You are on page 1of 27

1.

Hama Utama Anggrek
a.

Tungau Merah (Mite) : Tenuipalpus pacificus Baker.
a.
b.
c.
d.
e.
Gambar 1. Tungau dewasa
Tenuipalpus pacificus.
(Karyatiningsih et al. 2008)

Karakteristik biologi :
Tungau dewasa berwarna merah, semua stadia tungau
dari telur hingga dewasa hidup di bawah permukaan
bawah daun, karena tungau menghindari sinar mata hari.
Tungau berukuran sangat kecil (+ 0,1 mm), berwarna
hijau bening dengan bercak berwarna gelap pada kedua
sisi tubuhnya.
Betina dewasa mempunyai 4 pasang kaki (Gambar 1),
sedangkan nimfa (tungau baru menetas) mempunyai 3
pasang kaki.
Telur berbentuk bundar berwarna bening mengkilat
diletakan satu persatu pada daun bagian bawah.
Tungau makan dengan cara menusukkan alat mulutnya
ke dalam jaringan tanaman dan mengisap cairannya.

)

Gejala serangan Tungau :

Gambar 2. Gejala serangan tungau
merah (Karyatiningsih et al.
2008)

Pada permukaan daun bagian bawah terlihat
bercak putih keperakan, yang kemudian
berkembang
menjadi
bercak
tidak
beraturan. Serangan berat menyebabkan
daun, pucuk serta tunas mengeriting,
melengkung ke bawah (Gambar 2).

Karakteristik biologi :
a. Kumbang
berwarna
hitam
kotor/tidak mengkilat. Ukuran
bervariasi 3,5 – 7 mm (Gambar
3).
b. Fase larva, pupa, sampai
dewasa berlangsung dalam
umbi semu.
Gambar 3. Kumbang moncong
(Omoy et al. 2005)/.

Gejala serangan
kumbang moncong:
Daun
berlubang
dan
terdapat lubang gerek pada
umbi semu. Gejala lanjut
daun dan umbi semu
busuk (Gambar 4).
Gambar 4. Gejala serangan Kumbang
moncong (Omoy et al.
2005)

Karakteristik biologi :

Gambar 5. Siput semak
(Karyatiningsih et al. 2008)

a. Siput dewasa berukuran bervariasi 10-12 mm, diameter 1418 mm dengan 5-6 alur lingkaran, solid, buram, berwarna
cokelat kemerah-merahan atau hijau kekuning-kuningan
(Gambar 5).
b. Kadang-kadang mempunyai strip cokelat kemerahan
disekeliling bagain luarnya.
Fase larva, pupa, sampai dewasa berlangsung dalam umbi
semu.

Gejala serangan Siput Semak:

Gambar 6. Gejala serangan
Siput semak (Karyatiningsih
et al. 2008)

Siput merusak seluruh bagian tanaman
dengan memaka daun, batang, dan akar
tanaman (Gambar 6).

d. Siput setengah telanjang
(Parmarion sp.)
Karakteristik biologi :

Gambar 7. Siput
setengah telanjang
(Karyatiningsih et al.
2008)

a. Siput dewasa berukuran bervariasi 10-12 mm,
diameter 14-18 mm dengan 5-6 alur lingkaran,
solid, buram, berwarna cokelat kemerahmerahan atau hijau kekuning-kuningan
b. (Gambar 7).
Kadang-kadang mempunyai strip cokelat
kemerahan disekeliling bagain luarnya.
Fase larva, pupa, sampai dewasa berlangsung
dalam umbi semu.

Gejala serangan
telanjang:

Siput

setengah

Siput merusak seluruh bagian tanaman
dengan memaka daun, batang, dan akar
tanaman (Gambar 8).

Gambar 8. Gejala
serangan Siput
setengah
telanjang
Karyatiningsih
et al. ( 2008)

2. Penyakit Utama
Anggrek
a. Penyakit
Busuk lunak
Karakteristik biologi :
Busuk lunak pada anggrek disebabkan oleh bakteri
Pectobacterium spp. (Syn. Erwinia spp) (P. carotovorum
pv. carotovorum (Syn. E. carotovora); P. carotovorum pv.
Catroseptica
(Syn
E.
carotovora
pv.
atroseptica;Dickeyamdadantii (Syn. E. carotovora pv.
chrysanthemi) dan Pseudomonas viridiflava)

Gambar 9. Penyakit
busuk lunak
(Hanudin et al. 2012)

Gejala serangan Siput:
Pada jaringan muda yang lunak, seperti : daun, jaringan
menjadi busuk dan menimbulkan bau yang tidak enak atau
tidak berbau (Gambar 9).

c. Penyakit Busuk
Pucuk
Karakteristik biologi :

a. Busuk pucuk pada anggrek disebabkan
oleh cendawan
Berk et Rav.

Fusarium semitectum

Gejala serangan busuk pucuk:

a.
Gambar 10.
Gejala serangan
Fusarium
semitectum
(Karyatiningsih et al. 2008)

Pucuk tanaman berwarna kuning dan
membusuk, sehingga mudah terlepas dari
tanaman (Gambar 10).

d.

Penyakit Antraknosa
Karakteristik biologi :
a.

Penyakit antrak pada anggrek disebabkan oleh
cendawan Colletotrichum gloesporoides Sacc.
Gejala serangan penyakit antrak:
Daun tanaman bercak berwarna cokelat yang
melingkar (Gambar 11).

ambar 11. Gejala seranga
antraknosa (Karyatiningsih
et al. 2008)

e. Penyakit Bercak Cincin
Karakteristik biologi :

Gambar 12. Gejala serangan
ORSV (Karyatiningsih et al.
2008)

a. Penyakit bercak cincin pada anggrek disebabkan
oleh virus Odontoglosum Ring Spot Virus
(ORSV)
Gejala serangan penyakit yang disebabkan
oleh ORSV:
Gejala mosaik akan tampak lebih jelas pada
daun-daun berupa bercak cincin yang melingkar
(Gambar 12).

f. Penyakit Virus Mosaik
Karakteristik biologi :

Gambar 13. Gejala serangan
CyMV (Karyatiningsih et al.
2008)

a. Penyakit mosaik pada anggrek disebabkan oleh
Virus Mosaik Cymbidium (CyMV)
a. Gejala serangan :
b. Gejala mosaik tampak jelas pada daun muda
c. berupa garis-garis klorotik memanjang searah
serat daun (Gambar 13).
Bunga yang terinfeksi memperlihatkan gejala
bercak cokelat nekrosis.
Bunga berukuran kecil dan mudah rontok bila
dinanding dengan bunga sehat.

Hama dan Penyakit Anggek
Hama Tanaman

a. Kutu Daun (Aphid): Macrosiphoniella sanborni Gill, Ropalosiphu
dan Aphis gossypii Glov.

 

 
a.
b.
c.
d.
 
e.
 
f.
 
g.
 
h.

Karakteristik biologi :
Bentuk lonjong,
Bagian badan dan perut lebih lebar dari pada bagian
kepala,
Ukuran panjang rataan 2 mm,
M. Sanbornii berwarna cokelat tua mengkilat, sedangkan
kutu yang lain berwarna hijau,
Di daerah tropis, kutu daun berkembang biak dengan cara
melahirkan serangga muda (nimfa) tanpa perkawinan,
Nimfa dan kutu dewasa makan dengan cara menusukkan
alat mulut ke dalam jaringan tanaman dan mengisap
cairannya (Gambar 1).
Kutu daun menyebar dari tanaman satu ke tanaman
lainnya dengan berjalan, bantuan angin atau aktivitas
manusia.
Kutu daun dapat berfungsi sebagai vektor virus
Chrysanthemum Virus B (CVB) dan Chrysanthemum Vein
Mottle (CVM).

Gambar 1. Kutu daun
(Djatnika et al.
1994)

 

 

Gejala serangan
 

:
 

Tanaman kerdil dan daun mengeriting
 

b. Tungau Merah (Mite) : Tetranychus sp.
 

 
Gambar 4. Tungau dewasa
Tetranychus sp. (Djatnika et al.
1994)
 

 
 
a.
 
 
b.
 
c.
 
d.
 
e.
 
 

Karakteristik biologi :
 
Tungau dewasa berwarna merah kecokelatan, semua stadia
tungau dari telur hingga dewasa hidup di bawah permukaan
bawah daun, karena tungau menghindari sinar mata hari.
Tungau berukuran sangat kecil (+ 0,1 mm), berwarna hijau
bening dengan bercak berwarna gelap pada kedua sisi
tubuhnya.
Betina dewasa mempunyai 4 pasang kaki (Gambar 4),
sedangkan nimfa (tungau baru menetas) mempunyai 3 pasang
kaki.
Telur berbentuk bundar berwarna bening mengkilat diletakan
satu persatu pada daun bagian bawah.
Tungau makan dengan cara menusukkan alat mulutnya ke
dalam jaringan tanaman dan mengisap cairannya.

 
 
 
 

 
Gejala serangan Tungau :
 
Pada permukaan daun bagian bawah terlihat bercak putih
keperakan, yang kemudian berkembang menjadi bercak tidak
beraturan. Serangan berat menyebabkan daun, pucuk serta
tunas mengeriting, melengkung ke bawah (Gambar 5).
 

Gambar 5. Gejala serangan dan
tungau Tetranychus sp.
(Karyatiningsih et al. 2008)

 

d. Ulat Tanah : Agrotis ipsilon Hufn.
 

Gambar 7. Serangga
dewasa Agrotis
ipsilon Hufn.
(Djatnika et al.
1994)
 
 
 
 
 
 
 
Gambar 8. Serangga
dewasa Agrotis
ipsilon Hufn.
(Djatnika et al.
1994)

 
 
a.
 
 
b.
 
 
 
 
 

Karakteristik biologi :
 
Ngengat menghindari cahaya matahari, bersembunyi
di bawah permukaan daun (Gambar 7),

 

 
 Gejala serangan :
 
Bagian tanaman yang diserang (Biasanya batang
tanaman muda) tampak patah bekas gigitan.

Larva berukuran panjang 4-5 cm berwarna cokelat
kehitam-hitaman, juga menghindari sinar matahari
dan bersembunyi di bawah permukaan tanah kira-kira
sedalam 5-10 cm (Gambar 8).
 

 
 
 
 
 

PENCEGAHAN
1. Benih sehat → penangkar benih yang kompeten,
2. Mengenali gejala penyakit hama dan penyakit untuk deteksi dini. Daun atau
bagian yang terinfeksi dibuang dan dimusnahkan,
3. Mengenalkan pentingnya hama - penyakit dan cara pengendaliannya,
4. Melakukan disinfeksi sepatu kebun pekerja dengan cara membuat kolam yang
diisi desinfektan seperti Virkon S 1% (1:100) atau chemprocide (DDAC)
konsentrasi 15 ml/l,
5. Mengganti desinfektan tiap minggu dan menggunakan test stripe untuk
mempertahankan konsentrasinya,
6. Membatasi jumlah pengunjung ke pertanaman, dan bila perlu
menggunakan pakaian 1 x pakai tiap saat,
7. Mengendalikan serangga yang mungkin membawa propagul penyakit,
8. Melakukan penyemprotan dengan fungisida secara rutin tiap minggu.

Biologis

Mikrob Antagonis

1. Biofungisida berbahan aktif B. subtilis, Corynebacterium, dan P. fluorescens
efektif karat putih → 38,48% dan efektifitasnya sebanding dengan fungisida
yang biasa digunakan petani (Hanudin et al. 2010).
2. Biofungisida Gliocladium sp. atau Trichoderma harzianum efektif
mengendalikan penyakit layu fusarium (Djatnika & Nuryani 2004).
3. Penggunaan strain virus yang dilemahkan dapat memproteksi virus ganas
(Sulyo et al. 2011)
4. Musuh alami jenis Eulophidae dan Braconidae → Lyriomyza,
5. Coccinellidae atau kumbang macan → Trips sp. (Prabaningrum & Mukasan
2006).

bahan aktif : Gliocladium sp.
Sasaran : mengendalikan
Fusarium spp.,
Pythium sp. ,
Pseudomonas
solanacearum sp,
Ganoderma
boninense, layu
bakteri
(Ralstonia
solanacerum) pada
keluarga terungterungan.

Bentuk
: Cair
bahan aktif
: B. subtilis dan P.
fluorescens
zat pembawa : bahan organik
Sasaran
: penyakit akar bengkak
(P.
brassicae) pada
tanaman kubiskubisan, penyakit
layu bakteri
oleh R.
solanacearum
pada tanaman
terung-terungan.

Bentuk
: cair
bahan aktif : bakteri
Pseudomonas
kelompok
fluorescens (MR 96)
Sasaran : patogen tular tanah
seperti
layu bakteri,
layu fusarium,
dan penyakit
rebah kecambah
pada tananam
hortikultura.

Bentuk
:
tepung
berwarna putih
bahan aktif : Beauveria
bassiana
sasaran : ulat pada kubis
(Plutella
xylostella;
Crocidolomia sp),
thrips dan
kutu daun
tanaman

Hama penyakit utama yang menyerang tanaman hias
berdaun dan
berbunga indah, diidentififikasi dari jenis serangga
(kutu), siput,
cendawan, bakteri dan virus.
 
Inovasi teknologi pengendalian hama dan penyakit
yang dihasilkan BALITHI
pada kurun waktu sepuluh
tahun terakhir ialah PHT dan Biopestisida berbahan aktif
mikrob antagonis seperti : B. subtilis, P. fluorescens (Bio
Pf, Prima BAPF); Gliocaldium sp. (Gliocompost), dan B.
bassiana (Bio Rama); serta pestisida nabati (Pesnab)
yang berasal dari Jaringan (akar, batang, daun, dan
bunga) tanaman neemba, tembakau, cengkeh, bunga
pukul empat, dan kencur; efektif dapat mengendalikan
berbagai OPT dari jenis insekta, cendawan, dan bakteri.
 
Berdasarkan konsep PHT, penggunaan pestisida kimia
sintetik untuk mengendalikan hama dan penyakit
tanaman, harus dilakukan terakhir dan diaplikasikan
secara bijaksana.