“Analisis Kebijakan Pasal

75 ayat (2) UndangUndang Nomor 36 Tahun
2009 Tentang Kesehatan”
1

Dosen Pengampu: Dr. Y.A. Triana Ohoiwutun, S.H., M.H.
Mata Kuliah: Politik Hukum Pidana

Politik Hukum Pidana, Kelompok 7

Kelompok 7 .2 I “Analisis Kebijakan Pasal 75 ayat (2) UndangUndang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan” PENDAHULUAN II III PEMBAHASAN PENUTUP Politik Hukum Pidana.

Kelompok 7 .3 BAB 1 PENDAHULUAN Politik Hukum Pidana.

kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban perkosaan Berbagai syarat atau ketentuan diatur guna mencegah dilakukannya aborsi ilegal.Latar Belakang 4 Aborsi atau yang dikenal dengan istilah abortus dalam bahasa Latin merupakan menggugurkan kandungan atau menyebabkan berhentinya kandungan sebelum usia kehamilan 20 minggu yang menyebabkan kematian janin.” Politik Hukum Pidana. Awal Mei 2016 polisi menggerebek klinik aborsi ilegal di Medan dengan menyita 15 bungkus yang diduga janin. indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan. Namun pelarangan aborsi sebagaimana ketentuan pasal 75 ayat 1 dapat dilanggar dengan 2 syarat sebagaimana yang diatur dalam pasal 75 ayat 2 yaitu : a. Berdasarkan latar belakang di atas. yang menderita penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaan. Polda Metro Jaya menggerebek klinin bidan tanpa izin. Namun dalam prakteknya kasus aborsi ilegal masih banyak dijumpai. Bahkan Polda Metro Jaya menggerebek dua klinik di kawasan Jakarta Pusat yang diduga telah beroperasi selama 5 tahun dan telah mengaborsi 5.400 janin. baik yang mengancam nyawa ibu dan/atau janin. Pada Pasal 75 ayat 1 UU Kesehatan menyatakan bahwa pada dasarnya setiap orang dilarang melakukan aborsi. Aborsi telah dikenal sejak awal sejarah peradaban manusia dan merupakan cara yang paling tua untuk mencegah kelahiran yang tidak diinginkan bahkan hingga saat ini aborsi merupakan cara yang paling membahayakan karena tak jarang menyebabkan kematian pada sang ibu. Apalagi dengan pengaturan yang sedemian rupa terhadap mereka yang akan menggugurkan kandungannya dengan alasan menimbulkan trauma berpeluang memberikan kesempatan untuk lebih memilih menggugurkan janin. penulis mengambil judul “Analisis Kebijakan Pasal 75 ayat (2) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan. Kelompok 7 . atau b. Di Jakarta. maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan.

Kelompok 7 Back . Bagaimanakah kriteria perempuan akibat pemerkosaan yang diizinkan untuk Aborsi berdasarkan pasal 75 ayat 1 UU No.5 Rumusan Masalah a. 39 Tahun 2009? b. Bagaimanakah akibat hukum implementasu dari Pasal 75 ayat 2 UU No. 39 Tahun 2009? Politik Hukum Pidana.

6 BAB 2 PEMBAHASAN Politik Hukum Pidana. Kelompok 7 .

2. Pidana. Mengalami penderitaan fisik. Kelompok 7 Jadi hakikat yangPolitik samaHukum dari pengertian korban yaitu sebagai korban tindak pidana. Akibat tindak pidana. kerugian harta benda atau mengakibatkan mati atas perbuatan atau usaha pelanggaran ringan dilakukan oleh pelaku tindak pidana dan lainnya”. Setiap orang. 2010:5) bahwa Victim adalah “orang yang telah mendapat penderitaan fisik atau penderitaan mental. menurut ahli lainnya (Arif Gosita. Selanjutnya secara yuridis pengertian korban termaktub dalam UU No. .Pengertian Korban 7 Menurut kamus Crime Dictionary yang dikutip seorang ahli (Abussalam. Kerugian ekonomi. Melihat rumusan tersebut yang disebut korban adalah : 1. dan/atau 3. Selaras dengan pendapat tersebut. 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban. mental dan/atau kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh suatu tindak pidana”. 1989:75) menyatakan yang dimaksud dengan korban adalah “mereka yang menderita jasmaniah dan rohaniah sebagai akibat tindakan orang lain yang mencari pemenuhan diri sendiri atau orang lain yang bertentangan dengan kepentingan dan hak asasi yang menderita”. mental. 4. yang dinyatakan bahwa korban adalah “seseorang yang mengalami penderitaan fisik.

diancam karena melakukan perkosaan”. Pendapat tersebut sesuai dengan rumusan perkosaan dalam KUHP Pasal 285 yang berbunyi “barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh dengan dia di luar pernikahan. Pendapat Wirdjono ini juga menekankan mengenai pemaksaan hubungan seksual (persetubuhan) pada seseorang perempuan yang bukan istrinya.dengan Kelompok dia 7 . Pemaksaan yang dilakukan oleh laki – laki membuat atau mengakibatkan perempuan terpaksa melayani persetubuhan. maka dengan terpaksa ia mau melakukan persetubuhan itu”. Unsur keterpaksaan dalam persetubuhan itu biasanya didahului oleh perlawanan dari perempuan sebagai wujud penolakan atau ketidaksetujuannya. Adanya kekerasan atau ancaman kekerasan. Bersetubuh di luar pernikahan (pelaku). Unsur – unsur yang dimaksud untuk membuktikan ada atau tidaknya tindak pidana perkosaan adalah sebagai berikut : 1. 3. Memaksa seorang wanita. sehingga sedemikian rupa ia tidak dapat melawan.8 Pengertian Perkosaan Menurut Wirdjono Prodjodikor mengungkapkan bahwa perkosaan adalah “seorang laki – laki yang memaksa seorang perempuan yang bukan istrinya untuk bersetubuh dengan dia. Politik Hukum Pidana. 2.

Hal itu juga dipertegas dalam Pasal 75 ayat (1) UU No. 39 Tahun 2009 Pada dasarnya tindakan seorang perempuan melakukan aborsi atau menggugurkan kandungan merupakan tindak pidana yang diatur dalam KUHP Pasal 346. Sehingga kemungkinan besar atau bahkan dapat dipastikan. perempuan tersebut telah menjadi korban dari tindak pidana perkosaan. Hal tersebut yang menjadi alasan kebijakan pengecualian aborsi. Kelompok 7 . Pada Pasal 75 ayat (2) memberikan pengecualian untuk melakukan aborsi yaitu berdasarkan indikasi kedaruratan medis dan kehamilan akibat perkosaan. namun terdapat pengecualian pada ayat berikutnya. Jadi seorang perempuan hamil akibat perkosaan tidak akan kena pidana saat melakukan aborsi seperti yang telah diatur dalam Pasal 346 KUHP. kehamilan perempuan korban perkosaan itu dapat menyebabkan trauma psikologis. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yang menyatakan bahwa setiap orang dilarang melakukan aborsi. Politik Hukum Pidana.9 Perempuan Korban Perkosaan Diizinkan untuk Aborsi Berdasarkan Pasal 75 UU No. Karena jika mencermati pengertian korban dan perkosaan yang telah diuraikan di atas.

10 Kriteria dan Ketentuan Perempuan Korban Perkosaan Melakukan Aborsi Berdasarkan Pasal 75 UU No. Hanya dapat dilakukan apabila usia kehamilan paling lama berusia 40 (empat puluh) hari dihitung sejak hari pertama haid terakhir ( Pasal 31 ayat (2) ). 36 Tahun 2009 kriteria perempuan korban perkosaan yang diizinkan melakukan aborsi yaitu kehamilan akibat perkosaan yang menyebabkan trauma psikologis. 61 Tahun 2014 kriteria perempuan korban perkosaan yang dapat melakukan aborsi yaitu sebagai berikut : 1. 4. Membuktikan dengan keterangan penyidik. 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi. Kelompok 7 . 2. psikolog.36 Tahun 2009 Pasal 75 ayat (3) yang mengatur bahwa aborsi hanya dapat dilakukan setelah melalui konseling pra tindakan dan pasca tindakan. Konseling tersebut mempunyai tujuan yang diatur dalam Pasal 37 ayat (3) dan (4). Setelah itu pengaturan lebih lanjut dari Pasal 75 ayat (2) ini diatur dalam PP No. Lalu menurut ketentuan Pasal 75 ayat (3) aborsi hanya dapat dilakukan jika telah melalui konseling pra tindakan dan diakhiri dengan konseling pasca tindakan oleh konselor yang kompeten dan berwenang. Hal ini juga diatur dalam PP No. Merupakan kehamilan hasil hubungan seksual tanpa adanya persetujuan dari pihak perempuan sesuai dengan peraturan perundang-undangan ( Pasal 34 ayat (1) ). Membuktikan kehamilan dengan surat keterangan dokter mengenai usia kehamilan sesuai dengan kejadian perkosaan ( Pasal 34 ayat (2) huruf a ). dan/atau ahli lain mengenai adanya dugaan perkosaan ( Pasal 34 ayat (2) huruf b ). Seperti ketentuan pelaksanaan aborsi yang diatur dalam ketentuan UU No. 61 Tahun 2014 Pasal 37 ayat (1) dan (2). 3. Politik Hukum Pidana. Pada PP No. 39 Tahun 2009 Jika melihat pada Pasal 75 ayat (2) huruf b UU No.

diantaranya: 1. Kelompok 7 . dan bertanggung jawab seperti yang terdapat dalam Pasal 35. Menyalahkan diri sendiri 1.2.1.11 Pada PP No. 1. Kriminalisasi korban pemerkosaan 3. 61 Tahun 2014 aborsi dilakukan dengan aman. bermutu. karena perilaku. karena merasa ada sesuatu yang salah di dalam diri mereka sendiri sehingga mereka pantas mendapatkan perlakuan kasar. Menyalahkan diri. Menyalahkan diri. Tidak dapat dipungkiri juga tindakan pemerkosaan ini tentunya juga menimbulkan beberapa kriteria trauma psikologis yang umumnya dialami korban pemerkosaan. Menarik diri dari lingkungan Politik Hukum Pidana. Merasa 'rusak' 4. Mereka akan terus merasa untuk seharusnya berperilaku berbeda sehingga tidak diperkosa. 2. Selain itu tindakan aborsi yang dilakukan wajib dilaporkan kepada kepala dinas kesehatan kabupaten/kota dengan tembusan kepada dinas kesehatan provinsi seperti yang telah diatur pada Pasal 39 ayat (1). Mereka menganggap ada yang salah dalam tindakan mereka sehingga akhirnya mengalami tindakan pemerkosaan. Pada Pasal 38 ayat (1) juga memberikan pendampingan selama masa kehamilan oleh konselor bagi korban perkosaan yang membatalkan niatnya untuk melakukan aborsi.

Walaupun Pasal 75 ayat (2) tersebut memberikan kebebasan bagi perempuan hamil akibat perkosaan untuk melakukakan aborsi karena terancam terkena trauma psikologis. jelas menimbulkan “ketidakpastian hukum” yang memerlukan penelaahan hukum dengan cermat. Kehamilan sebagai akibat pemerkosaan merupakan kehamilan hasil hubungan seksual tanpa adanya persetujuan dari pihak perempuan sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-Undangan. 3. Back Politik Hukum Pidana. agar dapat dilakukan aborsi terhadap perempuan tersebut. b) keterangan penyidik. Lengkapnya saya kutipkan bunyi Pasal 34 PP Kesehatan Reproduksi: 1. Aborsi akibat pemerkosaan. Syaratsyarat itu antara lain: 1. Dengan izin suami. Sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir.Akibat hukum Implementasi dari Pasal 75 ayat 2 UU No. memiliki payung hukum apabila ingin menggugurkan kandungannya demi mencegah trauma psikologis tersebut. kalaupun aborsi itu dibolehkan maka terlebih dahulu yang harus dibuktikan apakah benar telah terjadi tindak pidana pemerkosaan. Sehingga perempuan korban perkosaan yang hamil dan memiliki kecenderungan trauma psikologis memiliki sebuah perlindungan hukum saat ingin melakukan aborsi terhadap kandungannya. 5. Sementara Pasal 34 Ayat 2 PP Kesehatan Reproduksi tidak sampai pada pembuktian hukum acara pidana. kecuali dalam hal darurat medis. Dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan. maka perempuan yang hamil akibat perkosaan yang terancam mengalami trauma psikologis karena kehamilannya. Kenapa? Legalisasi aborsi karena alasan pemerkosaan bersentuhan dengan wilayah tindak pidana. Oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan yang memiliki sertifikat yang ditetapkan oleh menteri. kecuali korban perkosaan. Kelompok 7 . Artinya. 4. tetapi pada Pasal 76 dijelaskan bagaimana syarat-syarat untuk dapat melakukan aborsi tersebut. Kehamilan akibat pemerkosaan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dibuktikan dengan: a) usia kehamilan sesuai dengan kejadian pemerkosaan yang dinyatakan oleh surat keterangan dokter. 2. 2. Penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh Menteri. 39 Tahun 2009 12 Dengan adanya Pasal 75 ayat (2) UU Kesehatan. psikolog dan/ atau ahli lain mengenai adanya dugaan pemerkosaan.

Kelompok 7 .13 BAB 3 PENUTUP Politik Hukum Pidana.

Merupakan kehamilan hasil hubungan seksual tanpa adanya persetujuan dari pihak perempuan sesuai dengan peraturan perundang-undangan ( Pasal 34 ayat (1) ). dan/atau ahli lain mengenai adanya dugaan perkosaan ( Pasal 34 ayat (2) huruf b ). Kelompok 7 . Namun ketentuan tersebut diatur lebih lanjut dalam Pada PP No. perempuan sebagai korban perkosaan dianggap legal untuk melakukan aborsi dan negara secara konstitutif berkewajiban untuk memberikan perlindungan maupun upaya penyembuhan trauma terhadap perempuan korban perkosaan. Dengan demikian. Politik Hukum Pidana. Membuktikan kehamilan dengan surat keterangan dokter mengenai usia kehamilan sesuai dengan kejadian perkosaan ( Pasal 34 ayat (2) huruf a ).14 Simpulan Berdasarkan uraian tersebut diatas. 61 Tahun 2014 kriteria perempuan korban perkosaan yang dapat melakukan aborsi yaitu sebagai berikut : 1. Membuktikan dengan keterangan penyidik. Hanya dapat dilakukan apabila usia kehamilan paling lama berusia 40 (empat puluh) hari dihitung sejak hari pertama haid terakhir ( Pasal 31 ayat (2) ). 4. 3. psikolog. diperoleh simpulan sebagai berikut : Dalam hal kriteria perempuan akibat pemerkosaan untuk melakukan aborsi berdasarkan ketentuan pasal 75 ayat (2) UU No 36 Tahun 2009 tenteng Kesehatan yaitu dengan adanya kehamilan tersebut mengakibatkan dampak psikologis bagi korban. 2.

15 Akibat hukum implementasi pasal 75 ayat (2) UU Kesehatan. keterbukaan antara perempuan sebagai korban perkosaan terhadap keluarga dan pemerintah dalam rangka mengembalikan semangat maupun rasa percaya diri yang berkurang karena perkosaan. serta campur tangan negara untuk ikut serta dalam mencegah praktik aborsi yang tidak dibenarkan menurut moral maupun konstitusi. Kelompok 7 . faktor fundamental yang perlu diwujudkan dikemudian hari adalah peran negara dalam melindungi perempuan dari berbagai tindakan asusila serta menyelenggaran hukum yang berkepastian. Politik Hukum Pidana. Adanya ketentuan tersebut menunjukan suatu semangat untuk melindungi kesehatan reproduksi perempuan yang terkait dengan penegakan Hak Asasi Manusia. Namun legalisasi aborsi tidak menjamin masa depan yang lebih baik terhadap korban perkosaan. sehingga masyarakat mengetahui konsekuensi pemerkosaan bagi korban dan bagi pelaku yang memiliki sanksi secara yuridis maupun sosial .

(140710101211) o Bobby Prilian Aries Dwi P.16 Penyusun: o Moch. Hilmi Amrulloh o Agung Kurniawan (140710101160) (140710101206) o Yohana Rosita Dewi M. Kelompok 7 . (140710101216) o Fahmi Maulana (140710101219) o Novia Puspitasari o Aldial Dahari (140710101224) (140710101232) o Eka Puji Lestari (140710101244) o Zainur Ratna Savitri (140710101245) o Sapere Aude Manulung (140710101251) Politik Hukum Pidana.