You are on page 1of 21

Akhlak Sosial

Arian Isti Aji


Juli Ratnawati
Santi Yulianti
Wahyu Habsarindri
Yuliana Dwi Wijayanti

Pandangan Islam terhadap


kehidupan sosial
Sejak kelahirannya belasan abad
yang lalu, islam telah tampil sebagai
agama yang memberi perhatian
pada keseimbangan hidup antara
dunia dan akhirat, antara hubungan
manusia dengan Tuhan, dan antara
hubungan manusia dengan manusia,
antara urusan ibadah dengan
muamalah ( perlakuan atau tindakan
terhadap orang lain ).

Dalam bidang sosial ini Islam


menjunjung tinggi tolong menolong,
saling menasehati tentang hak dan
kesabaran, kesetiakawanan, egaliter
(kesamaan derajat), tenggang rasa
dan kebersamaan.

Masyarakat dambaan Islam


Ibnu Qoyyim Al-Jauzy mengatakan bahwa
pembentukan masyarakat islami bertujuan
membangun hubungan yang kuat antara
individu sebuah masyarakat dengan
menerapkan sebuah ikatan yang terbangun
diatas kecintaan sebagai realisasi sabda
Rasulullah yang berbunyi Tidaklah sempurna
iman salah seorang di antara kamu sehingga
ia mencintai saudaranya sebagaimana
mencintai dirinya sendiri. (HR. Bukhari).

Tugas (peran) masyarakat terhadap


akhlaq yang diutarakan oleh DR.
Yusuf Qordhawi ada tiga hal, yakni
Taujih (mengarahkan), Tatshit
(memperkuat) dan Himaayah
(memelihara).
Taujih atau pengarahan itu bisa
dilakukan dengan penyebaran
pamflet, penyampaian di berbagai
media massa, pembekalan, dakwah

Tatshit (memperkuat) itu dilakukan


dengan pendidikan, dan dengan
tarbiyah yang mengakar dan
mendalam dalam level rumah tangga,
sekolah dan universitas.
Himaayah (memelihara) itu bisa
dilakukan dengan dua hal berikut :
dengan selalu ber-amar maruf dan
nahi mungkar.

Toleransi intern dan antar umat


beragama
Dasar mengapa Allah SWT menetapkan
perbedaan sebagai sunnah-Nya adalah
sangat beralasan. Pertama ; penghargaan
terhadap kehidupan umat manusia.
Kedua ; kebutuhan dasar manusia untuk
bersaing. Jika dilihat sepintas kebutuhan
ini berkonotasi negatif, namun jika
dipahami lebih jauh hal ini wajar karena
sifat manusia secara individual
memerlukan pengakuan eksistensi dirinya.

Toleransi lahir setelah manusia memahami arti


perbedaan. Toleransi yang dalam bahasa
inggris disebut tollerance memiliki arti
kesabaran atau kelapangan dada. Toleransi
akan menghasilkan kehidupan masyarakat
yang rukun.
Istilah rukun berasal dari bahasa Arab ruknun
yang berarti dasar. Sedangkan menurut kata
sifat rukun berarti damai. Sehingga, kerukunan
umat beragama berarti hidup berdampingan
dalam suasana damai, walaupun berbeda
keyakinan atau berbeda agama.

Agama Islam mengajarkan kita untuk menjaga persaudaraan


antar muslim, yang disebut ukhuwah Islamiyah.
Quraish Shihab mengemukakan empat bentuk ukhuwah, antara
lain:
o Ukhuwah fi al-ubudiyyah, seluruh makhluk adalah
bersaudara atau memiliki persamaan. Seperti yang tertulis
dalam AlQuran surat AlAnam ayat 38 : dan tiadalah
binatang binatang yang ada di bumi dan burungburung
yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat
(juga) seperti kamu.
o Ukhuwah fi al-insaniyah, seluruh umat manusia bersaudara.
o Ukhuwah fi al wathaniyah wa al nasab, persaudaraan dalam
keturunan dan kebangsaan.
o Ukhuwah fi din al-Islam, persaudaraan antar sesama muslim.

Prinsip Islam dalam mewujudkan


kesejahteraan sosial
Kesejahteraan berasal dari kata sejahtera
yang menurut kamus besar bahasa Indonesia
berarti aman, makmur dan sentosa.
Sedangkan kesejahteraan sosial merupakan
gambaran umum masyarakat yang merasa
aman, makmur dan sentosa.
M. Quraish Shihab mengawali kesejahteraan
sosial dengan kata Islam sebagai bentuk
penyerahan diri manusia kepada Allah SWT
demi mewujudkan dan menumbuh suburkan
aspek-aspek akidah dan etika.

Dari beberapa pengertian tersebut dapat digali


makna-maknanya antara lain ;
Makna keselamatan adalah terma pertama yang
menjadi rujukan manusia dalam memandang
dirinya sendiri. Sifat selamat akan membawa diri
pada kemampuan manusia untuk melanjutkan
kehidupan selanjutnya, baik itu kehidupan dunia
maupun akhirat.
Makna kedamaian merupakan kelanjutan dari
makna keselamatan dalam keadaan ini manusia
diharapkan selalu berdamai dengan manusia lain
agar tidak terjadi tindakan saling memusnahkan
atau pembunuhan.

Makna kasih sayang potensi dasar manusia


untuk saling memberi dan menerima dalam
bentuk perasaan simpati dan empati.
Makna terakhir adalah kepatuhan
merupakan inti ajaran yang diturunkan Allah
pada umat manusia. Jenis kepatuhan ini
menandakan bahwa manusia tidak bisa
berlaku semaunya sendiri tanpa sebuah
arahan yang jelas dari pemimpin. Dalam
Islam kepemimpinan disimbolkan dalam
contoh imam ketika shalat.

Itulah prinsip-prinsip yang dipegang


oleh Islam dalam usaha
menyejahterakan umatnya. Sehingga
ada yang mengasumsikan
kesejahteraan manusia merupakan
produk dari sikap keberagamaan.
Diharapkan dari konsep Islam itu
akan muncul rasa aman, makmur
dan sentosa sejalan dengan
pengertian kesejahteraan sosial di

Pandangan Islam terhadap


beberapa persoalan
Dampak yang paling nampak di
masyarakat adalah masalah kemiskinan,
kebodohan dan pengangguran.
Kemiskinan struktural merupakan bentuk
kemiskinan yang seringkali terjadi pada
negara yang sebenarnya memiliki sumber
daya alam melimpah. Namun karena ada
unsur kesengajaan dari beberapa pihak
menjadikan masyarakat tidak berdaya
menghadapi sistem yang koruptif.

Contoh dari struktur yang memiskinkan ini antara


lain : sistem kapitalisme. Dalam sistem ini hak-hak
pribadi sangat dilindungi oleh negara sehingga
siapa pun berhak mendapatkan apa yang
diinginkan, termasuk menguasai kekayaan dan
menumpuk kekayaan itu. Karena itu tidak
mengherankan jika yang kaya akan semakin kaya
dan sebaliknya yang miskin semakin merana.
Pesan awal Quran cukup sederhana yaitu tidak
dibenarkan menumpuk kekayaan untuk kesenangan
pribadi, tetapi dianggap kebaikan jika memberikan
derma dan membagi kekayaan secara merata. Jalan
satu-satunya untuk melepas jeratan hanyalah
perubahan sistem.

Kemiskinan kultural tidak terkait dengan sistem yang


dianut oleh suatu negara. Kemiskinan ini terpelihara oleh
budaya yang dianut oleh sekelompok masyarakat.
Islam memandang kemiskinan kultural tidak sesuai
dengan tujuan kemanusiaan universal. Kemiskinan
kultural sama artinya dengan bentuk pembudayaan
miskin.
Bahkan pada tingkat akut mereka merasa mengemis atau
meminta-minta adalah hal yang wajar dan bagian dari
mata pencaharian. Padahal jelas Islam mengajarkan
bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di
bawah, tangan yang di atas adalah menafkahkan dan
tangan di bawah adalah yang meminta (HR. Bukhari dan
Muslim).

Dua bentuk kemiskinan di atas membawa akibat


turunan seperti kebodohan. Maksudnya jika keadaan
miskin akan menyebabkan seseorang tidak dapat
mengenyam pendidikan secara baik.
Islam memberi jalan keluar pada setiap muslim untuk
menuntut ilmu dimana pun, kapan pun dan pada siapa
pun. Ketidakterbatasan ilmu dalam Islam banyak
dituangkan dalam Quran maupun Hadist Nabi saw.
Akibat turunan lainnya dari kemiskinan dan kebodohan
adalah pengangguran. Semakin lama persoalan ini
semakin membesar di tengah-tengah sistem ekonomi
yang tidak memihak pada kaum miskin.

Pengangguran bisa dilihat di dua sebab yang


berbeda ; pertama, sebab eksternal, yaitu jika
keadaan sekitar yang tidak memberi peluang
pekerjaan yang layak bagi pencari kerja. Banyak
sekali peluang pekerjaan yang hanya memihak
pada golongan, kelompok atau kepentingan
tertentu saja sehingga menutup kemungkinan
persaingan yang sehat di antara pencari
pekerjaan.
Sebab kedua berkaitan dengan internal manusia
sendiri. Yakni terpeliharanya budaya malas di
sebuah masyarakat.

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi


melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan
Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan
tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam
kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh) (Q.S. Huud (11) ;
6).
Sejalan dengan maksud ayat di atas, pengangguran
bisa diidentikkan dengan sikap diam atau tidak
mau berusaha seseorang dalam menghadapi
realitas hidupnya. Sehingga makna akar kata miskin
yang berasal dari bahasa Arab sakana yang berarti
diam atau tenang mungkin merujuk pada sikap ini.

Nampaknya persoalan kemiskinan, kebodohan


dan pengangguran saling terkait satu sama lain.
Sehingga tidak ada alasan yang membenarkan
apabila hanya satu persoalan saja yang
diselesaikan. Persoalan satu bertumpu pada
persoalan lain, yang dalam penyelesaiannya
harus menyeluruh tanpa meninggalkan atau
menunda lainnya. Kiranya tugas seorang muslim
seyogyanya menyelesaikan persoalan ini juga
secara komprehensif jika mau dikatakan muslim
yang kaffah.

SEKIAN
DAN
TERIMA KASIH
SEMOGA BERMANFAAT