You are on page 1of 70

PRESENTASI KASUS NEUROLOGI

PARAPLEGIA INFERIOR EC
SUSP TUMOR PARAVERTEBRA
Pembimbing :
Letkol CKM. Dr. Heriyanto Sp. S

Disusun oleh:
Edy Hariyanto
01.210.6138
RST TINGKAT II DR SOEDJONO
MAGELANG
FK UNISSULA SEMARANG
2015

IDENTITAS PENDERITA

Nama : Tn. Ramijo


Umur : 49 tahun
Pekerjaan : Petani
Jenis kelamin : Laki-laki
Alamat : Beranwetan 3/9 Sidorejo
Tegalrejo Magelang
Agama : Islam
No. CM : 130417
Tempat : Ruang Cempaka
Tanggal masuk RS : 15 Desember 2015

ANAMNESIS

Anamnesis dilakukan
secara autoanamnesis
dengan pasien pada
tanggal 16 Desember
2015 pukul 11.00 WIB di
Bangsal Cempaka

Keluhan Utama :
Kelemahan anggota gerak bawah

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG


Riwayat Penyakit
Lokasi

: kedua anggota gerak bawah

Onset

: keluhan muncul sekitar 1 bulan yang lalu

Kualitas : kelemahan mengakibatkan pasien tidak bisa berjalan


Kuantitas : kedua kaki tidak bisa digerakkan sama sekali dan mati rasa. Kadang ada
gerakan yang tidak sadar bisa menggerakkan tungkai sendiri.
Faktor memperingan : jika diposisikan duduk punggung terasa agak enakan
Faktor memperberat : jika diposisikan tidur agak lama sering merasa pegal

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG


Pasien datang dengan keluhan kelemahan pada kaki yang muncul sejak
sebulan yang lalu. Lemah dirasakan perlahan, mula-mula terasa panas pada
pinggang sampai kaki kemudian kaku sampai sulit untuk berjalan. Kemudian
pasien menjadi tidak bisa berjalan sama sekali karena mati rasa dan tidak
ada kekuatan untuk menggerakkan anggota gerak bawah.
Seminggu SMRS, pasien mengeluh pada kantong pelir terasa panas kemudian
terasa ada benjolan berwarna kemerahan, setelah 3 hari benjolan pecah dan
muncul luka ulkus pada pelir. Saat ini luka tidak dirasakan sama sekali.
Pasien juga mengeluhkan BAK yang tidak bisa dirasakan, tiba-tiba ngebrok
tanpa dirasakan mau kencing. Pasien sering ngompol tanpa dirasakan
sebelumnya.
BAB dilakukan seminggu sekali, karena sudah tidak terasa ingin BAB. Jika
BAB terasa sangat sakit dan keluar hanya sedikit. Kentut tidak bisa dirasakan.
Apabila pasien mengalami gerakan tidak sadar pada kaki (kejang), maka
penis pasien ikut ereksi sendiri tanpa sadar. Setelah tidak kejang lagi, maka
penis akan kembali ke keadaan tidak ereksi.
Makan dan minum pasien masih normal, berkeringat hanya bagian dada
keatas. Tidak ada pandangan kabur,

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU

Keluhan yang sama sebelumnya


disangkal.
Riwayat alergi disangkal
Riwayat hipertensi disangkal
Riwayat diabetes disangkal
Riwayat penyakit jantung disangkal
Riwayat kejang dan trauma kepala
dan tulang belakang disangkal

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA


Riwayat alergi disangkal
Riwayat penyakit yang sama pada
keluarga disangkal

RIWAYAT SOSIAL EKONOMI


Pasien seorang pria 49
tahun,
merupakan
petani.
Pasien
menggunakan jaminan
kesehatan
BPJS
Jamkesmas.

Kesan sosial ekonomi :


cukup

PEMERIKSAAN
FISIK

PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan umum : Tampak sakit sedang


GCS
: E4 V5 M6
Tanda Vital
Tekanan Darah

110 / 80 mmHg

Nadi

92 x / menit,

Suhu

36,2 C

Pernafasan
Saturasi O2

20 x / menit
97 %

STATUS GENERALIS

Kulit
Kepala
Wajah

Sawo matang, sianotik (-), ikterik (-)

Normosefali

Simetris

Mata

Oedem palpebra -/-, alis mata hitam dan tersebar merata,


konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, pupil bulat isokor 3
mm, RCL+/+, RCTL+/+, nystagmus (-), gerak bola mata baik,
ptosis -/-

Telinga

Normotia, serumen, sekret, dan membran timpan (-),


nyeri tekan pada mastoid -/-

Hidung

Deviasi septum (-), nafas cuping hidung -/-, sekret -/-

Bibir

kering dan pecah-pecah (-), sianosis (-)

Mulut

Deviasi (-), gusi berdarah (-)

Leher

Trakea lurus di tengah, KGB tidak teraba membesar,


kaku kuduk (-)

Paru-paru
Inspeksi: Simetris saat statis dan dinamis,
pernapasan
torakoabdominal, retraksi
(-)
Palpasi : Vocal fremitus kanan dan kiri sama
Perkusi : Sonor pada kedua hemithoraks
Auskultasi : Suara nafas vesikular, rhonki -/-.
wheezing -/-

Jantung

Inspeksi: Ictus cordis tidak tampak


Palpasi : Ictus cordis teraba
Perkusi : Tidak dilakukan
Auskultasi : Bunyi jantung 1 dan 2 reguler,
murmur (-),
gallop (-)

Abdomen
Inspeksi : Datar, rata, tidak ada eflorensi
Auskultasi : Bising usus (+) normal
Palpasi : Nyeri tekan (-), perut papan (-),

hepar dan lien tidak teraba membesar.

Ekstremitas
Atas:

Simetris, sianosis -/-, deformitas (-/-),


akral hangat +/+

Bawah:
+),

Simetris, sianosis -/-, deformitas (+/


akral hangat +/+, oedem (+/+)

NERVUS KRANIALIS

Nervus Olfaktorius (I) Normosmia

Nervus Optikus (II)


Tajam penglihatan
Lapang

Kanan
Normal
baik

Kiri
normal
baik

penglihatan
Melihat warna
Funduskopi

Normal
Tidak dilakukan

Normal
Tidak
dilakukan

Nervus Okulomotorius (III)


Kanan

Kiri

Pergerakan bulbus

Normal

Normal

Strabismus

(-)

(-)

konvergen
Nistagmus

(-)

(-)

Eksoftalmus

(-)

(-)

Ptosis

(-)

(-)

Diameter pupil

3 mm

3 mm

Bentuk pupil

Bulat, isokor

Bulat, isokor

Refleks cahaya

(+)

(+)

langsung
Refleks cahaya

(+)

(+)

(+)

(+)

tidak langsung
Refleks konvergensi

Nervus Trochlearis (IV) dan


Abduscens (VI) Kanan
Pergerakan

Normal

Kiri
Normal

mata
Sikap bulbus
Melihat

Sentral
(-)

Sentral
(-)

kembar

Kanan
Nervus Trigeminus
(V)

Sensibilitas muka

Kiri

Normal

Normal

Membuka mulut

Dapat

Menggerakkan

Dapat

rahang
Menggigit

Dapat

Refleks kornea

Tidak dilakukan

Nervus Fascialis (VII)


Kanan

Kiri

Raut muka

simetris kanan dan kiri

Fisura palpebra

Simetris

Mengangkat alis

Dapat, simetris

Mengerutkan dahi

Dapat, simetris

Menutup mata

Dapat

Menyeringai

Dapat, simetris

Menggembungkan

Dapat

pipi
Pengecapan 2/3
anterior

Baik

Nervus Vestibulocochlearis (VIII)


Kanan
Suara detik

(+)

Kiri
(+)

arloji
Tes Weber

Tidak dilakukan

Tes Rinne

Tidak dilakukan

Tes Romberg

Tidak dilakukan

Nervus Glossopharyngeus (IX)


Kualitas suara
Pengecapan lidah 1/3

Baik
baik

posterior
Sensibilitas faring

(+)

Nervus Vagus (X)


Arkus faring saat diam
Arkus faring saat

Simetris
Simetris, uvula di

bicara
Menelan
Mengejan

tengah
Dapat
Dapat

Nervus Accesorius (XI)


Mengangkat
bahu

Kanan

Kiri

(+)

(-)

Nervus Hipoglossus (XII)


Pergerakan
lidah
Kedudukan

Kanan
Kiri
Dapat, simetris
normal

lidah saat dalam


mulut
Kedudukan

Normal

lidah saat
dijulurkan
Tremor lidah
Fasikulasi lidah
Artikulasi

Tidak ada
Tidak ada
Normal

MOTORIK

Observasi
: DBN
Palpasi
: konsistensi otot kenyal,
jika kejang menjadi kaku
Perkusi
: DBN
Tonus
: normotonus
Kekuatan otot
: 5 5
0 0

Extremitas atas :
M. deltoid : 5 / 5
M. biceps brakii: 5 / 5
M. triceps : 5 / 5
M. brakioradialis : 5 / 5
M. pronator teres : 5 / 5
Genggaman tangan : 5 / 5
Extremitas bawah :
M. iliopsoas : 0/ 0
M. kwadricep femoris : 0 / 0
M. hamstring : 0 / 0
M. tibialis anterior
:0/0
M. gastrocnemius : 0 / 0
M. soleus
:0/0

SENSORIK

Eksteroseptik / protopatik (nyeri/suhu, raba


halus/kasar): mengalami anestesia pada
dermatom T5 (dextra)
mengalami anestesia pada dermatom T6 (sinistra)
Proprioseptik (gerak/posisi, getar dan tekan):
mengalami anestesia pada dermatom T5 (dextra)
mengalami anestesia pada dermatom T6 (sinistra)
Kombinasi :

Stereognosis
: tidak dilakukan
Barognosis
: tidak dilakukan
Graphestesia
: tidak dapat diketahui
Two point tactile discrimination : tidak dapat
diketahui
Sensory extinction
: tidak dapat diketahui
Loss of body image
: (-)

ANESTE
SIA

REFLEKS FISIOLOGI
Refleks Superficial
Dinding perut /BHR : negatif
Cremaster : negatif
Refleks tendon / periostenum
BPR / Biceps
: +1/ +1
TPR / Triceps
: +1/ +1
KPR / Patella
: +1/ +1
APR / Achilles
: +1 / +1
Klonus :

Lutut / patella
:-/Kaki / ankle : - / -

REFLEKS PATOLOGIS

Babinski : + / +
Chaddock : + / +
Oppenheim : - / Gordon : - / Schaeffer : - / Gonda : - / Stransky : - / Rossolimo : - / Mendel-Bechtrew : - / Hoffman : - / Tromner : - / -

REFLEKS PRIMITIF

Grasp refleks
:-/Palmo-mental refleks
:-/-

PEMERIKSAAN SEREBELUM
Koordinasi:
Asinergia /disinergia
: (-)
Diadokinesia
: (-)
Metria
: (-)
Tes memelihara sikap

Rebound phenomenon
Tes lengan lurus

Tonus
Tremor

: DBN
: (-)

: sulit dievaluasi
: sulit dievaluasi

Keseimbangan
Sikap duduk : baik,normal
Sikap berdiri
Wide base /broad base stance : tidak dilakukan
Modifikasi Romberg : tidak dilakukan
Dekomposisi sikap : tidak dilakukan
Berjalan / gait
Tendem walking : tidak dilakukan
Berjalan memutari kursi / meja: tidak dilakukan
Berjalan maju-mundur
: tidak dilakukan
Lari ditempat
: tidak dilakukan

FUNGSI LUHUR

Aphasia
: (-)
Alexia
: (-)
Apraksia
: (-)
Agraphia
: (-)
Akalkulia
: (-)
Right-left disorientation : (-)
Fingeragnosia
: (-)

SACRO-ILIACA

Patricks
: -/Contra patricks : -/-

Kesimpulan : sulit dilakukan,


karena kaki selalu tegang

TES PROVOKASI
NERVUS ICHIADICUS

Laseque : -/ Sicards
: -/ Bragards : -/ Door bell sign : -/Kesimpulan : sulit dievaluasi

ASSESSMENT

DIAGNOSA

Klinis :
Paraplegia inferior UMN
Anestesia sepanjang segmen T5 (dextra) dan T6 (sinistra)
kebawah
(retensio uri) dan (konstipasi)
Ulkus pada scrotum
hypertonus

Topis : paravertebra dextra setinggi corpus VTh 3-4


Etiologi :
Paraplegia inferior UMN ec tumor medula spinalis
Ulkus scrotum

DD:
Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS)
Lumbar (Intervertebral) Disk Disorders
Mechanical Back Pain
Brown-Sequard Syndrome
Infeksi Medula Spinalis
Cauda Equina Syndrome

PLANNING

DIAGNOSTIK

Foto rontgen thoracal fokus tulang


AP/Lateral dan thorax AP
CT Scan dengan kontras massa MRI
Lab darah:
Darah lengkap
Gula darah

Elektrolit
Profil hepar

Kesan
Curiga massa di
paravertebra dextra
setinggi corpus VTh
3-4
Tak tampak jelas
erosi pada sistema
tulang
Tak tampak jelas
listesis maupun
kompresi corpus

Kesan :
Lesi opak bentuk
membulat batas
tegas di
paravertebra
dextra setinggi
corpus VTh 3-4
curiga massa
mediastinum.

HASIL MRI

HASIL BACAAN MRI

HASIL PEMERIKSAAN LAB DARAH


16/12/2015

Laboratorium

Hb : 13,1 g/dL
Eritrosit : 5,17 jt/uL
Hematokrit : 41,2 %
Trombosit
: 328.000 /uL
Lekosit : 7.500 /uL
Platelet : 353.000 /uL
Netrofil : 79,1 %
Limfosit : 25,7 %
Monosit : 4,2 %
Eosinofil : 0,3 %
Basofil : 0,4 %
MCH
: 25,3 pg
MCHC
: 31,7g/dL
MCV: 77,2 fl
GDS: 86 mg/dL
GD II PP
: 116 mg/dL

HASIL LAB TANGGAL 16/12/2015

Glukosa : 123mg/dL
Urea : 27 mg/dL
Creatinin : 1,3 mg/dL
SGOT : 20 U/L
SGPT : 16 U/L
Clorida : 99,77 mmol/L
Kalium : 4900 mmol/L
Natrium : 139,2 mmol/L

TERAPI

Infuse RL+Tarontal 300 14 tpm


Inj Dexamethason 4x1 IV
Injeksi Poprazole 1x1 IV
Injeksi Lapibal 2x1 IV
Injeksi extracee 500 2x1 IV

MONITORING

Monitoring keadaan umum


Monitoring tanda vital

EDUKASI

Menjelaskan penyakit yang diderita.


Tidak duduk atau bangun dari tempat
tidur dan tetap tidur.
Tidak boleh terlalu banyak pengunjung.

PROGNOSA

Quo ad vitam
: dubia ad malam
Quo ad sanam : dubia ad malam
Quo ad functionam : dubia ad malam

TINJAUAN
PUSTAKA
PARAPLEGIA INFERIOR
EC SUSPECT TUMOR PARAVERTEBRA
DEXTRA SETINGGI CORPUS VERTEBRA
THORAXAL 3-4

TINJAUAN
PUSTAKA
PARAPLEGIA INFERIOR
EC SUSPECT TUMOR PARAVERTEBRA
DEXTRA SETINGGI CORPUS VERTEBRA
THORAXAL 3-4

Batasan
Tumor medula spinalis adalah tumor di daerah spinal yang dapat terjadi
pada daerah cervical sacral, yang dapat dibedakan atas;
A.Tumor primer:
1) JINAK
a) tulang; osteoma dan kondroma,
b) serabut saraf disebut neurinoma (Schwannoma),
c) berasal dari selaput otak disebut Meningioma;
d) jaringan otak; Glioma, Ependimoma.
2) GANAS
a) jaringan saraf seperti; Astrocytoma, Neuroblastoma, b) sel muda
seperti Kordoma.
B. Tumor sekunder:
Metastase dari tumor ganas di daerah rongga dada, perut, pelvis dan
tumor payudara.

Epidemiologi

kasus tumor medula spinalis USA 15% dari total


jumlah tumor yang terjadi pada susunan saraf
pusat
insidensi sekitar 0,5-2,5 kasus per 100.000
penduduk per tahun.
Jumlah penderita pria hampir sama dengan wanita
Sebaran usia antara 30 hingga 50 tahun.
Diperkirakan 25% tumor terletak di segmen
servikal, 55% di segmen thorakal dan 20%
terletak di segmen lumbosakral

Klasifikasi

Berdasarkan asal dan sifat selnya,

Tumor primer

tumor sekunder (ganas) metastasis dari proses keganasan di


tempat lain seperti kanker paru-paru, payudara, kelenjar prostat,
ginjal, kelenjar tiroid atau limfoma.

Jinak
ganas,

Tumor primer astrositoma, neuroblastoma, dan kordoma, sedangkan yang


bersifat jinak contohnya neurinoma, glioma, dan ependimoma.1

Berdasarkan lokasinya,

intradural

tumor intramedular
ekstramedular

ekstradural

Klasifikasi

(A) Tumor intraduralintramedular, (B)


Tumor intraduralekstramedular, dan
(C) Tumor Ekstradural

Tumor Medula Spinalis Berdasarkan


Gambaran Histologisnya
Ekstra dural

Intradural ekstramedular

Chondroblastoma

Ependymoma, tipe

Chondroma

Intradural
intramedular
Astrocytoma

myxopapillary

Ependymoma

Hemangioma

Epidermoid

Ganglioglioma

Lipoma

Lipoma

Hemangioblastoma

Lymphoma

Meningioma

Hemangioma

Meningioma

Neurofibroma

Lipoma

Metastasis

Paraganglioma

Medulloblastoma

Neuroblastoma

Schwanoma

Neuroblastoma

Neurofibroma

Neurofibroma

Osteoblastoma

Oligodendroglioma

Osteochondroma

Teratoma

Osteosarcoma
Sarcoma
Vertebral

Etiologi
Tumor primer belum diketahui secara pasti.
Penyebab yang mungkin virus, kelainan genetik,
dan bahan-bahan kimia yang bersifat karsinogenik.
Tumor sekunder (metastasis) sel-sel kanker yang
menyebar aliran darah menembus dinding
pembuluh darahmelekat pada jaringan medula
spinalis yang normal membentuk jaringan tumor
baru di daerah tersebut

Patogenesis
Neoplasma medula spinalis belum diketahui.
kebanyakan muncul pertumbuhan sel normal pada lokasi
tersebut.
Riwayat genetik berperan dalam peningkatan insiden pada
anggota keluarga (syndromic group) misal pada
neurofibromatosis.
Astrositoma dan neuroependimoma jenis yang tersering
pada pasien dengan neurofibromatosis tipe 2 (NF2), di mana
pasien dengan NF2 memiliki kelainan kromosom 22.
Spinal hemangioblastoma 30% pasien dengan Von HippelLindou Syndrome sebelumnya, abnormalitas dari
kromosom 3.

Manifestasi
Klinis
Menurut Cassiere, perjalanan penyakit
tumor medula spinalis terbagi dalam tiga
tahapan, yaitu:
Ditemukannya sindrom radikuler
unilateral dalam jangka waktu yang lama
Sindroma Brown Sequard
Kompresi total medula spinalis atau
paralisis bilateral

Manifestasi
Klinis
Nyeri
Kompresi dari suatu tumor dapat merangsang jaras-jaras saraf yang terdapat
dalam medula spinalis dan menimbulkan nyeri yang seakan-akan berasal dari
berbagai bagian tubuh (nyeri difus). Nyeri ini biasanya menetap, kadang
bertambah berat dan terasa seperti terbakar.

Perubahan sensori
Kebanyakan pasien dengan tumor medula spinalis mengalami kehilangan
sensasi. Biasanya mati rasa dan hilangnya sensitivitas kulit terhadap suhu.

Problem Motorik
Gejala awalnya dapat berupa kelemahan otot, spastisitas, dan ketidakmampuan
untuk menahan kencing atau buang air besar. Jika tidak diterapi gejala dapat
memburuk termasuk diantaranya atrofi otot dan kelumpuhan. Bahkan, pada
beberapa orang dapat berkembang menjadi ataksia.

1. Nyeri
Radikuler
Nyeri radikuler dicurigai disebabkan oleh tumor medula
spinalis bila:
Nyeri radikuler hebat dan berkepanjangan, disertai
gejala traktus piramidalis
Lokasi nyeri radikuler diluar daerah predileksi HNP
seperti C5-7, L3-4, L5 dan S1.
Tumor medula spinalis nyeri radikuler tumor yang
terletak intradural-ekstramedular,
Sedang tumor intramedular jarang menyebabkan nyeri
radikuler.
Pada tumor ekstradural sifat nyeri radikulernya
biasanya hebat dan mengenai beberapa radiks

MK Tumor
Medula Spinalis
Thorakal
1.

2.

3.

Kelemahan spastik yang timbul perlahan pada


ekstremitas bagian bawah dan kemudian mengalami
parestesia.
Pasien dapat mengeluh nyeri dan perasaan terjepit
dan tertekan pada dada dan abdomen, yang
mungkin dikacaukan dengan nyeri akibat gangguan
intratorakal dan intraabdominal.
Pada lesi torakal bagian bawah, refleks perut bagian
bawah dan tanda Beevor (umbilikus menonjol
apabila penderita pada posisi telentang mengangkat
kepala melawan suatu tahanan) dapat menghilang.

Pemeriksaan
Penunjang
1. Laboratorium
Cairan spinal (CSF) peningkatan protein dan xantokhrom, dan kadang-kadang ditemukan
sel keganasan. Dalam mengambil dan memperoleh cairan spinal dari pasien dengan tumor
medula spinalis harus berhati-hati karena blok sebagian dapat
berubah menjadi blok komplit
cairan spinal dan menyebabkan paralisis yang komplit.
2. Foto Polos Vertebrae
Foto polos seluruh tulang belakang 67-85% abnormal. Kemungkinan ditemukan erosi pedikel
(defek menyerupai mata burung hantu pada tulang belakang lumbosakral AP) atau
pelebaran, fraktur kompresi patologis, scalloping badan vertebra, sklerosis, perubahan
osteoblastik (mungkin terajdi mieloma, Ca prostat, hodgkin, dan biasanya Ca payudara.
3. CT-scan
CT-scan dapat memberikan informasi mengenai lokasi tumor, bahkan terkadang dapat
memberikan informasi mengenai tipe tumor. Pemeriksaan ini juga dapat membantu dokter
mendeteksi adanya edema, perdarahan dan keadaan lain yang berhubungan. CT-scan juga
dapat membantu dokter mengevaluasi hasil terapi dan melihat progresifitas tumor.
4. MRI
Pemeriksaan ini dapat membedakan jaringan sehat dan jaringan yang mengalami
kelainan secara akurat. MRI juga dapat memperlihatkan gambar tumor yang letaknya
berada di dekat tulang lebih jelas dibandingkan dengan CT-scan.

Diagnosa
Banding

Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS)


Lumbar (Intervertebral) Disk
Disorders
Mechanical Back Pain
Brown-Sequard Syndrome
Infeksi Medula Spinalis
Cauda Equina Syndrome

Penatalaksanaa
n
Penatalaksanaan untuk sebagian besar tumor
dengan pembedahan.
Tujuannya menghilangkan tumor secara total dengan
menyelamatkan fungsi neurologis secara maksimal.
Kebanyakan tumor intradural-ekstramedular dapat
direseksi secara total dengan gangguan neurologis
yang minimal atau bahkan tidak ada post operatif.
Tumor-tumor yang mempunyai pola pertumbuhan
yang cepat dan agresif secara histologis dan tidak
secara total dihilangkan melalui operasi dapat diterapi
dengan terapi radiasi post operasi.

Tx.
Medikamentosa
Terapi yang dapat dilakukan pada tumor medulla spinalis adalah :
a. Deksamethason: 100 mg (mengurangi nyeri pada 85 % kasus,
mungkin juga menghasilkan perbaikan neurologis).
b. Penatalaksanaan berdasar evaluasi radiografik
Bila tidak ada massa epidural: rawat tumor primer (misalnya
dengan sistemik kemoterapi); terapi radiasi lokal pada lesi
bertulang; analgesik untuk nyeri.
Bila ada lesi epidural, lakukan bedah atau radiasi (biasanya
3000-4000 cGy pada 10x perawatan dengan perluasan dua level di
atas dan di bawah lesi); radiasi biasanya seefektif seperti
laminektomi dengan komplikasi yang lebih sedikit.

c.
c. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan darurat
darurat (pembedahan/
(pembedahan/ radiasi)
radiasi) berdasarkan
berdasarkan
derajat
derajat blok
blok dan
dan kecepatan
kecepatan deteriorasi
deteriorasi
bila
bila >
> 80
80 %
% blok
blok komplit
komplit atau
atau perburukan
perburukan yang
yang cepat:
cepat:
penatalaksanaan
penatalaksanaan sesegera
sesegera mungkin
mungkin (bila
(bila merawat
merawat dengan
dengan radiasi,
radiasi,
teruskan
teruskan deksamethason
deksamethason keesokan
keesokan harinya
harinya dengan
dengan 24
24 mg
mg IV
IV setiap
setiap 6
6
jam
jam selama
selama 2
2 hari,
hari, lalu
lalu diturunkan
diturunkan (tappering)
(tappering) selama
selama radiasi,
radiasi, selama
selama 2
2
minggu.
minggu.
bila
bila <
< 80
80 %
% blok:
blok: perawatan
perawatan rutin
rutin (untuk
(untuk radiasi,
radiasi, lanjutkan
lanjutkan
deksamethason
deksamethason 4
4 mg
mg selama
selama 6
6 jam,
jam, diturunkan
diturunkan (tappering)
(tappering) selama
selama
perawatan
perawatan sesuai
sesuai toleransi
toleransi
d.
d. Radiasi
Radiasi
Terapi
Terapi radiasi
radiasi direkomendasikan
direkomendasikan umtuk
umtuk tumor
tumor intramedular
intramedular yang
yang tidak
tidak
dapat
dapat diangkat
diangkat dengan
dengan sempurna.
sempurna. Dosisnya
Dosisnya antara
antara 45
45 dan
dan 54
54 Gy.
Gy.
e.
e. Pembedahan
Pembedahan
Tumor
Tumor biasanya
biasanya diangkat
diangkat dengan
dengan sedikit
sedikit jaringan
jaringan sekelilingnya
sekelilingnya dengan
dengan
teknik
teknik myelotomy.
myelotomy. Aspirasi
Aspirasi ultrasonik,
ultrasonik, laser,
laser, dan
dan mikroskop
mikroskop digunakan
digunakan
pada
pada pembedahan
pembedahan tumor
tumor medula
medula spinalis.
spinalis.

Komplikasi
Komplikasi yang
yang mungkin
mungkin pada
pada tumor
tumor medula
medula spinalis
spinalis antara
antara
lain:
lain:

Paraplegia
Paraplegia

Quadriplegia
Quadriplegia

Infeksi
Infeksi saluran
saluran kemih
kemih

Kerusakan jaringan lunak

Komplikasi
Komplikasi pernapasan
pernapasan
Komplikasi
Komplikasi yang
yang muncul
muncul akibat
akibat pembedahan
pembedahan adalah:
adalah:

Deformitas
Deformitas pada
pada tulang
tulang belakang
belakang post
post operasi
operasi lebih
lebih sering
sering
terjadi
terjadi pada
pada anak-anak
anak-anak dibanding
dibanding orang
orang dewasa.
dewasa. Deformitas
Deformitas
pada
pada tulang
tulang belakang
belakang tersebut
tersebut dapat
dapat menyebabkan
menyebabkan kompresi
kompresi
medula
medula spinalis.
spinalis.

Setelah
Setelah pembedahan
pembedahan tumor
tumor medula
medula spinalis
spinalis pada
pada servikal,
servikal,
dapat
dapat terjadi
terjadi obstruksi
obstruksi foramen
foramen Luschka
Luschka sehingga
sehingga
menyebabkan
menyebabkan hidrosefalus.
hidrosefalus.

Prognosis

Tumor dengan gambaran histopatologi dan


klinik yang agresif mempunyai prognosis
yang buruk terhadap terapi.
Pembedahan radikal mungkin dilakukan
pada kasus-kasus ini. Pengangkatan total
dapat menyembuhkan atau setidaknya
pasien dapat terkontrol dalam waktu yang
lama.
Fungsi neurologis setelah pembedahan
sangat bergantung pada status pre operatif
pasien. Prognosis semakin buruk seiring
meningkatnya umur (>60 tahun)