You are on page 1of 129

Pemeriksaan Golongan darah

dan Uji Silang Serasi
Beserta Permasalahannya

Asep Zainuddin, dr. SpPK
Ka. UTDRS Sekayu Musi Banyuasin
Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah - Dinkes Propinsi Sumsel - Juli
2011 1

Pendahuluan
 Transfusi darah adalah proses memasukan darah
atau komponennya ke dalam tubuh pasien untuk
tujuan pengobatan. Prosedur transfusi darah termasuk
ke dalam prosedur transplantasi.
 Darah atau komponennya yang masuk ke dalam
tubuh pasen adalah bahan asing (=antigen heterolog)
bagi tubuh pasen yang akan berhadapan dengan
sistem imunologi tubuh resipien. Sehingga pengujian
reaksi antigen-antibodi in vitro harus dilakukan untuk
meminimalkan efek merugikan yang mungkin akan
terjadi.
 Tes tersebut salah satunya : pemeriksaan golongan
darah dan uji silang serasi.

Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah - Dinkes Propinsi Sumsel - Juli
2011 2

Pendahuluan

Realitas yang masih ada dalam
pelayanan darah : (?)
 Sebagian besar laporan kasus
reaksi transfusi terjadi karena
kesalahan teknis pemeriksaan
(80%) khususnya penentuan
golongan darah ABO (±50%).
 Masalah ini akan berdampak pada
aspek medis dan hukum. Hal ini
Sangat berkaitan dengan sistem pelayanan, SDM
(England Jurnal Med, dan1999, Laurence et al)
February

sarana.
 Masih ada pemahaman : donor universal, transfusi langsung
tanpa uji silang selama golongan darah sama, transfusi tanpa
uji saring.
 Keluhan masyarakat (tanpa konfirmasi?), aspek medis dan
hukum.
 Dll, dll. Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah - Dinkes Propinsi Sumsel - Juli
2011 3

RS.  Meningkatkan kualitas SDM : kompetensi.Juli 2011 4 . kesejahteraan.  Memperbaiki sistem pengawasan dan pembinaan yang terus menerus dan terkontrol.  Meningkatkan kualitas penunjang : sarana.Dinkes Propinsi Sumsel . SOP unit (BDRS / UTDRS). pembiayaan. Pendahuluan Pemecahan masalah  Sosialisasi pelayanan darah di tingkat UTD/bank darah. tata kerja.  Memperbaiki sistem pelayanan darah secara umum dan membangun jejaring transfusi darah. Darah . kabupatem. reagen. komunikasi. prasarana.  Memperbaiki sistem pelayanan darah di lingkup internal RS :  Setiap RS harus memiliki unit pelayanan darah (terpisah dari laboratorium klinik). ketrampilan. propinsi sesuai peraturan yang berlaku.  Managemen : Organisasi.  Sistem : kumpulan aturan yang tertulis/tidak yang melibatkan berbagai pihakPertemuan untuk Sosialisasi menjalankan Pelayanansesuatu program. etika.

Dinkes Propinsi Sumsel . Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .  Kesalahan penulisan hasil. Pendahuluan Kronologis Kasus yang sering terjadi pada discrepancy atau reaksi transfusi :  Sampel tertukar : salah ambil pasen. nama double.  Kasus terjadi pada puncak pelayanan : pasen banyak.  Kesalahan pembacaan : karena prosedur tidak dilakukan dengan benar. tidak teliti pada pengamatan.  Sistem / hubungan antar instalasi / unit.Juli 2011 5 . petugas kelelahan. sampel tidak tertata rapih. salah penulisan nama.

 Melakukan konsultasi.  Melakukan interpretasi hasil pemeriksaan dan dapat mendeteksi adanya permasalahan/trouble. Pendahuluan Ketrampilan minimal yang harus dimiliki oleh seorang petugas pemeriksa golongan darah dan uji silang serasi :  Mengetahui dan terampil dalam melakukan persiapan pengambilan darah.Juli 2011 6 . memilih dan melakukan uji kualitas reagen. memilih dan menentukan alat-alat pemeriksaan.Dinkes Propinsi Sumsel .  Menguasai dan terampil dalam melakukan berbagai prosedur pemeriksaan serta mengetahui faktor-faktor yang akan mempengaruhi hasil pemeriksaan. Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah . pengambilan bahan pemeriksaan dan pengolahannya sebelum pemeriksaan dilakukan.

Juli 2011 7 .Dinkes Propinsi Sumsel .Transfusi darah dulu dan sekarang Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .

Dinkes Propinsi Sumsel .Juli 2011 8 .Transfusi darah dulu dan sekarang Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .

Transfusi darah dulu dan sekarang Sekarang ?? Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Dinkes Propinsi Sumsel .Juli 2011 9 .

Juli 2011 10 .Dinkes Propinsi Sumsel . terutama golongan darah langka dan pada bulan-bulan tertentu.Attention Blood is RED  Rare : langka.  Expensive : mahal (!). masih sulit mencari donor.  Dangerous : beresiko penularan penyakit dan efek samping yang tidak diharapkan. Lakukan transfusi darah hanya pada keadaan tidak ada alternatif lain. Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .

Juli 2011 11 . Pemeriksaan Golongan darah dan Permasalahannya Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Dinkes Propinsi Sumsel .

Juli 2011 12 .  The International Society of Blood Transfusion (ISBT) memperkenalkan ada 285 jenis antigen yang terdapat pada permukaan eritrosit.  Sistem ABO dan Rhesus saat ini adalah sistem yang paling signifikan secara klinis & paling sering menimbulkan hemolisis intra vaskuler (reaksi transfusi) yang fatal bagi resipien. 245 diantaranya sudah dapat dikelompokkan ke dalam 29 sistem golongan darah. Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Pendahuluan Golongan Darah  Gol darah adalah karakter herediter dari permukaan eritrosit yang dapat dideteksi oleh aloantibodi spesifik.Dinkes Propinsi Sumsel .

Juli 2011 13 . Pendahuluan Golongan Darah  Sistim ABO ditemukan oleh Karl Landsteiner (Ahli patologi anatomi Austria) thn 1900  Sistim Rhesus ditemukan oleh Karl Landsteiner +Alexander Wiener (1940). Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Dinkes Propinsi Sumsel .

Juli 2011 14 .Kepentingan pemeriksaan  Identity  Paternality dan Genetika  Transfusi Darah  Transplantasi organ  dll Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Dinkes Propinsi Sumsel .

!!!  Resipien :  Pada saat penentuan indikasi transfusi → dicantumkan pada form permintaan darah untuk transfusi (Cell dan atau serum typing).Dinkes Propinsi Sumsel .Kapan melakukan pemeriksaan goldar untuk kepentingan Transfusi darah:  Donor :  Pada saat berdonor (Cell typing) di UTD.Juli 2011 15 . !!! Catatan : setiap ada ketidaksesuaian hasil pemeriksaan Jangan Panik golongan darah dengan pemeriksaan sebelumnya harus diinformasikan dahulu ke bagian terkait dan Pertemuan harus Sosialisasi Pelayanan diselesaikan/ditelusuri sampai Darah .  Pada saat pengolahan kantong darah setelah prosedur aftap untuk dijadikan stock (Cell dan Serum typing) di UTD. Dilakukan di laboratorium.  Pemeriksaan sampel darah pasien pada saat sampel darah diterima di Bank Darah / UTD (Cell dan serum !!! typing).

Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Dinkes Propinsi Sumsel .Juli 2011 16 .

Cases Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah . Permasalahan 5. 4.Juli 2011 17 . Serologi golongan darah + genetika 2. Pemecahan 6.Dinkes Propinsi Sumsel . Prosedur pemeriksaan 3. Aturan pemberian pada transfusi darah.Pembahasan 1.

SISTEM GOLONGAN DARAH ABO  Tahun 1900 : Karl Landsteiner -> golongan darah A. anti-A/-B.Juli 2011 18 . Anti-A dan Anti-B Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .B dan O  Tahun 1902 : Decastello dan Sturli -> golongan darah AB  Mempunyai reguler antibodi. reaktif pada 37C  Dapat mengaktifkan komplemen -> kehancuran sdm intravaskuler Golongan Antigen Antibodi darah pada SDM dlm serum ANTIGEN DAN ANTIBODI GOLONGAN DARAH ABO A A Anti-B B B Anti-A AB A dan B - O .Dinkes Propinsi Sumsel .

. + + + . . . - POPULASI GOLONGAN Gol. - ? . + .4 13Sumsel . + + . + + . . - B . .darah White Black Chinese Indonesia DARAH O 45 48 36 41 A 41 27 28 25 B 10 21 23 27 AB Pertemuan Sosialisasi 4 Pelayanan Darah .Juli7 Dinkes Propinsi 2011 19 . + . . + + . + ?A + . . - AB + + + . . SISTEM GOLONGAN DARAH ABO Gol Cell typing Serum typing Auto darah Anti-A Anti-B Anti-AB Sel A Sel B Sel O kontrol A + . + + + + - ?B . . - O .

Gen O -> gen amorph -> tidak ada produk yang dapat diperiksa pada sel. Oh (Bombay) sedangkan hh sangat kecil Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah . Substance adalah antigen yang larut dalam serum/plasma Substance Gen Substance Gen Antigen HH / Hh AO dan AA A dan H Precursor H Substance BO dan BB B dan H Substance AB A dan B dan H hh OO H Precursor AO/AA substance BO/BB Tidak ada yang AB dapat diperiksa Prosentase gen H sangat OO tinggi (99.99%).ABO ANTIGEN Pembentukan Ag ABO dimulai dr struktur asal /precursor substance -> melalui pengaruh gen H -> menjadi H substance. Pada s Tidak ada H substance yang diubah menjadi A atau B antigen shg pada gol O yg Hanya H substance saja.Dinkes Propinsi Sumsel . Bila ada gen A atau gen B -> H substance dirubah menjadi A dan atau B Ag.Juli 2011 20 .

mungkin tidak dapat ditampilkan hingga bayi berusia 3 bulan. ANTIBODI golongan ABO  Umumnya antibodi immun terbentuk bila ada antigen yang masuk kedalam tubuh seseorang.  Antibodi dlm serum bayi baru lahir berasal dari ibu dan bersifat IgG.Dinkes Propinsi Sumsel .  ABO antibodi termasuk dlm gol IgM dan IgG dan bereaksi sangat kuat invivo /invitro dgn reaksi optimal pada suhu kamar (20 . Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .  Di saat lahir kekuatannya masih lemah dibandingkan dengan masa dewasa dan reaksi dengan anti A dan anti B bisa terjadi lebih lemah dari yang dibayangkan.  Secara normal anti-A dan anti-B amat lemah saat lahir.  Anti-A dan anti-B dibentuk pada usia bayi 3-6 bln dan mencapai max pada usia 5-10 thn dan kmd menurun secara perlahan. Sehingga pemeriksaan golongan darah bayi (sampel tali pusat atau vena) hanya cell typing saja.25C).  Pd sistem gol drh ABO individu yg tdk memp Ag tertentu akan membentuk antibodi thd Ag tsb -> antibodi alamiah atau natural antibody.Juli 2011 21 . SISTEM GOLONGAN DARAH ABO  Antigen A dan B berkembang secara baik sejak awal janin sampai remaja.

Sub golongan antigen A  Tahun 1911 telah diketahui bahwa golongan darah A secara serologi dan genetik terbagi dalam 2 subgolongan yang amat berbeda yaitu A1 dan A2.Juli 2011 22 . Hal yang sama juga terdapat pada golongan darah AB yaitu A1B dan A2B.  Ada kemungkinan seseorang dengan subgolongan A2 dan A2B mempunyai anti-A1 di dalam serumnya tetapi umumnya lemah dan tidak penting dalam seleksi donor darah.Dinkes Propinsi Sumsel . Sub Gol Frek Ab yg selalu Ab yg kadang 2 A ada ada A1 80% Anti-B Tidak ada A2 20% Anti-B Anti-A1 dlm 2% kasus A1B 80% Tidak ada Tidak ada A2B 20% Tidak ada Anti-A1 dlm 25% kasus Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .

Antibodi yang bertiter tinggi 1. HDN karena ABO ini lebih ringan dibandingkan HDN karena anti-D. atau hilangkan plasma secara aseptik dari sel darah merah.Juli 2011 23 . Transfusi darah gol O atau plasmanya kepada orang yang bukan gol O. Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah . Jika hal ini tidak dapat dihindarkan maka pilihlah unit-unit darah donor yang tidak melisiskan sel A dan atau sel B. kemungkinan akan terjadi kerusakan sel darah merah (reaksi transfusi). Pada kehamilan. Bila ibu O sedangkan bayinya A atau B maka serum ibu (IgG antiA/B) dapat melewati plasenta sehingga merusak eritrosit bayi gol A atau B (HDN= hemolysis disease of the newborn). 2. Jadi lebih baik tidak memberikan darah gol O kepada orang bukan O.Dinkes Propinsi Sumsel . Jika sejumlah besar plasma gol O yg mengandung titer anti-AB yang tinggi diberikan kepada orang gol A atau B.

 Sesuai Hukum Mendell ada 3 gen yaitu gen A.Genotif dan fenotif golongan darah ABO  Genotif : gen yang diturunkan dari masing-masing golongan darah orang tua yang ada pd kromosom.Juli 2011 24 .  Fenotif : efek yang terlihat. gen B dan gen O  1 lokus pd setiap chromosom no. misal golongan darah ABO.Dinkes Propinsi Sumsel .  Gen A dan gen B bersifat dominan terhadap gen O. 9 diisi oleh salah satu dari 3 gen tsb Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah . jadi fenotif A dapat dari genotif AA atau AO.

Juli 2011 25 . Paternitas Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Dinkes Propinsi Sumsel .

. Anti-A Anti. Dalam serum Bombay ditemukan anti-A. karena anti-H pada Oh bereaksi pada temperatur yang luas 4 .Dinkes Propinsi Sumsel .37C. . sedangkan sel O normal bereaksi (aglutinasi) dengan anti- H. Bila pada Uji silang serasi dengan golongan O  inkompatibel. (???) Sdm O akan diaglutinasi kuat oleh serum Oh.Juli 2011 26 .Oh darah Bombay Ditemukan oleh Bhende tahun 1952. Disebut Bombay. Sdm Bombay tidak di-aglutinasi oleh anti-A. karena pertama kali sdm ditemukan di Bombay India. . Golongan Darah yang Cell transfusi cocok untuk typing Serum hanya darah typing golongan O Bombay darah lagi.Anti-AB Sel A1 Sel A2 Sel B Sel O B Oh . anti-B dan anti-H Bila pemeriksaan golongan darah hanya dilakukan cell typing saja -> akan dikategorikan sebagai golongan darah O. + + + + L O . . anti-B. anti-AB dan Anti-H. + + + - Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .

: saliva. ABH dalam saliva  Non Sekretor Ada tidaknya substance dlm cairan tubuh dikontrol oleh gen Se dan se Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Juli Genotype 2011 Sekretor : SeSe atau Sese (80%) 27 . cairan getah bening Bila ditemukan substance ABH dalam saliva  Sekretor Yang tidak mempunyai subst. Sel-sel jaringan b. Antigen dapat dideteksi dengan elusi dan H antigen tidak ditemukan pada sel darah merah. sedangkan Ag A dan B dapat dideteksi namun sangat lemah. mis.Dinkes Propinsi Sumsel . Serum / plasma c. Cairan tubuh. B dan H yang bervariasi. SEKRETOR DAN NON SEKRETOR Antigen ABH selain pada sdm juga ditemukan pada : a.DARAH PARA BOMBAY Diperkirakan karena adanya supresi antigen A.

Tidak dipengaruhi oleh gen sekretor.Juli 2011 28 . Substance yg larut dlm air-glycoprotein. tdk terdpt pd cairan tubuh.Ada 2 bentuk substance : 1. terdpt pada sdm dan hampir semua jaringan. dikontrol oleh gen sekretor dan erat hubungannya dgn gol. terdpt banyak dlm cairan tubuh. Darah Lewis. 2.Dinkes Propinsi Sumsel . Substance yg larut dlm alkohol-glycolipid. Antigen ABH pada sekretor dan non sekretor Golongan Antigen pada sekretor Antigen pada non sekretor darah Sel darah merah Saliva Sel darah merah Saliva O H H H - A A A&H A - B B B&H B - AB A dan B A&B&H A dan B - Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .

getah lambung dll. ASI. Anti-Lewis dapat mengakibatkan kesulitan pada pemeriksaan uji silang serasi. saliva dan cairan tubuh lainnya. mis.LEWIS Anti-Lea ditemukan oleh Mourant thn 1946. Anti-Leb ditemukan oleh Andressen thn 1948. Antigen Lewis Ag Lewis bukan Ag pada membran sdm.Dinkes Propinsi Sumsel . Faktor yg menentukan adanya substance Lewis adalah gen Le dan gen le. Ag Lewis pd sdm didapat secara sekunder ->dgn menyerap Ag Lewis dari plasma dan peran membran sdm belum diketahui. shg pemeriksaan menjadi inkompatibel. Bila mempunyai substance Lewis berarti genotip orang tsb adalah LeLe (homosigot) atau Lele (heterosigot) Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Juli 2011 29 . melainkan antigen yg larut dalam Serum / plasma.

B. termasuk Pertemuan sekretor Sosialisasi atau.Juli 2011 30 . H dan Lewis terletak pada 1 molekul glycoprotein yang sama  Individu dgn gen lele tdk memproduksi Lea dan Leb. karena faktor2 yg menentukan spesifisitas substance A.  Substance Leb ditentukan oleh kerjasama dr gen H dan gen Le. gen sekretor. gen H dan gen ABO.  Adanya Ag Lewis juga ditentukan oleh kerjasama antara gen Lewis.non Pelayanan Darah Dinkessekretor Propinsi Sumsel .LEWIS  Gen Lewis menentukan ada/tidaknya substance Lea. dlm plasma dan saliva terdapat substance Lea dan termasuk non sekretor  Le(a-) dan Le(b+) -> phenotype (Lea-b+) dlm plasma dan saliva terdapat substance Leb dgn sedikit substance Lea. sekretor  Le(a-) dan Le(b-) -> phenotype Le(a-b-) dlm plasma dan saliva tidak ada substance Lewis. Pemeriksaan sdm thd Lea dan Leb  Le(a+) dan Le(b-) -> phenotype (Lea+b-).  Adanya Ag Lewis dihubungkan dengan status sekretor dan non sekretor ABH seseorang.

setelah mendapat darah donor Le(a+b-) Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .91 % Le(a-b-) 1–5% 20 – 22 % 22.Dinkes Propinsi Sumsel .77% Le(a+b+) Jarang Jarang Antibodi Lewis Anti-Lea • Ditemukan tanpa stimulasi terlebih dahulu • Sebagian besar IgM dan dapat mengikat komplemen. • Reaksi transfusi terjadi pada anti-Lea tipe IgG.Phenotype Lewis pada Caucasian dan orang Indonesia Sistem Lewis Caucasian Black Jakarta 1976 Le(a+b-) 20 – 25 % 22 – 25 % 20..23% Le(a-b+) 72 % 55 % 56.Juli 2011 31 . namun ada juga IgG • Phenotype Le(a-b+) tidak membuat anti-Lea. karena sebagian kecil Le(a) tidak diubah menjadi Le(b) dan terdapat dalam plasma dan saliva.

Ab Lewis akan dinetralisir oleh substance Lewis dlm plasma donor. Transfusi darah Anti-Lewis dapat menimbulkan kesulitan uji silang serasi.Juli 2011 32 .Dinkes Propinsi Sumsel . Kehamilan Antigen Lewis sangat lemah. Sdm yg ditransfusikan akan melepaskan Ag Lewis dan merubah phenotype Lewis dlm beberapa hari. tidak jarang mengakibatkan hemolisis 2.Anti-Leb • Sering ditemukan bersama-sama anti-Lea sbg antibodi yang lemah pada Le(a-b-) • Anti-Leb sendiri tanpa anti-Lea sangat jarang ditemukan Aspek klinis : 1. shg jarang terjadi kasus HDN Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .

I = individuality.Dinkes Propinsi Sumsel . yaitu antigen I dan antigen i. sedangkan jml Ag i tidak terdeteksi. Pada orang dewasa jml Ag I sangat jelas. Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .SISTEM GOLONGAN DARAH Ii Ditemukan oleh Wiener pada 1956. Kedua antigen ditemukan 100% pada sdm dgn kuantitas yang berbeda-beda pada masing2 individu. Transisi dari i ke I butuh waktu  18 bulan.Juli 2011 33 .000) dan disebut sebagai iadult. Pada orang dewasa sangat jarang ditemukan antigen i (1 dlm 10. Ada 2 macam antigen. sedangkan Ag I tidak terdeteksi. sebaliknya cord blood (tali pusat) banyak Ag i.

oleh karena itu harus dilakukan : • Memastikan antibodi tsb adalah auto anti-I • Memastikan tidak ada antibodi lain • Menghilangkan auto antibodi dengan auto adsorption atau tehnik pemanasan untuk mendapatkan uji silang serasi yg kompatibel.Juli 2011 34 .Dinkes Propinsi Sumsel . Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah . Anti-I Sangat jarang ditemukan dan umumnya akibat dari virus. tetapi merupakan masalah pada uji silang serasi. namun tidak berbahaya. khususnya Epstein Barr virus dan Cytomegalovirus.Anti-I Anti-I dapat dideteksi pada hampir semua individu sehat sebagai auto Ab. Serum akan bereaksi terutama dengan cord blood.

Juli 2011 35 . 94% kulit hitam P2 P 21% kulit putih. P k dan p dengan 5 phenotype Phenotype Antigen Frekuensi P1 P1 P 79% kulit putih.Dinkes Propinsi Sumsel . Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah . yaitu P1. 6% kulit hitam P1k P1 Pk Sangat jarang P2k Pk Sangat jarang p p Sangat jarang P1 dan P2 analog dengan A1 dan A2 dari sistem ABO.SISTEM GOLONGAN DARAH P Ditemukan tahun 1927 oleh Landsteiner dan Levine pada percobaan imunisasi sdm manusia pada kelinci -> anti-P1 Ada 4 antigen dalam sistem P. P.

Anti-Tja Dikenal sebagai anti-PP1Pk. hampir selalu IgM dan tidak mengakibatkan HDN Bila ada antibodi dlm serum pasien harus hati2. Ditemukan pada individu p tanpa stimulasi sd Antibodi berupa IgG. shg dapat mengakibatkan reaksi transfusi berat.Juli 2011 36 . IgM atau campuran IgG dan IgM dan merupakan Hemolisin yang potent. darah yg diberikan harus gol P2.Anti-P1 ndividu dgn P2 umumnya mempunyai anti-P1. adang2 pada 37C. bortus kronis dan kasus HDN. Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Dinkes Propinsi Sumsel . bereaksi pada suhu 4C. Reaksi transfusi akibat anti-P1 sangat jarang.

sedangkan Rhesus negatip tidak mempunyai Rh antigen pada sdm nya dan merupakan antigen yang penting dlm transfusi. Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah . Rhesus positip adalah individu dengan Rhesus antigen pada sdm. Wiener dan Peter menemukan antibodi yg sama pada resipien Rh neg yg mendapat transfusi ABO kompatibel Rh pos. dinamakan antigen-D. antibodi yang timbul bereaksi dengan 85% sdm manusia.Dinkes Propinsi Sumsel . sdm monyet Rhesus disuntikkan pada kelinci.Juli Pembentukan antibodi 2011 terjadi akibat rangsangan atau 37 .SISTEM GOLONGAN DARAH RHESUS Rhesus positip dan Rhesus negatip 1939 Levine dan Stetson menemukan antibodi pd seorang wanita dgn HDN 1940 Landsteiner dan Wiener menamakan antigen tsb antigen Rhesus.

2. Antigen Rh yang lain Pertengahan 1940 ditemukan 4 antigen yang berhubungan dengan Ag D. c.Juli Gen d merupakan 2011 gen “silent”. CDE dan numerik 1. Terminologi CDE oleh Fisher dan Race. krn tdk dapat dideteksi 38 . C. Antigen Rhesus ditentukan oleh 1 gen dengan multiple allel.Dinkes Propinsi Sumsel . yaitu D.Penelitian keluarga antigen D ditentukan secara genetik yang diatur oleh gen autosomal yang dominan. Nomenklatur Rh-Hr. Gen Rh terletak pada chromosom 1. Lebih dari 40 antigen yang berhubungan dgn antigen D. E. e. yang disebut sebagai Rh sistem. Terminologi Rh-Hr diajukan oleh Wiener. tetapi yang terpenting hanya 5 antigen bersama antibodinya. 3 pasang allel gen yang menempati 3 lokus yang berdekatan Lokus I : D atau d Lokus II : C atau c LokusPertemuan III : ESosialisasi atau e Pelayanan Darah .

Dinkes Propinsi Sumsel . Terminologi Rh antigen dan frekwensi Nama antigen % Caucasians Fisher-Race Wiener Rosenfield Positive D Rho Rh1 85 C rh’ Rh2 70 E rh” Rh3 30 c hr’ Rh4 80 e hr” Rh5 98 Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .3. mengusulkan nomenklatur berdasarkan pengamatan phenotype antigen dgn memberi nomor sesuai urutan penemuannya. Rosenfield dkk.Juli 2011 39 .

+ + - cDe Rho Ro + . . krn tersedianya antiserum.Juli 2011 40 . antiserum lainnya digunakan pada studi keluarga atau masalah antibodi.Phenotype dan genotype Umumnya test yg dilakukan pada pretransfusi hanya antigen D. . sedangkan untuk antigen D sukar untuk ditentukan. karena antiserum yang tersedia hanya anti-D CDE Rh-hr Simbol Antigen yang dihasilkan Produk dari Term gen Rh yg sering Term Singkat ditemukan pada D C E c e Caucasian CDe Rh1 R1 + + . - cde rh Pertemuan r Sosialisasi - Pelayanan - Darah - . + + CDE Rhz Rz + + + . Untuk penentuan homozygot untuk C (dan c) dan E (dan e) relatif mudah. + cDE Rh2 R2 + .Dinkes + Propinsi + Sumsel .

Partial D : satu atau lebih bagian dari D antigen missing/hilang. sedangkan darah donor dengan D weak antigen tidak boleh diberikan pada resipien dengan Pertemuan Sosialisasi Rh neg.Juli 2011 41 . Pelayanan Darah . Umumnya reaksi aglutinasi jelas baik secara slide maupun tube test. kekuatan antigen D tidak berpengaruh pada posisi cis DCe/dce. Semua sampel harus diperiksa secara duplo dgn menggunakan IgM monoclonal yg tidak dapat mendeteksi DVI Pasien dengan D weak antigen tidak boleh mendapat Rh pos.C trans : position effect atau gene interaction effect Dce/dCe. .Dinkes Propinsi Sumsel .Rh variant Tidak semua Rh pos bereaksi sama kuat terhadap anti-D. D weak antigen : .

kecuali beberapa anti-E dan anti-Cw yg tidak diketahui stimulusnya. Antigen yang paling potent adalah antigen D diikuti dgn antigen c dan E.Dinkes Propinsi Sumsel X 2011 42 .Antibodi sistem Rhesus Umumnya antibodi Rh merupakan antibodi imun akibat transfusi atau kehamilan.Juli Pelayanan Darah . Spes Reaksi positip invitro Imunoglobulin Terlibat dalam NaCl Alb AHG Enz IgG IgM IgA Rx transf HDN Anti-D X X X kebanyakan beberapa jarang X X Anti-C X X X kebanyakan X X Anti-E X X X X kebanyakan beberapa X X Anti-c X X X kebanyakan beberapa X X Anti-e X X Pertemuan X kebanyakan Sosialisasi X .

Geno. + + MMSs MSMs MSs + . + MMss MsMs Ms + + + . MMSS MSMS MS + .SISTEM GOLONGAN DARAH MNSs 1927 Landsteiner dan Levine menemukan golongan darah MN dengan menyuntikkan sdm manusia pd kelinci shg terbentuknya anti-M dan anti-N 1947 Walsh dan Montgomery dgn cara AHG menemukan anti-S 1951 Levine menemukan antigen s Reaksi sel darah merah terhadap Pheno. NNSS NSNS NS . + MNss MsNs MNs . + .Juli 2011 43 .Golongan Penggolongan Anti-M MNSs Anti-N Anti-S Anti-s type type + . + NNss NsNs Ns Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Dinkes Propinsi Sumsel . MNSS MSNS MNS + + + + MNSs MSNs/MsNS MNSs + + . + + . . + . + + + NNSs NSNs NSs .

Anti-M dan anti-N

Anti-M
• Dapat bereaksi pada suhu dingin dan hangat
• Mempunyai dosis effek
• Reaksi diperkuat dgn albumin dan LISS (Low Ionic Strength
Solution)
• Tidak bereaksi pd enzyme treated cell, krn Ag M terbuang
dari permukaan sel
• Merupakan antigen yg lemah
• anti-M banyak ditemukan pd orang yg belum pernah
mendapat transfusi

Anti-N
• Jarang ditemukan
• Dapat ditemukan pd pasien hemodialise, tanpa melihat gol
N(+) atau N(-)
dari bahan sterilisasi yang mengandung formaldehyde
Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah - Dinkes Propinsi Sumsel - Juli
2011 44

Anti-S

• Dapat mengakibatkan reaksi transfusi
• Pernah ditemukan kasus HDN
• Donor : utk yg mempunyai anti-S, gunakan sdm nya
saja
• Reaksi tidak diperkuat oleh enzim, beberapa enzim
akan merusak
antigen S
• Dapat memberikan dosis effek
• S antigen merupakan antigen yg tidak kuat

Anti-s

• Jarang ditemukan

Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah - Dinkes Propinsi Sumsel - Juli
2011 45

SISTEM GOLONGAN DARAH KELL
Anti Kell (anti-K) ditemukan pada tahun 1946 oleh Coombs
dkk.
Anti Cellano (anti-k) ditemukan oleh Levine dkk tahun 1949.
Sistem golongan darah Kell mempunyai 2 bentuk, yaitu K(+)
dan K(-)
Anti-K Anti-k Golongan Genotype Phenotype Kulit putih Kulit hitam
Phenotype dan genotype
+ - K pos KK K 0.21% -
+ + K pos Kk Kk 8 - 10% 2 – 5%
- + K neg kk k 91 – 92% 95 – 97%

Antigen Kell merupakan antigen yang kuat setelah golongan
darah ABO
dan dapat mengakibatkan HDN dan reaksi transfusi
hemolitik, Anti-K dan anti-k merupakan antibodi imun tipe
Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah - Dinkes Propinsi Sumsel - Juli
IgG. 2011 46

sehingga tidak dapat dideteksi pada serum yang tidak segar Antibodi .Dinkes Propinsi Sumsel .Dapat mengakibatkan reaksi transfusi hemolitik berat atau lambat dan HDN Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah . yaitu : Jk(a+b-) Jk(a+b+) Jk(a-b+) Jk(a-b-) Antibodi Jka dan Jkb umumnya terdeteksi karena kemampuannya mengikat komplemen.Anti-Jka dan anti-Jkb bersifat dosage effect dan IgG . Jk a ditemukan oleh Allen dkk tahun 1951 dan Jkb oleh Plaut dkk tahun 1957. Dikenal 4 phenotype (pemeriksaan menggunakan anti-Jk a dan Anti-Jkb).Juli 2011 47 .SISTEM GOLONGAN DARAH KIDD Golongan darah Kidd mempunyai 2 allel.

Fiksasi komplemen . tetapi banyak ditemukan di Afrika Tengah dan Barat.Dinkes Propinsi Sumsel .Umumnya tipe IgG Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah . HDN .Dapat mengakibatkan reaksi transfusi hemolitik. Terdapat 2 allel.SISTEM GOLONGAN DARAH DUFFY Golongan darah Duffy ditemukan oleh Cutbush & Chanary tahun 1950. Individu dengan Fy(a-b-) resisten terhadap invasi Plasmodium vivax Antibodi .Juli 2011 48 .Bereaksi pada fase ICT . Phenotype Duffy Fy(a+b+) Fy(a+b-) Fy(a-b+) Fy(a-b-) Phenotype Fy(a-b-) jarang ditemukan pada penduduk Eropa. yaitu Fya dan Fyb.

Juli 2011 49 .SISTEM GOLONGAN DARAH LUTHERAN Anti-Lua ditemukan oleh Callender dan Race tahun 1946.Dinkes Propinsi Sumsel . sedangkan Anti-Lub ditemukan oleh Cutbush dan Chanary tahun 1956. tetapi dapat mengakibatkan reaksi transfusi hemolitik Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah . Phenotype Lu(a+b-) Lu(a+b+) Lu(a-b+) Lu(a-b-) Antibodi Anti-Lua dan anti-Lub jarang ditemukan.

B dan O AGLUTINASI Penggumpalan sdm oleh antibodi (AABB) 4+ = 1 gumpalan sdm yang besar 3+ = beberapa gumpalan besar 2+ = beberapa gumpalan sedang dgn latar belakang jernih 1+ = beberapa gumpalan kecil dgn latar belakang kemerahan +w = beberapa gumpalan sangat kecil dgn latar belakang kemerahan atau mikroskopis Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Juli 2011 50 .Dinkes Propinsi Sumsel . anti-B dan anti-AB. IDENTIFIKASI GOLONGAN DARAH ABO Cell typing Sdm direaksikan dgn anti-A. Serum typing / back typing Serum/plasma direaksikan dengan sdm golongan A.

 Sampel :  Identitas pasien harus benar. rinci dan jelas. obat atau transfusi).  Eritrosit konsentrasi tertentu (untuk pemeriksaan antigen cell). disimpan di lemari es 2-6 oC. Hb bebas dapat menutupi hemolisis yang diakibatkan oleh antibodi.Yang perlu diperhatikan sebelum pemeriksaan golongan darah :  Pasen :  Data pemeriksaan golongan darah sebelumnya.  Darah vena atau perifer? Antikoagulan? Darah vena Diambil tidak boleh dekat iv line (cairan fluid.Juli 2011 51 .  Tidak hemolisis (pada pemeriksaan antibodi serum).  Stabilitas sampel : bila akan disimpan : ditutup rapat.  Data klinis yang mendukung. untuk tes golongan darah sampel dapat disimpan maksimal 7 hari. Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah . untuk uji silang sampel tidak boleh lebih dari 3 hari untuk menghindari inaktivasi komplemen.Dinkes Propinsi Sumsel .

 Tulis tanggal mulai dipakai dan sampai kapan expire dipakai.  Penyimpanan : hindari pengaruh sinar matahari langsung. simpan di lemari es khusus 2-6 oC.Yang perlu diperhatikan sebelum pemeriksaan golongan darah :  Alat-alat :  Tidak dalam keadaan panas.  Reagen :  Dilakukan Uji stabilitas dan validitas reagen.  Penggunaan pengaduk tidak boleh yang absorp.  Reagen sel : tergantung cairan yang digunakan.  Tabung/plat bersih.Dinkes Propinsi Sumsel .  Alat kondisi baik dan terkalibrasi.  Reagen golongan darah merupakan antibodi monoklonal. tidak ada bekas sabun cucian. keramik atau plastik padat. kering. Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah . sebaiknya dari kaca.Juli 2011 52 .

Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .  Interpretasi :  Tempat/pencahayaan. untuk cross cek interpretasi bila ada permasalahan.  Setiap sisa sampel jangan dulu dibuang.Juli 2011 53 .Yang perlu diperhatikan sebelum pemeriksaan golongan darah :  Prosedur :  Ada SOP.  Perlu second opinion ?  Dokumentasi hasil pemeriksaan harus ada baik di dalam work book atau pada print hasil pemeriksaan.Dinkes Propinsi Sumsel .

Hemolisis yang diakibatkan oleh antibodi memerlukan aktivasi dari komplemen. Untuk mengaktifkan komplemen dibutuhkan ion Calsium dan Magnesium.Reaksi Ag-Ab in vitro  Aglutinasi : adalah gumpalan dari partikel-partikel atau sel-sel antigen dimana pada permukaannya terdapat molekul antibodi yang membentuk jembatan-jembatan sehingga terjadi ikatan antara Ag-Ab.Dinkes Propinsi Sumsel . Warna merah pada cairan supernatan setelah dilakukan inkubasi antara antibodi dengan sel darah merah merupakan tanda penting yang menyatakan bahwa lisis yang terjadi in vitro dapat menyebabkan lisis intravaskuler in vivo.  Hemolisis : adalah pecahnya sel darah merah dengan keluarnya hemoglobin dari dalam sel. Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Juli 2011 54 .

2. SDM bermuatan negatif pada permukaannya shg SDM tidak spontan menggumpal. 6. 5.0.Juli 2011 55 . Waktu inkubasi. Ionic strength : adalah larutan yang mempunyai intensitas muatan listrik. 3.Faktor yang mempengaruhi aglutinasi : 1. Konsentrasi Ag dan Ab : Bila kadar SDM terlalu banyak. 4. makin banyak antibodi yang mengadakan ikatan dengan antigennya.5 – 7. pH : umumnya pH 6.Dinkes Propinsi Sumsel . Konstante keseimbangan : makin  konstante. maka antibodi yang akan melekat sedikit sehingga aglutinasi tidak terjadi atau terlalu lemah. Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah . Temperatur : beberapa antibodi tertentu bereaksi pada suhu tertentu pula.

 Metode pemeriksaan aglutinin indirek : antibodi tidak dapat mengaglutinasi sel secara langsung tetapi harus dengan penambahan enzim (tes antiglobulin) :  IAT / indirek antiglobulin tes (Coomb’s indirek).Prosedur Pemeriksaan  Pemeriksaan gol darah ABO dan rhesus umumnya masih menggunakan reaksi hemaglutinasi antara ag-ab. microplate fase liquid/solid.  Metode lain : elusi.  Spin tube  Gel. tube.Juli 2011 56 . genotyping molekuler.  DAT / direk antiglobulin tes. flowsitometri. teknik otomatis. Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Dinkes Propinsi Sumsel .  Metode pemeriksaan aglutinin direk (forward dan reverse) : slide.

Juli 2011 57 .  Pemisahan darah : untuk mendapat serum/plasma yang terpisah dengan SDM  Pencucian darah : untuk menghilangkan substansi asing (sisa bekuan atau hemolisat). menghilangkan rouleaux formasi dan menghilangkan auto cold antibodi pada darah yang akan diperiksa. Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Persiapan  Alat dan bahan/reagen.Dinkes Propinsi Sumsel .

Sel eritrosit yang digunakan yaitu golongan A. Persiapan Suspens Penggunaan i 5% Golongan Darah (tube test)  Suspensi eritrosit : 10% Golongan darah (slide membuat test) kepekatan eritrosit menjadi 40% Golongan darah rhesus. 40%.O.  Sel uji ABO : ditentukan dahulu sel stock yang telah diuji ketepatan golongan darahnya. 10%. Kemudian dibuatkan suspensinya 5%.B.Juli  Pembuatan suspensi 2011 sel 58 . pengenceran tertentu agar reaksi ag-ab berlangsung optimal.Dinkes Propinsi Sumsel . Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .

Praktek Pemeriksaan dan Pembacaan Hasil Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Juli 2011 59 .Dinkes Propinsi Sumsel .

CCC. anti-AB. bagaimana prosedur. anti-D. bagaimana pencatatan.Kemampuan lain yang harus dimiliki  Melakukan Tes validitas reagen : anti-A.Juli 2011 60 . anti-B. Bovin Albumin.Dinkes Propinsi Sumsel . Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah . sel eritrosit :  Kapan dilakukan. AHG.

Penanganan Darah yang Discrepancy Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Juli 2011 61 .Dinkes Propinsi Sumsel .

dapat diberikan eritrosit golongan O (kalau memungkinkan lebih baik lagi O.Juli 2011 62 . Rh-)  Hasil troubleshooting harus segera diinformasikan Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Discrepancy : Jika hasil cell & serum grouping ‘do not agree’  Discrepancy harus segera diatasi dan dicari penyebabnya sebelum produk darah donor dpt dilabel  Selama menunggu troubleshooting: kondisi darurat (emergency).Dinkes Propinsi Sumsel .

Jenis-jenis Kesalahan teknik (paling sering terjadi) :  Kesalahan klerikal  Disfungsi reagen atau alat  Kesalahan prosedur Pemecahan : membuat SOP prosedur pelayanan (alur dan kebijakan.Pemecahan masalah discrepancy  Tentukan dahulu apakah ada kesalahan teknik ?  Penting mengetahui riwayat klinik pasien atau donor : umur.Dinkes Propinsi Sumsel . SOP prosedur pemeriksaan. kadar Ig (jika memungkinkan). Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah . riwayat transfusi. diagnosis. pengobatan. SOP pengawasan pencatatan dan pelaporan.Juli 2011 63 .

re-interpretasi.Dinkes Propinsi Sumsel .  Unexpected antigen reaction.  Unexpected antibody reaction. Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Juli 2011 64 .  Weak reacting or missing antibodies.Pemecahan masalah discrepancy Kesalahan non teknik :  Weak reacting or missing antigen. prosedur pemeriksaan. Penelusuran dimulai dari : temuan atau riwayat klinis. konsultasi. Perlu penelusuran kasus sampai ditemukan permasalahannya.

Dinkes Propinsi Sumsel .Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Juli 2011 65 .

Juli 2011 66 . KESALAHAN TEKNIS Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .A.Dinkes Propinsi Sumsel .

Juli 2011 67 .Dinkes Propinsi Sumsel .Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .

dpt menyebabkan hasil sel & serum negatif palsu  Overcentrifugation. dpt menyebabkan positif palsu atau negatif palsu  S etiap sentrifus harus dikalibrasi Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Dinkes Propinsi Sumsel . Undercentrifugation.Juli 2011 68 .

Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Dinkes Propinsi Sumsel .Juli 2011 69 .

B. KESALAHAN NON TEKNIS Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Dinkes Propinsi Sumsel .Juli 2011 70 .

Juli 2011 71 .Dinkes Propinsi Sumsel .B. KESALAHAN NON TEKNIS Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .

Juli 2011 72 .Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Dinkes Propinsi Sumsel .

Juli 2011 73 .a. S ugbrup ABO Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Dinkes Propinsi Sumsel .

Juli 2011 74 .Dinkes Propinsi Sumsel .Subgrup ABO (lanj) Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .

Dinkes Propinsi Sumsel .Juli 2011 75 .Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .

Juli 2011 76 .Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Dinkes Propinsi Sumsel .

Dinkes Propinsi Sumsel .Juli 2011 77 .Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .

Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Juli 2011 78 .Dinkes Propinsi Sumsel .

Juli 2011 79 .Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Dinkes Propinsi Sumsel .

Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Juli 2011 80 .Dinkes Propinsi Sumsel .

Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Dinkes Propinsi Sumsel .Juli 2011 81 .

Juli 2011 82 .Dinkes Propinsi Sumsel .Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .

Dinkes Propinsi Sumsel .Juli 2011 83 .Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .

Dinkes Propinsi Sumsel .Juli 2011 84 .Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .

Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Dinkes Propinsi Sumsel .Juli 2011 85 .

Dinkes Propinsi Sumsel .Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Juli 2011 86 .

Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Dinkes Propinsi Sumsel .Juli 2011 87 .

Juli 2011 88 .Dinkes Propinsi Sumsel .Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .

Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Juli 2011 89 .Dinkes Propinsi Sumsel .

Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Dinkes Propinsi Sumsel .Juli 2011 90 .

Dinkes Propinsi Sumsel .Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Juli 2011 91 .

Dinkes Propinsi Sumsel .Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Juli 2011 92 .

Juli 2011 93 .Dinkes Propinsi Sumsel .Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .

Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Juli 2011 94 .Dinkes Propinsi Sumsel .

Dinkes Propinsi Sumsel .Juli 2011 95 .Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .

Dinkes Propinsi Sumsel .Juli 2011 96 .Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .

Dinkes Propinsi Sumsel .Juli 2011 97 .Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .

Dinkes Propinsi Sumsel .Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Juli 2011 98 .

Cases

Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah - Dinkes Propinsi Sumsel - Juli
2011 99

Uji silang serasi
(Cross Match)
dan Permasalahannya

Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah - Dinkes Propinsi Sumsel - Juli
2011 100

Pendahuluan
 Adalah uji in vitro dengan mencampurkan darah
donor dan darah pasien.
 Pemeriksaan ini untuk mengetahui apakah sel darah
merah donor dapat hidup di dalam tubuh pasien, dan
untuk mengetahui ada tidaknya antibodi IgG atau
IgM dalam serum pasien (mayor) maupun dalam
serum donor (minor) yang melawan sel pasien.
 Cara pemeriksaan : Metoda tabung, metoda Gell,
metoda magnetik.
 Pemeriksaan ini wajib dilakukan walaupun dalam
keadaan cito.
 Pemeriksaan ini menjadi penentu akhir dalam
keamanan pasien dalam bertransfusi.
Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah - Dinkes Propinsi Sumsel - Juli
2011 101

Dinkes Propinsi Sumsel .Pemeriksaan uji silang serasi : Plasma Serum Donor Pasien M st Te in or Auto Kontrol st Te or Darah Darah ay Donor Pasien M Suspensi Suspensi Sel Donor 5% Sel Pasien 5% Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Juli 2011 102 .

Juli 2011 103 .Metode Tabung Pemeriksaan uji silang serasi terdiri atas 3 fase : Fase I : Medium saline Mayor test : 2 tts serum pasien + 1 tts suspensi sel donor 5 % Minor test : 2 tts plasma donor + 1 tts suspensi sel pasien 5% Auto kontrol : 2 tts serum pasien + 1 tts suspensi sel pasien 5% Kocok perlahan-lahan agar homogen. Inkubasi pada suhu 37C selama 15 menit.Dinkes Propinsi Sumsel . Putar semua tabung pada 3000 rpm selama 15 detik atau 1000 rpm selama 1 menit→ baca reaksi Fase II : fase bovine albumin 22% Pada semua tabung fase I : tambahkan 2 tts Bovine Albumin 22% Kocok perlahan-lahan agar homogen. Putar semua tabung pada 3000 rpm selama 15 detik atau 1000 rpm selama 1 menit→ baca reaksi Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .

Dilakukan terhadap semua tabung dengan menambahkan 1 tts Coombs Control Cells (CCC) bila hasil reaksi fase III negatip.9%) Tambahkan pada semua tabung 2 tts Antiglobulin Test (AHG). Kocok perlahan-lahan agar homogen Putar semua tabung pada 3000 rpm selama 15 detik atau 1000 rpm selama 1 menit→ baca reaksi Fase CCC : Kontrol.Dinkes Propinsi Sumsel .Juli 2011 104 . Setelah penambahan CCC reaksi harus positip. Bila hasil reaksi tetap negatip → Pemeriksaan uji silang serasi harus diulang Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Metode Tabung Fase III : fase Anti Globulin Test (Coombs Test) Pada semua tabung fase II : Cuci semua tabung 3 x dengan Saline (NaCl 0.

Pembuatan CCC Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Dinkes Propinsi Sumsel .Juli 2011 105 .

bila pada semua fase baik major maupun minor tidak ada reaksi Inkompatibel (tidak cocok).Hasil pemeriksaan uji silang serasi diinterpretasikan : Kompatibel (cocok). Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Dinkes Propinsi Sumsel .Juli 2011 106 . bila ada reaksi pd fase manapun baik di mayor test maupun minor test atau pada kedua-duanya.

Metode Gell
PROSEDUR :
 Metode : Gell test (Diamed).
 Prinsip :
Reaksi silang terjadi secara invitro dan di dalam medium
Gell.
Material Gell adalah Sephadex. Aglutinasi diamati secara
makroskopis :
- Aglutinasi yang berukuran besar terjadi di permukaan
gell.
- Aglutinasi yang kecil ukurannya akan terperangkap di
alam Gell.
- Sel yang tidak beraglutinasi akan langsung mengendap di
dasar gell.
 Bahan: Darah Donor ( Darah EDTA ). Darah Pasien
( Darah EDTA )
 Reagen : Larutan LISS ( Low Ionic Strength Solution ).
Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah - Dinkes Propinsi Sumsel - Juli
Gell yang disimpan
2011 dalam tiap-tiap sumur test. 107

Metode Gell
Cara Kerja :
 Memisahkan plasma pasen dan plasma donor pada masing-masing tabung
dengan sentrifugasi.
 Membuat suspensi sel darah donor dan pasien 1 %.
Cara : 5 ul sel darah + 500 ul larutan pengencer ( LISS ). Masukkan
dalam tabung. Campur dan homogenkan. Berikan label pada masing-
masing tabung : donor dan pasien. Ambil 1 pack gel dan Beri label pada
kertas gel seperti : Nama Pasien / Umur / Jenis kelamin. Tempat rawat, Tgl
pemeriksaan, Petugas
 Masukkan suspensi sel donor pada sumur Gell sebanyak 50 ul + plasma
pasien sebanyak 25 ul pada tabung gel 1 ( mayor )
 Masukkan suspensi sel pasien pada sumur Gell sebanyak 50 ul + plasma
donor sebanyak 25 ul pada tabung gel 2 ( minor )
 Masukkan suspensi sel pasien pada sumur Gell sebanyak 50 ul + plasma
pasien sebanyak 25 ul pada tabung gel 3 ( Auto kontrol )
 Tabung gel diketuk pelan – pelan sampai campuran sel darah dan plasma
turun ke dalam sel. Tabung gel di inkubasi pada suhu 37 ° c selama 15
menit. Putar tabung gel 1000 rpm selama 10 menit. Baca hasilnya secara
makroskopis.
 Catatan : Masukkan suspensi sel dahulu baru plasmanya. Cara
memasukkan suspensi selSosialisasi
Pertemuan ke dalam tabung
Pelayanan gel- Dinkes
Darah harusPropinsi
melalui dinding
Sumsel - Juli
2011
tabung. Cara memasukkan plasma kedalam tabung gel harus tegak lurus 108

Metode Gell
Pembacaan :
1. Mayor labu 1 = Negatif
2. Minor labu 1 = Positif 2
3. Mayor labu 2 = Negatif
4. Minor labu 2 = Positif 3
5. Auto control = Positif 3
6. Gell kosong.

Pembacaan hasil :
Diamati secara makroskopis dengan latar belakang cahaya yang cukup adanya aglutinasi
eritrosit pada Gell :
 Bila seluruh eritrosit terdapat pada dasar Gell : Negatif.
 Bila seluruh eritrosit terdapat pada permukaan Gell : Positif 4.
 Gradasi antara positif 1 sampai 4 dilihat dari sebaran dan banyaknya aglutinasi pada Gel
antara permukaan sampai dasar.
 Hasil yang dibaca adalah hasil akhir seluruh proses tidak lagi dibedakan berdasarkan
fase I, II, III.
Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah - Dinkes Propinsi Sumsel - Juli
2011 109

Dinkes Propinsi Sumsel .Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Juli 2011 110 .

Inkompatibilitas cross match Tujuan utama uji cocok serasi mayor adalah utk mendeteksi Ab dlm serum resipien (termasuk anti-A & anti-B) yg dpt menghancurkan eritrosit yg ditransfusikan • Hasil uji cocok serasi (+) hrs ada penjelasan • Pasien tdk menerima transfusi sp penyebab inkompatibilitas diketahui • Jika hasil (+).Dinkes Propinsi Sumsel .Juli 2011 111 . hasil AC & skrining Ab hrs ditinjau kembali utk mengidentifikasi pola penyebab Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .

Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Dinkes Propinsi Sumsel .Juli 2011 112 .

Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Dinkes Propinsi Sumsel .Juli 2011 113 .

dpt sbg donor potensial dlm kasus emergency (catt. pasien mendpt transfusi sel inkompatibel • Jika Ab skrining (+). Jika semua eritrosit donor inkompatibel dg serum pasien. lakukan identifikasi spesifisitas Ab Contoh: a.Juli 2011 114 . psn tsb telah tersensitisasi) Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .• AC akan (-) kec. diperkirakan: – Tdp Ab dg insidensi tinggi atau Ab multipel dlm serum pasien – Konsultasi ke lab referal jika tdk dpt mengidentifikasi spesifisitas Ab – Jika psn memp saudara kandung. yg kemungkinan tdk memp/<< Ag.Dinkes Propinsi Sumsel .

Dinkes Propinsi Sumsel .Aglutinin (anti-A. Anti-A) atau aglutinin ABO didapat pasif . dan hanya satu donor unit yg kompatibel: . Jika Ab skrining (-).Cek hasil serum grouping utk mengkonfirmasi Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .a.Juli adanya reaksi2011 tdk diharapkan dg sel A1 dan/atau 115 . Jika skrining Ab (-): . anti-B atau anti-AB) terjadi setelah transfusi produk darah non-ABO (mis.S erum pasien mengandung naturally occuring Ab (mis. transplantasi organ atau sumsum tulang . Trombosit.Kemungkinan Ab dlm serum pasien bereaksi dg Ag low incidence di permukaan eritrosit donor .S tudi panel biasanya tdk infomatif b.

Juli 2011 116 .• AC akan (+) • Ab skrining (+) dan tes serum psn dg sel donor akan (+) • Sebagian besar Ab memp spesifisitas utk Ag relatively high incidence • Studi panel & adsorption sangat penting utk menilai apakah tdp alloantibodi • Teknik utk manajemen psn dg auto- Ab:autoadsorption serum pasien utk menghilangkan aktivitas auto-Ab • Tes kompatibilitas kmd dilakukan dg serum tsb di atas Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Dinkes Propinsi Sumsel .

• If one isolated positive result is positive.Dinkes Propinsi Sumsel . lakukan DAT thd eritrosit donor • S el donor dg DAT (+) akan inkompatibel thd semua resipien yg diuji pd fase antiglobulin krn sel telah terlapisi oleh Ig dan/atau komplemen Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Juli 2011 117 .

Ab terhadap bhn pengawet dlm reagensia albumin.Juli 2011 118 (caprylate) .Rouleaux positif kuat.Penyakit Multiple Myeloma dan Macroglobulinemia: rouleaux .Jarang terjadi serum pasien bereaksi dg albumin . S aline replacement technique c. mungkin tampak spt aglutinasi.a. Tx. S aline replacement technique b. Ketidakseimbangan rasio albumin/globulin (A/G ratio) . menyebabkan hasil positif palsu. menghasilkan hasil positif palsu . Adanya HMW dextran atau plasma expander lain.Terjadi jika pasien Pertemuanmemp Sosialisasi Ab thd Darah Pelayanan stabilizing substance . Paling kuat setelah inkubasi 37C ttp tdk berlangsung lama setelah pencucian sebelum tes AHG -Tx.Dinkes Propinsi Sumsel .Rouleaux akan mempengaruhi semua hasil tes termasuk AC .

Juli 2011 119 .• Glassware kotor • Kontaminasi bakteri dlm sampel • Kontaminan kimiawi atau yg lain dalam salin • Jendalan fibrin • Menghasilkan hasil positif palsu Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Dinkes Propinsi Sumsel .

Juli 2011 120 .Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Dinkes Propinsi Sumsel .

dalam Pelayanan Darah . Darah sudah sama : – Artinya ada Irregular Antibody pada S erum Os – Ganti darah donor. Minor dan AC = negatif • Darah pas ien kompatibel dengan darah donor • Darah boleh dikeluarkan 2.Evaluasi hasil uji cocok serasi 1. Cros smatch Mayor = pos itif. AC = negatif – Periksa sekali lagi Golongan darah Os apakah sudah sama dengan donor. Minor = negatif. Cros smatch Mayor.hal Dinkes ini sampel Propinsi Sumsel .Juli 2011 121 . apabila gol. lakukan cros smatch lagi sampai didapat has il cros s negatif pada mayor dan minor – Apabila tidak ditemukan has il cros smatch yang kompatibel meskipun darah donor telah diganti maka harus dilakukan S creening dan Identifikas Antibody pada S erum Pertemuan Os Sosialisasi .

Juli tidak boleh dikeluarkan. lakukan cros smatch lagi 4. lakukan 122 . has il pos itif pada cros smatch Minor dan AC berasal dari autoantibody – Apabila derajad pos itif pada Minor sama atau lebih kecil dibandingkan derajad pos itif pada AC /DCT.Evaluasi hasil uji cocok serasi 3. AC = Pos itif – Lakukan Direct Coombs Tes t pada OS – Apabila DCT = pos itif.Dinkes / DCT. darah boleh dikeluarkan – Apabila derajad pos itif pada Minor lebih besar dibandingkan derajad Pertemuan pos Sosialisasi itif Darah Pelayanan pada ACPropinsi . – Solus i : Ganti dengan darah donor yang lain. Cros smatch Mayor = negatif. Minor = pos itif. Minor = pos itif. AC = Negatif – Artinya ada Irregular Antibody pada Serum / Plasma Donor. Cros smatch Mayor = negatif. 2011 Ganti darah donor. darah Sumsel .

Juli 2011 123 . • Sedangkan pos itif pada Mayor. AC = pos itif : • Periksa ulang golongan darah Os maupun donor. artinya pos itif tersebut berasal dari autoantibody. Darah • Lakukan DCT pada Os . apabila derajat pos itif Minor sama atau lebih rendah dari DCT. maka pos itif pada Minor dapat diabaikan. Mayor. pas tikan tidak ada kesalahan gol. ganti dengan darah donor baru sampai ditemukan hasil Mayor negatif Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Dinkes Propinsi Sumsel . baik dengan cell grouping maupun back typing. Minor. apabila pos itif.Evaluasi hasil uji cocok serasi 5. bandingkan derajat pos itif DCT dg Minor. disebabkan adanya Irregular Anti Body pada S erum Os .

KANTONG DARAH YG YANG AUTO CONTROL POSITIF PISAHKAN DAN MEMPENG TERHADAP KANTONG DARAH TERSEBUT ARUHI TELUSURI ULANG DARI AWAL. Interpretasi dan rekomendasi hasil uji silang AUTO KESIMPUL MAYOR MINOR TINDAK LANJUT CONTROL AN NEGATIF NEGATIF NEGATIF COCOK TRANSFUSI DAPAT DITERUSKAN KESALAH CEK PROSEDUR PEMERIKSAAN SUDAH AN BENAR? PROSEDU CEK KONDISI GEL MASIH BAGUS? R ATAU BILA TIDAK ADA KESALAHAN PROSEDUR DAN ADA GEL BAIK. BILA KANTONG DARAH TEKNIS BARU HASILNYA COCOK.Juli 2011 124 . TES CROSS MATCH ULANG DENGAN NEGATIF NEGATIF POSITIF FAKTOR KANTONG DARAH LAIN.Dinkes Propinsi Sumsel . HASIL? Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .

Dinkes Propinsi Sumsel . . HASIL DCT POSITIF : REAKSI POSITIF UJI SILANG TERJADI KARENA ADANYA AUTO ANTIBODI DI DARAH PASEN. DLL). KEMUNGKIN . BILA DERAJAT POSITIF PADA MINOR LEBIH BESAR DARIPADA DERAJAT POSITIF PADA DCT : TRANSFUSI TIDAK DAPAT DIBERIKAN. DARAH PADA YANG DIBERIKAN SEBAIKNYA PRC DAN TIDAK PASEN. PERLU DILAKUKAN PENCUCIAN ERITROSIT ( WRC). LAKUKAN DCT (DIRECT COMB TEST) PADA PASIEN. CROSS MATCH TIDAK PERLU DILANJUTKAN TERHADAP KANTONG DARAH LAINNYA. . BILA DERAJAT POSITIF PADA MINOR SAMA ATAU AN ADANYA LEBIH KECIL DARIPADA DERAJAT POSITIF PADA DCT PENYAKIT : TRANSFUSI DAPAT DIBERIKAN BILA MEMANG ANEMIA NEGATIF POSITIF POSITIF SANGAT PERLU DILAKUKAN TRANSFUSI (ANEMIA AUTO IMUN BERAT. Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah . DENGAN CATATAN TRANSFUSI HARUS HEMOLITIK DILAKUKAN DENGAN OBSERVASI KETAT. . AUTO KESIMPULA MAYOR MINOR TINDAK LANJUT CONTROL N .Juli 2011 125 .

. . 2011 126 . PD SERUM . PERIKSA ULANG KEMBALI GOLONGAN DARAH PASEN DAN DONOR DENGAN APAKAH GOLONGAN DARAH SAMA. .Dinkes Propinsi Sumsel . TRANSFUSI PLASMA DAPAT DILAKUKAN DENGAN CATATAN DILAKUKAN DONOR. BILA HASIL UJI SILANG TETAP SAMA DAN BELUM NEGATIF POSITIF NEGATIF ATAU DITEMUKAN DARAH YANG COCOK. AUTO KESIMPULA MAYOR MINOR TINDAK LANJUT CONTROL N . APABILA GOLONGAN DARAH SAMA DAN DCT DONOR NEGATIF ARTINYA TERDAPAT IREGULER ANTIBODI PADA SERUM PASIEN.Juli COCOK. LAKUKAN CROSS MATCH LAGI TERHADAP TIDAK KANTONG DARAH LAIN SAMPAI DIDAPAT HASIL POSITIF NEGATIF NEGATIF COCOK CROSSMATCH NEGATIF. LAKUKAN CROSS MATCH TERHADAP KANTONG IREGULER DARAH LAINNYA SAMPAI DITEMUKAN YANG ANTIBODI COCOK. BILA TIDAK DITEMUKAN JUGA YANG COCOK MAKA HARUS DILAKUKAN SKRINING DAN IDENTIFIKASI ANTIBODI TERHADAP SERUM PASEN. . OBSERVASI KETAT DAN TRANSFUSI DARAH PRC. . SEMENTARA UNTUK PASEN BELUM DAPAT DILAKUKAN TRANSFUSI SAMPAI DITEMUKAN Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah YANG .

POSITIF PADA MAYOR DAPAT POSITIF POSITIF POSITIF GOLONGA N DARAH? DISEBABKAN OLEH IREGULER ANTIBODI ATAU PADA SERUM PASEN.BILA MEMUNGKINKAN DAPAT TELUSURI SEPERTI DILANJUTKAN DENGAN PEMERIKSAAN DI ATAS SKRINING DAN IDENTIFIKASI ANTIBODI.POSITIF PADA MINOR MUNGKIN BERASAL PEMERIK SAAN DARI AUTOANTIBODI PASEN. .PERIKSA ULANG GOLONGAN DARAH ADA KESALAH PASEN DAN DONOR.Juli 2011 127 . Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah . . AUTO KESIMPU MAYOR MINOR TINDAK LANJUT CONTROL LAN TIDAK PENANGANAN SAMA SEPERTI KEADAAN DI POSITIF POSITIF NEGATIF COCOK ATAS.Dinkes Propinsi Sumsel . PASTIKAN TIDAK ADA KESALAHAN PEMERIKSAAN. . CARI KEMUNGKINNAN GOLONGAN DARAH O TIPE BOMBAY. AN . PADA KASUS INI KHUSUS UNTUK GOLONGAN TIDAK DARAH “O” LAKUKAN TES GOLONGAN DARAH POSITIF POS / NEG NEGATIF COCOK ULANG BACK TYPING.

Juli 2011 128 .Terima Kasih Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah .Dinkes Propinsi Sumsel .

Neg Neg Rh – Du neg Pertemuan Sosialisasi Pelayanan Darah . IgM) 22%) Pos Neg Rh + Metode tabung : (D+)  Suspensi erit 5%.Dinkes Propinsi Sumsel .Juli 2011 129 .Pemeriksaan Goldar Rhesus Bahan (metode Slide) : Anti D BA 22% Hasil  Tes serum anti-D IgM IgM  BA 22% (kontrol reagen) Pos Neg Rh +  Sampel darah (D+)  Cara : Neg I Tab Neg II Tab Rh – (D-) Hasil  Buat susp erit 40% (Anti D (BA  Cara seperti tabel.harus dilanjutkan dengan pemeriksaan Du. Neg Neg Rh – (D-) Tabung I Tabun Hasil g II Semua sampel dengan hasil Pos Neg Rh – Du pos Rh.