You are on page 1of 32

SKRINING DALAM

MENDETEKSI PENYAKIT
DAN PEMELIHARAAN
KESEHATAN

OLEH :
KELOMPOK IV
MUHAMMAD RYMAN NAPIRAH
P1802210004
SYAMSUDDIN
P1802210008
SITTI ZAM-ZAM
P1802210012
YUSNAENI
P1802210016

PENGANTAR

Jika deteksi awal dan pengobatan dapat
mempengaruhi dengan baik rangkaian batas
suatu penyakit, maka kemudian ukuran ini dapat
berfungsi sebagai garis sekunder pertahanan
mencegah penyakit yang sudah tidak rentan
sekarang ini dengan pencegahan primer
Ada dua kemungkinan besar diagnosis awal :
Pertama bergantung pada perhatian cepat
terhadap gejala awal penyakit, dan lainnya
berusaha untuk mendeteksi penyakit pada
individu asimptomatik

Lanjutan Pengantar…

Pencapaian investigasi awal gejala permulaan
penyakit membutuhkan pendidikan publik dan
dokter sehingga mereka belajar merespon
dengan tepat suatu isyarat yang mungkin
merupakan indikasi suatu penyakit
Deteksi penyakit pada individu asimptomatik
seharusnya melebihi kepercayaan pada respon
terhadap gejala, dimana jika suatu penyakit
belum mencapai ambang batas atau
penampakan klinis, peluang untuk dapat
disembuhkan bisa lebih baik

Jalan Perawatan Hasil Rujukan Diri Sendiri Perawatan Penyakit Kronik 11-1A. Proyeksi Masa Depan Perawatan Penyakit Kronik Diagno sis Surveilans Penyembuh an . Kondisi Sekarang Diagno sis Surveilans Penyembuh an Rujukan Diri Sendiri 11-1B.

Hanya sedikit kasus penyakit yang dideteksi pada keadaan asimptomatik karena rendahnya partisipasi dalam program surveilans berkelanjutan. Karena hal ini seharusnya memudahkan deteksi awal pada rangkaian suatu penyakit.Gambar 11-1A Penyakit didiagnosis secara primer karena orang mengacu pada perawatan medis diri sendiri untuk investigasi gejala khusus. persentase penyembuhan seharusnya meningkat dan beban perawatan untuk penyakit kronik menurun . bagian penyembuhan lebih kecil dibandingkan bagian yang membutuhkan perawatan berlarut-larut Gambar 11-1B Kebanyakan penyakit akan dideteksi pada rangkaian surveilans teratur dibandingkan melalui rujukan sendiri terhadap suatu gejala. Karena banyak kasus yang terlambat diperhatikan.

Tes skrining tidak mengarah pada diagnosis. skrining didefinisikan sebagai identifikasi anggapan penyakit atau cacat yang tak dikenali oleh aplikasi tes. pengujian atau prosedur lain yang dapat dilakukan berulang untuk menyortir orang yang terlihat sehat yang kemungkinan memiliki suatu penyakit dari orang yang kemungkinan tidak memiliki penyakit. 1957. Orang dengan hasil positif atau dicurigai harus merujuk pada dokter untuk diagnosis dan pengobatan yang diperlukan (Komisi Penyakit Kronik.DEFINISI SKRINING  Beberapa tahun lalu. Italia) .

Skrining…??? Adalah usaha untuk mengidentifikasi penyakit/kelainan yang secara klinis belum jelas dengan menggunakan tes. benar-benar sehat tetapi sesungguhnya menderita kelainan . atau prosedur tertentu yang dapat digunakan secara cepat untuk membedakan orang-orang yang kelihatannya sehat. pemeriksaan.

Identifikasi Nilai Normal     Konsep “normal” dan spesifikasi untuk memisahkan “positif” dan “negatif” layak untuk didiskusikan Istilah “normal” dapat mengarah pada biasa. skrining terkait pada akhirnya dengan definisi fungsional normalitas . khas. nilai suatu karakteristik untuk kelompok populasi (seperti tinggi atau berat rata-rata) Ini juga dapat digunakan untuk menggambarkan status statistik. sekarang atau akan datang Karena tujuan skrining ialah untuk mengidentifikasi orang yang memiliki penyakit atau pada resiko yang meningkat di masa depan.

misalnya kadar rata-rata hemoglobin.Identifikasi Nilai Normal…??? Pengertian normal biasanya dipakai untuk menentukan karakteristik populasi tertentu. Nilai rata-rata tersebut dapat diperkirakan batas yang dianggap normal .

KRITERIA EVALUASI TES SKRINING   Suatu tes skrining seharusnya memberikan indikasi pendahuluan yang bagus mana individu yang sebenarnya memiliki penyakit dan mana yang tidak Validitas memiliki 2 komponen : 1) Sensitivitas : Kemampuan untuk mengidentifikasi dengan benar siapa yang memiliki penyakit 2) Spesifitas : Kemampuan untuk mengidentifikasi dengan benar siapa yang tidak memiliki penyakit V A L I D I T A S .

Kelompok nonglaukoma (A) lebih besar dibanding kelompok B dan memiliki tekanan intraokular rata-rata yang lebih rendah. dengan rentang nilai 14-26 mmHg. Tekanan intraokular pada kelompok B sebagian tumpang tindih dengan tekanan intraokular pada kelompok A. berada di antara 22-42 mmHg.Penentuan Sensitivitas dan Spesifitas : Sebuah Contoh  Ada dua kelompok. kelompok tanpa penyakit (A) dan kelompok dengan penyakit (B). Rentang 22-26 mmHg dengan demikian mencakup mata dengan glaukoma dan nonglaukoma .

semua mata nonglaukoma akan disebut negatif. tes akan 100 % spesifik. semua mata yang mengandung glaukoma akan menjadi positif pada tes. Dengan kata lain. hasil tes akan mengacu sebagai negatif salah Jika G L A U K O M A tingkat skrining diset pada 22 mmHg. Tetapi. karena semua mata glaukoma berada pada 22-26 mmHg juga akan disebut negatif. sensitivitas tes akan rendah. Untuk itu. tes sekarang akan 100 % sensitif. Tetapi.Lanjutan Penentuan… Jika level skrining diset pada 26 mmHg. karena mata nonglaukoma dengan tekanan 22-26 mmHg juga akan disebut positif. tes akan kekurangan spesifitas. Hasil tes seperti ini disebut sebagai positif salah . Ketika orang yang berpenyakit diberi label negatif.

Lanjutan Penentuan…  Gambar 11-5 : Hasil Tes Skrining yang menggambarkan Sensitivitas dan Spesifitas HASIL TES SAKIT TIDAK SAKIT POSITIF TP (True positive) FP (False positive) NEGATIF FN (False negative) TN (True negative) Sensitivitas = TP TP  FN Spesifitas = TN TN  FP .

Persentase sensitivitas = Persentase orang berpenyakit yang dideteksi oleh tes TP = TP  FN FN X 100 TP  FN Persentase orang berpenyakit yang tidak dideteksi oleh tes Persentase negatif salah = Persentase spesifitas = Persentase positif salah = = Persentase orang tanpa penyakit yang ditandai dengan benar oleh tes sebagai orang tanpa penyakit Persentase orang tanpa penyakit yang ditandai dengan tidak benar oleh tes sebagai orang berpenyakit X 100 = = TN X 100 TN  FP FP X 100 TN  FP .

Keadaan Penyakit 100 % Berpenyakit Tidak Berpenyakit Positif 75 50 Negatif 15 850 Jumlah 90 900 Hasil Tes Sensitivitas = Negatif salah = Spesifitas = Positif salah = 75 75   83 % 75  15 90 15 15   17 % 75  15 90 850 850  50 1 850 00 %   94 % 900 50 50   6% 850  50 900 1 .

Lanjutan Penentuan…    Secara alami. kita ingin tes sensitif. kita lebih suka tes menjadi spesifik untuk penyakit. dengan tanpa melihat apakah hasil skriningnya positif atau negatif . yang akan mengidentifikasi proporsi yang tinggi orang yang memiliki suatu penyakit dan kemudian akan menghasilkan sedikit negatif salah Pada saat yang sama. dimana reaksi positif seharusnya dibatasi sebagian besar pada kelompok yang berpenyakit dan terdapat sedikit positif salah Evaluasi sensitivitas dan spesifitas suatu tes mensyaratkan bahwa suatu diagnosis penyakit ditetapkan dan dikesampingkan untuk setiap orang yang dites dengan prosedur skrining.

dan pendekatan kedua (tes secara paralel) meningkatkan sensitivitas .Kombinasi Tes    Dua atau lebih tes dapat dikombinasikan untuk meningkatkan sensitivitas dan spesifitas proses skrining Ada 2 bentuk dasar kombinasi : 1) Tes secara seri : Orang akan disebut positif jika tesnya positif untuk semua seri tes dan negatif jika tesnya negatif untuk semua seri tes 2) Tes secara paralel : Orang akan disebut positif jika tesnya positif terhadap beberapa tes Pendekatan pertama (tes secara seri) meningkatkan spesifitas tes.

Seri…??? .

Paralel…??? .

Lanjutan Kriteria… Tes yang memberikan hasil yang konsisten ketika tes dilakukan lebih dari sekali pada individu dan kondisi yang sama Ada 2 faktor utama yang mempengaruhi konsistensi hasil tes : 1) Variasi yang terdapat pada metode : sebagai stabilitas penggunaan bahan reaksi dan fluktuasi pada substansi akan diukur 2) Variasi pengamat (kesalahan pengamat) : dapat berasal dari perbedaan di antara pengamat (variasi interobserver) dan jumlah dari variasi dalam pembacaan oleh pengamat yang sama pada waktu yang terpisah (variasi intraobserver) R E L I A B E L .

Lanjutan Kriteria…   Jumlah penyakit yang tidak diketahui sebelumnya yang didiagnosa dan diobati sebagai hasil skrining Hasil dari skrining tergantung pada beberapa faktor : 1) Sensitivitas tes : Suatu tes skrining harus mendeteksi bagian kasus yang cukup agar dapat berguna 2) Prevalensi penyakit tak dikenal : Semakin tinggi prevalensi penyakit tak dikenal pada suatu populasi semakin tinggi pula hasil dari skrining H A S I L .

Lanjutan Kriteria… 3) Perluasan skrining sebelumnya : Hasil dari skrining juga akan bervariasi tergantung pada apakah skrining awal atau berulang telah dilakukan 4) Perilaku kesehatan : Skrining tidak akan meningkatkan kesehatan kecuali jika orang berpartisipasi dalam program 5) Nilai prediktif : Ketika prevalensi rendah meskipun tes spesifitasnya tinggi akan memberikan jumlah positif palsu yang relatif lebih besar karena banyak orang yang tak berpenyakit dites TP TP  FP a. Nilai prediktif tes positif : b. Nilai prediktif tes negatif : TN TN  FN .

PRINSIP YANG MENDASARI PROGRAM SKRINING       Kondisi yang terlihat haruslah merupakan masalah kesehatan yang penting Harus terdapat pengobatan yang diterima oleh pasien dengan penyakit yang dikenali Fasilitas untuk diagnosis dan pengobatan harus tersedia Harus ada tahap simptomatik awal atau laten yang dikenali Harus ada tes atau pengujian yang sesuai Tes itu harus dapat diterima oleh populasi .

1968 .Lanjutan Prinsip…     Riwayat alami suatu kondisi. harus cukup dipahami Harus ada kebijakan persetujuan terhadap siapa yang akan diobati sebagai pasien Biaya penemuan kasus (termasuk diagnosis dan penanganan pasien) harus seimbang secara ekonomi dalam hubungannya dengan kemungkinan pengeluaran pada perawatan medis secara keseluruhan Penemuan kasus seharusnya merupakan proses berkelanjutan dan bukan proyek “satu kali untuk semua” Wilson dan Jungner. termasuk perkembangan penyakit-penyakit dari tersembunyi menuju penampakan.

Kriteria Penyakit yang Tepat untuk dilakukan Skrining)…??? .

STATUS TERKINI SKRINING PENYAKIT TERTENTU  Karsinoma Mulut Rahim Skrining untuk kondisi ini melihat ke belakang pada demonstrasi yang dilakukan Papanicolau (1943) bahwa skrining sitologik mulut rahim dengan pengujian sel exfoliat dari olesan vagina dapat memberikan bukti penyakit yang berbahaya meskipun sebelum invasi terjadi .

Studi itu juga memberikan beberapa bukti bahwa prognosis pokok kanker payudara dapat ditingkatkan dengan deteksi awal .Lanjutan Status…  Kanker Payudara Studi HIP yang dilaporkan Shapiro mengindikasikan kira-kira satu tahun waktu arahan (pemendekan waktu diagnosis) sebagai hasil program skrining mereka.

otak. efek tekanan darah tinggi yang berlanjut pada jantung. Meskipun demikian.Lanjutan Status…  Hipertensi Telah dibuat biaya tinggi pada program kesehatan masyarakat melawan secara langsung hipertensi yang akan meliputi skrining dan pengobatan. ginjal. dan retina sangat merusak sehingga terdapat kepentingan yang meluas pada permulaan program ini .

Kepentingan terhadap penyakit sel sabit pada akhir tahun 1960 dan diterimanya UU Kontrol Anemia Sel Sabit Nasional oleh Kongres pada tahun 1971 menuju kepada perluasan riset dan peresmian program skrining dalam skala besar . Sel sabit mengarah pada sel darah yang mengandung bentuk hemoglobin (Hgb S).Lanjutan Status…  Penyakit Sel Sabit Penyakit ini menimbulkan pertanyaan menarik tentang implikasi nonmedis program skrining.

reliabilitas. sebagaimana kemudahan dan biaya yang murah. dan hasil yang tinggi. diuraikan sebagai karakteristik yang diinginkan dari tes skrining Sensitivitas dan spesifitas didefinisikan sebagai aspek validitas Kewajiban tertentu dokter kepada pasien yang diperoleh dari sifat skrining ditekankan .KESIMPULAN     Skrining diberikan sebagai bentuk pencegahan sekunder Validitas.

dan tindak lanjut positif yang tidak memadai Perluasan kemampuan untuk skrining menyatu dalam kelompok besar yang menawarkan perawatan komprehensif juga dijelaskan Terakhir. status terkini skrining untuk penyakit tertentu dijelaskan dengan singkat .Lanjutan Kesimpulan…    Beberapa permasalahan utama sekarang yang berhubungan dengan skrining diuraikan. meliputi biaya. kurangnya penerimaan masyarakat.

TERIMA KASIH .