You are on page 1of 39

PENATALAKSANAAN KEGAWATDARURATAN

PADA PASIEN EKLAMPSIA

Oleh :
Azmi Elvita
Reza Priatna
Sandiyanto
Pembimbing:
dr. Donel S, SpOG-KFM
KEPANITERAAN KLINIK SENIOR BAGIAN KEGAWATDARURATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU RSUD ARIFIN AHMAD
PEKANBARU 2012

PEN D AH U LU AN
 3 penyebab kematian utama ibu  perdarahan,

infeksi dan preeklampsia.
 Di Indonesia, preeklampsia dan eklampsia 
salah satu penyebab utama mortalitas maternal
dan perinatal.
 Sebagian besar mortalitas tersebut disebabkan
oleh keterlambatan diagnosis dan penanganan
dini preeclampsia dan eklampsia.
 Insiden preeklampsia sangat dipengaruhi oleh
paritas, berkaitan dengan ras dan etnis, juga
dipengaruhi oleh predisposisi genetik dan juga
faktor lingkungan.

TIN JAU AN PU STAKA
 Definisi

Preeklampsia adalah sindroma
spesifik kehamilan berupa
berkurangnya perfusi organ akibat
vasospasme dan aktivasi endotel.
Pada penderita preeklampsia berat,
dapat terjadi konvulsi yang dapat
diikuti oleh koma.

FAKTO R RISIKO  Nullipara  umur ibu lebih dari 35 tahun  umur ibu kurang dari 20 tahun  mola hidatidosa  Gemely  Obesitas  Ras  sosial ekonomi  hipertensi kronik  Diabetes  penyakit ginjal. .

.  Peran faktor imunologis Penyakit imunologis seperti SLE merupakan faktor predisposisi wanita dengan preeclampsia. Gangguan pada plasenta meningkatkan resiko terjadinya preeklampsia karena plasenta dapat menjadi antigen. Preeclampsia sering terjadi pada kehamilan pertama dan tidak timbul lagi pada kehamilan berikutnya.ETIO LO G I  Peran prostasiklin dan tromboksan kerusakan pada endotel vaskuler penurunan produksi prostasiklin (PGI 2) aktivasi trombosit dan fibrinolisis pelepasan tromboksan (txa2) dan serotonin  vasospasme.

Wanita dengan hipertensi pada kehamilan dapat mengalami peningkatan respon terhadap berbagai substansi endogen (seperti prostaglandin. Penumpukan trombus dan pendarahan dapat mempengaruhi sistem saraf pusat yang ditandai dengan sakit kepala dan defisit saraf lokal dan kejang. Nekrosis ginjal dapat menyebabkan penurunan laju filtrasi glomerulus dan proteinuria. meningkatnya cardiac output dan peningkatan tahanan pembuluh perifer. tromboxan) yang dapat menyebabkan vasospasme dan agregasi platelet. Manifestasi terhadap kardiovaskuler meliputi penurunan volume intravaskular. Kerusakan hepar dari nekrosis hepatoseluler menyebabkan nyeri epigastrium dan peningkatan tes fungsi hati. Peningkatan hemolisis mikroangiopati menyebabkan anemia dan trombositopeni. Infark plasenta dan obstruksi plasenta menyebabkan pertumbuhan janin terhambat bahkan kematian janin dalam rahim .PATO FISIO LO G I  Pada preeklampsia yang berat dapat terjadi perburukan patologis pada sejumlah organ dan sistem yang kemungkinan diakibatkan oleh vasospasme dan iskemia.

 Tanda preeklampsia :  pertambahan berat badan yang berlebihan.  Hipertensi  proteinuria.G EJALA D AN TAN D A  Pada preeclampsia ringan tidak ditemukan gejala-gejala subjektif. .  edema.

.2 mg/dl kecuali sudah diketahui meningkat sebelumnya.Continiu.00/mm3) Perdarahan retina.. dan papil edem Edem paru . Gangguan penglihatan atau serebral Nyeri epigastrium Peningkatan enzim hati Trombositopenia (Trombosit < 100. Preeklampsia berat   Tekanan darah sistolik ≥ 160 mmHg atau tekanan         darah diastolik ≥ 110 mmhg Proteinuria 5g/24 jam atau kulitatif +3 sampai +4 Peningkatan kreatinin serum > 1. papil eksudat.

 Bila keadaan ini tidak dikenali dan tidak segera diobati.Continiu. akan timbul kejang terutama saat persalinan. . Gejala eklampsia  nyeri kepala di daerah frontal  gangguan penglihatan  Mual  nyeri di epigastrium dan hiperfleksia...

Continiu... Serangan eklampsia dibagi dalam 4 tingkat:  Stadium invasi (awal atau aurora)  Stadium kejang tonik  Stadium kejang klonik  Stadium koma .

PEN ATALAKSAN AAN pertolongan pertama  membersihkan dan melapangkan     jalan nafas menghindarkan lidah tergigit pemberian oksigen pemasangan infuse dekstrosa atau glukosa menjaga agar jangan sampai terjadi trauma .

. Prinsip penatalaksanaannya:  Pemberian antikonvulsi Obat terpilih : magnesium sulfat (MgSO4)  Pemberian anti hipertensi Anti hipertensi diberikan jika tekanan diastolic >110 mmHg  Pemberian glukokortikoid untuk pematangan paru janin.  Terminasi kehamilan ..Continiu.

atau merangsang terjadinya persalinan. . terjadinya perlukaan dan fraktur saat kejang. solutio plasenta. gangguan pernafasan. perdarahan otak.KO M PLIKASI  Lidah tergigit.

ILUSTRASI KASUS .

Pendahuluan  Pasien datang ke VK IGD pada tanggal 14 Februari 2012 pukul 23.00 WIB dengan keluhan wanita hamil aterm dengan kejang 18 jam SMRS. .

Prim ary Survey  Airway :  Pasien meracau  Gurgling (-)  Stridor (-)  Snoring (-)  Kesan: Airway clear  Tindakan : pemasangan orofaringeal tube .

tidak terdapat penggunaan otototot pernafasan tambahan. Breathing:  Pasien bernafas spontan  Frekuensi Nafas 32 x/I  Inspeksi : gerakan dinding dada simetris kiri     dan kanan. whezing -/Kesan: Takipneu . tidak ada jejas Palpasi: Fremitus ki=ka Perkusi: sonor seluruh lapangan paru Auskultasi: vesikuler. rhonki -/-.

pernafasan adekuat . Tindakan: pemberian non- rebreathing mask dengan aliran oksigen 10-12 l/I  Reevaluasi: frekuensi nafas 28 x/I.

 Circulation:  TD: 200/120 mmHg  N: 96x/i  CRT < 2’’  Akral hangat  Terpasang iv line RL + MgSO4  Terpasang kateter urethra .

 Kesan : hipertensi emergensi  Tindakan : pemberian nifedipin tab 10 mg secara oral  Evaluasi : setelah 1 jam tekanan darah menjadi 140/90  Tindakan : hentikan pemberian nifedipin    .

 Disability:  Kesan umum tampak sakit berat  GCS: E4 M6 V3  Pupil isokor (3mm) .

 Eksposure:  Pakaian pasien dibuka dan diselimuti untuk mencegah hipertermi .

H  Umur: 37 th  Jenis kelamin: perempuan  Alamat: pasir pengarayan  Pekerjaan: IRT  Agama: islam .Secondary Survey  Nama: Ny.

00  KU: wanita hamil dengan kejang 18 jam SMRS .Anam nesis  Masuk VK IGD tanggal 14 Februari 2012 pukul 23.

Saat kejang mata pasien terbuka.RPS  PBM kiriman RSUD Pasir Pangaraian. Mengalami      kejang 2x di rumah dan 1x di RSUD Pasir Pangaraian 18 jam SMRS. melihat ke atas dan tangan kelonjotan. HPHT  tidak dikeahui Nyeri pinggang menjalar ke ari-ari (+) sejak 1 hari SMRS Keluar lendir bercampur darah dari kemaluan (+) Keluar air-air yang banyak dari kemaluan (-) Gerak anak dirasakan sejak umur kehamilan 3 bulan .

muntah (+). perdarahan (-)  PNC : Rutin control ke bidan setiap bulannya mulai saat kehamilan 3 minggu  RHT : mual (+). perdarahan (-). Hipertensi (+) . RHM: mual (+). muntah (+). tidak mengganggu aktivitas.

Kehamilan/Keguguran/persalinan : 3/0/2 persalinan normal ditolong bidan. Jantung(-). Peny. Riw. Hati (-) RPK : Tidak ada yang berhub . Haid : Menarche 12 Th. siklus teratur. Ginjal (-). Perkawinan : 1 kali saat usia 29 tahun. peny. 5- 7 hari. Asma(-). Riw.Riw. DM (-). nyeri haid (+) Riw. KB : (-) RPD : HDK (-).

6 C  Kepala : Mata: konjunctiva anemis -/.Pem .Fisik  KU : sakit sedang Kesadaran : cm  Vital Sign TD : 200/120 mmHg ND : 96x/i NP : 32 x/i S : 36. refleks fisiologis (+/+). refleks patologis (-/-) . sclera ikterik -/ JVP 5-2 cmH2O  Abdomen : status obstetri  Genitalia : status obstetri  Ekstremitas: edema tungkai (+/+)..

sikatrik (-) Perkusi Tympani Palpasi  L1 : TFU teraba 3 jari di bawah prosecus xypoideus. tidak terfiksir  L4 : Belum masuk PAP  TFU : 32 cm. striae gravidarum (-).Status O bsetri Inspeksi  Muka : cloasma gravidarum (-)  Mammae : membesar. bagian.  Abdomen : membuncit. linea mediana hiperpigmentasi. teraba massa besar. lunak dan nodular  L2 : Tahanan terbesar di kanan. HIS : (+) 1/10’/10” Auskultasi BU (+) Normal   . TBA : 3100 gr. areola dan papilla mammae hiperpigmentasi. keras.bagian kecil di kiri  L3 : Teraba massa bulat.

arah poterior . Genetalia Inspeksi : Vulva/ Uretra tenang  Pemeriksaan Bimanual VT : Vagina : Tumor (-). Laserasi (-) Portio : Lunak. selaput ketuban (+) . penipisan 10%. Hodge 1. pembukaan 1 cm.

5 % Leukosit : 12.600 mg/dL Trombosit: 301.PEM ERIKSAAN PEN U N JAN G  Laboratorium darah rutin: Hb : 12.2 HT : 35.000 mg/dL  USG : Tidak dilakukan  Protein urin : +4 .

D IAG N O SIS G3P2A0H2 gravid aterm (38-40 minggu) kala I fase laten + Eklampsia + JHTIU presentase kepala + letak memanjang   .

kemajuan persalinan  Regimen SM  Nefedipine tab 10 mg  Pasien dirawat di ICU   .SIKAP  Kontrol KU/TTV/BJA.

 Masalah kegawatdaruratan pada pasien ini adalah kejang dan hipertensi emergensi. .  pada sirkulasi ditemukan hipertensi emergensi dan disability berupa adanya riwayat kejang.PEM BAH ASAN  airway dan breathing dalam keadaan normal.

masker oksigen. posisi Trendelenburg untuk mengurangi risiko . Penatalaksanaan kejang yang benar yaitu:  Beri obat anti kejang (anti konvulsan)  Perlengkapan untuk penanganan kejang (jalan nafas. penghisap lendir. oksigen)  Lindungi pasien dari kemungkinan trauma  Aspirasi mulut dan tenggorokan  Baringkan pasien pada sisi kiri.

Untuk melindungi pasien dari kemungkinan trauma.  Namun pada pasien ini tidak dilakukan posisi trendelenburg. Hal ini dapat membantu pasien dalam mencegah aspirasi. . pasien difiksasi ke tempat tidur.Penatalaksanaan kegawatdaruratan pada pasien sudah tepat.  NRM juga terpasang untuk membantu oksigenasi.  Pasien diberi MgSO4  dipasangkan orofaringeal tube dan suction lendir untuk menjaga jalan nafas.

 Setelah 1 jam tekanan darah turun menjadi 140/90 mmHg lalu pemberian nifedipine dihentikan. Pada pasien telah terpasang kateter urin. . Penatalaksanaan hipertensi yang tepat adalah pemberian obat anti hipertensi. Obat pilihannya adalah Nifedipin. yang diberikan 5-10 mg oral yang dapat diulang sampai 8 kali/24 jam. Hal ini berguna untuk memonitor hemodinamik pasien.

 Pada pasien ini dirawat di ruang ICU. Seharusnya pasien ini dilakukan induksi. Namun karena kesadaran menurun. maka pilihan yang tepat untuk terminasi adalah operasi sectio secaria. .