You are on page 1of 18

REFERAT

RHEUMATOID
ARTHRITIS
BY: ASMAWATI ALWI
PEMBIMBING : dr. ZAKARIA MUSTARI, Sp. PD
DEFINISI
RA merupakan penyakit autoimun yang di tandai oleh
inflamasi sistemik kronik dan progresif, dimana sendi
merupakan target utama.
EPIDEMIOLOGY
WANITA >>LAKI-LAKI
40-60 TAHUN
DISTRIBUSI UNIVERSAL
ETIOLOGI
Faktor genetik
Hormon Sex
Faktor Infeksi
Faktor Lingkungan
PATOGENESIS
Pembuluh darah pada sendi yang terlibat mengalami
oklusi oleh bekuan kecil atau sel-sel inflamasi.
Terbentuknya pannus akibat terjadinya pertumbuhan
yang iregular pada jaringan sinovial yang mengalami
inflamasi. Pannus kemudian menginvasi dan merusak
rawan sendi dan tulang Respon imunologi melibatkan
peran sitokin, interleukin, proteinase dan faktor
pertumbuhan. Respon ini mengakibatkan destruksi
sendi dan komplikasi sistemik
Manifestasi Klinis
simetris berupa inflamasi sendi, bursa, dan sarung
tendo yang dapat menyebabkan nyeri, bengkak, dan
kekakuan sendi, serta hidrops ringan
MANIFESTASI
EKSTRAARTIKULAR
Diagnosis
American College of Rheumatology/European League
Against Rheumatism 2010
Pemeriksaan
Penunjang
LAB: (complete blood count), factor rheumatoid (RF),
laju endap darah, atau C-Reactive Protein (CRP). Bila
pemeriksaan RF dan anti CCP negative, bias di
lanjutkan dengan pemeriksaan anti RA-33 untuk
membedakan penderita RA yang mempunyai resiko
tinggi mengalami prognosis buruk.

RADIOLOGI: foto polos dan MRI
Diagnosa Banding
OA
GOUT
SLE
Penatalaksanaan
1. NSAID (Non-Steroid Anti-Inflammatory Drugs)
2. Methotrexat dan Sulphasalazine. Obat-obatan ini
merupakan golongan DMARD. Kelompok obat ini akan
berfungsi untuk menurukan proses penyakit dan
mengurangi respon fase akut. Obat-obat ini memiliki
efek samping dan harus di monitor dengan hati-hati.
3. Steroid,.
4. Obat-obatan immunosupressan. Obat ini
dibutuhkan dalam proporsi kecil untuk pasien dengan
penyakit sistemik.
MTX + hidroksiklorokuin,
2. MTX + hidroksiklorokuin + sulfasalaxine,
3. MTX + sulfasalazine + prednisolone,
4. MTX+ leflunomid
5. MTX+ infliximab
6. MTX+ etanercept
7. MTX+ adalimumab
8. MTX+ anakinra
9. MTX+ rituximab
10. MTX+ inhibitor TNF (lebih efektif dan lebih mahal)
Terapi modalitas berupa diet makanan (salah satunya
dengan suplementasi minyak ikan cod), kompres
panas dan dingin serta massase untuk mengurangi
rasa nyeri, olahraga dan istirahat, dan penyinaran
menggunakan sinar inframerah.

Terapi bedah dilakukan pada keadaan kronis, bila ada
nyeri berat dengan kerusakan sendi yang ekstensif,
keterbatasan gerak yang bermakna, dan terjadi ruptur
tendo
Komplikasi
Peradangan menyebar luas
Cervical myelopathy
Sindrom lorong karpal
Kerusakan sendi
Prognosis
skor fungsional yang rendah, status sosioekonomi yang
rendah, tingkat pendidikan rendah, ada riwayat keluarga
dekat mendrita RA, melibatkan banyak sendi, nilai CRF
atau LED tinggi saat permulaan penyakit, RF atau anti CCP
positif, ada perubahan radiologis pada awal penyakit, ada
nodul Rheumatoid/manifestasi ekstraartikuler lainnya
DAFTAR PUSTAKA
Perhimpunan Reumatologi Indonesia. ”Diagnosis Dan Pengelolaan Arthritis
Rheumatoid”. Jakarta: Perhimpunan Reumatologi Indonesia, 2014.
A. Price Sylvia, M.Wilson Lorraine. ”Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit”. Jakarta: 2012.
Wirawan, Riadi. “Pemeriksaan Laboratorium Pada Artritis Reumatoid”. Jakarta:
Biomedika, 2014
Sudoyo, Aru W, dkk. “Ilmu Penyakit Dalam Jilid III”.Jakarta: Interna Publishing,
2009
Schett, George. “The Pathogenesis of Rheumatoid Arthritis”. The New England
Journal Of Medicine. 2012.
Choy, Ernest. “Understanding The Dynamics: Pathways Involved In The
Pathogenesis Of Rheumatoid Arthritis”. Oxford University:
journals.permissions@oup.com . 2012
Singh, Ashvinder. “Guideline For The Treatment Of Rheumatoid Arthritis”. USA:
American College Of Rheumatology. 2015
Bykerk, Viviane. “Canadian Rheumatology Association Recommendations For
Pharmacological Management Of Rheumatoid Arthritis With Traditional And
Biological Disease-Modifyng Antirheumatic Drugs”. Canada: The Journal Of
Rheumatology. 2011.
 
 
TERIMA KASIH