You are on page 1of 22

CLINICAL SCIENCE SESSION (CSS

)

ABORTUS

Oleh :
Marlinawaty
Pembimbing:
dr. Paryanto, SpOG

BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JAMBI
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH RADEN MATTAHER
PROVINSI JAMBI
2013

BAB I
PENDAHULUAN
 Abortus  istilah yang diberikan untuk semua
kehamilan yang berakhir sebelum periode viabilitas
janin  berat badan 500 gram atau kurang dari 20
minggu.1,2,3

 Angka kejadian abortus sukar ditentukan ; kecuali
apabila terjadi komplikasi.

 Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) diperkirakan
4,2 juta abortus terjadi setiap tahun di Asia Tenggara

 Abortus adalah fetus dengan berat kurang dari 500 gram atau umur kehamilan kurang dari 20 minggu pada saat dikeluarkan dari uterus. yang tidak mempunyai kemungkinan hidup. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1.5 .1 DEFINISI  Menurut Kamus kedokteran Dorland.

 Penyebab Genetik  Penyebab Anatomik  Penyebab Autoimun  Penyebab Infeksi  Faktor Lingkungan  Faktor Hormonal  Faktor Hematologik . 2. Umumnya lebih dari satu penyebab.2 ETIOLOGI  Penyebab abortus (early pregnancy loss) bervariasi dan sering diperdebatkan.

Anomali kromosom menyebabkan paling sedikit separuh dari abortus dini.  Data RS.Pringadi Medan  10% abortus dari seluruh kehamilan. .3 EPIDEMIOLOGI  Lebih dari 80% abortus terjadi dalam 12 minggu pertama. 2.

infeksi janin.2.4 PATOFISIOLOGI Faktor genetik Faktor anatomik Faktor penyakit Faktor infeksi Faktor lingkungan Faktor hormonal uterus autoimun Kelainan sitogenik Gangguan implantasi SLE dan aPA Terjadinya metabolisme Seperti nikotin dan co2 Penurunan kadar (mutasi gen) serta pasokan darah ke toksin. progesteron endometrium amnion. plasenta. dan Kematian janin endometrium Efek vasoaktif Gangguan proses Gangguan implantasi implantasi Hambatan sirkulasi Gangguan implantasi uteroplasenta dan kematian janin Gangguan pertumbuhan janin Perdarahan pada desidua basalis Nekrosis jaringan disekitar pendarahan Hasil konsepsi terlepas seluruhnya atau sebagian dari dinding endometrium Merupakan Korpus alineum dalam uterus Terjadi kontraksi untuk mengeluarkan isinya ABORTUS .

 USG. . melihat adanya perdarahan.  Pemeriksaan fisik untuk menentukan adanya kehamilan muda.  Tes kehamilan. sering pula disertai rasa mules. pembukaan serviks dan jaringan di mulut rahim.2.5 DIAGNOSIS:  Abortus harus diduga bila seorang wanita dalam masa reproduksi mengeluh ada perdarahan pervaginam setelah terlambat haid.

6  Abortus Spontan  Abortus Provokatus (induced abortion).2. Abortus ini dibagi menjadi: 6  Abortus Medisinalis (abortus therapeutica)  Abortus kriminalis .3.5.4.6 KLASIFIKASI ABORTUS DAN PENANGANANNYA  Abortus dapat diklasifikasikan atas dua golongan: 2.

PEMBAGIAN ABORTUS SECARA KLINIK:  Abortus imminens  Abortus insipiens Abortus servikalis  Abortus inkompletus   Missed abortion  Abortus kompletus Abortus habitualis  .

3 Abortus Iminens.Gambar 2. dan missed abortion2.4 Abortus Inkomplit Insipiens.3 . abortus Gambar 2.3 dan abortus komplit2.

. disertai mules sedikit atau tidak sama sekali  Hasil konsepsi masih di dalam uterus  Tanpa adanya dilatasi serviks  Istirahat baring merupakan unsur penting dalam pengobatan  menyebabkan bertambahnya aliran darah ke uterus dan berkurangnya rangsang mekanik.Abortus imminens:  Perdarahan dari uterus pada kehamilan kurang dari 20 minggu.

.Abortus inkompletus:  Pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan kurang dari 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. setelah itu dilakukan kuretase.  Perdarahan dapat banyak sekali dan tidak akan berhenti sebelum sisa hasil konsepsi dikeluarkan.  Dilakukan penanganan bila syok.  Kanalis servikalis terbuka dan jaringan dapat diraba dalam kavum uteri atau kadang sudah menonjol dari OUE.

.

ostium uteri telah menutup.  Perdarahan sedikit.Abortus kompletus:  Semua hasil konsepsi sudah keluar. .  Tidak memerlukan pengobatan khusus. dan uterus sudah banyak mengecil.

Abortus servikalis:  Keluarnya hasil konsepsi dari uterus dihalangi OUE yang tidak membuka. sehingga semuanya terkumpul dalam kanalis servikalis dan serviks uteri menjadi besar dengan dinding menipis.  Dilakukan dilatasi serviks dengan busi Hegar dan kuretase untuk mengeluarkan hasil konsepsi. .

. tetapi janin mati itu tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih.  Missed abortion kadang disertai gangguan pembekuan darah karena hipofibrinogenemia.Missed abortion:  Kematian janin berusia sebelum 20 minggu.

Abortus habitualis:  Adalah abortus spontan yang terjadi 3 kali atau lebih berturut-turut. .  Abortus habitualis yang terjadi dalam triwulan kedua dapat disebabkan disebabkan serviks inkompeten (serviks tidak sanggup terus menutup. melainkan perlahan-lahan membuka).  Etiologi pada dasarnya sama dengan penyebab abortus spontan.

7 KOMPLIKASI ABORTUS:  Perdarahan  Perforasi dapat terjadi pada saat kuretase terutama pada uterus dalam posisi hiperretrofleksi.  Infeksi  Syok bisa terjadi karena perdarahan (Syok Hemoragik) dan karena infeksi berat (Syok Septik). .2.

2.8 DIAGNOSIS BANDING  Kehamilan Ektopik  Molahidatidosa .

.2.9 PENCEGAHAN  Mempersiapkan kehamilan  Cek TORCH sebelum hamil  ANC  Meghindari faktor predisposisi  Menjaga higienitas dan gaya hidup sehat.

2  Pada awal abortus terjadi perdarahan dalam desidua basalis  diikuti oleh nekrosis jaringan di sekitarnya. Sebagai batasan  kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. BAB III PENUTUP  Abortus/keguguran adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. .1.  Pasien perlu diperiksa untuk mencari penyebab abortus.

TERIMA KASIH .