You are on page 1of 48

TUTORIAL MODUL 2 – RHINITIS

ALERGI
KELOMPOK 6 :

Denna Natasya L
D. Erna Mariati

Angretty Sebastian D

0710141
0710179

1010030

Eveline Febrina

1010040

Mikha Elkana

1010065

Monica Sugiono
Felix Hansen

Aghnia Husnayiani S

Exaudi C. P. Sipahutar

1010046
1010101

1010130
1010180
TUTOR : dr. Grace

ANATOMI HIDUNG

Hidung luar
 Dorsum

nasi
 Apex nasi
 Radix nasi
 Ala nasi

Hidung dalam
 Cavum

nasi
 Septum nasi

PEMBENTUK CAVITAS NASI
Atap : relatif sempit, tersusun dari depan ke
belakang oleh Os frontale , Os ethmoidal, Os
palatinum
 Dasar : lebih lebar dari atap , tersusun oleh
maxila dan sebagian kecil Os palatinum
 Medial : membentuk septum nasi yang
membentang di bagian median, tersusun oleh Os
ethmoidal dan Os vomer

Lateral : tampak conchae yang merupakan
beberapa tonjolan agak melekuk.

Concha nasi yang superior + media = proyeksi Os
ethmoidal
 concha nasi inferior = tulang
 recessus sphenoethmoidales
 meatus nasi superior
 meatus nasi medius
 meatus nasi inferior

Depan didapat apertura piriformis yang
membentuk oleh Os maxilla Dan Os nasalis
 Belakang terbentuk oleh choanae yang membuka
ke arah nasopharynx

PERDARAHAN

Berasal dari A. carotis interna & externa
 A.

ethmoidal anterior
 A. sphenopalatina
 A. palatina mayor
 A. facialis

Percabangan bertemu di area kisselchbach
 Pengembalian vena ke pleksus pterygoideus

PERSARAFAN
N olfaktorius : 1/3 bagian atas cavitas nasi
 Persarafan sensoris

N

oftalmikus : bagian depan sekat rongga hidung
 N maxilaris : sebagian besar rongga hidung

FAAL HIDUNG
Jalan nafas
 Air conditioning
mengatur kelembapan udara dan suhu
 Penyaring dan pelindung
rambut hidung, cilia, mucous blanket, lysozym
 Indra pembau
 Resonansi suara
 Reflek nasal
berhubungan dengan saluran cerna, cardiovaskular,
pernafasan

SISTEM IMUN

INNATE IMUNNITY
Terdiri dari:
 Barier epitel: kulit, mukosa
 Mekanik: batuk,
bersin
 Kimia: asam lambung, keringat
 Sel: 

 Myeloid:

Monosit/makrofag, neutrofil, eosinofil,

basofil
 Limfoid: NK sel

Komplemen

NK CELL

KOMPLEMEN
Merupakan protein yg
berisi enzim
proteolitik
 Menyusun 10-15%
dari plasma protein
 Aktivasi memiliki 3
fase:

 Initial

activation

phase
 Infalmation step
 MAC

ADAPTIVE IMUNNITY
Humoral

Seluler

 IgM
 IgG
 IgA

 IgD
 IgE

Sel B


T sitotoksik

T helper: T helper 1 dan 2

T Regulator

IMUNOGLOBULIN

HIPERSENSITIVITAS

HIPERSENSITIVITAS TIPE I

HIPERSENSITIVITAS TIPE II

HIPERSENSITIVITAS TIPE III

HIPERSENSITIVITAS TIPE IV

RHINITIS ALERGI

DEFINISI
Suatu peradangan mucosa hidung non infektif
sebagai akibat reaksi hipersensitivitas type 1
terhadap alergen yang ditandai dengan gejala :
bersin episodik, rhinore encer non purulen,
obstruksi nasi, gatal pada hidung; mata;
palatum

EPIDEMIOLOGI & INSIDENSI
Rhinitis alergi 10-25% populasi seluruh dunia
dengan prevalensi yang terus meningkat
 Di AS, 40 juta orang rhinitis alergi / 20% dari
populasi
 Pada anak-anak (laki laki > perempuan)
 Pada dewasa muda (>>>insidensi) laki-laki
= perempuan

ETIOLOGI & FAKTOR RISIKO
Genetik
 Alergen inhalan (>> dewasa)
ex. Debu, tungau, bulu binatang, polusi, bubuk
detergen, kasur kapuk, dll.
 Ingestan (>> anak-anak)
 Udara dingin

KLASIFIKASI
Berdasar berlangsungnya :
1) Rhinitis alergi musiman (periodik sesuai
musim)
- >>> negara 4 musim, merupakan
rhinokonjungtivitis dengan gejala  bersin,
obstruksi nasi, sekret encer, rasa gatal pada
hidung mata, lakrimasi, peradangan
konjungtiva

2) Rhinitis alergi perrenial
- >>> negara tropis, GK  bersin, sekret encer,
obstruksi nasal. Paling banyak disebabkan oleh
debu, serpihan kulit hewan, tungau, jamur,
kasur kapuk, dll.

KLASIFIKASI BERDASARKAN
GEJALA & KUALITAS HIDUP
1)

2)

Rhinitis alergi intermiten
Gejala :
<= 4 hari/minggu / <=4 minggu
Rhinitis alergi persisten
Gejala :
>4 hari/minggu / >4minggu

RINGAN :
 Tidur

normal
 Aktivitas, olahraga, santai normal
 Kerja, sekolah normal
 Tidak ada keluhan yang mengganggu

SEDANG – BERAT
 Masalah tidur
 Gangguan pada aktivitas, olahraga, santai
 Gangguan pada kerja, sekolah
 keluhan mengganggu

PATOGENESIS-PATOFISIOLOGI

FASE
SENSITASI

Kontak I dengan alergen
Inhalasi, berdifusi ke jar
mukosa

Makrofag (APC)

fragmen pendek peptida
+ HLA kelas I

MHC class II
Sel T helper (T0)
Th1

Th2
IL-3, IL-4, IL-5, IL13
Sel limfosit B  IgE
IgE-IgE receptor di permukaan
sel mast & basofil

Sel mast & basofil
aktif

Kontak II dengan
alergen

FASE
Mengikat ag
PRE-EXPOSURE Degranulasi IgE, selspesifik
mast
Mediator inflamasi

Newly formed
mediator

Preformed
mediator

Merangsang
reseptor H1 pada
ujung saraf vidianus

Gatal pada hidung,
bersin

Immediate
Phase Allergic
Reaction /
Reaksi Alergi
Fase Cepat
(RAFC)
Hipersekresi
kelenjar mukosa
& sel goblet

PGD2, LTD4, LTC4,
bradikinin, PAF, sitokin
(IL-3, IL-4, IL-5, IL-6),
GM-CSF
pe↑
permeabilitas
kapiler

Vasodilatasi
sinusoid

Edema
Rinore
Hidung
tersumbat

LATE PHASE ALLERGIC
Sel matosit
REACTION
Melepas mediator
kemotaktik

Akumulasi sel eosinofil
& neutrofil di jaringan
target

Penambahan jenis &
jumlah sel inflamasi
(eosinofil, limfosit,
neutrofil, basofil,
mastosit) di mukosa
hidung
ECP, EDP, MBP,
EPO

Gejala hiperaktif &
hiperesponsif
hidung
Berkepanjan
gan

Gejala makin
berat

Eosinofilia

Iritasi faktor non
spesifik (asap rokok,
bau yang merangsang,
perubahan cuaca,
kelembaban udara↑

pe↑ sitokin (IL-3, IL4, IL-5 dan GM-CSF)
dan ICAM 1 pada
sekret hidung

DASAR DIAGNOSIS

Wanita (29 th), keluhan utama hidung tersumbat.
Sejak 2 tahun yang lalu mengeluh hidung tersumbat
terutama pagi hari dan bila terkena debu. Keluhan
hampir setiap hari dalam seminggu selama 2 tahun
terakhir. Disertai bersin, rasa gatal di hidung, mata,
langit-langit dan telinga. Adanya ingus encer dan
keluar air mata bersamaan dengan keluhan. Penderita
sulit tidur, sering mengantuk dan tidak
berkonsentrasi saat bekerja

RPK: Ayah memiliki riwayat aleri obat
antibiotik. Kakak memiliki riwayat penyakit
asma.
Riwayat pengobatan: sering berobat, membaik,
bila obat habis, keluhan muncul lagi.
PEMERIKSAAN FISIK
Kepala: Mata: konjunctiva hiperemis. Allergic
sinner

STATUS LOKALIS
Hidung:
Rinoskopi anterior: tampak mukosa hidung pucat
kebiruan, konka inferior kanan dan kiri kongesti,
permukaan tidak rata, sekret seromukoid pada dasar
kavum nasi.
Faring:
Pemeriksaan orofaring: Tonsil T2/T2, dinding posterior
orofaring tidak rata, tampak granular hipertrofi.
LAB: Eosinophilia

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan naso endoskopi
 Sitologi hidung
 Uji kulit: Prick test, SET (Skit End-point
Titration)
 RAST (Radioallergosorbent test)
 Total serum igE
 Imaging
 Nasal provocation test

DIAGNOSIS BANDING
Rhinitis alergika

Rhinitis vasomotor

Etiologi

Reaksi antigen – antibodi
(hipersensitif tipe 1)

Disfungsi sistem otonom

Pencetus

Alergen (tepung sari,
rerumputan, debu rumah,
skuama hewan, jamur

Kelembapan, suhu dingin,
pengatur udara, kehamilan,
mestruasi, ansietas

Lakrimasi

+

jarang

GK

Obstruksi hidung, rinore,
bersin, gatal

Obstruksi hidung, rinore

Pemeriksaan

Oedem mukosa
Konka warna pucat
Secret banyak & encer
Geographic tongue

Oedem mukosa hidung
Konka warna merah gelap
Konka licin / berbenjol benjol
Secret mukoid sedikit

IgE spesifik

meningkat

Normal

Eosinofil

Banyak ditemukan

Sedikit

PENATALAKSANAAN
Terapi paling ideal : menghindari kontak dengan
allergen penyebab.
 Medikamentosa :

 Antihistamin

: antagonis histamin H-1, bisa
diberikan secara kombinasi/tanpa kombinasi dengan
dekongestan.
 Preparat simpatomimetik golongan agonis
adrenergik α  dekongestan hidung oral.

 Preparat

kortikosteroid topikal : beklometason,
budesonid, triamsinolon)
 Preparat antikolinergik topikal : ipratropium
bromida.
 Pengobatan baru lain :
Anti leukotrien (zafirlukast)
 Anti IgE
 DNA rekombinan

Operatif

 Konkotomi parsial
 Konkoplasti/multiple outfractured
 Inferior turbinoplasty

Dilakukan jika concha inferior hipertrofi berat
dan tidak berhasil dikecilkan dengan kauterisasi
memakai AgNO3 25%/triklor asetat.

Imunoterapi : intradermal dan sublingual.
 Dilakukan

pada alergi inhalan dengan gejala berat
dan sudah berlangsung lama atau bila dengan
pengobatan tidak memberikan hasil.
 Tujuan : pembentukan IgG blocking antibody dan
penurunan IgE.

KOMPLIKASI





Sinusitis
auditory tube dysfunction
Dysosmia (anosmia, phantosmia, parosmia)
sleep disturbances
asthma exacerbations
Eritema pada hidung sebelah luar

PENCEGAHAN
Menghindari kontak dengan alergen (allergen
avoidance) -> bulu”, makanan & obat”an, debu, rokok
& bahan produk beraroma.
 Saat bersih”, gunakan masker dan sarung tangan
 Jangan menyimpan barang” yang dapat menyimpan
debu; tutup perabotan dengan bahan kain yang
mudah dicuci sesring mungkin.

PROGNOSIS
Quo ad vitam
: ad bonam
 Quo ad functionam : dubia ad bonam
 Quo ad sanationam
: dubia ad bonam