You are on page 1of 38

REFERAT

KEJANG DEMAM

Pembimbing:

Dr.Yusuf T Assa, Sp.A

PENDAHULUAN

Kejang demam: paling lazim pada masa anak. 2

Kejang demam jarang terjadi pada epilepsi. 2

Kejang demam → infeksi akut serius → sepsis /
meningitis bakteria → periksa penyebab demam. 2

Kejang demam jarang umur < 9 bulan dan > 5 tahun. 2

Puncak mulainya:14-18 bulan → insiden 3-4% anak. 2

1,5 juta kejadian kejang demam tiap tahun di USA →
usia 6-36 bulan, puncak usia 18 bulan.3

Eropa Barat dan Amerika 2-4% kejadian Kejang Demam per tahun→ di India 5-10% dan di Jepang 8.3 80% kasus KDS dan 20% kasus KDK.8%. 3 .

5 . 4 Kejang demam: kejang anak 6 bulan.5 tahun → berhubungan dengan demam → (-) infeksi /kelainan intrakranium. DEFINISI Kejang demam: bangkitan kejang → ↑ suhu tubuh (suhu rektal 38C) → proses ekstrakranium.

pernah mengalami kejang tanpa demam→kejang demam kembali → tidak termasuk 6. 6.6.7 .7 Anak berumur < 6 bulan / > 5 tahun → kejang didahului demam → infeksi SSP. atau epilepsi.7 Kejang disertai demam bayi <1 bulan → tidak termasuk .

6.7 .7. didahului kejang parsial tidak berulang setelah 24 berulang setelah 24 jam. jam. atau kejang umum fokal.8 5. tanpa gerakan sisi.6. 5. KLASIFIKASI Kejang Demam Sederhana Kejang Demam Kompleks < 15 menit > 15 menit berhenti sendiri Kejang fokal/ parsial satu tonik / klonik.

Kejang ≤ 15 menit 3. Kejang timbul 6 jam pertama setelah demam 5. Umur ketika kejang 6 bl-4 th 2. Kejang bersifat umum 4. Pemeriksaan syaraf sebelum dan sesudah kejang normal . Kriteria LIVINGSTONE diagnosa KDS 1.

6. EEG →sedikitnya 1 minggu sesudah suhu normal →(-) kelainan. Kejang demam yg tidak memenuhi salah satu atau lebih dari ketujuh kriteria →epilepsi yang diprovokasi demam . Frekwensi bangkutan kejang dalam 1 th tidak melebihi 4 kali. 7.

JENIS KEJANG 2.9 PARSIAL GENERALISATA Parsial Sederhana Tonik-Klonik Absence Parsial Kompleks Mioklonik Atonik Klonik Tonik Spasme Infantil .

(-) awitan fokal. (-) aura.9 .PARSIAl: kesadaran utuh. bilateral dan simetrik.9 GENERALISATA: hilangnya kesadaran. dapat menyebar kebagian lain. fokus disatu bagian.

dan kepala dan gerakan mata wajah menyeringai). dan 10-22 detik tungkai Tic ( pengangkatan bahu. Kejang versif : pemutaran mata berkedip-kedip. merayap. Automatisme (-) . tertusuk-tusuk melibatkan wajah. Parsial Sederhana Kesadaran utuh Sensorik: seperti ada yang Motorik: klonik/tonik. leher.

. tidak baju. singkat/ penghentian mengunyah berulang-ulang mendadak aktivitas Meluas menjadi kejang generalisata. ludah epigastrium berlebihan. menarik-narik Kesadaran terganggu. hilang: tatapan kosong bertepuk tangan. meraba-raba benda. Parsial Kompleks Automatic behavior: aura (+/-): rasa tidak enak menggigit bibir.

lenyapnya postur tubuh (drop attack) .Tonik ↑ mendadak tonus otot Klonik ( kaku. tungkai Mata dan kepala berputar kesatu sisi Henti nafas Atonik hilangnya mendadak tonus otot. kontraksi) wajah dan gerakan menyentak tubuh bagian atas→fleksi →tunggal/ multipel → di lengan dan ekstensi tungkai lengan.

.

.

Kejang tonik klonik (grand mal) Hilangnya kesadaran bersuara menangis. seluruh otot tubuh kontraksi tonik Cepat sianosis . mata berputar ke belakang. apnea Gerakan tonik→ klonik .

lidah) • 3-5 menit→ tidak sadar 30 menit →sadar tampak bingung. agak stupor/bengong→ pascaiktus → > 30 menit → henti jantung dan napas . • Lidah tergigit. (spasme rahang.• Fase klonik →gerakan menyentak.

atau berkedip cepat 1 atau 2 kali kejang sebulan/ atau beberapa kali sehari Aura (-) Jarang > 30 detik. menatap kosong.Absence (petit mal) Kesadaran (-) singkat: tiba-tiba menghentikan pembicaraan. .

kontraksi • umur 4 dan 8 bulan otot sebentar. tungkai . kontraksi otot • Spasme fleksor: fleksi simetris. kehilangan tonus mendadak leher. ekstensi badan . lengan tubuh dan menelungkup ke dan kaki depan • spasme ekstensor: luka pada wajah dan mulut.Kejang mioklonik Spasme infantil kejang berulang.

7.10 1) Instabilitas membran sel saraf 2) Neuron hipersensitif → ambang melepaskan muatan ↓ → terpicu → melepaskan muatan ↑ 3) Kelainan polarisasi )polarisasi ↑ ↑asetilkolin . ↓ GABA ) hipopolarisasi )Repolarisasi . MEKANISME KEJANG 2.9.

4) Ketidakseimbangan ion → mengubah keseimbangan asam basa/elektrolit → mengganggu homeostasis kimiawi neuron → kelainan depolarisasi neuron .

.

.

PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan Laboratorium Pungsi Lumbal Elektroensefalografi Foto X-ray kepala CT-scan MRI .

kreatinin dan gula darah. . urea.6. toksikologi. elektrolit.7 tidak rutin evaluasi sumber infeksi penyebab demam→ gastroenteritis dehidrasi disertai demam Pemeriksaan: darah perifer. Laboratorium 5.

7 1) <12 bulan → sangat dianjurkan 2) 12-18 bulan→ dianjurkan 3) Meningitis 4) 6-12 bulan → status imunisasi Haemophillus influenzae type B/ Streptococcus pneumoniae (-) / tidak dapat dipastikan 5) Kejang demam → antibiotik → mengaburkan meningitis . Pungsi Lumbal 1.5.

Elektroensefalografi KDK > 6 tahun X-ray kepala.VI Paresis N. CT-scan.8 Kelainan neurologik fokal menetap (hemiparesis).7 .5. MRI kejang demam fokal.VI Papiledema.7. paresis N.

Pengobatan Fase Akut Jalan nafas tetap terbuka Pakaian dilonggarkan Miring→aspirasi Pengisapan lendir Oksigen→ intubasi Kebutuhan cairan. kalori dan elektrolit Kompres air hangat .

Penatalaksanaan Saat Kejang .

> 38.3-4 kali sehari Antikonvulsan 1) diazepam oral 0.5 mg/kg setiap 8 jam . 4 kali sehari 2) Ibuprofen 5-10 mg/kg/kali .3 mg/kg setiap 8 jam saat demam→↓ kejang 30%-60% kasus 2) diazepam rektal 0.5 0C. . Pemberian Obat saat Demam Antipiretik 1) parasetamol 10 –15 mg/kg/kali.

) kejang demam < 12 bulan dan kejang demam > 4 kali per tahun .) Kejang > 15 menit 2.) Kelainan neurologis sebelum/sesudah kejang 3.) Kejang fokal 4.) Kejang berulang 2 kali atau lebih 24 jam 5. Pemberian Obat Rumat 1.

1-2 dosis 1 tahun bebas kejang→dihentikan bertahap selama 1-2 bulan . 2-3 dosis fenobarbital 3-4 mg/kg per hari.asam valproat 15-40 mg/kg/hari.

Kemungkinan Berulangnya Kejang Demam 1) umur < 18 bulan 2) durasi demam <1 jam sebelum onset kejang 3) kerabat tingkat pertama dengan kejang demam 4) Suhu <104 ° F (40 ° C). 8 .

) Kelainan neurologis atau perkembangan yang jelas sebelum kejang demam pertama 2.) Riwayat epilepsi pada orang tua atau saudara kandung.5.Faktor risiko terjadinya epilepsi 1.8 .) Kejang demam kompleks 3.

7: 143-151 . 2002: 59-62 5.A. No. Berman P. Edisi 15. Clinical Guideline on Management of Febrile Convulsion. No 2.Sari Pediatri. Dalam: Behrman R. Vol 4.2. Haslam RH. cetakan I th 2000: 2053-2060 3. Ho MHK. Clinical Practice Guideline Febrile Seizure: Guideline for the Neurodiagnostik Evaluation of the Child With a Simple Febrile Seizure. Vol 3.M. Arvin A. Kejang-Kejang pada Masa Anak.M. Rosman NP. Jakarta: EGC. Kliegman R. Media Medika Indonesiana. Deliana M. Baumann R. Gunawan P. Saharso D. Tatalaksana Kejang Demam pada Anak. Faktor Risiko Kejang Demam Berulang pada Anak. DAFTAR PUSTAKA 1. 2012: 75-79 4. No 2. Vol 127.J. HK J Pediatr (new series) 2002. Duffner P.K. 2011: 389-394 2. Vol 46.E. Wong V.I. et all. Nelson Ilmu Kesehatan Anak. Pediatrics. et all.H.

E. Vol 85. Graves R. and Prognosis. Febrile Seizure: Update On Diagnosis and Management. No 9. Jakarta: EGC. Vol 2. American Family Physician. Available from: http://repository. Evaluation. Rev Assoc Med Bras 2010. Price S. 2012: 149-153 9.M. Arief R. Febrile Seizure: Risks. Wilson L. (Cite 2016 Januari 4).M. 2015. Tingle L.pdf .56(4): 489-92 7.id/bitstream/123456789/52848/3/Chapter%20II.F. Dalam: Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.Rani S. Oehler K.C.6.usu. Edisi 6.F. Cetakan 2012: 1157-1161 10.C. 2015: 658-661 8. No 2. Penatalaksanaan Kejang Demam. Siqueira L. Kejang Demam. Gangguan Kejang.A.CDK-232/Vol 42.ac. Lombardo M.

TRIMA KASIH ATAS PRHATIANNYA .