You are on page 1of 30

ETIKA BISNIS

dan
PROFESI AKUNTAN

Ir. Tufrida Hasyim, MM, MHSM, QiA, CMA, CFP, AEPP


tmhasyim@yahoo.com
0811-976-427

Referensi:
Utama:
Dusca, Donald, Duska, Brenda Shay & Ragatz,
Julie (2011). Accounting Ethics. Chichester:
John Wiley & Sons. Second Edition
Brooks, Leonard J, and Paul Dunn, Business &
Professional Ethics for Directors, Executives &
Accountants.
Velasquez, Business Ethics: Concept and Cases,
6th ed, Prentice Hall, 2006.

Referensi
Tambahan:
Agoes, Soekrisno & Ardana, I Cenik, (2011), Etika Bisnis
dan Profesi: Tantangan Membangun Manusia Seutuhnya,
Jakarta: Salemba-Empat,
Rinjin, Ketut (2004). Etika Bisnis dan Implementasinya.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Fritzsche, Business Ethics: A Global & Managerial
Perspective, 2nd ed, McGraw Hill, 2005.
Heru Satyanugraha, Etika Bisnis: Prinsip dan Aplikasi, edisi
kedua, LPFE Universitas Trisakti, 2003.
Economics Business Accounting Review (EBAR), Corporate
Social Responsibility, Edisi III, Sep-Des 2006, FE-UI, 2006.

Ethics and Business

Norma Moral
Norma memberi pedoman bagaimana
seharusnya orang hidup dan berperilaku
yang dianggap baik dan benar.
Norma Umum vs Norma Khusus:
Norma khusus mengatur kegiatan/kehidupan
dalam bidang, kegiatan, lingkungan tertentu.
Norma umum lebih bersifat universal.
Norma moral norma umum; aturan
mengenai sikap, perilaku dan tindakan
manusia bermasyarakat.

Morallity:
The standards that an individual or a group
has about what is right and wrong or good
and evil.
Moral standards:
The norms about the kinds of actions
believed to be morally right and wrong as
well as the values placed on the kinds of
objects believed to be morally good and
morally bad.

5 Characteristics of Moral Standards:


1. Involved with serious injuries or benefits
2. Not established by law or legislature
3. Should be preferred to other values
including self-interest
4. Based on impartial considerations
5. Associated with special emotions

1. Involved with serious injuries or benefits


Norma moral bersangkutan dengan hal-hal yang
memberikan dampak yang signifikan bagi
kehidupan dan kesejahteraan manusia pribadi
maupun kelompok.
Masyarakat pada umumnya memiliki normal
moral yang tidak membenarkan tindakan
pencurian, perampokan, perkosaan,
penganiyaan, dsb.
Masyarakat pada umumnya membenarkan/
menganjurkan agar orang menolong orang lain,
berbuat jujur, bekerja sama, dsb.

2. Not established by law or legislature


Norma moral tidak ditetapkan/diubah oleh
keputusan suatu badan/pengusaha tertentu.
Norma moral tidak dituliskan, tidak dijadikan
peraturan, tidak ditetapkan atau diubah oleh
pemerintah atau badan apapun.
Norma moral telah merupakan aturan tidak
tertulis dalam hati setiap anggota masyarakat,
yang karena itu mengikat semua anggota dari
dalam dirinya sendiri.

3. Should be preferred to other values


including self-interest
Norma moral didahulukan dari nilai-nilai lain,
termasuk kepentingan pribadi.
Hal ini karena nilai moral berkaitan langsung dan
memberikan dampak yang besar bagi kehidupan
dan kesejahteraan manusia serta
keberlangsungan masyarakat.
Bila seorang mempunyai kewajiban moral untuk
melakukan sesuatu, maka orang tersebut
selayaknya melakukan hal tersebut, walaupun
bertentangan dengan kepentingan pribadinya
atau dengan nilai-nilai yang lain.

4. Based on impartial considerations


Norma moral diharapkan dapat dipatuhi oleh
setiap orang tanpa mempedulikan apakah
dengan mematuhi norma tersebut akan
memperoleh sanksi atau hukuman.
Norma moral dipatuhi bukan karena
mengharapkan imbalan atau keuntungan.
Normal moral ditaati hanya karena nilai-nilai
yang terkandung dalam moral dan nilai-nilai
yang akan dicapai dengan norma tsb,

5. Associated with special emotions


Norma moral selalu melibatkan perasaan khusus, yaitu
perasaan moral (moral sense).
Perasaan moral timbul bila seseorang melakukan
tindakan yang secara moral salah, ataupun melihat
tindakan orang lain yang tidak sesuai dengan nilai moral.
Perasaan moral dapat berupa perasaan bersalah,
menyesali diri sendiri atas tindakan sendiri yang salah,
atau bentuk perasaan marah, atau keinginan untuk
menghukum orang yang melakukan tindakan yang
menyalahi norma moral tersebut.
Walaupun merupakan perasaan dalam diri sendiri, tidak
dikatakan sebagai perasaan subyektif, karena perasaan
tersebut dapat juga dirasakan oleh orang lain.

Ethics
The discipline that examines ones moral
standards or the moral standards of a society.

Etika
Nilai-nilai dan norma-norma moral
dalam suatu masyarakat.
(apa yang harus dilakukan,
tidak boleh dilakukan,
pantas dilakukan, dsb.)

Normative vs Descriptive Study


Normative study:
An investigation that attempts to reach
conclusions about what things are good or bad
or about what actions are right or wrong
Descriptive study:
An investigation that attempts to describe or
explain the world without reaching any
conclusions about whether the world is as it
should be

Studi Etika menurut DeGeorge (1999)


Etika deskriptif
mengenali, membandingkan, dan membedakan berbagai
sistem moral, praktek, kepercayaan, prinsip-prinsip, dan
nilai-nilai yang berbeda.
Etika normatif
mendasarkan pada pemahaman dari etika deskriptif,
dan berusaha untuk mengembangkan suatu sistem
moral yang tepadu dan konsisten sehingga dapat
diterima oleh masyarakat, termasuk membuat eksplisit
norma-norma yang sebelumnya bersifat tersirat saja.

Business Ethics:
A specialized study of moral right and
wrong that concentrates on moral
standards as they apply to business
institutions, organizations, and behavior.

How moral standards apply to social


systems and organizations that produce
and distribute goods and services.

What Is Business?
An organization that
provides goods and
services to earn profits
Profits:
The positive difference
between revenues and
expenses

Factors of Production
Labor

Capital

Information
Resources

Entrepreneurs

Physical
Resources

Theories of Social Responsibility


Maximize profits
To maximize profits for stockholders

Moral minimum
To avoid causing harm and to compensate for harm
caused

Stakeholder interest
To consider the interests of all stakeholders,
including stockholders, employees, customers,
suppliers, creditors, local community, and
government.

Corporate citizenship
To do good and solve social problems

Ethics ...
Ethical principles can provide a useful guide
for defining how employers and employees
should behave.
Both employers and employees should
consider the impact of their actions on a
variety of stakeholders:

Shareholders, bondholders, creditors;


Board of directors, management, employees;
Competitors, customers, suppliers;
Government, communities; and,
Society-at-large.

Ethical issues legal issues

Kinds of Ethical Issues


Systemic
social systems or institutions within which
business operate

Corporate
an individual company taken as a whole

Individual
a particular individual or individuals within a
company and their behaviors and decisions.

Mengapa etika penting bagi aktivitas bisnis?


Aktivitas bisnis, sama seperti aktivitas manusia
lainnya, tidak dapat terus berlangsung kecuali
orang-orang yang melakukannya dan
masyarakat sekitarnya mematuhi standard etika
minimal.
Etika konsisten dengan tujuan bisnis, khususnya
memaksimumkan keuntungan. Banyak contoh
perusahaan yang menghadapi dilema moral dan
berhasil menyelesaikannya secara moral dan
tetap meningkatkan keuntungannya.

Mengapa etika penting bagi aktivitas bisnis?


Masyarakat pada umumnya cenderung
menghukum pelaku bisnis yang tidak
bermoral, serta menghargai atau memuji
pelaku bisnis yang bermoral, sehingga
pelaku bisnis yang bermoral akan
memperoleh keuntungan walaupun belum
pasti dalam bentuknya dan jangka
waktunya.

Dapat disimpulkan:
Etika merupakan keharusan untuk bisnis
dalam jangka panjang dan untuk
kelangsungan bisnis itu sendiri.

Tahapan Perkembangan Moral


Menurut Lawrence Kohlberg, ada 6 tahap perkembangan moral
individu:
Level 1: Level Preconventional
Tahap 1: Punishment & Obedience Orientation
Tahap 2: Instrument & Relativity Orientation
Level 2: Level Conventional
Tahap 3: Interpersonal Concordance Orientation
Tahap 4: Law and Order Orientation
Level 3: Level Postconventional, Autonomous atau Principled Stages
Tahap 5: Social Contract Orientation
Tahap 6: Universal Ethical Principles Orientation.

Level 1: Level Preconventional


Pada tahap ini seseorang telah mampu
mengenal apa yang benar/salah, baik/tidak
baik.
Norma bukan dari diri sendiri, tetapi dari
luar.
Motivasi untuk mengikuti norma adalah
untuk kepentingan diri sendiri

Level 2: Level Conventional


Pada tahap ini, orang menyadari perlunya untuk
menjaga harapan dari keluarga/ masyarakat.
Orang tidak hanya berusaha mengikuti harapan
orang lain, tetapi juga menunjukkan loyalitas
pada kelompok dan norma-norma kelompok agar
dapat diterima dengan baik oleh kelompok.
Perspektif yang diambil adalah pandangan dari
orang-orang yang ada dalam kelompoknya
(keluarga, teman, organisasi, negara, kelas
sosial)

Level 3: Level Postconventional,


Autonomous atau Principled Stages
Pada level ini, orang tidak lagi menerima saja nilainilai dan norma-norma dari kelompoknya,
bahkan mencoba untuk melihat situasi dari
pandangan yang secara imparsial
mempertimbangkan kepentingan setiap orang.
Orang akan mempertanyakan hukum dan nilainilai yang dianut oleh masyarakatnya dan
mendifinisikannya sendiri dalam prinsip-prinsip
moral yang ditentukan sendiri yang dapat
dipertahankannya dengan argumentasi yang
rasional.

Moral Reasoning
adalah proses dengan mana tingkah laku
manusia, institusi, atau kebijakan dinilai sesuai
atau menyalahi standard-standard moral.
Proses ini terdiri dari dua komponen penting, yaitu:
1.Suatu pengertian apa yang diperlukan, dilarang,
atau disalahkan oleh standard normal, dan
2.Bukti atau informasi yang menunjukkan bahwa
orang, kebijakan, institusi, atau tingkah laku
tersebut memiliki ciri-ciri ang dituntut, dilarang,
disalahkan.

Moral Reasoning

Standard
moral

Informasi/fakta
tentang
kebijakan,
institusi, atau
tingkah laku
yang sedang
dianalisa

Penilaian
moral tentang
benar atau
salahnya
kebijakan,
institusi, atau
tingkah laku