You are on page 1of 55

KELOMPOK 1

Tutor : dr. Cut Asmaul Husna, M.Si

 Desrina

harnum
 Khairunnisa
 Ulfa zuryani
 Riski amelya
 Regina melasmuntiara
haltau

 Syahnan
 S.

Ranny yulia
 Mukhsinun nikmah
 Juliana Safitri
 Willani kocintia

MODUL 1
infeksi HIV/AIDS

Skenario 1: Oh nasib!
Tn. T 40 tahun dirujuk pihak puskesmas ke RSUCM karena keluhan
sesak nafas pada saat bernafas dalam, pasien juga mengeluh batuk
kering dan demam, hal ini sudah dialaminya sejak 3 bulan ini, selama
ini pasien juga merasa berat badannya menurun drastis. Pasien juga
mengeluh selama ini sering mengalami diare selama 1 bulan ini dan
sulit makan karena mengalami luka di dalam mulutnya. Pasien selama
ini bekerja sebagai supir mobil truk yang sering bepergian keluar
kota. Pasien punya riwayat berganti-ganti pasangan.
Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan kaheksia dan kandidiasis oral,
dari hasil pemeriksaan mikroskopis sputum didapatkan kista
pneumocystis jirovecii, kemudian dokter meminta Tn.T untuk bertemu
dengan tim VCT rumah sakit dan setelah dilakukan pemeriksaan
didapatkan hasil HIV positif, tim VCT rumah sakit juga memberikan
penjelasan dan anjuran pemeriksaan lab pada istri Tn.T, ternyata hasil
lab istri Tn.T juga HIV (+). Mereka menjadi takut akan dijauhi
keluarga dan masyarakat sekitarnya. Selain itu istrinya juga takut
akan diberhentikan dari pekerjaan. Tetapi kemudian ada pihak LSM
yang menghubungi keluarga Tn.T yang sangat peduli terhadap pasien
HIV/AIDS.
Bagaimana anda menjelaskan apa yang terjadi pada kasus diatas?

JUMP 1
1.Pneumocystis jirovecii  jenis jamur yang menyebabkan
pneumocystis pneumonia pada pasien HIV, terjadi bila
kadar CD4 <200 sel/mm³.
2.Kaheksia  kondisi malnutrisi yang ditandai dengan
penurunan BB yang tidak disertai dengan penurunan
massa tubuh.
3.VCT  voluntary counseling and testing ) konseling dan tes
sukarela yang bersifat sukarela dan rahasia yang dilakukan
sebelum dan sesudah tes darah utk HIV
4.Kandidiasis oral  infreksi di rongga mulut berupaq lesi
putih dan lesi merah yang disebabkan oleh kandidiasis
albicans
5.LSM  lembaga swadaya masyarakat adalah organisasi
yang didirikan perorang / perkelompok yang dilakukan
secara
sukarela
memberikan
pelayanan
kepada
masyarakat.

Jump 2 dan 3

1. Mengapa Tn. T dirujuk dari pusskemas ke RSUCM ?
 Keadaan pasien dan penyakit yang memberat
 Kecurigaan menderita HIV/AIDS
 Fasilitas yang kurang memadai
2.Mengapa Tn. T mengeluhkan sesak nafas, batuk kering dan
demam yang sudah dialami sejak 3 bulan ini ?
Infeksi HIV  penurunan sistem kekebalan tubuh infeksi
opurtunistik
3. Mengapa Tn. T mengalami diare sudah 1 bulan dan luka
dalam mulut serta penurunan BB yang drastis ?
Infeksi opurtunistik : peningkatan aktivitas infeksi oleh
mikroba normal dalam tubuh:
 Diare  muscle wasting Penurunan BB
 Luka didalam mulut oleh candida albican
 Sitokin proinflamasi dilepas terus menerus  supresi pusat
makan  penurunan BB

4.Apakah ada hubungan pekerjaan Tn. T dengan
keluhannya ?
Pekerjaan supir  peningkatan resiko oleh karena
jarang
dirumah
sehingga
menyebabkan
kemungkinan multiple sex partner
5.Bagaimana hubungan Tn. T berganti-ganti
pasangan dengan keluhan ?
 berganti-ganti pasangan  peningkatan resiko
HIV  suami dapat menularkan kepada istri
6.Bagaimana hubungan usia dan jenis kelamin
dengan keluhan ?
 Usia  tinggi pada rentang usia 30-39
 Meningkat pada laki-laki > wanita

7.Bagaimana interpretasi pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
sputum ?
Pemeriksaan fisik  Infeksi HIV  infeksi opurtunistik 
kandidiasis oral, kaheksia
Pemeriksaan sputum  positif pnemocystis jirovecii infeksi
opurtunistik pada HIV dengan kadar CD4 < 200 sel/mm2
8.Bagaimana tahapan pemeriksaan VCT ?
Konseling pre test
Test
Konseling post test
Pembukaan hasil
Konseling lanjutan
9.Apakah pemeriksaan lain yang dapat dilakukan ?
ELISA
Uji immunoblot
Biakan virus
Pengukuran angtigen p24
Pengukuran DNA dan RNA

10.Bagaimana edukasi yang dapat diberikan kepada
Tn. T dan istrinya mengenai keluhannya ?
Konseling perilaku hidup sehat
Edukasi mengenai cara penularan dan Faktor resiko
11.Bagaimana peran LSM terhadap kasus HIV/AIDS ?
Program penanggulangan HIV  skrining donor darah
12.Bagimana peran mayarakat dan tim medis pada
kasus HIV/AIDS ?
 Peran masyarakat  tidak mengintimidasi penderita
HIV, memberi dukungan terhadap penderita hiv
 Peran tim medis  pelayanan medik : terapi ART,
pelayanan psikososial , konseling perilaku hidup sehat

skema

Pihak puskesmas
merujuk Tn.T ke
RSUCM
Manifestasi infeksi
opurtunistik

Faktor resiko
Tes HIV
Insidensi HIV yg
meningkat
Epidemiolog
i

VCT
HIV +

Periksa istri (HIV +)

Penularan

pencegahan

Penanggulangan secara
komperehensif

pemerintah

Non pemerintah

Jump 5 : LO
1.
2.
3.
4.
5.

Epidemiologi dan faktor resiko hiv/aids
Konsep infeksi Hiv/aids secara umum
Pencegahan dan penularan hiv/aids
Alur rujukan kasus hiv/aids
Penanggulangan secara komperehensif
a. Pemerintah
b. Non pemerintah

LO.2
KONSEP INFEKSI HIV/AIDS
SECARA UMUM

 HIV:

Human
Immunodeficiency Virus,
adalah virus yang menyerang
dan bertahap merusak sistem
kekebalan tubuh dan
berkembang menjadi AIDS.

 AIDS:

Acquired Immune
Deficiency Syndrome adalah
sekumpulan tanda atau gejala
berat dan kompleks yang
disebabkan oleh penurunan
respon immunitas tubuh.

 “HIV

HIV dan AIDS...

tidak sama dengan AIDS”

Struktur HIV

 Envelop
◦ gp 120
◦ gp41
 Enzym
◦ Reverse transcriptase
◦ Integrase
◦ Protease
 Inti
◦ P17 (matrix)
◦ P24 (kapsid)
◦ P7/P9 (nucleocapsid)

Siklus Replikasi HIV
Ada 5 fase dalam replikasi virus HIV yaitu




Binding and entry
Reverse transcription
Replication
Budding
maturation

Transmisi HIV
HIV masuk ke dalam tubuh
dengan 2 cara
◦ Penetrasi permukaan
mukosa
◦ Inokulasi langsung
melalui darah
 Masuk sebagai virus bebas
atau sel yg terinfeksi HIV

HIV dapat ditranmisikan
dari virus ke sel atau sel ke
sel

Target Sel dan Jaringan

Sasaran Mayor, In Vivo :
Limfosit T CD4+
Monosit/makrofag

Sasaran Minor, In Vivo :
Sel-sel Langerhan,
prekursor monosit
CD34+, timosit triple
negatif (CD3/CD4/CD8),
sel-sel dendrit yang
beredar

Sel reseptor utk HIV
 CD4

merupakan
reseptor HIV
 Dikenali oleh HIV
melalui gp120
 Berfungsi untuk
mengikat tetapi tidak
cukup untuk masuk
dalm sel
 Membutuhkan
chemokine reseptor
CXCR4 atau CCRs untuk
entry

HIV masuk kedalam tubuh pada
awal infeksi
HIV

masuk kedalam
host melalui imun
sistem yang ada
dalam mucosa
epithelium
Terjadi dalam 2 hari
pertama infeksi

 Infeksi

menjalar ke
seluruh jaringan dalam
3 hari
 Infeksi menyebar ke
macrofag jaringan
mengaktifkan CD4 sel
dalam lymph node
 Masuk dalam
peredaran darah
 Masuk kedalam orgam

Perjalanan Alamiah Infeksi HIV dan
Komplikasi Umum

Primary

◦ Rapid HIV replikasi
(107 infeksius
partikel/mm3)
◦ Anti HIV imune
respond muncul (Cell
mediated +humoral)
◦ CD8 cell antiviral faktor
meningkat

Asymtomatik&AIDS
◦ Replikasi virus tetap
terjadi
◦ Virus plateau (103-105)
◦ HIV virus ada di lymph
node&lymphod
◦ Jumlah CD4 stabil
◦ IL-16 tetap pada
asymtomatik &menurun
pada fase AIDS
◦ Level B chemokine tetap

Infeksi HIV primer dan
Serokonversi
Seroconversi illness
Manifestasi seperti flu-like sindrom
(demam,myalgia)
Gejala neurologi (HIV pada CSF,aseptik
meningoenchepalitis)
Gejala GI tract (mucocutan ulcer,
pharingeal oedema)
Gejala Dermatologi ( kemerahan,
urticaria)

Reservoar Anatomi dari HIV

Menyebabkan

◦ ARV tidak dapat masuk
dalam jumlah yg cukup
◦ Merupakan tantangan
dalam eradikasi

Sel reservoar dari HIV

Hal

ini melindungi
HIV terhadap ARV
walaupun
konsentrasi ARV
dalam darah cukup

Pola Progresi Penyakit
Typical
Progressors

90 %

Infeksi
HIV

Rapid Progressors
<5 %
<10%

Long-term
Nonprogressors

7-10
tahun
<3
tahun
>10-15
th
Normal, CD4 stabil

HIV-NAT

Faktor2 yg mempengaruhi Viral Load dan Riwayat Alami
Faktor2 Virus

Faktor2 Respons Pejamu

Respons Imun Humoral
CTL, CD8 cells(CAFs)
-Kemokin: RANTES, MIP-1 
Mutasi CCR-5, CCR2, SDF-1

HIV
Tropism sel
SI/NSI
Slow/Rapid
Grower
Resistensi Obat

aktivasi
Imun

+

RNA-HIV>10

Progressor
CEPAT
<3 Thn

5

+

-

Viral Load HIV
RNA-HIV 500-105

Progressor

SEDANG
3-10 Thn

- Terapi Antiretroviral
RNA-HIV <500

Non-Progressor

Jangka
Panjang
>10 Thn

HIV-NAT

Ada

atau tidaknya infeksi alat kelamin
Jenis aktivitas seks
Risiko aktivitas seks yang memungkinkan
terjadi perlukaan atau pendarahan
Ada atau tidaknya darah

Faktor terkait dengan penularan
secara seksual

Penggunaan

kembali jarum suntik dan

tabungnya
Penggunaan bersama perlengkapan
menyuntik seperti : air, sendok dan filter
Darah atau produk darah yang terinfeksi
Perlengkapan bedah

Faktor terkait dengan penularan
melalui kontak darah

Jumlah

virus dari Ibu yang positif
Tahapan HIV dari Ibu yang bersangkutan
Pemberian ASI
Kelahiran melalui vagina

Faktor terkait dengan penularan
dari Ibu ke Anak

Gambaran Klinis
HIV/AIDS
Gejala
Gejala Mayor
Mayor ::
••BB
BB turun
turun >
> 10
10 %
% Dalam1
Dalam1 bulan
••Diare
Diare kronis
kronis >
>1
1 bulan
bulan
••Demam
Demam panjang
panjang >
>1
1 bulan
bulan
••Penurunan
Penurunan Kesadaran/ggn Neurologis
••Dimensia/HIV
Dimensia/HIV encefalopati
encefalopati
Gejala
Gejala Minor
Minor ::
••Batuk
Batuk > 1 bulan
bulan
••Herpes
Herpes Zoster multi sektor/berulang
••Dermatitis
Dermatitis Generalisata
Generalisata
••Kandidiasis
Kandidiasis oro faringeal
••Herpes
Herpes simplek kronis progresif
••Limfadenofati
Limfadenofati generalisata
generalisata
••Infeksi
Infeksi Jamur berulang pada Alat
Alat Kelamin
Kelamin wanita
wanita

Bagaimana HIV menjadi Aids?

Stadium HIV AIDS

Stadium klinis I
ASIMTOMATIK
LIMFADENOPATI PERSISTEN GENERALISATA

Stadium klinis II
PENURUNAN BB < 10%
KELAINAN KULIT/DERMATITIS
HERPES ZOSTER
INFEKSI SALURAN NAFAS BERULANG

Stadium

Klinis III:

PENURUNAN BB > 10%
DIARE KRONNIS > 1 BL
DEMAM > 1 BL SEBAB TAK JELAS
KANDIDIASIS ORAL
TB PARU
INFEKSI BAKTERI BERAT

STADIUM

KLINIS IV

HIV Wasting syndroma
PCP
Encefalitis toxoplasma
Diare kriptokokus > 1 bulan
Infeksi sitomegalovirus
Herpes simplek > 1 bulan
Infeksi Jamur berat
Kandidiasis esofagus,trakea,bronkus
Mikobaterialis atipikal
TB extra paru
Limfoma malignum
Sarkoma kaposi”s
Ensefalopati HIV

LO.3
UPAYA PENCEGAHAN DAN
PENULARAN HIV/AIDS

1) Pemberian penyuluhan kesehatan di sekolah dan di masyarakat harus
menekankan bahwa mempunyai pasangan seks yang berganti-ganti serta
penggunaan obat suntik bergantian dapat meningkatkan risiko terkena
infeksi HIV. Pelajar juga harus dibekali pengetahuan bagaimana untuk
menghindari atau mengurangi kebiasaan yang mendatangkan risiko
terkena infeksi HIV. Program untuk anak sekolah harus dikembangkan
sedemikian rupa sesuai dengan perkembangan mental serta kebutuhan
mereka, begitu juga bagi mereka yang tidak sekolah. Kebutuhan kelompok
minoritas, orang-orang dengan bahasa yang berbeda dan bagi penderita
tuna netra serta tuna rungu juga harus dipikirkan.

2) Satu-satunya jalan agar tidak terinfeksi adalah dengan tidak melakukan
hubungan seks atau hanya berhubungan seks dengan satu orang yang
diketahui tidak mengidap infeksi.
3) Memperbanyak fasilitas pengobatan bagi pecandu obat terlarang akan
mengurangi penularan HIV. Begitu pula Program “Harm reduction”yang
menganjurkan para pengguna jarum suntik untuk menggunakan metode
dekontaminasi dan menghentikan penggunaan jarum bersama telah
terbukti efektif.
4) Menyediakan fasilitas Konseling HIV dimana identitas penderita
dirahasiakan atau dilakukan secara anonimus serta menyediakan tempattempat untuk melakukan pemeriksaan darah.

5) Setiap wanita hamil sebaiknya sejak awal kehamilan disarankan untuk
dilakukan tes HIV sebagai kegiatan rutin dari standar perawatan kehamilan.
Ibu dengan HIV positif harus dievaluasi untuk memperkirakan kebutuhan
mereka terhadap terapi zidovudine (ZDV) untuk mencegah penularan HIV
melalui uterus dan perinatal.
6) Berbagai peraturan dan kebijakan telah dibuat oleh USFDA, untuk mencegah
kontaminasi HIV pada plasma dan darah. Semua darah donor harus diuji
antibodi HIV nya. Hanya darah dengan hasil tes negatif yang digunakan.
Orang yang mempunyai kebiasaan risiko tinggi terkena HIV sebaiknya tidak
mendonorkan plasma, darah, organ-organ untuk transplantasi, sel atau
jaringan (termasuk cairan semen untuk inseminasi buatan).

7) Jika hendak melakukan transfusi, Dokter harus
melihat kondisi pasien dengan teliti apakah ada
indikasi medis untuk transfusi.
8) Hanya produk faktor pembekuan darah yang sudah di
seleksi dan yang telah diperlakukan dengan semestinya
untuk menonaktifkan HIV yang bisa digunakan.

9) Sikap hati-hati harus dilakukan pada waktu penanganan,
pemakaian dan pembuangan jarum suntik atau semua
jenis alat-alat yang berujung tajam lainnya agar tidak
tertusuk. Petugas kesehatan harus menggunakan sarung
tangan lateks, pelindung mata dan alat pelindung lainnya
untuk menghindari kontak dengan darah atau cairan yang
mengandung

darah.

Setiap

tetes

darah

pasien

yang

mengenai tubuh petugas kesehatan harus dicuci dengan
air dan sabun sesegera mungkin. Kehati-hatian ini harus di
lakukan

pada

semua

pasien

dan

semua

laboratorium (tindakan kewaspadaan universal).

prosedur

Penularan HIV/AIDS
1.

2.

Transmisi melalui kontak seksual lewat
anus sering oleh karena membran
mukosa rektum tipis dan mudah robek,
sehingga terbentuk lesi.
Transmisi melalui darah/produk darah
diperlukan pemeriksaan antibodi HIV
sebelum melakukan donor darah.

3. Transmisi secara vertikal.
 dari ibu yang menderita HIV kepada
janinnya sewaktu hamil, persalinan dan
menyusui.
Angka penularannya:
- selama hamil (5-10%)
- selama bersalin (10-20%)
- selama menyusui (10-20%)

4.Transmisi melalui cairan tubuh lain 
cairan semen, cairan vagina, cairan
amnion dan air liur.
5.Transmisi pada petugas kesehatan dan
lab :
- melalui jarum atau benda tajam lainnya
yang telah tercemar HIV (0.3%)
- melalui membran mukosa atau kulit
yang mengalami erosi (0.09%)

LO 4
Alur Rujukan HIV/AIDS

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor21 Tahun 2013 Tentang Penanggulangan HIV
Dan Aids & Pedoman Nasional Tes Dan Konseling HIV
Dan AIDS 2013 :
 Pemeriksaan

diagnosis HIV dilakukan untuk mencegah sedini
mungkin terjadinya penularan atau peningkatan kejadian infeksi
HIV.
 Pemeriksaan
diagnosis
HIV
berdasarkan
prinsip
konfidensialitas, persetujuan, konseling, pencatatan, pelaporan
dan rujukan.
 Prinsip
konfidensial
berarti
hasil
pemeriksaan
harus
dirahasiakan dan hanya dapat dibuka kepada :
a.yang bersangkutan;
b.tenaga kesehatan yang menangani;
c.keluarga terdekat dalam hal yang bersangkutan tidak cakap;
d.pasangan seksual; dan
e.pihak lain sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pemeriksaan

diagnosis HIV harus dilakukan dengan
persetujuan pasien, kecuali :
a.penugasan
tertentu
dalam
kedinasan
tentara/polisi;
b.keadaan gawat darurat medis untuk tujuan
pengobatan pada pasien yang secara klinis telah
menunjukan gejala yang mengarah kepada AIDS;
dan
c.permintaan
pihak
yang
berwenang
sesuai
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pemeriksaan diagnosis HIV dilakukan melalui :
1.KTS (Konseling dan Tes HIV Sukarela) / VCT
(Voluntary Counseling Test)
2.TIPK (Tes HIV atas Inisiatif Pemberi Pelayanan
Kesehatan dan Konseling) / PITC (ProviderInitiated Testing and Counselling)

1.KTS dilakukan dengan langkah-langkah
meliputi:
a. konseling pra tes;
b. tes HIV; dan
c. konseling pasca tes.
2.TIPK dilakukan dengan langkah-langkah
meliputi:
a. pemberian informasi tentang HIV dan
AIDS sebelum tes;
b. pengambilan darah untuk tes;
c. penyampaian hasil tes; dan
d.
konseling.

LAYANAN

TES DAN KONSELING HIV (TKHIV)
A. TES DAN KOSELING HIV DI FASILITAS LAYANAN KESEHATAN
B. TES DAN KOSELING HIV (TKHIV) MANDIRI
C. TES DAN KOSELING HIV BERGERAK
D. LAYANAN TES DAN KONSELING DALAM TATANAN KHUSUS
1.Tes dan Konseling HIV di TNI &POLRI
2.Tes dan Konseling HIV di Lembaga Pemasyarakatan dan
Rumah Tahanan
3.Tes dan Konseling HIV di Lingkungan Kerja (Perusahaan
Swasta Dan BUMN)
4.Tes dan Konseling HIV Pada Calon Tenaga Kerja Indonesia
(CTKI) dan Tenaga Kerja Indonesia Purna (TKI Purna)
5.Tes dan Konseling HIV terkait dengan Unit Transfusi Darah
Tindakan pengamanan darah pendonor, produk darah dan
organ tubuh terhadap penularan HIV dilakukan dengan uji
saring (informed consent).
Tes HIV dilakukan dengan metode rapid diagnostic test (RDT)
atau EIA (Enzyme Immuno Assay).

Semua pasien yang telah terdeteksi terinfeksi
HIV harus dirujuk ke layanan pencegahan,
perawatan, dukungan dan pengobatan .
Setiap orang terinfeksi HIV wajib mendapatkan
konseling pasca pemeriksaan diagnosis HIV,
diregistrasi secara nasional dan mendapatkan
pengobatan.
Setiap fasilitas pelayanan kesehatan dilarang
menolak pengobatan dan perawatan ODHA.
Jika fasilitas pelayanan kesehatan tidak mampu
memberikan pengobatan dan perawatan, wajib
merujuk ODHA ke fasilitas pelayanan kesehatan
lain yang mampu atau ke rumah sakit rujukan
ARV.

Dalam

merujuk klien lakukanlah pemberian
informasi tentang pihak yang dapat dihubungi dan
alamatnya, waktu dan cara menghubunginya.
 Petugas dalam jejaring rujukan sebaiknya saling
berkomunikasi secara rutin termasuk bila ada
perubahan petugas sehingga rujukan dapat
berjalan secara lancar dan berkesinambungan.
Rujukan dapat berupa:
1. Internal: rujukan kepada layanan lain yang ada
pada fasilitas layanan kesehatan yang sama.
2. Eksternal: rujukan kepada berbagai sumber
daya yang ada di wilayah tempat tinggal klien,
baik yang dimiliki oleh pemerintah ataupun
masyarakat.

PENCATATAN & PELAPORAN
Data yang perlu dicatat:
1. Data Identitas
2. Alasan tes HIV dan asal rujukan kalau ada
3. Tanggal pemberian informasi HIV
4. Informasi tentang tes HIV sebelumnya bila ada
5. Penyakit terkait HIV yang muncul: TB, Diare, Kandidiasis oral,
Dermatitis, LGV, PCP, Herpes, Toksoplasmosi, Wasting
syndrome, IMS, dan lainnya.
6. Tanggal kesediaan menjalani tes HIV
7. Tanggal dan tempat tes HIV
8. Tanggal pembukaan hasil tes HIV, dan reaksi emosional yang
muncul
9. Hasil tes HIV, nama reagen ke 1, 2 dan ke 3.
10. Tindak lanjut: rujukan ke PDP, konseling, dan rujukan lainnya
11. Penggalian faktor risiko oleh konselor (melalui rujukan)
12. Nama petugas
Formulir yang digunakan dalam layanan TKHIV sesuai dengan
formulir yang berlaku dalam Pedoman Nasional Monitoring dan
Evaluasi.