You are on page 1of 69

REFRAKSI

Dyah Nova R.A.
20110310142

IDENTITAS PASIEN
Nama : An. A
Usia : 10 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Bantul
Pekerjaan : Pelajar

ANAMNESIS
• Keluhan Utama :
Pandangan mata kanan dan kiri kabur saat
melihat dari kejauhan
• Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang dg keluhan pandangan dikedua
mata kabur dan sulit melihat dari kejauhan.
Keluhan tsb ± 1 tahun yll. Awalnya pasien
mengeluh pusing saat membaca dan kerap kali
memicingkan mata saat membaca jauh. Menurut
ibu pasien, disekolah pasien tidak bisa
menggambar garis lurus. Beberapa bulan yll
pasien dibawa ke poli mata dan diberikan
kacamata. Namun pasien jarang

• Riwayat Penyakit Dahulu : keluhan serupa disangkal • Riwayat Penyakit Keluarga : Kakak pasien mengalami keluhan yg sama dan menggunakan kacamata • Riwayat Personal-sosial : Di rumah pasien sering menonton TV dalam jarak dekat. membaca dg pencahyaan yg redup dan sering bermain komputer serta tablet dalam waktu lama .

50 90° Axis 95° bebas ke segala arah Gerakan bola mata bebas ke segala arah Dalam batas normal Palpebra Dalam batas normal Hiperemi (-) Konjungtiva bulbi Hiperemi (-) Hiperemi (-) Kontungtiva tarsal Hiperemi (-) Jernih Kornea Jernih Dalam COA Dalam Bulat.50 Sferis -2. RCL (+). isokor. RCTL (+) (+).00 -3. isokor. RCTL (+) Jernih Lensa Jernih . RCL Iris/Pupil Bulat.50 Silinder -2.• Status oftalmologis OD Pemeriksaan OS 5/60 Visus 5/60 -3.

• Diagnosis Astigmatisma miopikus kompositus ODS + asthenopia • Penatalaksanaan : a. Diberikan kacamata koreksi yg sesuai b. Edukasi : .Edukasi ibu untuk memperhatikan pola kebiasaan anaknya dalam melakukan aktivitas sehari-hari .Diberikan edukasi kepada pasien agar rutin memakai kacamata .

• Prognosis Quo ad vital : bonam Quo ad functionam : bonam Quo ad sanationam : bonam .

TINJAUAN PUSTAKA REFRAKSI MATA .

ANATOMI MATA .

Segmen anterior. choroid. retina. kornea. Otot extraocular 6. terdiri dari konjungtiva. dan sklera 5. Iris dan lensa 4. yg meliputi kelopak mata dan lacrimal apparatus 2. Adnexa. dan ruang anterior 3. Orbit .• Anatomi mata dibagi menjadi 6 bagian anatomis : 1. Segmen posterior yg terdiri dari humor vitreous.

sklera bagian yg membentuk bagian putih mata. • Lapisan paling dalam dibawah koroid adalah retina. fotoreseptor yg mengubah energi cahaya menjadi impuls saraf. lapisan terdiri atas kornea transparan tempat lewatnya berkas cahaya ke dalam mata. Retina mengandung sel batang dan sel kerucut. • Lapisan tengah dibawah sklera adalah koroid yg mengandung pembuluh-pembuluh darah untuk memberi nutrisi retina. . Di anterior (ke arah depan).• Sebagian besar mata dilapisi oleh jaringan ikat yg protektif dan kuat di sebelah luar. yg terdiri lapisan berpigmen disebelah luar dan lapisan saraf di bagian dalam.

• Sistem refraksi menghasilkan bayangan kecil. artinya mampu membelokkan cahaya masuk ke mata sehingga terbentuk bayangan obyek di retina. dan terbalik di retina (diterima oleh sel batang dan kerucut)  saraf optikus (N.• Mata  dapat dianggap sebagai kamera Alat refraksi (alat pembias). II)  korteks serebri (pusat penglihatan)  tampak sebagai bayangan tegak .

selain itu humor aqueous menyediakan nutrisi untuk endothelium kornea. • Ukuran pupil secara aktif dikendalikan oleh otot radial dan sirkular untuk mempertahankan level cahaya relatif yg masuk ke mata.• Cahaya masuk ke mata dari media eksternal seperti udara. • Iris yg berada antara lensa dan humor aqueous merupakan cincin berwarna dari serabut otot. membantu untuk mempertahankan bentuk konveks dari kornea dimana kornea ini penting untuk konvergensi cahaya di lensa. . Refraksi cahaya kebanyakan terjadi di kornea dimana terdapat pembentukan bayangan yg tepat. air. terlalu sedikit  kesulitan melihat • Lensa berada dibelakang iris berbentuk lempeng konveks yg memfokuskan cahaya melewati humor vitreus untuk menuju retina. melewati kornea dan masuk ke dalam humor aqueous (massa jernih yg menghubungkan kornea dg lensa mata. Terlalu banyak cahaya  merusak retina.

42).33). Mata normal  fokus bayangan dari obyek jauh tergambar tepat di retina dimana mata dalam keadaan istirahat (tanpa akomodasi) . sehingga cahaya lebih difokuskan lagi. indeks bias sama dengan kornea sehingga cahaya dari kornea diteruskan saja.  Korpus vitreus (n=1.• Media refraksi :  Kornea (n=1.  Humor aquous (n=1.33). permukaan cembung sistem lensa sehingga mengumpulkan cahaya.33).  Lensa mata (n=1. indeks bias lebih kecil daripada lensa mata sehingga cahaya agak disebarkan lagi.

.

siliaris berkontraksi. maka iris dan korpus siliaris digerakkan ke belakang atas. maka iris dan korpus siliaris digerakkan ke depan kebawah. bagian perifer lensa jg tegang sedangkan bagian tengahnya didorong ke sentral dan menjadi . AKOMODASI • Adalah kesanggupan mata untuk memperbesar daya pembiasannya dengan cara menambah kecembungan lensa pada saat melihat lebih dekat. Teori Tschernig : bila m. Teori Helmholtz : jika m. dan lensa menjadi lebih cembung. yang terjadi akibat kontraksi m. sehingga zonula Zinnii menjadi kendor.siliaris kontraksi. siliaris. sehingga zonula Zinnii menjadi tegang. 2. • Teori akomodasi : 1.

2. Lensa sferis . Lensa Plano (datar)  tidak mempunyai efek bias. Jenis Lensa 1. . .Sferis positif (convex/cembung) bagian tengahnya lebih tebal dari bagian pinggir. Efek mendivergensikan (menyebarkan) cahaya. titik lengkung sama.Sferis negatif (concave/cekung) bagian tengahnya lebih tipis dari bagian pinggir. Efek mengkonvergensikan (mengumpulkan) cahaya.

. Prisma  tebal pada satu sisi saja. Efeknya membiaskan cahaya ke arah sisi yang paling tebal.3. Lensa silindris 4.

.

dan cahaya jauh tak terhingga. lintasan visual. • Biasanya digunakan kartu Snellen atau E chart . • Mata bisa melihat sesuatu pada jarak tertentu : jari bisa dilihat jelas hingga jarak 60m. VISUS • Adalah perbandingan jarak seseorang terhadap huruf Optotip Snellen yang masih bisa ia lihat jelas dg jarak seharusnya yg bisa dilihat mata normal. sel- sel reseptor cahaya di retina. dan pusat penglihatan serta pusat kesadaran. • Baik buruknya visus ditentukan oleh alat optik. lambaian tangan hingga 300m.

.

Misal bila pasien dapat menghitung jari pada jarak 3 m  visus 3/60 • Bila pasien hanya dapat melihat lambaian tangan pada jaran 1 m  visus 1/300 • Bila hanya dapat melihat cahaya  visus 1// . sedangkan orang normal dapat melihatnya pada jarak 30 m.• Bila visus 6/6  dapat melihat pada jarak 6m. • Bila visus 6/30  pasien dapat melihat huruf pada Optotip Snellen pada jarak 6 m. • Bila tidak mengenali huruf terbesar maka lakukan hitung jari. dan orang normal dapat melihat padajarak 6m.

Hipermetrop . Antara lain : .Miopia . tidak dibiaskan tepat diretina.Astigmat . • Ametropia : semua sinar sejajar yang datang dari jarak tak terhingga dan jatuh pada mata dalam keadaan istirahat.• Emetrop : semua sinar sejajar yang datang dari jarak tak terhingga dan jatuh pada mata dalam keadaan istirahat akan dibiaskan tepat di retina.

Hipermetrop (Hiperopia. rabun dekat) • Sinar sejajar yang datang dari jarak tak terhingga oleh mata dalam keadaan istirahat (tanpa akomodasi) dibiaskan dibelakang retina.Hipermetrop Refraktif  akibat pembiasan lemah . • Hipermetrop dapat disebabkan oleh : .Hipermetrop Aksial  akibat sumbu mata terlalu pendek .

.

• Pasien dg hipermetrop sering akomodasi. Akomodasi yg terus menerus menyebabkan mata cepat lelah. dll  Astenopia akomodatif • Kadang-kadang terdapat pada anak balita  berkurang secara berangsur- angsur • Hipermetrop yang dibiarkan  strabismus konvergen (esotropia) . sakit kepala.

• Pada orang tua hipermetrop ditambah dg presbiop sangat dibutuhkan koreksi kacamata karena sudah berkurangnya daya akomodasi untuk melihat dekat. .Penanganan hipermetrop • Pasien dg hipermetrop diberikan kacamata lensa positif terkuat yang memberikan tajam penglihatan maksimal.

absolut yaitu hipermetrop yag tidak dapat diatasi dengan akomodasi 2.fakultatif yaitu hipermetrop yg dapat diatasi dengan akomodasi . Hipermetrop laten. Macam-macam Hipermetrop 1. Hipermetrop manifes. yaitu hipermetrop yg secara fisiologis dapat diatasi oleh tonus siliaris 3. terdiri dari : . Hipermetrop total yaitu hipermetrop manifes ditambah hipermetrop laten .

bola mata memanjang . keratoglobus .indeks bias yg tidak normal: kadar gula tinggi dalam cairan mata dan kadar protein dalam cairan mata oleh karena peradangan . Miopia (Rabun Jauh) • Sinar sejajar yang datang dari jauh oleh mata dalam keadaan istirahat dibiaskan di depan retina • Etiologi : . kelainan kornea : keratokonus.

.

Dioptri > 6 .Miopia fisiologis.Miopia progresif  miopia yg bertambah terus mencapai puncaknya pada masa remaja. sering disebut miopia simpleks atau miopia anak sekolah B. Tipe-tipe miopia A.Miopia maligna  miopia progresif yg lebih ekstrim . Miopia patologis : .

badan kaca mencair .badan kaca keruh/vitreus floaters .atropi koroid  myopia cresent .• Tanda klinis (terutama pada miopia tinggi) .bilik mata depan dalam .bola mata mungkin lebih menonjol .fundus tigroid di polus posterior .pupil yg relatif lebih lebar .

Penanganan miopia • Dengan pemberian lensa sferis (-)/cekung/konkaf sehingga cahaya sebelum memasuki mata akan disebarkan (divergensi) dulu sebelum mencapai kornea. • Pada miopia ringan. Sebab pemberian kacamata akan . sehingga fokus yg tadinya dibadan kaca akan digeser ke belakang yaitu tepat di retina. pemberian koreksi biasanya bisa penuh sedangkan pada miopia tinggi diberikan tidak secara penuh • Perlu diperhatikan apakah pasien masih cukup muda (cukup akomodasi) atau sudah tua.

• Koreksi miopia dg memberikan resep kacamata negatif terendah yang masih jelas. namun hal tsb perlu dibicarakan dg pasien terlebih dahulu • Pada miop tinggi perlu dilakukan evaluasi fundus dan fungsi penglihatan serta ada tidaknya glaukoma secara berkala. Misal miop S-5 diberikan kacamata S-5 untuk melihat jauh. .• Pasien dg miopia tinggi perlu dipikirkan kacamata bacanya. sedang untuk membaca dekat bisa disisakan miop minus 3 sehingga untuk membaca dipakai S-2.

Penyebab utamanya adalah karena kurvatura kornea yg tidak benar-benar sferis. tetapi agak lonjong menyerupai sendok. fokus tidak berbentuk titik. • Pada astigmatisma reguler maka ke2 meridian utama tadi saling tegak lurus. tetapi berbentuk garis. . Sehingga pada astigmatisma. Dg demikian ada 2 meridian utama yaitu meridian dg kekuatan refraksi terbesar dan meridian dg kekuatan refraksi terkecil. Astigmatisma • Adalah status refraksi mata yg berbeda pada berbagai meridian.

.

sehingga ada berbagai macam astigmatisma : 1. sehingga ke2 fokus berada di depan retina. 2. Astigmat miop simpleks : bila meridian utama yg satu emetrop. tetapi dg jarak yg berbeda. satunya di depan retina. Astigmat miop kompositus : bila ke2 meridian utama adalah miop tetapi dg derajat yg berbeda. sehingga fokusnya satu di retina.• Astigmatisma bisa berdiri sendiri bisa bersama dg miop atau hipermetrop. . yg lain miop.

yg satu di belakang retina. tetapi dg jarak yg berbeda. sehingga satu fokus di depan retina dan fokus lain di belakang retina. sehingga fokusnya di retina. 4. sehingga ke2 fokus berada dibelakang retina. Astigmat hipermetrop simpleks : bila meridian utama yg satu emetrop dan yg lain hipermetrop. . 5. Astigmat mikstus : bila meridian utama yg satu miop yg lain hipermetrop. Astigmat hipermetrop kompositus : bila ke2 meridian utama adalah hipermetrop. tetapi dg derajat yg berbeda.3.

operasi (terbanyak) .kelainan lensa  katarak insipien.faktor genetik dan lingkungan .kelainan kornea  sikatriks kornea. imatur .• Astigmat ireguler : ada perbedaan yg tidak teratur pada setiap meridian. • Etiologi : .

astigmat derajat rendah menyebabkan gejala astenopia.• Gejala Astigmat : . . . . lelah mata karena usaha akomodasi.astigmat yg agak tinggi menyebabkan mata bekerja keras sehingga menimbulkan sakit kepala dan sakit pada mata setelah penggunaan mata yg agak lama karena usaha akomodasi yg lebih besar.kabur saat melihat jauh maupun dekat dan huruf-huruf tampak membayang.

untuk memajukan ke2 fokus ke retina. 4. 5. Astigmat miop kompositus dg gabungan lensa sferis (-) dan silinder (-) atau sferis (-) dg silinder (+) dg ukuran silinder lebih kecil untuk memundurkan ke2 fokus ke retina. Astigmat hipermetrip simpleks dg lensa silinder (+) untuk memajukan satu fokus ke retina. Astigmat hipermetrop kompositus dg gabungan lensa sferis (+) dan silinder (+) atau sferis (+) dg silinder (-) dg ukuran silinder lebih kecil. pada ke2nya ukuran . Astigmat mikstus dg gabungan lensa sferis (+) atau (-) dg silinder (+). Penanganan astigmatisma 1. 2. 3. Astigmat miop simpleks dg lensa silinder (-) untuk memundurkan satu fokus ke retina.

sebelah kiri ke2 bingkai menunjukkan angka 0 derajat . aksis silinder ditentukan pada derajat busur yg tertulis pada bingkai kaca uji coba. Untuk lensa silinder terdapat sumbu (aksis) berdasarkan TABO (Technizcher Ausschuss fur Brillen Optik). dilihat dari wajah pasien : a. Untuk koreksi astigmat ada hal yg perlu diperhatikan : 1. Garis horizontal pada ke2 bingkai : .sebelah kanan ke2 bingkai menunjukkan angka 180 derajat .

Irreguler yaitu bila ke2 meridian utama tidak terpisah 90 derajat dan bahkan fokusnya > 2 yg disebabkan oleh kurvatura kornea yg tidak teratur  tidak dapat dikoreksi kacamata silinder. Reguler yaitu bila ke2 meridian utama (terbesar dan terkecil) saling tegak lurus satu sama lain.sebelah atas menunjukkan angka 90 derajat .sebelah bawah menunjukkan angka 270 derajat 2. Secara garis besar ada 2 macam astigmat : a. Astigmat dikoreksi dg kaca disilinder. .b. b. Garis vertikal pada ke2 bingkai : .

00 aksis 90° .50 aksis 15° Contoh lain .00 aksis 90° . Contoh koreksi astigmat reguler : a.OD : S – 2.00 aksis 165° .OD : C – 1.00 C + 1.OS : S – 3.00 aksis 90° b.00 C – 1.00 aksis 90° . Astigmat miop kompositus .00 C + 2.OD : S – 2.OS : S – 3.00 C – 0.OS : C – 1. Astigmat miop simpleks : koreksi mata kanan dan kiri dg silinder (-) 1D aksis 90 ° .

50 aksis 75° e.00 aksis 0° (atau 180°) .OS : S + 1. Astigmat hipermetrop kompositus .00 C + 2.50 aksis 100° .OS : C + 0.OS : S + 3.00 C + 2.00 aksis 105° . Astigmat mikstus .00 C + 2.OD : C + 0.OD : S + 2.00 aksis 30° .c.75 aksis 80° d.00 C -2.00 C – 1.OS : S -1. Astigmat hipermetrop simpleks .OD : S – 2.00 C + 3.00 aksis 0° (atau 180°) Contoh lain .OD : S + 2.00 aksis 150° # pada koreksi astigmat kadang-kadang pada koreksi tertentu sferis dan silindernya diubah tandanya demikian pula dg merubah aksisnya sebesar 90° dari aksis semula dg cara tertentu .

TRANSPOSISI • Misal ada pasien mempunyai mata dg astigmast miop simpleks C -1 aksis 90 derajat .

tapi fokus yg tadinya di retina akan mundur ke belakang 1 D. Jadi koreksi yg sekarang adalah S -1 C + 1 aksis 180 derajat . • Tapi mungkin kita mengoreksi dg trial and error secara kebetulan mula-mula menggunakan S -1. sehingga fokus yg di depan retina akan mundur ke retina. fokus yg bergeser kebelakang ini harus dikoreksi dg C+1 aksis 180 derajat agar maju ke retina lagi.• Jika kita kebetulan mengoreksi dg C -1 aksis 90 derajat maka sudah selesai.

addisi S + 1 D b.mata cepat lelah dan berair • Pada presbiop diberikan lensa (+) yg ditambahkan untuk melihat dekat (membaca) a.5 D e. addisi S + 2.kabur sewaktu membaca dekat . addisi S + 3 D . Umur 40 tahun. Umur 50 tahun. Umur 60 tahun atau lebih. addisi S + 2 D d. Umur 45 tahun. PRESBIOPIA • Adalah berkurangnya daya akomodasi (kemampuan lensa mata untuk mencembung) • Keluhan : . addisi S + 1. Umur 55 tahun.5 D c.

.

5 dan mata lain S + 0. Misalnya satu mata S + 0. • Jika ke2 mata refraksinya yg satu hipermetrop dan yg lain miop disebut Antimetropia • Penyebab anisometropia bisa kongenital bisa akuisita.75 atau mata satu S – 5dan mata lain S – 8. misalnya akibat operasi kornea. . ANISOMETROPIA • Adalah status refraksi yg ditandai adanya perbedaan derajat kelainan refraksi pada kedua mata.

.Adanya perbedaan visus ke2 mata .• Akibat Anisometropia .Adanya aniseikonia yaitu adanya perbedaan besar bayangan antara k2 mata .Anisoforia yaitu adanya perbedaan derajat heteroforia pada berbagai lirikan posisi bola mata.

kelompok V  ke2 mata masih bisa dikoreksi dg baik tapi tidak enak .5 D – 3 D  kadang- kadang masih bisa bekerja sama tetapi kadang-kadang yg buruk mengalami supresi 3. 5. kelompok III dg beda > 3D  mata pasien yg lebih buruk akan mengalami supresi 4.5 D  ke2 mata pasien masih bisa bekerja sama 2.• Gejala Anisometropia 1. kelompok II dg beda antara 1. kelompok IV  ke2 mata masih bisa dikoreksi dg baik tapi pasien pada waktu tertentu menggunakan salah satu mata. kelompok I dg beda < 1.

Dg demikian Prnya pd titik tertentu di depan subyek tergantung dari derajat miopnya. orang miop 2 D PR-nya ½ meter dan seterusnya. Pd orang miop 1 D PR-nya adalah 1 meter. • Pd hipermetrop cahaya yg keluar dari mata bersifat divergen dan tidak bertemu dimanapun di depan . Punctum remotum (PR) dan punctum proximum (PP) • PR adalah titik terjauh dimana seseorang dapat melihat paling jelas tanpa akomodasi • Pd orang emetrop cahaya yg keluar dari mata adalah sejajar dan bertemu di tempat tak terhingga. Dg demikian PR di tempat jauh tak terhingga • Pd orang miop cahaya yg keluar dari mata adalah konvergen atau mengumpul dan bertemu di suatu titik di depan mata.

1.• PP adalah titik terdekat yg dapat dilihat dg jelas yaitu dg akomodasi maksimal sehingga PP ini ditentukan oleh umur dan status refraksi. Pada emetrop umur 25 tahun (akomodasi 10 D) maka PP adalah 100cm/10 = 10 cm 2. Pada miop 2 D umur 25 tahun (akomodasi 10 D) maka PP adalah 100cm/(10+2) = 8 cm 3. Pada hipermetrop 2 D umur 25 tahun (akomodasi 10 D) maka PP adlah 100cm/(10-2) = 12 cm .

• Pada orang yg tadinya emetrop. hal ini disebabkan oleh perbedaan jarak antara kacamata afakia dg retina yg 2 kali lipat dibanding jarak antara lensa asli dg retina. tapi koreksinya dg kacamata (disebut kacamata afakia) besarnya separuhnya yaitu 10 D. maka timbul hipermetrop 10 D setelah operasi • Kekuatan lensa mata yg asli (lensa kristalina) kira-kira 20 D. . AFAKIA • Adalah ketiadaan lensa mata. biasanya karena diambil (secara operatif karena katarak).

PEMERIKSAAN REFRAKSI • Pemeriksaan mata dilakukan dg memeriksa mata satu persatu • Cara : 1. anamnesa 2. px mata. periksa tajam penglihatan (visus) . apakah ada kelainan patologis lain 3.

.

Cara melakukan koreksi
kelainan refraksi
• Pada kecurigaan adanya ametropia ( visus lebih
buruk dari 6/6 setelah pemeriksaan visus)  uji
pinhole ( penutup mata yg ditengahnya ada lubang
kecil dg ukuran 1-2 mm.
• Pinhole dipasang pada bingkai uji coba di depan
mata yg diperiksa sedangkan mata yg lain ditutup.
Dengan adanya lubang kecil maka hanya berkas
cahaya aksial yg masuk ke retina tanpa refraksi
langsung menuju makula.
• Jika dg pinhole visus bertambah maka pada mata
tersebut ada faktor refraksi yg menyebabkan
penurunan visus

Selanjutnya pasien yg dicurigai adanya kelainan
refraksi dapat dilakukan dg cara –cara berikut :

1. Trial and error  cara ini mudah dilakukan jika
pasien hanya menderita miop atau hipermetrop
tanpa astigmat
2. Dengan celah Stenopik dan dial (jam)
astigmatisma  mudah pada astigmatisma
simpleks
3. Seperti no.2 ditambah metode fogging
(pengaburan)  untuk astigmatisma kompositus
atau mikstus
4. Dengan retinoskopi  untuk individu yg tidak
kooperatif, buta huruf atau anak kecil. Syaratnya
media refrakta harus jernih
5. Dengan refraktometer  dilakukan dg alat
elektronik. Hasil biasanya sedikit berdeda dg

Lensa prisma .25 – 10 D .lensa negatif 0.2-20 D .Lensa silinder 0.Lempeng pinhole .25-20 D . Lensa coba • Lensa coba dipakai untuk alat uji koreksi tajam penglihatan • Terdiri atas .lensa positif 0.

Bila visus kurang dan tak ada kelainan mata lainnya mungkin itu suatu astigmat . Perhalus dg menambah atau mengurangi lagi dg lensa (+) atau (-) 0. Cara coba-coba (trial and error) a.5 D sampai visus terbaik 5. perkiraan anomali refraksi dari hasil pengukuran visus menggunakan kartu uji Snellen pada jarak 6 m 2. Pasang gagang kacamata (trial frame) tutup satu mata 3. Pemeriksaan refraksi subyektif 1. Coba dg lensa positif atau negatif yg kira-kira sesuai dg kurangnya visus 4.

fokus dg sengaja dimajukan ke depan retina dg memasang lensa (+) misal + 4 D  pasien mengatakan kabur  kurangi sedikit-sedikit sampai menjadi tegas .2. Cara pengabutan (fogging) untuk mencegah akomodasi.

Retinoskop spot (sumber cahaya berbentuk spot atau bulat) . Retinoskop streak (sumber cahaya berbentk garis) 3. Pemeriksaan refraksi obyektif • Dg memakai alat-alat tertentu seperti : 1. retinoskop cermin (yg berlubang kecil ditengah) 2.

.

mata kanan dg mata kanan • Jarak periksa ½ m.• Cara : • Mengamati gerakan bayangan cahaya yg tampak dalam pupil yg terpantul dari retina • Pasien disuruh menatap jauh (untuk mengurangi akomodasi) • Mata kiri diperiksa dg mata kiri. dipakai sinar sejajar atau sedikit divergen .

lensa kontak 3. tambah lensa (-) sampai diam • Penanggulangan kelainan refraksi : 1. operasi . kacamata 2.• Bila sinar yg terpantul dari mata yg tampak di pupil bergerak searah dg arah retinoskop  lensa (+)  sampai tampak diam • Sebaliknya bila terbalik.

• Sidarta Ilyas. DAFTAR PUSTAKA • Sidarta Ilyas. Anatomi Mata dan Fisiologi Penglihatan. . Jakarta : Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Indonesia. 2009. Hartono. Yogyakarta : Bagian Imu Penyakit Mata Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada. 2007. 2006. • Suhardjo SU. Dasar Teknik Pemeriksaan dalam Ilmu Penyakit Mata edisi 2. Jakarta : Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Indonesia. Ilmu Penyakit Mata edisi 3.