You are on page 1of 22

SICK BUILDING

WHEN GOOD AIR


GOES BAD
SYNDROME

PENDAHULUAN
Apa itu Sick Building Syndrome? Sick Building Syndrome ( SBS )
atau yang disebut juga demgan Tight Building Syndrome atau
Building Related Illness / Building Related Occupant Complaints
Syndrome adalah Situasi dimana penghuni Gedung ( Bangunan
) mengeluhkan permasalahan Kesehatan dan kenyamanan
yang akut, yang timbul berkaitan dengan waktu yang
dihabiskan dalam suatu bangunan, namun gejalanya tidak
spesifik dan penyebabnya tidak dapat diidentifikasikan ( EPA,
1991 ) dan juga merupakan kumpulan permasalahan kesehatan
yang berhubungan dengan kualitas udara dalam lingkungan
( Engelhart, 1999 ) atau juga yang dapat didefenisikan sebagai
keluhan yang tidak spesifik dari penghuni ruagnan ber AC

PENGERTIAN SICK BUILDING


SYNDROME

SBS,
merupakan kombinasi dari
sindrom
yang
terkait
dengan
lingkungan kerja atau tempat tinggal.
Menurut WHO, penyebab dari SBS ini
sebagian besar adalah kualitas udara
ruangan yang kurang baik.
SBS ini sangat berbahaya, karena
mengakibatkan
dampak-dampak
buruk
bagi
karyawan.
Akibat
lingkungan
kerja
yang
kurang
kondusif, maka karyawan jadi lebih
sulit
konsentrasi,
akibatnya
produktivitas berkurang, kepuasan
kerja rendah, turnover karyawan
tinggi, karyawan sering sakit sehingga
tingkat absensi tinggi. Akibatnya tentu
kinerja
perusahaan
secara
keseluruhan jadi tidak optimal

Manusia menghabiskan 90 % waktunya


dalam lingkungan konstruksi. Baik itu
dalam bangunan kantor ataupun rumah
yg mungkin sekali kualitas udara dalam
ruangannya tercemar oleh chemical yang
berasal dari luar maupun dalam ruangan,
tercemar oleh mikroba ataupun yang
disebabkan karena ventilasi udara yg
kurang baik. Contoh polutan yang bisa
mencemari ruangan misalnya asap rokok,
ozone yg berasal dari mesin fotocopy &
printer; volatile organics compounds yg
berasal dari karpet, furniture, cat,
cleaning agents dsb; debu, carbon
monoxide, formaldehyde, dll.
Keluhan utama yang ditimbulkan dari
pencemar udara dalam ruangan itu bisa
berupa iritasi ( mata berair, bersin, hidung
tersumbat, gatal tenggorokan ), sesak
napas, sakit kepala, kelelahan, gejala
seperti flu dan bronkitis.

PENYEBAB SICK BUILDING SYNDROME


Beberapa faktor yang mungkin menjadi penyebab SBS:
Air conditioner yang desainnya kurang baik
Pemeliharaan ventilasi kurang baik
Sehu dan tingkat kelembapan yang terlalu tinggi
Udara yang terlalu kering
Polutan dalam ruangan, misalnya seperti serpihan
yang berasal dari makanan, pakaian, sepatu dan debu
Rendahnya jumlah ion negative di udara, yang salah
satunya mengakibatkan aliran oksigen terhambat.
Dan sejumlah kondisi buruk lain di lingkungan kerja,
termasuk hubungan buruk dengan rekan kerja

Menurut Trasher, USA ( 1989 )


menyebutkan
bahwa
SBS
dihubungkan dengan reaksi kimia
yaitu:
Formaldehid ( HCHO )
Toluene Di Isocyanete ( TDI )
Tri Mellitick Anhidride ( TMA )
Volatile Organic Chemicals ( VOC )

Dengan Gejala :
Gangguan

mata/penglihatan,
hidung, sinus, tulang, saraf
Ada Zat anti HCHO, TDI, TMA
menimbulkan
adanya
respon
imunologis yang bersifat sinergistik

Ada pula beberapa penyebab lainnya adalah polutan


yang dapat mencemari ruangan, misalnya asap rokok,
ozon yang berasal dari mesin fotocopy dan printer,
volatile organics compunds yang berasal dari karpet,
,perabot cat, bahan pembersih, debu, carbon
monoxide, formaldehyde dan masih banyak lagi.
Kualitas udara dalam ruangan atau Indoor Air Quality
(
IAQ
)
yang
buruk
dapat
mengakibatkan
ketidaknyamanan dan gangguan kesehatan pada
penghuni ruangan (gedung, rumah. atau perkantoran ).
Sehingga muncul beberapa keluhan non-spesifik yang
diderita oleh beberapa penghuni dalam suatu ruangan
yang lebih dikenal dengan Sick Building Syndrome.
Pada umumnya efek yang ditimbulkan berupa efek akut
atas gangguan dan rasa ketidaknyamanan tersebut.

Untuk menjaga suhu ruangan udara tetap dingin,


digunakan AC. Tidak adanya ventilasi tidak mengurangi
kenyamanan gedung. Sangat nyaman, sampai-sampai
tidak banyak yang menyadari bahwa sumber polusi berasal
dari ruangan kerja itu sendiri. Sick Building Syndrome
memang sangat berpeluang terjadi di gendung-gedung
perkantoran dengan dinding kaca.
Bangunan yang ventilasinya tak cukup pun menyebabkan
tidak adanya sirkulasi udara segar di dalam ruangan
menjadi snagat terbatas. Molekul-molekul yang kecil, yang
tidak dapat kita lihatberkembang dengan baik di udara
yang lembab. Tak terhindarkan, molekul-molekul itupun
masuk ke dalam saluran pernapasan melalui udara yang
kita hirup.

GEJALA AKIBAT SICK BUILDING SYNDROME


1.
2.
3.
4.

Lethargi ( perasaan yang tidak enak/nyaman )


Iritasi Membran Mukosa
Sakit kepala dan iritasi mata
Gangguan penglihatan dan kekeringan kulit

Gejala lain yang ditemukan:

Sakit Kepala - Gangguan Nafas


Lesu. Letih - Gangguan membran mukosa

Gejala kemungkinan sebagai


adanya ion-ion dalam udara:

efek

biologis

yaitu

Ion
negatif
yang
tinggi
dapat
memanjangkan/memperbanyak waktu reaksi / kerja
seseorang
Ion positif yang tinggi dapat menimbulkan gejala
Deleterious, gangguan pernafasan akut ats , sakit
kepala, alergis ( asthma, alveolitis ), gangguan
mata/penglihatan, pening, sukar bernafas.

Dan menurut Tjandra Yoga


Adhitama ( 2002 ) efek
yang bisa di timbulkan
antara lain:
1.

Iritasi selaput lendir


Iritasi pada mata, pedih,
merah dan berlendir.

2.

Iritasi hidung, bersin,


gatal
Iritasi tenggorokan, sakit
menelan, gatal, batuk
kering

3.

Gangguan Neurotoksik
sakit kepala
lemah/capai
mudah tersinggung
Sulit Berkonsentrasi

4.

Gangguan paru dan


pernapasan
Batuk
Sesak Napas
Rasa Berat di Dada

5.

Gangguan Kulit
Kulit kering
Kulit Gatal

6.

Gangguan Saluran Cerna


Diare

7.

Gangguan lainnya
Gangguan Perilaku
Gangguan Saluran
kencing
Sulit Belajar

Dari semua keluhan di atas, mungkin juga disebabkan


oleh faktor lain dan tidak karena IAQ yang buruk.
Namun ada juga yang mengatakan bahwa bila
sebanyak lebih dari 20 % - 50% jumlah penghuni
gedung ( Building occupants ) yaitu orang yang bekerja
didalam gedung dalam periode waktu tertentu,
megeluhkan keluhan yang sama dari beberapa keluhan
diatas dapat di duga berpotensi terjadinya SBS.
Perlu diingat bahwa efek dari masalah IAQ merupakan
keluhan yang tidak spesifik dari pada didefinisikan
sebagai penyakit yang pasti. Sehingga indikator
kesehatan yang ditimbulkan SBS hanya sebats keluhan
non spesifik. Namun kendati keluhan dari SBS dapat
dikategorikan
tidak
berat,
seringkali
terasa
mengganggu dan pada akhirnya mempengaruhi
produktivitas kerja.

Dalam beberapa penelitian


rekan-rekan
akademisi
mengenai
SBS,
mengemukakann
banyak
sekali confounding factors
bahwa
SBS
ini
dapat
menimbulkan
suatu
penyakit. Penyakit ini lebih
cenderung mengarah pada
penyakit flek pada paru dan
penyakit
ini
merupakan
akibat efek kronik 10-15
tahun. ( Building Related
Illness BRI )

Indikator lain yang sebaiknya diperhatikan adalah hilang


munculnya gejala. Jadi semacam sebuah perasaan aneh
yang dirasa oleh jiwa seseorang. Gangguan kesehatan
gejalanya akan timbul selama berada didalam suatu
ruangan, hilang bila telah meninggalkan ruangan, dan
dirasakan kembali setelah kembali ke ruangan tersebut.
Gejalanya misalkan badan terasa pegal, sesak napas,
pusing, pilek, serta lelah letih lesu. Keluhan lain seperti mata
merah, perut kembung, migrain dan mata berair, pilek, sulit
berkonsentrasi, sakit tenggorokan, sesak napas, batuk,
mual, kulit kering, jantung berdegup kencang, gangguan
pada kehamilan mimsan, dan batuk kering sering juga
dirasakan.
Resiko lain menderita gangguan SBS terkait erat dengan
faktor lingkungan yang menjadi media pencemar fisik, kimia,
biologis, dan radiasi dimana kita kontak relatif lama terjadi.

MENGATASI SICK BUILDING SYNDROME


Untuk mengatasi Sick Buiding
implementasikan beberapa solusi:

Syndrome

ini,

maka

dapat

di

Ajukan kepada atasan anda untuk memasang ionizer, yang berfungsi


untuk memperbaiki kualitas udara
Taruh vas atau pot bunga yang berisikan tanaman hidup, selain
meningkatkan kelembapan juga menghasilkan oksigen
Jangan menggunakan lampu yang sinarnya terlalu terang atau
menyilaukan
Menjaga ruang kerja supaya tetap bersih, dimana setiap karyawan
bertanggung jawab terhadap meja kerjanya. Debu yang berlebihan
dapat mengakibatkan alergi dan SBS
Lakukan istirahat sejenak secara rutin, beranjaak dari kursi dan
berusaha mencari udara segar.
Ketika jam istirahat, lakukan lunch di luar gedung, jangan makan sambil
kerja, jika anda terlalu sibuk, tetap usahakan isitrahat keluar sejenak
Jangan langsung masuk ke keramaian atau transportasi umum seusai
bekerja, jalanlah sejenak untuk menghirup udara segar.
Jika langkah-langkah diatas gagal, hubungi atasan anda untuk
mengambil solusi yang lebih tepat

Untuk masalah teknik pengendaliannya mungkin adalah:


A.

Mengendalikan sumber kontaminan antara lain:


1. Menghilangkan ( tidak mungkin ) atau paling tidak
dapat mengurangi sumber kontaminan. Misal
membatasi atau memberikan ruang untuk para
perokok yang ingin merokok di dalam kantor atau
ruangan.
2. mengisolasi sumber kontaminan tersebut, misal
memakai bahan2 didalam gedung yang tidak
mengandung formaldehyde atau kadarnya dibawah
nilai NAB.
3. memodifikasi lingkungan kerja misal untuk
mengontrol tingkat kelembaban dengan menambah
bahan serap pada atap ( langit2 ) untuk mencegah
kondensasi di permukaan langit2.

B.

Kontrol sistem ventilasi dalam gedung misal


membersihkan fan atau filter secara berkala dan
memberikan disenfektan.

C.

Pembersihan udara, hal ini tergantung teknologi


sistem ventilasi yang di gunakan di dalam gedung.
Secara umum ada 4 teknologi: particulate filtration,
electrostatic, negative ion generation, gas sorption.

D.

Mengendalikan
tingkat
pemajanan
dengan
pendekatan administatif, misal : merelokasi individu
yang rentan dari area dimana mereka mengalami
keluhan, pendidikan & promosi kesehatan terhadap
penghuni gedung sehingga mereka sadar dan
menghindari dari sumber2 kontaminan.

Paparan radikal bebas memang sulit untuk dihindari.


Beberapa sumber lain yang ada menyebutkan jika
dibutuhkan asupan antioksidan yang bisa menangkal
radikal bebas berlebih di dalam tubuh. Salah satu
asupan antioksidan yang dapat anda pilih adalah
suplemen nutrisi antioksidan yang diperkaya vitamin
C, E, Zinc dan Selenium. Upaya ini sekiranya dapat
dijadikan penopang daya tahan tubuh terhadap gejala
SBS.

Upaya meminimalisir gejala SBS


ini juga dapat dilakukan dengan
mengurangi masa penggunaan
AC,
ada
baiknya
sebelum
memasuki ruangan ber AC, AC
dinyalakan dulu 1 jam lebih
awal,
melakukan
perawatan
lingkungan kerja dengan baik,
dokumen lama disimpan dengan
rapi di tempat tertutup sehingga
tidak menjadi tempat timbunan
debu,
kurangi
penggunaan
wewangian
ruangan
yang
mengandung
bahan-bahan
kimia, dan tempatkan tanaman
hias dalam ruangan kerja untuk
mengurangi udara kotor dalam
ruangan.

TERIMA KASIH