You are on page 1of 8

KELOMPOK 1 REPRODUKSI

Nama-nama kelompok
1. Testis
2. Prostat
3. Tuba fallopi
4. Ovarium
5. Uterus
6. Labium majus
7. Hymen
Pembimbing :
Ika Elwinda Darise
Ella Anggi Famela Lalusu
Muh Rif’al Lamariajang

sinsitiotrofoblas. Afrika. Secara etnis wanita Filipina. MOLA HYDATIDOSA 1. Di negara- negara Timur Jauh beberapa sumber memperkirakan insidensi mola lebih tinggi lagi yakni 1:120 kehamilan. 2. Amerika latin dibandingkan dengan negara – negara barat. . Menurut Drake th 2006. Sedangkan di Korea Selatan insiden kehamilan mola yaitu 40 kehamilan per 1000 kelahiran (Kim.dan penurunan kadar vitamin A menyebabkan proliferasi tidak terkontrol. Definisi Mola hydatidosa merupakan kehamilan yang abnormal yang pada pemeriksaan histopatologi ditandai dengan proliferasi sel sitotrofoblas. Epidemiologi PrePrevalensi mola hidatidosa lebih tinggi di Asia. Mola hidatidosa ditemukan kurang lebih 1 dari 600 kasus abortus medisinalis. insiden terjadi kehamilan mola yaitu 1-2 kehamilan per 1000 kelahiran di Amerika Serikat dan Eropa Insidensi mola hidatidosa dilaporkan Moore dkk (2005) pada bagian barat Amerika Serikat. terjadi 1 kejadian kehamilan mola dari 1000-1500 kehamilan. Asia Tenggara dan Meksiko. 2004). Di Asia insidensi mola 15 kali lebih tinggi daripada di Amerika Serikat. Vitamin A mengontrol proliferasi sel. dan intermediate trofoblas. dengan Jepang yang melaporkan bahwa terjadi 2 kejadian kehamilan mola dari 1000 kehamilan. lebih sering menderita mola daripada wanita kulit putih Amerika.

3. menstruasi yang tidak teratur dan wanita perokok. Paritas tidak mempengaruhi faktor risiko ini. Sedangkan mola parsialis lebih sering tejadi pada wanita dengan tingkat pendidikan tinggi. Risiko lainnya yaitu riwayat keguguran 2 kali atau lebih. . Etiologi Faktor risiko terjadinya mola yaitu wanita pada remaja awal amat sangat beresiko. riwayat kehamilan mola sebelumnya juga dapat meningkatkan kejadian mola hingga lebih dari 10 kali lipat. Wanita usia lebih dari 40 tahun memiliki resiko 7 kali dibanding wanita yang lebih muda hal ini dikaitkan dengan kualitas sel telur yang kurang baik pada wanita usia ini. Wanita yang berusia lebih dari 35 tahun memiliki resiko 2 kali lipat. Secara epidemiologi mola komplit dapat meningkat bila wanita kekurangan carotene dan defisiensi vitamin A.

Pelepasan sel 4. Patofisiologi telur ( tidak aktif lagi ) Dibuahi oleh sperma Terjadi pada kesalahan paraternal Menjadi kromosom 46XX dan 47XY Placenta berkembang tanpa foetus Terjadi proliferasi tropoblast Villi khorialis terisi cairan dan hanya sedikit pembuluh darah MOLAHIDATIDOS A .

dkk. Arif. Pada keadaan lanjut kadang keluar gelembung mola. e.Amenore dan tanda-tanda kehamilan b. 2001 : 266 .Pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan.Perdarahan pervaginam berulang. c.Tidak terabanya bagian janin pada palpasi dan tidak terdengarnya BJJ sekalipun uterus sudah membesar setinggi pusat atau lebih.Preeklampsia atau eklampsia yang terjadi sebelum kehamilan 24 minggu. (Mansjoer.5. d. Gambaran klinik Gambaran klinik yang biasanya timbul pada klien dengan ”mola hidatidosa adalah : a. Darah cenderung berwarna coklat.

d.Ultrasonografi : pada mola akan terlihat badai salju (snow flake pattern) dan tidak terlihat janin. .Foto thoraks : pada mola ada gambaram emboli udara. Pemeriksaan penunjang a.Pemeriksaan T3 dan T4 bila ada gejala tirotoksikosis. sonde diputar setelah ditarik sedikit.Pemeriksaan kadar beta hCG : pada mola terdapat peningkatan kadar beta hCG darah atau urin. Bila tidak ada tahanan. b. kemungkinan mola (cara Acosta- Sison). f.Uji Sonde : Sonde (penduga rahim) dimasukkan pelan-pelan dan hati- hati ke dalam kanalis servikalis dan kavum uteri. c.6.Foto rontgen abdomen : tidak terlihat tulang-tulang janin(pada kehamilan 3 – 4 bulan. e.

Diagnosis dini akan menguntungkan prognosis b.Lakukan pengamatan lanjut hingga minimal 1 tahun.Riwayat haid terakhir dan kehamilan .Evaluasi klinik dengan fokus pada : . .Pelunakan serviks dan korpus uteri .7.Pastikan tidak ada janin (Ballottement) atau DJJ sebelum upaya diagnosis dengan perasat Hanifa Wiknjosastro atau Acosta Sisson c. perdarahan hebat atau perforasi uterus) e.Perdarahan tidak teratur atau spotting .Antisipasi komplikasi (krisis tiroid. dapat dilakukan : .Pemeriksaan USG sangat membantu diagnosis. Penatalaksanaan Penanganan yang biasa dilakukan pada mola hidatidosa adalah : a.Lakukan pengosongan jaringan mola dengan segera d. Pada fasilitas -kesehatan di mana sumber daya sangat terbatas.Pembesaran abnormal uterus .

TERIMA KASIH .