PANCASILA SEBAGAI

SISTEM FILSAFAT
Dian Kus Pratiwi, SH, MH.

Pengertian sistem dan unsur- unsurnya Menurut Kaelan. Bagian-bagian tersebut mempunyai fungsi sendiri-sendiri 3. saling ketergantungan 4. Terjadi dalam lingkungan yang komplek . Kesemuanya dimaksudkan untuk mencapai suatu tujuan bersama (tujuan sistem) 5. Suatu kesatuan bagian-bagian 2. sistem adalah suatu kesatuan bagian-bagian yang saling berhubungan dan saling bekerjasama untuk suatu tujuan tertentu dan secara keseluruhan merupakan suatu kesatuan yang utuh Ciri-ciri: 1. Saling berhubungan.

Pancasila dan Sistem PnPancasila Pancasila terdiri atas bagian-bagian. Isi dari ke lima sila ini pada hakekatnya merupaka suatu kesatuan dan keutuhan. tujuan tertentu yang ada dalam pancasila yakni suatu masyarakat yang adil dan makmur berdasar Pancasila. yaitu sila-sila Pancasila. . pada setiap sila pada hakikatnya merupakan suatu asas sendiri. fungsi sendiri-sendiri.

sesama mnusia. serta hubungan dengan bangsa dan negaranya . saling berhubungan. diri sendiri. masyarakat.  Sebagai suatu sistem pansaila juga dapat dipahami dari pemikiran dasar yang terkandung dalam pancasila dalam hubungannya dalam Tuhan YME. Sila-sila yang ada dalam Pancasila merupkan sistem filsafat yang pada hakekatnya merupakan suatu kesatuan organik. Antara sila-sila Pancasila saling berkaitan. bahkan saling mengkualifikasi.  Sehingga bagian-bagian (sila-sila) saling berhubungan secara erat yang membentuk struktur yang menyeluruh.

asas-asas. hukum dan sebagainya daripada segala yang ada di alam semesta ataupun mnengenai kebenaran dan arti adanya sesuatu .Filsafat dan Pancasila Filo: “cinta” dalam arti seluas-luasnya Filsafat Shopia: kebijaksanaan Dalam arti praktis filsafat mengandung makna alam berpikir/alam pikiran. Berfilsafat ialah berpikir secara mendalam atau radikal (akar) W.J.S. Poerwodarminto mengartikan filsafat sebagai pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai sebab-sebab.

Kesatuan Sila-Sila Pancasila sebagai sistem Filsafat  Pada hahekatnya merupakan suatu nilai sehingga merupakan sumber dari segala penjabaran norma (baik norma hukum. rasional. maupun norma kenegaraan lainya). . moral. agama. mendasar.  Dalam filsafat pancasila terkandung didalamnya suatu pemikiran-pemikiran yang bersifat kritis. sistematis dan komprehensif (menyeluruh) dan sistem pemikiran ini merupakan suatu nilai.

sehingga merupakan suatu pedoman. Nilai-nilai dalam Pancasila kemudian dijabarkan dalam suatu norma yang jelas. Dalam hal ini pancsila berkedudukan sebagai sumber dari segala sumber hukum. Pancasila juga merupakan cita-cita moral yang luhur yang berasal dari causa materialis Pancasila .  Norma tersebut meliputi:  Norma moral : yang berkaitan dengan tingkah laku manusia yang dapat diukur dari sudur baik maupun buruk  Norma hukum : suatu sistem perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.

. Pancasila bukanlah merupakan pedoman yang langsung bersifat praktis. asalkan dipelajari secara ilmiah baik sebagai teori maupun sistem kefilsafatan. moral. maupun hukum dalam kehidupan kenegaraan dan kebagnsaan.  Selain itu Pancasila adalah filsafat (baik secara pemikiran maupun metode berpikir) yang menawarkan cara-cara untuk mengatasi berbagai persoalan pribadi. masyarakat. melainkan harus dijabarkan lebih lanjut dalam norma-norma etika. bangsa dan negara.

Sebab dua unsur pokok yang yang harus ada sudah terpenuhi yakni sbg Keyakinan hidup dan Tujuan hidup yang dicita-ditakan telah terpenuhi . Pancasila telah dapat memenuhi persyaratannya.Pancasila sebagai Pandangan Hidup  Ditinjau dari segi syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh setiap filsafat agar dirinya dapat dinyatakan sebagai Pandangan Hidup.

hal ini karena masing-masing silanya kait mengkait. dimana ke lima silanya tersusun secara harmonis . Menurut Roeslan Abdulghani: di dalam filsafat Pancasila telah memenuhi segala persyarayan untuk disebut world view. hingga benar-benar unfied view. suatu kesatuan yang bersifat sistemik  Pendapat ini dikuatkan oleh Muhammad Yamin yang menyatakan bahwa Pancasila benar-benar suatu sistem filsafat.

atau tata pikiran dari seseorang atau sekelompok manusia  Idiologi adalah satu cita-cita yang teratur dan sistematis . tata penda[at. dapat didefinisikan sbg ilmu tentang keyakinan- keyakinan atau gagasan-gagasan  Idiologi adalah suatu doktrin. khayalan.Pancasila sebagai Ideologi Negara  Pengertian Ideologi  “ideo” : pemikiran. keyakinan  “logos” logika. ilmu pengetahuan. konsep.

Keyakninan. ada tiga unsur esensial yang termuat di dalam idiologi : 1. Mitos. Loyalitas. dalam arti bahwa setiap idiologi menunjuk adanya gagasan-gagasan vital yang sudah diyakini kebenarannya untuk dijadikan dasr dan arah strategik bagi tercapainya tujuan yang telah ditentukan 2. dalam arti bahwa setiap idiologi selalu menuntut keterlibatan optimal atas dasar loyalitas dari para subjeck pendukungnya .Unsur-unsur  Koento Wibisono. dalam arti bahwa setiap konsep selalu memitoskan suatu ajaran yang secara optimik dan deterministik pasti akan menjamin tercapainya tujuan melalui cara-cara yang telah ditentukan pula 3.

 Untuk mewujudkan cita-cita dan tujuan inilah bangsa Indonesia memerlukan perjuangan dan pengorbanan yang optimal. cara yang digunakan untuk memperjuangkan tujuan hidup dalam filsafat Pancasila inilah tercermin dalam sila ke empat .  Berpijak pada ketiga prinsip ini bangsa Indonesia merumuskan tujuan hidupnya sebagaimana tergambar dalam sila ke lima.  Ketiga keyakinan fundamental ini adalah bahwa bangsa Indonesia menyakini dirinya sebagai mahluk Tuhan (homo Davinan). dalam filasat Pancasila unsur keyakinan hidup tergambar dalam sila pertama. dengan cara yang efektif sesuai dengan ketiga keyakinan tsb. kedua dan ketiga. sbg mahluk sosial (homo socius). dan menyakni dirinya sbg mahluk individu (homo individualicum).Pancasila sebai Idiologi negara Secara eksplisit Pancasila telah memenhi ketiga unsur tersebut.

 Menurut Noor. M. dan diarahkan dalam mencapai tujuannya dengan Pancasila . Bakry  Pancasila dinyatakan sebagai idiologi negara NKRI dengan tujuan bahwa segala sesuatu dalam bidang pemerintahan ataupun semua yang berhubungan dengan kehidupan kenegaraan harus dilandasi dalam titik tolaknya. dibatasi dalam gerak pelaksaannya.

Pancasila tidak serta merta kemudian menjadi idiologi yang tertutup rapat. yang sama sekali tidak mau menerima penafsiran- penafsiran baru.Pancasila sebagai Idiologi Terbuka  Sebagai idiologi sekaligus sebagai pengarah perjalanan Bangsa. .  Hanya dengan sikap membuka diri dari berbagai penafsiran atau intepretasi baru dalam operasionalitasnya yang sesuai dengan tuntutan dan perkembangan zamanlah Pancasila dapat memertahankan relevansinya dnegan kebutuhan bangsa dan negara yang senantiasan berkembang dengan cepatnya.

Dimensi realitas. Pancasila dirumuskan kan benar-benar menampilkan diri sbg kristalisasi dari nilai- nilai luhur yang dimiliki dan diyakini oleh bangsa Indonesia . dlama arti idiologi Pancasila benar2 mencerminkan realitas yang hidup dan berkembang dlama masyarakat bangsa Indonesia.Pancasila sebagai Idiologi terbuka  Pancasila dapat menunjukan ketiga persyaratan dimana posisinya sebagai sebuah idiologi terbuka 1.

dalam arti idialisme yang terkandung dalamPancasila mampu menggugah harapan.2. luwes. terbuka bagi intepretasi baru hingga ia tetap aktual dan fungsional dalam mengantisipaso setiap tuntutan zaman tanpa hanyut dan tenggelam dalam arus perubahan yang tidak terarah. Dimiensi Idialisme. 3. memberikan optimesme dan motivasi kepada para pendukungnya. hingga gagasan vital yang terkandung didalamnya bukan sekedar utopia melainkan sesuatu yang pada suatu ketika dapat diwujudkan secara konkrit dan riil dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dimensi fleksibilitas. dalam arti bahwa idiologi Pancasila harus memiliki sifat flekxibel. .

sumber dan pedoman bago pembuatan kebijakanaan politik Negara Indonesia.Pancasila dan Politik Negara  Penerapan idiologi dibidang kehidupan bernegara adalah berbentuk politik. Kalau ideologi bersifat asasi atau prinsip. maka politik kebijaksanaan (pelaksanaan idiologi dengan waktu dan tempat)  Idiologi pancasila harus dijadikan dasar.  Pancasila harus dijadikan satu-satunya sumber legitimasi politik dalam mengatur seluruh kehidupan berbangsa dan bernegara .