75) . Eluen n-heksana: EtOAc (11:0 Rf 0. b) .11 .PEMANTAUAN SUB FRAKSI 3 DENGAN KLT A B Gambar 9. 9:2 Rf 0. 8:3 Rf 0. dan 7:4 Rf 0.

57 Rf (3:7 ) = 0.73 Gambar 10. a) dibawah lampu UV 365 nm. 5:5. b) dibawah lampu . dan 3:7) .5) = 0.PEMANTAUAN SUB FRAKSI 3 DENGAN KLT A B Rf (9:1) = 0. Eluen heksana dan kloroform (9:1.37 Rf ( 5.

625 ) setelah disemprot dengan vanilin 10% H2SO4 dan dipanaskan. Eluen heksana dan kloroform (9:1 Rf 0.PEMANTAUAN SUB FRAKSI 3 DENGAN KLT Gambar 11.5 dan 5:5 Rf 0. .

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS PREPARATIF Gambar 13. Hasil KLTP Sub Fraksi 3 n-heksana dengan eluen kloroform:Metanol (5:5) .

Kromatogram hasil KLTP Sub Fraksi 3 n-heksana dengan eluen toluen:etil asetat (93:7) .PEMANTAUAN HASIL KLTP Gambar 14.

ekstrak etil asetat .PEMANTAUAN DENGAN KLT SEBELUM PEMISAHAN KURKUMIN Gambar . Eluen Kloroform dan metanol (95:5) . sub fraksi 3 . ekstrak n-heksana . pembanding kurkumin .

KROMATOGRAFI KOLOM  Sampel : Ekstrak etil asetat  Fase diam : Silika Gel 60  Fase gerak : n-heksana: Etil asetat  Elusi : Gradien Hasil  Diperoleh 103 vial .

PEMANTAUAN FRAKSI ETIL ASETAT DENGAN KLT Gambar 11. Fraksi Etil Asetat dengan eluen kloroform .

PEMANTAUAN FRAKSI ETIL ASETAT DENGAN KLT Gambar 12. Fraksi Etil Asetat dengan eluen .

Pembanding Kurkumin dengan eluen Kloroform:metanol (95:5) .PEMANTAUAN SUB FRAKSI ETIL ASETAT DENGAN KLT Gambar 13. Kromatogram Sub Fraksi 1 . Fraksi 12 .

PEMANTAUAN FRAKSI ETIL ASETAT DENGAN KLT Gambar 14.22.20.Pembanding Kurkumin dengan eluen Kloroform:metanol (95:5) .18. Kromatogram Sub Fraksi 24.

675 0.675 0.687 0.437 0.7 0.375 .425 0.PEMANTAUAN FRAKSI ETIL ASETAT DENGAN KLT Spot Rf (Fraksi 18) Rf (Fraksi 20) Rf (Fraksi 22) Rf (Fraksi 24) Pembandi ng Kurkumin Atas 0.462 0.475 ah 0.425 0.362 0.35 0.35 0.7 Teng 0.4 Bawa h 0.

Trubus Agriwidya.. 2007. Jilid 2. 2000. Xanthorrizol: A New Bioactive Natural Compound. S. Jakarta 2) Hwang JK.DAFTAR PUSTAKA 1) Dalimartha. 3) Farmakope Herbal Indonesia . Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Yonsei University. Seoul: Department of Biotechnology.

TERIMAKASIH .