You are on page 1of 44

Batu Saluran Kemih

Oleh : Syifa suciana putri, S.ked


11101-065

Pembimbing :
dr. Amdasmar, Sp. B
dr. Eko Hamidianto, Sp.B
dr. Ramzi Asrial, Sp.B (K) V
ANATOMI
Ginjal :
berbentuk seperti kacang
terletak retroperitoneal
End-arteries
ginjal terdiri dari 600.000 nefron yg berfungsi
sebagai filter
Ureter :
saluran yang panjangnya 25 sampai 30 cm, yang
berjalan dari ginjal sampai kandung kemih
Vesika urinaria :
salah satu kantong berotot yang dapat
mengempis dan berdilatasi.
sebagai tempat penyimpanan kemih dan
mendorong kemih keluar dari tubuh melalui uretra.
Uretra :
3,5- 4 cm cm dan 20 cm
Batu saluran kemih
terbentuknya batu yang
disebabkan oleh pengendapan
substansi yang terdapat dalam
air kemih yang jumlahnya
berlebihan atau karena faktor
lain yang mempengaruhi daya
larut substansi.
Insidensi
di negara berkembang banyak
ditemukan batu buli-buli sedangkan
di negara maju lebih banyak
dijumpai batu saluran kemih bagian
atas (ginjal dan ureter)
Prevalensi rata-rata di seluruh dunia
1-12 %
usia 35-45 tahun
Laki laki-perempuan rasio 3:1
ETIOLOGI
FAKTOR INTRINSIK :
Herediter (keturunan) :
Faktor risiko yang lebih tinggi mungkin
karena kombinasi dari predisposisi
genetik dan eksposur lingkungan
yang lama
Umur : Penyakit ini paling sering
didapatkan pada usia 30-50 tahun

Jenis kelamin : Jumlah pasien laki-laki


tiga kali lebih banyak dibandingkan
dengan pasien perempuan
FAKTOR EKSTRINSIK
Asupan air : Kurangnya asupan
air dan tingginya kadar mineral
kalsium meningkatkan insiden
batu saluran kemih.
Geograf
Iklim dan temperatur
Diet : purin, oksalat, dan kalsium
mempermudah terjadinya
penyakit batu saluran kemih.
Pekerjaan : sedentary life.
TEORI PEMBENTUKAN BATU
TEORI NUKLEASI
Batu terbentuk di dalam urine karena adanya
inti batu sabuk batu (nukleus). Partikel-partikel
yang berada dalam larutan yang terlalu jenuh
(supersaturated) akan mengendap di dalam
nukleus itu sehingga akhirnya membentuk batu.

TEORI MATRIKS
Matriks organik terdiri atas serum/protein urine
(albumin, globulin, dan mukoprotein) merupakan
kerangka tempat diendapkannya kristal-kristal
batu.
PENGHAMBAT KRISTALISASI
Urine orang normal mengandung zat
penghambat pembentuk kristal,
antara lain : magnesium, sitrat,
pirofosfat, mukoprotein dan beberapa
peptida. Jika kadar salah satu atau
beberapa zat itu berkurang, akan
memudahkan terbentuknya batu di
dalam saluran kemih.
1. BATU KALSIUM
Dijumpai lebih dari 80% batu saluran kemih,
baik yang berikatan dengan oksalat maupun
fosfat.
Etiologi :
- Hiperkalsiuri : kalsium dalam urine lebih besar
dari 250-300 mg/24 jam
- Hiperoksaluri : ekskresi oksalat urine melebihi
45 gram per hari
- Hiperorikosuria, yaitu kadar asam urat dalam
urine melebihi 850 mg/24 jam.
- Hipersitraturi
- Hipomagnesuria
2. BATU STRUVIT
- Disebut juga batu infeksi.

- Kuman penyebab adalah kuman


golongan pemecah urea atau urea
splitter yang dapat menghasilkan enzim
urease dan mengubah pH urine menjadi
basa melalui hidrolisis urea menjadi
amoniak. Suasana basa ini memudahkan
garam-garam magnesium, amonium,
fosfat dan karbonat untuk membentuk
batu magnesium amonium fosfat (MAP).
Kuman-kuman yang termasuk
pemecah urea diantaranya
adalah : Proteus spp, Klebsiella,
Serratia, Enterobakter,
Pseudomonas dan Stafilokokus.
E.coli bukan termasuk pemecah
urea.
3. BATU URAT
- merupakan 5-10% dari seluruh batu saluran kemih.

- Penyakit ini banyak diderita oleh pasien dengan


penyakit gout, penyakit mieloproliferatif, pasien
yang mendapatkan terapi antikanker, dan yang
banyak menggunakan obat urikosurik.Obesitas,
peminum alkohol, dan diet tinggi protein
mempunyai peluang besar untuk mendapatkan
penyakit ini
Faktor yang menyebabkan
terbentuknya batu asam urat adalah :
1. urine yang terlalu asam (pH urine <
6),
2. volume urine yang jumlahnya sedikit
(< 2 liter/hari) atau dehidrasi,
3. hiperurikosuri atau kadar asam urat
yang tinggi.

Bersifat radiolusen, sehingga pada


pemeriksaan PIV tampak sebagai
bayangan filling defect
4. Batu yang lain-lain
Batu sistin, batu xanthin, batu triamteren, dan
batu silikat sangat jarang dijumpai.

Batu sistin didapatkan karena kelainan


metabolisme sistin, yaitu kelainan absorpsi sistin
di mukosa usus.
Batu xantin terbentuk karena penyakit bawaan
berupa defsiensi enzim xanthin oksidase.
DIAGNOSIS
Anamnesis
keluhan
Penyakit terdahulu
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fsik umum : hipertensi, febris,
anemia, syok
Pemeriksan fsik khusus urologi
Sudut kosto vertebra
Supra simfsis
Genitalia eksterna
Colok dubur
Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan urin rutin untuk melihat
eritrosituri, lekosituria, bakteriuria
(nitrit), pH urin dan kultur urin
Pemeriksaan darah berupa hemoglobin,
lekosit, ureum dan kreatinin.
Urinalysis : pH > 7.5 : lithiasis karena
infeksi dan pH < 5.5 : lithiasis karena
asam urat
Pencitraan
Pemeriksaan rutin meliputi foto polos perut (BNO),
dengan pemeriksaan ultrasonografi atau
intravenous pyelography (IVP)
Pembacaan IVP :
Menit Uraian

0 Foto Polos Perut


5 Melihat fungsi ekskresi ginjal. Pada ginjal normal system pelvikaliseal sudah
tampak
15 Kontras sudah mengisi ureter dan buli-buli
30 Foto dalam keadaan berdiri, dimaksudkan untuk menilai kemungkinan
terdapat perubahan posisi ginjal (ren mobilis)
60 Melihat keseluruhan anatomi saluran kemih, antara lain: filling
defect,hidronefrosis, double system, atau kelainan lain.
Pasca Pada buli-buli diperhatikan adanya identasi prostat, trabekulasi, penebalan
miksi otot detrusor, dan sakulasi buli-buli.
Menilai sisa kontras (residu urine) dan divertikel pada buli-buli.
komplikasi Diagnosa banding
1. Obstruksi: Pielonefritis akut
Hidroureter,hidronefrosis Infeksi saluran kemih
2. Infeksi: Sistitis, Nekrosis piala ginjal
pionefrosis,urosepsis Tumor ginjal
3. Gagal ginjal akut dan
kronis
BATU GINJAL &URETER
Gejala klinis
Rasa nyeri yang berat dan tiba-tiba di daerah
pinggang yang menjalar sampai pangkal paha
Biasanya ada keluhan mual dan muntah.
Hematuria. Hal ini terjadi karena batu
mengiritasi saluran kemih sehingga
menimbulkan luka
Perasaan terbakar di saluran kemih saat
kencing
Rasa sangat ingin kecing.
Demam
Pencegahan
Minum banyak air (8-10 gelas sehari)
Minum air putih ketika bangun tidur
di subuh hari
Jangan menahan kencing
Pola makan seimbang
Berolahraga
menjaga berat badan tetap ideal.
Penatalaksanaan
Medikamentosa
Ditujukan untuk batu yang ukurannya
< 5 mm, karena batu diharapkan
dapat keluar spontan. Terapi yang
diberikan bertujuan mengurangi
nyeri, memperlancar aliran urine
dengan pemberian diuretikum, dan
minum banyak supaya dapat
mendorong batu keluar.
ESWL (Extracorporeal
Shockwave Lithotripsi)
Indikasi: Kontraindikasi:
Batu saluran kemih Pasien dengan
hipertensi yang tidak
dengan diameter 5-
dikontrol
20 mm
Pasien dengan
Fungsi ginjal masih gangguan pembekuan
baik darah
Batu terletak di Pasien dengan
ginjal dan ureter gangguan fungsi ginjal
berat
Wanita hamil dan anak-
anak.
Ilustrasi
ESWL
A) sebelum
penembakan; B)
gelombang kejut
yang difokuskan
pada ginjal; C)
tembakan
dihentikan
hingga serpihan
batu cukup kecil
untuk dibuang
secara natural
bersama urine.
Endourologi
PNL (Percutaneous
Nephro Litholapaxy)
Litotripsi
Ureteroskopi atau
uretero-renoskopi
Ekstraksi Dormia
Bedah Laparoskopi
Bedah terbuka
Pielolitotomi atau nefrolitotomi :
mengambil batu di saluran ginjal
Uretrolitotomi : mengambil batu di
uretra.
Ureterolitotomi : mengambil batu di
ureter.

Vesikolitotomi : mengambil batu di


vesica urinaria
PEDOMAN PENATALAKSANAAN
BATU CETAK GINJAL/
STAGHORN
Modalitas terapi untuk batu cetak
ginjal adalah:
PNL monoterapi
Kombinasi PNL dan ESWL
ESWL monoterapi
Operasi terbuka
Kombinasi operasi terbuka dan ESWL
BATU KANDUNG KEMIH
(VESIKOLITHIASIS)
suatu keadaan
ditemukannya batu di
dalam vesika urinaria.

Predisposisi :
obstruksi infravesika,
neurogenic bladder,
infeksi saluran kemih (urea-splitting
bacteria),
adanya benda asing,
Divertikel kandung kemih.
Gejala
Rasa nyeri waktu miksi (disuria, stranguria)
biasanya pada akhir miksi,
dirasakan refered pain pada ujung penis,
skrotum, perineum, pinggang, sampai kaki.
Hematuria diserta urine yang keruh
Pancaran urine tiba-tiba berhenti dan keluar
lagi pada perubahan posisi
Polakisuria (sering miksi)
Pada anak nyeri miksi ditandai oleh
kesakitan, menangis, menarik-narik penis,
miksi mengedan sering diikuti defekasi atau
prolapsus ani
Penatalaksanaan

Vesikolitotripsi
1. Elektrohidrolik (EHL)
Merupakan salah satu sumber energi yang
cukup kuat untuk menghancurkan batu
kandung kemih.
Masalah timbul bila batu keras maka akan
memerlukan waktu yang lebih
lama dan fragmentasinya inkomplit.
EHL tidak dianjurkan pada kasus batu besar
dan keras.
Angka bebas batu : 63-92%.
Penyulit : sekitar 8%, kasus ruptur kandung
kemih 1,8%.
Waktu yang dibutuhkan : 26 menit.
2. Ultrasound
Litotripsi ultrasound cukup aman
digunakan pada kasus batu kandung
kemih, dapat digunakan pada batu
besar, dapat menghindarkan dari
tindakan ulangan dan biaya tidak
tinggi.
Angka bebas batu : 88% (ukuran batu
12-50 mm).
Penyulit : minimal (2 kasus di konversi).
Waktu yang dibutuhkan : 56 menit.
3. Laser 4. Pneumatik
Yang digunakan adalah Litotripsi pneumatik
Holmium YAG. Hasilnya hasilnya cukup baik
sangat baik pada kasus digunakan sebagai terapi
batu besar, tidak batu kandung kemih.
tergantung jenis batu.
Lebih efsien
Kelebihan yang lain
dibandingkan litotripsi
adalah masa rawat
singkat dan tidak ada ultrasound dan EHL pada
penyulit. kasus batu besar dan
Angka bebas batu : keras.
100%. Angka bebas batu : 85%.
Penyulit : tidak ada. Penyulit : tidak ada.
Waktu yang dibutuhkan : Waktu yang dibutuhkan :
57 menit. 57 menit.
Vesikolitotomi perkutan Vesikolitotomi terbuka
Merupakan alternatif terapi Diindikasikan pada
pada kasus batu pada anak-
anak atau pada penderita batu dengan stone
dengan kesulitan akses burden besar, batu
melalui uretra, batu besar
atau batu mltipel. keras, kesulitan akses
Tindakan ini kontraindikasi melalui uretra,
riwayat keganasan kandung tindakan bersamaan
kemih, riwayat operasi
daerah pelvis, radioterapi, dengan prostatektomi
isk atau dinding abdomen. atau divertikelektomi.
Angka bebas batu : 85-100%.
Angka bebas batu :
Waktu yang dibutuhkan : 40-
100 menit. 100%.
BATU URETRA
Batu yang umumnya berasal dari batu
kandung kemih yang turun ke uretra.
Sangat jarang batu uretra primer
kecuali pada keadaan stasis urin yang
kronis dan infeksi seperti pada striktur
uretra atau divertikel uretra.
Dua pertiga batu uretra terletak di
uretra posterior dan sisanya di uretra
anterior.
Gejala
Keluhan
tidak bergejala
disuria,
aliran mengecil atau retensi urin.
Jika batu berasal dari ureter yang turun ke buli-buli
kemudian ke uretra,
pasien mengeluh nyeri pinggang sebelum
mengeluh kesulitan miksi ( riwayat kolik ).
Nyeri dirasakan pada glands penis atau pada
tempat batu berada.
Batu yang berada pada uretra posterior,
nyeri dirasakan di perineum atau rektum.
Penatalaksanaan

Batu pada meatus uretra externus atau fossa


navicularis dapat diambil dengan forsep setelah
terlebih dahulu dilakukan pelebaran meatus uretra
(meatotomi).
batu kecil di uretra anterior dapat dicoba dikeluarkan
dengan melakukan lubrikasi terlebih dahulu dengan
memasukkan jelly dan lidokain 2% intrauretra
dengan harapan batu dapat keluar spontan.
Batu yang masih berukuran cukup besar dan berada
di uretra posterior didorong terlebih dahulu ke buli-
buli kemudian dilakukan litotripsi.
Batu yang yang besar dan menempel di uretra
sehingga berpindah tempat meskipun telah
dilubrikasi, mungkin perlu dilakukan uretrolitotomi
atau dihancurkan dengan pemecah batu transuretra.
Operasi per endoskopik :
Dengan berkembangnya teknologi, beberapa
alat dapat digunakan untuk batu uretra.
Laser Holmium merupakan salah satu
modalitas yang paling sering digunakan
untuk menangani kasus batu uretra
khususnya yang impacted diluar operasi
terbuka. Angka bebas batu 100%, tanpa
penyulit.
Modalitas lain yang digunakan adalah
litrotripsi pneumatik, angka bebas batu
100%, penyulit tidak disebutkan.
Operasi terbuka :
Pada kasus-kasus batu uretra
impacted, adanya striktur uretra,
divertikel uretra, batu di uretra
anterior/fossa navikularis, merupakan
indikasi untuk operasi terbuka. Angka
bebas batu 100%, penyulit berupa
infeksi, fstel uretrokutan
Prognosis
tergantung dari faktor-faktor ukuran
batu, letak batu, dan adanya infeksi
serta obstruksi. Makin besar ukuran
suatu batu, makin buruk
prognosisnya.
Letak batu yang dapat menyebabkan
obstruksi dapat mempermudah
terjadinya infeksi