You are on page 1of 92

MK Drainase dan Sewerage

Kuliah 8

Analisa Hidrologi dan Metode Rasional
Andik Yulianto
Jurusan Teknik Lingkungan UII

PENDAHULUAN

Rumus Rasional dan Perencanaan
Drainase

Perencanaan

Evaluasi Eksisting

INACCURACIES HYDROLOGIC TRANSFORMATION HYDRAULIC TRANSFORMATION IMPLEMENTATION. BETTER UNDERSTANDING OF CATCHMENT BEHAVIOR 3. CONSTRUCTIONS 1. BETTER ANTICIPATION OF ANTHROPHOGENIC CHANGES . BETTER UNDERSTANDING OF NATURAL PHENOMENA 2.UNCERTAINTIES INACCURACIES NATURAL PHENOMENA REDUCED UNCERTAINTIES.

Data Curah Hujan Harian Analisa Intensitas Hujan Persamaan Lengkung Intensitas Hujan Analisa Frekuensi (Hujan Harian Maksimum pada PUH Tertentu) .

Lengkung intensitas hujan: .

Contoh Ploting data pengukuran dan prediksi dengan tiga jenis kurva intensitas hujan untuk suatu PUH: .

ANALISA HIDROLOGI .

• Konsep Model Matematik Model matematik digunakan pada analisis aliran permukaan atau debit banjir yang diturunkan dari input dan output pada wilayah dibatasi oleh batas alam maupun buatan suatu Daerah tangkapan Air atau Daerah Aliran Sungai. Hidrologi adalah bidang pengetahuan yang mempelajari kejadian-kejadian serta penyebab aliran permukaan di permukaan bumi. Curah hujan (presipitasi).KONSEP MODEL HIDROLOGI • Pengertian Hidrologi. dan infiltrasi adalah dua komponen variable hidrologi yang sangat berpengaruh pada proses terjadinya aliran permukaan dari Daerah Tangkapan Air. seperti gambar berikut. .

KONSEP MODEL HIDROLOGI (it) Hujan It Input (it) t Batas Sistim Pembagian DAS Permukaan DAS Ω= Aliran Banjir Qt Q( t) Ω= =c I( t) (Qt) Daerah Aliran Sungai sebagai sistim Hidrologi Output (Qt) t .

 adalah parameter dari model yang perlu di kalibrasi dan verifikasi. tinggi muka air sungai. dimana. dalam hal ini adalah intensitas hujan. I(t) adalah input dari model. penguapan. Berikut ini adalah konsep dasar dari proses hidrologi yang dimodelkan dengan model matematik.KONSEP MODEL HIDROLOGI • Pengertian Model Matematik. kecepatan aliran. . kecepatan angin.    Q(t) adalah limpasan permukaan atau debit banjir yang merupakan luaran model. konsentrasi sedimen sungai akan selalu berubah terhadap waktu (Soewarno. debit sungai. 1995). temperatur. seperti besarnya: curah hujan. Data hidrologi adalah kumpulan keterangan atau fakta mengenai fenomena hidrologi (hydrologic phenomena). lamanya penyinaran matahari.

Dalam hal pengelolaan air hujan analisis hidrologi yang diperlukan adalah analisis besarnya debit banjir rencana dengan langkah berikut (Soewarno. tetapi pada proses perancangan parameter tersebut biasanya ditentukan berdasar pengalaman orang. 1995): o Menentukan batas dan luas Daerah Tangkapan Air (DTA) termasuk penggunaan lahan. termasuk periode ulang dan hyetograph (Distribusi Intensitas).KONSEP MODEL HIDROLOGI • Pengertian Model Matematik.  Mengukur dispersi. Seperti penentuan besarnya koefisien limpasan (C). o Menganalisis intensitas hujan rencana. .  Memilih jenis sebaran. kemiringan dan jenis tanah.  adalah parameter dari model yang besarnya ditentukan dengan proses kalibrasi dan verifikasi dari model.  Menguji kecocokan sebaran.

SIKLUS HIDROLOGI PRESIPITASI Evaporasi Evaporasi Transpirasi VEGETASI Aliran dari dahan Air yang jatuh MUKA TANAH INFILTRASI MUKA AIR KAPILER TANAH PERCOLASI MUKA AIR KAPILER AIR TANAH Banjir BADAN AIR ALIRAN PERMUKAAN Inter Flow SUNGAI Base Flow LAUT .

ANALISIS HUJAN RENCANA .

HUJAN (precipitation) KERAPATAN JARINGAN jumlah sta hujan pola penempatan sta hujan KELENGKAPAN DATA cara perkiraan ?? KEPANGGAHAN ( consistency ) normal ratio method ? reciprocal method ? .

d2. …. n d d1  d 2  .  d n Tinggi curah hujan rata-rata d    i n i 1 n d1..CURAH HUJAN WILAYAH • Cara Rata-Rata Aljabar.n n = banyaknya atau jumlah pos penakar hujan yang diperhitungkan. . dn =tinggi curah hujan pada pos penakar 1.. 2.

An = luas pengaruh setiap penakar hujan.• Curah Hujan Wilayah Cara Poligon Thiesen.  A n R1. . …. Rn = tinggi curah hujan pada pos penakar 1.. Tinggi curah hujan rata-rataR  = A 1R1  A 2R 2  .. ….n A1. R2.  A nR n A 1  A 2  .. 2.. A2. ….

Curah Hujan Wilayah = • Cara Isohit... A2. A1 A2 A3 A4 d0 d1 d2 d3 Tinggi curah hujan rata-rata d0. An = luas daerah antara dua kontur curah hujan ..  A nR n R 1 1 A 1  A 2  .. d1. dn = A R  A 2R 2  .  A n d4 garis tinggi curah hujan yang sama (kontur curah hujan) A1. …. ….

• Hujan Rata-rata DAS = Cara Rata-rata aljabar. Pos (Titik) pengamatan Penjelasan 1 Luas daerah aliran (km2) 2 Curah hujan tiap pos d (mm) 3 Tinggi Hujan Rata-rata (Σd/n)  n=4 Keterangan 1 2 3 4 - - - - 99.50 mm/hari . NO .1 km2 156 164 174 168 662 165.

A2. A3 dan A4 wilayah pengaruh pos pengamatan Daerah Aliran 1 c A1 A = A1 + A2 + A3 + A4 a b A4 A2 2 4 d e f A3 3 .2.3 dan 4 adalah Pos Pengamatan Curah Hujan A1.Hujan Rata-rata DAS • Cara TheisenTitik 1.

Hujan Rata-rata DAS • Cara Theisen .

1 km2 100% 164.73 30.63 51.8 8 156 164 174 168 43.8 5 25.8 7 164.6 30.65 26.50 mm/hari 99. 6 27.Wi= Ai/An (%) 3 Curah hujan tiap pos d (mm) 4 Bobotxtinggi curah hujan=Ai/Anxdi (mm/hari) 5 Tinggi Hujan Rata-rata (Σd/n)  n=4 Keterangan 1 2 3 4 27. 5 14.50 .7 4 14. 1 Pos (Titik) pengamatan Penjelasan Pembagian daerah aliran (km2) 2 Bobot.4 26.Hujan Rata-rata DAS • Cara Theisen NO .13 43.

ANALISIS STATISTIK PERIODE ULANG .

 Deviasi 1995). Cara mengukur besarnya dispersi tersebut menggunakan parameter berikut (Soewarno. P = Probabilas terjadi (%) T = Periode Ulang (Tahun) .ANALISA DISTRIBUSI STATISTIK Data hujan maksimum harian di analisis untuk mendapatkan pola sebaran yang sesuai dengan distribusi statistik yang ada. Standar (S)  Koefisien Skewness (Cs)  Pengukuran Kurtosis (Ck)  Koefisien Variasi (Cv) P = 1/T Dimana.

akan tetapi apabila penyebaran data sangat kecil terhadap nilai rata-rata maka nilai Sx akan kecil.ANALISA DISTRIBUSI STATISTIK Standar Deviasi ( S ) Ukuran sebaran yang paling banyak digunakan adalah deviasi standar. S = Standar Deviasi Xi = curah hujan minimum (mm/hari) = curah hujan rata-rata (mm/hari) n = lamanya pengamatan . Jika dirumuskan dalam suatu persamaan adalah sebagai berikut (Soewarno. 1995): dimana. Apabila penyebaran sangat besar terhadap nilai ratarata maka nilai Sx akan besar.

Jika dirumuskan dalam suatu persamaan adalah sebagai berikut (Soewarno.X)3 i=1 dimana.2)Sx3 n ∑ (Xi.1)(n. Cs = koefisien kemencengan Xi = nilai variat = nilai rata-rata n = jumlah data S = standar deviasi .ANALISA DISTRIBUSI STATISTIK Koefisien Skewness ( Cs ) Kemencengan ( skewness ) adalah ukuran asimetri atau penyimpangan kesimetrian suatu distribusi. 1995) : n Cs= (n.

3)Sx4 n ∑ (Xi. Leptokurtik Mesokurti k Platikurtik n2 Ck = (n. Biasanya hal ini dibandingkan dengan distribusi normal yang mempunyai Ck = 3 dinamakan mesokurtik. sedangkan Ck > 3 berpuncak datar dinamakan platikurtik. Ck < 3 berpuncak tajam dinamakan leptokurtik.2)(n .1)(n.X)4 i=1 .ANALISA DISTRIBUSI STATISTIK oefisien Kurtosis ( Ck ) Kurtosis merupakan kepuncakan (peakedness) distribusi.

maka YT = ln T = nilai rata-rata dari reduksi variat (mean of reduce variate) nilainya tergantung dari jumlah data (n) dan dapat dilihat pada Tabel. = deviasi standar dari reduksi variat (mean of reduced variate) nilainya tergantung dari jumlah data (n) dan dapat dilihat pada Tabel.ANALISA DISTRIBUSI STATISTIK Distribusi Gumbel Tipe I Untuk menghitung curah hujan rencana dengan metode distribusi Gumble Tipe I digunakan persamaan distribusi frekuensi empiris sebagai berikut (Soewarno. 1995): S  YT  Yn XT  X  Sn YT = nilai reduksi variat dari variabel yang diharapkan terjadi pada periode ulang tertentu hubungan antara periode ulang T dengan YT dapat dihitung dengan rumus : YT = Yn Sn  -ln   ln  T  1 T  . untuk T  20. .

555 0 0.552 7 0.557 1 0.548 8 0.558 9 0.559 6 0.536 2 0.552 3 0.537 8 0.5567 0.582 1 0.552 9 0.557 7 0.545 0 0.5545 0.558 4 0.557 9 0.5481 0.530 7 0.546 0 0.553 1 0.558 3 0.540 0 0.5585 0.546 8 0.5353 0.528 0 0.538 3 0.541 2 0.499 2 0.560 7 9 1 2 3 5 6 8 Sumber : CD Soemarto.558 2 0.554 1 0.588 2 0.5599 .559 8 0.547 4 0.549 3 0.559 3 0.539 0 0.544 0 0.556 0 0.5518 0.541 3 0.495 1 0.544 8 0.546 1 0.555 5 0.510 5 0.515 7 0.555 3 0.529 8 0.520 2 0.507 4 0.556 8 0.553 1 0.523 6 0.550 8 0.559 6 0.548 2 0.549 8 0.558 5 0.5220 0.554 4 0.550 8 0.512 6 0.526 0 0.534 6 0.556 3 0.551 5 0.Reduced mean (Yn) n 10 20 30 40 50 60 70 0 0.558 0 0.555 7 0.542 3 0.525 5 0.554 5 0.557 5 0.553 8 0.556 0 0.550 3 0.538 6 0.5430 0.559 1 0.547 3 0.557 2 0.551 7 0.518 8 0. 1999 80 90 100 0 9 0.503 3 0.559 0 0.555 8 0.545 6 0.553 4 0.

1906 1.197 80 1.983 3 0.183 4 1.149 5 1.1538 1.1388 1.148 5 1.2007 100 1.9496 6 1.041 8 1.1844 1.204 4 1.204 3 6 2 8 4 6 1.203 7 1.1080 1.196 5 1.198 3 1.143 3 1.1930 1.086 6 1.179 1 1.145 6 1.0565 1.020 10 0.182 1 1.0628 6 1.1938 90 1.049 1 1.189 3 1.1413 6 1.195 1.187 2 1.172 8 1.128 30 1.133 7 1.203 3 1.191 4 1.168 50 1.967 2 0.1980 1.194 1.202 9 1.199 7 1.1124 9 1.1696 1.069 3 1.136 9 1.1734 1.125 5 1.201 3 1.100 3 1.162 8 1.2046 7 1.192 5 1.1747 9 1.205 9 5 9 1.175 8 1.1313 1.166 9 1.163 0 1.091 20 1.104 4 1.075 1 1.177 8 1.997 4 1.189 3 3 1 Sumber : CD Soemarto.115 4 1.157 7 1.009 5 1.2065 1.0961 1.081 5 1.186 0 1.122 4 1.1607 3 1.2001 1.170 4 1.151 40 1.119 1 1.178 7 1.165 9 1.180 60 1.195 0 1.1814 1.155 3 1.1854 8 1.Reduced Standard Deviation (Sn) n 0 1 0.1590 1.0316 1. 1999 70 1.188 3 1.2060 .

Reduced Variate (Yt) Periode Ulang Reduced Variate 2 0.2960 500 6.9210 Sumber : CD Soemarto.9606 25 3.9190 5000 8.5390 10000 9.4999 10 2.6001 200 5.3665 5 1.2140 1000 6.2502 20 2.9019 100 4. 1999 .1985 50 3.

S di mana : X= curah hujan Y =nilai logaritmik dari X atau log X Y =rata-rata hitung (lebih baik rata-rata geometrik) nilai Y S =deviasi standar nilai Y k =karakteristik distribusi peluang log-pearson tipe III . 1995) : Y = Y +k.Distribusi Log Pearson III Metode Log Pearson III apabila digambarkan pada kertas peluang logaritmik akan merupakan persamaan garis lurus. sehingga dapat dinyatakan sebagai model matematik dangan persamaan sebagai berikut (Soewarno.

845 4.643 1.820 1.912 3.178 2.0 -0.660 1.588 1.150 -0.132 3.240 2.0 -0.271 3.420 1.758 1.926 2.670 0.5 -0.261 2.857 1.108 2.043 2.2 0.3 0.164 0.105 0.262 3.323 1.626 3.850 1.152 4.661 4.540 -0.600 2.542 3.856 1.390 1.083 0.132 0.388 2.235 0.250 2.250 2.258 1.211 2.149 3.298 5.282 0.970 3.705 1.2 -0.605 4.099 0.128 1.763 3.051 4.278 3.250 0.366 1.5 0.615 2.396 0.292 1.041 3.890 2.880 2.360 0.849 2.216 1.107 2.815 0.910 1.307 0.128 2.733 1.200 1.706 3.498 2.1 0.400 -0.225 0.834 2.9 -0.990 5.790 1.609 1.518 1.5 0.810 -0.090 -0.855 1.675 -0.033 0.660 1.780 1.3 -0.337 2.777 1.957 3.254 0.663 1.856 3.132 0.193 2.339 2.9 0.163 2.816 1.854 1.751 2.824 1.5 -0.301 1.806 1.761 2.720 1.606 1.540 0.8 -0.401 4.000 2.499 4.395 0.050 0.780 3.643 1.949 3.180 2.824 3.525 0.400 2. 1999 .294 2.166 1.769 1.110 1.853 1.7 0.270 1.852 1.848 3.066 0.675 1.8 -0.686 3.967 2.482 3.489 4.574 1.755 3.939 2.4 0.567 1.195 0.4 -0.017 0.800 1.836 1.680 1.407 2.8 0.828 5.2 -0.359 2.116 0.201 2.159 2.164 0.544 2.857 1.309 1.970 7.050 0.891 3.800 Sumber : CD Soemarto.549 1.183 1.219 2.950 -0.000 0.245 1.326 2.022 3.576 3.330 0.200 2.492 1.6 -0.099 0.830 1.016 2.388 3.407 1.6 0.312 4.856 1.284 2.652 6.275 -0.282 1.054 2.606 1.318 2.836 1.231 1.670 3.945 2.380 0.066 0.029 2.083 0.1 3.749 1.104 2.818 2.018 2.2 -0.6 0.808 1.528 1.317 1.910 2.048 3.732 1.328 1.148 0. Distribusi Log Pearson III Harga k Distribusi Log Pearson III Kemencenga Periode Ulang (tahun) 2 5 10 25 50 100 200 1000 Peluang ( % ) n (CS) 50 20 10 4 2 1 0.880 2.033 0.842 1.453 2.998 2.837 2.333 1.311 2.488 1.960 0.7 -0.329 2.035 -0.147 1.444 6.336 1.4 -0.910 -1.116 0.0 -0.340 2.705 4.664 1.302 2.017 0.0 0.148 0.955 2.488 1.340 2.252 2.087 2.0 0.785 2.1 -0.223 4.472 2.147 5.

sehingga dapat dinyatakan sebagai model matematik dangan persamaan sebagai berikut (Soewarno. 1995) : Y = Y +k.S Y di mana : X= curah hujan Y =nilai logaritmik dari X atau log X =rata-rata hitung (lebih baik rata-rata geometrik) nilai Y S =deviasi standar nilai Y k =karakteristik distribusi peluang log-pearson tipe III .S Metode Log Normal 3 Parameter apabila digambarkan pada kertas peluang logaritmik akan merupakan persamaan garis lurus.Distribusi Log Normal 3 Parameter + k.

9043 3.0654 -0.6223 2.80 -0.40 1.3201 1.6615 -2.0000 1.00 50 80 2 5 10 0.6654 0.3128 0.7665 2.7478 -1.00 -1.2631 -2.3570 3.80 1.3156 -1.3600 -2.7578 -2.5196 -3.3570 -3.1495 0.8501 1.0333 3.8916 -2.60 1.5993 1.6993 0.4492 -2.8501 -1.6395 0.3002 0.9043 -2.60 -1.2943 1.3194 -0.2621 -1.00 -0.6144 -1.0000 0.7700 -0.20 -1.7186 0. 1995 90 95 Periode Ulang ( tahun ) 98 99 20 50 100 -1.1722 0.0000 0.60 -0.8928 1.8901 -1.20 0.40 0.6144 -0.8996 0.2437 -1.0959 -0.7943 -3.7930 -0.40 -1.2240 -0.1920 0.30567 1.8696 1.6002 2.1495 -0.3128 -0.6654 -0.5294 2.2366 0.7943 -2.20 1.1920 -0.8827 -1.2601 3.8296 0.80 2.6223 -2.2792 1.3201 -0.80 -1.8916 -1.0000 -0.2631 2.8235 1.2437 Sumber : Sumber : Soewarno.7138 2.4745 2.0332 -0.1602 0.7138 -2.1602 2.1722 -0.7449 0.7578 2.2792 -1.20 0.8696 -1.4433 3.7894 1.2092 0.2240 0.Distribusi Log Normal 3 Parameter Harga k Distribusi Log Normal 3 Parameter Peluang kumulatif ( % ) Koefisien Kemencengan (CS) -2.3067 -1.5294 -2.3600 2.6615 2.8235 -1.2943 -1.7478 1.0959 0.6395 -0.1241 -0.60 0.2601 -3.0000 2.7894 -1.8131 -0.8928 -1.8131 0.1521 -3.2092 -0.6920 -0.3194 1.7700 0.2366 -0.5196 .6920 0.7186 -0.8827 1.1521 3.4492 2.7665 -2.2621 1.7449 -0.4433 -3.0333 -2.4745 0.8901 1.0654 0.6002 -2.00 1.0000 2.3002 0.00 0.1241 0.0332 0.3156 1.40 -0.7930 0.

15 1.24 0.67 0.36 0.16 0.21 0.32 0.26 0.01 0.32 0.63/n .19 0. Perbedaan maksimum yang dihitung (∆maks) dibandingkan dengan perbedaan kritis (∆cr) untuk suatu derajat nyata dan banyaknya variat tertentu.05 0. 1995 0.17 1.23 0.29 0.21 0.34 0.19 0.23 1.24 0.36/n 0.25 0.07/n 0.51 0.18 0.20 0.27 0.Uji keselarasan Smirnov Kolmogorof Pengujian kecocokan sebaran dengan metode ini dilakuakn dengan membandingkan probabilitas untuk tiap variabel dari distribusi empiris dan teoritis didapat perbedaan (∆) tertentu. Pmax P xi  α  P x  Δ Cr Nilai Delta Maksimum Untuk Uji Keselarasan Smirnov  Kolmogorof N 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 n>50 Sumber : Sumber : Soewarno.41 0.17 0.18 0.10 0.19 1.45 0.27 0.23 0.27 0.24 0. maka sebaran sesuai jika (∆maks) < (∆cr).20 0.29 0.49 0.22/n 0.37 0.22 0.40 0.56 0.30 0.20 0.

GRAFIK DISTRIBUSI STATISTIK .

Grafik Probability Distribusi Normal .

Grafik Probability Distribusi LogNormal .

Grafik Probability Distribusi Gumbel .

968 604.100 3.152.720 59.690.488.880 1.520 -54.961 2009 104.400 -16.020 1.677.216 78.103 1995 144.120 404.445.866 163.000 -20.874.108 67.670.698 2002 68.585.414 -1.936.425 1.186.100 -20.854 38.620 135.880 892.600 -33.558 -4.036.814 26.742 -135.400 -7.720 1.434 10.361.200 54.194 264.500 40.598 -460.630.841.646 158.120 404.871.024 -1.814 -8.40 0 52.163.317.675.322.080 16.431 .899 2004 78.320 2.551.344.537.120 102.709 2000 150.813 7.568.984 18.880 777.686 2.024.000 29.874.633.558 2003 99.564.660 6.837 27.020 400.426 ΣXi 5.569.147.917 277.800 -8.387 2.089.423.544 65.227 2005 64.674.556.000 -48.553.123.724 2001 96.383 2.040 2007 78.024.080 1994 120.000 -10.600 2.253.144.800 -51.889.750 1.782.667.646 67.422.597.529.814 -8.231.024 160.307 1.480 2.515 5.658.520 1993 170.262.969 1997 146.762.315.956 2.698 1999 106.355.100 -38.117.000 27.662.000 -20.400 -37.480 1992 82.294 21.120 2.877 8.350 380.380 1.144.589 2010 168.640.200 4.590 -37.866 163.030 2006 156.798 -53.599.958.699.924.Data hujan harian maximum pos Maritim Tahun (Xi) (Xi-Xrt) (Xi-Xrt)² (Xi-Xrt)³ (Xi-Xrt)4 (mm) (mm) (mm) (mm) (mm) 1991 188.287 2008 96.720 279.754.584 1996 108.387.455.000 33.534 -111.150 144.565   19.164.294 797.600 72.553 1998 96.500 -11.

Parameter Statistik Pos Maritim Parameter Nilai Xrt 116.303 Ck 2.081 Cv 0.452 . S 37.319 Cs 0.

000 12 108.500 19 170.200 61.48 2010 168.800 4.000 10 104.000 9.600 1 64.000 33.76 1992 82.000 11 106.000 52.10 1999 106.600 20 188.200 4 78.38 2002 68.67 2005 64.52 1993 170.100 14.400 13 120.71 2009 104.400 57.600 95.600 23.000 7 96.Rmaks Ranking Rmaks (urut) (m/ (n+1)*100) (mm) m (mm) (%) 1991 188.200 3 78.800 15 146.600 2 68.000 5 82.400 6 96.400 17 156.05 1995 144.33 1998 96.000 9 99.000 71.100 18 168.200 90.600 85.24 Data hujan harian distribusi weibull Tahun .500 80.95 2008 96.400 42.62 2001 96.19 2007 78.000 76.29 1994 120.400 19.100 14 144.000 66.500 16 150.90 2004 78.43 2006 156.000 28.500 47.100 38.86 2000 150.57 1997 146.000 8 96.81 1996 108.14 2003 99.

.

17 0.01 5 0.34 0.63/n^0.Harga kritis Smirnov Kolmogorov a n 0.21 0.05 0.5 1.24 0.5 1.24 0.19 0.27 0.4 20 0.25 45 0.19 0.07/n^0.2 0.23 >50 1.2 0.2 0.1 0.15 0.41 0.51 0.5 1.29 .36/n^0.67 10 0.18 0.16 0.27 0.24 50 0.19 0.27 40 0.21 0.32 30 0.22/n^0.22 0.29 35 0.56 0.3 0.23 0.5 Dcr 0.17 0.45 0.18 0.26 0.32 0.37 0.29 0.49 15 0.23 0.36 25 0.

Distribusi Intensitas Hujan
10 th
(mm)

25 th
(mm)

50 th
(mm)

100 th
(mm)

164

179

192

203

38

41

44

47

79

86

92

97

24

26

28

30

18

20

21

23

1

1

2

2

4

5

5

5

164 mm

179 mm

192 mm

203 mm

Perhitungan Debit
Rencana

PERHITUNGAN DEBIT
RENCANA

Perhitungan debit rencana dapat dilakukan dengan berbagai
cara, yaitu;
1. Untuk Daerah Aliran Sungai Kecil dengan menggunakan cara
RASIONAL, seperti cara Rasional, cara Melchior, cara Der
Weduwen.
2. Untuk Daerah aliran Sungai yang besar menggunakan cara
unit hidrograf.
3. Untuk daerah yang tidak punya pengukuran dapat
menggunakan cara sintetik unit hidrograf.
Untuk Wilayah DKI ini digunakan cara sintetik unit hidrograf SCS
yang ada di perangkat lunak HEC-HMS

Debit banjr Cara Rasional
PENGGUNAAN LAHAN

KOEFISIEN LIMPASAN PERMUKAAN
Daerah Perdagangan

Pusat daerah perdagangan
Daerah penyangga

0.70 – 0.95
0.50 – 0.70
Daerah Pemukiman

Bangunan Perumahan Tunggal
Perumahan Multi Bangunan Terpisah
Perumahan Multi Bangunan
Tergabung
Perumahan Pinggir Kota
Rumah Susun

0.30 – 0.50
0.40 – 0.60
0.60 – 0.75
0.25 – 0.40
0.50 – 0.70

Daerah Industri
Industri Ringan
Industri Berat
Pertamanan, Kuburan
Lahan Bermain (Playground)
Jalan Kereta Api
Lahan alami

0.50
0.60
0.10
0.20
0.20
0.10






0.80
0.90
0.25
0.35
0.35
0.30

Perkerasan
Aspal dan Beton
Bata (Paving)
Atap

0.70 – 0.95
0.70 – 0.85
0.75 – 0.95
Lapangan Rumput, Tanah Pasir
Lahan datar dengan Kemiringan 2%
0.754 – 0.95
Lahan landai dengan Kemiringan 2% 0.18 – 0.22
7%
Lahan curam dengan Kemiringan 7%
0.25 – 0.35

kerapatan saluran drainase. t a s D a e r a haliran T a n g k permukaan a p a n A i r ( D T A atau ) B lo k B a n g u n a n B lo k B a n g u n a n A lir a n p e r m u k a a n B lo k B a n g u n a n A lir a n p e r m u k a a n B lo k B a n g u n a n A lir a n s u n g a i . Sifat dari DTA yang berupa bentuk.Daerah Tangkapan Air Daerah tangkapan air (DTA) adalah wilayah dimana air hujan yang turun diatas wilayahnya akan mengalir secara grafitasi ke titik muara sistim saluran drainase pada DTA. kemiringan lahan. jenis tanah dan penggunaan lahan akan sangat berpengaruh padaB abesarnya debit banjir.

 Sungai awal sebagai sungai order ke satu. Dikembangkan oleh Horton dan dimodifikasi oleh Strahler.Time of Concentration  Different areas of a watershed contribute to runoff at different times after precipitation begins  Waktu konsentrasi (Time of concentration) – Waktu dimana semua wilayah DAS mulai mengkontribusi limpasan permukaan. . – Waktu yang diperlukan untuk mengalir dari titik DAS yang terjauh.  Dua sungai order satu bergabung menjadi sungai order dua. Perhitungan Debit Rencana A tc t1 t2 Isochrones: boundaries of contributing areas with equal time of flow to the watershed outlet Stream ordering  Cara kuantitatif untuk mempelajari sungai.  Hanya dua sungai yang sama ordernya bergabung sungai berikut mempunyai order lebih tinggi satu tingkat.

Perhitungan Debit Rencana Factors • Surface roughness • Channel shape and flow patterns • Slope Urbanization generally increases the runoff velocities and therefore decreases the time of concentration Typical Values for Tc < 20 Ha.  5 minutes to 30 minutes .

Perhitungan Debit Rencana Water can move through a watershed as: • • • • Sheet flow (max of 90 m. ---usually 30 m) Shallow concentrated flow Open channel flow – Gutter – Ditch – Swale – Creek Some combination of above .

Perhitungan Debit Rencana Examples • • Urban – Sheet flow from back end of a residential lot – Open channel flow once water drops over the curb and into a gutter Rural – Sheet flow in upper part of watershed – Shallow concentrated flow as water forms rivulets – Open channel flow (ditch/creek) .

H = perbedaan elevasi titik terjauh dengan outlet (m) .0195 * k0.Perhitungan Debit Rencana ESTIMASI WAKTU KONSENTRASI Waktu konsentrasi “time concentration” waktu yang diperlukan untuk mengalir-kan mulai dari ujung sampai ke DAS Menurut KIRPICH (1940). S = kemiringan saluran.770 Tc = waktu konsentrasi (menit). dengan persamaan sbb: Tc = 0. L = panjang maksimum aliran (m). S = H/L. k = konstanta peubah = L/S .

waktu konsentrasi (tc) terdiri dari waktu awal yang diperlukan limpasan permukaan (ti) ditambah waktu yang diperlukan debit banjir mengalir di sistim saluran (tt). tc = waktu konsentrasi dalam menit ti = waktu awal limpasan permukaan dalam menit tt = waktu alir debit banjir di sistim saluran dalam menit .Debit banjr Cara Rasional Untuk daerah perkotaan. Besarnya waktu awal (ti) dapat diestimasi berdasarkan kemiringan permukaan. Dimana. Sedang waktu alir di sistim saluran (tt) dapat diestimasi berdasarkan property hidrolik dari sistim salurannya. tampungan depresi. Jadi besarnya waktu konsentrasi dapat dihitung dengan persamaan berikut. tutupan permukaan. hujan sebelumnya dan kapasitas infiltrasi dari lahan.

Skets Sistem Drainase Perkotaan .

I =intensitas hujan selama waktu konsentrasi (mm/jam).. Metoda Rasional atau Rasional Yang Telah Dimodifikasi a) Metode Rasional persamaan yang digunakan: ·Bila : Qp =debit puncak banjir (m3/dt).+An C1. C2....…Cn = koefisien limpasan masing-masing sub-DPSal...C3.. A3...Data Sistem Drainase Perkotaan Direncanakan saluran untuk kala ulang 10 tahun dengan tinggi curah hujannya R10 = 158.An = luas sub-DPSal dalam ha... A1.. C = C(combinasi) Ccombinasi= C1×A1 +C2 ×A2 +.+Cn×An A1 +A2 +. Debit rencana drainase perkotaan dihitung dengan metode: 1... A2.74 mm/24 jam. ..

Data Sistem Drainase Perkotaan 2. S-0. Waktu konsentrasi (tc) persamaannya menurut Kirpich (1940) adalah sebagai berikut: tc = 0.77 . L = panjang saluran dari titik yang terjauh sampai dengan titik yang ditinjau dalam meter.135 Atau tc = to + td Bila : tc = waktu konsentrasi dalam menit.195 . to = waktu pengaliran air yang mengalir di atas permukaan tanah menuju saluran (inlet time)dalam menit. L0. S= kemiringan dasar saluran. .

NOMOGRAF WAKTU LIMPASAN PERMUKAAN SEBAGAI FUNGSI KEMIRINGAN LAHAN (S) DAN KOEFISIEN LIMPASAN .

024 1.150 5.F' 0 4.118 11 B" .537 5 F' .457 2.866 9 C-B 1.D' 0 5.219 2 H-G 1.602 4 F . Koefisie n runoff (C) Waktu konsentra si tc (menit) Intensitas hujan (mm/jam) Debit (m3/dt) .512 6 E-D 1.198 13 SI-1 .B" 0 10.027 5.866 7 D .HASIL PERHITUNGAN DEBIT Segmen Panjang Saluran (m) DTA (km2) 1 Sm-1 -H 895 0.051 No.866 8 D' .E 1.094 3 G -F 1.696 12 B' .866 10 B .364 1.L 1.A 614 11.061 5.C 630 5.B' 280 10.

Example: A pending land use change and the resulting runoff hydrograph is thus unknown.Perhitungan Debit Rencana Synthetic Hydrograph • • Definition: Synthetic Hydrograph is a plot of flow versus time and generated based on a minimal use of streamflow data. but nevertheless must be estimated. .

Perhitungan Debit Rencana Tujuan: Menentukan Hidrograf limpasan permukaan L .

500 ha > 500 ha Metropolitan 1-2 2-5 5-10 10-25 Besar 1-2 2-5 2-5 5-15 Medium 1-2 2-5 2-5 5-10 Kecil 1-2 1-2 1-2 2-5 Amat Kecil 1 1 1 - Sumber: Flood Control Manual Volume II. Perioda ulang curah hujan rencana (Tahun) Klasifikasi Kota Daerah Daerah Daerah Daerah Tangkapan Air Tangkapan Air Tangkapan Air Tangkapan Air < 10 ha 10 .3). direkomendasikan untuk perencanaan sistim drainasi di Indonesia adalah ditunjukan pada table berikut.Perioda Ulang Curah Hujan dan Banjir Rencana Perioda ulang banjir rencana untuk sistim drainasi mikro dan sub makro berdasarkan “ Flood Control Manual Technical Design Standards Volume II”. .100 ha 100 . 1993 (Table 3.

dimana intensitas curah hujannya terdistribusi merata selama masa hujan. Berikut ini adalah rumus umum untuk memperkirakan besarnya intensitas hujan sebagai input model banjir rasional. R  24  i  24 *  24  t  2/3 di mana: i = Intensitas curah hujan (mm/jam) R24 = curah hujan maksimum dalam 24 jam (mm) t = lamanya curah hujan (jam) . Rumus ini digunakan apabila data curah hujan yang tersedia hanya curah hujan harian.Estimasi Intensitas Hujan Distribusi intensitas yang paling sederhana adalah hyetograph yang mempunyai distribusi seragam.

5 .n) ( t a r) + b ia = ( t a r+ b) n+ 1 ia = t = t ba 1 . Intesitas Hujan (mm/jam) T = ta + tb t r= a T ia ib Ta T Tb = t  a t +t a [ T= [ a r b K" ( 1 .Estimasi Intensitas Hujan Model distribusi hujan Chicago Pola distribusi hujan yang dihasilkan bukan intensitas ditribusi yang seragam tetapi mempunyai pola bentuk tertentu.5 akan didapat hyetograph yang bentuknya simetrism umumnya nilai r terletak diantara 0 sampai 0.r) ) + b ( t b ( 1 .ta ] K" ( 1 .r) + b) n+ 1 ] Waktu (menit) Bila nilai r = 0.n) ( t b ( 1 .

Kehilangan air hujan Infiltrasi adalah proses masuknya atau meresapnya air hujan kedalam tanah. Jadi hujan mangkus yang menyebabkan limpasan permukaan adalah intesitas hujan dikurangi dengan tinggi air hujan yang hilang akibat infiltrasi yang saat kejadiannya sama dengan saat Jadi infiltrasi air hujan pada perhitungan debit banjir merupakan turunnya hujan. suatu proses alam yang menyebabkan kehilangan air hujan karena meresap ke tanah . dimana ini merupakan suatu proses kehilangan yang besarnya sangat tergantung dari jenis tanah lahan.

.Proses Infiltrasi Photograph of cross section through soil following dye tracing experiment (Courtesy of Markus Weiler).

MODEL INFILTRASI HORTON Intensitas Hujan fo ft=fc+(f0-fc)e-kt Laju infiltrasi fc k : adalah peluruhan spesifik konstan tanah. .

S = Potensi maximum retensi . Ia = Kehilangan awal.MODEL INFILTRASI “SCS” “The Conservation Engineering Division” (CED) di tahun 1986 mendeskripsikan cara SCS untuk mengestimasi limpasan permukaan dengan memanfaatkan data hujan dan parameter dari kondisi daerah tangkapan air sebagai masukan pada model. P = Akumulasi tinggi hujan pada waktu t. Pe = Akumulasi tinggi hujan efektif pada waktu t. Dimana.

254CN CN . Dari analisis dan hasil penelitian yang ada.MODEL INFILTRASI “SCS” Limpasan permukaan atau air larian akan terjadi bila curah hujan telah melebihi kehilangan awal. Nilai maksimum retensi S dan sifat dari daerah aliran sungai dapat di perkirakan dengan parameter “Curve Number (CN) yang harganya dapat ditentukan atau di estimasi berdasarkan penggunaan lahan. SCS mengembangkan suatu formula empiris hubungan Ia dan S. S 25400 . jenis tanah dan penggunaan lahan.

MODEL INFILTRASI “SCS”
Curve Number- Estimation Model (CN-EM)
Peta tanah

Peta guna
lahan

Peta CN II

Peta CN

Antecedent Moisture
Condition (AMC)

MODEL INFILTRASI “SCS”
Besarnya CN tipe II untuk berbagai daerah aliran sungai
dievaluasi berdasarkan beberapa hal berikut;


Jenis tanah (SCS soil types classified into Soil Hydrologic
groups on the basis of their measured or estimated infiltration
behavior);
Vegetasi yang menutupi lahan dan penggunaannya; 
Antecedent soil-moisture content (AMC) tergantung dari
hujan 5 hari sebelumnya, CNI digunakan bila hujan
sebelumnya kurang dari 40 mm dan CNII di gunakan bila total
hujan sebelumnya 55 mm.

MODEL INFILTRASI “SCS”
Harga CN “Hidrologi
Soil Goup”

RATA-RATA
%
IMPERVIOUS

A

B

C

D

65

77

85

90

92

30

57

72

81

86

13

48

66

78

83

Komersial

85

89

92

94

95

Industri

72

81

88

91

93

Transisi /
Perubahan

5

76

85

89

91

Gravel Parking, Quarries,
Land Under Development

Pertanian

5

67

77

83

87

Cultivated Land, Row crops,
Broadcast Legumes

Tanah terbuka

5

39

61

74

80

Parks, Golf Courses, Greenways,
Grazed Pasture

Perdu/Ladang

5

30

58

71

78

Hutan lebat

5

30

55

70

77

Hutan

5

43

65

76

82

95

98

98

98

98

100

100

100

100

100

DESKRIPSI

Pemukiman
sangat padat
Pemukiman agak
padat
Pemukiman
jarang

Kedap air
Air

Tipikal Penggunaan Lahan

Multi-family, Apartments,
Condos, Trailer Parks
Single-Family, Lot Size ¼ to 1
acre
Single-Family, Lot Size 1 acre
and Greater
Strip Commercial, Shopping
Ctrs,
Convenience Stores
Light Industrial, Schools,
Prisons, Treatment Plants

Hay Fields, Tall Grass,
Ungrazed Pasture
Forest Litter and Brush
adequately cover soil
Light Woods, Woods-Grass
combination, Tree Farms
Paved Parking, Shopping
Malls, Major Roadways
Water Bodies, Lakes,
Ponds, Wetlands

Harga
CN(II)
untuk
Berbagai
Tipikal
Penggun
aan
Lahan
Sumber:
Flood
Control Manual
Volume II, 1993
(Table 3.3).

Limpasan langsung yang besar terjadi pada tanah yang jenuh air dan tanah kering akan menyebabkan limpasan langsung yang kecil (Harsanto dkk. Kondisi ini terjadi pada saat musim kering atau kemarau yang biasanya jarang terjadi banjir. AMC II adalah kondisi tanah normal.MODEL INFILTRASI “SCS” Nilai CN dipengaruhi oleh kondisi kelembaban tanah yang disebut antecedent moisture conditions (AMC). Tabel nilai CN dari SCS adalah nilai CN pada kondisi normal. AMC I. AMC III adalah kondisi tanah basah atau di musim hujan yang memungkinkan potensial limpasan langsung besar. AMC II dan AMC III. AMC I adalah kondisi tanah kering sehingga potensi terjadi limpasan langsung kecil. Untuk menentukan besarnya nilai CN(I) dan CN(III) US Soil Conservation Service (SCS). 2008). membuat suatu persamaan konversi sebagai berikut : . Ada tiga kondisi dari AMC yaitu.

Perhitungan Debit Rencana Uniform Flow in Open Channels • Water depth. water surface line. and the channel bottom lines are all parallel to each other • No acceleration (or deceleration) V2/2g h Q . • The energy grade line. flow area. discharge and velocity distribution at all sections throughout the entire channel reach remains unchanged.

Manning’s Equation: Flow---English  Q=A(1.49/n)(Rh2/3)(S).5  Q is flow rate (cfs)  n-Manning’s coefficient (dimensionless)  Rh is hydraulic radius (ft)  Wetted area / wetted perimeter Manning’s Equation: Flow---Metric  S is slope (decimal format)  Q=A(1/n)(Rh2/3)(S).5  Q is flow rate (cms)  n-Manning’s coefficient (dimensionless)  Rh is hydraulic radius (m)  Wetted area / wetted perimeter  S is slope (decimal format) Perhitungan Debit Rencana .

5  V is velocity (meter/sec)  n-Manning’s coefficient (dimensionless)  Rh is hydraulic radius (m)  Wetted area / wetted perimeter Perhitungan Debit Rencana .5  V is velocity (fps)  n-Manning’s coefficient (dimensionless)  Rh is hydraulic radius (ft)  Wetted area / wetted perimeter  S is slope (decimal format) Manning’s Equation: Velocity-----Metric  Divide both sides by area  V=(1/n)(Rh2/3)(S).Manning’s Equation: Velocity----English  Divide both sides by area  V=(1.49/n)(Rh2/3)(S).

Hidrogra f HIDROGRAF suatu kurva yang menggambarkan fluktuasi debit aliran sungai terhadap waktu hujan Aliran permukaan Aliran dasar Aliran sungai .

aliran total dibagi menjadi dua bagian utama. aliran limpasan langsung (storm atau direct run of) dan aliran dasar (base flow) .Hidrogra f Analisis hidrograf bertujuan menduga run off yang terjadi di daerah aliran sungai berdasarkan data curah hujan. Dalam analisis hidrograf dibedakan komponen2 yang membentuk debit total. Untuk memudahkan analisis hidrograf.

bukan jarak yang ditempuh Total Hujan Net Rainfall Infiltrasi Perkolasi Direct storm responce Soil Moisture Ground Water Direct runoff Total runoff Inter flow Base flow Skema komponen aliran dalam analisis hidrograf .Hidrogra f Perbedaan ini didasarkan atas waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke sungai.

bagian yang naik “rising limb”. Pemasukan air ini disebabkan oleh curah hujan yang jatuh pada basin.5 4 4. Kurva Resesi pada dasarnya bentuk hidrograf yang dihasilkan dalam periode hujan tertentu terdiri atas tiga bentuk utama. puncak “peak” dan resesi “resession” Hidrograf 1.2 0 0 0. Terjadi pengeluaran air dari sistem pengaliran pada penyimpanan air basin. aliran akan turun. Setelah mencapai puncak “Peak”.5 2 2.2 Kurva Naik 1 PUNCAK Kurva Resesi CMS 0.8 0.5 1 1.6 0.4 0.Hidrogra f Kurva Rising Limb menunjukkan pemasukan air ke dalam sistem pengaliran. sehingga debit aliran akan naik.5 5 .5 Waktu (jam) 3 3.

dibanding-kan dengan kurva yang lain dalam hidrograf. Aliran pada saat resesi berasal dari empat sumber utama: “surface detention storage. Bentuk kurva resesi mencerminkan sifat khas daerah basin. inter flow. Dalam analisis kurva resesi surface detention storage dan channel storage disatukan dalam “surface run off ” . maka untuk menentukan komponen aliran dalam analisis hidrograf dipakai kurva resesi. Jika curah hujan jatuh pada saat terjadi resesi dari hujan sebelumnya sedangkan resesi hujan sebelumnya masih dalam tahap perkembangan. dan ground water”.Hidrogra f Kurva Resesi. relatif lebih stabil dari pengaruh curah hujan yang jatuh. maka resesi yang timbul kacau secara alami. channel storage.

maka sungai dibedakan menjadi tiga. yaitu: Aliran permukaan Aliran dasar Sungai Parrential Sungai Intermittent Sungai Ephemerial . berdasarkan kontribusi aliran dasar hidrograf.Hidrogra f Pengaruh Aliran Dasar pada Sungai.

Hidrologi Teknik. Daerah Aliran Ssungai dalam menghasilkan Direct run off sebagai respons terhadap hujan effektif yang jatuh pada DAS tersebut. pengertian Hujan Effektif mempunyai curah hujan terbuang sehingga menjadi aliran permukaan. Sedangkan dalam Irigasi. Hujan Effektif mempunyai pengertian curah hujan yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman. .Hidrogra f Unit Hidrograf : suatu cara penyederhanaan untuk mendapatkan gambaran karakteristik suatu Daerah Aliran Sungai.

Hidrogra f Sherman (1932): unit hidrograf adalah suatu hidrograf yang menggambarkan suatu unit direct run off dari suatu hujan lebih (“rainfall excess”) dari lama hujan efektif dari luas DAS tertentu. .

Hidrogra f Analisis unit hidrograf dilakukan jika curah hujan yang jatuh pada DAS tersebut seragam dan luas DAS harus lebih kecil dari 500 km2. maka DAS dipecahkan menjadi lebih kecil dari 500 km2. sehingga yang didapat hanya direct run off. dan dianalisis untuk masing2 DAS. Salah satu analisis pemisahan hujan efektif dari hujan total dengan menggunakan metode indeks infiltrasi (I) . Selain itu diperlukan juga pemisahan hujan efektif dari hujan total. Dalam analisis unit hidrograf diperlukan analisis pemisahan base flow dari aliran total. Jika lebih besar 500 km2.

Dalam analisis ini diperlukan pemisahan base flow dari aliran total.Hidrogra f Dalam penentuan unit hidrograf dari hujan tunggal untuk lama hujan efektif tertentu memerlukan data curah hujan dan debit yang kontinu. Data pengamatan curah hujan dan debit disarankan untuk memakai interval waktu yang sama. Sehingga diperlukan ARR (Automatic Rainfall Recorder) untuk data curah hujan dan AWLR (Automatic Water Level Recorder) untuk analisis debit. .

00278 C i A Dimana: Qp= Debit puncak (m3/det) C = i = A = Koefisien limpasan Intensitas hujan (mm/hr) Watershed area (Ha) .Perhitungan Debit Rencana The Rational Method Hydrograph Qp = 0.

33 =Attenuation factor D =Rainfall duration i =Intensity (in/hr) A =Watershed area (acre) CiAD Q p  0.33t p 2 CiAD Qp  4.46 tp .Perhitungan Debit Rencana The SCS (NRCS) Unit Hydrograph V1  V2 tr  3.33 t p where: 2/4.

6tc .Perhitungan Debit Rencana The SCS (NRCS) Unit Hydrograph V1  V2 tr  xt p Qp  2 CiAD 1  x tp 2 AR KAR Qp   1 x tp tp where: R = Rainfall excess and tp  D L 2 L  0.

The SCS (NRCS) Unit Hydrograph qp  Perhitungan Debit Rencana KAR 2 ( with R  1. K  ) tp 1 x .

00 MSL Baru Study Dinamika Pantai Smg.Lampiran 6 Datum Berdasarkan Analisis Pasang Surut Datum 0.00 MSL Lama US Army Map 1944 .43 M ) Datum 0. BPPT 2006 LANDSUBSIDENCE DISLOCATION ( Probable = 1.