You are on page 1of 40

Laporan Kasus subdivisi MH

Reaksi Eritema Nodosum
Leprosum
Astri Melistri
Pembimbing:
Dr. dr.Anni Adriani, Sp.KK
Dr.dr. Sri Vitayani M, Sp.KK, FINSDV
dr. Safruddin Amin, Sp.KK (K),MARS,FINSDV
dr. Dirmawati Kadir, Sp.KK
dr. Widyawati Djamaluddin, Sp.KK
dr. Idrianti Idrus, Sp.KK, M.Kes
Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin
Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar
2016
2016

PENDAHULUAN
• Infeksi kronik : disebabkan Mycobacterium
Leprae, bersifat intraseluler obligat
• Klasifikasi Ridley-Jopling : Tuberkuloid polar (TT)
yang merupakan bentuk stabil, Borderline
tuberculoid (Bt), Mid Borderline (BB), Borderline
lepromatous (Bl), Lepromatosa polar (LL) yang
merupakan bentuk yang stabil.
• WHO : terbagi menjadi PB dan MB

2

PENDAHULUAN
• Tiga klinis utama (Tanda Kardinal) : Lesi
hipopigmentasi atau eritematosa mendatar atau
meninggi yang bersifat kurang atau mati rasa,
penebalan saraf perifer, dan BTA positif
• WHO merekomendasikan pengobatan Morbus
Hansen dengan rejimen kombinasi MDT (Multi
Drug Treatment)

3

LAPORAN KASUS
• Seorang wanita 36 tahun mengeluh nyeri pada benjolan
di hampir seluruh badan, serta sulit bernapas dialami OS
±1 minggu yang lalu. Awalnya benjolan muncul di kaki,
kemudian ke tangan menyebar hingga ke wajah dan
daun telinga.
• Bercak kehitaman tampak pada hamper seluruh tubuh.
Tampak pula plakat kehitaman berbatas tegas disertai
sisik dan rasa gatal.
• OS juga mengeluhkan benjolan timbul di dalam hidung
yang menyebabkan sulit bernapas

4

Pasien merupakan pasien rujukan dari RS Kabupaten Gowa dengan diagnosis MH tipe Reaksi ENL. Riwayat alergi makanan disangkal oleh pasien.LAPORAN KASUS • Riwayat penyakit sebelumnya berupa pengobatan MH dan riwayat minum obat tidak teratur selama 5 bulan. 5 .

Inj Biocombine Amp/IV/ 24 Jam. Metilprednisolone 8 mg 2 x 1.LAPORAN KASUS • Pasien telah mendapat terapi IVFD RL 20 tpm. 6 . Inj Ranitidine Amp/IV/12 jam. Inj Ketorolac.

• Pada pemeriksaan status dermatologi • Lokasi : Regio antebrachium .LAPORAN KASUS • Dari pemeriksaan fisis didapatkan keadaan umum sakit ringan dengan tanda vital dalam batas normal. Auricula • Eff : Nodul eritem dan plak hiperpigmentasi 7 . Regio Fasialis. Extremitas Sup et Inf.

8 . • Pemeriksaan Laboratorium dalam batas normal.• Pemeriksaan sensibilitas : Hipoestesi pada tangan • Pemeriksaan penebalan saraf : Tidak ditemukan pembesaran.

Gambar 1 A.C dan D terlihat nodul eritem dan plak hiperpigmentasi di region ekstremitas superior dan inferior dekstra et sinistra serta region fasialis 9 .B.

Terapi : • MDT lanjut • Metilprednisolon 16mg-16mg-0 • Neurodex tab 1 tab/24 jam/oral 10 .

Keluhan disertai gatal. 11 .Kontrol Hari -I • Kontrol Hari I • Pasien mengeluhkan masih kesulitan bernapas disertai nyeri pada benjolan yang timbul hampir diseluruh tubuh.

Pasien dikonsulkan ke bagian Telinga Hidung Tenggorokan (THT) 12 . Diberikan terapi MDT lanjut. Metilprednisolon 16 mg-16mg-0 serta neurodex®1 tablet/24 jam/ oral.Kontrol Hari -I • Pada pemeriksaan dermatologis diregio ektermitas superior et inferior didapatkan effloresensi berupa nodul eritem.

Kontrol Hari -I • Gambar 2 A.B tampak nodul eritem di ekstremitas superior dan inferior dekstra et sinistra 13 .

Pada pemeriksaan fisik pada regio ekstremitas superior dektra et sinistra. 14 . didapatkan nodul eritem. Terapi dilanjutkan dan bagian THT diberikan terapi tremenza 1 tablet/24 jam/oral dan ambroxol 1 tab/8 jam/oral.Kontrol Hari -II • Kontrol Hari II keluhan sesak berkurang. nyeri pada benjolan berkurang.

15 . tidak dirasa nyeri. Dilakukan pemeriksaan BTA pada cuping kanan dan kiri serta lesi pada lengan bawah. Pada pemeriksaan fisik didapatkan pada regio ektermitas superior et inferior dektra sinistra dan region fasialis nodul eritem. Diberikan terapi lanjut. Pasien mengeluh sulit bernapas.Kontrol Hari -III Didapatkan Bercak kemerahan dan benjolan sudah berkurang.

C Regio ektermitas superior dektra et sinistra didapatkan nodul eritem. A. 16 .B.Gambar 3.

• Ekstremitas superior dan inferior dekstra et sinistra didapatkan plak dan makula eritem. 17 .Kontrol Hari -IV • Kontrol Hari IV didapatkan bercak kemerahan disertai nyeri di wajah berkurang dan membaik. Terapi masih sama.

B tampak nodul dan plak hiperpigmentasi 18 .Kontrol Hari -IV Gambar 4 A.

Pemeriksaan Penunjang • Pemeriksaan Mikrobiologi BTA • Mikrobiologi • Jenis Spesimen Reitz Serum   • Pewarnaan BTA 1 : Lesi Positif (2+) • Pewarnaan BTA 2 : Telinga kanan positif (2+) • Pewarnaan BTA 3 : Telinga kiri positif (3+) 19 .

ada clear zone subepudermal . banyak granuloma dalam dermis yang mengikuti adnexa dan pembuluh darah. terdiri dari sel histiositik foamy yang bercampur dengan sedikit limfosit dan neutrophil.Pemeriksaan Penunjang • Pemeriksaan Patologi Anatomi • Mikroskopik : Sediaan jaringan kulit menunjukkan epidermis yang tampak hyperkeratosis. granuloma ini meluas sampai lemak subcutis. Pewarnaan Fite Faraco ditemukan banyak basil • Kesimpulan : MH tipe LL dengan ENL 20 .

sebasea.Rete ridge yang mendatar karena epidermis atrofi Granuloma yang mengikuti adneksa di dermis yang mengandung syaraf. keringat Pewarnaan HE 21 .

Granuloma yang meluas sampai subkutis Pewarnaan HE   Tampak foamy histiositik di dalam granuloma Pewarnaan HE     22 .

Tampak banyak basil Pewarnaan Fite Faraco 23 .

LAPORAN KASUS MH TIPE LL DENGAN REAKSI ENL Th/ : Metilprednisolon 8 mg 2-2-0. Neurodex tab/24 j/oral 24 .

Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin.PEMBAHASAN Kepustakaan • Diagnosa ditegakkan jika ditemukan satu dari tanda kardinal. leprae pada kulit Kasus • Pada kasus pasien ditemukan lesi kulit berupa nodul eritem. Aisah S. Third Edition. 25 . 2012. ditemukannya M. Medicine in the Tropics LEPROSY. terdapat pembesaran saraf perifer. p. Pfaltzgraff RE. Edisi Kelima. Goldsmith LA. lesi kulit karakteristik morbus Hansen dengan berkurang atau hilangnya sensasi. United States of America: McGrawHill Companies. 1787-1796. Katz SI. Pg 5-127 Wolff K. Volume 1 & 2 Seventh Edition. Hamzah M. Editor. Bryceson A. 2010. hipoestesi. h. BTA positif Djuanda A. Gilchrest BA. 73-83. Inc. Fitzpatrick’s Dermatology In General Medicine. Jakarta: Badan Penerbit FKUI.

Inc. 89 – 99 Fitzpatrick TB. Johnson RA. United States of America: McGraw-Hill Companies. Sixth Edition. 26 . In : Ilmu Penyakit Kusta. dan nodus dalam jumlah banyak . Wolff K. Infiltrat difus. Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology. Eritema Nodosum Leprosum. p. 2009. 2003. 665-671. papul. Amirudin MD. Makassar : Hasanuddin University Press. p. dan bersifat simetris Kasus • Pada kasus ini didapatkan nodul eritem dan plak hiperpigmentasi yang sifatnya bilateral simetris.PEMBAHASAN Kepustakaan • Pada kusta tipe LL (lepromatosa) didapatkan makula.

2010. Medicine in the Tropics LEPROSY. 27 . 73-83. In : Ilmu Penyakit Kusta. tetapi mungkin juga dilihat di tempat lain. Editor. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Pfaltzgraff RE. Third Edition. 2003. Edisi Kelima. Hamzah M. Bryceson A. Aisah S. h. p. Pg 5-127 Amirudin MD. Kasus • Pada kasus ini didapatkan banyak lesi di wajah dan ekstremitas ekstensor Djuanda A. Jakarta: Badan Penerbit FKUI. Eritema Nodosum Leprosum. Makassar : Hasanuddin University Press. 89 – 99.PEMBAHASAN Kepustakaan • Lesi paling sering didapatkan di wajah dan permukaan ekstremitas bagian ekstensor.

Amirudin MD. Eritema Nodosum Leprosum. kehamilan. 28 . J Am Acad Dermatology p.PEMBAHASAN Kepustakaan • Beberapa faktor predisposisi yang memicu tejadinya ENL adalah kondisi yang berhubungan dengan stress mental. 1-3. . trauma. 2016. dan variasi penggunaan obat-obatan medikasi anti lepra yang tidak teratur. Vleugels RA. Clinics In Dermatology. faktor pemicu ENL adalah kondisi pasien yang tidak minum obat teratur selama 5 bulan. vaksinasi. In : Ilmu Penyakit Kusta. Nambudiri VE. Makassar : Hasanuddin University Press. 2003. p. 89 – 99 Nahmias Z. Thalidomide and Lenalidomide for The Treatment of Refractory Dermatologic Conditions. antibiotik umum untuk penyakit Kasus • Pada kasus ini.

2003. p. United States of America: McGraw- . Pg 5-127 29 Amirudin MD. Pfaltzgraff RE. Medicine in the Tropics LEPROSY. Goldsmith LA. Volume 1 & 2 Seventh Edition. In : Ilmu Penyakit Kusta. Third Edition. Makassar : Hasanuddin University Press. Fitzpatrick’s Dermatology In General Medicine. Eritema Nodosum Leprosum. 89 – 99.PEMBAHASAN Kepustakaan • Pemeriksaan bakterioskopik yang dilakukan adalah pemeriksaan BTA dari hasil kerokan infiltrat pada kedua cuping telinga bagian bawah pasien dan lesi. Wolff K. Gilchrest BA. Kasus • • • • Hasil pewarnaan BTA Pewarnaan BTA 1 : Lesi Positif (2+) Pewarnaan BTA 2 : Telinga kanan positif (2+) Pewarnaan BTA 3 : Telinga kiri positif (3+) Bryceson A. Katz SI.

p. Makassar : Hasanuddin University Press. Pg 5-127 Amirudin MD. 89 – 99. Third Edition. In : Ilmu Penyakit Kusta. Pfaltzgraff RE. Eritema Nodosum Leprosum. 30 . 2003.PEMBAHASAN Kepustakaan • Pemberian steroid dapat berupa prednisone dengan dosis 30-60 mg/hari Kasus • Pada kasus ini diberikan metilprednisolon dengan dosis 16mg-16mg-0 Bryceson A. Medicine in the Tropics LEPROSY.

31 .

32 Bryceson hal 84 .LL • Reaksi terutama didapatkan selama kehamilan dan laktasi.REAKSI ENL • Gejala Klinis : Reaksi tipe 2 biasa muncul pada tipe BL. • Seringkali rekuren.

REAKSI ENL • Reaksi ditandai lesi kulit berupa nodul eritem yang nyeri. superfisial atau profundus di dermis. • Berbentuk kubah dengan batas tidak tegas. • Lesimungkin ulserasi  pus kuning kental yang mengandung BTA polimorfik dan degenerasi. 33 . mengkilap dan nyeri tekan.

pembesaran seluruh syaraf tepi. daktilitis.REAKSI ENL • Lesi paling sering wajah. orkitis. • ENL kronik  indurasi otot  paling sering di ekstensor paha. 34 . ekstremitas bagian ekstensor. punggung antar scapula dan lengan bawa • Gejala lain mungkin munculiridosiklitis.

HISTOLOGI • Lesi ringan terdiri dari sekelompok dari polimorfik. • ENL yang berat lebih sering dikaitkan dengan deposit basil yang lebih besar • Selanjutnya nekrosis dan ulserasi 35 . edem dan pecahan selular. Dapat terjadi vasculitis atau nekrosis vaskular.

Leprae yang tinggi • Tampaknya berperan terhadap pembentukan kompleks imun yang dideposit di jaringan • Akumulasi polimorf.IMUNOLOGI • Menpunyai titer antibody precipitating terhadap antigen M. 36 . fagositosis komplek dan rilis enzim proteolitik menghasilkan inflamasi dan nekrosis jaringan.

• Kompleks imun terdeposit pada lokasi jauh dan penuh basil erupsi nodul eritematous 37 .IMUNOLOGI • Kompleks imun bersikulasi mengandung IgG. IgM. komplemen (C1q)  sumber vasculitis.

Klorokuin. diberi tiap 4 jam.Antimonial berfungsi untuk mengurangi gejala nyeri tulang pada persendian 4.Aspirin 600-1200 mg. diberi 3 x 1 3. 150 mg .turun 50mg/hari 38 . 4-6 kali sehari 2.TATALAKSANA REAKSI Reaksi Ringan 1.Talidomid 400 mg/hari.

Klofazimin 300 mg/hari dalam dosis terbagi selama 2 minggu 40 .TATALAKSANA REAKSI 1. dikurangi 5 mg tiap 2 minggu. prednisone atau prednisolone 40-80. Kortikosteroid . 2.

40 .