You are on page 1of 19

Daftar Pustaka Campak

disebabkan oleh virus yg umumnya menyerang anak • Penyakit ini sangat infeksius. Definisi • Penyakit akut yg sangat menular. dengan transmisi utama melalui droplet .

1-4tahun. 5- 14tahun • Menurut SKRT. menduduki urutan ke- 5 dlm 10 macam penyakit utama pada bayi & anak usia 1-4 tahun . sekitar 3000- 4000 per tahun. • Paling banyak ditemui pada kelompok usia < 1bulan. Epidemiologi • Angka kasus campak di indonesia sampai tahun 2002.

kulit. Etiologi dan Patogenesis • Disebabkan oleh virus tipe paramyxovirus • Port d’entree = saluran pernafasan atas  kelanjar getah bening regional  penyebaran hematohen • Monosit yg terinfeksi virus akan menyebarkan virus ke saluran respirasi. & organ lain .

bentuk bulat dgn tepi kasar dgn diameter 140nm. Etiologi • Virus penyebab termasuk golongan paramyxovirus. pada temperatur kamar kehilangan 60% sifat infektivitasnya setelah 3- 5hari . dibungkus oleh selubung yg terdiri dari lemak & protein • Merupakan virus RNA • Tidak memiliki daya tahan tinggi.

Patogenesis • Penularan terjadi secara droplet melalui udara sejak 1-2 hari sebelum timbul gejala klinis samapi 4 hari setelah timbul ruam .

• Virus menyebar pada semua sistem retikuloendotelial  viremia kedua setelah 5-7 hari dari infeksi awal. pilek. replikasi dan kolonisasi berlanjut pada kelenjar limfe regional dan terjadi viremia yang pertama. cough and conjuctivitis) dan demam yang makin lama makin tinggi. berubah menjadi desquamasi dan hiperpigmentasi. • Gejala makin lama makin berat dan pada hari ke 10 sejak awal infeksi  mulai timbul ruam makulopapuler warna kemerahan. . • Setelah masa konvelesen pada turun dan hipervaskularisasi mereda dan menyebabkan ruam menjadi makin gelap. • Kolonisasi dan penyebaran pada epitel dan kulit menyebabkan batuk. • Virus dapat berbiak juga pada susunan saraf pusat dan menimbulkan gejala klinik encefalitis. Patofisiologi • droplet infeksius menyebar lewat udara  menempel dan berbiak pada epitel nasofaring  3 hari setelah invasi. mata merah (3 C : coryza.

nyeri menelan. stomatitis. dan kadang terdapat diare • Tanda patognomonik: bercak koplik Stadium erupsi • Demam hari ke-4/ke-5. pilek. baru hilang setelah 1-2minggu . Tanda & Gejala Masa inkubasi (10-12 hari) Stadium prodormal (2-4 hari) • Demam tinggi terus menerus • Disertai: batu. yg didahului peningkatan suhu sebelumnya • Ruam muncul dari batas rambut di belakang telinga  menyebar ke wajah  badan & ekstremitas • Ruam bertahan 5-6 hari Stadium penyembuhan • Setelah 3 hari. faring hiperemis. ruam berangsur menghilang sesuai urutan timbulnya • Ruam menjadi hiperpigmentasi dan mengelupas. mata merah. fotofobia. muncul ruam makulopapular.

& • Apabila ada infeksi sekunder elektrolit  jumlah leukosit dapat • Enteritis  pemeriksaan meningkat feses lengkap • Bronkopneumonia  rontgen thoraks & AGD . Pemeriksaan Penunjang Laboratorium Pemeriksaan untuk hematologi rutin komplikasi • Dijumpai umlah leukosit • Ensefalopati/ensefalitis  normal pemeriksaan CSS. AGD.

khas ditemukan: demam. Diagnosis • Diagnosis dapat ditegakkan secara klinis. dan konjungtivitis. atau ditemukan bercak koplik • Dikonfirmasi dengan – Identifikasi sel-sel besar multinukleus apusan mukosa nasal – Deteksi IgM spesifik – Isolasi virus untuk kultur . batuk. ruam.

Diagnosa Banding • Rubela • Demam skarlet • Erupsi obat • Eksantema subitum (Roseola infantum) • Infeksi stafilokokus • Infeksi mononukleosis • Infeksi enteroviral atau adenovirus • Toksoplasmosis • Meningokoksemia .

000 kasus. Komplikasi • Otitis media • Bronkopneumonia • Enteritis • Miokarditis (jarang) • Limfedenitis mesentrika (jarang) • Ensefalitis akut (angka kejadian 1-2 kasus per 1000 kasus) • Subacute sclerosing panencephalitis (angka kejadian 1 per 25. insidensi tertinggi pada usia 8-10 tahun) .

RR ↑. gambaran infiltrat pada foto thoraks dan ada leukositosis • Kejang demam – Dapat timbul pada periode demam. umumnya pada puncak demam saat ruam keluar . stridor – Demam turun  keadaan membaik & gejala hilang • Bronkopneumonia – Ditandai: batuk. sianosis. Komplikasi • Laringitis akut – Timbul edem hebat pada mukosa sal. ada ronki basah halus. sesak. yg bertambah saat puncak demam – Ditandai: distres pernafasn. Nafas.

iritabel. kejang yg umumnya mioklonik – Hasil lab  ↑ globulin dlm CSS. letargi. disorientasi – Pemeriksaan CSS  pleositosis ringan. RR ↑. antibodi terhadap campak dalam serum ↑ (1:1280) . ↑ protein ringan. koma . diikuti onkoordinasi motorik. Komplikasi • Ensefalitis – Biasanya terjadi pada hari ke-4 sampai ke-7 setelah timbulnya ruam – Gejala berupa: kejang. predominan sel mononuklear. twitching. nyeri kepala. glukosa normal • Subacute sclerosing panencephalitis – Gejala didahului dgn gangguan tingkah laku & intelektual yg progresif.

membran timpani biasanya hiperemis • Enteritis – Timbul muntah dan mencret pada fase prodormal • Konjungtivitis – Ditandai adanya mata merah. Komplikasi • Otitis media – Pada fase prodormal & erupsi. lakrimasi. pembengkakan klopak mata. fotofobia .

hari 2. dan 2-4 minggu setelah hari 2) • Pemberian antibiotik apabila ada infeksi sekunder • Pemberian profilaksi pasca pejanan – Vaksin diberikan pada individu imunokompromais atau dgn penyakit kronis dlm 72 jam pasca pejanan – Alternatif lain  imunoglobulin dlm 6 hari pasca pejanan . hindari cahaya.000 IU – Usia >1 tahun  200.000 IU – Jika disertai gejala pada mata akibat kekurangan vit. pemebrian carian & nutrisi yang adekuat – Indikasi rawat inap: hiperpireksia. Tata Laksana • Suportif – Tirah baring.000 IU – Usia 6 bulan – 1 tahun  100. diberikan 3 kali (hari 1. dehidrasi. A atau gizi buruk. asupan oral sulit. atau disertai komplikasi • Pemberian vitamin A – Usia <6 bulan  50. kejang.

Pemebrian >5hari  harus tapering-of – Kebutuhan cairan dikurangi sampai ¾ kebutuhan. serta koreksi gangguan elektrolit & AGD • Bronkopneumonia: – Oksigen 2L/menit – Kloramfenikol 75mg/KgBB/hari dibagi 4 dosis.5mg/KgBB/hari dibagi dalam 3 dosis sampai kesadaran membaik. dan ampicilin 100mg/KgBB/hari dibagi 4 dosis. Tata Laksana Pada kasus dengan komplikasi: • Ensefalopati: – Kloramfenikol 75mg/KgBB/hari dibagi 4 dosis. dilanjutkan 0. selama 7-10 hari – Deksametason dgn dosis awal 1mg/KgBB/hari. dan ampicilin 100mg/KgBB/hari dibagi 4 dosis. selama 7-10 hari • Otitis media: – Kotrimoksazol-sulfametoksazol (TMP 4mg/KgBB/hari dibagi dalam 2 dosis) • Enteritirs: – Jika terdapat dehidrasi  pemberian cairan IV .

apabila disetai malnutrisi dilanjutkan 1500 IU tiap hari – Diet makanan cukup cairan. asupan oral sulit.000 IU. Tata Laksana • Pengobatan bersifat suportif. terdiri dari: – pemberian cairan yang cukup – kalori yang sesuai dan jenis makanan yang disesuaikan dengan tingkat kesadaran dan adanya komplikasi – suplemen nutrisi – antibiotik diberikan apabila terjadi infeksi sekunder – anti konvulsi apabila terjadi kejang – pemberian vitamin A. dehidrasi. Jenis makanan disesuaikan dengan tingkat kesadaran pasien dan ada tidaknya komplikasi. kalori yang memadai. kejang.0 0 C). atau adanya komplikasi • Campak tanpa komplikasi : – Hindari penularan – Tirah baring di tempat tidur – Vitamin A 100. • Indikasi rawat inap : hiperpireksia (suhu > 39. .

Tata Laksana .