You are on page 1of 26

LARUTAN BAKU

Sri Sayekti, S.Si.,M.Ked

Larutan Baku
Adalah Larutan yg telah diketahui

konsentrasinya
Biasanya berfungsi sbg titran (ditempatkan di
buret)
Digunakan utk menentukan konsentrasi
larutan sampel
Larutan baku dibedakan mjd 2 :
1. Larutan baku primer
2. Larutan baku sekunder

LARUTAN BAKU PRIMER DEFINISI :  Larutan baku yang konsentrasi tepatnya diketahui dengan berdasarkan penimbangan berat zat baku primer yang dilarutkan dalam volume tertentu Contoh : C2H2O42H2O Na2CO3 anhidrat K2Cr2O7 .

zat tdk boleh higroskopik Zat dapat diuji kadar pengotornya dg uji kualitatif Mdh larut Reaksi yg berlangsung dg pereaksi hrs stoikimetrik dan langsung . mdh dimurnikan. mdh dikeringkan (pd temp 110-120oC) Stabil dalam penimbangan.Syarat larutan Baku Primer Zat mudah diperoleh.

Larutan baku Sekunder DEINISI  Larutan baku yg konsentrasi tepatnya baru diketahui apabila telah dilakukan pembakuan dengan larutan baku primer Contoh : KMnO4. H2SO4 . AgNO3 HCl . NaOH.

Syarat Larutan Baku Sekunder Derajat kemurnian lebih rendah dari larutan baku primer Mempunyai BE yang tinggi utk memperkecil kesalahan penimbangan Larutannya relatif stabil dalam penyimpanan .

1 mg digunakan : untuk menimbang zat baku primer dengan berat minimal : 50 mg. TIMBANGAN :  ANALYTICAL BALANCE : mempunyai kepekaan/ kemampuan penimbangan dengan ketelitian : 0.5 mg  MILLIGRAM BALANCE : penimbangan dengan ketelitian : 1 mg digunakan untuk penimbangan orientasi zat baku primer atau penimbangan pereaksi  tidak diperlukan ketelitian tinggi .ALAT YANG DIGUNAKAN  1. kesalahan minimal 1% Contoh : berat zat (Asam Oksalat) : 634.

6428 g .berat botol timbang + zat = 12.berat botol timbang kosong = 10.CARA MENIMBANG 1.berat botol timbang + sisa zat setelah dituang ke beaker glass = 11.6504 g . CARA LANGSUNG : .3456 g .berta botol timbang + zat = 10. CARA TIDAK LANGSUNG : .2.2368 g .6952 g  berat zat = 0.8796 g  berat zat = 0.

PERALATAN GELAS PADA PEMBUATAN LARUTAN BAKU PERALATAN UNTUK MEMBUAT LARUTAN BAKU  Botol timbang /gelas arloji  Beaker glass  Batang pengaduk  Corong gelas  Botol penyemprot (aquadestilata)  Labu ukur (labu takar)  Pipet tetes Catatan : . dibilas dengan aquades .alat yang harus kering : botol timbang/gelas arloji .semua alat harus bersih.

1N Asam oksalat = 100 x 0.CARA MEMBUAT LARUTAN BAKU ASAM OKSALAT : 100 ML 0.07 = 630.07 Jadi : berat as oksalat = ek x BE = 10 x ½ x 126.1 N Menghitung berat Asam oksalat : Ek = gr/BE Ek = V x N  100 ml 0.35 mg .1 = 10 ek BE as oksalat =1/2 Mr as oksalat BE as oksalat = 1/2x126.

35 mg + 10% milligram balance . Berat zat yang tertimbang tidak boleh menyimpang 10% dari yang seharusnya tertimbang  .dimasukkan kedalam botol timbang dan ditimbang pada  analytical balance Catatan : menimbang pada analytical balance tidak boleh mengurangi atau menambah zat yang sedang ditimbang.ditimbang Asam oksalat = 630.MENIMBANG ASAM OKSALAT .

8 mg (BM 126.CONTOH PENIMBANGAN  Asam oksalat : 650 mg (neraca milligram)  Analytical balance : misalnya : 642.9 mg  tidak boleh 543. Contoh perhitungan konsentrasi : .8 mg  boleh 690.5 mg  boleh 721. Larutan = (0.07) dalam 100 ml Kons.6428/126.07)x(1000/100)x2 = 0.berat Asam oksalat = 642.2 mg  tidak boleh .101975 = 0.1020 N .

Aqua bidestilata  7. Air minum / air minum kemasan  3. Aquadestilata bebas CO2 . Aqua pro injection  6. Air kran / PDAM  2.AIR YANG DIGUNAKAN  1. Aquadestilata  4. Aqua demineralisata  5.

kemudian tutup dan dikocok hingga homogen .CARA MELARUTKAN ZAT  asam oksalat dituang dari botol timbang /gelas arloji ke beaker glass 100 atau 150 ml (dengan atau tanpa bantuan batang pengaduk)  tambahkan aquadest + 40 ml  diaduk sampai larut (tidak tampak lagi adanya kristal asam oksalat)  pindahkan/tuangkan larutan tadi kedalam labu ukur/takar 100 ml dengan bantuan corong gelas  bilas beaker glass dengan aquadest dari botol semprot 2 – 3 x. masing-masing dengan + 10 ml dan dituangkan kedalam labu ukur diatas  tambahkan aquadest sampai mendekati garis tanda 100 ml pada leher labu ukur  dengan pipet tetes tambahkan aquadest sampai tepat tanda  bersihkan/keringkan leher labu ukur dengan tissue.

PEMBAKUAN larutan NaOH dengan larutan C2H2O4 BAHAN YANG DIGUNAKAN : larutan baku primer Asam Oksalat  Larutan baku sekunder NaOH  Larutan indikator fenolftalein  PERHITUNGAN KONSENTRASI BAKU SEKUNDER  V H2C2O4 x N H2C2O4 = V NaOH x N NaOH  .

ALAT GELAS (glasswares) Buret : 25 ml Pipet volume : 10 ml Erlenmeyer : 150 – 200 ml Beaker glass : 50 – 100 ml Corong gelas Batang pengaduk Pipet tetes .

ALAT BANTU LAINNYA Statif Klem buret Botol semprot (aquadest) Sikat pembersih buret Sabun/detergent cair Lap/tissue pembersih atau pengering Baju praktikum (Lab jas) Jurnal praktikum .

demikian halnya dengan corong gelas maupun batang pengaduk Labu titrasi : TIDAK BOLEH DIBILAS dengan larutan yang akan dititrasi maupun peniternya . TIDAK HARUS KERING Buret : dibilas dengan larutan yang akan dimasukkan kedalamnya Pipet volume : dibilas dengan larutan yang akan dipipetnya Beaker glass : dibilas dengan larutan yang akan diisikan kedalam buret atau bisa dikeringkan dengan bantuan tissue . ALAT GELAS :  Sebelum dipakai harus dicuci bersih dan dibilas dengan      aquadest.

00 ml .pipa diatas kran buret TIDAK BOLEH ADA rongga udara .46 ml .buret yang berisi larutan NaOH. setelah selesai dipakai HARUS SEGERA DICUCI dengan AIR .pada setiap titrasi. misalnya : 12. buret HARUS menunjukkan angka 0.setelah titrasi. MENGISI BURET : - buret statif klem buret beaker glass corong gelas + batang pengaduk kertas baca buret Catatan : . angka terbaca HARUS DUA DIGIT dibelakang koma.

beaker glass .larutan yang ada diujung pipet TIDAK BOLEH DITIUP untuk dimasukkan kedalam labu titrasi .pipet volume .posisi pipet pada saat larutan dimasukkan kedalam labu titrasi HARUS TEGAK LURUS dan labu titrasinya yang dimiringkan .pipet filler Catatan : .labu titrasi (erlenmeyer) . MENGISI PIPET : .pelepasan larutan dari pipet ke labu titrasi dilakukan secara perlahan dan diakhiri dengan menggoreskan ujung pipet pada leher dalam labu titrasi ..

telah diisi dengan larutan NaOH .CARA MELAKUKAN TITRASI Buret (25 ml) : .larutan NaOH sudah menunjuk pada : 0.posisi buret : tegak lurus .00 ml dan tidak ada rongga udara diatas/dibawah kran buret .

larutan indikator fenolftalein : 2-3 tetes  Kemudian larutan NaOH ditambahkan tetes pertetes secara konstan (tak boleh dikucurkan) dari buret ke labu titrasi dan labu titrasi digoyang dengan cara memutarnya supaya larutan homogen dan reaksi merata antara H2C2O4 dengan NaOH  Penambahan larutan NaOH dilakukan sampai tampak warna rosa pertama yang stabil dalam waktu 30 detik (indikator fenolftalein dalam suasana basa).telah terisi larutan H2C2O4 : 10. Bila sebelum waktu tersebut warna hilang. .Labu titrasi (150 – 200) ml . maka masih harus ditambahkan lagi sampai tampak warna rosa.0 ml .

Penetapan titik akhir titrasi : reaksi yang terjadi : H2C2O4 + 2 NaOH  Na2C2O4 + 2 H2O pH larutan adalah : + 7 indikator fenolftalein : 8.  Lakukan pembacaan pada buret .0 – 10. pada pH 8 – 10 : rosa dan pH > 10 : merah  Penambahan larutan NaOH dihentikan pada saat larutan dalam labu titrasi telah tampak warna ROSA yang stabil dalam waktu 30 detik.0 : artinya pada pH < 8 larutannya tak berwarna.

1020 (dari hasil penimbangan) Volume NaOH = 0.00 – 9.0 ml N H2C2O4 = 0.76 x N NaOH  N NaOH = 0.76 ml (dari pembacaan buret V H2Ox.0 x 0.1020 = 9. = V NaOH x N NaOH 10.1045 .10450819672 = 0. x N H2Ox.CONTOH PERHITUNGAN TITRASI H2C2O4 : dipipet 10.

pipet. botol semprot. stiker. alat tulis 3. BEKERJA DENGAN TELITI. beaker glass. MANDIRI DAN PERCAYA DIRI . PERALATAN :  ALAT GELAS : buret. sikat pembersih buret-beaker-labu titrasi. botol timbang. detergent cair. labu titrasi. PROSEDUR :  SUMBER PUSTAKA  MEKANISME REAKSI YANG TERJADI 2. batang pengaduk  LAB JAS  JOURNAL PRAKTIKUM  ALAT BANTU LAIN : tissue/lap.HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN SEBELUM TITRASI  1.

SEKIAN dan TERIMA KASIH SAMPAI BERJUMPA DILABORATORIUM .