You are on page 1of 23

PLENO

MODUL 2
TUTORIAL 11

ANGGOTA
Annisa Aprilia1318011017
Audya Pratiwi PR. 1318011026
Cantika Tara Sabilla 1318011038
Fuad Iqbal Elka P. 1318011075
M. Marliando Satria P. 1318011098
Meriska Cesia Putri 1318011106
Meti Destriyana 1318011107
Muhammad Jyuldi P. 1318011110
Putri Dhea Astuti1318011130
Putri Ria Aryanti 1318011131
Reffilia Irfa1318011137
Romana Julia Duma S. 1318011145

SKENARIO OS datang dengan keluhan kejang sejak 30 menit SMRS.5 tahun dan 3 tahun. sadar dan menangis sehabis kejang. Demam (+) sejak 1 hari SMRS.1g/dl (rendah). berkeringat dingin (-). selalu tinggi. Riwayat kejang dalam keluarga (+). Riwayat kejang (+) sebanyak 4 kali waktu umur 1 tahun. badan kaku. PP. mata mendelik ke atas. ht 35% (rendah). Kejang selalu didahului demam dengan durasi 1 menit. 1. Pemfis febris dengan suhu 39 C. Kejang kurang dari 1 menit. Cl darah 110mmol (tinggi) . mengigau. Hb 11. menggigil (-). Demam mendadak.

.STEP 1 Tidak ditemukan kata sulit pada skenario.

5.STEP 2 1. 2. Apa Diagnosis Banding dan Diagnosis Kerja dari kasus pada skenario? Apa saja tipe dari kejang? Bagaimana patofisiologi dari kejang demam? Alur diagnosis pada skenario? Bagaimana tatalaksana pasien pada kasus? . 4. 3.

APA DIAGNOSIS BANDING DAN DIAGNOSIS KERJA DARI KASUS PADA SKENARIO? Diagnosis kerja: (Skenario tidak lengkap. tidak mencantumkan umur Os) Kejang Demam. jika usia Os lebih dari 5 tahun maka diagnosisnya: epilepsi  Diagnosis banding:   Epilepsi  Gangguan elektrolit  Infeksi SSP  Trauma  Kelainan metabolik  Keracunan .

Kejang yang tidak terklasifikasi . Kejang parsial dengan kejang umum sekunder b. Spasme infantil . 2008) a. Kejang parsial kompleks . Absens . Klonik . Atonik c. Kejang primer umum . Kejang parsial sederhana .APA SAJA TIPE DARI KEJANG? Klasifikasi kejang menurut International League Againts Epilepsy (ILAE. Kejang parsial . Kejang neonatus . Tonik-klonik . Tonik .

BAGAIMANA PATOFISIOLOGI DARI KEJANG DEMAM? .

Riwayat kejang sebelumnya. Suhu tubuh dapat mencapai 39C .ALUR DIAGNOSIS PADA SKENARIO? a. Gambaran klinis . interval pasca kejang. lama kejang. Anak sering kehilangan kesadaran saat kejang . b. frekuensi. genetik. Anamnesis . Menentukan adanya kejang. kesadaran. jenis kejang. . riwayat kejang demam pada keluarga.

ALUR DIAGNOSIS PADA SKENARIO? c. EEG : gelombang abnormal berupa gelombang lambat fokal bervoltase tinggi. . . . Pungsi lumbal : pemeriksaan CSS . Pencitraan : CT Scan. kenaikan aktivitas delta. MRI . Pemeriksaan fisik dan laboratorium . Pada kejang demam kompleks dijumpai kelainan fisik neurologi berupa hemiplegi. gelombang relatif tajam. Pada kejang demam sederhana tidak terdapat kelainan.

BAGAIMANA TATALAKSANA PASIEN PADA KASUS?  Saat Kejang  DRABC (jalan nafas. ventilasi. sirkulasi) Longgarkan pakaian ketat  Baringkan  Posisi miring (jika mengeluarkan cairan)  Hiperekstensi leher dan rahang  Masukan handuk kecil mecegah lidah tergigit   Vital sign .

BAGAIMANA TATALAKSANA PASIEN PADA KASUS? .

2. 3.STEP 5 1. 5. 4. Tetanus? Bagaimana mekanisme kerja antikonvulsan? Malaria Serebral? Apa saja penyebab kejang? Rabies? .

tetani – kontaminasi pada abrasi kulit (luka) – hidup dan berkembang – toksin diabsorpsi di neuromuskular junction ke saraf. Lokal.  Patof: eksotoksin C.TETANUS? Infeksi akut yang disebabkan eksotoksi Clostridium tetani ditandai peningkatan kekakuan umum dan kejang otot rangka. Sefalik  . atau melalui pembuluh limfe & darah ke saraf pusat – toksin mempengaruhi jalur inhibisi (mencegah pelepasan glisin dan GABA) – aktivitas saraf motorik tidak terkendali – meningkatkan tonus & rigiditas otot  Klasifikasi tetanus: Generalisata.

TETANUS?  MK:  Periode inkubasi tetanus antara 3-21 hari  Rigiditas otot  Spasme otot  Ketidakstabilan otonom (saliva. vitamin b12 . gejala  Pemfis: Uji spatula (+) jika terjadi kontraksi rahang involunter (-) refleks muntah  Tatalaksana  Non-medikamentosa: pembersihan dan debridement luka yang kotor. diazepam. ruang rawat gelap  Medikamentosa: Penicilin. metronidazole. berkeringat)  Trismus  Kaku leher  Nyeri punggung  Diagnosis  Anamnesis: pertanyaan seputar luka.

yaitu:  Dengan mencegah timbulnya letupan depolarisasi eksesif pada neuron epileptik dalam fokus epilepsi.BAGAIMANA MEKANISME KERJA ANTIKONVULSAN? Terdapat dua mekanisme antikonvulsi yang penting.  Dengan mencegah terjadinya letupan depolarisasi pada neuron normal akibat pengaruh dari fokus epilepsi .

gangguan kesadaran.MALARIA SEREBRAL? Komplikasi berat dari infeksi plasmodium falciparum yang ditandai demam sangat tinggi.  Etiopatogenesis:  Sumbatan pada pembuluh darah kapiler otak karena menurunnya aliran darah efektif dan hemolisis  Sekuestrasi eritrosit . hemiplegi dan berakhir kematian. kejang.

Riwayat berkunjung di endemik malaria.  Pemeriksaan Fisik Demam Penurunan derajat kesadaran GCS <11 (bisa hingga koma) Ikterik Konjungtiva dan telapak tangan pucat Splenohepatomegali TD sistolik < 70mmHg Takipnea  Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan sediaan darah tebal dan tipis Rapid Diagnositic test (dipstick pendeteksi antigen) Serologi (ELISA) . berkeringat.MALARIA SEREBRAL?  Diagnosis  Anamnesis KU: demam menggigil.

9% dalam 4 jam. infus  Terapi Malaria Kinin dihidroksiklorida 10mg/kgBB IV dalam NaCl 0.MALARIA SEREBRAL?  Tatalaksana  Penanganan Umum ICU. GCS. kateter. diulang setiap 12 jam hingga sadar. Ht. Gula Darah . Hidrokortison 2 x 100mg/hari IV  Monitor TD. Hb.

hipoksia iskemik Trauma : perdarahan subarakhnoid. Kejang neonatus . parasit Kongenital : disgenesis. subdural atau intraventrikular Infeksi : bakteri. Asfiksia : ensefalitis. . . Toksik : intoksikasi anestesi lokal. sindroma putus obat Kelainan yang diturunkan (gangguan metabolisme asam amino. korteks serebri Ekstrakranial b.APA SAJA PENYEBAB KEJANG? Intrakranial a. . . hipokalsemi. gangguan elektrolit. . . Gangguan metabolik (hipoglikemi. ketergantungan dan kekurangan asam amino) Idiopatik c. virus. . .

RABIES? Penyakit menular akut yang menyerang susunan saraf pusat disebabkan virus rabies dan ditularkan melalui gigitan  Manifestasi Klinis:  Stadium prodromal non spesifik  Stadium sensoris  Stadium neurologik akut Eksitasi  Paralitik  .

28 Regimen Zagreb: pada hari 0. 5ml .7.3. Luka diberikan antiseptik dan luka tidak dijahit  Pemberian VAR (Vaksin anti rabies) Regimen Essen: pada hari 0. bulat dengan butir basilofilik yang berupa komponen virus protein ribonuklear fragmen organel selular Tatalaksana  Penanganan luka: cuci dengan air mengalir dan sabun selama 10-15 menit.RABIES?   Pemeriksaan Penunjang Darah perifer: leukositosis Urinalisis: albuminuria mikroskopis: ditemukan badan Negri.21 Dosis kedua VAR.14.7.

THANKYOU .