You are on page 1of 25

KONDISI PADA SAAT

PENERBANGAN HAJI

OLEH :
DONA SAFRIANTI
1311211111
PERSIAPAN MENJELANG
KEBERANGKATAN

Dengan memperhatikan hasil pemeriksaan dan
pengobatan oleh dokter rumah sakit atau puskesmas,
calon haji dapat mengetahui apakah ia menderita
penyakit tertentu yang dapat menjadi masalah dalam
penerbangan. Penyakit-penyakit tersebut antara lain
tekanan darah tinggi (hipertensi), kencing manis
(diabetes melitus), penyakit jantung, batuk dan sesak
nafas (asma paru, bronkhitis, TBC atau sakit jantung,
penyakit liver, pembesaran kelenjar prostat, gigi
berluang atau gangren, penyakit remautik, lumpuk
akibat stroke, sakit maag (ulu hati, gastritis) ambeien
(wasir, hemorrhoid), penyakit tekanan bola mata
tinggi (glaukoma), hamil dan lain-lain. Pada derajat
ringan yang ringan, penderita salah satu penyakit
tersebut, terkadang masih diluluskan.
TIPS YANG PERLU DIPERHATIKAN

1) Sebelum melakukan perialanan
  Pastikan berangkat dalam keadaan rileks, bebas dari beban
fisik,dan psikis dan tidak dalam keadaan sakit. Persiapkan
segala keperluan jauh-jauh hari. Usahakan meminimalkan
transit, tidur lebih awal, agar tetap ketika berangkat.
2. Selama dalam perjalanan
  Begitu naik pesawat, ubah waktu jam tangan anda sesuai
dengan waktu Negara tujuan, perbanyak minum air putih dan
sari buah, tidur selama perjalanan dilakukan hanya waktu di
tempat tujuan menyatakan demikian (malam), lakukan
gerakan peregangan dan relaksasi otot-otot tubuh baik di
tempat duduk maupun pada saat transit, lakukan sesekali
jalan-jalan di dalam kabin, hindari minum kopi, alkohol &
orange.
3. Di tempat tuiuan
  Yang paling penting pertama kali dilakukan adalah
melakukan aktifitas seperti yang biasa dengan menyesuaikan
jam di tempat yang baru, termasuk waktu makan dan tidur.
PENGARUH LINGKUNGAN PENERBANGAN
TERHADAP FAAL TUBUH

1.  Atmosfir
adalah lapisan udara yang mengelilingi bumi, disebut juga
payung atau selimut bumi yang terdiri dari campuran gas-gas,
cairan, dan benda padat serta terbentang mulai dari permukaan
bumi sampai ketinggian 700 km (400 mil), sedangkan lapisan
diatasnya adalah ruang angkasa yang terbentang diatas 700
km. Unsur-unsur gas yang dominan meliputi gas nitrogen (N2)
sebesar 78,08%, Oksigen (02) sebesar 20,95%, C02 sebesar
0,03%, sedangkan sisanya yang 0,001% merupakan gas
krypton, xenon, neon, helium, argon, hydrogen, dan radon.
Secara fisik atmosfir mempunyai lapisan, antara lain:
a.   Troposfer: lapisan paling bawah dan paling tipis yang
terbentang pada ketinggian 0 - 12 km yang mempunyai sifat
berubah-ubah, terdapat uap air dan hujan, kelembaban
berbeda-beda, suhu turun secara teratur dengan bertambahnya
ketinggian, arah dan kecepatan angin berubah-ubah. Karena itu
sifatnya itu pada lapisan ini kurang baik untuk penerbangan.
b.  Stratosfer
terbentang pada ketinggian 50 - 80 km, suhu tetap 56,5 C
meskipun ketinggian berubah- rubah, tidak terdapat uap air
dan turbulensi. Lapisan ini lebih ideal untuk penerbangan
hanya lapisan udaranya tipis maka diperlukan perlindungan
khusus seperti kabin bertekanan dan lain-lain.
c.  Ionosfir
terbentang pada ketinggian 6000 - 1000 km. Lapisan ini
mempunyai suhu yang tinggi sampai 2000 C.
d.  Eksosfir
merupakan lapisan yang paling atas yang disebut juga outer
atmophere. Secara fisiologis atmosfir mempunyai beberapa
daerah antara lain daerah fisiologis yang terbentang dari
permukaan bumi sampai ketinggian 10.000 kaki. Didaerah
ini manusia jelas mengalami perubahan faal pada tubuhnya,
tingkat 02 nya cukup untuk mempertahankan manusia
tetap samapta tanpa bantuan alat khusus. Daerah kurang
fisiologis yang terbentang diatas 10.000 km dengan akibat
menurunnya tekanan parsiil 02 dan dapat mengalami
gangguan faal tubuh. makin rendah.
Con't...

2.  Pengaruh ketinggian
Pada dasarnya lapisan udara makin keatas makin
renggang dan makin rendah tekanannya dan
makin kecil pula tekanan parsiil 02 nya. Manusia
dapat hidup pada tekanan 760 mmhg, pada suhu
tropis 20 - 30 C dan kebutuhan total udara kering
sebesar 20,9 %, sedangkan tekanan udara parsiil
02 sebesar 159 mmhg, sedang udara dalam alveoli
sebesar 40 mmhg dan saturasi sebesar 98 %.
3.  Hipoksia: Prinsip hukum diffusi gas dari tekanan
tinggi ke rendah. Dimana jaringan tubuh
kekurangan 02.
Con't...

4.  Disbarisma
Semua  kelainan  yang  terjadi  akibat  perubahan  tekanan  kecuali 
hipoksia.  Problema  trapped  gas  adalah  rongga-rongga  yang 
terdapat dalam tubuh kita seperti saluran penecernaan, disitu udara 
akan  mengembang  dan  menimbulkan  rasa  mual  sampai  sesak 
begitu juga bila terjadi pada telinga tengah. Problema evolved gas, 
terjadi pada ketinggian tertentu yang larut dalam cairan tubuh atau 
lemak. Mulai pada ketinggian 25.000 kaki gelembung gas N2 yang 
lepas  mulai  menunjukan  gejala  klinis  gatal  atau  kesemutan,  rasa 
tercekik sampai terjadi kelumpuhan. 
5.  Penqaruh kecepatan dan percepatan terhadap faal tubuh
Akibat  kecepatan  dan  percepatan  yang  tinggi  mempunyai  efek 
terhadap faal tubuh.
BEBERAPA MASALAH KEDOKTERAN PADA
PENERBANGAN JARAK JAUH

1)  Motion  sicknes  bukanlah  merupakan  suatu  penyakit, 
namun  respon  normal  terhadap  gerakan-gerakan  dan 
situasi  yang  tidak  biasa  dijumpai  dengan  gejala  mual, 
keringat dingin, pusing, alergi, dan muntah. 
2) Nyeri sinus- telinga dan gigi. Volume udara dalam telinga 
tengah dan sinus akan mengembang sekitar 25 % pada 
tekanan  5000  –  8000  kaki.  Bila  saluran  yang 
menghubungkan antara rongga-rongga tersebut dengan 
hidung  baik  maka  tidak  akan  menimbulkan  keluhan. 
Nyeri pada gigi biasanya akibat gangren atau pulpitis.
Con't...
3) Pada manusia usia lanjut banyak mengalami perubahan 
fisik & psikologis yang perlu penanganan khusus supaya 
keamanan  &  kenyamanan  mereka  dapat  dijaga  selama 
penerbangan.  Perubahan  fisik  tersebut  meliputi: 
berkurangnya  kemampuan  bergerak,  keseimbangan, 
gangguan  sensoris,  gangguan  pendengaran, 
berkurangnya  sensoris  perasa,  tajam  penglihatan  yang 
berkurang,  banyaknya  keluhan  pada  jaringan  lunak  gigi 
geligi,  meningkatnya  angka  kejadian  penyakit  jantung  & 
paru.  Perubahan  Psikologis  yang  sering  terjadi  adalah 
depresi yang mengakibatkan Sindroma Takut Terbang.
MANAJEMEN RESIKO KESEHATAN DI
PENERBANGAN
   Seperti  kita  ketahui  bersama  pada  transportasi  penerbangan 
kondisi  lingkungan  dalam  kabin  jauh  berbeda,  yang  dapat 
menyebabkan  terjadi  perubahan-perubahan  fisiologis  pada 
manusia.  Kadang  keluhan  yang  timbul  dianggap  suatu  penyakit, 
sesungguhnya  hal  tersebut  akibat  dari  perubahan  tekanan  udara 
dalam  lingkungan  penerbangan  yang  bersifat  hiperbarik,  hipotermi, 
dan hipohumidity.
  Ketika di pesawat, makan minum yang cukup dan melakukan olah 
raga  ringan  di  pesawat  (sambil  duduk),  hindari  makanan  yang 
mengandung  gas  dan  merangsang  asam  lambung,  bagi  yang 
mabok  pesawat  minum  obat  anti  mabok  sekitar  1  jam  sebelum 
perjalanan.    
 Tujuan  :  Tercegahnya  masalah  kesehatan  penerbangan  dan 
terlaksananya  penatalaksanaan  kesehatan  penerbangan  pada 
jemaah haji.
PENGARUH KELEMBABAN, UDARA KERING,
UDARA DINGIN DAN DEHIDRASI

 Kelembaban (hunmiditas)
  Kondisi  udara  di  dalam  kabin  bertekanan  pada  tempat 
penumpang  berada,  yang  setara  dengan  kondisi  udara 
pada  ketinggian  5000--8000  kaki,  kelembaban 
(humiditas)-nya adalah 40--50%.
 Udara kering
Kelembaban  yang  rendah  atau  udara  kering  akan 
memudahkan  penguapan  dari  keringat  melalui  pori-pori 
kulit  tubuh  sehingga  tanpa  disadari  ternyata  tubuh  telah 
kehilangan  banyak  cairan  tubuh,  hal  ini  akan  lebih 
berbahaya bila terjadi pada Lansia.
Con't...
 Udara dingin
Udara dingin atau sejuk selama penerbangan sekitar
8--10 jam akan merangsang otak mengeluarkan
hormon yang meningkatkan produksi air seni (urine).
Hal ini akan menyebabkan kandung kemih cepat
penuh yang merangsang pengeluaran urine
sehingga ingin berkali-kali ke kamar kecil (toilet).
 Dehidrasi
Penguapan keringat disertai pengeluaran urine yang
berlebihan, apalagi jika tidak diimbangi dengan
minum secukupnya maka akan terjadi dehidrasi.
Dehidrasi adalah keadaan dimana tubuh calon
jemaah haji (penumpang) kehilangan dan
kekurangan cairan (yang diikuti pula dengan
kehilangan dan berkurangnya garam tubuh).
GANGGUAN KESEHATAN SAAT
PENERBANGAN

1)  Pembesaran prostat
Pada  beberapa  lanjut  usia  (lansia)  yang  menderita  pembesaran   
(hipertrofi) kelenjar prostat akan mengalami hambatan pada saluran 
urine  sehingga  tidak  dapat  berkemih.  Untuk  menolong  penderita 
tersebut perlu dilakukan pemasangan kateter.
2)  Anemia hipoksia
Yaitu sel darah kekurangan zat hemoglobin yang terdapat dalam sel 
darah merah. Kita ketahui hemoglobin berfungsi untuk mengangkut 
oksigen.  Hipoksia  ini  dapat  dialami  oleh  penderita  anemia.  Calon 
jemaah  haji  Lansia  sebagian  besar  menderita  penyakit  anemia. 
Penderita anemia sebagian besar dari kalangan petani dan nelayan 
yang status gizinya kurang baik.
Con't...

3)   Kelelahan
Adalah  suatu  keadaan  dimana  efisiensi  kerja  menurun  secara 
progresif  disertai  perasaan  tidak  enak  badan,  penurunan  daya 
tahan tubuh, dan efisiensi jasmani dan daya berpikir.
4)   Aerotitis atau barotitis.
Rasa  sakit  atau  gangguan  pada  organ  telinga  bagian  tengah  yang 
timbul  sebagai  akibat  adanya  perubahan  tekanan  udara  sekitar 
tubuh  disebut  aerotitis/barotitis.    Barotitis  dapat  terjadi  baik  pada 
waktu  naik  (ascend)  maupun  turun  (descend).  Hanya  saja  pada 
waktu  menurun,  presentase  kemungkinan    terjadinya  lebih  besar 
dari pada waktu naik. Hal akan sangat berbahaya pada penumpang 
Lansia  yang  yang  pengetahuannya  kurang  dan  fungsi  faal  tubuh 
sudah  berkurang,  bahkan  dapat  menyebabkan  pecahnya  gendang 
telinga.
Con't...

5)  Deep Vein Thrombosis
Merupakan risiko kesehatan jika terlalu lama duduk saat terbang 
selama lebih dari 2-3 jam. DVT adalah pembekuan darah yang 
terjadi di pembuluh vena. Untuk penumpang pesawat, biasanya 
terjadi pada tungkai kaki bagian bawah atau paha karena terlalu 
lama duduk. Pembekuan darah ini bisa memengaruhi aliran darah 
ke jantung dan bisa menyebabkan serangan jantung hingga stroke.
6)  Migrain
Migrain barangkali sakit kepala paling menyakitkan yang bisa terjadi 
saat terbang. Selain itu, saat terbang juga bisa membuat sinus 
terjadi yang bisa menyebabkan pusing.
UPAYA PENGENDALIAN GANGGUAN
KESEHATAN SAAT PENERBANGAN

• Banyak minum air putih dan membawa bekal air ketika 
bepergian 
• Istirahat yang cukup dan kurangi kegiatan yang tidak 
perlu
• Minum obat secara teratur sesuai jadwal bagi penderita 
penyakit tertentu seperti jantung, kencing manis, 
tekanan darah tinggi atau asma 
• Cuci tangan memakai sabun sebelum makan dan 
setelah beraktifitas dan setelah buang air kecil/besar 
• Makan makanan bersih dan bergizi
FAKTOR RESIKO KESEHATAN SAAT
BERHAJI

1. Faktor usia
Salah  satu  karakteristik  jamaah  haji  Indonesia  adalah 
banyaknya  jamaah  usia  lanjut  (>  60  Th)  yang  tiap 
tahunnya  rata-rata  sekitar  30  40  %.  Banyaknya  jamaah 
haji  usia  lanjut  ini  disebabkan  karena  lamanya 
menunggu proses antrian daftar tunggu haji reguler dan 
juga  faktor  kesiapan  ekonomi  calon  jamaah  haji. 
Banyaknya  jamaah  haji  lansia  ini  tentunya  merupakan 
faktor  risiko  kesehatan  haji,  seperti  lemahnya  kekuatan 
fisik,  mudah  terserang  penyakit,  sulitnya  adaptasi 
lingkungan,  maupun  banyaknya  penyakit  degeneratif 
yang diderita oleh para lansia.
2. Faktor risiko penyakit bawaan
Setiap  tahun,  pada  jamaah  haji  Indonesia  pasti  banyak 
terdapat  para  jamaah  risiko  tinggi  yang  memang  sudah 
terdapat  penyakit  ataupun  faktor  risiko  penyakit  yang 
dibawa  dari  tanah  air.  Penyakit  ataupun  faktor  risiko 
penyakit  itu  antara  lain  penyakit  jantung,  hipertensi, 
Diabetes  Mellitus,  Hiperkholesterol,  ginjal,  anemia, 
riwayat  stroke,  dan  sebagainya.  Para  jamaah  risti 
tersebut  harus  mendapatkan  pengawasan  yang  lebih 
ekstra  dari  petugas  kesehatan  haji  Indonesia  dalam 
rangka  untuk  mencegah  atau  meminimalkan  jumlah 
morbiditas dan mortalitas jamaah haji Indonesia di tanah 
suci.
3.  Faktor penerbangan yang lama
Kelembaban  udara  pada  ketinggian  5000-8000  kaki  saat 
penerbangan  yang  mencapai  40-50%  menyebabkan  udara  kering 
dan  memudahkan  penguapan  dari  keringat  sehingga 
mempengaruhi kebutuhan cairan tubuh, apalagi bila disertai jumlah 
urin  yang  banyak  akibat  udara  dingin.  Dengan  kondisi  demikian, 
dikhawatirkan  terjadi  dehidrasi,  khususnya  pada  calon  jemaah  haji 
lansia. Selain dehidrasi juga sering terjadi barotitis/nyeri pada sinus-
telinga  akibat  perbedaan  tekanan  udara.  Keterbatasan  oksigen  di 
pesawat  juga  berisiko  terjadinya  anemia  hipoksia  yaitu  sel  darah 
kekurangan  zat  merah  darah  (hemoglobin)  yang  berfungsi 
mengangkut  oksigen,  sehingga  penderita  anemia  berat  harus 
menjalani terapi dulu sebelum penerbangan. Faktor kelelahan juga 
harus  diwaspadai  serta  adanya  ancaman  Deep  Vein  Thrombosis 
(DVT) dan emboli yaitu pembekuan darah vena yang terjadi akibat 
posisi  duduk  yang  terlalu  lama  dengan  gejala  nyeri/bengkak  di 
daerah betis, bahkan bisa sampai sesak napas. Adanya sindrom Jet 
lag biasanya juga menyertai penerbagan yang lama. 
Con't...

4.  Faktor aktifitas fisik
Hari-hari di Madinah dan Makkah penuh dengan kegiatan fisik. 
Untuk ke Masjid Nabawi di Madinah jarak yang harus ditempuh dari 
penginapan bervariasi antara 500 meter hingga 2 kilometer. Para 
jamaah biasanya mengejar ibadah sholat Arbain ke Nabawi (sholat 
40 waktu). Ditambah lagi dengan kegiatan ziarah-ziarah serta 
aktifitas belanja dan jalan-jalan yang tentunya menambah aktifitas 
fisik. 
5.  Faktor cuaca
Selain terkenal sebagai negara yang sangat panas dan gersang, 
suhu udaha di sana sejuk tetapi kering artinya iklim tropis di Arab 
Saudi juga dikenal sebagai iklim padang gurun. Wilayah Arab Saudi 
yang berada pada titik subtropis memiliki dua musim, yaitu panas 
dan dingin. Musim panas di Arab Saudi berlangsung antara bulan 
April sampai dengan Oktober. Mulai bulan Mei udara panas terus 
berhembus hingga bulan Agustus. 
Con't...

6. Faktor risiko penularan penyakit
Pada waktu musim haji, Arab Saudi merupakan
tempat berkumpulnya manusia dari berbagai
belahan penjuru dunia dengan latar belakang
daerah endemis dan epidemi masing-masing.
Sehingga sangat berisiko adanya penularan
penyakit dari satu orang ke orang lainnya. Penyakit
yang berisiko menular antara lain meningitis, TBC,
hepatitis, diare, kholera, influenza, dan yang belum
lama ini muncul adalah MERS-CoV dan virus ebola,
serta penyakit menular lainnya.
YANG HAUS DIPATUHI JEMAAH HAJI
SELAMA DALAM PESAWAT

1) Petunjuk yang disampaikan awak kabin (pramugara/i) atau petugas 
kloter
2) Simpan tas tentengan di tempat yang telah disediakan (kabin)
3) Duduk tenang dan gunakan sabuk pengaman, jangan berjalan hilir 
mudik selama dalam perjalanan, kecuali ada keperluan
4) Selama dalam perjalanan tidak diperkenankan merokok dan 
mengaktifkan HP
5) Perhatikan tata cara penggunaan WC, hati- hati dalam penggunaan 
air jangan sampai tercecer di lantai pesawat karena bisa 
membahayakan keselamatan penerbangan
Con't...

6) Apabila akan buang air kecil/ besar agar ke
kamar kecil/WC dengan cara duduk di atas kloset
dan untuk mensucikannya meng- gunakan tissue
yang ada, setelah tissue dibasahi dengan air kran
yang tersedia. Apabila masih ragu jangan segan
meminta tolong kepada petugas
7) Memperbanyak dzikir dan do’a serta membaca
ayat-ayat suci Al-Qur’an
8) Perhatikan ceramah, pemutaran dalam manasik
haji yang di- pertunjukkan dalam perjalanan.
9) Apabila jemaah haji sakit, agar segera
menghubungi petugas kesehatan.
THANK YOU :)