You are on page 1of 60

PRESENTASI KASUS

OS ENTROPION
PALPEBRA INFERIOR ,
ODS KATARAK IMATUR
DAN ODS PRESBIOPIA
Dokter Pembimbing :
dr. Hari Trilunggono, Sp.M
dr. Dwidjo Pratiknjo, Sp.M
Oleh:
Mesiwisani
1420221124
KEPANITERAAN KLINIK DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN UPN VETERAN JAKARTA
RST dr. Soedjono Tingkat II Magelang
2016

IDENTITAS PASIEN

Nama
:
Umur
:
Alamat
:
Pekerjaan
Status Menikah
Nomer RM

Tn. S
73 Tahun
Candimulyo
: Petani
: Sudah Menikah
: 00xxxx

ANAMNESA

Keluhan Utama
Mata kiri bawah terasa
mengganjal dan perih

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke poli mata RST Magelang, dengan
keluhan mata kiri bawah terasa ada yang mengganjal.
Sehingga pasien merasakan pedas, merah, dan
nerocos. Keluhan tersebut pertama kali dirasakan pada
mata kanannya dahulu 1,5 tahun yang lalu dan 7 bulan
kemudian pasien juga merasakan hal yang sama pada
mata kirinya. Pasien sudah beberapa kali datang ke poli
mata dengan keluhan tersebut dan didapatkan bulu
mata yang masuk ke arah dalam pada kedua mata,
kemudian dilakukan pencabutan bulu mata pada
kelopak bawah mata kanan dan kiri. Tiga hari sebelum
jadwal kontrol ke poli mata, pasien merasakan keluhan
bertambah pada mata kiri hingga datang ke poli.

Pasien juga mengeluhkan kedua mata terasa


kabur seperti melihat kabut. Keluhan seperti ini
dirasakan awalnya pada mata sebelah kanan
sekitar 1 tahun yang lalu. 6 bulan kemudian
keluhan juga dirasakan pada mata kirinya.
Pasien tidak memeriksakan keluhannya karena
merasa belum terganggu. Pasien mengaku jika
semakin malam penglihatan membaik, pasien
juga mengaku dulu jika membaca dekat tidak
jelas namun sekarang menjadi lebih jelas.

Untuk kedua mata, sejak sekitar usia 45 tahun,


pasien mengaku mata sering lelah, mata cepat
berair, dan pengelihatan kabur saat melihat
dekat seperti saat membaca Al-Quran dan lebih
nyaman membacanya saat dijauhkan. Pasien
tidak mau memeriksakan matanya karena
pasien merasa belum terganggu.
Keluhan mata merah, cekot-cekot, nyeri kepala,
mual, muntah, seperti melihat pelangi, keluar
belek, mata silau, semua disangkal oleh pasien.
Pasien tidak merokok dan konsumsi alkohol.

Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat diabetes melitus : disangkal.


Riwayat trauma mata : disangkal.
Riwayat hipertensi : disangkal
Riwayat mengkonsumsi obat-obatan tertentu
dalam waktu lama disangkal
Riwayat penggunaan kacamata
plus/minus/silindris : tidak pernah

Riwayat Penyakit Keluarga


Keluarga pasien tidak ada yang memiliki keluhan
bulu mata yang masuk yang sama seperti pasien
Riwayat diabetes mellitus pada keluarga disangkal
Riwayat keluarga menderita penyakit pada mata
disangkal.

Riwayat Sosial Ekonomi


Pasien merupakan seorang petani dan biaya
pengobatan ditanggung BPJS
Kesan: sosial ekonomi kurang

PEMERIKSAAN FISIK
Status Umum

Kesadaran : compos mentis


Keadaan umum : tampak sakit ringan
Aktivitas : normoaktif
Kooperatif
: kooperatif

Vital Sign

TD : 130/80 mmHg
Nadi : 81 x/menit
RR : 22 x/menit
Suhu : 36,50

Status Generalis
Kepala : dalam batas normal

Status Ophthalmicus
Oculus
Dexter

Kekeruhan
lensa
sebagian

Oculus
Sinister

Kekeruhan
lensa
sebagian

Kelopak mata
melipat ke arah
dalam

No.
Pemeriksaan
1. Visus

2. Lapang Pandang
3. Bulbus Okuli
- Gerak bola mata
- Strabismus
- Eksoftalmus
- Endoftalmus
4. Supracilia
- Kedudukan
- Jaringan parut
5. Palpebral Superior
- Edema
- Hematoma/Brill
hematoma
- Trikiasis
- Blefarospasme
- Ektropion
- Entropion
6. Palpebral Inferior
- Edema
- Hematoma/Brill
hematoma
- Madarosis
- Blefarospasme
- Ektropion
- Entropion

OD
OS
4/60 NC
6/30 NC
add S+3 J2
Normal
Normal

Segala arah
Segala arah

Simetris
Simetris

Tidak ditemukan
Tidak
ditemukan

+
+
Tidak ditemukan
+

7.

Konjungtiva
Edema
Injeksi konjungtiva
Injeksi siliaris
Sekret
Folikel
Ekstravasasi darah

8.

Sklera
Warna
Laserasi
Kornea
Kejernihan
Edema
Infiltrat
Ulkus
Sikatrik

Putih

Jernih
Tidak ditemukan
-

COA
Kedalaman
Hifema
Hipopion
Iris
Warna
Sinekia
Seklusio

Tidak dangkal

Coklat
-

9.

10.

11.

Tidak
ditemukan
Tidak
ditemukan

Putih

Jernih
Tidak
ditemukan
Tidak
ditemukan
Tidak
ditemukan
Tidak
ditemukan

Tidak dangkal

Coklat
-

12.

13.

14.
15.
16.

17.

Pupil
Letak
Bentuk
Reflex L&TL
Diameter
Pupil isokor

Lensa
Kejernihan
Iris shadow
Dislokasi lensa
Corpus Viterum
Kejernihan
Hemoftalmus
Fundus reflex
Funduskopi :
Fokus
Papil N. II

Vasa

Macula
Retina

TIO (palpasi)

Sentral
Bulat
+/+
2mm

Sentral
Bulat
+/+
2mm

isokor

Keruh sebagian
+

Jernih
+ agak suram

Keruh sebagian
+

Jernih
+ agak suram

0
Batas tegas, warna
jingga, ekskavasasi (-)
CDR 0,3, edema (-),
fundus tigroid (-)
AVR 2:3, medialisasi (-),
mikroaneurisma (-),
Crossing sign (-)
Fovea reflek (+)
Perdarahan (-), cotton
wool patch (-)
Tidak meningkat

0
Batas tegas, warna
jingga, ekskavasasi (-)
CDR 0,3, edema (-),
fundus tigroid (-)
AVR 2:3, medialisasi
(-), mikroaneurisma (-)
Crossing sign (-)
Fovea reflek (+)
Perdarahan (-), cotton
wool patch (-)
Tidak meningkat

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pada pasien ini tidak diperlukan pemeriksaan
penunjang

DIAGNOSA DIFFERENSIAL
OS ENTROPION PALPEBRA INFERIOR
OS Entropion Palpebra Inferior
Dipertahankan, karena pada pasien didapatkan keluhan pedas, merah,
nerocos, bulu mata masuk ke dalam mata. Dari pemeriksaan didapatkan
entropion. Hal tersebut merupakan gejala dan tanda dari entropion.

OS Entropion Palpebra Superior


Disingkirkan, karena pada pasien tidak didapatkan tanda entropion
palpebra superior yaitu kelopak mata atas yang masuk ke dalam.

OS Distikiasis
Disingkirkan karena pada pasien kelainanya bukan bersifat kongenital,
tidak terdapat duplikasi bulu mata di daerah tempat keluarnya saluran
meibom dimana hal-hal tersebut merupakan gejala dan tanda distikiasis.

ODS KATARAK IMATUR


ODS Katarak Imatur
Dipertahankan, karena pada anamnesa didapatkan usia pasien
yang sudah lebih dari 70 tahun , keluhan kedua mata terasa
kabur seperti melihat kabut, semakin malam penglihatan
membaik, pasien juga mengaku dulu jika membaca dekat tidak
jelas namun sekarang menjadi lebih jelas. Pada pemeriksaan
didapatkan adanya lensa keruh sebagian, iris shadow (+),
fundus refleks + suram. Hal-hal tersebut merupakan gejala dan
tanda dari katarak imatur.

ODS Katarak Insipien


Disingkirkan karena pada pasien didapatkan penurunan visus ,
iris shadow (+). Sedangkan pada katarak insipien tidak
didapatkan penurunan visus, iris shadow (-).

ODS Katarak Matur


Disingkirkan karena pada pasien didapatkan visus OD 4/60 NC
dan OS 6/30 NC , COA tidak dangkal, iris shadow (+), lensa
keruh sebagian, fundus refleks +suram. Sedangkan pada
katarak matur didapatkan visus 1/300, COA dalam, iris shadow
(-), lensa keruh seluruhnya, fundus refleks (-).

ODS Katarak Senilis Hipermatur


Disingkirkan karena dari hasil pemeriksaan didapatkan
COA tidak dangkal, iris shadow (+), lensa keruh sebagian,
fundus refleks +suram.Sedangkan pada katarak
hipermatur didapatkan kekeruhan total lensa dengan
permukaan rata karena lensa telah m.encair, COA dalam,
iris Shadow (-).

ODS PRESBIOPIA
ODS Presbiopia
Dipertahankan, karena dari anamnesa pasien saat
usia 45 tahun mengaku mata sering lelah, mata
cepat berair, dan pengelihatan kabur saat melihat
dekat seperti saat membaca Al-Quran dan lebih
nyaman membacanya saat dijauhkan. Hal tersebut
merupakan gejala dan tanda dari presbiopia.

ODS Hipermetropia
Disingkirkan, karena pada pasien hanya melihat
kabur saat melihat dekat. Pada hipermetropia
gejalanya adalah melihat jauh kabur dan melihat
dekat lebih kabur lagi.

DIAGNOSA KERJA
OS Entropion Palpebra Inferior
ODS Katarak Imatur
ODS Presbiopia

PENATALAKSAAN
OS ENTROPION PALPEBRA INFERIOR
Medikamentosa
Topical
Tetracain 2 dd gtt 1 OS (Pre Operatif)
Tetracain 1 dd gtt 1 OD (Pre operatif)
Oral
Tidak ada
Parenteral
Tidak ada
Operatif
Koreksi OS entropion

Laporan operasi
1.

2.
3.
4.
5.
6.
7.

8.

Pasien tidur terlentang,


disinfeksi lalu tutup
dengan duk steril
Buat marker pada
palpebra inferior
Injeksi pehacain, subkutis
Angkat kulit sesuai
marker
Angkat musculus
orbicularis
Cauter, atasi perdarahan
Jahit kulit musculus yang
terobek dengan prolen
7,0
Beri salep erlamycetin

Nonmedikamentosa
Epilasi
Terapi kontak lensa
untuk melindungi
kornea.

ODS KATARAK IMATUR


Medikamentosa
Topikal
CaCl2 anhidrat 0,075 gram
Kalium Iodida 0,075 gram
3dd gtt 1 ODS
Natrium Tiosulfat 0,0075 gram
Fenilmerkuri nitrat 0,3 mg
Natrium Klorida 8,64 mg
Kalium Klorida 1,32 mg3 dd gtt 1 ODS
Oral
Neurodex tab 1x1
Parenteral
Tidak ada
Operatif
EKEK
Fakoemulsifikasi
SICS

Nonmedikame
ntosa

Tidak ada

ODS PRESBIOPIA
Medikamentosa
Topikal
Tidak ada
Oral
Tidak ada
Parenteral
Tidak ada
Operatif
Tidak ada

Nonmedikamentosa
Kaca Mata : S +3,00

PROGNOSIS

Quo ad visam
Quo ad sanam
Quo ad
fungsionam
Quo ad
kosmetikam
Quo ad vitam

OD

OS

Dubia Ad
bonam
Ad bonam

Dubia Ad
Bonam
ad bonam

Ad bonam

ad bonam

Ad bonam

Dubia ad
bonam
Ad bonam

Ad bonam

KOMPLIKASI
Entropion
Konjungtivitis iritatif
Keratitis
Ulkus kornea

Katarak imatur
Glaukoma sekunder sudut tertutup

Presbiopia
Tidak ada

EDUKASI
OS ENTROPION PALPEBRA SUPERIOR
Memberitahu kepada pasien bahwa keluhan mata merah, pedas,
nerocos disebabkan karena bulu mata yang masuk ke arah dalam
mata yang diakibatkan kelopak mata bagian bawahnya melipat
kearah dalam.
Menjelaskan kepada pasien bahwa melipatnya kelopak mata pasien
kearah dalam ini diakibatkan karena berkurangnya jaringan elastis
pada kelopak mata bawah pasien yang terjadi seiring bertambahnya
usia. Maka dari itu keluhan ini juga bisa terjadi pada mata kanannya.
Menjelaskan kepada pasien bahwa karena penyebab keluhannya
adalah melipatnya kelopak mata pada bagian bawah kearah dalam,
maka terapi cabut bulu mata saja tidak dapat menghilangkan
keluhannya dan harus dilakukan operasi pada kelopak mata bawah
kiri untuk menghilangkan keluhannya, namun akan terdapat bekas
operasi pada kelopak bawah mata pasien.

Menjelaskan kepada pasien bahwa keluhan akan


hilang setelah dilakukan operasi. Namun jika
dibiarkan akan mengakibatan penyakit lain pada
mata akibat bulu mata yang masuk kearah dalam
mata, penyakit tersebut dapat berupa
peradangan pada lapisan bening mata (kornea)
yang kemudian dapat menyebabkan gangguan
pengelihatan menetap.
Setelah operasi agar menjaga kebersihan luka
operasi supaya penyembuhannnya dapat
berlangsung dengan baik.

ODS KATARAK IMATUR


Menjelaskan bahwa pengelihatannya kabur disebabkan karena adanya
kekeruhan pada lensa mata kanan dan kiri pasien
Menjelaskan bahwa kekeruhan pada lensa mata pasien ini terjadi
karena adanya pengurangan masa lensa karena proses penuaan.
Memberi penjelasan bahwa kekeruhan yang ada pada lensa semakin
lama akan semakin berat seiring berjalannya waktu, sehingga
penurunan tajam penglihatan dapat terus terjadi.
Menjelaskan kepada pasien bahwa pada katarak terdapat beberapa
stadium (insipient, imatur, matur, hipermatur) yang juga akan
mempengaruhi terapinya. Kedua mata pasien sedang pada stadium
imatur. Ada tiga pilihan terapi operatif untuk pasien yaitu yang pertama
fakoemulsifikasi. Fakoemulsifikasi dapat dilakukan pada pasien tanpa
menunggu kataraknya matang, pada fakoemulsifikasi memiliki
keuntungan tidak menimbulkan luka pada mata, namun kelmahannya
adalah jika fakoemulsifikasi dilakukan pada stadium imatur dimana
lensa belum keruh seluruhnya, maka lensa yang jernih memiliki
kemungkinan tertinggal dan mengakibatkan katarak lagi. Pilihan terapi
operatif yang kedua adalah Ekstraksi Katarak Ekstrakapsuler (EKEK)
dimana pada teknik ini pasien harus menunggu sampai kataraknya
matang (stadium matur) namun kita tidak dapat memastikan kapan
katarak pasien memasuki stadium matur. Yang ketiga adalah SICS.

Menjelaskan kepada pasien bahwa obat tetes


mata hanya akan memperlambat proses
pematangan katarak, bukan untuk menghilangkan
katarak.
Setelah dioperasi, jika tidak ada kelainan pada
struktur mata yang lain, maka pengelihatan
pasien akan menjadi lebih jelas.
Memberi tahu pasien jika pasien merasa mata
merah,cekot-cekot, pusing dan seperti melihat
pelangi maka segera ke dokter.

ODS PRESBIOPIA
Menjelaskan bahwa penurunan tajam pengelihatan mata yang
dialami disebabkan oleh melemahnya otot mata karena
penuaan dan hal ini normal terjadi pada usia diatas 40 tahun,
dan bukan merupakan suatu penyakit dan keadaan ini tidak
dapat dihilangkan atau mata tidak dapat menjadi normal
kembali.
Menjelaskan bahwa saat usia tua mata membutuhkan bantuan
untuk membaca jarak dekat dengan kaca mata baca.
Menjelaskan bahwa penurunan tajam pengelihatan ini dapat
terjadi terus sehingga pasien harus rutin kontrol dan
menyesuaikan ukuran kaca mata baca pasien dengan
pertambahan usia.
Menjelaskan bahwa setiap pertambahan usia 5 tahun, koreksi
kacamatnya akan ditambah +0,5. Maka dari itu pasien akan
berganti-ganti kacamata sampai usia 60 tahun. Setelah usia
tersebut pasien akan tetap menggunakan kacamata +3,00 dan
tidak diganti lagi.
Mengingatkan pasien untuk memperhatikan sumber
pencahayaan saat membaca, terutama pada malam hari.

RUJUKAN
Dalam kasus ini tidak diperlukan Rujukan ke
Disiplin Ilmu Kedokteran Lainnya.

ENTROPION

Definisi
Entropion adalah suatu keadaan melipatnya
kelopak mata bagian tepi atau margo palpebra
kearah dalam. Hal ini menyebabkan 'trichiasis'
dimana bulu mata yang biasanya mengarah
keluar kini menggosok pada permukaan mata.

Epidemiologi

sering
ditemukan
pada usia
yang lebih tua
(involusional),
biasanya
pada umur
>60 tahun

tidak ada
perbedaan
gender

Entropion
kelopak mata
bawah lebih
sering terjadi
daripada
entropion
kelopak mata
atas.

Etiologi

Involusi
akibat dari proses penuaan
degenerasi progresif jaringan fibrous
dan elastik kelopak mata bawah
paling sering ditemukan pada kelopak
bawah dan merupakan akibat
gabungan kelumpuhan otot-otot
retraktor kelopak bawah, migrasi ke
atas muskulus orbikularis preseptal,
dan melipatnya tepi tarsus atas

Etiologi

Sikatrik
jaringan parut di konjungtiva atau
tarsus
paling sering ditemukan pada
penyakit-penyakit radang kronik
seperti trakoma
penyakit autoimun (sikatrik
pemfigoid dan sindrom steven
johnson), inflamasi, infeksi (herpes
zooster, trakoma), tindakan bedah

Etiologi

Kongenital
jarang ditemukan
Entropion kongenital dapat
menyebabkan erosi kornea
kronik dan blefarospasm.
Dapat terjadi trauma pada
kornea yang menyebabkan
terbentuknya ulkus pada bayi.

Etiologi

Entropion Spastik Akut


biasanya terjadi pada iritasi maupun
inflamasi okuli dimana terjadi
pembengkakan pada kelopak mata
dan spasme otot orbikularis
Kontraksi otot orbikularis kelopak
mata yang tertahan menyebabkan
rotasi ke dalam tepi kelopak
mataKontraksi otot orbikularis
kelopak mata yang tertahan

Gejala klinis
Anamnesa

Px.Fisik

rasa tidak
nyaman seperti
adanya sensasi
benda asing
mata berair
mata merah
gatal
mata kabur
Fotofobia
Entropion kronis
sensitifitas
terhadap cahaya
dan angin

Kerusakan pada
epitel
konjungtiva atau
kornea akibat
trauma
Hiperemia pada
konjungtiva yang
terlokalisasi
Jaringan parut
pada konjungtiva

Penatalaksanaan
Nonmedikamentosa
Menarik kulit palpebra ke arah pipi
sehingga menjauh dari bola mata
Epilasi (cabut bulu mata)
Terapi kontak lensa (hidrogel, hidrogel
silikon, yang memiliki diameter lebih
besar dari kornea atau sklera) untuk
melindungi kornea

Medikamentosa
Tarsotomi
Hotz

KOMPLIKASI
Konjungtivitis.
Peradangan pada konjungtiva. Akan terlihat lapisan putih yang
transparan pada mata dan garis pada kelopaknya. Entropion dapat
menyebabkan konjungtiva menjadi merah dan meradang, dan
menimbulkan infeksi.

Keratitis
Suatu kondisi dimana kornea meradang. Masuknya bulu mata dan tepi
kelopak ke kornea dapat menimbulkan iritasi dan rasa sakit. Jaringan
parut akan terbentuk dan dapat menyebabkan kehilangan penglihatan.

Ulkus kornea
Ulkus kornea adalah ulkus yang terbentuk di kornea, dan biasanya
disebabkan oleh keratitis. Kondisi ini sangat serius karena dapt
menyebabkan kehilangan penglihatan. Sangat penting utnuk segera
berobat ke dokter jika mata menjadi maerah, mata terasa sakit atau
seperti ada yang mengganjal di dalam mata.

KATARAK

DEFINISI
kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat
hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi
protein lensa atau akibat keduanya. Biasanya
kekeruhan mengenai kedua mata dan berjalan
progresif ataupun dapat tidak mengalami
perubahan dalam waktu yang lama.

FAKTOR RISIKO
Faktor
individu

Faktor individu yang mempengaruhi


diantaranya ras, keturunan dan usia pasien

Faktor
lingkunga
n

Bahan toksik dan merokok merupakan


faktor lingkungan yang dapat
mempengaruhi

Orang yang tinggal di daerah pegunungan banyak


mengkonsumsi protein hewani yang bisa
Faktor
menghambat katarak dengan jalan mencegah
nutrisi
denaturasi protein

EPIDEMIOLOGI
Katarak senilis terjadi pada usia lanjut, yaitu di
atas 60 tahun. Insidensi katarak di dunia
mencapai 5-10 juta kasus baru tiap tahunnya.

GEJALA KLINIS
Penglihatan tidak jelas/kabur, seperti terdapat
kabut menghalangi objek
Peka terhadap sinar atau cahaya
Lebih nyaman pada malam hari/diruangan
tertutup
Lensa mata berubah menjadi buram
Pengelihatan lebih jelas dari sebelumnya pada
presbiop

KLASIFIKASI
Berdasarkan Usia
Katarak kongenital, katarak yang sudah terlihat pada usia
di bawah 1 tahun
Katarak juvenil, katarak yang terjadi sesudah usia > 3
bulan tetapi kurang dari 9 tahun
Katarak senil, katarak setelah usia 50 tahun

Bedasarkan Letak
Katarak Nuklear

Katarak Kortikal

Katarak Subkapsularis Posterior

Berdasarkan Stadium (katarak senilis)

PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan pada katarak adalah tindakan
pembedahan. Pengobatan yang diberikan
biasanya hanya memperlambat proses, tetapi
tidak menghentikan proses degenerasi lensa.
Beberapa obat-obatan yang digunakan untuk
menghambat proses katarak adalah vitamin

Pembedahan
EKEK (Ekstraksi Katarak Ekstra Kapsular)
Fakoemulsifikasi
SICS

DEFINISI
Makin berkurangnya kemampuan akomodasi mata
sesuai dengan makin meningkatnya umur.
Kelainan ini terjadi pada mata normal berupa
gangguan perubahan kencembungan lensa yang
dapat berkurang akibat berkurangnya elastisitas
lensa sehingga terjadi gangguan akomodasi

ETIOLOGI
Gangguan akomodasi pada usia lanjut dapat
terjadi akibat :

Kelemahan otot akomodasi


Lensa mata yang tidak kenyal atau berkurang
elastisitasnya akibat sklerosis lensa

GEJALA KLINIS
Akibat gangguan akomodasi ini maka pada pasien
berusia lebih dari 40 tahun, akan memberikan keluhan
setelah membaca yaitu berupa mata lelah, berair dan
sering terasa pedas.
Karena daya akomodasi berkurang maka titik dekat
mata makin menjauh dan pada awalnya akan
kesulitan pada waktu membaca dekat huruf dengan
cetakan kecil.
Dalam upayanya untuk membaca lebih jelas maka
penderita cenderung menegakkan punggungnya atau
menjauhkan obyek yang dibacanya sehingga
mencapai titik dekatnya dengan demikian obyek dapat
dibaca lebih jelas.

PENATALAKSANAAN
Diberikan penambahan lensa sferis positif sesuai
pedoman umur yaitu umur 40 tahun (umur rata
rata) diberikan tambahan sferis + 1.00 dan setiap
5 tahun diatasnya ditambahkan lagi sferis + 0.50 .

TERIMAKASIH