You are on page 1of 115

SOSIALISASI PERPAJAKAN

PTN BADAN HUKUM UNAIR

Materi
PPh ps 21/26

OLEH : Team TAX TASK FORCE PAJAK UNAIR

UNIVERSITAS AIRLANGGA
23 MARET 2017 1
PELAYANAN UMUM
PUBLIC vs PRIVATE
PUBLIC (PEMERINTAH) PRIVATE (KORPORASI)

MOTIVASI = MOTIVASI =
MENYEDIAKAN LAYANAN KEUNTUNGAN (PROFIT)
KPD MASYARAKAT
PENDANAAN= DARI PENDANAAN = DARI
PENERIMAAN PAJAK MASYARAKAT
PENGELOLAAN : PENGELOLAAN = TIDAK
MELALUI SISTEM APBN MELALUI SISTEM APBN
GAGASAN IDEAL
(LAYANAN UMUM TERTENTU)

KUALITAS : TINGGI
HARGA : SHARING
LEMBAGA : PEMERINTAH
PENGELOLAAN : MODEL
KORPORASI
4
Karakteristik BLU
1. Berkedudukan sebagai lembaga pemerintah
(bukan kekayaan negara yang dipisahkan)
2. Menghasilkan barang/jasa yang seluruhnya/
sebagian dijual kepada publik
3. Tidak bertujuan mencari keuntungan (laba)
4. Dikelola secara otonom dengan prinsip
efisiensi dan produktivitas ala korporasi
5. Rencana kerja/anggaran dan pertanggung
jawaban dikonsolidasikan pada instansi induk
6. Pendapatan & sumbangan tidak dpt langsung
dipergunakan harus masuk PNBP
7. Pegawai dapat terdiri dari PNS &Profesional
Non-PNS
8. Bukan sebagai subyek pajak
Karakteristik PTN BH
1. Berkedudukan sebagai lembaga pemerintah
(bukan kekayaan negara yang dipisahkan)
2. Menghasilkan barang/jasa yang seluruhnya/
sebagian dijual kepada publik
3. Tidak bertujuan mencari keuntungan (laba)
4. Dikelola secara otonom dengan prinsip
efisiensi dan produktivitas ala korporasi
5. Rencana kerja/anggaran dan pertanggung
jawaban dikonsolidasikan secara Mandiri
6. Pendapatan & sumbangan dpt digunakan
langsung
7. Pegawai dapat terdiri dari PNS &Profesional
Non-PNS
8. Selisih Lebih sebagai subyek pajak
MEKANISME KERJA PADA
KANTOR PELAYANAN PAJAK
SUBYEK DAN OBYEK MEMENUHI SYARAT WAJIB

NPWP/ NPPKP

SURAT PEMBERITAHUAN (SPT)

PENELITIAN PEMERIKSAAN

STP SKPKB, N,LB,KBT

PEMBAYARAN/ PENAGIHAN

PENINJAUAN KEBERATAN
KEMBALI & BANDING

TERPENTING PENERIMAAN 7
Puspenpa 2000 KUP- 30
WAJIB PAJAK
PASAL 1 ANGKA 1 UU KUP

ORANG PRIBADI

PEMUNGUT /
PEMOTONG PAJAK
BENDAHARA PTN BH

BADAN

8
PTN BADAN HUKUM
 Mengapa PTN BH – alasan utama – meningkatkan efisiensi dan
efektivitas pelayanan publik.
 Paradigma baru:
• Let the Managers Manage – dengan membiarkan pimpinan
PTN BH pengelola jasa-jasa pemerintah untuk menggunakan
anggaran APBN & Non APBN dengan cara yang paling efisien
• Make the Managers Manage – memastikan bahwa PTN BH
menghasilkan kinerja
 yang OptimalPengaturan PTN BH – Sesuai Misi Utama
Perguruan Tinggi Mencari, Menemukan, Mendiseminasikan dan
menjujung tinggi kebenaran.
Dasar Hukum PTN Badan Hukum

• PP No. 58/2013 tidak sesuai dengan pelaksanaan
otonom PTN Badan Hukum yang memerlukan
Fleksibilitas dan Akuntabilitas pendanaan dalam
pelaksanaannya. ;

• PP No. 26/2015 tentang Bentuk dan Mekanisme
Pendanaan PTN Badan Hukum;

• UU. No 12/2012 Pasal 89(3) tentang Pendidikan Tinggi.
APBN/APBD

DIKELOLA

INSTANSI PEMERINTAH PUSAT/DAERAH
LEMBAGA NEGARA

MELALUI SUATU
KEGIATAN

BENDAHARA
WAJIB MELAK.PEMOTONGAN DAN
PEMUNGUTAN PAJAK PUSAT

TERMASUK PENGERTIAN BENDAHARA
ADALAH PEMEGANG KAS DAN PEJABAT
LAIN YG MENJALANKAN FUNGSI YG SAMA
Kewajiban Mendaftarkan Diri
Pasal 2 ayat (1) UU KUP

Bendahara
Bendahara
yangMengelola
yang MengelolaAPBN/APBD
APBN/APBD

Wajib
Wajib
MendaftarkanDiri
Mendaftarkan Diri
0
06 .0 0 AR
-6 JAB
8
34.
P
RO
. 8 NP 1
. 343 AN
N P NO
G A
.0
0 0 A
N S
ETA K IT
HA
N LE
K
DA
. BA MP
D
BENN C
O
A JO A
JAL YORE ABAY UntukMendapatkan
Untuk MendapatkanNPWP
NPWP
L R
M U A SU
T
KO
DIREKTORAT
JENDERAL
PAJAK

E-REGISTRATION
TATA CARA PENDAFTARAN

• Manual : Kep. Dirjen Pajak No.
KEP-161/PJ./2001 diperbarui Kep
160/PJ./2007 :Jk wkt pendaftaran & pelaporan
kegiatan usaha.

• E-Registration:
- Keputusan Direktur Jenderal Pajak
Nomor KEP-173/PJ./2004 tanggal 29
November 2004.
- Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak
Nomor SE-02/PJ./2004 tanggal 19 Januari
2005.
Akses ke Aplikasi E-Reg.

• Internet :
http://www.pajak.go.id
• Intranet:
- KPP tempat WP seharusnya WP hrs
terdaftar membawa
- KPP/Kanwil/Unit Kantor DJP persyaratan
Lainnya lengkap
SURAT KETERANGAN TERDAFTAR
SEMENTARA (SKTS)

• WP daftar langsung memperoleh NPWP;
• Hanya berlaku 30 (tiga puluh) hari kerja;
• Hanya berlaku untuk pembayaran, pemotongan,
dan pemungutan pajak oleh pihak lain;
• Tidak dapat dipergunakan untuk melakukan
kegiatan di luar bidang perpajakan.
Account Representatives

Wajib
Pajak
 Sistem billing adalah sistem yang memfasilitasi penerbitan kode billing dalam
rangka pembayaran atau penyetoran penerimaan negara secara elektronik;

 Tanpa perlu membuat Surat Setoran (SSP, SSBP, SSPB) manual..!!!

 Hanya dengan menyampaikan “Kode Billing”, pembayaran pajak, bea dan Cukai,
dan PNBP (termasuk IWP dll) selesai dengan mudah.

Kode
Billing

Via INTERNET

32
KODE BILLING
 Merupakan kode identifikasi dengan format numerik yang terdiri dari
15 digit.
 Diterbitkan oleh sistem billing dalam Simponi dan pajak.
 Mewakili data rincian setoran penerimaan Negara dalam rangka
melakukan pembayaran atau penyetoran penerimaan Negara.
 Memiliki masa berlaku (valid) selama 3 hari sejak penerbitan kode
billing.

8 2 0 1 4 0 1 2 8 0 0 0 0 2 3

Jenis
Penerimaa Tanggal Penerbitan Kode Billing
Nomor Urut Billing
n Negara (YYYY – MM – DD)

33
DASAR HUKUM
KEWAJIBAN PEMOT/PEMUNGUTAN BENDAHARA PTN BH UNAIR

• UU No.6 Tahun 1983 sttd UU UU No. 16 Tahun 2009 (KUP)
UU • UU No.7 Tahun 1983 sttd UU No.36 Tahun 2008 (PPh)
• UU No.8 Tahun 1983 sttd UU No.42 Tahun 2009 (PPN & PPn BM
-PP No.74 Tahun 2011 (HAK & KEWAJIBAN WP)
PP -PP No. 80 Tahun 2010 (Peraturan PNS, ABRI, POLRI)
-PP 34 Tahun 2016 Penjualan Tanah/Bangunan Baru
-PP 41 Tahun 2016 PPh 21 kreteria tertentu
-PMK No. 252/PMK.03/ 2008 (PETUNJUK PELAKS PEMOT PPh 21/26)
PER -PMK No. 101/PMK.010/2016 (PENYESUAIAN PTKP TH 2016)
-PMK No.102/PMK.010/2016 ( PTKP HARIAN TH 2016 )
MENKEU -PMK No.262/PMK.03/2010 ( PEMOT PPh 21 PNS,TNI,POLRI PEJ NEG)
-PMK No.107/PMK.010/2015 (Petunjuk pemungutan PPh 22)
-PMK No.141/PMK.03/201`5 (JENIS JASA LAIN yg kena PPh 23)
-PMK No.16/PMK.03/2010 (PESANGON dan MANFAAT PENSIUN)

PER -PERDIRJEN No.32/PJ/2015 (Pedoman Tatacara Pemot. PPh Ps.21)
DIRJEN -PERDIRJEN No.31/PJ/2015 (Pemungutan PPh Ps 22)
-PERDIRJEN No.14/PJ/2015 (Formulir SPT Masa Ps4(2).Ps 21,22, 15)
Dit.P2Humas 20
DANA APBN/APBD & BO PTN BH UNAIR

SETOR
BANK/
KANTOR POS BENDAHARAWAN PEMERINTAH
SSP

REKANAN
LAPOR PAJAK
* BADAN HUKUM USAHA
* ORANG PRIBADI
SPT Masa
*

KE
KPP PRATAMA SBY GUBENG
NPWP BENDAHARAWAN UNAIR
00.005.564.0 – 606.000
DASAR HUKUM PP 80/2010
SOSIALISASI PERPAJAKAN 21 21
( PPH PS 21 FINAL)
OBJEK PEMOTONGAN/PEMUNGUTAN PPh
dana dari APBN/ DIPA ( BP PTN BH )
REKANAN HARUS NPWP

PEMUNGUTAN PEMOTONGAN
PPh PS 22 PPh PS 23/26
PEMOTONGAN PEMOTONG PEMUNGUT
PPh PS 21/26 PPh PPN/
KALAU TIDAK KALAU TIDAK
PS 4 AYAT (2) PPn BM
MEMUNGUT MEMOTONG
HARUS SKB HARUS SKB

KE
KPP PRATAMA SBY GUBENG
NPWP BENDAHARAWAN UNAIR
00.005.564.0 – 606.000
DASAR HUKUM UU PPH,PP 80/2010
( KEP MEN 563/KMK.03/2003)
DANA MASYARAKAT( DAMAS )

SETOR
BANK/
KANTOR POS BENDAHARAWAN NON APBN/DAMAS
SSP

REKANAN/ BISA NON NPWP
LAPOR PAJAK
* BADAN HUKUM USAHA
SPT Masa * ORANG PRIBADI
&Tahunan * TANPA PPN

KE
KPP PRATAMA SBY MULYOREJO
NPWP PTN BADAN HUKUM
73.773.758.5 – 619.000
DASAR HUKUM UU SOSIALISASI
PPH 1984 PERPAJAKAN 23 23
TIDAK FINAL
OBJEK PEMOTONGAN/PEMUNGUTAN PPh
dana dari Masyarakat ( DAMAS )
REKANAN BOLEH TANPA NPWP

PEMOTONGAN PEMOTONGAN
PEMOTONGAN
PPh PASAL 21/26 PPh PASAL 23/26 PPh
PASAL 4 AYAT (2)

KPP PRATAMA SBY MULYOREJO
NPWP PTN BADAN HUKUM
73.773.758.5 – 619.000
DASAR HUKUM UU PPH 1984
TIDAK FINAL
PENERIMA PENGHASILAN YANG
DIPOTONG PPh PASAL 21/26
PENERIMA PENGHASILAN

PEGAWAI TETAP*
PEGAWAI
PEGAWAI TIDAK TETAP

TENAGA AHLI, SENIMAN, ARTIS, PEMBAWA ACARA,
OLARAGAWAN, PENGAJAR, PELATIH, PENCERAMAH,
PENGARANG, PENELITI, PENERJEMAH, AGEN IKLAN,
BUKAN PEGAWAI PENGAWAS/PENGELOLA PROYEK, PEMBAWA PESAN,
PETUGAS PENJAJA BARANG DAGANGAN, PETUGAS
DINAS LUAR ASURANSI, DISTRIBUTOR PERUSAHAAN
MULTILEVEL MARKETING/DIRECT SELLING

PESERTA KEGIATAN
PENERIMA PESANGON, PENSIUN ATAU UANG MANFAAT
PENSIUN, TUNJANGAN HARI TUA ATAU JAMINAN HARI TUA
*PEGAWAI TETAP : PEGAWAI YG MENERIMA/MEMPEROLEH PENGHASILAN DLM JUMLAH TERTENTU SECARA
TERATUR, TERMASUK ANGGOTA DEWAN KOMISARIS & ANGGOTA DEWAN PENGAWAS YG SECARA TERATUR
TERUS MENERUS IKUT MENGELOLA KEGIATAN PERUSAHAAN SECARA LANGSUNG, SERTA PEGAWAI YG
BEKERJA BERDASARKAN KONTRAK UTK SUATU JANGKA WAKTU TERTENTU SEPANJANG PEGAWAI YANG
Dit.P2Humas
BERSANGKUTAN BEKERJA PENUH (FULL TIME) DLM PEKERJAAN TERSEBUT.
25
MEKANISME POTONG/PUNGUT PTN BH UNAIR
PEMOTONG YANG DIPOTONG
(Rumah Sakit) (Subjek Pajak)
MEMBAYAR
Pemberi Hasil Penerima Penghasilan

OBJEK PEMOTONGAN BUKAN OBJEK

Psl 4 (1) & (2) UU PPh Psl 4 (3) UU PPh

KEWAJIBAN PERPAJAKAN
SSP
 POTONG/PUNGUT
Bukti
 SETOR
 LAPOR Potong SPT MASA
PEMOTONGAN PPH PS 21(APBN)
PPh 21 GAJI = DITANGGUNG PEM. PPh 21 =(0%,5%,15%)X PANGKAT X Pengh

Atas penghasilan yang Atas penghasilan yang diterima
diterima Pejabat Negara, oleh Pejabat Negara,
PNS dari APBN PNS, dari APBN/APBD

 
Gaji & tunjangan yang Imbalan harian/Honorarium
terikat dgn gaji

 Imbalan kepada tenaga ahli
Honorarium, uang sidang,

uang lembur, imbalan Imbalan jasa yg dihitung tidak
prestasi kerja, dan berdasar banyak hari
imbalan lainnya
PEMOT PPH PASAL 21 DAMAS
PPh 21 = tarip X Pengh Bruto PPh 21 = 5% X 50% X Pengh Bruto
(tergantung PKP Gaji Pemerintah (Bukan Pegawai)

Atas penghasilan yang Atas penghasilan yang diterima
diterima PNS, oleh selain PNS, NON PNS, dari
dari DAMAS DANA MASYARAKAT

 
Imbalan & tunjangan yang Imbalan harian/HONORARIUM
terikat dgn PNS

 Imbalan kepada tenaga ahli
Honorarium, uang sidang,

uang lembur, imbalan Imbalan jasa yg dihitung tidak
prestasi kerja, dan berdasar banyak hari
imbalan lainnya
SKEMA DASAR PENGENAAN PPh PS. 21
TUKIN DILIHAT PKP PNS TERGANTUNG TARIP
TETAP PNS
BULANAN TARIP XPh BRUTO
PEGAWAI
TETAP NON PNS TARIP X(Ph BRUTO – PTKP)

TUNJANGAN
KINERJA TARIP X (Ph BRUTO – PTKP)

50% X Ph Bruto (kumulatif)
TENAGA AHLI
1 50% x Ph Bruto – PTKP
LAINNYA YG MENERIMA Ph Bulanan*)

BUKAN BERKESINAMBUNGAN*) 2
50% x Ph Bruto
PEGAWAI (kumulatif)
LAINNYA YG Ph TDK BERKESINAMB. Ps.17 (1)a x 50% xPh Bruto

1. Ada NPWP atau tdk ada pengh lain 2. Tdk Ada NPWP atau punya pengh lain

Contoh penghitungan penghasilan Sudiro tahun
takwim 2016:
Ir Sudiro, MSc (gol III/b) Dosen Non PNS ITS, status menikah belum
punya anak. Setiap bulannya memperoleh: Gaji sebesar
Rp5.000.000,00; Tunjangan isteri sebesar Rp 500.000,00; Tunjangan
Untuk
struktural setiapRp400.000,00;
sebesar bulan takwim Tunjangan
menghitung PPh sbb:
khusus sebesar
Rp600.000,00; dan membayar iuran pensiun Rp100.000.
Pengh. bruto sebulan 6.500.000
Pengurangan:
Biaya jabatan 5% (325.000)
Iuran pensiun (100.000)
Penghasilan neto sebulan 6.075.000
Penghasilan neto setahun (x12) 72.900.000
PTKP (K/0) (58.500.000)
PKP 14.400.000
PPh terutang (5% x Rp14.400.000,00) 720.000
PPh terutang sebulan (Rp 720.000/12) 60.000
Dilaporkan dalam SPT Masa PPh Pasal 21 dgn 1721 A2

Contoh penghitungan penghasilan Ahmad Ali th
takwim 2016:
Ahmad Ali SE Pegawai ITS Sekretaris Dir Keuangan , status belum
menikah (TK/0). Setiap bulannya memperoleh: Gaji sebesar
Rp1.300.000,00; Tunjangan struktural sebesar Rp400.000,00(Dibayar
Untuk
dari APBN); setiap
Sebagai bulan takwim
Tambahan menghitung
mendapat PPh sbb:
Tunj Kinerja(TUKIN) dari
Dana DAMAS
Pengh. sebesar
bruto Rp1.700.000,00; dan membayar 3.400.000
sebulan iuran pensiun
Rp50.000.
Pengurangan:
Biaya jabatan 5% (170.000)
Iuran pensiun (50.000)
Penghasilan neto sebulan 3.180.000
Penghasilan neto setahun (x12) 38.160.000
PTKP (K/0) (58.500.000)
PKP NIhIl
PPh terutang (5% x Rp 0,00) Nihil
PPh terutang sebulan (Rp Nihil/12) Nihil
Dilaporkan dalam SPT Masa PPh Pasal 21 dgn 1721 A1, Bila PTKP dari Rp
36.000.000 Naik menjadi Rp 54.000.000/TK-0 Maka PPh yg telah

Contoh penghitungan pengh. Prof DJOKO th takwim
2016:
Prof.Dr Ir Djoko.MSc (gol IV/b) Dosen PNS Tehnik Sipil ITS, status
menikah punya anak 3(K/3). Setiap bulannya memperoleh: Gaji
sebesar Rp7.800.000,00; Tunjangan isteri & Anak sebesar Rp
Untuk setiap
1.500.000,00; bulanstruktural
Tunjangan takwim menghitung PPh sbb:
sebesar Rp1.000.000,00;
Tunjangan khusus sebesar Rp600.000,00; dan membayar iuran
Pengh. bruto sebulan 10.900.000
pensiun Rp300.000.
Pengurang :Biaya jabatan 5% (545.000)
Iuran pensiun (300.000)
Penghasilan neto sebulan 10.055.000
Penghasilan neto setahun (x12) 120.660.000
PTKP (K/3) (72.000.000)
PKP 48.660.000
PPh terutang 5% x 48,66 jt = 2.433.000
2.433.000
202.750
PPh terutang sebulan (Rp2.433.000/12)
Dilaporkan dalam SPT Masa PPh Pasal 21 dgn 1721 A2
Bila mendapat Honor/Tunjangan kinerja

Sumber Sumber
APBN/APBD Non APBN/APBD ( DAMAS )

PNS Non PNS PNS Non PNS

PPh Ps. 17 PPh Ps. 17 PPh Ps. 17
PPh 0%,5%, Non Final Non Final Non Final
15% Final Hitung Dari Hitung Dari Hitung Dari
PKP PKP PKP
PPh Pasal 21 atas gaji & tunjangan yang terikat gaji

diterima Pejabat Negara, PNS, anggota ABRI dari AP
 Penghasilan bruto Rpxxx
dikurangi:
 Biaya jabatan (Rpxxx)
 Iuran THT/JHT (Rpxxx)
 Penghasilan neto Rpxxx
dikurangi:
 PTKP (Rpxxx)
 Penghasilan Kena Pajak Rpxxx
 PPh terutang (tarif Ps. 17) Rpxxx
 PPh terutang sebulan (dibagi 12) Rpxxx
Ditanggung Pemerintah (PP Nomor 80/2010)
Catatan:
Penghitungan tersebut berlaku juga bagi pegawai honorer (bukan PNS) yang
memperoleh penghasilan tetap secara berkala seperti gaji, hanya atas PPh
terutangnya tidak ditanggung Pemerintah.( Perhitungan UU PPh 1984 )
PEMBAYARAN IMBALAN DARI APBN/D
Untuk PNS & PENSIUNANNYA
Serta untuk Non PNS
PNS/PENSIUNAN BUKAN PEGAWAI NEGERI
PP 80/ TAHUN 2010 PS 21 (1 ) b UU PPh 1984
PERMEN NO 262/PMK.03/2010

MENERIMA MENERIMA
• GOL I & II 0%
• GOL III 5%
HONORARIUM,
• GOL IV 15% KOMISI & FEE APBN/D
(TERMASUK PENSIUNANNYA.)

DI DALAM
KONTRAK • PPh Ps 21 = Tarif Ps 17 X
PPh Ps 21 = Tarif PP 80/th 2010 X DIJELASKAN Penghasilan Bruto
Penghasilan Bruto ASAL PEMBAY PPh Ps 21 Upah Tarif 5% X
HONOR/ UPAH (Ph Bruto – PTKP)
TSB
DASAR HUKUM
PEMOTONGAN PPh PASAL 21/26 dari DAMAS

• UU No.6 Tahun 1983 sttd UU UU No. 16 Tahun 2009 (KUP)
UU • UU No.7 Tahun 1983 sttd UU No.36 Tahun 2008 (PPh)

-PP No.45 Tahun 1994 (PPh atas Penghsl PNS dkk)
PP
-PP No. 94 Tahun 2010 (Peraturan Pelaks.UU PPh)

-PMK No. 181 Th 2007 yo 152 th 2009 (Bentuk dan Isi SPT)
-PMK No. 80 th 2010(Tgl jatuh tempo pembayaran,pelaporan)
PER -PMK No.186 Th 2007 (Dikecualikan dari pengenaan sanksi)
-PMK No.10 Th 2013 (Pengembalian pajak yg seharusnya tdk terutang)
MENKEU
-PMK No.252 Th 2008 (Petunjuk pemotongan PPh Pasal 21)
-PMK No.154Th 2009 (Bea siwa dikecualikan dari Objek PPh)
-PMK No.250 Th 2008 (Biaya jabatan dan Biaya Pensiun)
-PMK No.206 Th 2012 (PTKP untuk Pegawai Harian dan Mingguan)

PER -PERDIRJEN No.32/PJ/2015 (Pedoman Tatacara Pemot. PPh Ps.21)
DIRJEN -PERDIRJEN No.14/PJ/2013 (Form.SPT Masa & Bukti Pot PPh Ps.21)
-PERDIRJEN No.30/PJ/2015 (Formulir SSP)
Dit.P2Humas 36
PENGHASILAN YANG DIPOTONG
PPh PASAL 21/26

PENGHASILAN

DITERIMA/DIPEROLEH SECARA TERATUR

DITERIMA/DIPEROLEH SECARA TIDAK TERATUR

BERUPA UPAH HARIAN, UPAH MINGGUAN,UPAH BULANAN,
UPAH SATUAN, DAN UPAH BORONGAN
BERUPA UANG PESANGON , UANG MANFAAT PENSIUN,
JAMINAN/TUNJANGAN HARI TUA, DAN PEMBAYARAN
LAIN SEJENIS

BERUPA HONORARIUM, KOMISI, FEE, UANG SAKU, UANG SAKU,
UANG REPRESENTASI, UANG RAPAT, HONORARIUM, HADIAH ATAU
PENGHARGAAN DENGAN NAMA DAN DALAM BENTUK APAPUN,
DAN IMBALAN SEJENIS DENGAN NAMA APAPUN

TERMASUK PEMBERIAN DLM BENTUK NATURA/KENIKMATAN YG DIBERIKAN OLEH BUKAN WAJIB PAJAK
ATAU WAJIB PAJAK YG DIKENAKAN PPH YG BERSIFAT FINAL DAN YG DIKENAKAN PPh BERDASARKAN
Dit.P2Humas
NORMA PENGHITUNGAN KHUSUS (DEEMED PROFIT)
37
TIDAK TERMASUK PENGHASILAN
YANG DIPOTONG PPh PASAL 21

PENGHASILAN
PEMBAYARAN MANFAAT ATAU SANTUNAN ASURANSI DARI PERUSAHAAN
SEHUBUNGAN DGN ASURANSI KESEHATAN, ASURANSI KECELAKAAN,
ASURANSI JIWA, ASURANSI DWIGUNA, DAN ASURANSI BEASISWA

PENERIMAAN DLM BENTUK NATURA DAN/ATAU /KENIKMATAN DLM BENTUK
APAPUN YG DIBERIKAN OLEH WAJIB PAJAK ATAU PEMERINTAH

IURAN PENSIUN YANG DIBAYARKAN KEPADA DANA PENSIUN YG
PENDIRIANNYA TLH DISAHKAN MENKEU,IURAN TUNJANGAN HARI TUA
ATAU IURAN JAMINAN HARI TUA KEPADA BADAN PENYELENGGARA
TUNJANGAN HARI TUA/JAMSOSTEK YANG DIBAYAR OLEH PEMBERI KERJA
ZAKAT YG DITERIMA OLEH ORANG PRIBADI YG BERHAK DARI BADAN/
LEMBAGA AMIL ZAKAT YG DIBENTUK ATAU DISAHKAN PEMERINTAH, ATAU
SUMBANGAN KEAGAMAAN YG SIFATNYA WAJIB BAGI PEMELUK AGAMA YG
DIAKUI DI INDONESIA YG DITERIMA OLEH ORANG PRIBADI YG BERHAK DARI
LEMBAGA KEAGAMAAN YG DIBENTUK ATAU DISAHKAN PEMERINTAH

BEASISWA YG DITERIMA WNI DLM RANGKA MENGIKUTI PENDIDIKAN DI DLM
NEGERI PADA TK PENDIDIKAN DASAR, MENENGAH & TINGGI DGN SYARAT
PEMBERI DGN PENERIMA BEASISWA TDK MEMPUNYAI HUB. ISTIMEWA 38
Dit.P2Humas
PENGHITUNGAN PPh PASAL 21
PENGHASILAN BRUTO

PEGAWAI TETAP DAN BUKAN PEGAWAI PESERTA
PEGAWAI TIDAK TETAP* KEGIATAN

HONORARIUM,
GAJI, TUNJANGAN UANG SAKU,
KOMISI DAN FEE DGN
TERKAIT DGN GAJI UANG
SYARAT PUNYA NPWP
REPRESENTASI,
& HANYA MENERIMA
UANG RAPAT,
DIKURANGI: PENGHASILAN DARI 1
HONORARIUM,
- BIAYA JABATAN, 5% DARI PENGH. BRUTO MAKS PEMBERI KERJA
HADIAH DAN
Rp 6.000.000,-/ THN ATAU PENGHARGAAN
Rp 500.000,-/BLN (HANYA UTK PEGAWAI TETAP) D
- IURAN YG TERIKAT DGN I
K
PENGHASILAN TETAP U
R
A
N
G
I

PENGHASILAN
DIKURANGI
NETO PTKP

TARIF PS.17 UU PPh PENGHASILAN KENA PAJAK
*YANG (dibulatkan ke bawah hingga ribuan penuh)
PENGHASILAN
NYA DIBAYAR
SECARA JIKA WP TDK MEMILIKI NPWP MAKA
BULANAN TARIFNYA 20% LEBIH TINGGI
PTKP=PENGHASILAN TIDAK KENA PAJAK
PTKP BARU
Mulai 1-1-2015
SETAHUN SEBULAN
(Rp) (Rp)
UNTUK DIRI PEGAWAI (TK/-) 36.000.000,- 3.000.000,-
UNTUK DIRI PEGAWAI YG 39.000.000,- 3.250.000,-
KAWIN/NIKAH (K/-)
UNTUK PEGAWAI YG KAWIN & 42.000.000,- 3.500.000,-
MEMILIKI 1 TANGGUNGAN (K/1)

UNTUK PEGAWAI YG KAWIN & 45.000.000,- 3.750.000,-
MEMILIKI 2 TANGGUNGAN (K/2)
UNTUK PEGAWAI YG KAWIN & 48.000.000,- 4.000.000,-
MEMILIKI 3 TANGGUNGAN (K/3)
PTKP MAKSIMAL 3 TANGGUNGAN
•TAMBAHAN PTKP UTK WAJIB PAJAK KAWIN DAN SETIAP TANGGUNGAN SEBESAR Rp
3.000.000
•PTKP DITENTUKAN BERDASARKAN KEADAAN PADA AWAL TAHUN KALENDER,
•PTKP BAGI PEGAWAI YG BARU DATANG DAN MENETAP DI INDONESIA DLM BAGIAN
TAHUN KALENDER YG NYA DITENTUKAN BERDASARKAN KEADAAN PADA
RENCANA PTKP=PENGHASILAN TIDAK KENA PAJAK
PTKP BARU
Mulai 1-1-2016
SETAHUN SEBULAN
(Rp) (Rp)
UNTUK DIRI PEGAWAI (TK/-) 54.000.000,- 4.500.000,-
UNTUK DIRI PEGAWAI YG 58.500.000,- 4.875.000,-
KAWIN/NIKAH (K/-)
UNTUK PEGAWAI YG KAWIN & 63.000.000,- 5.250.000,-
MEMILIKI 1 TANGGUNGAN (K/1)

UNTUK PEGAWAI YG KAWIN & 67.500.000,- 5.625.000,-
MEMILIKI 2 TANGGUNGAN (K/2)
UNTUK PEGAWAI YG KAWIN & 72.000.000,- 6.000.000,-
MEMILIKI 3 TANGGUNGAN (K/3)
PTKP MAKSIMAL 3 TANGGUNGAN
•TAMBAHAN PTKP UTK WAJIB PAJAK KAWIN DAN SETIAP TANGGUNGAN SEBESAR Rp
4.500.000
•PTKP DITENTUKAN BERDASARKAN KEADAAN PADA AWAL TAHUN KALENDER,
•PTKP BAGI PEGAWAI YG BARU DATANG DAN MENETAP DI INDONESIA DLM BAGIAN
TAHUN KALENDER YG NYA DITENTUKAN BERDASARKAN KEADAAN PADA
PTKP UTK KARYAWATI/DIANGGAP TIDAK KAWIN

STATUS KAWIN,
SUAMI TDK MENERIMA/ STATUS TIDAK
STATUS KAWIN
MEMPEROLEH KAWIN
PENGHASILAN

- UTK DIRI
HANYA UTK DIRI - UTK DIRI
SENDIRI
SENDIRI, YAITU SENDIRI
- STATUS KAWIN
RP 36.000.000,00 - TANGGUNGAN
- TANGGUNGAN
SETAHUN MAKS 3 ORG
MAKS 3 ORG

SYARAT:
MENUNJUKKAN KETERANGAN TERTULIS DARI
PEMERINTAH DAERAH SETEMPAT
SERENDAH-RENDAHNYA KECAMATAN BAHWA SUAMI
TIDAK MENERIMA/MEMPEROLEH PENGHASILAN
TARIF UNTUK WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI
Pasal 17 ayat (1) a UU No.36/2008 ( UU PPh)

NO Lapisan Penghasilan Tarif

1. S.d. Rp 50.000.000,- 5%

2. Di atas Rp50.000.000,- s.d. Rp 250.000.000 15%

3. Di atas Rp250.000.000,- s.d.Rp500.000.000,- 25%

4. Di atas Rp500.000.000,- 30%

Dit.P2Humas
PENGHITUNGAN PPh PASAL 21

PEGAWAI TETAP, PENERIMA PENSIUN BERKALA
& PEGAWAI TIDAK TETAP YG MENERIMA IMBALAN
BERSIFAT BERKESINAMBUNGAN)

PERHITUNGAN SETIAP MASA PERHITUNGAN MASA PAJAK AKHIR
(BULAN DESEMBER)
PERKIRAAN ATAS PENGHASILAN
YG DIPEROLEH SELAMA 1 TAHUN
(PENGHASILAN TERATUR + TDK TERATUR)
PPh Ps.21 atas
DIKURANGI: DIKURANGI: SELURUH PENGHASILAN KENA PAJAK
- BIAYA JABATAN * : 5% DARI BIAYA PENSIUN, 5% DARI SETAHUN ATAU BAGIAN TAHUN PAJAK
PENGH. BRUTO MAKS PENGH.BRUTO
D
Rp 6.000.000,-/ THN ATAU MAKSIMAL
I
Rp 500.000,-/BLN Rp 2.400.000,00/THN
K
- IURAN YG TERIKAT DGN ATAU
U
PENGHASILAN TETAP Rp 200.000,00/BULAN
R
A
PENGHASILAN NETO N
G
DIKURANGI : PTKP I
PPh Ps.21 YG TELAH DIPOTONG
PADA MASA-MASA SEBELUMNYA
PENGHASILAN KENA PAJAK DLM BAGIAN TAHUN PAJAK YBS

*BIAYA JABATAN
DIBAGI 12 TARIF PS.17 UU PPh HANYA UTK PEGAWAI TETAP
DASAR PENGHITUNGAN
PPh Ps. 21
KEWAJIBAN PAJAK SUBJEKTIF
PEGAWAI TETAP
WP DALAM NEGERI

SEJAK AWAL SETELAH PERMULAAN
TAHUN TAHUN PAJAK

MULAI BEKERJA SETELAH BULAN MULAI BEKERJA
JANUARI TERMASUK PEGAWAI YG DALAM TAHUN
SEBELUMNYA BEKERJA PADA
PEMBERI KERJA LAINNYA
BERJALAN

JUMLAH PENGHASILAN YG SEBENARNYA DITERIMA/DIPEROLEH PENGHASILAN KENA PAJAK
DALAM TAHUN PAJAK/BAGIAN TAHUN TAKWIM YG DISETAHUNKAN

CONTOH :
TIDAK SI A KERJA MULAI BLN JULI CONTOH :
SI BUSH MULAI BLN JULI DGN PENGHSL
DISETAHUNKAN DGN PENGHASILAN TIAP BLN Rp 10 JT
Rp 10 JT TIAP BLN, MAKA PENGHIT.PPh
MAKA PENGHITUNG PPh PSL 21
PSL 21 SELAM 6 BLN :(Rp 10 jt-[(BIAYA
ADALAH (Rp 10 JT – [(BIAYA JAB.PERBLN
JAB.PERBLN +IURAN PENSIUN PERBLN)] x
+IURAN PENS/BLN)] X 6 BLN) - PTKP
X TARIF PSL 17 ATAU : 6 BLN 12) - PTKP X TARIF PSL 17 : 6 BLN
TENAGA AHLI YG
MELAKUKAN PEKERJAAN BEBAS
(BUKAN PEGAWAI)

TERDIRI DARI :
- PENGACARA - KONSULTAN
- AKUNTAN - NOTARIS
- ARSITEK - PENILAI
- DOKTER - AKTUARIS

MENERIMA PENGHASILAN BERUPA
HONORARIUM, KOMISI, FEE, DAN IMBALAN SEJENISNYA
DENGAN NAMA DAN DALAM BENTUK APAPUN

DASAR PENGENAAN & DIPOTONG PPH PS.21
PEMOTONGAN DENGAN TARIF PASAL 17
PPh PASAL 21 ADALAH DARI DASAR PENGENAAN &
50% DARI JUMLAH PEMOTONGAN PPh PASAL 21
PENGHASILAN BRUTO

JIKA WP TDKDit.P2Humas
MEMILIKI NPWP MAKA
TARIFNYA 20% LEBIH TINGGI
CONTOH PENGHITUNGAN
PPh PASAL 21
Contoh 1
dr. Slamet Taramandi (tenaga ahli), menerima honorarium sebesar Rp 10.000.000,-
Penghitungan PPh Pasal 21
5% x (50% x Rp10.000.000) =
5% x (Rp5.000.000) = Rp250.000

PPh Pasal 21 adalah tarif Pasal 17 UU PPh dari Dasar Pengenaan dan Pemotongan
PPh Pasal 21
Jika Dr. Slamet tidak punya NPWP
5% x (50% x Rp 10.000.000)x 120% = Rp300.000,-
5% x (Rp5.000.000) x 120% = Rp300.000,-

Contoh 2
Benny Ganteng SH, LLM (memiliki NPWP) menerima honorarium sebagai pengacara
sebesar Rp100.000.000,-
Penghitungan PPh Pasal 21 :
5% x (50% x Rp100.000.000) =
5% x (Rp50.000.000) Dit.P2Humas
= Rp2.500.000 47
IMBALAN KEPADA BUKAN PEGAWAI
YANG TIDAK MEMILIKI NPWP ATAU
DIBAYARKAN TIDAK BERKESINAMBUNGAN*

HONORARIUM, KOMISI, FEE,
DAN IMBALAN SEJENISNYA DENGAN NAMA DAN
DALAM BENTUK APAPUN APAPUN
DITERIMA

BUKAN PEGAWAI
• SENIMAN, OLAHRAGAWAN; • ANGGOTA PANITIA, PESERTA PENDIDIKAN,
• PENASEHAT, PENGAJAR, PELATIH, PENCERAMAH, PELATIHAN & MAGANG DLL;
PENYULUH & MODERATOR, • PEMBAWA PESANAN/PENEMU
LANGGANAN/PERANTARA
• PENGARANG PENELITI, DAN PENERJEMAH;
• PEMBERI JASA DLM SEGALA BDG TERMASUK • DISTRIBUTOR PERUSAHAAN MULTILEVEL
TEKNIK, MARKETING ATAU DIRECT SELLING
KOMPUTER DAN SISTEM APLIKASINYA • PETUGAS DINAS LUAR ASURANSI YG TDK
TELEKOMUNIKASI,, BERSTATUS SBG PEGAWAI;
ELEKTRONIKA, FOTOGRAPHI, EKONOMI DAN SOSIAL • PENJAJA BARANG DAGANGAN YG TDK
BERSTATUS PEGAWAI; DAN/ATAU
• AGEN IKLAN;
• PENERIMA PENGHASILAN BUKAN PEGAWAI
• PENGAWAS, PENGELOLA PROYEK; LAINNYA
• PESERTA PERLOMBAAN, PESERTA RAPAT,
KONFERENSI,
JIKA WP TDK MEMILIKI
PERTEMUAN
NPWP MAKA DIPOTONG
ATAU KUNJUNGAN KERJA, PESERTAPPh
Ps.21 DENGAN
ATAU * JIKA MEMILIKI NPWP ATAU
TARIFNYA 20% LEBIH TARIF Ps. 17 DARI JUMLAH BRUTO IMBALAN YG DIBERIKAN
TINGGI BERKESINAMBUNGAN48
MAKA LIHAT KETENTUAN
PADA HALAMAN 12
CONTOH PENGHITUNGAN
PPh PASAL 21
Contoh 1
Benny adalah penyanyi menerima honorarium sebesar Rp 10.000.000,- atas
Penghitungan PPh Pasal 21
5% x Rp10.000.000) = Rp500.000,-

Jika Benny tidak memiliki NPWP, penghitungan PPh Pasal 21 :
(5% x 120%) x Rp10.000.000,- = Rp600.000

Contoh 2
Polan adalah pelawak menerima honorarium sebesar Rp50.000.000,-
Penghitungan PPh Pasal 21 :
5% x Rp50.000.000 = Rp2.500.000,-
Jika Polam tidak memiliki NPWP, penghitungan PPh Pasal 21 :
(5% x 120) x Rp50.000.000 = Rp3.000.000
KETENTUAN LAIN UNTUK BUKAN PEGAWAI

BUKAN PEGAWAI DOKTER (BUKAN PEGAWAI)
SELAIN TENAGA AHLI, YG MELAKUKAN PRAKTIK
YG MEMPERKERJAKAN DI RUMAH SAKIT/KLINIK
ORANG LAIN SBG PEGAWAINYA
MENERIMA
MENERIMA
HONORARIUM,
HONORARIUM, KOMISI DAN FEE
KOMISI DAN FEE
PENGHASILAN BRUTO =
PENGHASILAN BRUTO =
DI DALAM JUMLAH BRUTO JASA DOKTER
KONTRAK YG DIBAYARKAN PASIEN MELALUI
JUMLAH BRUTO PEMBAYARAN DIPISAHKAN
DIKURANGI BAGIAN GAJI/UPAH RUMAH SAKIT / KLINIK
BIAYA
PEGAWAI YG DIPERKERJAKAN BAGIAN GAJI/ SEBELUM DIPOTONG
UPAH TSB BIAYA-BIAYA ATAU BAGI HASIL
KETENTUAN LAIN PEMOTONGAN PPh PASAL 21

PEJABAT NEGARA, PNS,
ANGGOTA TNI, ANGGOTA PEGAWAI
POLRI, & PENSIUNANNYA

DIATUR MENERIMA
DALAM
MENERIMA KETENTUAN
KHUSUS
UANG PESANGON, UANG
MANFAAT PENSIUN,
PENGHASILAN YG TUNJANGAN HARI TUA,
BERSUMBER APBN/APBD JAMINAN HARI TUA,
YG DIBAYARKAN SEKALIGUS
KETENTUAN TARIF DAN KREDIT PAJAK

PENGHASILAN
DITERIMA DITERIMA
PEGAWAI TETAP/
BUKAN PEGAWAI
PENERIMA PENSIUNAN
YG TIDAK MEMILIKI NPWP
YG TIDAK MEMILIKI NPWP

TERUTANG PPh PASAL 21 TERUTANG PPh PASAL 21
TARIFNYA 20% LEBIH TINGGI TARIFNYA 20% LEBIH TINGGI

PEGAWAI TETAP/ SELISIH PENGENAAN
PENERIMA PENSIUNAN TARIF 20% LEBIH TINGGI
BUKAN PEGAWAI YG TIDAK
MENDAFTARKAN DIRI SEBELUM DIPERHITUNGKAN DGN MEMILIKI NPWP DAFTARKAN
PPh PSL.21 UTK BLN DIRI DLM TAHUN KALENDER YBS
MASA DESEMBER DLM TAHUN SELANJUTNYA
KALENDER YBS

DAPAT DIKREDITKAN
TERUTANG PPh PASAL 21
DALAM SPT TAHUNAN UNTUK
TARIFNYA NORMAL
TAHUN PAJAK YBS

DAPAT DIKREDITKAN DLM SPT TAHUNAN PPh TAHUN PAJAK
KETENTUANTARIF
TARIF20%
20%LEBIH
LEBIH
YBS, TIDAK TERMASUK SELISIH PENGENAAN KETENTUAN
TINGGI TIDAK BERLAKU
TARIF 20% LEBH TINGGI YG TELAH DIPERHITUNGKAN TINGGI TIDAK BERLAKU
Dit.P2Humas ATAS PENGENAANPEMOTONGAN
ATAS PENGENAAN
52
PEMOTONGAN
PADA BULAN SELANJUTNYA
PPhPASAL
PASAL21
21YG
YGBERSIFAT
BERSIFATFINAL
FINAL
PPh
TATA CARA PELAPORAN
PPh PASAL 21/26

TIDAK DITANGGUNG
DITANGGUNG PEMERINTAH PEMERINTAH

DGN SPT MASA PPh MELAPORKAN PENGHITUNGAN
PASAL 21 PPh PSL 21
KE KPP/KP2KP DLM DAFTAR TERSENDIRI

PALING LAMA 20 HARI
SETELAH
MASA PAJAK BERAKHIR* KPP/KP2KP

JIKA JATUH PD PD HARI KERJA
HARI LIBUR BERIKUTNYA

*Bagi WP dengan Kriteria Tertentu yg iijinkan melaporkan
beberapa masa pajak dalam satu SPT Masa, batas waktu
pelaporan paling lama 20 hari setelah berakhirnya masa
pajak terakhir.
TATA CARA PELAPORAN
PPh PASAL 21/26 BAGI WP BADAN
YG MEMPUNYAI BEBERAPA CABANG

PELAPORAN
DENGAN SPT MASA
PPh PASAL 21/26

KE KPP DI TEMPAT KEDUDUKAN
ATAU USAHA DILAKUKAN (LOKASI)

PALING LAMA20 HARI
SETELAH MASA PAJAK BERAKHIR*

JIKA JATUH PD
HARI LIBUR

PADA HARI KERJA
SEBELUMNYA
*Bagi WP dengan Kriteria Tertentu yg iijinkan melaporkan
beberapa masa pajak dalam satu SPT Masa, batas waktu
pelaporan paling lama 20 hari setelah berakhirnya masa
pajak terakhir. Dit.P2Humas
Contoh Formulir PPh Ps.21 Yg Harus Buat & Dilaporkan
ke KPP mulai Masa Juli 2009 (Perdirjen Nomor : 32/PJ/2009)

Perubahan
Perubahan

Dit.P2Humas 56
56
x

Perubahan

Dit.P2Humas 57
Perubahan

Dit.P2Humas 58
Contoh Formulir yg dilampirkan hanya pada masa Desember

Dit.P2Humas 59
Contoh Formulir yg dilampirkan hanya pada masa Desember

Dit.P2Humas 60
Contoh Formulir Yang Wajib Dilampirkan Untuk Laporan Pertama
Atau Hanya Pada Masa Juli 2009 untuk Yang Sudah Pernah Melapor

Dit.P2Humas 61
Contoh Surat Setoran Pajak (SSP) yang Baru
Hanya diisi
Dlm transaksi
Pengalihan hak
Atas tanah dan
Atau bangunan
Dan Kegiatan
Membangun
sendiri

Perubahan
PER – 32/PJ./2015
ATAS PENGHASILAN YANG DITERIMA OLEH BUKAN PEGAWAI
( JIKA TIDAK MEMILIKI NPWP MAKA TARIF PPh- NYA LEBIH TINGGI 20 %

IMBALAN BERSIFAT IMBALAN TIDAK BERSIFAT
BERKESINAMBUNGAN BERKESINAMBUNGAN

Telah ber NPWP & Tidak ber NPWP &
Hanya memperoleh PENGHASILAN Memperoleh PENGHASILAN Lainnya
Dari hubungan kerja dengan
selain dari hubungan kerja dengan
Pemotong PPh Ps 21/26 & tidak
Pemotong PPh Ps 21/26
Memperoleh Pengh lainnya

• PKP = (50% X PHBRUTO) – • • PKP
PKP==(50%
(50%XXPHBRUTO)
PHBRUTO)–
PTKP per bulan PTKP per bulan • PKP = (50% X PHBRUTO)
• PPH PS 21 = TARIF PS 17
• PPH PS 21 = TARIF PS 17 • PPHATAS
PSJUMLAH
21 = TARIF
KUMULATIF
PS 17 • PPH PS 21 = TARIF PS 17
ATAS JUMLAH KUMULATIF ATAS
PKP DALAM
JUMLAHTAHUN
KUMULATIF ATAS JUMLAH KUMULATIF
PKP DALAM TAHUN PKP
KALENDER
DALAM TAHUN PKP DALAM TAHUN
KALENDER KALENDER
Dit.P2Humas KALENDER 63
PPh Ps 21 untuk Bukan Pegawai

Non pegawai

Tarif Ps 17 X 120% X 50% X
Memiliki NPWP TIDAK Jumlah Pengh Bruto
Penghasilan TIDAK
Berkesinambungan
Tarif Ps 17 X 50% X
YA YA
Jumlah Pengh Bruto

Tarif Ps 17 X 120% X komulatif
TIDAK
Memiliki NPWP Pengh Bruto( 50% x Ph Bruto )

YA
Tarif Ps 17 X 120% X Komulatif
Pengh dari 1 Pemotong TIDAK Pengh Bruto(50% x Ph Bruto
Pajak

YA Tarif Ps 17 X 120% X Komulatif
Ph Bruto{(50% x Ph Bruto) – PTKP 1 bln}
PENGHASILAN DOKTER/PROFESIONAL

ACTIVE INCOME PASSIVE INCOME

CERAMAH DALAM : ROYALTY
• SEMINAR
• TALK SHOW
• MENGAJAR PPh Ps 23

DALAM NEGERI LUAR NEGERI

KREDIT PAJAK LN DIPOTONG
PPh Ps 21 ( PPh Ps 24 ) PEMBAYAR
ROYALTY
DIPOTONG PEMBERI PENGH :
• EVENT ORGANIZER
• MANAGER INDIVIDU( MI )
• USER PERGURUAN TINGGI
CONTOH PENGHIT PEG TETAP DIBAYAR BULANAN
DANA dari DAMAS ( Sesuai Per 16/PJ./2016 )
I.1.1.Contoh penghitungan Gaji Bulanan:
FAJAR ARIWIBOWO th 2016 bekerja pd Koperasi UNAIR dgn gaji sebulan
Rp4.000.000,00 dan membayar iuran pensiun sebesar Rp 100.000,00.
FAJAR ARIWIBOWO menikah tetapi belum mempunyai anak.Penghitungan PPh
Pasal 21-nya adalah sbb :
Gaji sebulan = Rp6.000.000,00
Pengurangan:
1. By. Jab: 5 % x Rp 6.000.000,00 Rp 300.000,00
2. luran pensiun Rp 100.000,00
Rp 400.000,00
Penghasilan neto sebulan Rp 5.600.000,00
Pengh neto seth12 x Rp5.600.000,00 Rp 67.200.000,00
3. PTKP setahun
- untuk WP sendiri Rp 54.000.000,00
- Status WP kawin Rp 4.500.000,00
Rp 58.500.000,00
Penghasilan Kena Pajak setahun Rp 8.700.000,00
PPh Ps 21 terutang 5% x Rp 8.700.000.= Rp 435.000,00
PPh Ps 21 sebln :Rp 435.000,00 : 12Dit.P2Humas
= Rp 36.250,00
66
CONTOH PENGHITUNGAN PEGAWAI TETAP BULANAN
1.1.2 BUDI KARYANTO pegawai Tetap ITS dari DAMAS, K/0
Gaji sebln Rp 6.000.000,00. Perh ikut BPJS, premi Ass Kec. Kerja dan premi Ass
Kematian dibayar oleh pemberi kerja masing – 2 0,50 % dan 0,30 % dari gaji.
RS AIRLANGGA menanggung iuran THT tiap bln 3,70 % BUDI KARYANTO
membayar iuran THT sebesar 2 %. RS AIRLANGGA membayar iuran pensiun
untuk BUDI KARYANTO ke dana pensiun, yang disahkan oleh MKRI, setiap bulan
sebesar Rp 100.000,00, sedang BUDI KARYANTO bayar iuran pensiun sebesar
Rp. 50.000,00 Penghitungan PPh Pasal 21
Gaji sebulan Rp 6.000.000,00
Premi Asuransi Kec. Kerja Rp 30.000,00
Premi Asuransi Kematian Rp 18.000,00
Penghasilan bruto Rp 6.048.000,00
1. By. Jab 5 % x Rp6.048.000 =Rp 302.400,00
2. luran Pensiun Rp 100.000,00
3. IuranTHT Rp 120.000,00 Rp 522.400,00
Penghasilan neto sebulan Rp 5.525.600,00
Peng neto setahun12 x Rp5.525.600,00 = Rp 66.307.200,00
4. PTKP K/0 Rp 58.500.000,00
Penghasilan Kena Pajak setahun Rp 7.807.200,00
PPh Ps 21 : 5 % x Rp 7.807.000,00 = Rp 390.360,00
PPh Pasal 21 sebulan
Dit.P2Humas 67 67
Rp 390.360,00 :12 = Rp 32.530,00
CONTOH PENGHITUNGAN PEGAWAI TETAP KARYAWATI
1.1.3 AGUSTINA INDRI karyawati status K/0,pada SEKRETARIAT
KEUANGAN dibayar dari DAMAS Gaji sebulan Rp 7.500.000,00. Kary
membayar iuran pensiun ke dana pensiun sebesar Rp 50.000,00 sebulan.
Berdasarkan surat keterangan dari Pemda Suami tak BerPengh.Pada bulan Juli
2016 menerima pembayaran atas lembur (overtime) sebesar Rp2.000.000,00,
Penghitungan PPh Pasal 21 bulan Juli 2016
Penghitungang PPh Pasal 21 :
Gaji sebulan Rp 7.500.000,00
Lembur ( Overtime ) Rp 2.000.000,00
Rp 9.500.000,00
Pengurangan :
1. Biaya Jab 5% x Rp 9.500.000 =Rp 475.000,00
2. Iuran pension Rp 50.000,00 Rp 525.000,00
Penghasilan neto sebulan Rp 8.975.000,00
Penghasilan neto setahun 12xRp 8.975.000,00= Rp107.900.000,00
PTKP K/0 Rp 58.500.000,00
Penghasilan Kena Pajak setahun Rp 49.400.000,00
PPh Pasal 21 setahun
5% x Rp 49.400.000,00 = Rp 2.470.000,00

PPh Pasal 21 sebulan Rp 2.470.000,00 : 12 =Rp 205.833,00
Dit.P2Humas 68 68
1.1.4. TUTI RATMINI karyawati K/3 bekerja pada SEKRETARIAT DEKAN
Fak Tehnik Sipil UNAIR Suami PNS . TUTI menerima gaji Rp
3.000.000/bl.Perh ikut program jamsostek. Perh membayar iuran pensiun,
sebesar Rp 40.000/bl.Tuti Ratmini membayar iuran pensiun Rp 30.000/bl,perh
juga membayarkan iuran JHT 3,70% dari gaji, sedangkan Tuti R membayar
iuran JHT 2,00% dari gaji. Premi Jaminan Kec Kerja dan jaminan Kematian
dibayar oleh pemberi kerja masing-2 sebesar 1,00% dan 0,30% dari gaji. Pada
Juli 2016 selain itu Tuti R juga menerima lembur (overtime) sebesar
Rp2.000.000,00.
Penghit PPh Ps 21 bl Juli 2016
Gaji sebulan Rp 3.000.000,00
Lembur ( Overtime ) Rp 2.000.000,00
Premi Jaminan Kecelakaan Kerja Rp 30.000,00
Premi Jaminan Kematian Rp 9.000,00
Penghasilan bruto sebulan Rp 5.039.000,00
Pengurangan :
1. By Jab 5% x Rp 5.039.000 = Rp 251.950,00
2. Iuran Pensiun Rp 30.000,00
3. Iuran Jaminan Hari Tua Rp 60.000,00 Rp 341.950,00
Penghasilan neto sebulan Rp 4.697.050,00
Penghasilan neto setahun 12xRp 4.697.050,00=Rp 56.564.600,00
PTKP TK/0 untuk WP sendiri Rp 54.000.000,00
Penghasilan Kena Pajak adalah ( dibulatkan) Rp 2.564.000,00
PPh Ps 21 setahun 5% x Rp 2.564.000,00
Dit.P2Humas= Rp 128.230,00 69 69
PPh Pasal 21 sebulan Rp 128.230,00 : 12 = Rp 10.686,00
1.3 PENGHIT PEG. TETAP PEMBAYARAN RAPEL/TUKIN
I.3.1 Fajar Ariwibowo sebagaimana tersebut dalam contoh nomor I.1.1 .
diatas pada bulan Juni 2016 menerima kenaikan gaji, menjadi Rp. 7.000.000,00
sebulan dan berlaku surut sejak 1 Januari 2016. Dengan adanya kenaikan gaji
yang berlaku surut tersebut maka Fajar Ariwibowo menerima rapel sejumlah Rp
5.000.000,00 (kekurangan gaji untuk masa Januari s.d. Mei 2016). Untuk
menghitung PPh Pasal 21 atas uang rapel tersebut, terlebih dahulu dihitung
kembali PPh Pasal 21 untuk masa Januari s.d. Mei 2016 atas dasar penghasilan
setelah ada kenaikan gaji. Dengan demikian penghitungan PPh Pasal 21
terutangnya adalah sebagai berikut :
Gaji Rp 7.000.000,00
Pengurangan :
1. Biaya jabatan : 5% x Rp 7.000.000,00 = Rp 350.000,00
2. Iuran Pensiun Rp 100.000,00 Rp 450.000,00
Penghasilan neto sebulan Rp 6.550.000,00
Penghasilan neto setahun : 12 x Rp 6.550.000,00 = Rp 78.600.000,00
PTKP ( K/0 ) Rp 58.500.000,00
Penghasilan Kena Pajak Rp 20.100.000,00
PPh Pasal 21 setahun 5% x Rp 20.100.000,00 = Rp 1.005.000,00
PPh Pasal 21 sebulan Rp 1.005.000,00 : 12 = Rp 83.750,00
PPh 21 Jan s.d Mei 2016 seharusnya : 5 x Rp 83.750=Rp 418.750,00
PPh 21 yg sdh dipot Jan s.d Mei 2016 5xRp 22.500 =Rp 112.500,00 (CONT 1.1.1)
70
PPh Pasal 21 untuk uang rapel Rp 306.250,00
1.4 PENGHIT JS PROD, GRATIFIKASI,BONUS,THR misal GAJI&BONUS

I.4.1 Joko Qurnain (tidak kawin) bekerja pada PERCETAKAN ITS dengan
memperoleh gaji sebesar Rp3.500.000,00 sebulan, Pada bulan Maret 2016 Joko
Qurnain memperoleh bonus sebesar Rp5.000.000,00 sehingga pada bulan Maret
2016 Joko Qurnain memperoleh penghasilan berupa gaji sebesar Rp3.500.000,00
dan bonus sebesar Rp7.000.000.00. Setiap bulannya Joko Qurnain membayar
iuran pensiun ke dana Pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh MKRI
sebesar Rp60.000.00 Cara menghitung PPh Pasal 21 atas bonus adalah:
I.4.1.a PPh Pasal 21 atas Gaji dan Bonus (penghasilan setahun):
Gaji setahun (12 x Rp 3.500.000,00) Rp 42.000.000,00
Bonus Rp 7.000.000,00
Penghasilan bruto setahun Rp 49.000.000,00
Pengurangan :
1. Biaya Jabatan
5% x Rp 49.000.000,00 = Rp 2.450.00,00
2. Iuran pensiun setahun
12 x Rp 60.000,00 = Rp 720.000,00
Rp 3.170.000,00
Penghasilan neto setahun Rp 45.830.000,00
PTKP (tk/0) untuk WP sendiri Rp 54.000.000,00
Penghasilan Kena Pajak Rp Nihil 71
PPh Ps 21 terutang 5% x Rp Nihil = Rp Nihil
CONTOH PENGHITUNGAN PEGAWAI TETAP DAPAT BONUS

I.4.1.b PPh Pasal 21 atas Gaji Setahun
Gaji setahun (12x Rp 3.500.000,00) Rp 42.000.000,00
Pengurangan :
1. Biaya Jabatan
5% x Rp 42.000.000,00 = Rp 2.100.000,00
2. Iuran pensiun setahun
12 x Rp 60.000,00 = Rp 720.000,00
Rp 2.820.000,00
Penghasilan neto setahun Rp 39.180.000,00
PTKP
- untuk WP sendiri Rp 54.000.000,00
Penghasilan Kena Pajak Rp Nihil
PPh Pasal 21 terutang 5% x Rp Nihil = Rp Nihil
I.4.1.c PPh Pasal 21 atas Bonus
PPh Pasal 21 atas Bonus adalah : Nihil

72
PENGHITUNGAN PEG TETAP KARYAWATI ada BONUS
I.4.2 Karyawati Ken Prameswari th 2015 TK/0 bekerja pd BAGIAN
PENELITIAN dibayar dari DAMAS dengan memperoleh gaji sebesar Rp
2.750.000,00 sebulan. Perusahaan ikut dalam program jamsostek. Premi
Jaminan Kecelakaan Kerja dan premi Jaminan Kematian dan Iuran Jaminan Hari
Tua dibayar oleh pemberi kerja setiap bulan masing-masing sebesar 1,00%,
0,30% dan 3,70% dari gaji. Prameswari membayar iuran Pensiun Rp 50.000,00
dan iuran Jaminan Hari Tua sebesar 2,00% dari gaji untuk setiap bulan. Dalam
tahun berjalan dia juga menerima bonus sebesar Rp 4.000.000,00
I.4.2.a PPh Pasal 21 atas Gaji dan Bonus (penghasilan setahun):
Gaji setahun (12 x Rp 2.750.000,00) Rp 33.000.000,00
Bonus Rp 4.000.000,00
Premi JKK 12 x Rp 27.500,00 Rp 330.000,00
Premi Jaminan Kematian 12 x Rp 8.250,00 Rp 99.000,00
Penghasilan bruto setahun Rp 37.429.000,00
Pengurangan :
1. Biaya Jabatan 5% x Rp 37.429.000 = Rp 1.871.450,00
2. Iuran pensiun seth 12 x Rp 50.000 = Rp 600.000,00
3. Iuran Jaminan Hari Tua 12 x Rp 55.000 = Rp 660.000,00 Rp 3.131.450,00
Penghasilan neto setahun Rp 34.297.550,00
PTKP (TK/0) untuk WP sendiri Rp 36.000.000,00
Penghasilan Kena Pajak Rp 0,00
Dibulatkan Rp 73
0,00
PPh Pasal 21 terutang 5% x Rp 0,00 =Rp NIHIL
CONTOH PENGHITUNGAN PEGAWAI TETAP ada BONUS
I.4.2.b PPh Pasal 21 atas Gaji Setahun
Gaji setahun (12xRp 2.750.000,00) = Rp 33.000.000,00
Premi Jaminan Kecelakaan Kerja
12 x Rp 27.500,00 = Rp 330.000,00
Premi Jaminan Kematian
12 x Rp 8.250,00 = Rp 99.000,00
Jumlah Rp 33.429.000,00
Pengurangan :
1. Biaya Jabatan 5% x Rp 33.429.000,00 = Rp 1.671.450,00
2. Iuran pensiun setahun 12 x Rp 50.000,00 = Rp 600.000,00
3. Iuran Jaminan Hari Tua 12 x Rp 55.000,00 = Rp 660.000,00
Juml Rp 2.931.450,00
Penghasilan neto setahun = Rp 30.497.550,00
PTKP ( TK/0 ) untuk WP sendiri Rp 36.000.000,00
Penghasilan Kena Pajak Rp 0,00
Pembulatan Rp 0,00
PPh Pasal 21 terutang 5% x Rp NIHIL = Rp NIHIL
I.4.1.c PPh Pasal 21 atas Bonus
PPh Pasal 21 atas Bonus adalah :
Rp NIHIL - Rp NIHIL = Rp NIHIL
74
V.1 PENGHITUNGAN PEMOTONGAN PPh PS 21 ATAS PENGH. YANG
DITERIMA OLEH TENAGA AHLI YANG MELAKUKAN PEKERJAAN BEBAS
V.1.a Contoh perhitungan dokter yang praktik di RS AIRLANGGA dan/ klinik
dr. Abdul Gopar merupakan dokter spesialis jantung yang melakukan praktik di
RS AIRLANGGA dengan perjanjian bahwa atas setiap jasa dokter yang
dibayarkan oleh pasien akan dipotong 20% oleh pihak rumah sakit sebagai
bagian penghasilan rumah sakit dan sisanya sebesar 80% dari jasa dokter
tersebut akan dibayarkan kepada dr. Abdul Gopar pada setiap akhir bulan.
Dalam semester pertama tahun 2015, jasa dokter yang dibayarkan pasien atas
tindakan dr. Abdul Gopar adalah sebagai berikut:
Contoh perhitungan dokter yang praktik di rumah sakit dan/atau klinik dr. Abdul
Gopar merupakan dokter spesialis jantung yang melakukan praktik di RS
AIRLANGGA dengan perjanjian bahwa atas setiap jasa dokter yang dibayarkan
oleh pasien akan dipotong 20% oleh pihak rumah sakit sebagai bagian
penghasilan rumah sakit dan sisanya sebesar 80% dari jasa dokter tersebut
akan dibayarkan kepada dr. Abdul Gopar pada setiap akhir bulan. Dalam
semester pertama tahun 2015, jasa dokter yang dibayarkan pasien atas
tindakan dr. Abdul Gopar adalah sebagai berikut:
75
Bulan Jumlah Jasa Dokter yang
dibayar Pasien (Rupiah)
Januari 45.000.000,00
Februari 49.000.000,00
Maret 47.000.000,00
April 40.000.000,00
Mei 44.000.000,00
Juni 52.000.000,00
Juli 40.000.000,00
Agustus 35.000.000,00
September 45.000.000,00
Oktober 44.000.000,00
Nopember 43.000.000,00
Desember 40.000.000,00
Jumlah 524.000.000,00 76
Penghitungan PPh Pasal 21 untuk bulan Januari sampai dengan Juni 2015:

Jasa Dokter Dasar Dasar Tarif Ps17 PPh
yang dibayar Pemotongan Pemotongan ayat (1) huruf Pasal 21
Bulan Pasien PPh Ps 21 PPh Ps 21 a UU PPh terutang
(Rupiah) (Rupiah) Kumulatif
(Rupiah) (Rupiah)
(1) (2) (3)=50%x(2) (4) (5) (6)=(3) x (5)
Januari 45.000.000 22.500.000 22.500.000 5% 1.125.000,00
Februari 49.000.000 24.500.000 47.000.000 5% 1.225.000,00
3.000.000 50.000.000 5% 150.000,00
Maret 47.000.000 ------- -------
20.500.000 70.500.000 15% 3.075.000,00
April 40.000.000 20.000.000 90.500.000 15% 3.000.000,00
Mei 44.000.000 22.000.000 112.500.000 15% 3.300.000,00
Juni 52.000.000 26.000.000 138.500.000 15% 3.900.000,00
Juli 40.000.000 20.000.000 158.500.000 15% 3.000.000,00
Agust 35.000.000 17.500.000 176.000.000 15% 2.625.000,00
Sept 45.000.000 22.500.000 198.500.000 15% 3.375.000,00
Okt 44.000.000 22.000.000 220.500.000 15% 3.300.000,00
Nop 43.000.000 21.500.000 242.000.000 15% 3.225.000,00
8.000.000 250.000.000 15% 1.200.000,00
Des 40.000.000 -------- ------ 25% -------
12.000.000 262.000.000 3.000.000,00
Jumlah 524.000.000 90.000.000 35.500.000,00 77
KETENTUAN PERPAJAKAN UNAIR
DIPA & BP PTN BH - UNAIR
No Jenis Pajak Uraian Tarif

1. PPN Pembelian BKP/JKP > 1 juta 10%
Kode Faktur 02

2. PPh 22 Pembelian >2 juta
a.Ada NPWP tarif 1,5 %
b.Non NPWP tarif 3 %
3. PPh 21 PNS Gol 2 tarif 0%
PNS Gol 3 tarif 5%
PNS Gol 4 tarif 15%
Non PNS tarif pasal 17
4. PPh 23 Bunga,Dev, Hadiah, Royalty 15%
Sewa & Jasa Lain 2%

5. PPh Ps 4(2) Jasa Konstruksi 2%-3%-4%
Perencanaan 4% - 6%

78
PENGISIAN SSP
No Pajak Pemb NPWP WP Kode SSP Tanda
Tangan
1. PPN BKP/ Rekan Rekan 411211 900 Bend
JKP Nan Nan Pusat
Setor
2. PPh 22 Brg Rekan Rekan 411122 900 Bend
nan nan Pusat
Setor
3. PPh 23 Jasa 00.005. Bend 411124 100/104 Bend
564.0- Penge- Pusat
606.000 luaran Setor
4. PPh ps4(2) Jasa 00.005. Bend 411128 403/403 Bend
564.0- Pusat /409 Pusat
606.000 Setor Setor
5 PPh 21 Peg 00.005. Bend 411121 100/402 Bend
564.0- Pusat Pusat
606.000 Setor Setor

79
DOKUMEN YG DILAPORKAN KE DEPKEU
No Pajak Faktur SSP REKAP IMPOR Tgl Ke
DATA Ditkeu
1. PPN V 1, 3 & 5 V - 15

2. PPh 22 - 1, 3 & 5 V - 10

3. PPh 23 - LM 1 & 3 V V 15

4. PPh ps4(2) - LM 1 & 3 V - 15

5 PPh 21 - LM 1 & 3 V V 15

80
DANA MASY(DAMAS) PTN BH - UNAIR
No Jenis Pajak Uraian Tarif

1. PPN Pembelian BKP/JKP 10%
Kode Faktur 01
NPWP 73.773.758.5-619.000
3. PPh 21 Pegawai UNAIR
Bukan Pegawai UNAIR
PNS terima Honor
NPWP 73.773.758.5-619.000
4. PPh 23 Bunga,Dev, Hadiah, Royalty 15%
Sewa & Jasa Lain 2%

5. PPh Ps 4(2) Jasa Konstruksi 2%-3%-4%
( Final) Perencanaan 4% - 6%

81
PENGISIAN SSP
No Pajak NPWP WP AKUN Kode URAIAN Tanda
Tangan
1. PPh 23 73.773. UNAIR 411124 100/104 Sewa SETOR
758.619

2. PPh ps4(2) 73.773. UNAIR 411128 403/405 Sewa SETOR
758.619 /409

3 PPh 21 73.773. UNAIR 411121 100 Tak SETOR
758.619 Final

82
BATAS AKHIR PENYETORAN & PELAPORAN

No Jenis Pajak Batas Pemby Batas Pelaporan

1. PPh 21 Tgl 10 Bln Berikut Tgl 20 Bln Berikut

2. PPh 22 Hari yg Sama Penyerahan 14 hari stl Akhir Masa
Bend

3. PPh 23 Tgl 10 Bln Berikut Tgl 20 Bln Berikut

4. PPh 4(2) Tgl 10 Bln Berikut Tgl 20 Bln Berikut

5. PPN/PPn Selambat-lambatnya Paling Lambat Akhir
BM Bend Tgl 7 bln berikut Bln berikut

6. PPN/PPn Sebelum Pelaporan Paling Lambat Akhir
BM Damas Bln berikut
83
DENDA KETERLABATAN

No Uraian DENDA/BUNGA

1. Keterlambatan Pembayaran 2% TANGGUNG JAWAB UNIT

2. Keterlambatan Pelaporan DENDA Rp 500.000,- utk PPN
DENDA Rp 100.000,- Utk Masa lain

84
PELAPORAN SPT PPh TAHUNAN
MELALUI E-FILING
500200

Terima Kasih
115
115