You are on page 1of 61

METODE FARMAKOLOGI

By
ZAINUDDIN, S.FARM

LITERATUR PENDUKUNG MATAKULIAH
METODE FARMAKOLOGI:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Farmakologi Ulasan Bergambar
Farmakologi Umum
Catatan Kuliah Farmakologi Edisi I, II, III
Farmakope Indonesia (FI)
Farmakologi Dan Terapi
Penggunaan Hewan-Hewan Percobaan Di
Laboraturium
Penapisan Farmakologi, Pengujian
Fitokimia Dan Pengujian Klinik

METODE FARMAKOLOGI
MEMPELAJARI:
1.
2.

3.
4.
5.
6.

Pengetahuan Tentang Obat
Bagaimana Obat Itu Memberikan Efek
Terhadap Hewan Coba / Hewan Uji
(Probandus)
Bagaimana Cara Memelihara Hewan Uji
Bagaimana Cara Pemilihan Hewan Uji
Bagaimana Penanganan Hewan uji
Bagaimana Cara Pemberian Obat Pada
Hewan Uji

Bermanfaat dalam memilih cara pemberian yang sesuai sehingga aman bila digunakan pada manusia. Bermanfaat bagi pengembangan ilmu farmasi. kadar dan toksisitas obat atau bahan alam yang belum diteliti yang tidak dapat diberikan langsung pada manusia. 3. .TUJUAN MEMPELAJARI METODE FARMAKOLOGI: 1. Dapat dimanfaatkan untuk persiapan percobaan dan penelitian. khususnya penelitian khasiat. 2.

luas permukaan tubuh 564–720 cm 2. Marmut terus beranak selama 18 bulan sampai 4 tahun dalam masa hidupnya yang diketahui bisa mencapai 8 tahun dengan rata-rata sampai 5 tahun. betina 700 – 900 g.5 oC. mulai dikawinkan jantan : 600–700 g (3–4 bulan). jumlah pernapasan 42 – 104 per menit penggunaan oksigen . harapan hidup 4–5 tahun. jumlah anak perkelahiran 2 – 5 ekor.2–39. konsumsi makanan 6 g/100 g/hari. berat lahir 60 – 100 g. lama kebuntingan 59 – 72 hari. Nilai fisiologis dari marmut : Berat badan dewasa jantan 900 – 1200 g. betina : 350–450 g (2–3 bulan). temperatur tubuh 37.MARMUT (CAVIA PARCELLUS) Karakteristik Hewan Uji Marmut Marmut sangat peka terhadap histamine (terjadi kontraksi urat daging lisin sekitar bronchus yang sangat mematikan) dan terhadap akibat fatal dan pertumbuhan bakteri dalam coecum sebagai akibat stress atau pemberian antibiotik.konsumsi air minum 10 ml/100 g/hari. lama siklus 15–17 hari.

2. Klasifikasi Hewan Uji Marmut Dunia : Animalia Divisi : Chordata Anak divisi : Vertebrata Kelas : Mamalia Bangsa : Rodentia Suku : Muridae Marga : Cavia Jenis : Cavia parcellus .

Klasifikasi Mencit (Mus musculus) Kingdom : Animalia Filum : Chordata Subfilum : Vertebrata Class : Mamalia Subclass : Theria Ordo: Rodentia Famili : Muridae Genus : Mus Spesies : Mus musculus (Malole.MENCIT (MUS MUSCULUS) 1. 1989) .

47 gram Denyut jantung : 136 kali per mencit (Malole. 1989) . sembunyi dan aktif pada malam hari.50 C Laju respirasi : 136 – 217/s Volume darah :7.50 C – 39. 1989)               Morfologi  Merupakan hewan pengerat yang berkembang biak dengan cepat. (Malole.Karakteristik Mencit Masa tumbuh : 6 bulan Lama hidup : 2 sampai 3 tahun Tekanan darah normal : 147/106 mmHg Suhu tubuh normal : 37. cenderung berkumpul dengan sesamanya. baik di kandang maupun secara bebas. hidup diberbagai iklim. bersifat penakut fotofobik.3 % berat badan Masa puberitas : 35 hari Masa hamil : 19 sampai 20 hari Masa laktasi : 21 hari Jumlah 1 kali hamil: 4 sampai 12 ekor Frekuensi hamil : 4 kali tiap tahun Masa beranak : Sepanjang tahun Berat badan : 13. mudah dipelihara dalam jumlah banyak.

KELINCI (ORYCTOLAGUS CUNICULUS). Klasifikasi Hewan Uji Kelinci Dunia : Animalia Filum : Chordata Sub-Filum : Vertebrata Kelas : Mamalia Sub – Kelas : Theria Bangsa : Lagomorpha Suku : Leporidae Marga : Oryctolagus Jenis : Oryctolagus cuniculus . 1.

volume darah 7. kaki depan 5 jari. Kelenjar air susu jumlahnya 4 atau 5 puting tampak jelas dari luar. telinga luas lebar. ekor pendek. frekuensi kelahiran 3 – 4 kali pertahun. dan fleksibel. mata besar. Disekitar mulut ada rambut-rambut panjang.5 % BB. vibrasi kaki depan lebih kecil. Jumlah sekali lahir 5 – 6 ekor. kuat meloncat. masa tumbuh 4 – 6 bulan. lama hidup 8 tahun. dari kaki belakang.2 . masa beranak mei sampai september. ada kelenjar yang mengeluarkan bau didekat anus. kaki depan panjang. Karakteristik Hewan Uji Kelinci Sifat khas ekstrenal. .9. kaki belakang 4 jari. Jumlah Trombosit 250 – 270 x 10 3/mm3. Masa puberitas 4 bulan. lama hamil 28 – 36 hari.

Tikus putih merupakan hewan pengerat. tikus polensia (Rattus exulan Peale). tikus putih sering digunakan sebagai hewan percobaan atau digunakan untuk penelitian. ”tikus besar”.  Di Indonesia hewan percobaan ini sering dinamakan. serta ekskresi menyerupai manusia . sistem reproduksi. yang mana manusia juga merupakan dari golongan mamalia sehingga kelengkapan organ. mencit sawah (Mus caroh). metabolisme bio-kimianya. dikarenakan tikus merupakan hewan yang mewakili dari keles mamalia.TIKUS PUTIH Jenis tikus  Ada beberapa jenis tikus yang ada di Negara Indonesia dan beberapa diantaranya dipergunakan untuk penelitian. pernapasan peredaran darah. tikus sawah (Rattus novergicus). seperti : Tikus wirok (Baricoto Indica Bechstein). kebutuhan nutrisi. tikus riul (Rattus novergicus Berkenhout). tikus duri kecil (Rattus ardiardi). mencit rumah (Mus musculus). dan tikus rumah besar (Rattus rattus diadri Jentink). tikus belukar (Tio manicus Miller).

 Dan tikus putih juga memiliki beberapa sifat menguntungkan seperti : cepat berkembangbiak. tempramennya baik. Nama lain  Minangkabau : Mencit  Sunda : Beurit  Jawa : Tikus . pertumbuhan cepat. lebih tenang dan ukurannya lebih besar dari pada mencit. mudah dipelihara dalam jumlah banyak. kepala kecil. kemampuan laktasi tinggi. Tikus putih juga memiliki ciri-ciri : Albino. dan ekor yang lebih panjang dibandingkan badannya. dan tahan terhadap arsen tiroksid.

protein 9 – 10%.  Susu : Air 73%. 3 pasang didaerah dada dan 3 : 3 betina dengan 1 jantan. . gula 2 – 3%.  Perkawinan kelompok : 10 minggu (jantan dan betina) : 4 – 5 hari : 12 putting.  Siklus estrus (birahi)  Lama estrus : 9 – 20 jam.  Umur disapih : 21 hari  Umur dewasa : 40 – 60 hari.  Perkawinan : Pada waktu estrus. lemak 14 – 16 %.DATA BIOLOGIS TIKUS PUTIH  Lama hidup : 2 – 3 tahun. 2008).  Umur dikawinkan  Siklus kelamin : Poliestrus.  Putting susu pasang dierah perut. (Anonim.  Jumlah anak : Rata-rata 9 – 20. dapat smpai 4 tahun  Lama bunting : 20 – 22 hari  Kawin sesudah beranak : 1 sampai 24 jam.

marmut. Dibandingkan marmut. Dibandingkan tikus. memiliki aneka warna bulu. 1817 Klasifikasi . hamster memiliki bentuk tubuh yang lebih bulat.HAMSTER  Hamster adalah binatang kecil yang termasuk dalam ordo Rodentia. terutama di Indonesia. Tentu saja ini salah. tertutup bulu dan tidak jorok. sering salah menyebut hamster sebagai tikus atau marmut. Walau demikian. orang. hamster termasuk dalam kelompok binatang pengerat seperti halnya kelinci. dan tikus. Artinya. karena mereka jelas berbeda. serta ekor pendek. berbulu (tikus nyaris tidak berbulu). jelas hamster memiliki ukuran tubuh yang jauh lebih kecil. Morfologi  Kerajaan : Animalia Filum : Chordata Kelas : Mammalia Ordo : Rodentia Sub-Ordo : Myomorpha Superfamili : Muroidea Famili : Cricetidae Subfamili : Cricetinae Fischer de Waldheim.

KANDANG PEMELIHARAAN .

Pemanfaatan hewan percobaan pada laboraturium Biofarmasi sangatlah penting. karena laboratorium Biofarmasi tanpa hewan percobaan tidak dapat menjalankan fungsinya. . Percobaan atau hewan uji atau hewan laboraturium adalah hewan yang sengaja dipelihara dan diternakan untuk di pakai sebagai hewan model guna mempelajari dan mengembangkan berbagai macam bidang ilmu dalam skala penelitian atau pengamatan laboraturium. 2.PENDAHULUAN 1.

biokimia. . Sedangkan dibidang pendidikan dan psychologi. menengah dan menengah atas serta pendidikan tinggi. farmakologi. patologi. hewan uji digunakan untuk pengamatan tingkah laku hewan misalnya: ditingkat pendidikan dasar. hewan percobaan juga sering digunakan untuk keperluan diagnostik.3. Penggunaan hewan percobaan untuk penelitian banyak dilakukan di bidang fisiologi. zoologi dalam arti yang luas. Di bidang ilmu kedokteran selain untuk penelitian.

guna) toksisitas suatu bahan obat atau obat baru haruslah dilakukan pada hewan percobaan lebih dahulu sebelum diberikan atau dicoba kepada manusia. 2. Pada umumnya untuk melihat aktivitas biologik (efek. Uji farmakologi dibagi atas dua: 1.4. Uji klinik . Uji praklinik. khasiat.

Uji farmakologi menggunakan hewan uji misalnya: untuk melihat suatu bahan obat. e. Efek farmakologi c. majalah dan literatur). b. Uji praklinik a.1. Blind screening : Skrining buta (Penapisan dan penyaringan. LD50 yaitu dosis yang dapat memberikan efek pada 50% hewan uji. Blind screening (Didapat melalui informasi. d. .

misalnya: Air bila infus Larutan CMC bila Ekstrak yang tidak larut air.• Dalam penelitian : Kelompok kontrol :hewan hanya di beri larutan pembawa atau pensuspensi. .

. 20%. 20%. .5%.  Perlakuan : Hewan uji diberi sediaan. Kelompok pembanding Hewan uji diberi obat yang sudah standar / bahan baku dan banyak digunakan (sudah teruji khasiatnya). 15%. 10%. . 10%. 40%.5%.

toksisitas kronik.  Uji toksisitas kronik yaitu selama 6 bulan >. uji reproduksi. uji teratogenik.Toksisitas terbagi atas 2 yaitu:  Umum.  Uji toksisitas sub akut yaitu selama 3 bulan. toksisitas sub akut/sub kronik.  Uji toksisitas akut :setelah diberi perlakuan diamati 24 jam s/d7-14 hari.  Khususnya : terdiri dari uji potensiasi. uji karsinogenik.  . terdiri dari toksisitas akut.

LD50 : Dosis yang menyebabkan 50 % hewan uji mati. o Sebagai tolak ukur batas keamanan suatu obat atau indeks terapi.  Gunanya: o Sebagai alat ukur toksisitas akut suatu obat.  . o Sebagai perkiraan perhitungan dosis terapi & dosis awal penelitian suatu obat.

Uji Klinik : Analisa kembali setelah efek farmakologi & toksisitas diketahui.2.Ada dua fase pada percobaan klinik percobaan klinik: .Uji farmakologi yang dilakukan pada manusia. . .

d) Fase IV : Keadaan yang sesungguhnya dalam klinik termasuk : anak2. orang lanjut usia dll.Efek terhadap penyakit. b) Fase II: . c) Fase III : Penderita dengan jumlah yang lebih banyak. . toksisitas dst. .a) Fase I : . .Penderita dengan jumlah terbatas.Efek samping.Untuk mengetahui kesamaan pengaruh/khasiatnya dengan hasil percobaan praklinik. .Probandus yang sehat.

 Hewan percobaan merupakan kunci di dalam pengembangan senyawa bioaktif dan usahausaha kesehatan.Hewan percobaan yang digunakan di laboraturium tak ternilai jasanya dalam penilaian efek toksisitas dan efek samping serta ke ambang dari senyawa bioaktif.  .

Karena itu.  Didalam menilai efek farmakologis suatu senyawa bioaktif dengan hewan percobaan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor sebagai berikut:  . penanganan hewan percobaan hendaklah dilakukan dengan penuh rasa kemanusiaan.

 Peraturan2 tentang hewan percobaan yang berlaku di Indonesia tidak jelas atau belum ada ketentuan khusus yang berlaku untuk hewan percobaan seperti halnya diluar negeri yang penting tujuan akhirnya adalah untuk keselamatan manusia. .

Memilih hewan yang mudah diperlakukan (mis:mencit. kelinci dst). tentang makanan dan penyakit. .PEMILIHAN HEWAN PERCOBAAN:     Hal-hal yang perlu diperhatikan: Mengenal dengan seksama kebiasaan2 hewan. Mengenal anatomi &fisiologi hewan yang dipilih. tikus putih.

Penggunaan dari hewan itu secara luas.  Memilih ukuran badan hewan yaitu yang kecil sehingga mudah pemeliharaannya. .

Diantara jenis-jenis hewan. ada yang sangat peka ada yang tidak peka terhadap suatu obat :misalnya : kelinci tidak peka terhadap alkaloida belladona karena mempunyai enzim antropinase.misalny: kuda atau babi.   JENIS-JENIS HEWAN PERCOBAAN Pengalaman mengajarkan bahwa hewan yang lebih mendekati manusia karena mempunyai metabolisme yang serupa.I. .

 Meskipun terdapat perbedaan metabolisme pemilihan hewan percobaan terbatas & tergantung kepada ukuran besar tubuh hewan. jumlah hewan berkelompok. pengecualian kelinci dan kucing. marmut sangat peka terhadap penisilin dan anjing terhadap efek hipotensi dari poli etilen glikol. tikus putih.Tikus kurang peka terhadap histamin. . marmut. banyaknya obat & harganya maka kita selalu akan memilih hewan berukuran kecil seperti: mencit.

 Contohnya : LD50 pada tikus yang diberi morfin (Narkotika) pada kelompok strain: .STRAIN. ASAL HEWAN PERCOBAAN  Setelah memilih hewan percobaan. GALUR. karena strain hewan yang digunakan berbeda kepekaan. kita memilih/menetapkan strain /asalnya.II.  Dalam membandingkan hasil penelitian misalnya : hasil uji toksisitas yang diperoleh dengan yang dimuat dipustaka tidak selalu sama.

 Contohnya: Hewan yang berasal dari satu keturunannya. . Untuk Memperoleh hasil yang homogen maka sebaiknya digunakan hewan yang berasal dari 1 strain saja.

strain dari satu jenis. maka perbedaan jenis kelamin juga harus dipertimbangkan dalam memilih hewan uji.kepekaan jenis hewan percobaan.  Contoh: waktu tidur (sleeping time) setelah penyuntikan heksobarbital menyebabkan waktu tidur hewan betina 4 x lebih lama dari pada hewan jantan.  .III.JENIS KELAMIN Selain perbedaan.

hal ini disebabkan oleh perbedaan siklus hormon pada hewan jantan (strainnya sama) diduga bahwa hormon kelamin mempengaruhi aktivitas enzim. . yang oleh hormon jantan distimulir(Rgs). sedangkan hormon betina dihambat. Ditinjau dari segi fisiologi.

o Dasar-dasar pemeliharaan hewan uji. baik pratikan maupun peneliti yang bekerja dirancangan laboraturium yang menggunakan hewan percobaan hendaknya membaca: o Petunjuk memelihara dan menggunakan hewan percobaan.PENANGANAN HEWAN UJI 1. . Cara bekerja dengan hewan uji.  Setiap orang.

2. Cara memperlakukan hewan percobaan:  Kelinci dan marmut Jangan sekali-kali memegang telinga karena saraf dan pembuluh darah dapat terganggu. . 3. Perlakuan hewan percobaan dengan kasih sayang dan jangan sekali-kali menyakitinya.

Tikus dan mencit
Peganglah pada ekornya, tetapi hati-hati
jangan sampai hewan tersebut membalikan
tubuhnya dan menggigit anda. Karena itu
selain ekornya, pegang juga bagian leher
belakang (kulit tengkuk) dengan ibu jari
telunjuk.

4. Menggunakan kembali hewan yang telah
digunakan.
 Untuk
menghemat biaya,bila mungkin
diperbolehkan
menggunakan
hewan
percobaan lebih dari sekali. Walaupun
demikian, jika hewan tersebut telah
digunakan dalam satu periode dan obat yang
digunakan percobaan masih berada didalam
tubuh hewan, kemungkinan hasil percobaan
berikutnya akan memberikan data yang tidak
benar.

Hal ini terutama terjadi pada kasus
pemberian barbiturat yang menyebabkan
induksi enzim. Dengan demikian
maka
hewan percobaan tersebut baru boleh
digunakan untuk percobaan berikutnya
setelah selang waktu 14 hari.

Memberi kode hewan percobaan. . Seringkali diperlukan untuk mengidentifikasi hewan yang terdapat dalam satu kelompok atau kandang.B. sehingga hewan2 percobaan perlu sekali diberi kode.

dipelihara dengan kondisi yang sama pula. Maka perlu untuk menjaga agar variasi tersebut minimal. Memberi makanan hewan percobaan. Hewan percobaan biasanya memberikan hasil dengan deviasi yang lebih besar dibandingkan dengan percobaan in vitro karena adanya variasi biologis. hewan2 yang mempunyai strain yang sama dan berjenis kelamin sama.C. . 1.

Hewan percobaan harus diberi makanan sesuai dengan makanan standar untuknya dan diberi minuman yang sesuai.2. Untuk mengurangi variasi biologis. Dalam periode ini hewan hanya diperbolehkan minum air saja. 3. hewan harus dipuasakan semalaman sebelum percobaan dimulai. .

 Apabila korban gigitan belum pernah mendapatkan kekebalan terhadap tetanus. .ia harus mendapatkan imunisasi sebagai profilaksi.  Imunisasi tetanus disarankan bagi semua orang yang berhubungan dengan hewan percobaan .  Luka yang bersifat abrasit atau luka agak dalam karena gigitan hewan atau alat-alat yang telah digunakan untuk percobaan hewan harus diobati secepatnya. Luka gigitan hewan.D.

Injeksi barbiturat (Natrium penobarbital 300 mg/ml) secara intra vena untuk kelinci dan anjing. karbondioksida. Memusnakan hewan percobaan. nitrogen dll. tikus. dan mencit. secara intraperitonial untuk marmut. atau dengan inhalasi menggunakan kloroforom. Dalam wadah tertutup untuk semua hewan. 1. . Cara terbaik untuk membunuh hewan adalah dengan memberikan suatu anastetik over dosis.E.

ditutup dan disimpan dalam lemari pendingan atau langsung diabukan.Hewan disembeli.2. kemudian dimasukkan kedalam kantong plastik dan dibungkus lagi dengan kertas diletakkan didalam tas plastik. .

Alat Suntik Tabung dan alat suntik harus steril jika akan digunakan pada kelinci. . cuci tangan dan jarum suntik tersebut. . .F. marmut. semprotkan cairan kedalam gelas piala dan jarum suntik dipegang erat-erat. tetapi tidak perlu steril melainkan sangat bersih untuk tikus atau mencit.PEMBERIAN OBAT PADA HEWAN PERCOBAAN I. Setelah penyuntikan. Ulangi cara ini 3 kali.

. . . tabung dan jarum suntik dicuci dengan larutan jenuh natrium oksalat steril. Heparinisasi Untuk heparinisasi (mencegah darah menggumpal) dipakai 10 unit heparin 1 ml darah.II. sebelum dipakai. Untuk mencegah penggumpalan darah.

tekan rahang hewan dengan ibu jari dan telunjuk. diameter luar 3 cm. . yaitu pipa kayu berbentuk silinder dengan panjang sekitar 12 cm. Pada saat memasangnya. Mouth block dipasang ketika hewan dalam posisi duduk.III. Pemberian Obat Pemberian per oral Kelinci dan marmut Cairan diberikan dengan bantuan kateter yang dilengkapi dengan mouth block. dan diameter dalam 7 mm. . . •. •.

celupkan ujung luar kateter kedalam air.berarti kateter tidak masuk ke esofagus. puyer.    Celupkan kateter ke dalam osefagus melalui lubang mouth block. atau kapsul) diberikan pada hewan pada posisi duduk dengan bantuan pipa plastik dan alat pendorong. Untuk memeriksakan apakah kateter masuk esofagus dan bukan pada trachea. Kateter dimasukkan sekitar 20-25 cm (kateter ditandai pada 25 cm). . Bentuk obat padat (tablet. Jika timbul gelembung udara.

 .  Tikus atau mencit • Pemberian obat dalam bentuk suspensi.Pipa tersebut dimasukkan kedalam farinks dan obat didorong masuk. larutan atau emulsi dilakukan dengan bantuan jarum suntik yang ujungnya tumpul atau berbentuk bola (spoit oral).

Jarum suntik bersama obatnya dimasukkan pelan-pelan searah dengan letak pembuluh vena.  .Pemberian Intravena • Cohnya pada kelnci:  Bulu-bulu telinga disekitar pembuluh darah vena dicabut lalu diolesi dengan alkohol.5 inci. bekas suntikan ditekan dengan kapas bersih. setelah penyuntikan.  Tekan pembuluh darah tersebut dipangkal telinga (dekat kepala). xylol atau dipanasi sedikit dengan api.  Gunakan jarum yang panjangnya 0.

52.5 2.0 Hamster (50-100 g) - 0.05 1.0 2.0 5.0 2.p s.0 10.5 Marmut (200-400 g) - 0.0-5.0 20.0 0.0 0.0-10.c p.VOLUME MAKSIMUM LARUTAN OBAT YANG DIBERIKAN PADA HEWAN Jenis hewan dan BB Cara pemb Larutan Obat yang diberikan Pada hewan i.0 .0-5.5 10.0-20.0 5.0 0.0-10.0 Tikus (100200 g) 1.5 0.1 1.25 2.5-1.0 5.0 1.1 2.5 kg) 5.v i.0 Kelinci (1.0-5.o Mencit (2030g) 0.m i.0-5.

asam niflumat. floktafenin.METODE PENGUJIAN EFEK ANALGETIK  Definisi dan cara kerja analgetik (Mutschler. glafening. Umunya bekerja dengan menghambat prostaglandin membentuk asam arachidonat. mefenaminat. Derivat-derivat antranilat. aminefenazon. 2002) Atas dasar kerja farmakologinya. asetosal. isopropilfenazon Lainnya . 1991) Analgetik atau obat-obat penghilang nyeri adalah obat-obat yang mengurangi atau melenyapkan rasa sakit tanpa menghilangkan kesadaran. Derivat-derivat pirazolinon. Analgetik perifer (non-narkotik). yaitu : 1. metamizol. analgetik dibagi menjadi 2 kelompok besar. salisilat.  Penggologan analgetik (Tjay. terdiri dari obat-obat yang tidak bersifat narkotik dan tidak bekerja sentral. ibuprofen dll. Secara kimiawi. yakni :       Parasetamol. Penghambat prostaglandin (NSAIDs). benzidamin . analgetik perifer dapat dibagi dalam beberapa kelompok. salisilamid dan benorilat.

tramadol). obat-obat ini dapat dibagi dalam 3 kelompok. nalorfin. b. Antagonis opiat . Bekerja terhadap reseptor opioid khas di SSP sehingga presepsi nyeri dan respon emosional terhadap nyeri berubah (dikurangi). buprenorfin. Dan kombinasi. yang dibagi dalam alkaloid candu (morfin. Agonis opiat. . Atas dasar cara kerjanya. nalokson. dan nalbufin. kini disebut juga opioid (mirip opiat). khusus digunakan untuk menghalau rasa nyeri hebat. dan heroin) dan zat-zat sintesis (metadon. Analgetik narkotik. kodein. yakni : a. pentazosin.2.

gejala ini dinamakan geliatan dan dapat dihilangkan dengan obat analgetik. Rasa nyeri pada mencit diperlihatkan dalam bentuk respon geliatan. Obat uji dinilai kemampuannya dalam menekan atau menghilangkan rasa nyeri yang di induksi secara kimia dengan pemberian asam asetat secara intraperitonial pada mencit. Gejala sakit disebabkan adanya kontraksi dinding perut. Metode induksi kimia a. c. hingga kepala dan kaki ditarik ke belakang dan abdomen menyentuh dasar ruang kandang. b. Metode Penelitian Analgetik 1. Adanya aktivitas analgetik dinyatakan dengan sedikit terjadi jumlah geliatan nyeri pada mencit sebesar 50% dari kelompok kontrol .

Selang waktu antara pemberian stimulan nyeri dan terjadinya respon rasa sakit. Respon analgetik dinyatakan positif jika waktu reaksi setelah pemberian obat memperlihatkan waktu reaksi 1 dengan atau lebih besar 3 kali waktu normal (sebelum pemberian obat uji atau kelompok kontrol). Metode induksi nyeri cara panas    Hewan percobaan ini ditempatkan diatas plat panas dengan suhu plat sebagai stimulus nyeri akan memberikan respon dengan bentuk menggerakgerakkan atau menjilat telapak kaki atau meloncat. disebut waktu reaksi yang dapat diperpanjang oleh obat-obat analgetik.2. . Perpanjangan waktu reaksi ini selanjutnya dapat dijadikan sebagai ukuran dalam mengevaluasi aktivitas analgetik.

ALAT PLAT PANAS .

diberi larutan tablet parasetamol. 3. Jumlah geliat dihitung setiap 10 menit selama 1 jam. kemudian ditimbang bobot badan awal 2. 1. 15 menit kemudian. Dibuat asam asetat 3% b/v Disuntikkan sebanyak 0. kemudian mencit dikembalikan dalam kandang pengamatan 4. diamati respon geliat mencit yang ditandai dengan kedua pasang kaki ditarik ke depan dan belakang. Contoh pengujian efek analgetik dar parasetamol terhadap hewan Uji.9 ml/30 g BB Mencit secara intraperitonial sebagai perangsang rasa sakit. serta perut menyentuh lantai kandang. Pada menit ke-10 setelah pemberian asam asetat. Sebelum diperlakukan mencit dipuasakan selama 8 jam. .

2 % b/v sebanyak 100 ml dari tablet parasetamol 500 mg Parasetamol tablet setara dengan 200 mg = 200 mg / 500 mg x berat rata-rata = 0.00195 g = 0.3 mg = 1.2% b/v.00195 g Dibuat sediaan % b/v = 100 ml / 1 ml x 0.Pembuatan Suspensi Parasetamol 0.4 mg x berat rata-rata tablet Hasil ini dilarutkan dengan Na. Lampiran 1.95 mg = 0. Perhitungan Dosis •Parasetamol Dosis untuk manusia = 500 mg Dosis untuk mencit 20 g = 0.0026 x 500 mg = 1.  Suspensi Parasetamol dibuat dengan menggerus tablet sebanyak 500 mg yang setara dengan 200 mg Parasetamol kemudian disuspensikan dengan air suling sedikit demi sedikit sambil diaduk dicukupkan volumenya 100 ml.3 mg/ 20 g BB Dosis untuk mencit 30 g = 30/ 20 x 1.195 % b/v = 0. CMC hingga 100 ml .2 % b/v Pembuatan suspensi Parasetamol 0.