You are on page 1of 52

PROGRAM PENCEGAHAN DAN

PENGENDALIAN
INFEKSI SALURAN PERNAFASAN
AKUT (ISPA)

OUTLINE

Latar Belakang
Ruang Lingkup
Tujuan
Kebijakan/Strategi
Kegiatan Pokok

P2P Pneumonia
pada Balita

Latar belakang

MENTERI
NAWA CITA
KESEHATAN

1. Menghadirkan kembali negara utk melindungi segenap bangsa &
memberikan rasa aman pada seluruh warga negara
2. Membuat pemerintah tdk absen dgn membangun tata kelola
pemerintahan yg bersih, efektif, demokratis & terpercaya
3. Membangun Indonesia dari pinggiran dgn memperkuat daerah-
daerah & desa dlm kerangka negara kesatuan
4. Menolak negara lemah dgn melakukan reformasi sistem &
penegakan hukum yg bebas korupsi, bermartabat & terpercaya
5. Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia
6. Meningkatkan produktifitas rakyat & daya saing di pasar
Internasional
7. Mewujudkan kemandirian ekonomi dgn menggerakan sektor-
sektor strategis ekonomi domestik
8. Melakukan revolusi karakter bangsa
9. Memperteguh ke-Bhineka-an & memperkuat restorasi sosial
Indonesia
4

STRATEGI
MENTERI
KESEHATAN
PEMBANGUNAN
NORMA PEMBANGUNAN KABINET KERJA

 Membangun untuk  Memulihkan & menjaga keseimbangan
manusia & masyarakat antarsektor, antarwilayah & antar
 Mewujudkan pertumbuhan kelompok sosial dlm pembangunan
ekonomi, pembangunan  Mewujudkan perekonomian yg inklusif,
sosial & pembangunan berbasis ilmu pengetahuan & teknologi, &
ekologi yg berkelanjutan keunggulan sumber daya manusia
3 DIMENSI PEMBANGUNAN

Antarkelompok
Pendapatan

Antarwilayah

KONDISI PERLU
Tata
Kepastian & Keamanan & Politik &
Kelola &
Penegakan Hukum Ketertiban Demokrasi
RB
QUICK WINS DAN PROGRAM LANJUTAN LAINNYA 5

2/2015) 1. Pemerataan & Kualitas Farmasi & Alkes 9. ↗ Pengawasan Obat & Makanan 10. Mempercepat Perbaikan Gizi Masyarakat 3. Remaja & Lanjut Usia yg Berkualitas 2. ↗ Promkes & Pemberdayaan Masyarakat 6 . Penyebaran & Mutu SDM Kesehatan 8. ↗ Akses Pelayanan Kesehatan Rujukan yg Berkualitas 7. Keterjangkauan. Anak. Akselerasi Pemenuhan Akses Pelayanan Kesehatan Ibu. ↗ Ketersediaan. ARAH KEBIJAKAN RPJMN 2015-2019 MENTERI KESEHATAN (Perpres No. ↗ Ketersediaan. ↗ Pengendalian Penyakit & Penyehatan Lingkungan 4. Memantapkan Pelaksanaan Sistem Jaminan Sosial Nasional Bidang Kesehatan 5. ↗ Akses Pelayanan Kesehatan Dasar yg Berkualitas 6.

SEHAT MENTERI KESEHATAN Penerapan pendekatan continuum of care Intervensi berbasis resiko kesehatan (health risk) 7 .

AKB. 2015-2019 ARAH SASARAN STRATEGIS/PROGRAM KERANGKA KEBIJAKAN REGULASI: & Meningkatnya (1) (2) Meningkatnya(3) STRATEGI Kesehatan Akses & Mutu • Percepat PROGRAM GENERIK & TEKNIS NASIONAL masyarakat Fasyankes an (RPJMN Regulasi Meningkatnya • Penyemp 2015- ARAH Meningkatnya Jumlah.(4) Kemandirian. Akses &(5) ur- 2019) KEBIJAKAN Jenis. Vaksin. Efektivitas yang baik dan Aparatur health risk Terintegrasi Organisasi bersih Kemenkes LINGKUNGAN STRATEGIS: GLOBAL. dan Mutu Sediaan Farmasi naan Pemerataan Tenaga KERANGKA (Obat. MENINGKATNYA STATUS 2019 PERLIN-DUNGAN MASY THD RISIKO KESEHATAN MASYARAKAT Masy Sehat Yg SOSIAL & FINANSIAL DI BIDANG Mandiri & KESEHATAN AKI. % RMH TANGGA Berkeadilan MISI KEMENKES Peserta JKN. PETA STRATEGI PENCAPAIAN VISI 2019 KEMENTERIAN VISI KEMENKES KESEHATAN T2. REGIONAL. Bimtek Kesehatan Daerah of care & Monev KERANGKA thru life Meningkatnya Meningkatnya (12) KELEMBAGA cycle Meningkatnya tata kelola (10) Kom-petensi &(11) AN: •Intervensi Sistem kepemerintahan Kinerja Peningkatan berbasis Informasi Kes. NASIONAL . Sistem PENDANAAN KEMENKES Kesehatan Biosimilar) & Alkes : JKN : • Peningkatan •Penguata Pendanaan Meningkatn Meningkatnya Preventif & n primary (6) (7) (9) ya Dayaguna Kemitraan Meningkat Promotif health care Sinergitas (DN & LN) nya • Peningkatan (UKP dan Meningkatnya Antar K/L Efektivitas Efektivitas KEMENTERIAN UKM) Integrasi (8) Pusat & Litbangkes Pembiayaan •Continum Perencanaan. % BBLR. MENINGKATNYA RESPONSIVENESS & T1. responsiveness PHBS. Kualitas.

Penyebaran. SASARAN RPJMN 2015-2019 1. Peningkatan responsifitas sistem kesehatan (health system responsiveness) 12. Peningkatan upaya peningkatan perilaku hidup bersih & sehat (PHBS) 10. Memastikan Ketersediaan dan Mutu Obat dan makanan 8. Peningkatan upaya peningkatan promosi kesehatan & pemberdayaan masyarakat serta Peningkatan pembiayaan kegiatan promotif & preventif 9. Peningkatan perlindungan finansial termasuk menurunnya pengeluaran katastropik akibat pelayanan kesehatan 11. Peningkatan Ketersediaan. Status Gizi masyarakat 3. Peningkatan Kesehatan Ibu dan Anak 2. dan Mutu Sumber Daya Manusia Kesehatan 7. Peningkatan Pemerataan Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan 5. Penurunan Prevalensi Penyakit menular dan Tidak Menular 4. Peningkatan Perlindungan Finansial 6. Peningkatan daya saing obat dan makanan nasional 9 .

Pneumonia Pembunuh Balita di Dunia  Pada tahun 2015.000) diantaranya karena pneumonia. 5. Angka kematian akibat pneumonia kurang dari 3 per 1000 KH .  Target MDGs_4 : reduksi 2/3 kematian bayi/Balita pada akhir tahun 2015 dilanjut SDGs 2030  Tujuan Global 2025.9 juta balita meninggal dan 15 % (935. Untuk semua balita: . Mengurangi insidensi pneumonia berat sebesar 75% dibanding tahun 2010. .  99% kematian pneumonia anak di negara berkembang  Pneumonia di negara maju banyak disebabkan virus sedangkan negara berkembang oleh bakteri.

Meningkatnya alokasi anggaran kesehatan c. Menyatunya arah pembangunan kesehatan d. Meningkatnya kesadaran isu kesehatan b. PLANET. Integrasi monitoring dan evaluasi untuk isu-isu prioritas . PROSPERITY AND PARTNERSHIP a. KELANJUTAN MDGs 2000 2015 2030 PENEKANAN SDGs: 5P : PEOPLE. PEACE.

8%).Situasi Pneumonia Bayi/Balita di Indonesia  Riskesdas 2007. Insiden dan prevalensi pneumonia Indonesia adalah 1.5%)  Riskesdas 2013.8% dan 4.2%) & pnemonia (15. 2014 : 23 balita meninggal setiap jam dan 4 diantaranya karena pneumonia Sumber : Riskesdas (2007) .4%) dan pnemonia (23. dan Penyebab kematian anak balita => terbanyak diare (25. Penyebab kematian bayi => terbanyak diare (31.5% Pneumonia  SRS.

Cakupan Penemuan Pneumonia 2011 - 2015 .

Cakupan Penemuan Pneumonia 2015 .

Grafik Kasus Pneumonia Balita dan Kelengkapan Pelaporan Provinsi 2015 15 .

int/publications/ 2008 .WHO . http://whqlibdoc.who.

Sumber utama pelaporan hanya dari Puskesmas. sesuai rekomendasi IDAI tahun 2015 belum tersosialisasi merata ke seluruh Puskesmas. praktek swasta dll. Hambatan dan kendala Beberapa hambatan dalam upaya tersebut antara lain : Keterbatasan jumlah dan kapasitas SDM di Puskesmas dalam deteksi pneumonia secara cepat dan akurat. Pengetahuan masyarakat terhadap gejala pneumonia masih rendah 17 . belum melibatkan laporan dari RS. klinik swasta. Belum meratanya peningkatan kapasitas Nakes untuk tatalaksana kasus dan Manajemen program ISPA. juga karena tingginya frekuensi mutasi pegawai di daerah Revisi Tatalaksana Kasus.

Ruang Lingkup .

STRUKTUR ORGANISASI DIREKTORAT PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN PENYAKIT MENULAR LANGSUNG SUBBAGIAN TATA USAHA SUBDIREKTORAT SUBDIREKTORAT SUBDIREKTORAT SUBDIREKTORAT HEPATITIS DAN SUBDIREKTORAT HIV AIDS DAN PENYAKIT TROPIS INFEKSI SALURAN PENYAKIT INFEKSI TUBERKULOSIS PENYAKIT INFEKSI MENULAR PERNAPASAN AKUT SALURAN MENULAR SEKSUAL LANGSUNG PENCERNAAN SEKSI SEKSI INFEKSI SALURAN SEKSI SEKSI SEKSI TUBERKULOSIS PERNAPASAN HIV AIDS HEPATITIS KUSTA SENSITIF OBAT ATAS SEKSI SEKSI SEKSI PENYAKIT SEKSI PENYAKIT SEKSI TUBERKULOSIS INFEKSI PNEUMONIA INFEKSI SALURAN FRAMBUSIA RESISTENSI OBAT MENULAR PENCERNAAN SEKSUAL KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL .

Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Saluran Pernapasan Atas .Pencegahan dan Pengendalian Pneumonia. 2. Ruang Lingkup Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Saluran pernafasan Akut ISPA 1.

Definisi Operasional INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA): Infeksi akut yang menyerang salah satu bagian / lebih dari saluran napas mulai hidung .PNEUMONIA Adalah Infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli).alveoli termasuk adneksanya (sinus. . saat ini fokus pada Influenza) . pleura.INFEKSI SALURAN PERNAFASAN ATAS ( DO = Komite ahli. rongga telinga tengah.) .

TUJUAN .

TUJUAN PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA) Mengurangi kematian karena pneumonia pada balita Mengurangi kesakitan pneumonia pada balita Tujuan P2P Infeksi Saluran Pernafasan Atas (Komite Ahli) .

KEBIJAKAN .

KEBIJAKAN PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA) • Advokasi • Regulasi • Penemuan dini dan Tatalaksana Kasus sesuai Standar • KIE sesuai kondisi setempat • Logistik  pusat & daerah • Kerjasama dan kemitraan LS LP • Monev .

sebanyak 2x sehari dan selama 3 hari)  perlu dipersiapkan perencanaan obat di puskesmas (syrup Amoxicillin forte) Perhitungan sasaran penemuan kasus pneumonia balita (estimasi jumlah pneumonia balita)  berdasarkan data riskesdas dengan mempertimbangkan faktor risiko  berkisar 1-6 % dari total populasi balita . Informasi Update Pemilihan antibiotik untuk pengobatan Pneumonia  Amoxicillin dosis tinggi (50 mg/kg BB/kali.

84 11 DKI Jakarta 4.68 8 Lampung 2.23 25 Sulawesi Tengah 5.32 31 Maluku Utara 2.91 20 Kalimantan Barat 2.37 5 Jambi 3.86 7 Bengkulu 2.62 29 Sulawesi Barat 4.05 26 Sulawesi Selatan 3.67 21 Kalimantan Tengah 4. Angka Perkiraan Pneumonia per Provinsi PERKRAAN PERKRAAN NO PROVINSI NO PROVINSI KASUS KASUS 1 Aceh 4.55 .84 12 Jawa Barat 4.12 4 Riau 2.38 2 Sumatera Utara 2.88 13 Jawa Tengah 3.99 19 Nusa Tenggara Timur 4.46 18 Nusa Tenggara Barat 6.98 27 Sulawesi Tenggara 3.12 33 Papua 2.29 15 Jawa Timur 4.80 27 17 Bali 2.00 24 Sulawesi Utara 2.61 23 Kalimantan Timur 2.24 28 Gorontalo 4.05 NASIONAL 3.88 16 Banten 4.79 10 Kepulauan Riau 3.45 32 Papua Barat 2.61 30 Maluku 3.74 14 DI Yogyakarta 4.53 6 Sumatera Selatan 3. Bangka Belitung 6.15 22 Kalimantan Selatan 5.19 9 Kep.28 3 Sumatera Barat 3.

wheezing dinding dada ke dalam .Tidak ada tarikan BATUK BUKAN dingin PNEUMONIA . •Usia 2 -12 bulan : ≥ 50 x/menit .tangan dan kaki teraba .Tidak ada napas cepat . ATAU Atau .napas lambat (≤ 30 kali/menit).tarikan dinding dada ke dalam yang sangat kuat (TDDK) . Napas cepat PNEUMONIA . Klasifikasi Pneumonia pada Usia < 2 Balita Usia 2 – 59 bulan bulan Tanda bahaya Klasifikasi Tanda/Gejala Klasifikasi Ada salah satu tanda berikut: PENYAKIT . . Tarikan dinding PNEUMONIA BERAT .kurang mau minum.demam.kejang •Usia 12-59 bulan : ≥ 40 .kesadaran menurun x/menit .Saturasi oksigen < 90 ATAU % .napas cepat (≥ 60 kali/menit). SANGAT BERAT dada ke dalam ATAU (TDDK) .Tanda gizi buruk. .sridor .

Indikator Program 2015-2019 Indikator di buku 3 RPJMN (output) Indikator di Resntra Kemenkes (proses) Jumlah kab/kota dengan Jumlah kab/kota yang 50% cakupan penemuan puskesmasnya pneumonia balita minimal melaksanakan tatalaksana 80% pneumonia balita melalui pendekatan MTBS Target 2015 : 20% Target 2015 : 20% SPM kesehatan : semua balita mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standar .

Upaya Pengendalian Pneumonia Balita .

Peran Tenaga Medis dalam Pengendalian Pneumonia Balita  Deteksi dan tatalaksana kasus sesuai standar  Mendidik/mensosialisasikan tenaga kesehatan lain di wilayah kerjanya dalam deteksi dan tatalaksana kasus  Mendidik keluarga pasien dalam pencegahan. pengenalan gejala dan tanda pneumonia .

KEGIATAN 2016 • Penguatan upaya promotif/preventif (TV spot. banner. Sosialisasi-advokasi. Parade hasil Kajian/penelitian • Penguatan kapasitas petugas daerah dan dokter puskesmas langsung oleh kab/kota bersama profesi => swakelola oleh instansi pemerintah • Penguatan Surveilans (puskesmas & rumah sakit) • Melibatkan UPT (KKP/B-BTKL) dalam pengendalian faktor risiko ISPA • Peningkatan kesiapsiagaan pandemi influenza • Kajian burden ISPA atas  Litbangkes dan universitas • Dukungan alat bantu deteksi pneumonia balita . leaflet dll. inisiasi vaksin pneumonok) • Penguatan koordinasi lintas program/sektor bersama profesi dan akademisi  Penyusunan Rencana Aksi Pengendalian Pneumonia.

Kebijakan dan Strategi Kesiapsiagaan Pandemi Influenza di Indonesia Subdit Pengendalian ISPA Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung Ditjen PP dan PL – Kemenkes RI .

Outline Latar Belakang Dasar Hukum Prinsip Dasar Tujuan Kerangka konsep Kebijakan Strategi Kegiatan Pokok Hasil Assesment Review .

2%* Children & Young Adult 1-4 million deaths* Most affected Young Adult CFR < 0.2%* All age groups H1N1 All age groups H3N2 H1N1 H2N2 H7N9 H5N1 *) Estimated HxNy .02%* 1957: “Asian Flu” CFR 2-3%* CFR < 0.000 deaths* 40-50 million deaths* 1 -4 million deaths* CFR 0. Century 2009: “Swine Flu” 1918: “Spanish Flu” 1968: “Hong Kong Flu” 100.000-400.

.

MENGAPA HARUS BERSIAP MENGHADAPI PANDEMI? Agar mampu mengenali secara dini dan menanggulangi dampaknya Membatasi atau memperlambat penularan dan penyebaran ke wilayah yg lebih luas Meminimalisasi jumlah penderita yang dirawat maupun kematian Menjaga/ mempersiapkan keberlangsungan unit- unit esensial Mengurangi dampak ekonomi dan sosial .

Dasar Hukum • Undang – undang No. • Peraturan Pemerintah Nomor 40 tahun 1991 tentang Penanggulangan Wabah Penyakit. • Undang – undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular. • Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 82 tahun 2014 tentang Pengendalian Penyakit Menular dan tidak Menular • Permenkes No 568 tahun 2010 tentang laboratorium EID . 27 Tahun 2007 tentang bencana • Undang – undang No. • Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1501/Menkes/Per/X/2010 tentang Jenis Penyakit Menular Tertentu Yang Dapat Menimbulkan Wabah dan Upaya Penanggulangan.

H5N3. H5N2. H5N6.Kondisi saat ini Avian Influenza : H7N9. H5N8 Avian Influenza H5N1 masih bersirkulasi Influenza musiman (H1N1) Ancaman pandemi Peningkatan kesiapsiagaan .

dan organisasi internasional 4. Pemerintahan. Mempertimbangkan Dampak terhadap Ekonomi. 2. 5. Kepatuhan terhadap perjanjian dan standar baik nasional maupun internasional. Prioritas Keselamatan Manusia. Masyarakat. Kesiapsiagaan dan kewaspadaan dalam mengantisipasi pandemi influenza harus tetap dikelola dan berkelanjutan 40 .1. Swasta. 3. Penekanan pada upaya integrasi . Organinasi profesi.

PANDEMI: Dengan & Tanpa Kesiaga Kasus Harian DEKOMPRESI BEBAN PUNCAK KASUS RENDAH DAMPAK BURUK TANPA KURANG INTERVENSI DENGAN INTERVENSI “Waktu” mulai kasus pertama Iwan MM .

Pedoman-pedoman terkait Kesiapsiagaan andemi Influenza RENCANA STRATEGIS NASIONAL PENGENDALIAN FLU BURUNG (AVIAN INFLUENZA) DAN KESIAPSIAGAAN MENGHADAPI PANDEMI INFLUENZA 2006-2008 RENCANA STRATEGIS NASIONAL PENGENDALIAN FLU BURUNG (AVIAN INFLUENZA) DAN KESIAPSIAGAAN MENGHADAPI PANDEMI INFLUENZA 2006-2008 .

KERANGKA KONSEP RENCANA KESIAPSIAGAAN PANDEMI DI INDONESIA Kendali Komando dan Koordinasi Aktivasi Sistem Komando Emergensi Deteksi dini dan Respons Karantina dan Kewaspadaan Medis dan pengawasan Pembatasan Keberlangsung Post dini melalui Kesmas mobilisasi an pelayanan Pandemi Sosial Surveilans dan orang dan publik yang Laboratorium barang esensial Komunikasi Risiko dan Kerjasama Internasional 43 .

monitoring dan evaluasi). • Komunikasi. aktivitas. • Pencegahan dan pengendalian (proteksi risiko tinggi. • Penguatan surveilans pada hewan dan manusia (termasuk peringatan dini. penatalaksanaan kasus. pengorganisasian. peralatan kesehatan.Strategi & Kebijakan Kesiapsiagaan menghadapi Pandemi Influenza • Sosialisasi & advokasi • Penguatan kapasitas • Penguatan manajemen berkelanjutan (perencanaan. Informasi dan Edukasi (komunikasi resiko). koordinasi. SDM. laboratorium. . vaksin. dll). biosecurity. pengendalian infeksi dll). investigasi dan tindakan pengendalian). • Penguatan kapasitas respons pelayanan kesehatan (kesiapan obat. vaksinasi.

terminal. Surveilans epidemiologi 3. Mobilisasi sumber daya . pelabuhan. pos lintas batas darat (PLBD). Respon medik dan laboratorium 4. Pembentukan pos komando dan koordinasi sebagai pusat operasi penanggulangan 2. Intervensi nonfarmasi termasuk pengawasan perimeter 6. Intervensi farmasi 5. Tindakan karantina di bandar udara. Komunikasi risiko 7.Pokok-pokok Kegiatan Penanggulangan Pandemi 1. dan stasiun 8.

.

Namun demikian masih diperlukan peningkatan dan penguatan untuk berbagai aspek antara lain  Aspek Legal.  Penganggaran dan koordinasi. 2. Pada dasarnya unsur-unsur kesiapsiagaan menghadapi Pandemi Influenza cukup Memadai”.  Perencanaan. namun beberapa Renkon di Provinsi/KKP belum dilakukan review dan simulasi secara berkala . demikian juga di KKP sebagai pintu masuk negara.Kesimpulan Kaji Ulang Kesiapsiagaan Pandemi Influenza 2015 Di 8 Wilayah 1.  Manajemen Informasi dan  Dukungan kemampuan SDM yang memadai. Secara umum Renkon di tingkat Provinsi sudah disusun.

Review rencana kontingensi secara berkala dan diuji dengan table top exercise/simulasi berkala (1x/tahun) 2. Rekomendasi Kaji Ulang Kesiapsiagaan Pandemi Influenza 2015 Di 8 Wilayah (1) 1. Peningkatan dan penguatan serta pemeliharaan kapasitas petugas di semua tingkatan (pelatihan. Advokasi kepada lintas sektor dan daerah agar penganggaran tersedia 4. penyegaran) . distribusi vaksin dan antiviral baru serta pemantauannya pada kondisi darurat (pandemi/wabah) 6. Pengaturan mekanisme registrasi. Perlu pengaturan mekanisme pendanaan 5.

Perlu penguatan dan pengaturan jejaring Laboratorium (harus ada unit yang mengatur) 11. Rekomendasi Kaji Ulang Kesiapsiagaan Pandemi Influenza 2015 Di 8 Wilayah (2) 7. Perlu review dan penguatan jejaring RS rujukan untuk EID. Penguatan monev terpadu lintas program/lintas sektor 8. 10. pelatihan) . Penguatan Komunikasi Risiko di semua tingkatan (Pedoman/SOP. Instrumen assessment ini disempurnakan menjadi tools untuk self assessment rutin 9.

daerah mempunyai situasi kondisi masing-masing sehingga risiko pun berbeda-beda Masing-masing tingkatan risiko memerlukan tindakan yang berbeda sesuai tingkat risikonya agar upaya yang dilakukaan fokus dan efektif.Beberapa prinsip dalam fase-fase pandemi Fase pandemi WHO berubah dan mempertimbangkan hasil penilaian risiko Setiap negara. Perlu revisi pedoman kesiapsiagaan Pandemi dg salah satu prinsip penilaian risiko dan manejemennya .

Pandemi Influenza adalah sesuatu hal yang hampir pasti terjadi. di mana dan jenis apa yang menjadi pandemi Siap siaga selalu . hanya kita tidak tahu kapan.

TERIMA KASIH .