You are on page 1of 52

BLOK EMERGENSI

SKENARIO 2
TRAUMA KEPALA
A-13

Kelompok: A-13
Ketua
: Arum Sekar Latih
(1102012029)
Sekertaris : Heny Silviana
(1102012114)
Anggota
: Erni Vuspita Dewi
(1102011090)
Abdul Halim Gazali
(1102012001)
Bella Amelia Sefilla A
(1102012043)
Farah Hayati Hadrani (1102012082)
Ghea Ghaisany
(1102012096)
Ilham Noeryosan
(1102012119)
Iqbal Hakkiki
(1102012132)
 

Skenario 2
TRAUMA PADA KEPALA
Seorang laki-laki, berusia 40 tahun, dibawa ke UGD RS dalam keadaan
tidak sadar setelah terjatuh dari lantai 3 sebuah bangunan sejak sejam
yang lalu. Menurut saksi, kepala tejatuh terlebih dahulu. Pasien
langsung tidak sadarkan diri dan keluar darah dari hidung dan telinga.
Tanda vital
Airway
: terdengar bunyi snoring
Breathing
: frekuensi nafas 14 x/menit
Circulation
: tekanan darah 160/90 mmHg, frekuensi nadi 50 x/menit
Regio wajah
Trauma di daerah sepertiga tengah wajah, pada pemeriksaan terlihat
adanya cerebrospinal rhinorrhea, mobilitas maxilla, krepitasi dan
maloklusi gigi.
Status neurologi
GCS E1 M2 V1, pupil : bulat, anisokor, diameter 5 mm/3 mm, RCL -/+,
RCTL +/-, kesan hemiparesis dekstra, refleks patologis babinsky +/ 

Sasaran Belajar
LI 1. Memahami dan menjelaskan trauma kepala
LO 1.1 Menjelaskan definisi trauma kepala
LO 1.2 Menjelaskan etiologi trauma kepala
LO 1.3 Menjelaskan klasifikasi trauma kepala
LO 1.4 Menjelaskan epidemiologi trauma kepala
LO 1.5 Menjelaskan patofisiologi trauma kepala
LO 1.6 Menjelaskan manifestasi klinis trauma kepala
LO 1.7 Menjelaskan diagnosis trauma kepala
LO 1.8 Menjelaskan tatalaksana trauma kepala
LO 1.9 Menjelaskan komplikasi trauma kepala
LO 1.10 Menjelaskan prognosis trauma kepala

LI 2. Memahami dan menjelaskan fraktur basis cranii
LO 2.1 Menjelaskan definisi fraktur basis cranii
LO 2.2 Menjelaskan etiologi fraktur basis cranii
LO 2.3 Menjelaskan klasifikasi fraktur basis cranii
LO 2.4 Menjelaskan epidemiologi fraktur basis cranii
LO 2.5 Menjelaskan patofisiologi fraktur basis cranii
LO 2.6 Menjelaskan manifestasi klinis fraktur basis cranii
LO 2.7 Menjelaskan diagnosis fraktur basis cranii
LO 2.8 Menjelaskan tatalaksana fraktur basis cranii
LO 2.9 Menjelaskan komplikasi fraktur basis cranii
LO 2.10 Menjelaskan prognosis fraktur basis cranii
LI 3. Memahami dan menjelaskan perdarahan
intrakranial
LO 3.1 Menjelaskan definisi perdarahan intrakranial
LO 3.2 Menjelaskan etiologi perdarahan intrakranial
LO 3.3 Menjelaskan epidemiologi perdarahan intrakranial
LO 3.4 Menjelaskan klasifikasi perdarahan intrakranial
LI 4. Memahami dan menjelaskan trias cushing

Memahami dan menjelaskan trauma kepala 1. 2009).LI 1.1 Definisi trauma kepala Trauma kepala atau trauma kapitis adalah suatu ruda paksa (trauma) yang menimpa struktur kepala sehingga dapat menimbulkan kelainan struktural dan atau gangguan fungsional jaringan otak (Sastrodiningrat. .

(2009 : 49) etiologi cedera kepala adalah: a)    Kecelakaan lalu lintas b)    Jatuh c)    Pukulan d)    Kejatuhan benda e)    Kecelakaan kerja atau industri f)    Cedera lahir g)    Luka tembak .1.2 Etiologi Menurut Cholik Harun Rosjidi & Saiful Nurhidayat.

3 Klasifikasi 1. Luka pada kepala: • Laserasi kulit kepala • Luka memar (kontusio) • Abrasi • Avulsi   . Berdasarkan mekanisme terjadinya : • Cedera kepala tumpul • Cedera tembus 3.1. yaitu secara garis besar adalah • Trauma kepala tertutup • Trauma kepala terbuka 2. Cedera yang tampak pada kepala bagian luar terdiri dari dua. Berdasarkan morfologi cedera kepala: a.

b. Cedera kepala di area intrakranial. • Cedera otak fokal • Cedera otak difus . Fraktur tulang kepala • Fraktur linier • Fraktur diastasis • Fraktur kominutif • Fraktur impresi • Fraktur basis crania 4. Berdasarkan tingkat keparahan : • Cedera kepala ringan • Cedera kepala sedang • Cedera kepala berat 5.

hal ini disebabkan karena pada kelompok umur ini banyak terpengaruh dengan alkohol. Hal ini dapat terjadi pada usia yang lebih tua disebabkan karena terjatuh. Mortalitas laki-laki dan perempuan terhadap trauma kepala adalah 3. pada usia lebih tua perbandingan hampir sama.1.4:1 Resiko trauma kepala adalah dari umur 15-30 tahun. narkoba dan kehidupan sosial yang tidak bertanggung jawab .4 epidemiologi Pada populasi secara keseluruhan. Namun. laki-laki dua kali ganda lebih banyak mengalami trauma kepala dari perempuan.

5 patofisiologi .1.

1.6 manifestasi klinis Tanda-tanda atau gejala klinis untuk yang trauma kepala ringan: • Pasien tertidur atau kesadaran yang menurun selama beberapa saat kemudian sembuh. . • Mual atau dan muntah. • Sakit kepala yang menetap atau berkepanjangan. • Letargik. • Perubahan keperibadian diri. • Gangguan tidur dan nafsu makan yang menurun.

terdapat pergerakan atau posisi abnormal ekstrimitas. • Triad Cushing (denyut jantung menurun.Tanda-tanda atau gejala klinis untuk yang trauma kepala berat: • Simptom atau tanda-tanda cardinal yang menunjukkan peningkatan di otak menurun atau meningkat. hipertensi. depresi pernafasan). . • Perubahan ukuran pupil (anisokoria). • Apabila meningkatnya tekanan intrakranial.

. Pemeriksaan kesadaran Pemeriksaan kesadaran paling baik dicapai dengan menggunakan Glasgow Coma Scale (GCS).7 Diagnosis A. Menurut Japardi (2004).1. GCS bisa digunakan untuk mengkategorikan pasien menjadi: • GCS 13-15 : cedera kepala ringan • GCS 9-12 : cedera kepala sedang • GCS 3-8 : pasien koma dan cedera kepala berat.

C. pola dan frekuensi respirasi. Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik yang meliputi kesadaran. tensi. pupil (besar. bentuk dan reaksi cahaya).B. Bila terdapat perburukan salah satu komponen. Pemeriksaan Penunjang • X-ray tengkorak • CT-scan • Magnetic Resonance Imaging (MRI) • Pemeriksaan Proton Magnetic Resonance Spectroscopy . Hasil pemeriksaan dicatat dan dilakukan pemantauan ketat pada hari-hari pertama. defisit fokal serebral dan cedera ekstrakranial. nadi. penyebabnya dicari dan segera diatasi.

pasien dipulangkan dan kontrol kembali. pemeriksaan neurologis secara periodik.8 Tatalaksana PENATALAKSANAAN CEDERA KEPALA RINGAN (GCS 13– 15) • Observasi atau dirawat di rumah sakit • Observasi tanda vital serta pemeriksaan neurologis secara periodik setiap ½. PENATALAKSANAAN CEDERA KEPALA SEDANG (GCS 9-12) • Dirawat di rumah sakit untuk observasi.1.2 jam. • Bila kondisi membaik. . • Pemeriksaan CT Scan kepala sangat ideal pada penderita CKR kecuali memang sama sekali asimtomatik dan pemeriksaan neurologis normal. bila kondisi memburuk dilakukan CT Scan ulang dan penatalaksanaan sesuai protokol cedera kepala berat.

berikan anti kejang jika penderita kejang. • Berikan cairan secukupnya (ringer laktat/ringer asetat) • Periksa tanda vital. • Operasi cito pada perkembangan ke arah indikasi operasi. • Fisioterapi dan rehabilitasi. • Berikan obat-obatan neurotonik sebagai obat lini kedua. • Koreksi asidodis laktat dengan natrium bikarbonat.5 mg 3×1. GCS dan pemeriksaan batang otak secara periodik. ranitidin iv untuk mencegah perdarahan gastrointestinal. rhinorea. furosemide diuretik 1 mg/kg BB tiap 6-12 jam bila ada edema cerebri. berikan anti perdarahan. berikan antibiotik dosis tinggi pada cedera kepala terbuka.PENATALAKSANAAN CEDERA KEPALA  BERAT (GCS <= 8) • Pastikan jalan nafas korban clear (pasang ET). otorea. berikan oksigenasi 100% dan jangan banyak memanipulasi gerakan leher sebelum cedera cervical dapat disingkirkan. • Berikan antagonis H2 simetidin. • Berikan manitol iv dengan dosis 1 gr/kgBB diberikan secepat • Berikan anti edema cerebri: kortikosteroid deksametason 0. . adanya cedera sistemik di bagian anggota tubuh lain.

9 Komplikasi • Komplikasi bedah • • • • • Hematoma Intrakranial Hidrosefalus Subdural Hematoma Kronis Cedera kepala terbuka Kebocoran CSS • Komplikasi non bedah • • • • • Kejang post traumatika Infeksi Gangguan Keseimbangan cairan dan elektrolit Gangguan Gastrointestinal Neurogenic Pulmonary Edema (NPE) .1.

1. Jika kesadarannya baik. transportasi yang lambat. M dengan rangsangan apapun. • Prognosis TK buruk jika pada pemeriksaan ditemukan pupil midriasis dan tidak ada respon E. V. maka prognosisnya dubia. • Faktor yang memperjelek prognosis adalah terlambatnya penanganan awal/resusitasi. yaitu: pasien dapat pulih kembali atau traumanya bertambah berat. terlambat dilakukan tindakan pembedahan dan disertai trauma multipel yang lain . tergantung jenis TK. dikirim ke RS yang tidak memadai.10 Prognosis Prognosis TK tergantung berat dan letak TK.

1 Definisi Fraktur basis Cranii/Basilar Skull Fracture (BSF) merupakan fraktur akibat benturan langsung di sekitar dasar tulang tengkorak (oksiput. atau efek “remote” dari benturan pada kepala (“tekanan gelombang” yang dipropagasi dari titik benturan atau perubahan bentuk tengkorak). Memahami dan menjelaskan fraktur basis cranii 2. mastoid.LI 2. . transmisi energy yang berasal dari benturan pada wajah atau mandibula. supraorbita).

2. Suatu fraktur menunjukkan adanya sejumlah besar gaya yang terjadi pada kepala dan kemungkinan besar menyebabkan kerusakan pada bagian dalam dari isi cranium.2 Etiologi Suatu fraktur tulang tengkorak berarti patahnya tulang tengkorak dan biasanya terjadi akibat benturan langsung.Tulang tengkorak mengalami deformitas akibat benturan terlokalisir yang dapat merusak isi bagian dalam meski tanpa fraktur tulang tengkorak. dan sebaliknya . Fraktur tulang tengkorak dapat terjadi tanpa disertai kerusakan neurologis.

Fossa cranii posterior . Fossa cranii media 3. Fossa cranii anterior 2.3 Klasifikasi 1.2.

Fraktur tulang temporal sebanyak 15-48% dari seluruh kejadian fraktur tulang tengkorak.4 Epidemiologi Lebih dari 60% dari kasus fraktur tulang tengkorak merupakan kasus fraktur linear sederhana.2. terutama pada anak usia dibawah 5 tahun. dan fraktur basis cranii sebesar 19-21%. . yang merupakan jenis yang paling umum.

Secara anatomi kelemahan ini disebabkan oleh banyak nya foramen dan canalis di daerah ini. cranialis III. karena daerah ini merupakan tempat yang paling lemah dari basis cranii. . IV dan VI dapat cedera bila dinding lateral sinus cavernosus robek.Cavum timpani dan sinus sphenoidalis merupakan daerah yang paling sering terkena cedera.Bocornya CSF dan keluarnya darah dari canalis acusticus externus sering terjadi (otorrhea). Fraktur yang mengenai pars orbita os frontal mengakibatkan perdarahan subkonjungtiva (raccoon eyes atau periorbital ekimosis) yang merupakan salah satu tanda klinis dari fraktur basis cranii fossa anterior.Pasien dapat mengalami epistaksis dan terjadi rhinnore atau kebocoran CSF yang merembes ke dalam hidung.Keadaan ini dapat menyebabkan robeknya meningeal yang menutupi mukoperiostium. lamina cribrosa os etmoidalis dapat cedera. craniais VII dan VIII dapat cedera pada saat terjadi cedera pada pars perrosus os temporal. N.2. N.5 Patofisiologi Pada fraktur fossa cranii anterior. Fraktur pada basis cranii fossa media sering terjadi.

2. Bloody rhinorrhea Liquorrhea Brill Hematom Batle’s sign Lesi nervus cranialis yang paling sering N I. NVII.6 Manifestasi klinis • • • • • • Bloody otorrhea. dan N VIII .

2. anamnesa 2.7 diagnosis 1. pemeriksaan penunjang • CT scan dan bone window • MRI (Magnetic Resonance Angiography) . pemeriksaan fisik 3.

pengawasan secara rutin tekanan darah pulsasi nadi. dari ujung kepala hingga ujung kaki. Bisa menggunakan Orogastric tube (NGT kurang aman) agar aspirasi lambung tidak mengahalangi B Breathing : Penilaian ventilasi dan gerakan dada.2. . dari depan dan belakang.8 Tatalaksana Tatalaksana Primer A Airway : Pembersihan jalan nafas. pemasangan IV line D Dysfunction of CNS : Penilaian GCS (Glasgow Coma Scale) secara rutin E Exposure : Identifikasi seluruh cedera. pengawasan vertebra servikal hingga diyakini tidak ada cedera. gas darah arteri C Circulation : Penilaian kemungkinan kehilangan darah.

2.9 Komplikasi a) Fistula cairan serebrospinal b) Rinore c) Otore d) Infeksi e) Pnemocephalus: .

pembuluh darah dan cedera langsung pada otak.10 Prognosis Walaupun fraktur pada cranium memiliki potensi resiko tinggi untuk cedera nervus cranialis.2. . sebagian besar jenis fraktur adalah jenis fraktur linear pada anak – anak dan tidak disertai dengan hematom epidural.

. atau serebral (parenkimatosa). Memahami dan menjelaskan perdarahan intrakranial 3. subaraknoid.tumor otak dan lain-lain.1 Definisi Perdarahan intrakranial adalah perdarahan (patologis) yang terjadi di dalam kranium.LI 3. Perdarahan intrakranial dapat terjadi pada semua umur dan juga akibat trauma kepala seperti kapitis. yang mungkin ekstradural. subdural.

trauma. Perdarahan otak juga dapat terjadi karena terapi trombolitik pada miokard infark dan cerebral infark.2 Etiologi Bermacam macam penyebab terjadinya perdarahan spontan pada otak dan umumnya multifaktorial. pengobatannya khusus dan intervensi penyesuaiannya harus hati-hati terhadap masing- . tapi struktur yang mirip dapat juga terjadi akibat komplikasi tumor otak primer dan sekunder. Oleh karena faktor-faktor penyebabnya heterogen. atau manifestasi penyakit sistemik yang menyebabkan hipertensi atau koagulopathy. peradangan dan penyakit autoimmune. Berbagai bentuk kelainan kongenital dan yang diperoleh pada penyakit kardiovaskuler merupakan mekanisme penyebab yang paling sering.3.

diet kaya minyak ikan) dan/faktor genetik. termasuk Afrika Amerika. termasuk 350/100.3 Epidemiologi • Frekuensi Di Amerika. insiden ICH 12-15/100. • Mortalitas/morbiditas Perdarahan batang otak memiliki tingkat mortalitas 75% dalam 24 jam. • Gender Berdasarkan hasil penelitian. .000 penduduk.000 kejadian hypertensive hemorage pada orang dewasa. • Ras Tingkat insidensi tinggi pada populasi dengan frekuensi hipertensi tinggi. Risiko relative ICH >7x pada individu yang berusia lebih dari 70 tahun. • Usia Insiden ICH meningkat pada individu yang berusia lebih dari 55 tahun dan menjadi 2 kali lipat tiap decade hingga berusia 80 tahun. Jepang dan populasi Asia lainnya. insiden ICH lebih banyak pada pria. hal ini mungkin disebabkan karena factor lingkungan (spt.3. Insidensi ICH juga tinggi di Cina.

3.4 Klasifikasi • EPIDURAL HEMATOMA Hematom epidural merupakan pengumpulan darah diantara tengkorak dengan duramater ( dikenal dengan istilah hematom ekstradural Kausa yang menyebabkan terjadinya hematom epidural meliputi : • Trauma kepala • Sobekan a/v meningea mediana • Ruptur sinus sagitalis / sinus tranversum • Ruptur v diplorica .

Subakut : ditentukan diagnosisnya antara 24 jam – 7 hari 3. Kronis : ditentukan diagnosisnya hari ke 7 .Berdasarkan kronologisnya hematom epidural diklasifikasikan menjadi 1. Akut : ditentukan diagnosisnya waktu 24 jam pertama setelah trauma 2.

Gejala klinis Epidural hematom 1. ada interval lucid yang diikuti dengan perkembangan yang merugikan pada kesadaran dan hemisphere contralateral. Hemiparesis Gangguan neurologis biasanya collateral hemipareis. . Interval lusid (interval bebas) Setelah periode pendek ketidaksadaran. tergantung dari efek pembesaran massa pada daerah corticispinal. 3. 2.Anisokor pupil Yaitu pupil ipsilateral melebar. Pada perjalananya. pelebaran pupil akan mencapai maksimal dan reaksi cahaya yang pada permulaan masih positif akan menjadi negatif.

Pemeriksaan • Radiografi • CT-scan • MRI .

Edema serebri 2.Tatalaksana Terapi medikamentosa Terapi bedah Komplikasi Hematom epidural : 1. Kompresi batang otak – meninggal .

• SUBDURAL HEMATOMA Perdarahan subdural ialah perdarahan yang terjadi diantara duramater dan araknoid. Robekan pembuluh darah kortikal. atau araknoid . Ruptur vena jembatan ( "Bridging vein") yaitu vena yang berjalan dari ruangan subaraknoid atau korteks serebri melintasi ruangan subdural dan bermuara di dalam sinus venosus dura mater. subaraknoid. 2. Perdarahan subdural dapat berasal dari: 1.

Pemeriksaan • Radiografi • CT-scan • MRI .

Etiologi subdural hematoma 1. Diskrasia darah. 2. diplopia akibat kelumpuhan n. 4. mual. papil edema. muntah. epilepsi. sering diduga tumor otak. III. 3. . Malformasi arteriovenosa. kecuali bila ada effek massa atau lesi lainnya. Terapi antikoagulan Gejala klinis Gejala klinisnya sangat bervariasi dari tingkat yang ringan (sakit kepala) sampai penutunan kesadaran.kadang kala yang riwayat traumanya tidak jelas. anisokor pupil. Gejala yang timbul tidak khas dan meruoakan manisfestasi dari peninggian tekanan intrakranial seperti : sakit kepala. Kebanyakan kesadaran hematom subdural tidak begitu hebat deperti kasus cedera neuronal primer. dan defisit neurologis lainnya. Trauma kepala. vertigo.

.Terapi subdural hematoma Tindakan terapi pada kasus kasus ini adalah kraniotomi evakuasi hematom secepatnya dengan irigasi via burr-hole. Khusus pada penderita hematom subdural kronis usia tua dimana biasanya mempunyai kapsul hematom yang tebal dan jaringan otaknya sudah mengalami atrofi. biasanya lebih dianjurkan untuk melakukan operasi kraniotomi (diandingkan dengan burr-hole saja).

.Sembuh dengan gangguan neurologi sekitar 20%-50%.Sembuh tanpa gangguan neurologi sekitar 50%-80%. 3. Disfasia/afasia Epilepsi. 2. . Hidrosepalus.• Subdural hematom dapat memberikan komplikasi berupa : 1. Hemiparese/hemiplegia. Mortalitas pada subdural hematom akut sekitar 75%-85% 2. 5. 4. Pada sub dural hematom kronis : . Subdural empiema Prognosis 1.

Ukuran hematom ini bervariasi dari beberapa milimeter sampai beberapa centimeter dan dapat terjadi pada 2%-16% kasus cedera. Intracerebral hematom mengacu pada hemorragi / perdarahan lebih dari 5 mldalam substansi otak (hemoragi yang lebih kecil dinamakan punctate atau petechial /bercak). .• INTRASEREBRAL HEMATOMA Adalah perdarahan yang terjadi didalam jaringan otak. Hematom intraserbral pasca traumatik merupkan koleksi darah fokal yang biasanya diakibatkan cedera regangan atau robekan rasional terhadap pembuluh-pembuluh darahintraparenkimal otak atau kadang-kadang cedera penetrans.

2. Malformasi arteriovenosa. 4. Terapi antikoagulan 6. Hipertensi. Aneurisme 5. 3. Diskrasia darah . Trauma kepala.• Etiologi Intraserebral hematom dapat disebabkan oleh : 1.

2. 1. Hematom serbeller. Hematom pons-batang otak.• Klasifikasi Klasifikasi intraserebral hematom menurut letaknya . . 3. Hematom supra tentoral.

Kriteria diagnosis hematom serebeller . • Tetraparesa • Respirasi irreguler • Pupil pint point • Pireksia • Gerakan mata diskonjugat.Hemisensorik. • Ataksia • Tanda tanda peninggian tekanan intrakranial. • Tanda fokal yang mungkin terjadi . .Kriteria diagnosis hematom supra tentorial • nyeri kepala mendadak • penurunan tingkat kesadaran dalam waktu 24-48 jam. • Nyeri kepala akut. • . . • Penurunan kesadaran. Kriteria diagnosis hematom pons batang otak: • Penurunan kesadaran koma.Hemiparesis / hemiplegi.Hemi anopsia homonim .Parese nervus III. .

Pemeriksaan • Radiografi • CT-scan • MRI .

Pembedahan Kraniotomi .Bila perdarahan supratentorial lebih dari 30 cc dengan effek massa . Konservatif • Bila perdarahan lebih dari 30 cc supratentorial • Bila perdarahan kurang dari 15 cc celebeller • Bila perdarahan pons batang otak.Bila perdarahan cerebeller lebih dari 15 cc dengan effek massa .Terapi Untuk hemmoragi kecil treatmentnya adalah observatif dan supportif.

Komplikasi Intraserebral hematom dapat memberikan komplikasi berupa. meninggal Sedangkan outcome intraserebral hematom dapat berupa : • Mortalitas 20%-30% • Sembuh tanpa defisit neurologis . pembengkakan otak • Kompresi batang otak. • Oedem serebri.

LI 4. Setelah cedera. Jaringan otak tidak berbeda.   Patofisiologi yang berhubungan dengan Otak adalah pusat kendali tubuh. Saat otak mulai membengkak. otak terbatas dalam jumlah pembengkakan mungkin karena pembatasan fisik kubah tengkorak. Itu juga dilindungi oleh tulang yang membentuk kubah tengkorak. Memahami dan menjelaskan trias cushing Adanya hipertensi dan bradikardia peningkatan tekanan intrakranial. . Meskipun tengkorak membantu melindungi otak dari cedera. juga bisa melukai otak dengan membatasi ekspansi jaringan setelah cedera. Semua jaringan menanggapi cedera dengan pembengkakan dan pendarahan. otak akan membengkak. Namun. pada akhirnya akan mulai mengisi semua ruang yang tersedia dalam kubah tengkorak. Sebagian besar perdarahan ini mikroskopis dan terjadi relatif lambat. Ketika ini terjadi. tidak seperti jaringan tubuh lainnya. bahkan hanya di wilayah sekitar saja. tekanan dalam tengkorak mulai meningkat (TIK normal berkisar 5-15 mmHg).

22 De Jong. EGC.1995. New York. Anugrah P. Mardjono M. Dian Rakyat. Buergener F. Mekanisme Trauma Susunan Saraf. Thieme Medical Publisher. 254-259 Wahjoepramono Eka.. (2004). Differential Diagnosis in Computed Tomography. Jakarta.1996. 2005. W. Jakarta: EGC. McCarty L. edisi 4. Baert A. 1014-1016. Jakarta : FKUPH . Patofisiologi. Neurologi Kilinis Dasar. Jakarta. Cedera Susunan Saraf Pusat.. Cedera Kepala.L.A. Sidharta P. 2003.  Daftar Pustaka   Anderson S. Buku Ajar Ilmu Bedah.

Thank You .