You are on page 1of 32

Peraturan dan perundang –

undangan yang melandasi
tugas, fungsi dan praktik
bidan

PEPI HAPITRIA, SST, MPH
PRODI KEBIDANAN CIREBON

Tujuan Pembelajaran
 Setelah

membaca handout ini, mahasiswa
diharapkan mampu :
 Menjelaskan PERMENKES
No.1464/MENKES/PER/X/2010 dengan benar
sesuai handout.
 Menjelaskan Undang – undang tentang aborsi
dengan tepat sesuai handout.
 Menjelaskan Undang – undang tentang bayi
tabung dengan benar sesuai handout
 Menjelaskan Undang – undang tentang
adopsi dengan tepat sesuai handout

REFERENSI
 Heni

Puji W, Etika Profesi Kebidanan,
Fitramaya, Yogyakarta, 2009. (hal : 90-98)
 K. Bertens. Etika Biomedis, Kanisius,
Yogyakarta, 2011. (hal : 199-214)
 Mudakir Iskandar, Tuntutan Pidana dan
Perdata Malpraktik, 2011. (hal : 120-122)
 Anggota IKAPI, Undang – Undang
Kesehatan, Fokusmedia, Bandung, 2010,
(Hal 1-30)

flv . Warga Malaysia Tewas.VIDIO Aborsi.

bukan hanya keadaan bebas dari penyakit. keadaan yang meliputi kesehatan badan. cacat dan kelemahan. Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat . jiwa dan sosial.Uraian Materi Hukum kesehatan adalah rangkaian peraturan perundang undangan dalam bidang kesehatan yang mengatur tentang pelayanan kesehatan yang mengatur tentang Kesehatan menurut WHO adalah pelayanan medis dan sarana medis.

2.Beberapa contoh peraturan perundang – undangan dan undang – undang yang terkait dengan praktik bidan : 1. 4.Undang Tentang Adopsi . 1464/MENKES/PER/X/2010 tentang registrasi dan praktek bidan Undang – Undang Tentang Aborsi Undang – Undang Tentang Bayi Tabung Undang. 3. KEPMENKES RI No.

149 Sudah direvisi dengan PERMENKES 1464/MENKES/PER/X/2010 .1. 1464/MENKES/PER/X/2010 tentang registrasi dan praktek bidan Permenkes No. KEPMENKES RI No.

Permenkes ini terdari dari 7 BAB dan 30 Pasal yang meliputi :  Bab I Ketentuan Umum  Bab II Perizinan  Bab III Penyelenggraan Praktik  Bab IV Pencatatan dan Pelaporan  Bab V Pembinaan dan Pengawasan  Bab VI Ketentuan peralihan  Bab VII Ketentuan Penutup .

yaitu sebelum 20 minggu. .Definisi abortus secara medis adalah keluarnya hasil konsepsi sebelum janin mampu hidup diluar rahim. Aborsi juga berarti penghentian kehamilan setelah tertanamnya ovum yang telah dibuahi dalam rahim sebelum usia janin mencapai 20 minggu.

Ayat 2 mengambil keuntungan dari pengguguran tersebut sebagai pencaharian atau kebiasaan. Ayat 3 menggugurkan kandungan orang menjadi suatu profesi atau pencaharian. . apoteker. hukuman 4 tahun penjara ditambah sepertiganya. • • • KUHP pasal 299 berisi mengenai : Ayat 1 memberikan harapan untuk pengguguran diancam 4 tahun penjara atau pidana denda paling banyak emapt puluh lima ribu rupiah. maka dicabut haknya untuk melakukan pencaharian itu. jika dia seorang tabib. bidan.

diancam dengan pidanan penjara paling lama emapat tahun. • KUHP Pasal 347. seorang wanita dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu. sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita tanpa persetujuannya diancam dengan pidana penjara maksimal 12 tahun.• KUHP Pasal 346. .

dapat dilakukan tindakan medis tertentu. oPasal 15 ayat 2 tindakan medis tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 hanya dapat dilakukan .Undang – undang kesehatan No 23 Tahun 1992 oPasal 15 ayat 1 Dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu hamil dan atau janinnya.

000.000.00 (lima ratus juta rupiah) . Pasal 15 ayat 3 ketentuan lebih lanjut mengenai tindakan medis tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dan ayat 2 ditetapkan dengan peraturan pemerintah. dipidana dengan penjara paling lama 15 tahun dan pidana denda paling banyak Rp 500.  Ketentuan pidana pada pasal 80 ayat 1 adalah barang siapa dengan sengaja melakukan tindakan medis tertentu keoada ibu hamil yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pasal 15 ayat 1 dan ayat 2.

 Barang siapa dengan sengaja menghimpun dana dari masyarakat untuk menyelenggarakan pemeliharaan kesehatan. yang tidak berbentuk badan hukum dan tidak memiliki ijin operasional serta tidak melaksanakan ketentuan tentang jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat sebagaimana dimaksud pasal 66 ayat 2 dan ayat 3 dipidana penjara paling lama 15 tahun dan pidana denda paling banyak Rp 500.000.000.00 (lima ratus juta rupiah) .

atau   Kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban perkosaan . maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan.Undang-undang republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan Pasal 75 (1) Setiap orang dilarang melakukan aborsi. yang menderita penyakit genetic berat dan/atau cacat bawaan. (2) Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan berdasarkan:   Indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan. baik yang mengancam nyawa ibu dan/atau janin.

.• Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat dilakukan setelah melalui • konseling dan/atau penasehatan pra tindakan dan diakhiri dengan konseling pasca tindakan yang dilakukan oleh konselor yang kompeten dan berwenang. • Ketentuan lebih lanjut mengenai indikasi kedaruratan medis dan perkosaan. sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 76 Aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 hanya dapat dilakukan: • Sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir. kecuali korban perkosaan • Penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh Menteri. . kecuali dalam hal kedaruratan medis • Oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan yang memiliki sertifikat yang ditetapkan oleh menteri • Dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan • Dengan izin suami.

tidak aman. dan tidak bertanggung jawab serta bertentangan dengan norma agama dan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 77 Pemerintah wajib melindungi dan mencegah perempuan dari aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) dan ayat (3) yang tidak bermutu. .

Setelah terjadi konsepsi hasil tersebut diamsukkan kembali kedalam rahim ibu atau embrio transfer sehingga dapat tumbuh menjadi janin sebagaimana layaknya kehamilan biasa. .Undang Tabung – Undang Tentang Bayi Bayi tabung adalah upaya jalan pintas untuk mempertemukan sel sperma dan sel telur diluar tubuh (in vitro fertilization).

Status bayi tabung ada tiga macam : ◦Inseminasi buatan dengan sperma suami ◦Inseminasi buatan dengan sperma donor ◦Inseminasi buatan dengan model titipan .

Pasal 16 ayat 1 kehamilan diluar cara alami dapat dilaksanakan sebagai upaya terakhir untuk membantu suami istri mendapat keturunan. 23 Tahun 1992   a. ditanamkan dalam rahim itri dari mana ovum berasal Dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu Pada sarana kesehatan tertentu . c. Upaya kehamilan diluar cara alami sebagaimana diamaksud dalam ayat 1 hanya dapat dilakukan oleh pasangan suami istri yang sah dengan ketentuan : Hasil pembuahan sperma dan ovum dari suami istri yang bersangkutan. b.Dasar hukum pelaksanaan bayi tabung di Indonesia adalah Undang – undang Kesehatan No.

Lanjutan… Ketentuan mengenai persyaratan penyelenggaraan kehamilan diluar cara alami sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dan ayat 2 ditetapkan .

Sedangkan anak yang lahir dari sewa rahim. terdapat dua keadaan sebagai berikut :  Ovum dari pemesanan. Anak diluar nikah hanya mempunyai hubungan hukum dengan ibu dan keluarga ibu. sperma . Status anak yang dilahirkan tidak dalam ikatan perkawinan adalah anak diluar nikah.

Undang. Adopsi adalah suatu proses penerimaan seorang anak dari seseorang atau lembaga organisasi ketangan orang lain secara sah diatur dalam perundang – undangan.Undang Tentang Adopsi . Adopsi juga berarti memasukkan anak yang diketahuinya sebagai anak orang lain kedalam keluarganya dengan status fungsi sama dengan anak kandung .

Hukum perdata tentang adopsi. hanya anak laki – laki. meliputi :  Anak yang diadopsi. baru boleh mengadopsi bila tidak melahirkan keturunan laki-laki . terjadi nilai diskriminasi dan patriakal  Bahwa yang dapat mengadopsi anak adalah pasangan suami istri. janda atau duda  Kebolehan megadopsi.

umur lebih muda minimal 10 tahun dari ayah angkatnya.  Syarat persetujuan adalah meliputi :  Dari suami istri yang melakukan adopsi  Dari orang tua alami anak yang diadopsi  Dari ibu anak apabila ayah meninggal  Dari anak yang diadopsi sendiri (tidak mutlak) . Anak yang boleh diadopsi. belum diadopsi orang lain. jika janda lebih muda 15 tahun dari ibu angkatnya. anak laki – laki belum kawin.

 Akibat hukum adopsi adalah sebagai berikut : a. Pada hukum perdata adat tidak ada ketentuan jelas. batal secara hukum. tergantung daerah masing – masing dan garis kekeluargaan yang dianut.  . Gugur hubungan perdata dengan orang tua alami d. Adopsi yang tidak berbentuk notaris. Anak mendapat nama keturunan orang tua angkat b. jika dikuasakan harus dengan surat kuasa notaris.Adopsi berbentuk akta notaris. Anak yang diadopsi dianggap dilahirkan atau sah c. dengan akta adopsi. pernytaan persetujuan bersama orang tua alami dengan calon orang tua angkat. yaitu : para pihak datang. Adopsi tidak dapat dicabut atas persetujuan bersama e.

Pelanggaran terhadap pasal 39 ayat (2) merupakan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan/atau denda paling banyak Rp100 juta.Menurut pasal 39 ayat (2) UU No.  . pengangkatan anak tidak memutuskan hubungan darah antara anak yang diangkat dan orang tua kandungnya. 23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak.

” Perbuatan mengurus akta kelahiran bayi yang bersangkutan di kantor catatan sipil setempat yang mengakibatkan asal usul bayi tersebut menjadi tidak jelas adalah tindak pidana. “Barangsiapa dengan suatu perbuatan sengaja menggelapkan asalusul seseorang. dengan pidana penjara paling lama enam tahun.  . Penggelapan asal-usul anak juga dapat dijerat dengan pasal 277 KUHP yang berbunyi. diancam karena penggelapan asal-usul.

 Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak 3. Undang-Undang No. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana 2. 54 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak .Dasar hukum: 1.

? .

TERIMA KASIH .