You are on page 1of 57

PRESENTASI KASUS NEUROLOGI

SYNDROME
PIRIFORMIS

leh :
dy Hariyanto
12106138

embimbing Akademik :
etkol CKM. dr. Heriyanto. Sp.S

ST DR SOEDJONO MAGELANG
AKULTAS KEDOKTERAN UNISSULA
015

IDENTITAS

Nama: Ny. Sri M


Jenis kelamin : perempuan
Usia : 48 tahun
Alamat : Wates, Magelang Utara
Agama : Islam
Suku bangsa : Jawa
Pekerjaan : Ibu Rumah tangga
Tanggal masuk RS : 16 Desember 2015
Tanggal keluar RS: 18 Desember 2015

KU

Nyeri pada pantat menjalar sampai ke paha


kanan

RPS

Keluhan : nyeri pada pantat menjalar ke paha kanan


Onset
: 2 minggu SMRS
Kualitas : jika duduk sulit berdiri sangat nyeri saat
membungkukkadang sampai kram
Kuantitas : sulit bangun dari duduk mengganggu aktivitas
Kronologi : 2 minggu pasien jatuh dalam posisi duduk di
kamar mandipantat mengenai pinggiran closet terasa
panas dan sangat nyeri diberi obat pengurang rasa sakit
tapi tidak berkurangpasien mengalami kesulitan berdiri dari
posisi duduk dan terasa sangat nyeri jika BAB dan berjalan
jika berjalan harus diseret merasa sangat kesakitandibawa
ke RST dr.Soedjono
Faktor memperingan : bila posisi tiduran atau duduk
Keluhan lain: Nyeri ulu hati dan sulit BAB

RPD

3 bulan yang lalu pasien pernah jatuh dari

sepeda motorjatuh dalam posisi terguling


dan pada paha kanan terkilir dan sampai
berwarna kebiruan
Riwayat Hipertensi, Diabetes, penyakit
jantung disangkal.
Riwayat maag (gastritis) diakui.

PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan umum : Tampak sakit sedang


GCS
: E4 V5 M6
Tanda Vital
Tekanan Darah

120 / 80 mmHg

Nadi

80 x / menit,

Suhu

36,8 C

Pernafasan

20 x / menit

Status Generalis
Kulit
Kepala
Wajah
Mata
Telinga
Hidung
Bibir
Mulut
Leher

Sawo matang, sianotik (-), ikterik (-)

Normosefali
Simetris

Oedem palpebra -/-, alis mata hitam dan tersebar merata,


konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, pupil bulat isokor 3
mm, RCL+/+, RCTL+/+, nystagmus (-), gerak bola mata baik,
ptosis -/-

Normotia, serumen, sekret, dan membran timpani


sulit dinilai, nyeri tekan pada mastoid -/ Deviasi septum (-), nafas cuping hidung -/-, sekret -/ kering dan pecah-pecah (-), sianosis (-)
Deviasi (-), gusi berdarah (-)
Trakea lurus di tengah, KGB tidak teraba membesar,
kaku kuduk (-)

Paru-paru
Inspeksi : Simetris saat statis dan dinamis,
pernapasan
torakoabdominal, retraksi (-)
Palpasi : Vocal fremitus kanan dan kiri sama
Perkusi : Sonor pada kedua hemithoraks
Auskultasi : Suara nafas vesikular, rhonki -/-.
wheezing -/-

Jantung

Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak


Palpasi : Ictus cordis teraba
Perkusi : Tidak dilakukan
Auskultasi : Bunyi jantung 1 dan 2 reguler,
murmur (-),
gallop (-)

Abdomen

Inspeksi : Datar, rata, tidak ada eflorensi


Auskultasi : Bising usus (+) meningkat
Palpasi : Nyeri tekan (+) pada regio kiri atas , perut papan
(-),

hepar dan lien tidak teraba membesar.


Perkusi: hypertimpani pada semua organ.

Ekstremitas
Atas: Simetris, sianosis -/-, deformitas (-/-),
akral hangat +/+

Bawah:

Simetris, sianosis -/-, deformitas (+/-),


akral hangat +/+, oedem (-/-)

Nervus Kranialis

Nervus Olfaktorius (I) Normosmia


Nervus Optikus (II)

Kanan

Kiri

Tajam penglihatan

Normal

normal

Lapang

baik

baik

penglihatan
Melihat warna

Normal

Normal

Funduskopi

Tidak dilakukan

Tidak
dilakukan

Nervus Okulomotorius (III)


Kanan

Kiri

Pergerakan bulbus

Normal

Normal

Strabismus

(-)

(-)

konvergen
Nistagmus

(-)

(-)

Eksoftalmus

(-)

(-)

Ptosis

(-)

(-)

Diameter pupil

3 mm

3 mm

Bentuk pupil

Bulat, isokor

Bulat, isokor

Refleks cahaya

(+)

(+)

(+)

(+)

(+)

(+)

langsung
Refleks cahaya
tidak langsung
Refleks konvergensi

Nervus Trochlearis (IV) dan Abduscens (VI)


Pergerakan
mata
Sikap bulbus
Melihat

Kanan
Normal

Kiri
Normal

(-)

Sentral
(-)

Sentral

kembar
Nervus
Trigeminus (V)
Kanan
Sensibilitas muka

Kiri

Normal

Normal

Membuka mulut

Dapat

Menggerakkan

Dapat

rahang
Menggigit

Dapat

Refleks kornea

Tidak dilakukan

Nervus Fascialis (VII)


Kanan

Raut muka

Kiri

simetris kanan dan kiri

Fisura palpebra

Simetris

Mengangkat alis

Dapat, simetris

Mengerutkan dahi

Dapat, simetris

Menutup mata

Dapat

Menyeringai

Dapat, simetris

Menggembungkan

Dapat

pipi
Pengecapan 2/3
anterior

Baik

Nervus Vestibulocochlearis (VIII)


Kanan
Suara detik
arloji
Tes Weber

(+)

Kiri
(+)

Tidak dilakukan

Tes Rinne

Tidak dilakukan

Tes Romberg

Tidak dilakukan

Nervus Glossopharyngeus (IX)


Kualitas suara
Pengecapan lidah 1/3

Baik
baik

posterior
Sensibilitas faring

(+)

Nervus Vagus (X)


Arkus faring saat diam
Arkus faring saat

Simetris
Simetris, uvula di

bicara
Menelan
Mengejan

tengah
Dapat
Dapat

Nervus Accesorius (XI)

Mengangkat
bahu

Kanan

Kiri

(+)

(-)

Nervus Hipoglossus (XII)


Kanan
Pergerakan
lidah
Kedudukan

Kiri

Dapat, simetris
normal

lidah saat dalam


mulut
Kedudukan

Normal

lidah saat
dijulurkan
Tremor lidah

Tidak ada

Fasikulasi lidah

Tidak ada

Artikulasi

Normal

MOTORIK

Observasi
: DBN
Palpasi
: konsistensi otot kenyal
Perkusi
: DBN
Tonus
: normotonus
Kekuatan otot
: 5 5
3 5

Extremitas atas :
M. deltoid : 5 / 5
M. biceps brakii : 5 / 5
M. triceps : 5 / 5
M. brakioradialis : 5 / 5
M. pronator teres : 5 / 5
Genggaman tangan : 5 / 5

Extremitas bawah :
M. iliopsoas : 3 / 5
M. kwadricep femoris : 3 / 5
M. hamstring : 3 / 5
M. tibialis anterior : 3 / 5
M. gastrocnemius: 3 / 5
M. soleus
:3/5

SENSORIK

Eksteroseptik / protopatik (nyeri/suhu,

raba halus/kasar): dalam batas normal


Proprioseptik (gerak/posisi, getar dan
tekan): dalam batas normal
Kombinasi :

Stereognosis
:Barognosis
:Graphestesia
:Two point tactile discrimination : Sensory extinction
:Loss of body image
:-

REFLEKS FISIOLOGI

Refleks Superficial
Dinding perut /BHR : +/+
Cremaster : tidak dilakukan
Refleks tendon / periostenum
BPR / Biceps
: +3/ +2
TPR / Triceps
: +3/ +2
KPR / Patella
: +3/ +2
APR / Achilles : +3/+2
Klonus :

Lutut / patella : - / Kaki / ankle : - / -

REFLEKS PATOLOGIS

Babinski : + / +
Chaddock : - / Oppenheim : - / Gordon : - / Schaeffer : - / Gonda : - / Stransky : - / Rossolimo : - / Mendel-Bechtrew : - / Hoffman : - / Tromner : - / -

REFLEKS PRIMITIF

Grasp refleks
:-/ Palmo-mental refleks
:-/-

PEMERIKSAAN
SEREBELUM

Koordinasi:

Asinergia /disinergia
: (-)
Diadokinesia
: (-)
Metria
: (-)
Tes memelihara sikap
Rebound phenomenon
Tes lengan lurus

Tonus
: DBN
Tremor : (-)

: baik
: baik

Keseimbangan
Sikap duduk
: baik,normal
Sikap berdiri
Wide base /broad base stance : normal
Modifikasi Romberg
: normal
Dekomposisi sikap
: normal
Berjalan / gait
Tendem walking
: normal
Berjalan memutari kursi / meja: normal
Berjalan maju-mundur
: sulit dievaluasi
Lari ditempat
: sulit dievaluasi

FUNGSI LUHUR

Aphasia
: (-)
Alexia
: (-)
Apraksia
: (-)
Agraphia
: (-)
Akalkulia
: (-)
Right-left disorientation : (-)
Fingeragnosia
: (-)

SACRO-ILIACA

Patricks
: -/ Contra patricks

: -/-

TES PROVOKASI
NERVUS ICHIADICUS

: +/-

Laseque
Sicards
: +/Bragards
: +/Door bell sign : -/-

Kesan :sepanjang perjalanan n.


Ischiadicus dextra mengalami kelemahan

ASSESSMENT

Klinis

Nyeri pantat menjalar sampai ke paha


Gangguan Defekasi dan miksi
Nyeri ulu hati

Topis :
Perifer

Etiologi :
Syndrome Piriformis
Dyspepsia
Konstipasi

DD:

Bursitis Sacro-Iliaca joint


Herniasi diskus intervertebralis,
Degenerasi diskus intervertebralis,
arthropati,
sacroiliitis,
nyeri myofascial, dan
bursitis trochanter femur


PLANNING

Diagnostik

Lab darah:
Darah lengkap
Gula darah

Hasil pemeriksaan
lab darah

Laboratorium

Hb : 13,0 g/dL
Eritrosit : 4,79 jt/uL
Hematokrit : 37 %
Trombosit
: 328.000 /uL
Lekosit : 11.500 /uL
Netrofil : 79,1 %
Limfosit : 15,7 %
Monosit : 4,2 %
Eosinofil : 0,3 %
Basofil : 0,4 %
MCH
: 27,1 pg
MCHC : 35,1 g/dL
MCV: 77,2 fl
GDS: 86 mg/dL
GD II PP
: 116 mg/dL

Kesan : Normal

Terapi

Infuse Asering+tarontal 300 14 tpm


Inj Ketese drip dalan NS 100 cc dalam 20 menit
Injeksi Lapibal 2x1 IV
Injeksi Extrace 500 mg 2x1 IV
Fibrosol PO 2x1
Natto 10mg PO 2x1
Myones PO 2x1
Provelyn PO 1-0-0 nggliyer
Injeksi trilac+ Lidocain IM (minimal invasif)

Monitoring

Monitoring keadaan umum


Monitoring tanda vital

Edukasi

Menjelaskan penyakit yang diderita.


Tidak duduk atau bangun dari tempat tidur
dan tetap tidur.
Saat pulang jika mengangkat barang dimulai
dengan posisi duduk.

Prognosa

Quo ad vitam
: dubia ad bonam
Quo ad sanam
: dubia ad bonam
Quo ad functionam : dubia ad bonam

TINJAUAN PUSTAKA

PIRIFORMIS
SYNDROME

Definisi

Piriformis berasal dari 2 kata pirum yang berarti buah


pir dan forma yang artinya bentuk.
Sindrom piriformis adalah gangguan neuromuskular
yang terjadi ketika N.Ischiadicus terkompresi atau
teriritasi oleh M.Piriformis. Secara khas, sindrom
piriformis meningkat dengan adanya kontraksi pada otot
piriformis, duduk yang lama, atau tekanan langsung
pada otot. Nyeri pada pantat adalah gejala utamanya.
Sindrom piriformis dapat menyebabkan kesulitan
berjalan, karena adanya nyeri
pada pantat atau
ekstremitas bawah. Sindrom piriformis adalah salah satu
yang menyebabkan kondisi siatika.

Epidemiologi

Nyeri punggung bawah dan iskialgia adalah nyeri


atau hipoestesi di area pantat dan paha bagian
posterior dengan sesekali menjalar ke tungkai
bawah; merupakan keluhan umum dengan
insidensi sekitar 6090% selama hidup seseorang.
Frekuensi sindrom piriformis diperkirakan hampir
6% dari total kasus iskialgia dalam praktek dokter
keluarga di AS, sementara di Indonesia belum ada
data.
Beberapa laporan menunjukkan rasio angka
kejadian perempuan dibanding laki-laki 6:1

Etiologi

Penyebab primer :

Terjadi akibat kompresi saraf langsung akibat trauma


atau factor intrinsik musculus piriformis, termasuk
variasi anomali anatomi otot, hipertrofi otot, inflamasi
kronik otot, dan perubahan sekunder akibat trauma
semacam perlengketan.

Penyebab sekunder :

Termasuk gejala yang terkait lesi massa dalam pelvis,


infeksi, anomali pembuluh darah atau simpai fibrosis
yang melintasi saraf, bursitis tendon piriformis,
inflamasi sacroiliaca, dan adanya titik-titik picu
myofascial


Primer
Trauma
Pyomyositis
Myositis ossificans
Dystonia musculorum
deformans
Hipertrofi
Adhesi
Fibrosis
Variasi anatomi

Sekunder
Hematoma
Bursitis
Pseduoaneurisma
Pronasi berlebihan
Massa
Anomali vassa
Simpai fibrosis

Patofisiologi

Hiperlordosis lumbal dan kontraktur panggul pada posisi fleksi


meningkatkan regangan musculus piriformis gejala sindrom piriformis.
Pasien dengan kelemahan otot-otot abductor atau ketimpangan panjang
tungkai bawah juga cenderung mengalami sindrom ini.
Perubahan biomekanika gaya berjalan (gait) sebagai penyebab
hipertrofi musculus piriformis dan inflamasi kronik, juga akan
memunculkan sindrom piriformis. Dalam proses melangkah, saat fase
berdiri (stance phase) musculus piriformis teregang sejalan dengan
beban pada panggul yang dipertahankan dalam posisi rotasi internal.
Saat panggul memasuki fase ayun (swing phase), musculus piriformis
berkontraksi dan membantu rotasi eksternal. Musculus piriformis tetap
dalam kondisi teregang selama proses melangkah dan cenderung lebih
hipertrofi dibanding otot lain di sekitarnya. Setiap abnormalitas proses
melangkah yang melibatkan panggul dengan posisi rotasi internal atau
adduksi yang meningkat dapat semakin meregangkan musculus
piriformis.


Trauma tumpul dapat menyebabkan hematom dan fibrosis
di antara nervus ischiadicus dan otot-otot rotator eksternal
pendek, salah satu pemicu gejala sindrom ini. Radikulopati
lumbal bagian bawah mengakibatkan iritasi sekunder
musculus piriformis yang nantinya akan memperumit
diagnosis dan memperlambat fisioterapi metode peregangan
punggung bawah dan panggul karena memperberat gejalagejala sindrom piriformis.
Radikulopati lumbal bagian bawah mengakibatkan iritasi
sekunder
musculus
piriformis
yang
nantinya akan
memperumit diagnosis dan memperlambat fisioterapi
metode peregangan punggung bawah dan panggul karena
memperberat gejala-gejala sindrom piriformis.

Gambaran Klinis

Keluhan yang khas adalah kram atau nyeri


di pantat atau di area hamstring, nyeri
ischialgia di kaki tanpa nyeri punggung, dan
gangguan sensorik maupun motorik sesuai
distribusi nervus ischiadicus. Keluhan pasien
dapat pula berupa nyeri yang semakin
menjadi saat membungkuk, berlama-lama
duduk, bangun dari duduk, atau saat merotasi
internal paha, juga nyeri saat miksi/defekasi
dan dispareunia.

Penegakan Dx

Penegakan diagnosis sindrom piriformis sering dibuat


setelah mengeksklusi penyebab ischialgia lain.
Robinson pertama kali menyusun penegakan diagnosis
berdasar 6 ciri:
1. Riwayat jatuh pada pantat;
2. Nyeri pada area sendi sacroiliaca, foramen ischiadicum
majus, dan otot piriformis;
3. Nyeri akut yang kambuh saat membungkuk atau
mengangkat;
4. Adanya massa yang teraba di atas piriformis;
5. Tanda Laseque positif
6. Atrofi gluteus.

Different Dx

Karena tidak ada tanda patognomonis, beberapa


diagnosis banding harus dipertimbangkan;
antara lain:
herniasi diskus intervertebralis,
Degenerasi diskus intervertebralis,
arthropati,
sacroiliitis,
nyeri myofascial, dan
bursitis trochanter femur.

Penatalaksanaan

Latihan untuk penderita


sindrom piriformis

Pembedahan

Dimulai dengan insisi kulit 4 cm, diikuti


pemisahan tumpul serat musculus gluteus
maximus dengan perlahan dan cermat untuk
menghindari cedera nervus ischiadicus.
Retraktor dipakai untuk memperlebar serat
gluteus maximus dan jaringan lemak di
bagian dalam dipotong dengan teliti guna
melokalisir
musculus
piriformis
dan
insersinya di trochanter major. Rotasi
internal panggul dapat mempermudah
didentifikasi tendon musculus piriformis.
Nervus ischiadicus seharusnya diidentifikasi
dengan pipa Penrose yang diletakkan di
sekitar saraf sebagai penanda. Berikutnya
tendon piriformis dibelah dan musculus
dipisahkan dari nervus ischiadicus sampai di
area foramen ischiadicum majus. Nervus
ischiadicus dieksplorasi dan didekompresi
untuk memastikan tidak ada residu lapisan
fibrosis, simpai neurovaskular, ataupun
faktor lain yang menekan saraf Pasca
operasi pasien menanggung beban berat
badan sepenuhnya (fully weight-bearing)

Simpulan

Sindrom piriformis tetap menjadi kontroversi ;


literatur menyebutkan sebagian ischialgia
sekunder akibat neuritis nervus ischiadicus,
secara langsung ataupun tidak, terkait dengan
musculus piriformis. Dalam banyak kasus,
pasien-pasien ini mendapat manfaat dari
terapi konservatif, sebagian mengalami efek
dramatis pasca operasi dekompresi musculus
piriformis dan nervus ischiadicus.

TERIMA KASIH