You are on page 1of 26

PROGRAM STUDI S-1 FARMASI

STIKES MANDALA WALUYA KENDARI
2016

FARMASI FISIKA II
“ EMULSI”
KELOMPOK 2

Definisi emulsi
Emulsi merupakan jenis koloid dengan
fase terdispersinnya berupa fase cair
dengan medium pendispersinya bisa
berupa zat padat, cair, ataupun gas.
Emulsi
merupakan
sediaan
yang
mengandung dua zat yang tidak dapat
bercampur, biasanya terdiri dari minyak
dan air, dimana cairan yang satu
terdispersi menjadi butir-butir kecil dalam
cairan yang lain (Anief, 2000).

Tipe Emulsi
• Ada dua macam tipe emulsi yang terbentuk yaitu tipe M/A
dimana tetes minyak terdispersi kedalam fase air,dan tipe A/M
dimana fase intern adalah air dan fase ekstern adalah
minyak.Fase intern disebut pula fase dispers atau fase kontinu
(Anief,1993).
• Jenis
emulsi
M/A
dan
A/M
adalah
sistem
emulsi
sederhana.Sistem emulsi ganda akan diperoleh apabila didalam
bola-bola emulsi yang terbentuk terdapat lagi bola-bola dari
fase lainya.Sistem semacam ini dikatakan sebagai emulsi A/M/A
atau emulsi M/A/M.Komponen-komponen yang terdistribusi
didalam sebuah emulsi,dikatakan sebagai fase terdispersi atau
fase dalam atau fase terbuka.Komponen-komponen yang
mengandung cairan terdispersi,dinyatakan sebagai bahan
pendispersi atau fase luar atau fase tertutup.(Voight,1994)

STABILITAS FISIK EMULSI

Sabilitas Fisik Emulsi
Kestabilan emulsi ditentukan oleh dua gaya, yaitu:
1. Gaya tarik-menarik yang dikenal dengan gaya London-Van
Der Waals. Gaya ini menyebabkan partikel-partikel koloid
berkumpul membentuk agregat dan mengendap,
2. Gaya tolak-menolak yang disebabkan oleh pertumpangtindihan lapisan ganda elektrik yang bermuatan sama. Gaya
ini akan menstabilkan dispersi koloid
Faktor-faktor yang mempengaruhi stabilitas emulsi adalah:
• Tegangan antarmuka rendah
• Kekuatan mekanik dan elastisitas lapisan antarmuka
• Tolakkan listrik double layer
• Relatifitas phase pendispersi kecil
• Viskositas tinggi.

Pengawetan Emulsi
• Emulsi  karbohidrat,
protein, sterol, dan 
fostafida serta semua
bahan yang menunjang
pertumbuhan berbagai
mikroorganisme
• dibutuhkan pengawet
yang cocok
• Cth : alkohol 12-15 %, dri
fase air, asam benzoat
0,2%. Asam sorbat 0,2%

Sifat Rheologi Emulsi
Produk yang diemulsikan mungkin mengalami berbagai
shear-stress selama pembuatan atau penggunaanya. Pada
kebanyakan proses ini sifat aliran produk akan menjadi
sangat penting untuk penampilan emulsi yang tepat pada
kondisi penggunana dan pembuatannya. Jadi penyebaran
produk dermatologik dan produk kosmetik harus dikontrol
agar didapat suatu preparat yang memuaskan. Aliran emulsi
parenteral melalu jarum hipodermik, pemindahan suatu
emulsi dari botol atau tube dan sifat dari satu emulsi dalam
berbagai proses penggilingan yang digunakan dalam
pembuatan produk ini secara besar-besaran, menunjukkan
perlunya karakteristik aliran yang tepat (Martin Alfred.1983).

Kestabilan Fase Emulsi
Secara umum, sebuah emulsi dapat juga dianggap tidak
stabil secara fisik jika:

Fase internal atau
fase terdispersi
selama
penyimpanan
cenderung
membentuk
kumpulan bulatan
(glubule).

Bulatan-bulatan
berasal
atau
kumpulan
dari
bulatan tersebut
naik
ke
permukaan atau
turun ke dasar
emulsi
membentuk
sebuah
lapisan
fase
internal
yang pekat.

Apabila semua atau
sebagian cairan dari
faase internal menjadi
“tidak-teremulsi”
dan
membentuk
lapisan
berbeda pada bagian
atas atau bawah emulsi
sebagai
akibat
dari
penggabungan butiranbutiran fase internal.
Disamping itu, emulsi
bisa dipengaruhi oleh
kontaminasi
dan
pertumbuhan mikroba
dan
perubahanperubahan kimia dan
fisik
lainnya
(Ansel,

Formulasi Emulsi
Metode Gom Kering
Disebut pula metode continental dan metode 4;2;1. Emulsi
dibuat dengan jumlah komposisi minyak dengan ½ jumlah
volume air dan ¼ jumlah emulgator. Sehingga diperoleh
perbandingan 4 bagian minyak, 2 bagian air dan 1 bagian
emulgator.
Pertama-tama gom didispersikan kedalam minyak, lalu
ditambahkan air sekaligus dan diaduk /digerus dengan cepat dan
searah hingga terbentuk korpus emulsi.
Metode Gom Basah
Disebutt pula sebagai metode Inggris, cocok untuk
penyiapan emulsi dengan musilago atau melarutkan gum
sebagai emulgator, dan menggunakan perbandingan 4;2;1
sama seperti metode gom kering. Metode ini dipilih jika
emulgator yang digunakan harus dilarutkan/didispersikan
terlebuh dahulu kedalam air misalnya metilselulosa. 1 bagian
gom ditambahkan 2 bagian air lalu diaduk, dan minyak
ditambahkan sedikit demi sedikit sambil terus diaduk dengan
cepat

Metode Botol
Disebut pula metode Forbes .Metode inii digunakan untuk
emulsi dari bahan-bahan menguap dan minyak-minyak dengan
kekentalan yang rendah. Metode ini merrupakan variasi dari
metode gom kering atau metode gom basah. Emulsi terutama
dibuat dengan pengocokan kuat dan kemudian diencerkan
dengan fase luar.
Dalam botol kering, emulgator yang digunakan ¼ dari
jumlah minyak . Ditambahkan dua bagian air lalu dikocok kuatkuat, suatu volume air yang sama banyak dengan minyak
ditambahkan sedikit demi sedikit sambil terus dikocok, setelah
emulsi utama terbentuk, dapat diencerkan dengan air sampai
volume yang tepat.

Emulsi Ganda, Mikroemulsi &
Nanopartikel
Emulsi ganda merupakan suatu sistem kompleks yang dikenal pula
dengan istilah emulsi dalam emulsi, dimana droplet dari fase
terdispersi itu sendiri juga mengandung droplet terdispersi yang lebih
kecil. Emulsi ganda tergolong pada emulsi sederhana dengan tipe
umum W/O/W (air dalam minyak dalam air) dan O/W/O (minyak dalam
air dalam minyak) (Martin Alfred.1983).

Mikroemulsi adalah sistem dispersi yang mempunyai
karakter termodinamika stabil, transparan, isotropis, viskositas
rendah dispersi koloid yang terdiri dari minyak  atau air dalam
skala mikro yang distabilkan oleh surfaktan. (Lachman, Leon
dkk, 2008).
Nanopartikel adalah partikel koloid dengan ukuran lebih
kecil dari 1 mm (10 nm -1000 nm). Senyawa aktif tersebut
dapat di hadapkan dalam bermacam-macam keadaan keadaan
fisik. Dapat dilarutkan dalam matrik polimer, dapat
dienkapsulasi, atau dapat diabsorbsi atau dilekatkan pada
permukaan permbawa koloid. (Lachman, Leon dkk, 2008).

JURNAL
FORMULASI DAN EVALUASI
KESTABILAN FISIK EMULSI
GANDA TIPE A/M/A
DENGAN EMULGATOR
SORBITAN MONOOLEAT
DAN POLISORBAT 80

Majalah Farmasi dan Farmakologi Vol. 14, No.2 – Juli 2010 (ISSN : 14107031

ABSTRACT
Emulsi ganda A/M/A dikembangkan untuk memperlambat pelepasan
obat di dalam tubuh, yang pada tahap awal obat yang larut dalam fasa air
emulsi primer (A/M) akan dilepas menjadi fasa luar air dari emulsi A/M/A
tersebut. Penelitian ini di-lakukan untuk mengevaluasi kestabilan fisik
emulsi ganda tipe A/M/A menggunakan emulgator sorbitan monooleat dan
polisorbat 80 dan sebagai model obat adalah kafein. Pada penelitian ini
dirancang tiga formula dengan variasi konsentrasi sorbitan monooleat 2, 3,
4%. Evaluasi kesetabilan dilakukan sesudah pembuatan dan sesudah
kondisi dipaksakan pada suhu 5ºC dan 35ºC untuk emulsi primer sedangkan pada emulsi ganda penyimpanan pada suhu kamar (35º) dengan
parameter pengujian adalah pengamatan tetes terdispersi, volume
kriming, viskositas dan tipe aliran. Hasil penelitian menunjukkan tidak
terjadi kriming sedangkan pada peng-amatan tetes terdispersi
menunjukkan perubahan tetes terdispersi pada semua formula baik emulsi
primer maupun emulsi ganda. Hasil analisa statistic terhadap viskositas
menunjukan formula I tidak terdapat perbedaan nyata pada taraf 5% dan
1% baik pada emulsi primer maupun pada emulsi ganda.

Pembuatan emulsi ganda
Emulsi ganda (A/M/A) dibuat melalui dua tahap :
a. Pembuatan emulsi primer air
dalam minyak (A/M)
Fase air yang mengandung kafein
1,5% dan NaCl 0,03% dibuat
dengan cara memanaskan bersama air hingga 70oC sedangkan
fase minyak mengandung sorbitan monooleat dan parafin dibuat
dengan memanaskan hingga 70oC
dan diaduk hingga homogen. Fase
air diemulsikan ke dalam fase
minyak
lalu
diaduk
dengan
pengaduk
elektrik
agar
menghasilkan globul globul yang
halus. Rancangan formula emulsi
primer seperti yang terlihat pada
tabel 1.

Tabel 1. Formula emulsi primer tipe air dalam minyak
(A/M)

Komposisi
Fase minyak
Parafin
cair
Sorbitan
monoole
at
 
Fase air internal 
 

NaCl

 

Cafein

 

Aquadest

Formula
I
II
III
30
%

30
%

30
%

2% 3% 4%
0,0
3%
1,5
%
66,
47
%

0,0
3%
1,5
%
65,
47
%

0,0
3%
1,5
%
64,
47
%

• Pembuatan emulsi ganda
Rancangan formula emulsi ganda
seperti pada tabel 2.

Komposisi

I

Formula
II
III

Fase minyak
Emulsi
primer
80 80
  A/M
% %
Fase air internal 
Polisorba
  t 80
2% 2%
Aquades 18 18
 t
%
%

80%

2%
18%

Emulsi primer sebanyak 80
bagian diemulsikan ke dalam
fase air sebanyak 20 bagian
yang mengandung larutan
polisorbat 80 sebanyak 2% dan
diaduk dengan kecepatan lebih
rendah daripada tahap
pertama.

PENGUJIAN
Uji Pada Kondisi Dipaksakan
Emulsi primer yang terbentuk, disimpan pada kondisi
dipaksakan yaitu suhu 5C dan 35C secara ber-selangseling selama 10 siklus. Emulsi ganda yang terbentuk,
disimpan pada suhu kamar (35C) selama 4 minggu.
Pengujian Tipe Emulsi Berdasarkan Daya Hantar
Listrik
Emulsi primer maupun emulsi ganda yang telah dibuat
dimasukkan ke dalam gelas piala, kemudian dihubungkan dengan multitester. Bila jarum bergerak pada
alat tersebut ber-arti menghantarkan listrik, maka fase
terluarnya adalah air atau tipe emulsi adalah minyak
dalam air (M/A).

Evaluasi Kestabilan
Terhadap sediaan emulsi yang telah terbentuk (baik emulsi
pri-mer maupun emulsi ganda) dilakukan beberapa pengujian
untuk menentu-kan stabilitas emulsi ganda
Pengukuran volume kriming
Sampel emulsi primer sebanyak 25 ml ditempatkan di dalam
gelas ukur dan ditutup kemudian disimpan pada kondisi dipaksakan yaitu suhu 5oC dan 35oC secara berselang-seling masingmasing selama 12 jam, kemudi-an volume kriming yang terbentuk diamati setiap satu siklus hingga siklus ke 10.
Pengamatan mikroskopik
Pengamatan dilakukan dengan mikroskop, emulsi primer
diamati sesudah pembuatan dan sesudah kondisi dipaksakan,
sedangkan pada emulsi ganda diamati fase terdispersi pada
minggu pertama dan minggu keempat.

Uji Viskositas dan Tipe Aliran
Pengukuran dilakukan dengan viskometer Brookfield.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Pembentukan emulsi ganda melalui 2 tahap yakni
pembentukan emulsi primer dan tahap mengemulsi-kan
kembali emulsi primer ke fase terluarnya. Pada tahap
pertama emul-gator yang digunakan untuk emulsi (A/M)
adalah sorbitan monooleat yang memiliki nilai HLB lebih
rendah (4,3) daripada sorbitan monostearat (4,7) dan
sorbitan monolaurat (8,6). Sema-kin rendah nilai HLB maka
semakin
besar kecenderungannya untuk
mem-bentuk
emulsi A/M. Selanjutnya pada tahap pembentukan emulsi
ganda, emulsi primer diemulsikan kembali ke fase luar. Pada
tahap ini emulgator yang digunakan adalah polisorbat 80
(HLB=15), bukan polisorbat 60 (9,12). Semakin tinggi nilai
HLB maka akan semakin besar kecenderungan untuk
membentuk emulsi M/A.

Next…
Tipe emulsi primer sebelum dan sesudah kondisi dipaksakan diuji
berdasarkan daya hantar listrik, dan tidak menunjukkan daya
hantar listrik, yang berarti fase luar adalah minyak sehingga tipe
emulsi primer yang ter-bentuk adalah emulsi A/M. Hal ini karena
penggunaan sorbitan mono-oleat yang memiliki nilai HLB 4,3, yang
jika semakin kecil nilai HLB (kurang dari 7) maka emulgator tersebut semakin bersifat hidrofobik sehing-ga akan cenderung untuk
terdistribusi dalam fase minyak sehingga mem-bentuk tipe emulsi
air dalam minyak. Pengamatan tipe emulsi pada emulsi ganda
sebelum dan sesudah penyim-panan pada suhu kamar (35C) selama 4 minggu menggunakan metode daya hantar listrik
menunjukkan ada-nya daya hantar listrik. Hal ini menun-jukkan
fase terluar adalah air sehing-ga tipe emulsi ganda yang diperoleh
adalah tipe air dalam minyak dalam air (A/M/A), karena
penggunaan emulga-tor polisorbat 80 yang memiliki nilai HLB 15,0,
semakin besar nilai HLB (lebih dari 7) semakin bersifat hidrofilik
sehingga cenderung untuk terdistri-busi dalam fase air membentuk
tipe emulsi air dalam minyak.

Next…
Pada emulsi primer sebelum dan sesudah kondisi dipaksakan tidak terjadi
kriming pada semua formula. Hal ini menunjukkan bahwa emulsi pri-mer
yang terbentuk adalah stabil. Sedangkan emulsi ganda sebelum dan
sesudah penyimpanan pada suhu 35C selama 4 minggu menunjukkan
tidak terjadinya kriming pada semua formula, hal ini menunjukkan bahwa
emulsi ganda yang terbentuk stabil.
Viskositas emulsi primer dan emulsi ganda setelah penyimpanan,
keduanya mengalami penurunan vis-kositas. Hal ini disebabkan karena
surfaktan nonionik tidak memiliki sifat sebagai pengental fase minyak dan
juga pada fase air tetapi hanya seba-gai pengemulsi, selain itu dapat disebabkan oleh terjadinya penggabungan (koalesense) pada masing-masing
fase yang diakibatkan oleh rusaknya lapisan antarmuka yang dibentuk oleh
emulgator.
Analisis statistik menunjukkan bahwa viskositas emulsi primer pada
formula I sebelum dan sesudah kondi-si dipaksakan selama 10 siklus tidak
mengalami perubahan viskositas yang nyata. Hal ini menunjukkan bahwa
for-mula I lebih stabil daripada formula II dan formula III. Analisis statistik
me-nunjukkan bahwa viskositas emulsi ganda pada formula I setelah
pembu-atan (minggu 0) hingga minggu ke-4 tidak mengalami perubahan
viskositas yang nyata pada taraf 1% dan 5%, hal ini menunjukkan bahwa
formula I lebih stabil daripada formula II dan III.

Next…
Aliran emulsi ganda sebelum dan sesudah penyimpanan
berdasar-kan pengukuran tipe alir menunjukkan tipe aliran
pseudoplastis.
Dari pengamatan mikroskopis, tetes terdispersi (globul) pada
emulsi primer sebelum dan sesudah kondisi dipaksakan selama 10
siklus meng-alami perubahan menjadi lebih besar. Hal ini
disebabkan oleh rusaknya lapisan antarmuka yang dibentuk oleh
emulgator setelah kondisi dipaksakan sehingga menyebabkan
penggabung-an pada masing-masing fase air dan minyak pada
emulsi primer emulsi. Tetes terdispersi (globul) pada emulsi ganda
sebelum dan sesudah penyim-panan selama 4 minggu pada suhu
kamar juga mengalami perubahan ukuran tetes terdispersi menjadi
lebih besar, hal ini kemungkinan selain disebabkan rusaknya
lapisan antar-muka, juga disebabkan oleh adanya perbedaan
tekanan osmotik pada fase air internal dan fase air eksternal.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan
pembahasan maka dapat disim-pulkan
bahwa emulsi ganda formula I yang
menggunakan sorbitan mono-oleat 2%
memiliki kestabilan fisik yang lebih
baik.

HASIL DISKUSI
1. Apakah pada ketiga metode pembuatan emulsi yaitu
metode gom kering, metode gom basah, dan metode
botol, cara penyimpanannya berbeda ? Jelaskan. Dan
metode apa yang paling sering digunakan untuk
pembuatan emulsi ? Jelaskan alasannya.
Jawab :
Metode gom basah dan gom kering adalah emulsi air
dalam minyak (A/M). Pada umunnya penyipanannya
sama yaitu telah diatur difarmakope.
Metode yang paling sering dihunakan adalah metode
botol, karena metode botol merupakan metode emulsi
yang mudah dilakukan.

2. Pada evaluasi kestabilan emulsi, mengapa
emulsi disimpan pada kondisi dipaksakan yaitu
suhu 5oC dan 35oC ?
Jawab :
Penyimpanan emulsi dilakukan pada suhu yang
dipaksakan (stress coindition) 5oC yaitu
perlakuan ini dimaksudkan untuk mengetahui
kestabilan emulsi
dimana terjadi penurunan
suhu secara drastis, kondisi ini akan lebih
mempercepat pengamatan kita terhadap stabil
atau tidaknya suatu emulsi. Sedangkan pada
suhu 35oC, dimana suhu tersebut adalah suhu
kamar dilakukan untuk melihat perbandingan
antara suhu yang dipaksakan yaitu 5oC dan suhu
kamar yaitu 35oC.

3. Pada evaluasi kestabilan emulsi, mengapa emulsi
disimpan selama 12 jam ? Dan mengapa pada
Rancangan formula emulsi ganda harus diaduk dengan
kecepatan yang lebih rendah ?
Jawab :
Pada evaluasi kestabilan emulsi, emulsi disimpan selama
12 jam atau tiap 1 siklus. Setiap pengujian emulsi tiap satu
siklus adalah 12 jam. Hal ini dilakukan utnuk melihat
kestabilan emulsi tia 1 siklus selama 10 siklus.
Pada rancangan formulasi primer yaitu emulsi tipe A/M
diaduk
mneggunakan
pengaduk
elektrik
agar
menghasilkan globul globul yang halus. Sedangkan pada
emulsi ganda diaduk dengan kecepatan yang lebuh
rendah, hal ini dilakukan karena jika dilakukan pengadukan
dengan kecepatan tinggi maka emulsi primer tadi akan
rusak, sehingga emulsi gandapu tdk akan jadi. Emulsi
ganda disini adalah tipe A/M/A.