You are on page 1of 73

STUDI COHORT

PROSPEKTIF
– Observasional
TUJUAN STUDI
– Mempelajari hubungan faktor “sebab” yang diduga dengan
faktor “akibat” yang terjadi.
SINONIM
– Faktor sebab
– Faktor resiko
– Variabel bebas = independen variable
FAKTOR AKIBAT / DISEASE
– Variabel tidak bebas = variabel terikat
– Variabel tergantung
– Dependen variabel

COHORT
ROMAWI :
Sekelompok tentara
Unit satuan tentara Romawi
Mengamati 2 kelompok yang berbeda :
1. Kelompok terpapar faktor resiko
• Kelompok terexposed
• Kelompok interest
2. Kelompok pembanding
• Kelompok kontrol = pembanding
• Tidak terpapar = not exposed

Kedua kelompok ditentukan berdasarkan
yang diduga peneliti merupakan “sebab” dari
penyakit / “disease” yang terjadi di
masayrakat.
Pada awal pengamatan / observasi kedua
kelompok HARUS BEBAS dari penyakit yang
dipelajari (disease free state). Tidak satpun
orang yang sakit pada kelompok E+ dan
kelompok E - .

Radiasi : • Faktor resiko • Faktor penyebab • Exposure (E +) • Independen = bebas . Radiasi adalah sebab yang diduga terhadap kejadian anemia aplastik.Contoh : Hipotesis : Orang yang mendapati radiasi mempunyai resiko lebih besar untuk terkena “anemia aplastik” dibanding dengan orang tidak mendapat radiasi.

Anemia aplastik : • Faktor disease • Akibat • Dependent = tidak bebas • Terikat • Outcome RADIASI = SEBAB ANEMIEA APLASTIK = AKIBAT .

Abestos ? – Anemia aplastik .COHORT Sekelompok orang yang mempunyai pengalaman yang sama TERPAPAR ATAU TIDAK TERPAPAR Contoh : – Sekelompok perokok – Vegetarian – Peminum alkohol – Pemakai hormon kontrasepsi – Pekerja pabrik asbes – Pekerja pabrik semen Hipotesis : – Ide peneliti = investigator – Awalnya adalah dari munculnya masalah kesehatan / penyakit / disease Contoh : – Kanker paru .Merokok ? – Chronic abstructive pulmonary disease .Radiasi ? .

Apakah hormon kontrasepsi mempunyai resiko lebih besar terkena kanker payudara. Akibat apa saja yang mungkin terjadi dengan adanya paparan tersebut ? Apakah Kanker Serviks ? Kanker payudara Myocardial infark ? Kanker ovarium ? Problem statement 1.CONTOH STUDI : Banyak Ibu terpapar hormon kontrasepsi (akseptor hormon). dibandingkan resiko pada wanita bukan pemakai hormon kontasepsi HIPOTESIS – harus dibuktikan .

Bagaimana membuktikan hipotesis : – Merancang studi cohort – Menetapkan kriteria wanita pemakai hormon kontsepsi Misal : • Wanita usia 30-35 tahun • Memakai hormon kontrasepsi paling sedikit 1 bulan sebelum pengamatan dimulai • Belum pernah terkan kanker payudara • Ditetapkan sebagai kelompok terpapar hormon = kelompok E + – Kelompok kontrol / pembanding • Wanita usia 30 – 35 tahun • Sama sekali tidak pernah pakai hormon kontrasepsi • Belum pernah terkena kanker payudara • Ditetapkan sebagai kelompok TIDAK TERPAPAR hormon kontrasepsi = kelompok E- .

ibu-ibu ditanya oleh peneliti untuk isi questionannaire – Jumlah sampel semua.Kedua kelompok diamati – Awal pengamatan misal 1 januari 2006 – Tiap 2 minggu diamati pada kedua kelompok tersebut.000 questionnaire setiap 2 tahun . Identifikasi apakah ada kejadian kanker payudara.000 kelompok E + • 10. bisa dikirim per post – Questionnaire diisi oleh ibu kemudian dikembalikan lagi pada peneliti – Bagi yang belum mengembalikan question bisa dikirim lagi questionnaire – Atau bisa per telepon.000 kelompok E - – Harus tersedia 20. Bila ada : dari kelompok mana ? E + atau E – – Monitoring keadaan ibu dengan membuat questionnaire. misal : • 10.

Langkah-langkah studi cohort : – Merumuskan hipotesa – Menetapkan kriteria kelompok E + – Menetapkan kriteria kelompok E – – Merencanakan berapa lama waktu pengamatan – Menetapkan kriteria D + / disease – Melakukan follow up pada semua sampel baik kelompok E + / E – apakah outcome telah terjadi – Mencatat hasil follow up – Membandingkan proporsi D + among E + terhadap proporsi D.among E – – Analisa dan interpretasi sementara Keuntungan studi cohort – Pengamatan prospektif secara tuntut waktu / time sequence dapat membuat deskripsi tentang perkembangan penyakit yang diamati (natural history of disease) .

subjek menolak berpartisipasi – Semakin jarang terjadi penyakit yang diamati semakin besar ukuran sampel yang dibutuhkan – Studi cohort tidak dapat diulang sesuai berjalannay waktu.Keuntungan studi cohort – Pengamatan prospektif secara tuntut waktu / time sequence dapat membuat deskripsi tentang perkembangan penyakit yang diamati (natural history of disease) – Dari 1 macam exposure yang dipelajari dapat melihat dampaknya beberapa outcome yang terjadi = multiple outcome dengan berbagai resikonya. maka hasilnya tidak valid apabila diukur dan dicatat pada saat sekarang . apakah meningkatkan resiko atau menurunkan resiko terjadinya penyakit – Semua perubahan variabel pada subjek yang diteliti dapat diukur dan dicatat dengan waktu terjadinya – Bias nya relatif kecil Kerugian cohort – Butuh waktu. Artinya variabel-variabel yang belum sempat diukur dan dicata pada waktu lampau. tenaga. biaya yang besar – Apabila pendekatan perlakuan pada subjek yang diteliti tidak berhati-hati maka sering mengalami droop out.

Contoh studi cohort : Oleh : Court Brown & Doll (1957) Lama pengamatan : 20 tahun (1934-1954) Subjek : 13.000 penderita dengan diagnosa ankylosing spondilitis yang mendapat therapy penyinaran / radiasi – Data subyek penelitian dicatat sampai seluruh penderita meninggal – Kelompok kontrol dipilih adalah general population – Kesimpulan : • Deat rate ok anemia aplastik dan lekemi jauh lebih besar terjadi pada kelompok yang dapat radiasi dibanding general population .

= Kelompok bebas dari anemia aplastik .1000 E- E+ = kelompok terpapar radiasi 565 D - E .= Kelompok bebas paparan D+ = Kelompok terkena anemia aplastik D . BAGAN Rancangan Cohort Studi 870 D + E+ 1000 E+ 130 D - 435 D + E.

Resiko relatif : – Relative risk – Resiko nisbi Pr oporsi D  pada kelompok E  – RR RR  Pr oporsi D pada kelompok E  Definisi Resiko Relatif : 870 / 1000 RR  2 435 / 1000 Artinya : Resiko D + among E + mempunyai resiko 2x lebih besar dibanding resiko D + among E- Studi Cohort menggunakan RR sebagai dasar menarik kesimpulan .

Kemungkinan nilai RR :  1 lebih besar dari 1 Artinya adanya paparan / exposure akan meningkatkan resiko terjadinya sakit.  = 1 sama dengan 1 Resiko kelompok E + = resiko kelompok E – untuk terkena penyakit  < 1 lebih kecil dari 1 Artinya adanya paparan menurunkan resiko terjadinya sakit atau paparan justru protektik terhadap terjadinya sakit .

dengan tujuan untuk membandingkan intervensi mana yang lebih baik. Kelompok I = kelompok interest (yang mendapatkan intervensi dengan metode baru) Kelompok II = kelompok control (yang mendapatkan intervensi dengan metode standart) metode yang selama ini umum dipakai .STUDI EKSPERIMEN (RCT) Suatu studi dengan cara memberikan perlakuan (treatment intervensi) pada 2 kelompok sampel.

HIPOCRATES AXIOM : “FIRST DO NO HARM” Contoh RCT Hipotesis : Apakah streptokinase lebih baik dibandingkan tissue plasminogen activator (t-PA) pada pengobatan pasien dengan acute myocard infart ? Tujuan RCT : Memperoleh suatu metode pengobatan yang lebih baik. . dengan cara membandingkan metode pengobatan standar yang sudah ada terhadap metode lain yang relatif baru ditemukan.

 Mengukur outcome of treament : Follow up – perlu waktu Prolog observasi  high cost  Lost to follow up  Ethical concern  related to serious potential side effected treatment Beda experiment lapangan dan laboratorium 1. Eksperimen lapangan : – Pengambilan sampelnya memiliki populasi yang lebih besar (population base) – Biasanya jarang mengendalikan kondisi yang sangat spesifik dan cukup rumit dalam pelaksanaan pengukurannya .

komposisi udara tertentu. kelembaban.2. metabolisme basal. walaupun ada harapan bahwa hasil yang akan diperoleh dapat berlaku bagi populasi yang lebih besar • Dengan sampel yang besarnya terbatas. Contoh : Mengendalikan suhu ruang. maka seorang peneliti dapat mengendalikan berbagai ragam kondisi sesuai dengan tujuan penelitiannya. . . tekanan atmosphere. Eksperimen Laboratorium • Tidak selalu besar sampel yang diamati dapat mewakili populasi yang lebih besar.

coronaria yang mengalami konstruksi dengan ballon yang radiographic – Dengan obat / drugs Tujuan obat melysis blood cloth yang menyumbat a.Beberapa macam pengobatan myocard infarct – Bed rest • Morphin  mengurangi nyeri • Nitroglycerine  meningkatkan aliran darah pada bagian jaringan yang mengalami infarct – Secara bedah  by pass coroner • Dilatasi a. • Streptokinase  ensim streptococcus (human derivative protein) • Tissue plasminogen activator (t-PA) (Non human derivative protein) . coronaria.

T-PA diberikan secara infuse Dalam 4 jam pertama sejak serangan awal ↓ Dapat menurunkan myocard tissue damage ↓ Dapat meningkatkan survival rate penderita myocard infarct t-PA  sering menimbulkan alergi pada penderita oleh karena non human derivative protein Masalah : manakah yang lebih baik pada pengobatan penderita myocard infarct. streptokinase atau t-PA  diperlukan RCT .

dan tidak berdasarkan keinginan peneliti atau keinginan pasien (pasien preference) Group therapy Eligible standart Subjek Group therapy interest .Randomization : Suatu proses untuk menetapkan apakah subjek yang telah memenuhi syarat-syarat studi (eligible subjek) yang kemudian digolongkan menjadi kelompok treatment I (treatment standart) atau kelompok treatment II (treatment interest) menggunakan prinsip probabilitas semata.

Intervensi mana yang lebih baik ? Apa saja parameternya untuk dapat menetapkan lebih baik : – Parameter mana yang paling penting – Apakah parameter tersebut dapat diukur dengan cara reasonable ? – Apa saja hambatan pelaksanaan RCT Berapa lama follow up pasien : Long Term Short Term Parameter yang dibandingkan pada contoh RCT penggunaan streptokinase terhadap t-PA Kualitas hidup: Kemampuan menjalankan tugas sehari-hari Survival : % pasien hidup dalma 1 tahun setelah trial Complikasi : % pasien dengan alergi .

Meningkatkan kepatuhan penderita pada pelaksanaan RCT : • Memilih pasien yang mempunyai motivasi baik • Dilakukan pretest kemampuan dan kerelaan penderita menjalani procedure RCT • Tata cara perlakuan bagi penderita harus dibuat instruksi tertulis yang jelas dan sederhana • Lamanya pemberian intervensi harus dibatasi (jangan terlalu lama) • Ukurlah tingkat partisipasi penderita secara periodik Misal : berdasarkan jumlah pil yang dikonsumsi berdasarkan jumlah specimen yang dapat diambil .

Tidak paham instruksi yang diberikan 2. Pilih pasien dengan tingkat motivasi tinggi 2.Beberapa alasan pasien untuk tidak patuh pada RCT : 1. Upayakan sering kontak dengan penderita 6. Terjadinya side efek obat 4. Instruksi bagi pasien harus jelas sederhana. tertulis. Pasien lebih menyukai cara pengobatan tertentu Strategi meningkatkan kepatuhan pasien pada RCT 1. ada penjelasan 4. Batas durasi trial . Pretest untuk kesediaan partisipasi 3. Incentives misal obat gratis. Secara financial tidak menguntungkan 3. Kecewa terhadap hasil 5. test lab gratis 5.

Beberapa issue medical ethies RCT
 Apakah randominasi merupakan etika yang dapat diterima ?
Mestinya pasien boleh memilih metode intervensi setelah
mendapatkan penjelasan (informed consent)
mungkin saja randomization sereties tidak dapat diterima
 Sebelum pelaksanaan RCT :
Metode yang “relatif baru ditemukan” tidak boleh lebih inferior
dibandingkan metode yang saat ini dipakai = metode standart =
metode control
 Penderita harus mendapat penjelasan secara oral disertasi
tertulis tentang metode intervensi yang akan dipakai
 Setelah mendapatkan penjelasan, apabila setuju, maka
penderiat menandatangani informed content

EVALUASI RCT
1. Apa hipotesis null nya ?
Apa outcome interetsnya
Ct : 1) % LVEF (LEFT ventricle ejection fraction)
Ho :   
0 1

0 : % LVEF – Mean – Kelompok yang diberi
streptokinase
1 : % LVEF – Mean – Kelompok yang diberi
alteplase (t-PA)
2) Ho : % SURV – I = % SURV – II
% Survive : % orang yang survive dalam 1 tahun setelah
diberi streptokinase
% Survive : % orang yang survive dalam 1 tahun setelah
diberi alteplase (t-PA)
Dari beberapa outcome mana yang paling berarti ?

2. Bagaimana karakteristik sampel ?
– Kriteria inklusif
– Kriteria ekslusif
– Karakterisik mana yang akan dibedakan
– Ciri-ciri demographic / ciri lain

3. Besar sampel masing-masing intervensi
– Mana yang ditetapkan sebagai kelompok
– Kontrol dan kelompok perlakuan
4. Bagaimana perlakuan diberikan ?
– Dosis mg / kg / hari
– Beberapa kali diberikan
– Interval pemberian
– Berapa lama perlakuan diberikan

5. Blinding (menghilangkan rasa subjektif)
– Apakah pasien mengetahui intervensi apa yang diterima
– Apakah dokter mengetahui intervensi apa yang diberikan pada
masing-masing pasien ?
– Apakah dokter mengetahui mana pasien kelompk kontrol /
interest, pada saat mengukur outcome ?

semula kelompok I setelah menjalani 90% program terapi. Hasil dan kendala RCT – Bagaimana membandingkan faktor prognose ? – Apakah side efek dicatat dan dilaporkan ? – Bagaimana kriteria withdrawl pasien = pasien dropout ? – Apakah data cukup adequate untuk menarik kesimpulan secara statistik – Tingkah laku pasien sulit dikendalikan oleh peneliti – Setiap saat pasien punya hak penuh untuk menolak berpartisipasi  dengan akibat dropout – Pasien tetap berpartisipasi namun tidak disiplin dalam pengobatan. hal ini salah satu sebab error pada hasil – Makin ketat membuat kriteria inklusi maka makin homogen sampel yang didapat – Makin homogen sampel yang didapat maka hasil RCT makin terbatas kemampuan extropolasinya pada kelompok yang punya karakteristik lain – Pasien pindah kelompko. tiba-tiba pindah kelompok II pada analisa statistik dianggap kelompok I walaupun pasien tersebut meninggal pada hari ke 5 sebaagi kelompok II .6.

Contoh membandingkan kematian dini Kematian dini (< 30 hari) Streptokinase -tPA  Ya  10  5  Tidak  125  130  Total  135  135  RR 10 / 135  = 2.0 5 / 130 RR = 2 artinya kelompok pengobatan menggunakan streptokinase mempunyai resiko 2 kali lebih besar terjadi kematian dini dibanding kelompok pengguna tPA .

CASE CONTROL : – Case : sekelompok individu / group / populasi dengan label “DISEASE” – CONTROL : sekelompok individu / group / populasi.CASE CONTROL STUDY  Riset epidemiologi  Analitik  Observational TUJUAN : Mempelajari hubungan / assosiasi adanya RISK FACTOR yang diduga dengan kejadian “Sakit” / “Disease” / OUTCOME yang terjadi pada populasi. dengan label “Non Disease” / “Tidak Sakit” WITHOUT HEALT PROBLEM dipakai sebagai “pembanding” terhadap kelompok “case” – Pada masing-masing kelompok : CASE & CONTROL Diidentifikasi : adanya : risk Factor (E + ) dan “tidak adanya risk factor” .

 Identifikasikelompok kontrol yang sesuai dengan kondisi kelompok kasus sangat penting.. jenis pekerjaan. pendidikan. status sosial ekonomi .ras/ ethnis.. jenis kelamin.. .  Variabel socio demografi : umur.. agama.

 Hal penting . hasil test tertentu.  Ada riwayat paparan faktor resiko bisa diperoleh dari anamnesa. bagaimana kriteria menentukan ada dan tidak adanya faktor resiko. . apa parameter faktor resiko. apakah pengukuran menggunakan alat tertentu. harus terdefinisi dengan jelas.

 Apabila adanya faktor resiko dapat diidentifikasi. . bila dimungkinkan dosis atau gradasi faktor resiko dapat diukur misalnya adanya unsur molekuler dari specimen darah/ jaringan yang diukur dengan methode/ teknologi laboratorium.

dan ada pencatatan (rekam medis) merupakan data obyektif. . prasarana dalam menetapkan diagnosis penyakit. Rancangan kasus kontrol.  Di rumah sakit memiliki fasilitas. sarana. pada umumnya dilakukan di rumah sakit.

Beda CC terhadap cohort COHORT : start dengan assignment ada / tidak adanya risk factor Ada risk faktor : dimasukkan kelompok terpapar Tanpa risk faktor kelompok Terpapar Case control : dimulai melakukan assignment siapa saja tergolong “SAKIT” dan siapa saja tergolong “TIDAK SAKIT” Cohort : Start dengan “Disease Free State” Case control : Start dengan “Disease state” .

berdasarkan data validitas tinggi.Status sakit ditetapkan berdasarkan prosedur (biasanya) di Rumah prosedur diagnosa sakit didasarkan : pada – Keluhan = symptomp (subyektif) – Tanda-tanda = sign (obyektif) – Tanda tanda hasil test laboratorium (obyektif) – Case control banyak dilakukan pada pasien yang dirawat di rumah sakit melalui prosedure diagnosa yang ketat. .

yaitu saat dimulainya assignment ( awal mula penelitian ) .CASE CONTROL : Setelah ke 2 group ditentukan group case & group control Mempelajari sejarah (look BACK WARD IN TIME) tentang ada tidaknya faktor paparan / exposed Asumsi : paparan / faktor exposed yang terjadi lebih dulu dan yang kemudian diikuti kejadian kejadian sakit/ out come . Keadaan sakit sudah terjadi pada saat sekarang.

 Assessment :  Tujuan assessment untuk identifikasi siapa saja dari mereka yang sakit dan yang tidak sakit terpapar oleh faktor resiko (E+) maupun yang tidak terpapar faktor resiko (E-).  Paparan diasumsikan terjadi dalam beberapa waktu ke belakang (backward) .

 Contoh : merokok sudah berapa lama. dan berapa rata-2 dosis rokok perhari. Pada setiap kasus maupun kontrol ditanya oleh peneliti kepada penderita maupun bukan penderita tentang sejarah masa lalunya sebelum sakit dengan dugaan ada tidaknya suatu paparan faktor resiko. .

 Lazimnya paparan yang di duga berkaitan dengan kejadian sakit sekarang adalah multifaktor . Pertanyaan peneliti tentang sejarah paparan sebelum sakit pada case control untuk mengukur ada tidaknya paparan dan bisa juga dosis paparan.

 Multi faktor artinya faktor tersebut yang berasal dari people.  Karakteristik biologis : golongan darah.  People : karakteristik demographie. etnis. pendidikan. warna kulit. ras. genetic . sex. fungsi organ vital. lingkungan dan agent . umur. status sosial ekonomi.

tekanan atmosfer tinggi etc. . aktifitas fisik tertentu. kebiasaan konsumsi makanan/ minuman tertentu. ada tidaknya bahan paparan tertentu di tempat kerja. high physical activity. Karakteristik spesifik lain :  Jenis pekerjaan. bahan chromate. bahan cat. leisure activity. suhu tinggi.

Apakah instrumen tersebut mampu mengukur derajat / besarnya dosis paparan yang ada ? 4. Pertanyaannya : Risk faktor yang mana yang terjadi & berhubungan dengan kejadian sakit yg sudah terjadi. Bagaimana menetapkan kriteria tentang adanya Risk Factor ? Atau “TIDAK ADANYA RISK FACTOR” ? 2. Bila ditanya mengenai ADA / TIDAK NYA RISK FAKTOR adanya faktor lupa mengingat sesuatu berakibat yang semestinya “TERPAPAR” menjadi tergolong “TIDAK TERPAPAR” atau sebaliknya . Re Cal Bias : pasien sering lupa mengingat sejarah kejadian sebelum sakit. Memahami instrumen apa ? 3. 1.

1981) Hubungan Kejadian Pelvic inflamatory disease dengan pemakaian I. keluar RUMAH SAKIT dengan diagnosa PID – Ada batasan umur – Mempunyai Partner sexual – Tidak hamil – Tidak pernah operasi steril Semua pasien wanita . al. definisi kontrol : Semua pasien wanita. tidak pernah operasi steril dipakai sebagai pembanding. tidak hamil.D Definisi Kasus : – Wanita.U. keluar dari rumah sakit. Bukan penderita PID. dan juga dilakukan interview . mempunyai partner sexual. STUDI (Burk et. dengan rentang umur tertentu. yang keluar dari rumah sakit dengan diagnosa Pelvic Inflamatory Disease dilakukan interview.

 Assessment pada case control :  Kelompok “kasus” dibedakan menjadi:  kasus yang terpapar (E+)  kasus yang tidak terpapar (E-)  Kelompok “kontrol” dibedakan menjadi “kontrol” terpapar dan “kontrol” tidak terpapar .

Tidak terpapar  “Disease” 4. Tidak terpapar  “Non Disease” a / c a d ad OR :  x  – Cohort  RR  Nilaibratio / d daric 2 nilai b proporsi bc – Case control  OR  Nilai ratio dari 2 nilai ratio Contoh perhitungan data CC .1. Jumlah individu kategori “terpapar” dan berasal dari kelompok “Disease” 2. Jumlah individu kategori “terpapar” dan berasal dari kelompok“Non Disease” 3.

 Case control study – Riset epidemiologi – Analitik – Observasional  Tujuan – Mempelajari hubungan / asosiasi adanya “risk faktor” yang diduga dengan kejadian sakit pada populasi.  Case – Adalah sekelompok individu atau populasi dengan label “disease”  Control – Adalah sekelompok individu atau populasi dengan label “tidak sakit. Control dipakai sebagai pembanding terhadap kelompok “case”  Pada kelompok case dan kelompok control masing-masing dilakukan identifikasi adanya faktor resiko maupun tidak adanya faktor resiko .

maka pada masing-masing kelompko secara retrospektif diidentifikasi ada tidaknya faktor paparan atau exposed Asumsi : Paparan / faktor exposed yang diduga terjadi lebih dulu baru kemudian terjadi disease / sakit . Studi case control pada tahap awal peneliti menetapkan siapa-siapa saja dalam kelompok case dan kelompok control  Kelompok case ditetapkan berdasar : – Adanya keluhan (symptomp) – Adanya tanda (sign) – Tanya yang tampak pada penderita baik fisik maupun tanpa perubahan laboratorik  Setelah kedua kelompok case dan control ditentukan.

D berkaitan atau ada hubungan dengan kejadian PID ? Definisi kasus : – Semua wanita yang keluar rumah sakit dengan diagnosa PID – Ada batasan umur – Mempunyai partner sexual – Tidak hamil – Tidak pernah operasi Semua wanita yang memenuhi syarat kasus dilakukan interview tentang penggunaan I. Apakah penggunaan I.U. Contoh : studi case control (Burk et. All 1981) Hipotesis : masalah Banyak kejadian pelvic inflamatory disease pada wanita.U.D .

tidak hamil. tidak pernah operasi  Pada kedua kelompok case dan control dilakukan identifikasi ada tidaknya sejarah penggunaan IUD secara riwayat sebelum sakit D+ D- E+ a b E. c d .Definisi control :  Semua wanita dengan batasan umur yang sama mempunyai partner sexs.

 Four fold table  Tabel 2 x 2  OR : Odds infavor of exposureamong" Disease" Odds infavor of exposureamong" Non Disease"  OR : a/c  a x d  a d b/d c b bc Ovarian Oral C.S Used CANCER YES NO TOTAL Yes 250 242 492(m1) No 2696 1532 4228(m0) Total 2946 1774 (n1) (n0) .

d  b.61 .51 X MH  3151  5.6 bc Confidence interval OR : OR (1± Z/x) X  X 2 MH Dimana : (t  1) x (a. ad OR :  0.c)2 2 X MH  n1 x n0 x m1 x m0 (250 x 1532  242 x 2696)2  4719 x (2946 x 1774 x 492 x 4228)  31.

61)  e Lower OR = 0.0 .96  Step 3 Lower limit OR = OR (1-Z/X)  Ln .96 5. 6 x (11. Step 2 untuk 95% maka nilai confidence interval  nilai Z = 1.OR x (1 z x )   e  Ln .0 .96 5.OR x (1 z x )   e  Ln .5 Upper limit OR = OR (1+Z/X)  Ln .61)  e . 6 x (11.

7 OR = 0.Upper limit OR = 0. .5 0.6 0.6 maka nilai OR dinyatakan secara statistik signifikan.7 0 0.6 Lower limit OR = 0.5 Upper limit OR = 0.7 1 Oleh karena nilai convidence interval 95% pada OR = 0.

84 Dalam hal ini nilai OR = 1.6 dengan confidence interval 95% maka OR dinyatakan secara statistik tidak signifikan sebab hal ini antara nilai lower OR dan upper OR didalamnya ada angka 1 . Contoh lain apabila nilai OR = 1.6 Diketahui : Lower OR = 0.97 Upper OR = 2.

 Keuntungan case control • Butuh waktu lebih singkat biaya murah • Lebih mudah dilaksanakan kemungkinan drop out kecil  Kerugian • Bisa lebih besar  casual associati potensial bias cas acontrol kriteria inklusi / eksklusi perbedaan antaar pasien dan kontrol tidak selalu tersedia pada record system .

12 16 Hitung RR dan OR dan beri kesimpulan . D+ D- E+ 20 10 E.

 Merupakan langkah awal perencanaan. beberapa hipotesis spesifik. hipotesis spesifik.  Contoh apa penyebab kanker paru? .  Scope kecil. Perencanaan penelitian  Menyatakan research question.

 Apakah exposure asap rokok ?  Apakah exposure partikel asbestos?  Apakah orang-2 yang terkena kanker paru memiliki riwayat exposure asap rokok?  Apakah memiliki riwayat exposure partikel asbestos? .

pernyataan yang perlu diuji dengan data dan data merupakan phenomena alam yang diukur tingkat keberadaan nya. . Hipotesis merupakan “predictive statement” hubungan antara variable dependent dengan variabel independent.  Predictive statement.

 Berpabesarprobabilitas /resiko sekelompok orang yang tidak terpapar asap rokok untuk terkena kanker paru? . Berapabesar probabilitas/ resiko sekelompok orang yang terpapar asap rokok untuk terkena kanker paru/ bronchogenic carcinoma.

 Dalamkurun waktu yang sama prospektif (cohort study)  Tahap assignment :  Menetapkan kriteria pada subyek yang akan diteliti. memiliki riwayat paparan. masih sehat. umur. belum ada tanda sakit .  Sex.

 Menetapkan definisi paparan.  apabila sudah memiliki tanda sakit. penyakit yang akan diteliti (dependent variable/ D+) . dinyatakan tidak eligible dipilih sebagai sample.  Kriteria eksklusi.

diagnosa kanker paru. umur. Assignment / eligibility kasus pada case control study:  Pemilihan individu untuk ditetapkan sebagai kelompok study dan kelompok pembanding  Sex. masih hidup dan dapat dihubungi. pemeriksaan PA dengan metode tertentu. domisili jelas. .

 Assessment : pengukuran pada individu apakah sudah terdiagnosa sakit (cohort) atau tergolong memiliki riwayat paparan dalam kurun waktu tertentu (case control).  Kondisi D/E dapat ditetapkan berdasarkan data subyektif symptomp/ obyektif berdasar metode pemeriksaan .

 Hasil analisis RR/OR  OR hanya dipergunakan pada Case control . Analysis :  Membandingkan magnitude hasil assessment pada kedua kelompok yang diteliti. ukuran proporsi/ resiko pada cohort study atau ukuran ratio/ resiko pada study case control.

 OR = odds in favor of exposure among The disease group/  Odds in favor of exposure among the non disease group . OR =odds ratio. Interpretasi:  Penarikan kesimpulan dari hasil analiysis RR= resiko relative.

 merupakan penarikan kesimpulan mengenai makna dan perbedaan yang ditemukan antar kelompok kelompok dalam penelitian.  Ekstrapolasi : makna bagi individu individu yang tidak terlibat. atau diluar kelompok sample . Interpretasi.

Perumusan hypotesis/specific hypotesis. Metode/ design penelitian/populasi dan sample/metode analysis data .  II. Tahapan Penelitian :  I.  III. Perumusan masalah/ research Q/ objective/aims .

 Methode/ rancangan penelitian:  Sample karakteristik :who.  Jenis dan skala data variable sample.  Metode pengambilan sample/ pengukuran variable sample/ kriteria pengukuran variable sample/ alat ukur pengukuran variable sample.  Jenis test statistik yang dipakai.when where/geography. .

Pengumpulan data penelitian :  V. diskusi hasil interpretasi analisis. deskriptive explorative. menjelaskan objective/aims penelitian dalam kerangka menjawab masalah penelitian . analitik interpretasi data. IV. Pengolahan data interpretasi dan diskusi.

penyusunan seluruh proses penelitian (recording)  VII. VI. Pencatatan. Publikasi hasil penelitian (reporting)  Jurnal penelitian dan abstract .