You are on page 1of 17

Disusun Oleh

:
1.Aldian

Kemal
2.Mahardian Puspa D.
3.Dian Sefriana
4.Hanifa Rizkila

serta pihak lain yang terlibat dalam tindakan itu yang secara tidak wajar dan tidak legal menyalahgunakan kepercayaan publik yang dikuasakan kepada mereka untuk mendapatkan keuntungan sepihak . baik politisi maupun pegawai negeri. menggoyahkan. memutarbalik.KASUS KORUPSI RATU ATUT & ANALISA Korupsi atau rasuah (bahasa Latin: corruptio dari kata kerja corrumpere yang bermakna busuk. . rusak. menyogok) adalah tindakan pejabat publik.

tindak pidana korupsi secara garis besar memenuhi  perbuatan unsur-unsur sebagai berikut: melawan hukum. kesempatan. Jenis tindak pidana korupsi di antaranya.  pemerasan dalam jabatan. dan merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.  . dan  menerima gratifikasi (bagi pegawai negeri/penyelenggara negara).  penggelapan dalam jabatan. memperkaya diri sendiri. namun bukan semuanya. atau sarana. orang lain. adalah  memberi atau menerima hadiah atau janji (penyuapan).    penyalahgunaan kewenangan.Dari sudut pandang hukum.  ikut serta dalam pengadaan (bagi pegawai negeri/penyelenggara negara). atau korporasi.

dan prostitusi. Untuk mempelajari masalah ini dan membuat solusinya. dimana pura-pura bertindak jujur pun tidak ada sama sekali. dan sebagainya. korupsi atau korupsi politis adalah penyalahgunaan jabatan resmi untuk keuntungan pribadi. Titik ujung korupsi adalah kleptokrasi. korupsi itu sendiri tidak terbatas dalam hal-hal ini saja. Walau korupsi sering memudahkan kegiatan kriminal seperti penjualan narkotika. . yang arti harafiahnya pemerintahan oleh para pencuri. sangat penting untuk membedakan antara korupsi dan kejahatan. sampai dengan korupsi berat yang diresmikan. Semua bentuk pemerintah| pemerintahan rentan korupsi dalam prakteknya. Korupsi yang muncul di bidang politik dan birokrasi bisa berbentuk sepele atau berat. terorganisasi atau tidak.Dalam arti yang luas. pencucian uang. Beratnya korupsi berbedabeda. dari yang paling ringan dalam bentuk penggunaan pengaruh dan dukungan untuk memberi dan menerima pertolongan.

Di dalam dunia politik. korupsi mengkikis kemampuan institusi dari pemerintah. Secara umum. Korupsi di pemilihan umum dan di badan legislatif mengurangi akuntabilitas dan perwakilan di pembentukan kebijaksanaan. dan pejabat diangkat atau dinaikan jabatan bukan karena prestasi. karena pengabaian prosedur. korupsi mempersulit legitimasi pemerintahan dan nilai demokrasi seperti kepercayaan dan toleransi. dan korupsi di pemerintahan publik menghasilkan ketidak-seimbangan dalam pelayanan masyarakat. korupsi di sistem pengadilan menghentikan ketertiban hukum. penyedotan sumber daya. korupsi mempersulit demokrasi dan tata pemerintahan yang baik (good governance) dengan cara menghancurkan proses formal. .Dampak negatif korupsi :  Demokrasi Korupsi menunjukan tantangan serius terhadap pembangunan. Pada saat yang bersamaan.

ongkos manajemen dalam negosiasi dengan pejabat korup. Dalam sektor private. . korupsi juga mengacaukan “lapangan perniagaan”. Ekonomi Korupsi juga mempersulit pembangunan ekonomi dan mengurangi kualitas pelayanan pemerintahan. Perusahaan yang memiliki koneksi dilindungi dari persaingan dan sebagai hasilnya mempertahankan perusahaan-perusahaan yang tidak efisien. Dimana korupsi menyebabkan inflasi ongkos niaga. Korupsi juga mempersulit pembangunan ekonomi dengan membuat distorsi dan ketidak efisienan yang tinggi. Walaupun ada yang menyatakan bahwa korupsi mengurangi ongkos (niaga) dengan mempermudah birokrasi. dan risiko pembatalan perjanjian atau karena penyelidikan. korupsi meningkatkan ongkos niaga karena kerugian dari pembayaran ilegal. konsensus yang baru muncul berkesimpulan bahwa ketersediaan sogokan menyebabkan pejabat untuk membuat aturan-aturan baru dan hambatan baru.

Korupsi juga mengurangi pemenuhan syarat-syarat keamanan bangunan. dan menambahkan tekanantekanan terhadap anggaran pemerintah. Para pakar ekonomi memberikan pendapat bahwa salah satu faktor keterbelakangan pembangunan ekonomi di Afrika dan Asia.. terutama di Afrika. Korupsi menimbulkan distorsi (kekacauan) di dalam sektor publik dengan mengalihkan investasi publik ke proyek-proyek masyarakat yang mana sogokan dan upah tersedia lebih banyak. adalah korupsi yang berbentuk penagihan sewa yang menyebabkan perpindahan penanaman modal (capital investment) ke luar negeri. atau aturanaturan lain. lingkungan hidup. Pejabat mungkin menambah kompleksitas proyek masyarakat untuk menyembunyikan praktek korupsi. yang akhirnya menghasilkan lebih banyak kekacauan. bukannya diinvestasikan ke dalam negeri (maka adanya ejekan yang sering benar bahwa ada diktator Afrika yang memiliki rekening bank di Swiss). . Korupsi juga mengurangi kualitas pelayanan pemerintahan dan infrastruktur.Lanjutan.

[1] (Hasilnya. ketertiban hukum. Ini memberi dorongan bagi para pejabat untuk menumpuk kekayaan mereka di luar negeri. dan juga kenyataan bahwa pemerintahan baru sering menyegel aset-aset pemerintah lama yang sering didapat dari korupsi. salah satu faktornya adalah ketidak-stabilan politik. namun lebih memberikan kondisi untuk pembangunan. seperti Soeharto yang sering mengambil satu potongan dari semuanya (meminta sogok). . pelarian modal dari 30 negara sub-Sahara berjumlah US $187 triliun. Berbeda sekali dengan diktator Asia. melebihi dari jumlah utang luar negeri mereka sendiri.. Pakar dari Universitas Massachussetts memperkirakan dari tahun 1970 sampai 1996. di luar jangkauan dari ekspropriasi di masa depan. melalui investasi infrastruktur.Lanjutan. dalam artian pembangunan (atau kurangnya pembangunan) telah dibuatkan modelnya dalam satu teori oleh ekonomis Mancur Olson). Dalam kasus Afrika. dan lain-lain.

. Kesejahteraan umum Negara Korupsi politis ada di banyak negara. bukannya rakyat luas. Politikus-politikus “pro-bisnis” ini hanya mengembalikan pertolongan kepada perusahaan besar yang memberikan sumbangan besar kepada kampanye pemilu mereka. Satu contoh lagi adalah bagaimana politikus membuat peraturan yang melindungi perusahaan besar. namun merugikan perusahaan-perusahaan kecil (SME). Korupsi politis berarti kebijaksanaan pemerintah sering menguntungkan pemberi sogok. dan memberikan ancaman besar bagi warga negaranya.

Analisis Kasus Korupsi Dinasti Ratu Atut Pada akhir tahun 2013 perhatian masyarakat Indonesia dijejali dengan pemberitaan korupsi Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah Chasan. akan tetapi juga melibatkan pejabat-pejabat pemerintahan yang ternyata memiliki ikatan keluarga dengan Ratu Atut. Susi Tur Andayani yang kedapatan membawa uang Rp 1 miliar yang diduga akan diberikan kepada Akil. Penangkapan ini berbuntut pada penangkapan adik Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah. Tubagus Chairi Wardana. Yang menarik dari kasus ini ialah adanya tindakan korupsi yang dilakukan oleh sebuah dinasti pemerintahan yang dikuasai oleh keluarga Ratu Atut. . Kasus korupsi ini tidak hanya dilakukan oleh seorang kepala daerah (Ratu Atut) saja. dan pengacaranya. Akil Mochtar ditangkap tangan penyidik KPK dalam upaya menerima suap bernilai hingga 3 milliar rupiah dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat Chairun Nisa dan pengusaha Cornellis Nalau. kasus ini bermula ketika KPK berhasil menangkap tangan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar pada 3 Oktober 2013 lalu. Menurut artikel yang dilansir media online.

Selain tersandung kasus suap dalam sengketa Pilkada Lebak Banten. pada 17 Desember 2013 Ketua KPK. mengumumkan status tersangka Ratu Atut setelah KPK berhasil menemukan lebih dari dua alat bukti keterlibatan Atut dalam pemberian Rp 1 miliar kepada Akil Mochtar terkait sengketa Pilkada Lebak. seperti dikutip dari Merdeka. dan kejanggalan pelelangan proyek rumah dinas Gubernur Banten. banyak pihak yang menilai bahwa Ratu Atut turut andil dalam pemberian suap Rp 1 miliar kepada Akil Mochtar pada penanganan kasus sengketa Pemilihan Kepala Daerah Lebak. Banten.Lanjutan. Berikut beberapa dugaan kasus korupsi yang dilakukan Dinasti Ratu Atut Chosiyah. Banten.. Benar saja. . Selain dua kasus diatas. Sejak penangkapan Tubagus Chaeri Wardana atau yang kerap dipanggil Wawan. Ratu Atut juga ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus Alat Kesehatan Banten. wawan juga dikenal sebagai calo PNS. Dinasti Ratu Atut juga terkait dalam dugaan beberapa kasus korupsi lain.com: Ratu Atut Chosiyah diduga melakukan penyelewengan dana APBD Banten khusus untuk dana hibah dan bantuan sosial tahun 2011. Abraham Samad.

Bahkan. Andhika Hazrumy. menjadi Wakil Bupati Serang. menjadi anggota DPD dari Provinsi Banten. yang menjadi anggota Komisi V DPR. Airin Rachmi Diany menjadi Wali Kota Tangerang Selatan. Hikmat Tomet. Heryani. Ade Rosi Khairunnisa. . Ratu Tatu Chassanah. Andiara Aprilia. dan suaminya. Selain itu anak kedua Atut. Istri Andhika. Ia menanamkan keluarga dan kerabat dekatnya menduduki jabatan penting pemerintahan. adik tiri Atut. Ratu Atut berperan sebagai seorang ratu yang mencengkeramkan akar politik dinasti di Banten dengan menggunakan Partai Golkar sebagai kendaraan politiknya. menjadi Wakil Bupati Pandeglang. menjadi Wali Kota Serang dan iparnya atau istri Chaeri Wardana. Ibu Tiri Atut.ANALISIS             Dalam kasus korupsi Ratu Atut ini kita dapat melihat adanya oligarkhi yang berupa sebuah dinasti politik pemerintahan di kota Banten. Tubagus Chaerul Jaman. Seperti mendiang suami Ratu Atut. Adik kandung Atut. Tanto Warsono Arban adalah calon anggota DPR. anak pertama Atut. menjadi Wakil Ketua DPRD Kota Serang.

Petunjuk tertulis yang mengatur setiap perilaku san keputusan. karyawan menjadi sangat terampil dalam melaksanakan pekerjaan tersebut. Impersonal. tidak ada satupun yang mendapatkan perlakuan khusus. yang bercirikan pembagian kerja. Pembagian tugas yang jelas Pekerjaan ditentukan secara jelas. . 4. Hirarki wewenang yang jelas. berkas-berkas tertulis disimpan sebagai catatan historis. 2. Untuk masing-masing posisi wewenang dan tanggung jawab ditentukan secara jelas.Fenomena dinasti politik. setiap posisi melaporkan pada posisi lain yang lebih tinggi. kualifikasi teknis. Aturan dan prosedur ditetapkan secara menyeluruh. dan efisiensi. Aturan dan prosedur formal. Karakteristik dari konsepsi birokrasi Weber: 1. Menurut Max Weber tipe ideal birokrasi itu melekat dalam struktur organisasi rasional dengan prinsip rasionalitas. 3. impersonalitas. dimana lingkaran politik pemerintahan tidak terlepas dari ikatan keluarga ini bertentangan dengan konsepsi birokrasi tipe ideal (Ideal Type) Max Weber. pelimpahan wewenang secara hierarkhis.

Lanjutan. 5. Akan tetapi. jika melihat kasus Dinasti Politik Ratu Atut kehadiran birokrat dalam politik tidak dapat dihindarkan. manajer seharusnya karyawan yang profesional. karena bisa dengan mudah diintervensi oleh pihak swasta yang memiliki akses terhadap kekusaan politik di Banten. Adik ratu atut. Birokrasi netral dan/atau apolitis merupaka hasil dari perspektif old  classical public administration yang memisahkan antara politik dan birokrasi. yang seorang pengusaha memainkan peranan penting dalam lingkaran pemerintahan Banten yang dikuasai Dinasti keluarganya.. . Yangmana ini menunjukkan bahwa birokrasi dalam pemerintahan provinsi Banten tidak lah netral. Wawan juga memiliki kemampuan untuk mengintervensi kebijakan di internal Birokrasi provinsi Banten. Jenjang karier didasarkan atas kualitas. Wawan. Birokrasi Weber berparadigma netral (bebas nilai) dan apolitis. Karyawan dipilih dan dipromosikan berdasarkan kemampuan dan kinerja. Wawan memiliki kekuasaan untuk memonopoli proyek-proyek APBD dan APBN yang digelontorkan untuk provinsi Banten.

dimana pejabat-pejabat yang menjadi kepala dinas di hampir semua SKPD di Pemprov Banten dipilih atau ditentukan oleh Wawan. Berbeda dengan konsepsi birokrasi tipe ideal Max weber yang seharusnya menerapkan merit system atau proses seleksi/rekruitmen menurut prestasi dan kualifikasi teknis yang dimiliki oleh seorang pegawai. karena sifatnya impersonalitas: melepaskan baju individu dengan ragam kepentingan yang ada di dalamnya. Hal ini tentu saja berseberangan dengan karakteristik impersonal birokrasi tipe ideal Max Weber. Hal ini tentu saja kontradiktif dengan realitas yang disajikan oleh fenomena dinasti politik Ratu Atut. . Penentuan ini tentu saja sangat berdasar pada kedekatan personal pejabat (kepala dinas atau terpilih) dengan Wawan.. birokrasi tidak boleh memasukkan unsur subyektivitas dalam pelaksanaan birokrasi. melainkan berdasar kedekatan personal atau penilaian subyektif seorang Wawan.Lanjutan. Kewenangan Wawan ini memungkinkan adanya proses rekruitmen yang tidak melalui jenjang karir yang jelas ataupun proses seleksi berdasar kualitas ataupun prestasi kerja seseorang. Dalam konsepsi Max Weber. Wawan juga diberikan wewenang oleh Gubernur (Ratu Atut) untuk menentukan pejabat yang dianggap pantas untuk menjadi kepala dinas di hampir semua Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemprov Banten.

Lanjutan. birokrasi memang hanya sebagai perpanjangan tangan pemerintah untuk mewujudkan kepentingan apa yang ingin dicapai.. Atau dengan birokrasi pejabat pemerintahan ingin mencari keuntungan lewat birokrasi. Kondisi birokrasi dalam Pemerintahan Provinsi Banten ini lebih tekat dengan perspektif Marx dalam memandang birokrasi. mendorong dinasti ini untuk cenderung bersifat korup demi kepentingan pribadi dinasti tersebut. Kenyataan yang terjadi. Marx pesimis dengan birokrasi karena instrumen negara ini hanya dijadikan alat untuk meneguhkan kekuatan kapitalisme dan akhirnya jauh dari harapan dan keinginan masyarakat. dimana semua unsur birokrasi dan pemerintahan dikuasai secara ‘absolut’ oleh suatu dinasti. . Seperti halnya dalam kasus ini. yangmana hal ini tentu saja wajar jika birokrasi pemerintahan saat ini lebih cenderung untuk korup.