You are on page 1of 55

Pengendalian

Kekarantinaan Kesehatan

SUMBER :
Subdit Karantina Kesehatan dan Kesehatan Pelabuhan
Direktorat Surveilans, Imunisasi, Karantina dan Kesehatan Matra
Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan
Kementerian Kesehatan RI

Tujuan Pembelajaran Umum
• Setelah Mengikuti Pembelajaran, peserta
mampu melakukan kegiatan pengendalian
Kekarantinaan

Tujuan Pembelajaran Khusus
• Setelah mengikuti pembelajaran peserta mampu
:
• Menjelaskan Upaya Karantina Kesehatan
• Merencanakan Upaya Karantina Kesehatan
• Melakukan Upaya Karantina Kesehatan

A. Sejarah Karantina dan KKP di
Indonesia (1)
▫ Karantina,
Quarantine,
Quadraginta,
Quaranta : berarti 40. Dulu semua
penderita diisolasi selama 40 hari.
▫ Tindakan KARANTINA tersebut pertama kali
dilakukan di VENESIA
(1348) terhadap
kapal yang dicurigai terjangkit penyakit PES
(PLAGUE) 1348 : 60 juta kematian
disebabkan Pes (Black Death) Venesia
menolak kapal & penumpang dari daerah
terjangkit.

Sejarah (2)
- Pada jaman Belanda penanganan kesehatan di pelabuhan di laksanakan
oleh HAVEN ARTS (Dokter Pelabuhan) dibawah HAVEN MASTER
(Syahbandar)
- Saat itu di Indonesia hanya ada 2 Haven Arts yaitu di Pulau Rubiah di
Sabang & Pulau Onrust di Teluk Jakarta
- Pada tahun 1949/1950 oleh Pemerintah RI dibentuk 5 Pelabuhan
Karantina, yaitu :
- 1. Pelabuhan Karantina Klas I : Tg. Priok dan Sabang
- 2. Pelabuhan Karantina Klas II : Surabaya dan Semarang
- 3. Pelabuhan Karantina Klas III : Cilacap
PERAN RESMI PEMERINTAH RI DLM KES PELABUHAN DIMULAI

• Jumlah : ▫ 60 DKPL ▫ 12 DKPU Kegiatan DKPL dan DKPU baik teknis maupun administratif meski satu kota. . terpisah. ttg pembentukan Dinas Kesehatan Pelabuhan Laut (DKPL) & Dinas Kes Pelabuhan Udara (DKPU).Sejarah (3) • Pada 1970. Baik DKPL maupun DKPU non eselon. terbit SK Menkes No.1025/DD /Menkes.

jumlah KKP berubah menjadi 46: 10 KKP Kelas A 36 KKP Kelas B (ditambah Dili dan Bengkulu) .147 (Eselon KKP sama IIIB). Jumlah KKP menjadi : 10 KKP Kelas A 34 KKP Kelas B • SK Menkes 630/Menkes/SK/XII/85. menggantikan SK No.Sejarah (4) • SK Menkes Nomor 147/Menkes/IV/78 DKPL/DKPU dilebur menjadi KANTOR KESEHATAN PELABUHAN dengan eselon IIIB.

Sejarah (5) Tahun 2004 terbit SK Menkes No.356 tentang Organisasi dan Tata Kerja KKP: a. KKP Kelas I (eselon II B) : 2 KKP b. KKP Kelas III Ternate dan KKP Kelas III Gorontalo Tahun 2008 terbit Permenkes No. KKP Kelas II (eselon III A) : 21 KKP c.265/Menkes/SK/III tentang Organisasi & Tata Kerja KKP : KKP di Klasifikasikan menjadi : a. KKP Kelas III (eselon III B) : 29 KKP KKP di Indonesia seluruhnya ada 45 KKP Tahun 2007 terbit Permenkes No.167 merupakan revisi Kepmenkes No. KKP Kelas III (eselon III B) : 20 KKP . KKP Kelas I (eselon II B) : 7 KKP b. KKP Kelas II (eselon III A) : 14 KKP c.265 ttg Organisasi & Tata Kerja KKP : 48 KKP terbentuk KKP Kelas III Sabang.

Pengertian Terkait Kekarantinaan .

.

Karantina Adalah : Pembatasan aktivitas orang sehat atau binatang yang telah terpajan (exposed) kasus penyakit menular selama masa menularnya (misalnya melalui kontak) untuk mencegah penyebaran penyakit selama masa inkubasi Absolute/Complete Quarantine : Pembatasan kebebasan bergerak bagi mereka yang terpajan thdp penyakit menular selama periode yang berlangsung tidak lebih lama dari masa inkubasi terlama dengan suatu cara tertentu dengan tujuan mencegah agar tidak terjadi kontak yang mungkin menimbulkan penularan kepada mereka yang tidak terpajan .

Termasuk didalamnya : personal surveillance dan segregation • Isolasi adalah pemisahan orang sakit. bagasi. atau barang bawaan lainnya yang terkontaminasi dengan maksud untuk mencegah penularan atau penyebaran penyakit atau kontaminasi . misalnya melarang anak campak untuk masuk sekolah. alat angkut. kontainer.Modified Quarantine • Pembatasan gerak parsial/sebagian dan selektif bagi mereka yang terpajan yang pada umumnya dilakukan berdasarkan cara penularan yang telah diketahui dan diperkirakan terkait dengan bahaya penularan .

waktu) dalam satu kumpulan yang heterogen Personal Protective Equipment (PPE) adalah peralatan yang harus dikenakan untuk melindungi petugas dari kemungkinan kecelakaan dan atau tertular penyakit menular. Klaster (cluster) adalah kelompok kecil yang mempunyai karakteristik yang sama (kasus. Profilaksis adalah pemberian obat kepada seseorang dengan tujuan mencegah tejangkitnya penyakit . tempat.Masa inkubasi adalah periode masuknya kuman/virus sampai timbulnya gejala penyakit.

Dengan jarak minimum 2 mil dari dermaga.Zona karantina... adalah tempat berlabuh bagi kapal yang datang dari pelabuhan di daerah/negara terjangkit penyakit yang berpotensi Public Health Emergency of International Concern. Karantina rumah adalah pemisahan orang sehat dari sumber penyakit atau seseorang yang menderita penyakit yang berada dalam satu rumah.. .

melalui lalulintas orang. container.  Upaya Karantina Kesehatan adalah segala kegiatan di Pelabuhan untuk mencegah tersebarnya penyakit menulardan atau faktor risiko gangguan kesehatan yang diselenggarakan oleh pemerintah. Penyakit menular potensial wabah adalah penyakit menular yang dapat menimbulkan wabah dan dapat menyebar dari suatu negara ke lain negara dan dari suatu daerah ke lain daerah. penyebaran penyakit serta kejadian atau kondisi yang memperbesar risiko penyebaran penyakit untuk dapat mengambil suatu tindakan. . untuk pemantauan kepadanya diberikan kartu kewaspadaan kesehatan (Health Alert Card). bagasi.  Seseorang dalam pengamatan (Under surveillance) adalah salah satu tindakan surveilans bagi tersangka penyakit menular potensial wabah yang diwajibkan untuk memenuhi persyaratan tertentu sehingga ia dapat melanjutkan perjalanan.  Pengamatan Penyakit (Surveillans) adalah pengamatan terus menerus dan sistematis terhadap kesakitan dan kematian. alat angkut atau barang bawaan lainnya.

barang dan pelintas batas sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Petugas Karantina Kesehatan adalah pegawai negeri sipil tertentu yang diberi tugas untuk melakukan upaya karantina kesehatan dan atau tindakan penyehatan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.  Seorang terjangkit adalah seorang yang menderita atau yang dianggap oleh dokter menderita penyakit menular potensi wabah . awak.  Seorang tersangka adalah seorang yang dianggap oleh dokter telah mengalami kemungkinan terpapar penyakit karantina. penumpang.  Dokumen Kesehatan adalah surat keterangan kesehatan yang berkaitan dengan kekarantinaan yang dimiliki oleh setiap alat angkut.

 Alat angkut terjangkit adalah alat angkut yang di dalamnya terdapat atau ditemukan penderita penyakit menular potensi wabah. bagasi. . alat angkut atau barang bawaan lainnya yang terkontaminasi dengan maksud untuk mencegah penularan atau penyebaran penyakit atau kontaminasi.  Isolasi adalah pemisahan orang sakit.  Kartu kewaspadaan kesehatan (Health Alert Card) adalah kartu yang diberikan kepada tersangka penderita penyakit karantina dan atau mempunyai riwayat kontak dengan penderita dengan maksud bila orang tersebut menderita atau menunjukan gejala atau tanda penyakit menular agar mudah dilakukan tindakan kekarantinaan  Izin Karantina adalah izin bagi alat angkut untuk keluar/masuk pelabuhan. kontainer.

. barang dan bagasi.  Kedatangan adalah seseorang. kontainer. atau akibat berantai dari sumber-sumber infeksi di dalam tubuh manusia dan hewan yang bisa menyebabkan risiko kesehatan masyarakat. Infeksi adalah mulai masuk dan berkembangnya bibit penyakit ke dalam tubuh manusia sampai menimbulkan gejala penyakit.  Inspeksi adalah pemeriksaan terhadap alat angkut. alat angkut atau barang memasuki suatu wilayah. area atau fasilitas oleh orang yang mempunyai kewenangan. termasuk data yang relevan untuk menentukan tindakan. bagasi.  Penyakit adalah keadaan sakit atau keadaan medis yang berasal dari sumber penyakit yang ada dan menimbulkan risiko bahaya besar terhadap manusia. kargo.

alat angkut. . barang atau parcel kiriman melalui perbatasan Internasional termasuk perdagangan Internasional.Barang adalah produk-produk nyata yang dikirimkan melalui perjalanan Internasional termasuk hewan dan tanaman yang dikirimkan pada saat perjalanan Internasional. Jalur Internasional adalah pergerakan seseorang. container. Kapal adalah alat angkut yang dapat berlayar menggunakan mesin maupun layar yang melakukan perjalanan nasional maupun Internasional. Cargo adalah barang yang dibawa dalam suatu alat angkut atau di dalam container. Bagasi adalah barang seseorang yang dibawa dalam perjalanan. kargo. termasuk penggunaannya diatas kapal atau alat angkut. bagasi.

Dokumen ini dibuat oleh nakhoda dan diberikan pada petugas karantina kesehatan. Certificate Radio Pratique adalah sertifikat izin karantina yang diberikan melalui perantara radio.  Certificate of Pratique (Free Pratique) adalah sertifikat izin bebas karantina yang diberikan kepada kapal yang datang dari luar negeri dan atau daerah terjangkit  Kontainer adalah benda dari peralatan transportasi dirancang khusus untuk membawa barang dengan satu atau lebih jenis pengiriman tanpa pemuatan kembali  Masa Inkubasi adalah masa antara masuknya bibit penyakit sampai menimbulkan gejala penyakit  Maritimme Declaration of Health adalah dokumen kesehatan kapal berupa instrumen untuk mengetahui kondisi kesehatan kapal guna penetapan kelayakan untuk dapat diberikan Free Pratique atau tidak diberikan. ketika memasuki wilayah Republik Indonesia .

. Negara Terjangkit adalah Negara yang dinyatakan oleh WHO. sebagai Negara endemis/terjadi KLB penyakit menular potensial wabah. Menteri kesehatan menetapkan dan mencabut daerah tertentu dalam wilayah Indonesia yang terjangkit wabah sebagai daerah wabah • Sailling Permit adalah surat keterangan yang diberikan kepada kapal untuk melakukan satu kali perjalanan tanpa SSCC/SSCEC yang berlaku.  Kawasan/Daerah Terjangkit adalah Kawasan/Daerah dinyatakan oleh Menteri Kesehatan RI. sebagai Kawasan/Daerah endemis/terjadi KLB penyakit menular potensial wabah. • Wabah adalah berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderintanya meningkat secara nyata melebihi daripada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka.

wabah dan PHEIC .TUJUAN Terlaksananya upaya pencegahan penyebaran penyakit menular berpotensi wabah yang dapat menimbulkan PHEIC di Pintu Masuk Negara dan wilayah KLB .

.

Pengawasan & pemeriksaan kekarantinaan Orang.Tindakan penyehatan . Barang dan Alat Angkut 3.Deteksi faktor risiko penyakit menular di pelabuhan 2.Pengawasan dokumen kesehatan 4.Ruang Lingkup Penyelenggaraan Karantina Meliputi : 1.

zat berbahaya dll • Kontainer • Alat angkut .SASARAN • Manusia • Barang ▫ Fisik : Nyata dalam bentuk barang ▫ Kimia : obat.

barang dan alat angkut ▫ Lingkungan yang menjadi tempat penularan penyakit .UPAYA KEKARANTINAAN • Identifikasi faktor risiko penyakit potensial wabah/PHEIC Jenis-jenis faktor risiko penyakit potensial wabah/PHEIC meliputi : ▫ Virus yang menginfeksi penumpang maupun crew kapal/pesawat ▫ Bakteri yang menginfeksi penumpang maupun crew kapal/pesawat ▫ Protozoa yang menginfeksi penumpang maupun crew kapal/pesawat ▫ Vektor yang menjadi perantara penyakit menular potensial wabah ▫ Nubika yang terkontaminasi pada Penumpang.

dengan tujuan untuk menentukan riwayat perjalanan yang pernah dilakukan ▫ Keadaan Alat Angkut dengan tujun identifikasi risiko penularan penyakit . ▫ Asal Alat Angkut. dengan tujuan untuk memastikan adanya wabah / KLB penyakit menular di wilayah tersebut (affected area). seperti SARS. Influenza A (AI) dan lain-lain.Kegiatan Identifikasi Identifikasi Pada alat angkut Alat angkut yg singgah/berlabuh dalam waktu pendek atau panjang perlu diwaspadai sebagai faktor risiko timbulnya penyakit menular potensial wabah/PHEIC. Flu Burung. Pengawasan terhadap kapal dilakukan sesaat setelah kapal sandar di pelabuhan dengan memperhatikan hal-hal tersebut dibawah ini antara lain : ▫ Pelabuhan singgah terakhir.

Identifikasi pada Penumpang • Penumpang kapal meliputi awak kapal dan orang yang diantar dari pelabuhan asal ke pelabuhan tujuan dengan menggunakan alat angkut/kapal. Hal – hal yang perlu diperhatikan adalah : ▫ Ada tidaknya penumpang kapal yang sedang sakit ▫ Ada tidaknya penumpang kapal yang menderita penyakit menular ▫ Jumlah penumpang kapal yang sedang sakit menular ▫ Jenis penyakit menular yang menyerang penumpang kapal ▫ Ada tidaknya penumpang yang berasal dari wilayah terjangkit suatu penyakit menular/ dari daerah endemis . Penumpang merupakan faktor risiko yang paling rentan untuk terjadinya suatu penyakit menular potensial wabah.

Hal – hal yang perlu diperhatikan adalah : ▫ Ada tidaknya bahan berbahaya yang terbawa oleh penumpang di kabin maupun bagasi. ▫ Ada tidaknya binatang/tumbuhan yang terbawa penumpang di kabin maupun bagasi. ▫ Ada tidaknya bahan makanan/minuman mudah busuk yang terbawa penumpang di kabin maupun bagasi.Identifikasi pada Barang Barang yang dibawa penumpang maupun awak kapal yang diletakkan dalam kabin maupun di bagasikan juga bisa menjadi faktor risiko munculnya penyakit menular potensial wabah. .

Identifikasi di Lingkungan Pelabuhan • Media lingkungan (air. • Adapun kegiatan identifikasi dilingkungan yang perlu diperhatikan adalah: • Ada Vektor di Lingkungan pelabuhan yang menjadi perantara penular penyakit • Ada tidaknya pencemaran udara. tanah. biota) dengan segala komponen dan sifatnya merupakan faktor risiko yang harus dikendalikan. udara. air dan tanah yang dapat menimbulkan masalah kesehatan masyarakat • Hygiene dan sanitasi makanan minuman yang dapat menimbulkan masalah kesehatan • PAL yang baik sehingga tidak mencemari lingkungan dan dapat menimbulkan wabah .

Pengawasan dan pemeriksaan kekarantinaan Kapal dan dokumen kesehatan alat angkut .

.

Permohonan diajukan oleh agen paling cepat 3 (tiga) jam dan selambat-lambatnya 1 (satu) jam sebelum kapal tiba di wilayah pelabuhan. Petugas KKP membukukan permohonan dimaksud ke buku Registrasi.KEGIATAN PENGAWASAN • Pengawasan dan sebagai berikut :    Pemeriksaan kekarantinaan kapal dilakukan dengan prosedur Setiap kapal yang datang dari pelabuhan luar negeri yang akan memasuki pelabuhan di Indonesia wajib mengajukan permohonan untuk memperoleh "ijin karantina“ dan kapal harus mengibarkan bendera kuning untuk siang hari dan lampu merah putih diatas cabin atas berjarak 1.8 m pada malam hari. Petugas KKP dapat meminta permohonan ulang apabila terdapat kesalahan dalam mekanisme permohonannya . Surat permohonan ijin karantina diajukan oleh agen/perusahaan pelayaran kepada Kantor Kesehatan Pelabuhan. Petugas KKP menerima. memilah asal kapal apakah datang dari pelabuhan luar negeri sehat atau datang dari pelabuhan luar negeri tersangka/ terjangkit penyakit wabah. menganalisa permohonan. Selanjutnya petugas mengisi dan menyerahkan tanda bukti penerimaan permohonan.

petugas KKP melakukan pemeriksaan kesehatan kapal termasuk pemeriksaan perorangan: • Bila dalam pemeriksaan kapal dan pemeriksaan perorangan tidak ditemukan hal-hal yang membahayakan atau dapat menularkan penyakit menular potensial wabah. . kepada kapal tersebut diberikan izin bebas karantina (free pratique) oleh petugas KKP dan selanjutnya kapal dapat berlabuh. • Bila dalam pemeriksaan kesehatan kapal dan pemeriksaan perorangan terdapat hal-hal yang memungkinkan terjadinya penularan penyakit berpotensi PHEIC. petugas KKP melakukan tindakan kesehatan untuk penyehatan kapal dan sesudah itu kepada kapal tersebut diberikan izin bebas karantina (free pratique) dan selanjutnya kapal dapat berlabuh.Tahap Pemeriksaan/ pengawasan • Terhadap kapal yang dicurigai membawa penyakit menular potensial wabah/PHEIC seperti di atas.

. petugas KKP dengan membawa surat tugas mendatangi nahkoda kapal untuk konfirmasi pemberian radio pratique dan: ▫ Memeriksa kesehatan kapal ▫ Menyerahkan rekam (copy) free pratique • Tindakan Terhadap Pelanggaran. Bila secara nyata terjadi pelanggaran ataupun penyimpangan dalam proses penyelenggaraan free pratique/ radio pratique ini kepada mereka dapat dituntut dan dikenai sanksi hukum berdasarkan perundang-undangan yang berlaku melalui Penyidik Pegawai Negeri Sipil. Setelah pemeriksaan selesai kepada kapal tersebut diberikan free pratique dan selanjutnya kapal dapat berlabuh. kepada kapal tersebut dilakukan pemeriksaan kesehatan kapal dan bila perlu dilakukan tindakan kesehatan untuk penyehatan kapal. • Untuk kapal yang telah diberikan Radio Pratique setelah kapal sandar.• Untuk kapal yang datang dari pelabuhan luar negeri tersangka/ terjangkit penyakit berpotensi PHEIC.

Isyarat karantina merupakan suatu prosedur internasional untuk menyatakan bahwa sebuah kapal masih belum diizinkan masuk pelabuhan dan menjadi pengawasan kantor kesehatan pelabuhan. • Dimulainya pemasangan isyarat karantina pada kapal ialah sewaktu kapal memasuki Bandar (rede) pelabuhan atau sejak pandu laut/ sungai menaiki kapal. ▫ terhadap kapal ini tetap dilakukan pemeriksaan karantina . Isyarat tersebut umumnya dinyatakan dalam bentuk pengibaran bendera kuning di kapal.Isyarat Karantina • Sering disebut “Isyarat Q”. maka : ▫ kapal ini tidak melanggar UU Karantina. dalam hal ini mana yang terlebih dahulu. • Kapal yang tiba dan memasang isyarat karantina walaupun oleh Pejabat Kesehatan Pelabuhan diketahui bahwa kapal tersebut sebetulnya tidak berada dalam karantina .

Kriteria daerah-daerah terjangkit di dunia ini ditetapkan oleh WHO.• Kapal dalam Karantina Kapal dinyatakan ‘dalam karantina’ apabila dalam pemeriksaan diketahui :  Datang dari daerah terjangkit (affected area). .  Terdapat tersangka (suspect) penderita penyakit potensial menular wabah lainnya yang oleh Kementerian Kesehatan dikategorikan dapat membahayakan kesehatan masyarakat.

Tempat berlabuh bagi kapal yang berada dalam karantina ditetapkan setempat oleh Syahbandar bersama Pejabat Kesehatan Pelabuhan. kecuali oleh pandu laut/ sungai yang bertugas. . Sebaiknya Pejabat Kesehatan Pelabuhan tidak mengizinkan siapapun untuk mengunjungi kapal dengan Isyarat Q. 2. diizinkan sandar dengan tetap memasang isyarat karantina misalnya terjadi hal-hal seperti : kemacetan mesin jangkar. Kapal yang karena sesuatu hal tidak dapat berlabuh.Terhadap kapal yang berada dalam karantina tersebut diperlakukan hal-hal sebagai berikut: 1. perahu -layar dan sebagainya 3.

Karena suatu hal nakhoda dari kapal dengan Isyarat Q perlu naik ke darat. derattisasi dan dekontaminasi) sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Hanya pandu laut/ sungai yang bertugas.4. 7. Harus dilakukan tindakan kesehatan sesuai dengan jenis masalahnya (disinseksi. 6. maka yang harus dilakukan pertama kali sesampainya di darat ialah melapor pada KKP setempat. disinfeksi. Kapal dinyatakan sehat bila dalam pemeriksaan tidak ditemukan indikasi penderita seperti di daerah terjangkit atau sudah dilakukan tindakan kesehatan dan diberikan free pratique serta ‘port health clearance’ untuk keberangkatan. yang diizinkan meninggalkan kapal dengan isyarat Q setelah terlebih dahulu yang bersangkutan mendapat keterangan nakhoda bahwa kapalnya sehat. 5. • .

Pengawasan/ pemeriksaan penumpang dan kapal dari daerah terjangkit • Yang perlu diawasi ialah semua suspect dalam perjalanan internasional yang mengunjungi Indonesia yang diduga terinfeksi penyakit menular potensial wabah ditetapkan oleh WHO .

▫ Pemeriksaan penumpang menggunakan standar pemeriksaan kesehatan .• Cara pengawasan: ▫ Sebaiknya petugas kesehatan pelabuhan melakukan pemeriksaan di kapal dan suspect tidak turun dari kapal (crew atau penumpang transit). ▫ Bila suspect turun dari kapal/ pesawat udara. maka pemeriksaan harus dilakukan oleh petugas kesehatan pelabuhan di klinik KKP.

▫ KKP segera mengirim daftar nama orang yang berada didalam pengawasan kepada Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. tanggal tiba kapal/ pesawat udara yang ditumpangi dan alamat di Indonesia yang dituju.• Pelaksanaan : ▫ KKP mencatat (untuk dokumentasi): nama. alamat rumah. ▫ Untuk penumpang yang bertempat tinggal di luar area pengawasan KKP agar melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten /Kota serta Puskesmas dengan cara menggunakan jejaring . cq–Direktorat Simkar-Kesma dan ditembuskan ke KKP-KKP di pelabuhan yang akan dituju oleh penumpang. ▫ Kepada suspect diberi kartu kewaspadaan atau health alert card .

Kepada setiap penumpang diberikan kartu kewaspadaan dini atau health alert card.  Ketika dalam waktu 2 minggu sebelum tiba di Indonesia tidak menyinggahi negara terjangkit tetapi di kapal ada penumpang yang datang dari negara terjangkit penyakit menular. maka Pejabat Kesehatan di pelabuhan pertama wajib melakukan pemeriksaan secara visual terhadap penumpang yang dianggap suspect.Terhadap kapal yang datang dari  Kapal negeri yang dalam waktu 2 minggu sebelum tiba di Indonesia telah luar   menyinggahi negara yang seluruhnya atau sebagiannya terjangkit penyakit menular atau berbahaya lain yang ditetapkan oleh WHO maka Pejabat Kesehatan di pelabuhan pertama wajib mengadakan pemeriksaan secara visual terhadap semua crew dan semua penumpang. . Untuk membantu proses identifikasi penumpang yang suhu tubuhnya > 38 derajat celcius bisa menggunakan thermoscanner.

maka Pejabat Kesehatan Pelabuhan melakukan pemeriksaan kesehatan secara visual terhadap semua penumpang jika dicurigai menderita penyakit perlu dilakukan pemeriksaan kesehatan lainnya . Dari Health Alert Card tersebut dapat diseleksi penumpang-penumpang yang dianggap sebagai suspect dan kemudian diperiksa secara visual. Jika kapal ini adalah kapal turis yang mempunyai rute tetap ke Indonesia dan demi kelancaran kepariwisataan sementara tuntutan didalam hal kewaspadaan tetap tinggi maka masing-masing penumpang diminta mengisi Health Alert Card dan kartu-kartu ini bersama ICV telah terkumpul sebelum Pejabat Kesehatan Pelabuhan mengunjungi kapal.  Terhadap kapal yang datang dari pelabuhan Indonesia terjangkit.

• Selama kapal memiliki izin terbatas karantina (restricted pratique) dan bila tiba di suatu pelabuhan. .Terhadap kapal yang berada dalam pengawasan : • Kapal ini diberikan izin terbatas karantina atau Restricted Pratique. dan Pejabat Kesehatan Pelabuhan harus melakukan pemeriksaan terhadap semua crew dan penumpang. maka kapal memasang isyarat karantin • Pejabat Kesehatan Pelabuhan memeriksa secara visual terhadap semua crew dan penumpang.

• Kapal yang tiba dari pelabuhan terjangkit. nahkoda atau agen kapal diwajibkan dalam 24 jam melapor kepada Kepala KKP setempat.Penerbitan Dokumen Kesehatan Kapal • Pemberian Surat Izin Kesehatan Berlayar • Setiap kapal yang melakukan pelayaran interseluler yang tiba dari Pelabuhan sehat. . berada dalam pengawasan KKP sampai selesai dilakukan tindakan karantina sehingga kapal dinyatakan sehat.

. nahkoda melalui agen pelayaran segera memenuhi persyaratan diatas. SSCEC/SSCC yang masih berlaku Buku kesehatan kapal yang valid Sertifikat obat P3K Sertifikat air bersih Sertifikat uji kesehatan ABK/Nahkoda • Apabila persyaratan belum lengkap.• Kapal yang akan berlayar ke Pelabuhan tujuan harus memenuhi persyaratan kesehatan: 1. 2. 3. 4. 5.

harus mempunyai Buku Kesehatan (Health Book) sebagai alat informasi/ koordinasi antar Kantor Kesehatan Pelabuhan serta dengan nahkoda ▫ Apabila dalam pemeriksaan dokumen kesehatan kapal ditemukan kapal yang tidak atau belum mempunyai Buku Kesehatan (Health Book) maupun lembaran buku kesehatan tersebut telah habis.Penerbitan Buku Kesehatan (Health Book)) • Penerbitan Buku Kesehatan kapal dilaksanakan oleh petugas Karantina Kesehatan melalui prosedur sebagai berikut : ▫ Setiap kapal yang berbendera Indonesia atau kapal asing yang melakukan pelayaran diwilayah Indonesia. maka diharuskan membuat buku baru yang diterbitkan oleh KKP setempat. . ▫ Nahkoda melalui agen pelayaran mengajukan permohonan tertulis untuk penerbitan buku kesehatan baru yang ditujukan kepada Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan.

penerbitan atau kapal berganti nama. Buku Kesehatan Kapal langsung diterbitkan bila sertifikat SSCEC/ SSCC masih berlaku. ▫ Bagi kapal yang buku kesehatannya habis. ▫ Bagi kapal yang buku kesehatannya hilang.▫ Penerbitan Buku Kesehatan Kapal ditujukan untuk :  Kapal baru atau kapal berganti nama  Lembar buku yang telah habis  Buku hilang. surat permohonan perlu disertai dengan berita acara kehilangan dari kepolisian setempat. . ▫ Bagi kapal baru . Buku Kesehatan Kapal harus didahului dengan pemeriksaan fisik kapal dan pemeriksaan faktor risiko PHEIC di kapal dalam rangka penerbitan SSCEC/ SSCC.

tanda-tangan dan nama jelas Kepala KKP serta cap stempel. Volume. ▫ Pengisian Buku kesehatan kapal tersebut dilakukan oleh petugas Port Health Clearence dan diperiksa oleh Kasi Karantina & SE atau koordinator wilayah kerja ▫ Setelah diperiksa dan diregistrasi. Milik/Agen). Tempat dan tanggal dikeluarkan. maka Buku Kesehatan tersebut ditandatangani oleh:  Kepala KKP atau  Kepala Bidang Karantina & SE untuk Kelas I atau Kasi Karantina & SE untuk Kelas II dan Kasi Karantina & UKP untuk kelas III .▫ Pada halaman pertama Buku Kesehatan Kapal. Kebangsaan. harus diisi dengan lengkap identitas kapal (Nama Kapal.

• Kabid/Kasi PRL menugaskan salah satu petugasnya untuk melakukan pemeriksaan tanda-tanda tanda – tanda faktor risiko diatas kapal • Bila dari hasil pemeriksaan tidak ditemukan adanya tanda-tanda tanda – tanda faktor risiko di kapal maka Kasi Pengendalian Resiko lingkungan menyampaikan hasil pemeriksaan tersebut kepada Kepala KKP. • Bila dari hasil pemeriksaan ditemukan adanya tanda – tanda faktor risiko di kapal maka : .Penerbitan SSCC/SSCEC (Ship Sanitation Control Certificate/Ship Sanitation Control Exemption Certificate • Penerbitan SSCC/SSCEC dilaksanakan oleh petugas Kerantina Kesehatan dengan prosedur sebagai berikut : • Nakhoda / agent pelayaran menyampaikan permohonan tertulis untuk penerbitan SSCC/SSCEC kepada Kepala KKP. • Kepala KKP mendisposisi surat permohonan kepada Bidang/Seksi Karantina & SE (untuk penerbitan dokumen) dan Kepala Bidang/Seksi PRL (untuk pemeriksaan tanda – tanda faktor risiko ) danberkoordinasi dengan wilker.

dengan catatan : . Hasil tindakan pembasmian tikus di kapal dilaporkan kepada Kepala KKP.• Kepala KKP melalui Kabid/Kasi Karantina & SE memerintahkan kepada Nakhoda/ Agent pelayaran agar kapal dilakukan tindakan pembasmian tikus yang dilaksanakan oleh Badan Usaha Swasta yang memiliki izin operasional dibawah pengawasan Bidang/Seksi Pengendalian Risiko Lingkungan . • Bila keadaan tidak memungkinkan atau tidak tersedia sarana untuk tindakan pembasmian tikus di kapal maka Kasi Karantina & SE menyampaikan laporan kepada Kepala KKP dan Kepala KKP dapat memberikan izin berlayar tanpa surat tikus yang berlaku.

• Selanjutnya berdasarkan rekomendasi dari hasil pengawasan pelaksanaan hapus tikus dikapal yang dilaksanakan oleh Badan Usaha Swasta di bawah pengawasan Bidang/Seksi Pengendalian Resiko lingkungan. ▫ Nakhoda / Agent pelayaran dapat menunjukkan route perjalanan yang akan ditempuh.▫ Kapal berlayar dengan tujuan :  Pelabuhan Luar Negeri (Extention). .  Pelabuhan Dalam Negeri (Sailing Permit). • Setelah penerbitan SSCC/SSCEC selesai diproses selanjutnya diparaf oleh Kasi Kasi Karantina & SE. kapal segera dikosongkan untuk dilakukan tindakan penyehatan untuk diterbitkan SSCC. ▫ Setibanya di pelabuhan tujuan dilakukan perpanjangan SSCEC atau tersedianya sarana tindakan penyehatan. Kepala KKP menginformasikan kepada Bidang/Seksi Karantina & SE untuk menerbitkan sertifikat SSCC/SSCEC • Kasi Karantina & SE memproses penerbitan SSCC/SSCEC .

• Selanjutnya Kepala KKP menandatangani SSCC/SSCEC • SSCC/SSCEC yang telah ditandatangani Kepala KKP diserahkan kepada Nakhoda / Agent pelayaran. • Pencatatan dan pelaporan oleh Seksi Karantina & SE. Nakhoda / Agent pelayaran supaya membayar tarif pembuatan SSCC/SSCEC yang telah ditetapkan melalui peraturan pemerintah kepada Bendaharawan Penerima PNBP KKP.• Sebelum SSCC/SSCEC ditandatangani oleh Kepala KKP. .

TERIMA KASIH .