You are on page 1of 47

STUDI SIFAT MEKANIK CAMPURAN POLYPROPYLENE (PP

)
POLYETHYLENE (PE) DAN ALUMUNIUM POWDER (AL)
MENGGUNAKAN MESIN MIXER

SYUGITO

110401037
Dosen
Pembanding
Ir.mulfi hazwi msc

Dosen Pembimbing
Ir. Alfian Hamsi MSc

DEPARTEMEN TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2015

Dosen
Pembanding
Suprianto, ST.MT

Latar Belakang

Proses percampuran merupakan bagian penting
yang dilakukan dalam suatu industri kimia dan
Percampuran polymer dengan elemen dilakukan
untuk tujuan tertentu seperti memperbaiki sifat
mekanis dari suatu campuran.
Sifat mekanis campuran diperoleh melalui
pengujian tarik sampel campuran, pembuatan
sampel dapat dilakukan menggunakan metode
injeksi molding,foto makro dan mikro.

Batasan Masalah
Pengujian ini dilakukan dengan batasan masalah sebagai
berikut :
1. Berdasarkan hasil dari jurnal sebelumnya yang memakai bahan baku
polypropylene,polyethylene dan fiber glass, maka pada penelitian ini yang
membedakan hanya pada bahan penguat yaitu mengganti fiber glass dengan
Alumunium powder.
2. Berdasarkan hasil dari jurnal sebelum nya menggunakan komposisi PP 70
%, PE 20 % dan FG 10 % di dapatkan nilai kekuatan tarik yang tinggi
sehingga pada penelitian ini Pencampuran polypropylene, polyetylene dan
Alumunium powder dilakukan dengan menambah kan variasi komposisinya
yaitu:Formula 1(PP 70%,PE 20%,AL 10 %) Formula 2(PP 72%,PE 20 %,AL 8
%) Formula 3(PP 74%,PE 20 %,AL 6 %) Formula 4(PP 76%,PE 20 %,AL 4
%)Formula 5(PP 78 %,PE 20 %,AL 2 %)

Batasan Masalah
3.

Pencampuran polypropylene, polyetylene dan Alumunium powder
dilakukan dengan variasi putaran yaitu 52 Rpm, 100 Rpm dan 144 Rpm Pada
temperatur 1600c, 1700c dan 1800c dengan variasi komposisi yang paling
optimum yaitu pada Formula 5 (PP 78 %,PE 20 %,AL 2 %).

4.

Simulasi moldflow adviser hanya untuk menganalisa proses pembentukan
sampel uji tarik pada material polypropylene.

5.

Pengujian sifat mekanik yang dilakukan yaitu pengujian tensile dan uji
foto makro dan mikro.

3. Mengetahui nilai optimum regangan tarik (elongation) pada variasi komposisi. polyetylene dan Alumunium powder menggunakan mixer.variasi putaran dan temperatur. Membandingan hasil pembentukan sampel pada proses injection hot press dengan hasil simulasi moldflow adviser. . 2. Mengetahui kehomogenan dari proses pencampuran bahan polypropylene. 4. polyetylene dan Alumunium powder terhadap sifat mekanik dari hasil foto makro dan mikro. Mengetahui pengaruh variasi komposisi.Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini dilakukan adalah : 1.variasi putaran dan temperatur yang paling optimum terhadap kekuatan tarik dengan campuran polypropylene.

S2 dan S3 dalam melakukan suatu penelitian Dengan menggunakan mixer.Manfaat Penelitian Adapun manfaat dari penelitian ini adalah : 1. Bagi peneliti dapat menambah pengetahuan. Untuk membantu mahasiswa S1. . 3. 2. Sumbangan bagi kalangan industri. sehingga mampu memproduksi plastic dengan mengetahui jenis-jenisnya dan proses pengerjaan yang cocok dengan jenis plastik dan produk yang diinginkan.terutama tentang pencampuran bahan-bahan polimer untuk meningkatkan kekuatan tariknya.

.Tinjauan Pustaka Mesin Mixer Mesin mixer merupakan salah satu dari berbagai jenis mesin yang digunakan untuk mencampur berbagai jenis material. Seperti penggunaan mesin mixer internal atau dua buah rol pada proses pembuatan komposit yang masih bisa menimbulkan resiko degradasi terhadap komposit itu sendiri. berat rata-rata partikel dan ukuran masing-masing komponen dapat digunakan untuk mengukur seberapa random campuran. Proses pencampuran dua atau lebih material sangat dipengaruhi oleh beberapa parameter proses seperti kecepatan pengadukan.komposisi maupun temperatur. penggunaannya di bidang industri maupunpenelitian. namun hal ini dapat diperbaiki dengan dengan melakukan metode meltmixing pada material. Kualitas pencampuran jika menggunakan metode yang lama diukur karakteristik fisis campuran seperti densitas.yang melakukan simulasi perubahan kualitas campuran selama proses mixing menyatakan bahwa pada sistem butiran terlihat jumlah butiran yang paling banyak memperlihatkan kualitas campuran yang kurang baik bila dibandingkan dengan jumlah komponen yang lebih sedikit.

 Pen campuran dapat dipisahkan menjadi komponen aslinya secara meka nis.Dalam kimia.sementara tidak ada per ubahan fisik dalam suatu pencampuran.Tinjauan Pusaka Pengertian pencampuran Pencampuran (mixing) adalah proses yang menyebabkan tercampur nya bahan ke bahan lain dimana bahan tersebut terpisah dalam fasa  yang berbeda. Pencampuran dapat bersifat homogen atau heterogen . sifat kimia suatu pencampu ran seperti titik lelehnya dapat menyimpang dari komponennya. suatu pencampuran (mixing) adalah se buah zat yang dibuat dengan menggabungkan dua zat atau lebih ya ng berbeda tanpa reaksi kimia yang terjadi.

Contohnya Proses hidrogenasi. Alat yang digunakan untuk pencampuran bahan padat dengan padat dapat berupa bejana-bejana yang berputar.Tinjauan Pustaka Jenis-jenis pencampuran 1. Pencampuran bahan padat-padat Pencampuran dua atau lebih dari bahan padat banyak dijumpai yang akan menghasilkan produk komersial industri kimia.    Pencampuran bahan cair-gas Untuk proses kimia dan fisika tertentu gas harus dimasukkan ke dalam cairan. memasukkan udara kedalam lumpur dalam instalasi penjernih biologis) . ataupun pneumatik 2. artinya cairan dicampur secara sempurna dengan bahan-bahan berbentuk gas. Contohnya Pencampuran bahan pewarna dengan bahan pewarna lainnya atau dengan bahan penolong untuk menghasilkan nuansa warna tertentu atau warna yang cemerlang. atau bejana-bejana berkedudukan tetap tapi mempunyai perlengkapan pencampur yang berputar. Oksidasi cairan oleh udara (fermentasi. khorinasi dan fosfogensi.

Pelarutan adalah suatu proses mencampurkan bahan padat kedalam cairan Jenis-jenis peralatan pencampuran 1. Pencampuran bahan cair-padat Pada persiapan atau pelaksaan proses kimia dan fisika serta juga pada pembuatan produk akhir komersial.Dry blending .Tinjauan Pustaka 3. seringkali cairan harus dicampur dengan bahan padat. Pencampuran cairan dengan padatan akan menghasilkan suspensi. Tetapi bila kelarutan padatan dalam cairan tersebut cukup besar akan terbentuk larutan.

sejumlah sedikit cairan ditambahkan ke padatan dengan tujuan untuk melapisi atau mengabsorbsi warna.Tinjauan Pustaka terdiri dari palung horisontal berbentuk U dan agitator yang terbuat dari inner dan outer helical ribbon yang menggerakkan bahan pada arah yang berlawanan. sereal. kopi dan campuran minuman lain termasuk minuman coklat dan minuman berenergi. teh. Bahan cair ditambahkan melalui charge port pada cover atau spray nozzle untuk aplikasi kritis 2. Desain blender ini sangat efisien dan efektif untuk pencampuran kering seperti pencampuran cake dan muffin.High mixer shear . tepung. minyak dan cairan tambahan lainnya. pembumbuan. Ketika produk makanan pencampuran kering.

Jenis alat ini juga digunakan dalam industri makanan untuk produksi larutan sirup. konsentrat jus dan emulsi bumbu .Ultra high shear mixing Mempunyai kecepatan putar yang tinggi. emulsi dan dispersi minuman 3. ultra-high shear mixer ideal untuk emulsi dan dispersi yang membutuhkan homogenizer.Tinjauan Pustaka Menggunakan pemasangan rotor atau stator yang membangkitkan kebutuhan shear yang kuat untuk bahan padat murni dalam persiapan dressing. bumbu. saus dan pasta. Aplikasinya antara lain pada saus. dressing.

Tinjauan Pustaka 4. saus. mentega kacang. nutraceutical.High viscosity batch mixing Menggunakan dual shaft dan triple shaft mixer dan digunakan pada industri makanan pada proses batch dari aplikasi dari viskositas sedang sampai viskositas tinggi seperti sirup permen. dan lain-lain . pasta. minuman.

makanan hewan. sistem mixing multi agitator akan secepatnya menghasilkan aliran yang dapat dikarakterisasi oleh anchor atau dengan zona suhu tunggi dekat disperser dan pemasangan rotor atau stator. Aplikasi makanan lainnya yang diproses melalui double planetary mixer termasuk sirup. gel. dan formula viskos lainnya . permen.Double planetary mixing Ketika viskositas produk terus naik.Tinjauan Pustaka 5.

mainan anak-anak. rumus molekulnya adalah (-CHCH3-CH2-)n. kesehatan.Ketahanan mekanikal yang rendah. insulasi kawat dan kabel. lapisan.Sifat elektrikal yang baik Aplikasi : Alat-alat rumah tangga. polyethylene (PE) Jenis : plastik polyethelene memiliki 2 jenis utama.Daya tahan kelembaban uap yang tangguh dan sangat luwes.Pengenalan bahan baku 1. Bentuk bahan : Butiran. Sifat-sifat umum : Daya tahan kimianya sangat baik.Tahan panas.Sangat tahan kimia.Keras permukaan yang sangat baik.Faktor tenaga yang rendah. tabung dan pipa. serat dan filamen. transparan dan memiliki titik leleh 165°C. 2. cetakan. mainan anak-anak dan alat-alat rumah tangga. komponen elektronika. yaitu LDPE (Low Density Polyethylene) dan HDPE (hight density  polyethylene). pipa.” PP sendiri memiliki sifat yang tahan terhadap bahan kimia atau Chemical Resistance namun ketahanan pukul atau Impact Strengh rendah. . Polypropylene merupakan plastik polymer yang mudah dibentuk ketika panas. Sifat-sifat : Tanpa bau dan warna. Aplikasi : Film dan lembaran untuk kemasan.

Karakteristik penting lainnya dari aluminium termasuk kepadatan rendah (yang hanya sekitar tiga kali lipat dari air). dan kelenturan (yang berarti dapat dengan mudah dibentuk menjadi lembaran tipis) . Hal ini untuk mencegah korosi dan berkarat. Ketika aluminium terkena udara. tetapi non-magnetik.Pengenalan bahan baku 3. lapisan tipis aluminium oksida terbentuk pada permukaan logam. daktilitas (yang memungkinkan untuk ditarik ke dalam kawat). Alumunium powder Aluminium bertindak sebagai konduktor yang sangat baik listrik dan panas.

dan Regangan).Karakteristik Karakterisasi dilakukan untuk mengetahui dan menganalisa campuran polimer. Kekuatan tarik sesuatu bahan didefenisikan sebagai besarnya beban maksimum (Fmaks) yang digunakan untuk memutuskan suatu bahan dibagi dengan luas penampang awal (A0). Karakterisasi yang dilakukan berupa uji tarik (Kekuatan tarik. Keterangan: σ = Kekutan Tarik (MPa) F = Beban Maksimum (N/mm2) = Luas penampang awal (mm2) A0 . Tegangan(stress) adalah salah satu sifat dasar dari bahan polimer yang terpenting dan sering digunakan untuk karakteristik untuk suatu bahan polimer.

Karakteristik Regangan Didefinisikan sebagai perbandingan antara penambahan panjang benda terhadap panjang mula-mula. Pertambahan panjang yang terjadi akibat perlakuan yang diberikan pada sampel sehingga pertambahan panjang sampel setiap satuan Keterangan: Ε = regangan (elongation) ΔL = pertambahan panjang (mm) L0 = panjang awal (mm) .

Diagram Alir Penelitian .

Politeknik Negeri Medan pada tanggal 30 September 2015 s/d tanggal 10 Oktober 2015. Departemen Teknik mesin Universitas Sumatera Utara dari tanggal 24 Agustus 2015 s/d tanggal 27 November 2015. .Waktu dan tempat penelitian Pengujian pencampuran menggunakan mesin mixer dilakukan di Laboratorium Teknologi Mekanik. Pencetakan specimen dan pengujian tarik dilakukan di Laboratorium Teknik Mesin.

Alat Dan Bahan ALAT Hidrolic hot press Mesin mixer Stop watch Mesin uji tarik .

Alat Dan Bahan Timbangan digital Thermocou ple Bahan PP P E A L .

PE 20 % % % % % dan dan dan dan dan AL AL AL AL AL 10 % ) 8%) 6%) 4%) 2%) Untuk variasi putaran dan temperatur Polypropylene : 78 % Polyetylene : 20 % Serbuk alumunium : 2 % Temperatur Formula 1 (1600C).Setelah ditimbang masukan semua komposisi campuran kedalam wadah mixer. .variasi putaran dan temperatur. 2. Setelah dimasukan dalam wadah .PE 20 Formula 4 ( PP 76 %.PE 20 Formula 2 ( PP 72 %. atur suhu pada pemanas mixer yaitu : Pada temperatur 1500C dengan putaran N1 52 rpm untuk Variasi komposisi. Adapun tahapan yang dilakukan adalah sebagai berikut : Siapkan mesin mixer untuk pencampuran Timbang bahan dengan timbangan digital yaitu dengan komposisi Untuk variasi komposisi Formula 1 ( PP 70 %.PE 20 Formula 3 ( PP 74 %.PE 20 Formula 5 ( PP 78 %.Prosedur pencampuran untuk variasi komposisi. N2=100 rpm dan N3=144 rpm 1. Formula 2 (1700C) dan Formula 3 (1800C) Putaran N1=52 rpm.

3. 8.Prosedur pencampuran untuk variasi komposisi. 3. 5. 9.variasi putaran dan temperatur. dan N3=144 rpm. Lakukan sampai variasi komposisi dan variasi putaran sampai selesai di campur. 4. Setelah di ambil maka untuk formula 1 telah selesai dicampur. N2=100.untuk variasi putaran menggunakan Temperatur dan putaran sesuai Formula di atas. Maka setelah selesai formula 1. T2 1700c dengan putaran yang sama. Setelah 10 menit matikan mesin dan buka tutup wadah mixer kemudian ambil campuran polypropylene. dengan putaran pengaduk sama yaitu N1=52 Rpm dan waktu yang sama yaitu 10 menit.maka dilanjut ke formula 2. dan sampai T3 1800c juga dengan putaran yang sama. Waktu pencampuran dilakukan selama 10 menit untuk variasi komposisi. Berikut hasil pencampuran dari variasi komposisi dan variasi putaran . 10.Kemudian setelah temperatur sudah di atur hidupkan mesin mixer dan kemudian campur semua komposisi.dan untuk variasi putaran di lakukan selama 5 menit. 7. 6. Begitu juga untuk variasi putaran T1 1600c dengan putaran N1=52.4 dan 5 dengan temperatur yang sama 150 0C.polyetylene dan serbuk alumunium didalam wadah begitu juga untuk variasi putaran.

polyetylene dan serbuk alumunium tersebut. Setelah sampel sudah selesai selanjutnya dilakukan pengujian tarik pada setiap sampel gunanya untuk mengetahui kekuatan tegangan tarik dan pertambahan panjang dari hasil pencampuran polypropylne. 4.Hasil dari setiap formula diatas akan dibentuk specimen uji tarik dengan cetakan pada gambar (c). . 3.Hasil pencampuran dari setiap variasi komposisi dan variasi putaran tersebut kemudian dipotong kecil-kecil pada Gambar (a) 2.Selanjutnya hasil potongan di masuk kan ke mesin hidrolic hot press agar bisa di injeksikan pada cetakan pada gambar (b).Prosedur pencetakan specimen uji tarik dan Proses Pengujian tarik Adapun pencetakan sampel uji tarik yaitu sebagai berikut : 1.

Prosedur Simulasi .

Pembuatan geometri Pada tahap ini dilakukan pembuatan geometri mennggunakan software autocad dengan dimensi cetakan tensile ASTM D 638 2. Setelah memilih material polypropylene. tekanan injeksi (injection pressure) dan waktu penekanan (injection time). .temperatur leleh (melt temperature).Langkah berikutnya adalah memilih jenis analisa yang akan diterapkan pada proses Injection Molding yaitu FILL 6. 5.Setelah menentukan jenis analisa yang akan di pilih kemudian menunggu hasil dari simulasi yang telah kita pilih yaitu bagian fill.Prosedur Simulasi Autodesk moldflow 1. Selanjutnya menentukan titik injeksi saluran masuk aliran dan menentukan jenis material 4. Setelah melakukan pembentukan geometri langkah selanjutnya yaitu export file autocad agar dilakukan proses simulasi 3. lankah berikutnya ialah menentukan parameter proses yang dipakai yaitu temperatur cetakan (mold temperature).

Prosedur Simulasi Autodesk moldflow 1 2 3 4 5 6 .

26 54.92 3.35 3.63 9.67 53.64 3.76 15.98 7.44 14.32 1.26 3.PE 20% AL 10 % PP 72%.16 20.82 49.86 49.09 50.63 57.31 6.78 11.PE 20% AL 8 % PP 74%.3 15.33 Tebal Luas (T) (A) (mm) (mm2) 5.06 6.72 2.99 6.30 6.35 20.63 7.19 53.19 3.32 51.03 6.91 5.21 3.21 20.85 6.72 800 750 700 Rata-rata : Sampel a Sampel b Sampel c 8.03 6.92 51.01 51.06 6.00 48.84 2.88 5.42 12.PE 20% .81 3.98 20.PE 20% AL 4 % PP 78%.92 1.03 50.93 14.35 53.67 3.36 17.13 51.29 8.04 6.42 8.34 8.03 4.29 49.PE 20% AL 6 % PP 76%.28 8.40 51.95 6.88 3.28 8.81 3.70 6.13 1.50 11.33 6.81 1050 1050 Tegangan Reganagan Vaiasi (ε) komposisi (δu) (%) (N/mm2) 18.26 4.Hasil dan Pembahasan Hasil Pengujian Variasi Komposisi Temperatu Sampel 0 r ( C) PP.52 8.84 Gaya (N) 900 850 1000 Rata.rata : Sampel a Sampel b Sampel c 8.11 50 50 53.72 50.21 800 800 1000 Rata-rata : Sampel a Sampel b 8.60 50.31 50 50 50 51.88 50 50 50 52.05 50.29 50.68 18.84 4.78 10.71 600 750 600 Rata-rata : Sampel a Sampel b Sampel c 8.40 1.75 14.48 Panja Panjang Perubaha ng Akhir n Awal (Li) (mm) Panjang (ΔL) (L0) (mm) (mm) 50 50 50 54.07 5.80 2.04 50.34 7.PE dan AL 150 C 0 Sampel a Sampel b Sampel c Lebar (W) (mm) 8.30 8.36 50 50 50 53.62 PP 70%.37 8.01 49.42 18.66 14.35 8.71 1.30 6.26 15.04 50.92 20.38 5.43 8.

PE dan AL cenderung mengalami peningkatan seiring dengan pengurangan campuran komposisi alumunium. PE 20 % dan AL 2 % yaitu sebesar 20. Kekuatan tarik yang paling optimum dicapai pada komposisi PP 78 %.76 % Grafik Hasil komposisi. PE 20 % dan AL 10 % nya sebesar 10.Hasil dan Pembahasan Dari hasil perhitungan tabel diatas untuk variasi komposisi maka di dapatlah nilai tegangan tarik rata .92 N/mm2 dan untuk regangan rata.rata yang paling optimum terdapat pada komposisi PP 70 %.92 N/mm2 .rata yang paling optimum terdapat pada komposisi PP 78 %.PE 20 % dan AL 2 % sebesar 20. Pengujian Tarik Variasi Memperlihatkan : rata-rata kekuatan tarik campuran PP.

Elongation paling tinggi diperoleh pada komposisi AL 10 % 10.Hasil dan Pembahasan Hasil Injeksi variasi Komposisi memperlihatkan : pengurangan percampuran komposisi alumunium akan menurunkan elongation pada komposisi Al 2 % sebesar 3.76 sebesar %. .3 %.Berbedanya variasi komposisi dan adanya cacat pada material merupakan beberapa faktor yang mempengaruhi elongation.

PE 20 % dan AL 8 % ) c. Sampel uji tarik formula 1 ( PP 70 %.PE 20 % dan AL 4 % ) e.PE 20 % dan AL 6 % ) d.PE 20 % dan AL 10 %) b. Sampel uji tarik formula 3 ( PP 74 %. Sampel uji tarik formula 4 ( PP 76 %. Sampel uji tarik formula 5 ( PP 78 %.Hasil dan Pembahasan Keterangan Gambar: a. Sampel uji tarik formula 2 ( PP 72 %.PE 20 % dan AL 2 % ) .

PE 20 % dan AL 8 %) c.PE 20 % dan AL 6 %) d. Bentuk patahan uji tarik formula 5 ( PP 78 %.PE 20 % dan AL 10 %) b. Bentuk patahan uji tarik formula 4 ( PP 76 %.PE 20 % dan AL 2 .PE 20 % dan AL 4 %) e.HASIL DAN PEMBAHASAN Keterangan gambar : a. Bentuk patahan uji tarik formula 3 ( PP 74 %. Bentuk patahan uji tarik formula 1 ( PP 70 %. Bentuk patahan uji tarik formula 2 ( PP 72 %.

.HASIL DAN PEMBAHASAN memperlihatkan bentuk patahan yang berbeda dapat di jelaskan bahwa campuran variasi komposisi bahan yang di gunakan dapat mempengaruhi bentuk patahan dari setiap sampel setelah di lakukan pengujian tarik dan juga pada setiap sampel terdapat kekosongan void yang menyebabkan bentuk patahan terjadi pada bagian tengah sampel dan leher sampel.dengan melihat menggunakan foto makro.

3) yang ditambahkan pada campuran terlihat berwarna putih bersinar pada temperatur 150oC. memperlihatkan adanya kekosongan (void) diantara AL dan matrik PP. Bahan PE (no. Banyak faktor yang dapat menyebabkan terbentuknya void pada komposit.void bisa diakibatkan oleh adanya udara yang terperangkap pada saat proses percampuran dilakukan juga proses percampuran menggunakan mixer yang kurang baik akan mempengaruhi pembentukan .Foto makro Dan mikro memperlihatkan perbedaan komposisi akan mengakibatkan perubahan pada material Bahan PP (no.1) berwarna kecoklatan pemanasan hingga temperatur 150oC mengakibatkan perubahan warna PP dari berwarna bening menjadi agak kecoklatan. keberadaan void ini tentunya akan menyebabkan penurunan kekuatan dari campuran.2) setelah mengalami pemanasan hingga temperatur 150oC menghasilkan warna kehitaman dikarenakan temperatatur cair bahan ini lebih rendah dibanding material PP. Bahan AL (no.

34 3.04 50.PE 20% AL 2 % dari tabel pengujian tarik untuk variasi putaran diatas maka didapatkan nilai putaran yang paling optimum adalah terdapat pada putaran N22 = 100 rpm yaitu mempunyai tegangan tarik rata .42 6.04 50.34 Fomul 160 c 0 a1 n3=14 8.PE 20% AL 2% PP 78%.89 0 n2=10 8.75 2.25 50 53.31 50 51.91 50 52.39 6.38 6.48 0 n2=10 8.85 2. .08 550 10.61 50 51.94 Fomul 180 c 0 a3 n3=14 8.33 6.36 6.70 550 400 10.80 5.09 50.85 2.89 2.13 51.18 50 51.32 6.37 16.22 4 n1=52 8.30 6.91 N/mm22 dan nilai regangan rata – ratanya sebesar = 6.rata = 17.63 50 52.68 2.41 6.34 1.85 4 n1=52 8.22 52.07 50.91 900 17.HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pengujian Variasi Putaran Dan Temperatur Formu Tempera Putar Leb Teba Luas Panja Panjang Peruba la tur (0C) an ar l (A) ng Akhir han 2 n(Rp (W) (T) (mm ) Awal (Li) Panjan m) (mm (mm (mm) g (ΔL) (L0) ) ) (mm) (mm) n1=52 8.78 4.55 50 53.02 50.68 % pada formula 1 T1=1600C.78 6.48 1.PE 20% AL 2% PP 78%.34 6.00 5.00 4 Gaya (N) Regana gan (ε) (%) 850 900 Tegang an (δu) (N/mm2 ) 16.94 1.14 51.45 50 51.34 0 n2=10 8.68 Kompo sisi(%) PP 78%.04 Fomul 170 c 0 a2 n3=14 8.79 17.62 50 52.69 7.16 51.88 300 5.44 750 850 14.81 2.22 2.00 1.04 3.96 6.

91 N/mm2 pada putaran 100 Rpm. Berbedanya variasi putaran menyebabkan adanya cacat pada material merupakan beberapa faktor yang mempengaruhi elongation.68% dan elongation terendah sebesar 4.Grafik hasil pengujian tarik sampel variasi putaran dan temperatur memperlihatkan hasil 20% dan AL 2 % pengujian tarik dengan komposisi PP 78% PE pada Temperatur 1600c di peroleh nilai paling optimum 17. .44%.berbedanya variasi putaran sangat berpengaruh terhadap kekuatan tarik dari setiap sampel memperlihatkan Peningkatan Temperatur akan menurunkan elongation 0 c dan Pada putaran n2= 100 rpm sebesar pada Temperatur 160 6.

Putaran N1=52 Rpm b. Sampel uji tarik formula 1. Sampel uji tarik formula 1. Sampel uji tarik formula 1. Temperatur= 1600C. Putaran N2= 100 Rpm c. Temperatur= 1600C. Temperatur= 1600C.Hasil injeksi dan pengujian tarik variasi Putaran dan temperatur Keterangan Gambar: a. Putaran N3= 144 Rpm .

Putaran N3= 144 Rpm . Putaran N2= 100 Rpm c. Bentuk patahan formula 1.Hasil injeksi dan pengujian tarik variasi Putaran dan temperatur Keterangan Gambar: a. Temperatur= 1600C. Bentuk patahan formula 1. Temperatur= 1600C. Putaran N1=52 Rpm b. Bentuk patahan formula 1. Temperatur= 1600C.

Bentuk Patahan memperlihatkan bentuk patahan yang berbeda dapat di jelaskan bahwa variasi putaran dan temperatur yang di gunakan dapat mempengaruhi bentuk patahan dari setiap sampel setelah di lakukan pengujian tarik dan juga pada setiap sampel terdapat kekosongan void yang menyebabkan bentuk patahan yang berbeda terjadi pada bagian tengah sampel dan leher sampel.dan melihat dengan menggunakan foto makro .

Hasil foto makro dan mikro untuk sampel variasi putaran dan temperatur memperlihatkan permukaan campuran dengan variasi putaran dan temperatur pada Formula 1 pada putaran 52 Rpm 100 Rpm dan 144 Rpm menunjukan bahan PP (1) foto makro dan mikro memperlihatkan juga pengaruh variasi putaran menyebabkan permukaan campuran lebih gelap yang diakibatkan oleh elemen PE (2) yang memiliki titik leleh paling rendah telah terbakar (gosong) dan bahan Al yang di gunakan sebagai bahan penguat terlihat sangat jelas (3) dapat di simpulkan bahwa variasi putaran dan temperatur sangat mempengaruhi hasil kekuatan tarik di dapatkan nilai yang paling optimum sebesar 17.91 N/mm22 pada .

87 N/mm2 [3].nilai hasil pencampuran di atas lebih tinggi bila dibandingkan dengan hasil pengujian tarik PP murni sebesar 17. Dari hasil pencampuran PP.dan di dapatkan juga nilai kekuatan tarik nya.Grafik Hasil kekuatan tarik sampel variasi putaran dan temperatur dengan Polypropylene murni.91 N/mm2 pada putaran 52 rpm.PE dan serbuk AL dengan menggunakan variasi putaran dan temperatur di dapat nilai tegangan tarik paling optimum sebesar 17. . Hasil pengujian Polypropylene murni telah dilakukan sebelumnya oleh mahasiswa .

Pada warna merah menunjukkan waktu terlama aliran menuju dasar cetakan yaitu 6 detik sedangkan pada warna biru merupakan waktu tercepat aliran material menuju cetakan.perbedaannyaa Pada proses pengisian aliran material kedalam cetakan waktu yang di capai selama 10 detik aliran akan menuju ke bawah cetakan terlebih dahulu hingga memenuhi cetakan menggunakan mesin hidrolic hot press jadi waktu yang di perlukan menggunakan simulasi moldflow adviser lebih cepat di bandingkan dengan menggunakan mesin hidolic hot press.Hasil Simulasi Autodesk Moldflow Adviser Fill Time menunjukkan variasi warna menandakan bahwa setiap warna mewakili variasi temperatur. .

Hasil Simulasi Autodesk Moldflow Adviser Air Traps Hasil analisis kemungkinan terjadinya Air traps dalam simulasi ini semua kemungkinan terjadinya udara terperangkap ada pada lokasi dengan geometri komplek pada gambar dia atas (lingkaran merah) pada ujung sampel.sedangkan pada saat proses hirolic hot press udara yang terjebak terletak pada titik awal.tengah dan ujung cetakan sehingga kemungkinan terdapatnya udara dan terdapat pada ke 3 titik .

Pada variasi komposisi nilai regangan tarik (elongation) yang paling optimum terdapat pada formula 1 PP 70 %. Hasil simulasi autodesk mudflow adviser pada proses Fill time menunjukkan hasil yang berbeda dengan proses manual hidrolic hot press yaitu pada hasil simulasi fill time waktu yang di capai selama 6 detik.Variasi putaran sangat mempengaruhi kekuatan tarik. 2.Variasi komposisi campuran yang berbeda sangat mempengaruhi kekuatan n tarik.sedangkan pada manual hirolic hot press terjadi pada bagian leher.variasi komposisi yang paling optimum yaitu pada formula 5 dengan komposisi campuran PP 78 %.hal ini sangat mempengaruhi hasil dari kekuatan tarik tersebut.tengah dan ujung sampel. Dari hasil foto makro dan mikro campuran bahan polypropylene.KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpula 1.92 N/mm22.76 %. Pada variasi putaran nilai regangan tarik (elongation) yang paling optimum terdapat pada formula 1 pada putaran n2= 100 rpm dan Temperatur 16000C yaitu sebesar 6.dan pada hasil simulasi air traps terjadi pada ujung bagian bawah sampel. 3. polyetylene dan . PE 20 % dan AL 10 % yaitu sebesar 10.sedang pada manual hirolic hot press selama 10 detik untuk memenuhi cetakan.91 N/mm22. 4. nilai yang paling optimum pada formula 1 dengan putaran n2= 100 rpm pada Temperatur 16000C dan di dapatkan kekuatan tarik sebesar 17. PE 20 % dan AL 2 % dan di dapatkan kekuatan tarik sebesar 20.68 %.

3. Menambahkan variasi putaran pada mesin mixer agar memiliki 5 variasi putaran. 4. Agar peralatan pengontrol suhu di buat lebih akurat dari sebelumnya. Sistem gear box yang menghubungkan roda gigi payung agar lebih di sempurnakan hingga menghasilkan putaran yang lebih halus. Sistem isolasi pada wadah pencampuran dapat di buat lebih sempurna hingga panas pada wadah tidak terbuang keluar.KESIMPULAN DAN SARAN Saran 1. Mengganti jenis material penguat dengan yang lain sebagai pengganti untuk polypropylene dan polyethylene agar bisa di bandingkan hasil uji tariknya. . 2. 5.

SEKIAN DAN TERIMA KASIH .