You are on page 1of 62

PENELITIAN “EFEKTIFITAS ANTARA

PENGGUNAAN BETADIN DENGAN YANG TIDAK
MENGGUNAKAN BETADIN TERHADAP LAMA
PENYEMBUHAN LUKA JAHITAN PERINEUM DI
PUSKESMAS KARO”

Ketua peneliti : Juliana Ayu
Peneliti 1 : Evina Yosi Mora Ginting
Peneliti 2 : Emma Natalia Depari

BAB I
PENDAHULUAN

Salah satu indikator untuk menentukan derajat kesehatan
suatu negara adalah Angka Kematian Ibu (AKI). Suatu negara
akan sehat apabila para perempuan dapat senantiasa dilindungi
dalam menjalankan fungsi repruduksinya dan terhindar dari
masalah kesehatan yang dapat menyebabkan kesakitan dan
kematian. Menurut WHO, kematian ibu atau (mortality rate)
adalah kematian selama kehamilan atau dalam periode 42 hari
setelah berakhirnya kehamilan, akibat semua sebab yang terkait
dengan atau diperberat oleh kehamilan atau penanganannya,
tetapi bukan disebabkan oleh kecelakaan/cedera (Depkes RI,
2013).

Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun
2012, angka kematian ibu mencapai 359 per 100 ribu kelahiran
hidup (Santosa, Wahyuni, & Tyas, 2010). Sementara untuk tahun
2015 AKI di Indonesia baru bisa mencapai 161 per 100 ribu
kelahiran, ini berdasarkan hasil estimasi yang dibuat dari hasil
SDKI tahun 1990 sampai 2007 dengan menggunakan
perhitunngan exponensial, padahal target MDG Indonesia adalah
102 per 100 ribu kelahiran hidup (DEPKES RI, 2013). Angka
tersebut merupakan yang masih tertinggi diantara Negara-negara
ASEAN, kemudian disusul oleh Vietnam 50/100.000 kelahiran
hidup, Thailand 10/100.000 kelahiran hidup, Malaysia 5/100.000
kelahiran hidup, Singapura 3/100.000 kelahiran hidup (SDKI,
2013).

. dan ekonomi. Sedangkan faktor tidak langsung penyebab kematian ibu karena faktor terlambat dan terlalu. eklampsia/preeklamsia (13%). dolor. Ini semua terkait dengan faktor akses. partus lama/persalinan macet (9%). kalor. yang ditandai dengan rubor. 2013). abortus (11%). sosial budaya. fungsiolesa tetapi. dan penyebab lain (15%). hal tersebut ikut menyumbangkan kenaikan angka kematian ibu di Indonesia (SDKI. Meskipun angka kematian ibu yang disebabkan infeksi hanya 10%. penyebab langsung dan penyebab tidak langsung. Penyebab angka kematian ibu dikategorikan menjadi dua yaitu. Faktor penyebab langsung kematian ibu di Indonesia saat ini masih didominasi oleh perdarahan (42%). pendidikan. tumor. infeks (10%).

2010) Robekan perineum dapat terjadi secara spontan maupun dengan tindakan episiotomi. (Cunningham. Setelah selesai persalinan maka dokter atau bidan akan menjahit dan menyatukan kembali luka tersebut sedemikian rupa agar nantinya sembuh dengan sempurna. ekstraksi. beberapa cidera jaringan penyokong. dapat menjadi masalah ginekologis dikemudian hari . forseps dan vakum sering kali mengakibatkan terjadinya robekan jalan lahir. khususnya yang disertai dengan penyulit seperti letak sungsang. distosia bahu. Namun. baik cidera akut maupun nonakut. Infeksi merupakan salah satu penyebab kematian ibu keempat tertinggi di Indonesia. baik telah diperbaiki atau belum. hal ini disebabkan karena pada saat persalinan.

kebersihan diri. Kesembuhan luka perineum sangat tergantung pada efektifitas penanganan. Perawatan perineum adalah pemenuhan kebutuhan untuk menyehatkan daerah antara paha yang dibatasi vulva dan anus pada ibu yang dalam masa antara kelahiran placenta sampai dengan kembalinya organ genetik seperti pada waktu sebelum hamil. . Menurut Aziz (2004) Perawatan adalah proses pemenuhan kebutuhan dasar manusia (biologis. Selain itu banyak faktor yang mempengaruhi kesembuhan luka perineum antara lain pengetahuan. psikologis. 2012). sosial dan spiritual) dalam rentang sakit sampai dengan sehat. gizi dan cara perawatan (Kurnia. salah satunya dengan perawatan perineum.

bentuk kesembuhan luka perieneum yang baik adalah kesembuhan perprimer. Luka jahitan perineum yang dibiarkan terbuka akan sembuh dalam waktu 4 sampai 7 hari. jaringan granulasi minimal dan jaringan parut tidak tampak. Kesembuhan tersebut memiliki ciri-ciri diantaranya adalah tepi luka yang disatukan oleh jahitan menutup berhadapan. Menurut Helen (2009) dalam Nikmah (2012). Apabila pada waktu tersebut luka tidak kunjung sembuh maka dapat meningkatkan angka kejadian infeksi yang akan berdampak pada kesehatan reproduksi ibu post partum dan memungkinkan terjadi sepsis puerperalis hingga berakibat kematian maternal. .

emosional serta tergangnggunya perawatan bayi baru lahir (Prawirohardjo. . Untuk itu tekhnik perawatan luka yang tepat sangat diperlukan untuk menghindari terjadinya komplikasi dikemudian hari. 2014). savlon atau jenis antiseptik yang lain. Hal ini penting diperhatikan karena apabila tidak tepat dapat mengakibatkan luka sulit sembuh dan memungkinkan terjadinya infeksi. misalnya betadin. Dalam manajemen perawatan luka. gangguan interaksi sosial. Selain itu luka perineum yang tidak segera ditangani dapat menurunkan produktivitas ibu yang berakibat pada perasaan rendah diri. yang penting diperhatikan adalah cara perawatan dan penggunaan bahan yang tepat dalam hal ini preparat yang digunakan apakah sesuai dengan kebutuhan atau tidak.

terdapat bukti penelitian yang menunjukkan bahwa penyembuhan luka dapat tertunda dengan menggunakan betadin dalam kadar yang berlebihan karena dapat menghambat proses granulasi luka. menyatakan bahwa penggunaan betadin masih menjadi perdebatan antara dokter sampai saat ini. menurut studi literatur yang dilakukan oleh Angel dkk (2008) dalam Journal of Wound Practice and Research. namun penggunaan betadin dalam manajemen perawatan luka tetap menjadi kontroversial. selain itu betadin juga bersifat iritatif dan lebih toksik apabila masuk ke pembuluh darah. . hal ini disebabkan karena betadin telah terbukti menjadi antiseptik yang efektif. Penggunaan betadin dalm manajemen perawatan luka sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Namun.

salah satunya yaitu yang dilakukan oleh Gilmore dkk (1977) dikutip dari Post Graduate Medical Journal. belum ada standard of procedure yang khusus di tetapkan oleh pemerintah yang mengatur tentang cara perawatan luka perineum yang benar. Penelitian ini menemukan bahwa hasil studi eksperimental yang dilakukan pada tikus menunjukkan bahwa baik bubuk kering maupun aerosol yang diterapkan pada luka terbuka tidak menggangu penyembuha luka pada tikus. Penelitian tentang penggunaan betadin dalam penyembuhan luka telah lama diteliti. Sehingga cara perawatan luka perineum di setiap pelayanan kesehatan khususnya rumah sakit berbeda-beda tergantung instruksi dokter yang menolong persalinan . Sehingga penelitian ini menyimpulkan bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa penggunaan povidon iodine dapat menyebabkan ekskoriasi ataupun iritasi Di Indonesia sendiri.

Puskesmas Karo merupakan salah satu puskesmas yang masih menggunakan betadin dalam perawatan luka perineum hanya saja penggunaan betadin hanya diberikan pada luka baru. . Rata-rata pasien yang dirawat berusia antara 19 sampai 38 tahun. Studi pendahuluan yang dilakukan di Puskesmas Karo didapatkan data jumlah pasien post partum dengan persalinan normal yang dirawat pada dua tahun terakhir yaitu tahun 2014 ada 402 ibu bersalin dan tahun 2015 ada 329 ibu yang bersalin dengan rata-rata perbulan sekitar 28 persalinan. Tetapi untuk kategori tempat pelayanan kesehatan dasar seperti Puskesmas dan BPS biasanya ada SOP yang ditetapkan oleh pihak Puskesmas atau BPS itu sendiri sehingga untuk perawatan luka perineum di fasilitas tersebut harus mengacu pada SOP yang telah ditetapkan.

peneiliti merasa termotivasi untuk melakukan penelitian tentang Efektifitas Antara Penggunaan Betadin Dengan Yang Tidak Menggunakan Betadin Terhadap Lama Penyembuhan Luka Jahitan Perineum Di Puskesmas Karo. . 30% sembuh dalam keadaan sedang dengan lama penyembuhan 7-8 hari dan 5% sembuh dalam keadaan buruk dengan rata-rata lama penyembuhan lebih dari 8 hari. Data yang diperoleh dari Puskesmas Karo menunjukkan bahwa rata-rata penyembuhan luka jahitan perineum pada ibu nifas yaitu sekitar 65% sembuh dalam keadaan baik dengan lama penyembuhan antara ≤6 hari. Merujuk dari fenomena tersebut diatas.

post partum adalah periode yang terjadi setelah kalahiran bayi. plasenta. 2015). serta selaput yang diperlukan untuk memulihkan kembali organ kandungan seperti sebelum hamil dengan waktu kurang lebih 6 minggu (Saleha. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. sedangkan menurut Kamus Saku Kedokteran Dorland. . Tinjauan Umum tentang Masa Nifas 1. dengan mengacu kepada ibu (W. 2009). Pengertian masa nifas • Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia nifas adalah masa sejak melahirkan sampai dengan pulihnya alat-alat dan anggota badan (KBBI. • Menurut Saleha masa nifas adalah masa sesudah persalinan dan kelahiran bayi.B Saunders Company. 2011).

baik fisik maupun psikologis  Melaksanakan skrining yang komprehensif. nutrisi. .2. Adapun tujuan dari perawatan masa nifas adalah:  Menjaga kesehatan ibu dan bayinya. mendeteksi masalah. mengobati dan merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya. pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat. menyusui. Tujuan asuhan masa nifas Dalam masa nifas. keluarga berencana.  Mendukung dan memperkuat keyakinan diri ibu dan memungkinkan ia melaksanakan peran ibu dalam situasi keluarga dan budaya yang khusus  Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri. ibu memerlukan perawatan dan pengawasan yang dilakukan selama ibu tinggal di rumah sakit maupun setelah keluar dari rumah sakit.

 Memberikan pelayanan keluarga berencana  Mempercepat involusi alat kandungan  Melancarkan fungsi gastrointestinal atau perkemihan  Melancarkan pengeluaran lochea  Meningkatkan kelancaran peredaran darah sehingga mempercepat fungsi hati dan pengeluaran sisa metabolism (Pitriani dkk. 2014). .

b) Puerperium intermediat. c) Puerperium lanjut.3. mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti prahamil yang dibagi dalam 3 periode yaitu: a) Puerperium dini yaitu kepulihan saat ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan. yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih dan kembali sehat sempurna. yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genitalia yang lamanya 6-8 minggu. 2012) . TAHAPAN MASA NIFAS Masa nifas merupakan masa pemulihan kembali. Waktu untuk mencapai kondisi sehat sempurna dapat berminggu-minggu atau bulanan (Mochtar.

PROGRAM DAN KEBIJAKAN TEKNIS Menurut Saifuddin (2008). rujuk jika perdarahan berlanjut persalinan • Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri • Pemberian ASI awal. . 6-8 jam • Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri setelah • Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan. paling sedikit 4 kali kunjungan masa nifas dilakukan untuk menilai status ibu dan bayi baru lahir. mendeteksi dan menangani masalah-masalah yang terjadi. Tabel 2. dan untuk mencegah. 4.1 Frekuensi kunjungan pada masa nifas Kunjungan Waktu Tujuan 1.

menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari- hari . tidak ada perdarahan persalinan abnormal. ia harus tinggal dengan ibu dn bayi baru lahir untuk 2 jam pertama setelah kelahiran. atau perdarahan abnormal. o Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan. atau sampai ibu dan bayi dalam keadaan stabil 2 6 hari o Memastikan involusi uterus berjalan normal. tali pusat. cairan. uterus setelah berkontraksi. tidak ada bau o Menilai adanya tanda-tanda demam. fundus di bawah umbilicus. o Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir o Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi o Jika petugas kesehatan menolong persalinan. dan istirahat o Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tak memperlihatkan tanda-tanda penyulit o Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi. infeksi.

.3 2 minggu o Sama seperti 6 hari setelah persalinan setelah persalinan 4 6 minggu oMenyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit setelah yang ia atau bayi alami persalinan o Memberikan konseling untuk KB secara dini Sumber: Saifuddin A. B. (2008).

luka dapat juga dijabarkan dengan adanya kerusakan pada kuntinuitas/kesatuan jaringan tubuh yang biasanya disertai dengan kehilangan substansi jaringan (Saputra. 2014). Penyembuhan luka • Luka merupakan rupture atau robekan pada kulit. 2010) . • Penyembuhan luka adalah respon tubuh terhadap berbagai cedera dengan proses pemulihan yang kompleks dan dinamis yang menghasilkan pemulihan anatomi dan fungsi secara terus menerus (Tarigan.B. KONSEP LUKA 1.

fase proliferative dan fase maturasi. Fisiologi penyembuhan luka secara alami akan mengalami 4 fase utama yaitu. Komponen utama dalam proses penyembuhan luka adalah kolagen disamping sel epitel. fase destruktif. respon inflamasi akut terhadap cedera.2. FISIOLOGI PENYEMBUHAN LUKA Penyembuhan luka adalah suatu bentuk proses usaha untuk memperbaiki kerusakan yang terjadi. 2010). Fibroblas adalah sel yang bertanggung jawab untuk sintesis kolagen (Perdanakusuma. .

LANJUTAN,,,,,
 Namun, pada kenyataannya fase-fase penyembuhan tersebut
saling tumpang-tindih dan durasi dari setiap fase serta waktu
untuk penyembuhan yang sempurna tergantung pada beberapa
faktor termasuk ukuran dan tempat luka, kondisi fisiologis
umum pasien dan adanya bantuan ataupun intervensi dari luar
yang ditujukan dalam rangka mendukung pemyembuhan
(Marison, 2012)

Tabel 2.2
Fisiologi penyembuhan luka dan implikasinya untuk penatalaksanaan luka

Dur
Fase Ringkasan proses fisiologis asi Implikasi untuk penatalaksanaan luka
fase
RESPON • Hemostasis: Vasokonstriksi sementara 0-3 • Fase ini merupakan bagian yang esensial dari

INFLAMA dari pembuluh darah yang rusak terjadi hari proses penyembuhan dan tidak ada upaya
yang dapat menghentikan proses ini, kecuali
SI AKUT pada saat sumbatan trombosit dibentuk
jika proses ini terjadi pada kompartemen
TERHAD dan diperkuat juga oleh serabut fibrin
tertutup dimana struktur-struktur penting
AP untuk membentuk sebuah bekuan.
mungkin tertekan.
CEDERA • Respon jaringan yang rusak: jaringan • Meski demikian, fase ini dapat diperpanjang
yang rusak dan sel mast melepaskan oleh adanya jaringan yang mengalami
histamine dan mediator lainnya, devitalisasi secara terus-menerus, adanya
sehingga menyebabkan vasodilatasi dari benda asing, pengelupasan jaringan yang luas

pembuluh darah sekeliling yang masih atau oleh penggunaan preparat topical untuk
luka seperti antiseptic, antibiotic yang tidak
utuh serta meningkatkan penyediaan
bijaksana sehingga dapat memperlambat
darah ke daerah tersebut, sehingga
penyembuhan
menjadi merah dan hangat.

DESTRUKTIF • Pembersihan terhadap 1-6 hari • Polimorf dan makrofag
jaringan yang mati atau mudah dipengaruhi oleh
yang mengalami devitalisasi turunnya suhu pada tempat
dan bakteri oleh polimorf luka, sebagaimana yang
dan makrofag.
dapat terjadi bilamana
• Polimorf menelan dan
sebuah luka yang basah
menghancurkan bakteri.
dibiarkan tetap terbuka, pada
• Tingkat aktivitas polimorf
saat aktivitas mereka dapat
yang tinggi hidupnya
turun sampai nol.
singkat saja dan
• Aktivitas mereka juga dapat
penyembuhan dapat berjalan
terus tampa keberadaan sel dihambat oleh agens kimia,

tersebut. hipoksia dan juga perluasan
• Meski demikian, limbah metabolic yang
penyembuhan berhenti bila disebabkan karena buruknya
makrofag mengalami perfusi jaringan.
deaktivasi.

maka terjadi rusak karena penanganan peningkatan yang cepat pada kekuatan regangan luka. sintesis kolagen berhenti. . kapiler darah baru rusak dan mengalami perdarahan. misalnya. kapiler dibentuk oleh tunas menarik balutan yang endothelia. Vitamin C penting untuk sintesis kolagen. melekat. serta penyembuhan luka terhenti. Kapiler. suatu proses yang disebut angiogenesis.PROLIFERA Fibrolas meletakkan substansi 3-24 hari Gelung kapiler baru TIF dasar dan serabut-serabut kolagen jumlahnya sangat banyak serta pembuluh darah baru mulai menginfiltrasi luka. Tanpa vitamin C. Begitu dan rapuh serta mudah sekali kolagen diletakkan. yang kasar.

hipoksia. tanda inflamasi mulai hipoprteinemia.• Bekuan fibrin yang • Factor sistemik lain dihasilkan pada fase 1 yang dapat dikeluarkan begitu memperlambat kapiler baru penyembuhan pada menyediakan enzim stadium ini termasuk yang diperlukan. serta berkurang. defisiensi besi. • Jaringan yang dibentuk • Fase proliferative terus dari gelung kapiler baru. disebut jaringan granulasi karena penambakannya yang granuler. berlangsung secara yang menopang kolagen lambat seiring dengan dan substansi dasar bertambanhnya usia. Tanda. Warnanya merah terang .

sudorifera. membelah dan mulai bermigrasi diatas jaringan granula baru.MATURASI Epitealisasi. serta glandula sampai tiga kali lebih cepat sebasea dan glandula dilingkungan yang lembab. Epitelialisasi terjadi rambut. sel epitel pada pinggir kembali dalam tiga bulan luka dan dari sisa-sisa folikel pertama. kontraksi dan 24-365 Luka masih sangat rentan reorganisasi jaringan ikat: hari terhadap trauma mekanis dalam setiap cedera yang (hanya 50 % kekuatan regangan mengakibatkan hilangnya norma dari kulit diperoleh kulit. .

. Epitelium akan bermigrasi di sepanjang garis jahitan. Oleh karena itu dibutuhkan jaringan granulasi yang minimal dan kontraksi sedikit berperan.3. dan penyembuhan terjadi terutama oleh timbunan jaringan penghubung. Primary Intention (Proses Utama). Jika luka dijahit.      BENTUK PENYEMBUHAN LUKA Ada beberapa bentuk dari penyembuhan luka menurut Boyle (2009) dalam Romi (2010) adalah : 1. Luka dapat sembuh melalui proses utama yang terjadi ketika tepi luka disatukan (approximated) dengan menjahitnya. terjadi penutupan jaringan yang disatukan dan tidak ada ruang yang kosong.

Third Intention (Proses Primer Terlambat) Terjadi pada luka terkontaminasi yang pada awalnya dibiarkan terbuka. Penyembuhan melalui proses skunder membutuhkan pembentukan jaringan ganulasi dan kontraksi luka. Setelah beberapa hari. memungkinkan respons inflamasi berlangsung dan terjadi peningkatan pertumbuhan daerah baru di tepian luka. dan penyembuhan ini membutuhkan waktu yang lebih lama.2. Secondary Intention (Proses Skunder). Luka jahitan yang rusak tepian lukanya dibiarkan terbuka dan penyembuhan terjadi dari bawah melalui jaringan granulasi dan kontraksi luka. Hal ini dapat terjadi dengan meningkatnya jumlah densitas (perapatan). jaringan parut fibrosa. yaitu dengan memasang tampon. tampon dibuka dan luka dijahit . 3.

C. Robekan perineum umumnya terjadi pada garis tengah dan bisa menjadi luas apabila kepala janin lahir terlalu cepat (Damarini. LUKA PERINEUM Ruptur perineum adalah robekan yang terjadi pada saat bayi lahir baik secara spontan maupun dengan menggunakan alat atau tindakan. 2013). Laserasi perineum adalah perlukaan yang terjadi pada saat persalinan di bagian perineum. . LUKA PERINEUM 1.

2012).. Banyak faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka perineum.. ... diantaranya  mobilisasi dini  vulva hygiene  luas luka  umur  Vaskularisasi  stressor dan juga nutrisi.. menutup dan tidak ada tanda – tanda infeksi (Mochtar. Luka dikatakan sembuh jika dalam 1 minggu kondisi luka kering......LANJUTAN.

BENTUK LUKA PERINEUM Menurut Hamilton dalam Wardani ( 2012). Bentuk luka perineum setelah melahirkan ada 2 macam yaitu : a. (Sujiyatini dkk. 2011) . Episiotomi Episiotomi adalah insisi yang dibuat melalui perineum yang dilakukan sebelum melahirkan yang bertujuan untuk memperluas jalan keluar bayi hingga dapat mempermudah dalam melahirkan. Bentuk ruptur biasanya tidak teratur sehingga jaringan yang robek sulit dilakukan penjahitan b. Ruptur Ruptur adalah luka pada perineum yang diakibatkan oleh rusaknya jaringan secara alamiah karena proses desakan kepala janin atau bahu pada saat proses persalinan.

dengan hanya sedikit atau tanpa kerusakan otot. d. Robekan ini seringkali dibiarkan tanpa perlu dijahit b. Derajat keempat Robekan mengenai sfingter internal dan eksternal serta mukosa (Medfordt dkk. Kategori ini dapat dibagi berdasarkan pada beberapa banyak sfingter yang terkena. Episiotomi termasuk dalam katergori ini. KLASIFIKASI ROBEKAN PERINEUM a. Derajat pertama Robekan mengenai jaringan kulit dan subcutan. karena baik kulit dan otot digunting.3. Derajat kedua Robekan mengenai baik kulit dan lapisan otot. dianjurkan bahwa beberapa robekan derajat kedua tidak memerlukan jahitan c. 2013) . Derajat ketiga Robekan mengenai sfingter ani. Jika robekan terjadi secara spontan.

1 : KLASIFIKASI RUPTUR PERINEUM .GAMBAR 2.

Rupture perineum memerlukan penanganan dan penatalaksanaan yang tepat untuk menghindari terjadinya infeksi akibat perlukaan pada perineum. atau anak dilahirkan dengan pembedahan vagina (Marni. sudut arkus pubis lebih kecil dari pada biasa sehingga kepala janin terpaksa lahir lebih kebelakang dari pada kepala janin melewati pintu bawah panggul dengan ukuran yang lebih besar dari pada sirkumferensia suboksipoto-bregmatika.4. 2012). . PENATALAKSANAAN RUPTURE PERINEUM Ruptur perineum umumnya terjadi digaris tengah dan bisa menjadi luas apabila kepala janin lahir terlalu cepat.

2012) .ADAPUN PENATALAKSANAA RUPTURE PERINEUM YAITU: 1) Lakukan eksplorasi untuk mengidentifikasi lokasi laserasi dan sumber perdarahan 2) Lakukan irigasi pada tempat luka dan bubuhi larutan antiseptic 3) Jepit dengan ujung klem sumber perdarahan kemudian ikat dengan benang yang dapat diserap 4) Lakukan penjahitan luka mulai dari bagian yang paling distal dari operator 5) Khusus pada rupture perineum komplit (hingga anus dan sebagian rectum) dilakukan penjahitan lapis demi lapis dengan bantuan busi pada rectum (Marni.

Hal ini berguna agar ibu selalu menjaga dan merawat luka jahitannya.Banyak minum (hidrasi) f.Senantiasa mengkonsumsi makanan dengan gizi yang tinggi e. PERAWATAN LUKA PERINEUM Setelah dilakukan penjahitan.Mencuci perineum dengan air sabun dan air bersih sesering mungkin d.5.Senantiasa menjaga perineum selalu dalam keadaan kering dan bersih b. bidan hendaklah memberikan nasehat kepada ibu. Adapun hal-hal yang harus diperhatikan dalam merawat luka jahitan perineum adalah: a.Menghindari penggunaan obat-obat tradisional pada luka c. Untuk memantau kondisi luka jahitan perineum. 2011) . ibu hendaknya melakukan kunjungan ulang pada 1 minggu setelah melahirkan (Sujiyatini dkk.

g) Catat. rapikan alat-alat yang digunakan pada tempatnya. khususnya tanda infeksi. air. baskom. d) Semprotkan atau cuci dengan betadin bagian perineum dari arah depan ke belakang. h) Lakukan tidur dengan ketinggian sudut bantal tidak boleh lebih dari 30 derajat . e) Keringkan dengan waslap atau handuk dari depan ke belakang. jika ada prubahan-perubahan perineum. kasa dan pembalut wanita yang bersih. Cuci tangan sampai bersih. b) Cuci tangan di kran atau air yang mengalir dengan sabun.Sedangkan menurut Kartika (2008) untuk menghindari terjadinya infeksi. maka cara membersihkan luka perineum adalah sebagai berikut: a) Siapkan alat-alat cuci seperti sabun yang lembut. c) Lepas pembalut yang kotor dari depan ke belakang. f) Setelah selesai. waslap.

Sedangkan menurut Depkes (2013) salah satu bentuk perawatan pada ibu nifas adalah dengan melakukan personal hygien yaitu: 1) Membersihkan daerah vulva dari depan ke belakang setelah buang air kecil atau besar dengan sabun dan air 2) Mengganti pembalut dua kali sehari 3) Mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudan membersihkan daerah kelamin 4) Menghindari menyentuh daerah luka episiotomy atau laserasi .

dimana ibu akan selalu merasa mendapatkan perlindungan dan dukungan serta nasihat -nasihat khususnya orang tua dalam merawat kebersihan pasca persalinan 2) Tradisi Di Indonesia ramuan peninggalan nenek moyang untuk perawatan pasca persalinan masih banyak digunakan. meskipun oleh kalangan masyarakat modern 3) Pengetahuan Pengetahuan ibu tentang perawatan pasca persalinan sangat menentukan lama penyembuhan luka perineum. . Faktor eksternal terdiri atas beberapa yaitu: 1) Lingkungan Dukungan dari lingkungan keluarga.6. Apabila pengetahuan ibu tentang perawatan pasca persalinan kurang. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PROSES PENYEMBUHAN LUKA Faktor-faktor yang mempengaruhi proses penyembuhan luka ada 2 yaitu faktor eksternal dan faktor internal. maka penyembuhan luka pun akan berlangsung lama.

2010) selain itu pembersihan luka perineum harus dilakukan dengan tepat oleh petugas kesehatan yang menangani persalinan karena hal ini merupakan salah satu penyebab yang dapat menentukan lama penyembuhan luka perineum. Jika ibu memiliki tingkat sosial ekonomi yang rendah. . maka ibu dapat merawat diri dengan baik.4) Sosial ekonomi Pengaruh dari kondisi sosial ekonomi ibu dengan lama penyembuhan perineum adalah keadaan fisik dan mental ibu dalam melakukan aktivitas sehari – hari pasca persalinan. bisa jadi penyembuhan luka perineum berlangsung lama 5) Penanganan petugas Ruptur perineum yang dijahit dengan kurang baik atau tidak menempel pada prosses epitelisasi dapat menghambat penyembuhan luka perineum (Rejeki. Jika kondisi ibu sehat. 6) Kondisi ibu Kondisi kesehatan ibu baik secara fisik maupun mental. dapat menyebabkan lama penyembuhan.

Karena perawatan yang kasar dan salah dapat mengakibatkan kapiler darah baru rusak dan mengalami perdarahan. 3. Cara perawatan Perawatan yang tidak benar menyebabkan infeksi dan memperlambat penyembuhan. Usia Anak dan dewasa penyembuhannya lebih cepat daripada orang tua. penurunan fungsi hati dapat mengganggu sintesis dari faktor pembekuan darah (Baroroh. Adanya lemak yang berlebihan akan menghalangi suplai darah yang baik sehingga luka mudah infeksi atau timbul luka baru. Berat Badan Obesitas atau berat badan yang berlebih dapat terjadi pada berbagai usia hal ini dapat menyebabkan penutupan luka kurang baik. 2011). .SELANJUTNYA FAKTOR-FAKTOR INTERNAL YANG MEMPENGARUHI PENYEMBUHAN LUKA ADALAH: 1. Orang tua lebih sering terkena penyakit kronis. Jika luka dirawat dengan baik maka kesembuhannya juga akan lebih cepat. 2.

infeksi lokal. diabetes. terutama gangguan endokrin. sehingga proses penyembuhan lebih lambat dan akan lebih rentan terhadap komplikasi luka (Wijayanti. Status nutrisi Budaya pantang makanan pada sebagian ibu nifas menyebabkan tidak terpenuhinnya status nutrisi yang baik sehingga dapat menyebabkan terlambatnya proses penyembuhan luka yang disebabkan oleh kurangnya sumber energy.4. ginjal. vitamin dan mineral yang sangat berperan dalam proses penyembuhan luka (Hartinigtiyaswati. protein karbohidarat. terjadi gangguan keseimbangan elektrolit yang akan berdampak pada fungsi jantung. metabolism seluler. 2010) 5. dan fungsi hormon 6. Dehidrasi Pada kondisi kurang cairan. kanker. 2014) . Penyakit Kronis Sistem tubuh seseorang ditekan oleh adanya penyakit kronis.

. psikologis. HUBUNGAN PERAWATAN DENGAN BETADIN TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA PERINEUM  Menurut Aziz (2004) Perawatan adalah proses pemenuhan kebutuhan dasar manusia (biologis. Perawatan perineum adalah pemenuhan kebutuhan untuk menyehatkan daerah antara paha yang dibatasi vulva dan anus pada ibu yang dalam masa antara kelahiran placenta sampai dengan kembalinya organ genetik seperti pada waktu sebelum hamil.  Perawatan perineum yang tidak benar dapat mengakibatkan kondisi perineum yang terkena lokhea menjadi lembab sehingga sangat menunjang perkembangbiakan bakteri yang dapat menyebabkan timbulnya infeksi pada perineum.D. sosial dan spiritual) dalam rentang sakit sampai dengan sehat.

 Perawatan luka yang tepat sangat diperlukan untuk menghindari terjadinya komplikasi dikemudian hari. yang penting diperhatikan adalah cara perawatan dan penggunaan bahan yang tepat dalam hal ini preparat yang digunakan apakah sesuai dengan kebutuhan atau tidak.  Dalam manajemen perawatan luka. . savlon atau jenis antiseptik yang lain. misalnya betadin.  Hal ini penting diperhatikan karena apabila tidak tepat dapat mengakibatkan luka sulit sembuh dan memungkinkan terjadinya infeksi.

begitu pula spora.  Elemen iod yang terkandung dalam betadin adalah salah satu zat bakterisid terkuat dengan daya kerja cepat. termasuk fungi dan virus dimatikan olehnya.  Hampir semua kuman pathogen. walaupun diperlukan waktu lebih lama. . Betadin (povidone iodine) merupakan salah satu jenis antiseptik yang banyak dipakai dan merupakan antiseptik utama yang digunakan dirumah sakit dalam melakukan perawatan luka secara umum dan juga untuk perawatan luka perineum.

 Sehingga direkomendasikan apabila ada reaksi alergi yang disebabkan oleh penggunaan iodine maka sebaiknya dilakukan tes sensitivitas povidon-iodine terlebih dahulu sebelum digunakan pada luka (Maryunani. 2013) . kemerahan.  Tanda-tanda alergi iodine yaitu ruam kulit. bengkak dan terasa gatal. Iodine bisa menyebabkan alergi pada sebagian orang.panas. Walaupun merupakan antiseptik yang utama namun.

E. Iodine . Infrared is More Effective in Terapi inframerah lebih efektif dalam Dewi dan Ika Perineum Wound Healing penyembuhan luka perineum selama F Ayuningtyas During Postpartum than postpartum. Relevansi Penelitian Terdapat beberapa penelitian yang telah meneliti tentang penggunaan bahan- bahan atau preparat dalam melakukan perawatan luka perineum.L. dalam Perawatan Luka dibandingkan dengan iodine dalam Elianan. Perineum du Bidan Praktik perawatan luka perineum pada masa Mariati Mandiri postpartum 2 Vivian N. yaitu: No Peneliti Judul Penelitian Temuan 1 Susilo Efektivitas Sirih Merah Daun sirih merah lebih efektif Damarini.

Perbedaan Pengaruh Terdapat perbedaan antara Syammar Perawatan Luka perawatan luka dengan Kurnia Menggunakan Povidon mengguanakan eusol dan perawatan Nasution dan Iodine dan Eusol luka dengan menggunakan povidine Solihuddin Terhadap Penyembuhan iodine terhadap penyembuhan luka Harahap Luka Perineum pada perineum pada pasien post partum Pasien Postpartum di RS Fajar Medan tahun 2015 4 Ika Perbedaan Efek Perawatan Tidak terdapat perbedaan yang Rahmawati Luka Menggunakan signifikan antara penggunaan gerusan Gerusan Daun Petai Cina daun petai cina dengan povidon iodine dan Povidon Iodine 10% 10% terhadap lama penyembuhan luka dalam Mempercepat bersih pada marmot.3 Yufdel. Penyembuhan Luka Bersih pada Marmut .

6 Febi Andri. Efektivitas Campuran Penggunaan campuran povidone dkk Povidon Iodine dan iodine dengan madu lebih efektif Madu dalam dibandingkan dengan povidone Penyembuhan Laserasi iodine saja untuk proses penyembuhan luka laserasi .5 Sri Andar Perbedaan Lama Rata-rata lama penyembuhan Puji Astuti Penyembuhan Luka luka dengan povidon iodine lebih Perineum antara yang lama dibandingkan tanpa povidon diberi Povidon Iodine iodine meskipun tidak ada dan tidak diberi perbedaan yang signifikan pada Povidon Iodine pada lama penyembuhan luka perineum Ibu Postpartum antara yang dirawat menggunakan povidon iodine dan tanpa povidon iodine.

F. KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS .

2. • Hipotesis alternatif (Ha) : Terdapat perbedaan antara yang menggunakan betadin dengan tidak menggunakan betadin terhadap efektifitas lama penyembuhan luka perineum . HIPOTESIS PENELITIAN • Hipotesis dalam penelitian ini yaitu: • Hipotesis nol (Ho) : Tidak terdapat perbedaan antara yang menggunakan betadin dengan tidak menggunakan betadin terhadap efektifitas lama penyembuhan luka perineum.

    DEFENISI OPERASIONAL DAN KRITERIA OBJEKTIF Definisi operasional dan criteria objektif variabel-variabel yang berkaitan dengan penelitian dijelaskan sebagai berikut: a). Kriteria objektif : Kelompok kontrol: Diberikan kompres betadin pada luka jahitan perineum Kelompok kasus : tidak diberikan kompres betadin pada luka jahitan perineum . Penggunaan betadin adalah pemberian kompres betadin (larutan povidon iodine 10%) pada luka jahitan perineum.3.

Kriteria Objektif : • Luka sembuh baik:    Apabila setelah dilakukan perawatan.b)   Lama penyembuhan luka perineum adalah waktu yang diukur sejak penjahitan perineum sampai luka menutup. • Luka sembuh sedang: apabila setelah dilakukan perawatan. luka     • perineum bisa sembuh ≤ 6 hari dan luka dalam keadaan menutup dan kering. panas. nyeri dan fungsiolaesa). kering dan tidak ada tanda-tanda infeksi (merah. 2011) •   . luka • perineum bisa sembuh 7-8 hari dan kondisi luka menutup tetapi masih basah • Luka sembuh buruk:  apabila setelah dilakukan perawatan luka • perineum   bisa sembuh >8  hari dan kondisi luka belum kering dengan jahitan masih membuka (Farrer. bengkak.

. Jenis Penelitian Penelititian ini merupakan jenis penelitian quasi eksperimen dengan desain penelitian non equivalent control group. BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. dimana dalam penelitian ini sampel terdiri atas dua kelompok yaitu kelompok pertama adalah kelompok kasus yaitu yang tidak diberikan betadin dan kelompok ke dua yaitu kelompok kontrol yaitu yang akan diberikan betadin dan digunakan sebagai pembanding.

X1 : penggunaan betadin X2 : tidak menggunakan betadin b. Dalam penelitian ini variabel independennya (X) adalah pemberian betadin. 2009).B. IDENTIFIKASI VARIABEL a. Variabel bebas (variabel independen) yaitu variabel yang nilainya menentukan variabel lain (Hidayat. Dalam penelitian ini variabel dependennya (Y) adalah lama penyembuhan luka perineum . Variabel terikat (variabel dependen) adalah variabel yang nilainya ditentukan variabel lain (Hidayat. 2009).

Lokasi Penelitian ini akan dilaksanakan di Puskesmas Karo Tomuan yang beralamat di Jl. yang meliputi: 1. . b). Lokasi dan Waktu Penelitian a). Waktu Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan April- Juni 2016.C.Pane . METODE PENGUMPULAN DATA Metode pengumpulan data atau informasi dalam penelitian ini akan dijabarkan secara jelas. Kota Pematangsiantar.

Data primer didapatkan dari hasil intervensi dan observasi penggunaan preparat betadin sebagai antiseptik untuk mempercepat penyembuhan luka perineum sedangkan data sekunder didapatkan dari hasil rekapitulasi rekam medik pasien postpartum selama 2 tahun terakhir. SUMBER DATA Sumber data penelitian adalah data primer dan data sekunder. Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data dimulai dengan memilih pasien yang memenuhi kriteria inklusi kemudian pasien diberikan informasi tentang penelitian ini. . selanjutnya diminta kesediaannya untuk ikut serta dalam penelitian ini. d) . Selanjutnya pasien diminta untuk menandatangani lembar persetujuan untuk menjadi responden kemudian diberikan penjelasan tentang tata cara dan prosedur penelitian.C).

D. teknik ini digunanakan jika penarikan anggota sampelnya dapat ditemukan atau ditentukan sendiri oleh peneliti atau menurut pertimbangan pakar (Danim dkk. 2012)  Jenis pendekatan teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu jenis sampling kuota. METODE PENGUMPULAN SAMPEL  Metode pengumpulan sampel dalam penelitian ini adalah dengan tekhnik nonprobability sampling yaitu teknik pengambilan sampel dengan tidak memberikan peluang yang sama dari setiap anggota populasi (Hidayat. . 2009).

Ibu nifas yang alamatnya dapat dijangkau oleh peneliti 4. Ibu nifas yang dilakukan hecting perineum dengan laserasi derajat 1 dan 2 3. Ibu nifas fisiologis hari ke-1 yang melahirkan PKM Karo Tomuan 2. Ibu nifas yang tidak merokok. bu nifas yang bersedia mengisi informed consent penelitian .Dimana jumlah sampel telah ditentukan sebanyak 30 orang terdiri atas 15 untuk kelompok kasus dan 15 orang untuk kelompok kontrol dengan memperhatikan kriteria inklusi sebagai berikut: 1. tidak obesitas dan tidak DM 5.

. F.       Pelaksanaan Penelitian Jenis pendekatan dalam pelaksanaan penelitian ini adalah menggunakan teknik intervensi dan observasi.E.       Bahan dan Alat Instrument pengumpulan data dalam penelitian ini adalah menggunakan format evaluasi intervensi dan lembar checklist yang tercantum dalam lampiran.

Analisis ini dilakukan untuk mendeskripsikan variabel penelitian dengan membuat tabel distribusi frekuensi dan sebaran data dalam bentuk tabel. standar deviasi. Tujuan dari analisis univariat adalah untuk menjelaskan karakteristik masing-masing variabel yang diteliti. . Analisis Bivariat Pada analisis bivariat ini akan mengkaji masing-masing variabel antara kelompok kontrol dan kelompok yang diberikan betadin dengan menggunakan uji t dua sampel bebas (independent samples t-test) dengan program SPSS versi 22. b.G. Metode Analisi Data a. Data yang ditampilkan dalam analisa univariat adalah distribusi frekuensi dari karakteristik sampel. dan nilai rata-rata. Analisi Univariat Analisis univariat menghasilkan distribusi dan persentase dari tiap variabel.