You are on page 1of 57

PAJAK DAERAH

Amalia Irmaningtyas
Noviana Dias Susanti

Pajak Daerah adalah kontribusi wajib kepada
Daerah yang terutang oleh orang pribadi atau
badan yang bersifat memaksa berdasarkan
Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan
imbalan secara langsung dan digunakan
untuk keperluan Daerah bagi sebesar-
besarnya kemakmuran rakyat.

Latar Belakang
Didasari oleh UU No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintah
Daerah dan UU No.33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan
Keuangan Antara Pemerintah Pusat Dan Pemerintah
Daerah, daerah diberi keleluasaan untuk mengelola dan
memanfaatkan sumber penerimaan daerah yang
dimilikinya sesuai aspirasi masyarakat daerah
UU No.28 Tahun 2009 mengganti UU No.34 Tahun 2000,
mengatur jenis pajak daerah dengan sistem daftar
tertutup.
Pada UU No.28 Tahun 2009 terdapat penambahan 1 pajak
provinsi yaitu Pajak Rokok dan 3 kabupaten/kota yaitu PBB
P2, BPHTB dan Pajak Sarang Burung Walet. Dan Pajak Air
Tanah berubah menjadi pajak kabupaten/kota.

UU No. 28 Tahun 2009
1. Pemberian kewenangan pemungutan pajak daerah dan
retribusi daerah tidak terlalu membebani rakyat dan relatif
netral terhadap fiskal nasional.
2. Jenis pajak dan retribusi yang dapat dipungut oleh daerah
hanya yang ditetapkan dalam Undang-undang (Closed-List)
3. Pemberian kewenangan kepada daerah untuk menetapkan
tarif pajak daerah dalam batas tarif minimum dan maksimum
yang ditetapkan dalam Undang-undang.
4. Pemerintah daerah dapat tidak memungut jenis pajak dan
retribusi yang tercantum dalam undang-undang sesuai
kebijakan pemerintahan daerah.
5. Pengawasan pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah
dilakukan secara preventif dan korektif . Rancangan Peraturan
Daerah yang mengatur pajak dan retribusi harus mendapat
persetujuan Pemerintah sebelum ditetapkan menjadi Perda.
Pelanggaran terhadap aturan tersebut dikenakan sanksi.

PENETAPAN
Pajak ditetapkan dengan Peraturan Daerah, yang tidak berlaku
surut.
Peraturan Daerah tentang pajak harus mengatur ketentuan
mengenai:
a. nama, objek, dan Subjek Pajak;
b. dasar pengenaan, tarif, dan cara penghitungan pajak;
c. wilayah pemungutan;
d. Masa Pajak;
e. penetapan;
f. tata cara pembayaran dan penagihan;
g. kedaluwarsa;
h. sanksi administratif; dan
i. tanggal mulai berlakunya.

dan pembebasan dalam hal-hal tertentu atas pokok pajak dan/atau sanksinya. konsulat.PENETAPAN (lanjutan) Peraturan Daerah tentang Pajak dapat juga mengatur ketentuan mengenai: a. pemberian pengurangan. . keringanan. tata cara penghapusan piutang pajak yang kedaluwarsa. berupa pemberian pengurangan. keringanan. dan/atau c. asas timbal balik. b. dan perwakilan negara asing sesuai dengan kelaziman internasional. dan pembebasan pajak kepada kedutaan.

penerbitan Surat Ketetapan Pajak Daerah . 2. penetapan wajib pajak. subjek pajak. c. penetapan Nomor Pokok Wajib Pajak Daerah. b. dan wajib pajak. Identifikasi sumber-sumber pajak daerah  kegiatan yang dilakukan berupa Identifikasi objek pajak. Administrasi pajak daerah  Kegiatan yang akan dilakukan meliputi: a. penentuan jumlah pajak. d.MANAJEMEN PAJAK DAERAH 1.

Tujuan pembuatan satu pintu untuk pemasukan pendapatan adalah untuk memudahkan pengendalian dan pengawasan pendapatan. Pencatatan akuntansi pajak daerah  Penerimaan pajak diadministrasikan dalam buku akuntansi. Alokasi pendapatan daerah  pengambilan keputusan untuk menggunakan dana yang ada untuk membiayai pengeluaran daerah yang dilakukan . MANAJEMEN PAJAK DAERAH (lanjutan) 3. penagihan dan pengumpulan dari wajib pajak daerah. Pemungutan pajak daerah  penarikan. buku besar penerimaan per rincian objek pajak. 4.  Setiap penerimaan pajak harus segera disetor ke rekening kas umum daerah pada hari itu juga/ paling lambat sehari setelah diterimanya pendapatan tersebut. buku pembantu. Untuk menampung seluruh sumber pendapatan perlu dibuat satu rekening tunggal (treasury single account). berupa jurnal kas. Kemudian buku catatan akuntansi tersebut akan diringkas dan dilaporkan dalam laporan keuangan pemerintah daerah. pemungutan. 5.

efisien dan efektis. Peningkatan transparasi dan akuntabilitas manajemen pendapatan daerah. Perluasan basis penerimaan 2. Peningkatan efisiensi administrasi pendapatan 4. Pengendalian atas kebocoran pendapatan 3. . Manajemen perpajakan daerah harus mampu menciptakan sistem pemungutan yang ekonomis.PRINSIP DASAR 1. Pemda harus memastikan bahwa penerimaan pajak lebih besar dari biaya pemungutannya dan Pemda perlu menjaga stabilitas penerimaan pajak terebut.

JENIS PAJAK Pajak Provinsi Pajak Daerah .

Pajak Provinsi Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor Pajak Air Permukaan Pajak Rokok .

Pajak Kendaraan Bemotor .

Pajak Kendaraan Bemotor (lanjutan) .

Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor .

Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (lanjutan) .

Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor .

Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (lanjutan) .

Pajak Air Permukaan .

Pajak Air Permukaan (lanjutan) .

Pajak Rokok .

Pajak Rokok (lanjutan) .

PAJAK KABUPATEN .

dan  jasa biro perjalanan atau perjalanan wisata yang diselenggarakan oleh Hotel yang dapat dimanfaatkan oleh umum. dan sejenisnya. panti jompo. Tidak termasuk objek Pajak Hotel sebagaimana dimaksud adalah: jasa tempat tinggal asrama yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah. internet. dan fasilitas sejenis lainnya yang disediakan atau dikelola Hotel )sebagai kelengkapan Hotel yang sifatnya memberikan kemudahan dan kenyamanan. teleks. panti asuhan. termasuk jasa penunjang (fasilitas telepon. pelayanan cuci. jasa tempat tinggal di rumah sakit.Pajak Hotel Objek Pajak Hotel adalah pelayanan yang disediakan oleh Hotel dengan pembayaran. kondominium. dan panti sosial lainnya yang sejenis. termasuk fasilitas olahraga dan hiburan. . seterika. jasa sewa apartemen.  jasa tempat tinggal di pusat pendidikan atau kegiatan keagamaan. fotokopi. faksimile. transportasi. asrama perawat.

Dasar pengenaan Pajak Hotel adalah jumlah pembayaran atau yang seharusnya dibayar kepada Hotel. . Tarif Pajak Hotel ditetapkan paling tinggi sebesar 10% (sepuluh persen) ditetapkan dengan Peraturan Daerah.

Tidak termasuk objek Pajak Restoran adalah pelayanan yang disediakan oleh Restoran yang nilai penjualannya tidak melebihi batas tertentu yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah.Pajak Restoran Objek Pajak Restoran adalah pelayanan yang disediakan oleh Restoran. Pelayanan yang disediakan Restoran meliputi pelayanan penjualan makanan dan/atau minuman yang dikonsumsi oleh pembeli. . baik dikonsumsi di tempat pelayanan maupun di tempat lain.

ditetapkan dengan Peraturan Daerah. . Tarif Pajak Restoran ditetapkan paling tinggi sebesar 10% (sepuluh persen).Dasar pengenaan Pajak Restoran adalah jumlah pembayaran yang diterima atau yang seharusnya diterima Restoran.

dan pusat kebugaran (fitness center). dan sejenisnya. dan/atau busana. dan sejenisnya. pagelaran kesenian. permainan bilyar. kontes kecantikan. musik. panti pijat. akrobat. sirkus. tari. pameran. . pacuan kuda. mandi uap/spa. golf. binaraga. dan boling. diskotik. dan pertandingan olahraga. refleksi. karaoke. dan sulap. dan permainan ketangkasan. Hiburan adalah: tontonan film.Pajak Hiburan Objek Pajak Hiburan adalah jasa penyelenggaraan Hiburan dengan dipungut bayaran. kendaraan bermotor. klab malam.

diskotik. Khusus Hiburan kesenian rakyat/tradisional dikenakan tarif Pajak Hiburan ditetapkan paling tinggi sebesar 10% (sepuluh persen). klab malam. dan mandi uap/spa. Tarif Pajak Hiburan ditetapkan paling tinggi sebesar 35% (tiga puluh lima persen). karaoke. panti pijat.Tarif Pajak Hiburan ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Jumlah uang yang seharusnya diterima termasuk potongan harga dan tiket cuma-cuma yang diberikan kepada penerima jasa Hiburan. tarif Pajak Hiburan dapat ditetapkan paling tinggi sebesar 75% (tujuh puluh lima persen).Dasar pengenaan Pajak Hiburan adalah jumlah uang yang diterima atau yang seharusnya diterima oleh penyelenggara Hiburan. permainan ketangkasan. Khusus untuk Hiburan berupa pagelaran busana. kontes kecantikan. .

Reklame apung. meliputi: Reklame papan/billboard/videotron/megatron dan sejenisnya. Reklame melekat. Reklame udara. Reklame berjalan. termasuk pada kendaraan. stiker. Reklame film/slide. dan Reklame peragaan.Pajak Reklame Objek Pajak Reklame adalah semua penyelenggaraan Reklame. Reklame kain. Reklame selebaran. . Reklame suara.

dan sejenisnya.Tidak termasuk sebagai objek Pajak Reklame adalah: penyelenggaraan Reklame melalui internet. televisi. yang berfungsi untuk membedakan dari produk sejenis lainnya. warta harian. . dan penyelenggaraan Reklame lainnya yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah. label/merek produk yang melekat pada barang yang diperdagangkan. warta bulanan. nama pengenal usaha atau profesi yang dipasang melekat pada bangunan tempat usaha atau profesi diselenggarakan sesuai dengan ketentuan yang mengatur nama pengenal usaha atau profesi tersebut. Reklame yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah. radio. warta mingguan.

Nilai Sewa Reklame dihitung dengan memperhatikan faktor jenis. Dalam hal Nilai Sewa Reklame tidak diketahui dan/atau dianggap tidak wajar. jangka waktu penyelenggaraan. Tarif Pajak Reklame ditetapkan dengan Peraturan Daerah. waktu. Dalam hal Reklame diselenggarakan oleh pihak ketiga. Nilai Sewa Reklame ditetapkan dengan menggunakan faktor-faktor . Dalam hal Reklame diselenggarakan sendiri. dan ukuran media Reklame. lokasi penempatan. bahan yang digunakan.Tarif Pajak Reklame ditetapkan paling tinggi sebesar 25% (dua puluh lima persen). jumlah. Dasar pengenaan Pajak Reklame adalah Nilai Sewa Reklame. Nilai Sewa Reklame ditetapkan berdasarkan nilai kontrak Reklame.

Listrik yang dihasilkan sendiri meliputi seluruh pembangkit listrik. dan penggunaan tenaga listrik lainnya yang diatur dengan Peraturan Daerah. Dikecualikan dari objek Pajak Penerangan Jalan adalah: penggunaan tenaga listrik oleh instansi Pemerintah dan Pemerintah Daerah.Pajak Penerangan Jalan Objek Pajak Penerangan Jalan adalah penggunaan tenaga listrik. baik yang dihasilkan sendiri maupun yang diperoleh dari sumber lain. konsulat. penggunaan tenaga listrik yang dihasilkan sendiri dengan kapasitas tertentu yang tidak memerlukan izin dari instansi teknis terkait. . dan perwakilan asing dengan asas timbal balik. penggunaan tenaga listrik pada tempat-tempat yang digunakan oleh kedutaan.

jangka waktu pemakaian listrik.Penggunaan tenaga listrik yang dihasilkan sendiri. Tarif Pajak Penerangan Jalan ditetapkan dengan Peraturan Daerah.Dasar pengenaan Pajak Penerangan Jalan adalah Nilai Jual Tenaga Listrik. tingkat penggunaan listrik.  Tarif Pajak Penerangan Jalan ditetapkan paling tinggi sebesar 10% (sepuluh persen). tariff Pajak Penerangan Jalan ditetapkan paling tinggi sebesar 1. Nilai Jual Tenaga Listrik ditetapkan: dalam hal tenaga listrik berasal dari sumber lain dengan pembayaran. pertambangan minyak bumi dan gas alam. Penggunaan tenaga listrik dari sumber lain oleh industri.5% (satu koma lima persen). dan harga satuan listrik yang berlaku di wilayah Daerah yang bersangkutan. . tarif Pajak Penerangan Jalan ditetapkan paling tinggi sebesar 3% (tiga persen). dalam hal tenaga listrik dihasilkan sendiri. Nilai Jual Tenaga Listrik adalah jumlah tagihan biaya beban/tetap ditambah dengan biaya pemakaian kWh/variabel yang ditagihkan dalam rekening listrik. Nilai Jual Tenaga Listrik dihitung berdasarkan kapasitas tersedia.

. batu tulis.Pajak Mineral Objek Pajak Bukan Mineral Bukan LogamLogam dan Batuandan adalahBatuan kegiatan pengambilan Mineral Bukan Logam dan Batuan yang meliputi:  asbes. dolomit. batu apung. batu permata. garam batu (halite). grafit. batu kapur. batu setengah permata. feldspar. bentonit.

penanaman kabel listrik/telepon. yang tidak dimanfaatkan secara komersial.Dikecualikan dari objek Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan adalah: kegiatan pengambilan Mineral Bukan Logam dan Batuan yang nyata-nyata tidak dimanfaatkan secara komersial. dan pengambilan Mineral Bukan Logam dan Batuan lainnya yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah. penanaman pipa air/gas. kegiatan pengambilan Mineral Bukan Logam dan Batuan yang merupakan ikutan dari kegiatan pertambangan lainnya. pemancangan tiang listrik/telepon. . seperti kegiatan pengambilan tanah untuk keperluan rumah tangga.

Tarif Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan ditetapkan paling tinggi sebesar 25% (dua puluh lima persen). digunakan harga standar yang ditetapkan oleh instansi yang berwenang dalam bidang pertambangan Mineral Bukan Logam dan Batuan.Dasar pengenaan Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan adalah Nilai Jual Hasil Pengambilan Mineral Bukan Logam dan Batuan. Nilai pasar harga rata-rata yang berlaku di lokasi setempat di wilayah daerah yang bersangkutan. Tarif Pajak Mineral Bukan Logam dan Batan ditetapkan dengan Peraturan Daerah. . Nilai jual dihitung dengan mengalikan volume/tonase hasil pengambilan dengan nilai pasar atau harga standar masing-masing jenis Mineral Bukan Logam dan Batuan. Dalam hal nilai pasar dari hasil produksi Mineral Bukan Logam dan Batuan sulit diperoleh.

penyelenggaraan tempat Parkir oleh perkantoran yang hanya digunakan untuk karyawannya sendiri. termasuk penyediaan tempat penitipan kendaraan bermotor. . dan penyelenggaraan tempat Parkir lainnya yang diatur dengan Peraturan Daerah. konsulat.Pajak Parkir Objek Pajak Parkir adalah penyelenggaraan tempat Parkir di luar badan jalan. baik yang disediakan berkaitan dengan pokok usaha maupun yang disediakan sebagai suatu usaha. Tidak termasuk objek pajak adalah: penyelenggaraan tempat Parkir oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah. penyelenggaraan tempat Parkir oleh kedutaan. dan perwakilan negara asing dengan asas timbal balik.

.Dasar pengenaan Pajak Parkir adalah jumlah pembayaran atau yang seharusnya dibayar kepada penyelenggara tempat Parkir. Dasar pengenaan Pajak Parkir dapat ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Tarif Pajak Parkir ditetapkan paling tinggi sebesar 30% (tiga puluh persen). Jumlah yang seharusnya dibayar termasuk potongan harga Parkir dan Parkir cuma-cuma yang diberikan kepada penerima jasa Parkir.

serta peribadatan. .Pajak Air Tanah Objek Pajak Air Tanah adalah pengambilan dan/atau pemanfaatan Air Tanah. Dikecualikan dari objek Pajak Air Tanah adalah: pengambilan dan/atau pemanfaatan Air Tanah untuk keperluan dasar rumah tangga. dan pengambilan dan/atau pemanfaatan Air Tanah lainnya yang diatur dengan Peraturan Daerah. pengairan pertanian dan perikanan rakyat.

Tarif Pajak Air Tanah ditetapkan paling tinggi sebesar 20% (dua puluh persen). . Tarif Pajak Air Tanah ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Penggunaan faktor-faktor disesuaikan dengan kondisi masing-masing Daerah.Besarnya Nilai Perolehan Air Tanah ditetapkan dengan Peraturan Bupati/Walikota. dan tingkat kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh pengambilan dan/atau pemanfaatan air. volume air yang diambil dan/atau dimanfaatkan. lokasi sumber air. Nilai Perolehan Air Tanah dinyatakan dalam rupiah yang dihitung dengan mempertimbangkan sebagian atau seluruh faktor-faktor berikut: jenis sumber air. kualitas air.Dasar pengenaan Pajak Air Tanah adalah Nilai Perolehan Air Tanah. tujuan pengambilan dan/atau pemanfaatan air.

Pajak Sarang Burung Walet Objek Pajak Sarang Burung Walet adalah pengambilan dan/atau pengusahaan Sarang Burung Walet. Tidak termasuk objek pajak adalah: pengambilan Sarang Burung Walet yang telah dikenakan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). kegiatan pengambilan dan/atau pengusahaan Sarang Burung Walet lainnya yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah. .

Nilai Jual Sarang Burung Walet dihitung berdasarkan perkalian antara harga pasaran umum Sarang Burung Walet yang berlaku di daerah yang bersangkutan dengan volume Sarang Burung Walet. Tarif Pajak Sarang Burung Walet ditetapkan dengan Peraturan Daerah. . Tarif Pajak Sarang Burung Walet ditetapkan paling tinggi sebesar 10% (sepuluh persen).Dasar pengenaan Pajak Sarang Burung Walet adalah Nilai Jual Sarang Burung Walet.

kolam renang. dan menara. tempat penampungan/kilang minyak. Termasuk dalam pengertian Bangunan adalah: jalan lingkungan yang terletak dalam satu kompleks bangunan seperti hotel. dan/atau dimanfaatkan oleh orang pribadi atau Badan. . perhutanan. kecuali kawasan yang digunakan untuk kegiatan usaha perkebunan. tempat olahraga. air dan gas. pipa minyak. pabrik. pagar mewah.Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan Objek Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan adalah Bumi dan/atau Bangunan yang dimiliki. jalan tol. taman mewah. galangan kapal. dermaga. dan emplasemennya. dan pertambangan. dikuasai. yang merupakan suatu kesatuan dengan kompleks Bangunan tersebut.

tanah penggembalaan yang dikuasai oleh desa. sosial.Objek Pajak yang tidak dikenakan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan adalah objek pajak yang: digunakan oleh Pemerintah dan Daerah untuk penyelenggaraan pemerintahan. dan digunakan oleh badan atau perwakilan lembaga internasional yang ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan. pendidikan dan kebudayaan nasional. merupakan hutan lindung. hutan suaka alam. dan tanah negara yang belum dibebani suatu hak. taman nasional. peninggalan purbakala. yang tidak dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan. hutan wisata. digunakan semata-mata untuk melayani kepentingan umum di bidang ibadah. kesehatan. . digunakan untuk kuburan. digunakan oleh perwakilan diplomatik dan konsulat berdasarkan asas perlakuan timbal balik. atau yang sejenis dengan itu.

3% (nol koma tiga persen).000.00 (sepuluh juta rupiah) untuk setiap Wajib Pajak. Tarif Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Besarnya NJOP ditetapkan setiap 3 (tiga) tahun.Besarnya Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak ditetapkan paling rendah sebesar Rp10. Besaran pokok Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tariff dengan dasar pengenaan pajak setelah dikurangi Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak. Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak ditetapkan dengan Peraturan Daerah.Penetapan besarnya NJOP dilakukan oleh Kepala Daerah. Saat yang menentukan pajak yang terutang adalah menurut keadaan objek pajak pada tanggal 1 Januari. Dasar pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan adalah NJOP. kecuali untuk objek pajak tertentu dapat ditetapkan setiap tahun sesuai dengan perkembangan wilayahnya. . Tahun Pajak adalah jangka waktu 1 (satu) tahun kalender. Tarif Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan ditetapkan paling tinggi sebesar 0. Tempat pajak yang terutang adalah di wilayah daerah yang meliputi letak objek pajak.000.

atau di luar pelepasan hak. waris.Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Objek Pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan. penunjukan pembeli dalam lelang. pemberian hak baru karena: kelanjutan pelepasan hak. hibah. .Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan meliputi: pemindahan hak karena: jual beli. pemekaran usaha. hibah wasiat. pelaksanaan putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap. atau hadiah. pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan. tukar menukar. peleburan usaha. penggabungan usaha. pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lain.

negara untuk penyelenggaraan pemerintahan dan/atau untuk pelaksanaan pembangunan guna kepentingan umum. orang pribadi atau Badan karena wakaf. hak guna usaha. badan atau perwakilan lembaga internasional yang ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan dengan syarat tidak menjalankan usaha atau melakukan kegiatan lain di luar fungsi dan tugas badan atau perwakilan organisasi tersebut. Objek pajak yang tidak dikenakan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah objek pajak yang diperoleh: perwakilan diplomatik dan konsulat berdasarkan asas perlakuan timbal balik.Hak atas tanah adalah: hak milik. orang pribadi atau Badan karena konversi hak atau karena perbuatan hukum lain dengan tidak adanya perubahan nama. hak guna bangunan. dan orang pribadi atau Badan yang digunakan untuk kepentingan ibadah. dan hak pengelolaan. hak milik atas satuan rumah susun. hak pakai. .

hibah wasiat adalah nilai pasar. peleburan usaha adalah nilai pasar. hadiah adalah nilai pasar. Nilai Perolehan Objek Pajak dalam hal: jual beli adalah harga transaksi. peralihan hak karena pelaksanaan putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap adalah nilai pasar. waris adalah nilai pasar. pemasukan dalam peseroan atau badan hukum lainnya adalah nilai pasar. hibah adalah nilai pasar. pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan adalah nilai pasar.Dasar pengenaan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah Nilai Perolehan Objek Pajak. penggabungan usaha adalah nilai pasar. . dan/atau penunjukan pembeli dalam lelang adalah harga transaksi yang tercantum dalam risalah lelang. pemberian hak baru atas tanah sebagai kelanjutan dari pelepasan hak adalah nilai pasar. pemekaran usaha adalah nilai pasar. tukar menukar adalah nilai pasar. pemberian hak baru atas tanah di luar pelepasan hak adalah nilai pasar.

Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak ditetapkan dengan Peraturan Daerah.000. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang terutang dipungut di wilayah daerah tempat Tanah dan/atau Bangunan berada.Dalam hal perolehan hak karena waris atau hibah wasiat yang diterima orang pribadi yang masih dalam hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat ke atas atau satu derajat ke bawah dengan pemberi hibah wasiat.00 (enam puluh juta rupiah) untuk setiap Wajib Pajak.00 (tiga ratus juta rupiah). Besaran pokok Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif dengan dasar pengenaan pajak setelah dikurangi Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak.000. Tarif Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan ditetapkan paling tinggi sebesar 5% (lima persen).Besarnya Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak ditetapkan paling rendah sebesar Rp60.000.000. Tarif Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak ditetapkan paling rendah sebesar Rp300. termasuk suami/istri. . dasar pengenaan yang dipakai adalah NJOP Pajak Bumi dan Bangunan.Jika Nilai Perolehan Objek Pajak tidak diketahui atau lebih rendah daripada NJOP yang digunakan dalam pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan pada tahun terjadinya perolehan.

PEMUNGUTAN PAJAK .

SKPDN jika jumlah pajak yang terutang sama besarnya dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak. Setiap Wajib Pajak wajib membayar Pajak yang terutang berdasarkan surat ketetapan pajak atau dibayar sendiri oleh Wajib Pajak berdasarkan peraturan perundangundangan perpajakan. SKPDKB.Tata Cara Pemungutan Pemungutan Pajak dilarang diborongkan. Dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sesudah saat terutangnya pajak. Wajib Pajak yang memenuhi kewajiban perpajakan sendiri dibayar dengan menggunakan SPTPD. . pajak yang terutang dihitung secara jabatan. SKPDKBT jika ditemukan data baru dan/atau data yang semula belum terungkap yang menyebabkan penambahan jumlah pajak yang terutang. Kepala Daerah dapat menerbitkan: SKPDKB dalam hal: jika berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain. dan/atau SKPDKBT. jika kewajiban mengisi SPTPD tidak dipenuhi. pajak yang terutang tidak atau kurang dibayar. jika SPTPD tidak disampaikan kepada Kepala Daerah dalam jangka waktu tertentu dan setelah ditegur secara tertulis tidak disampaikan pada waktunya sebagaimana ditentukan dalam surat teguran. WajibPajak yang memenuhi kewajiban perpajakan berdasarkan penetapan Kepala Daerah dibayar dengan menggunakan SKPD atau dokumen lain yang dipersamakan berupa karcis dan nota perhitungan.

.Surat Tagihan Pajak Kepala Daerah dapat menerbitkan STPD jika:  pajak dalam tahun berjalan tidak atau kurang dibayar. Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam STPD ditambah dengan sanksi administratif berupa bunga sebesar 2% (dua persen) setiap bulan untuk paling lama 15 (lima belas) bulan sejak saat terutangnya pajak.  Wajib Pajak dikenakan sanksi administratif berupa bunga dan/atau denda.  dari hasil penelitian SPTPD terdapat kekurangan pembayaran sebagai akibat salah tulis dan/atau salah hitung. SKPD yang tidak atau kurang dibayar setelah jatuh tempo pembayaran dikenakan sanksi administratif berupa bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan dan ditagih melalui STPD.

STPD. SKPDKBT. SKPDKB. Surat Keputusan Keberatan. yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah merupakan dasar penagihan pajak dan harus dilunasi dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan sejak tanggal diterbitkan. dan Putusan Banding yang tidak atau kurang dibayar oleh Wajib Pajak pada waktunya .Tata Cara Pembayaran dan Penagihan  Kepala Daerah menentukan tanggal jatuh tempo pembayaran dan penyetoran pajak yang terutang paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja setelah saat terutangnya pajak dan paling lama 6 (enam) bulan sejak tanggal diterimanya SPPT oleh Wajib Pajak. Surat Keputusan Pembetulan. SKPDKBT. SKPD. tempat pembayaran. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembayaran. SKPDKB.  SPPT. Surat Keputusan Keberatan. STPD. SKPD. dan penundaan pembayaran pajak diatur dengan Peraturan Kepala Daerah. dan Putusan Banding. penyetoran. angsuran. Surat Keputusan Pembetulan.  Kepala Daerah atas permohonan Wajib Pajak setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan dapat memberikan persetujuan kepada Wajib Pajak untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak.  Pajak yang terutang berdasarkan SPPT. dengan dikenakan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan.

kecuali jika Wajib Pajak dapat menunjukkan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan di luar kekuasaannya. Keberatan yang tidak memenuhi persyaratan tidak dianggap sebagai Surat Keberatan sehingga tidak dipertimbangkan. SKPDKBT. dan Pemotongan atau pemungutan oleh pihak ketiga berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan perpajakan daerah. SKPD. Tanda penerimaan surat keberatan yang diberikan oleh Kepala Daerah atau pejabat yang ditunjuk atau tanda pengiriman surat keberatan melalui surat pos tercatat sebagai tanda bukti penerimaan surat keberatan. Keberatan dapat diajukan apabila Wajib Pajak telah membayar paling sedikit sejumlah yang telah disetujui Wajib Pajak. SKPDN.Keberatan dan Banding Wajib Pajak dapat mengajukan keberatan hanya kepada Kepala Daerah atau pejabat yang ditunjuk atas suatu: SPPT. . Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan sejak tanggal surat. tanggal pemotongan atau pemungutan. SKPDKB. SKPDLB. Keberatan diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan disertai alasan-alasan yang jelas.

Permohonan banding diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia. sejak tanggal Surat Keberatan diterima. Keputusan Kepala Daerah atas keberatan dapat berupa menerima seluruhnya atau sebagian. Pengajuan permohonan banding menangguhkan kewajiban membayar pajak sampai dengan 1 (satu) bulan sejak tanggal penerbitan Putusan Banding. harus memberi keputusan atas keberatan yang diajukan. dengan alasan yang jelas dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak keputusan diterima. Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan banding hanya kepada Pengadilan Pajak terhadap keputusan mengenai keberatannya yang ditetapkan oleh Kepala Daerah. Jika pengajuan keberatan atau permohonan banding dikabulkan sebagian atau seluruhnya. Apabila jangka waktu telah lewat dan Kepala Daerah tidak memberi suatu keputusan.Keberatan dan Banding Kepala Daerah dalam jangka waktu paling lama 12 (dua belas) bulan. dilampiri salinan dari surat keputusan keberatan tersebut. . atau menambah besarnya pajak yang terutang. kelebihan pembayaran pajak dikembalikan dengan ditambah imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan untuk paling lama 24 (dua puluh empat) bulan. keberatan yang diajukan tersebut dianggap dikabulkan. menolak.

SKPDKB. denda.Pembetulan. mengurangkan atau membatalkan SPPT. Kepala Daerah dapat membetulkan SPPT. SKPDKBT atau STPD. Pengurangan Ketetapan. SKPD. SKPDN atau SKPDLB yang dalam penerbitannya terdapat kesalahan tulis dan/atau kesalahan hitung dan/atau kekeliruan penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang-undangan perpajakan daerah. dan kenaikan pajak yang terutang menurut peraturan perundangundangan perpajakan daerah. membatalkan hasil pemeriksaan atau ketetapan pajak yang dilaksanakan atau diterbitkan tidak sesuai dengan tata cara yang ditentukan. SKPDKB. SKPDKBT atau STPD. . dalam hal sanksi tersebut dikenakan karena kekhilafan Wajib Pajak atau bukan karena kesalahannya. SKPDN atau SKPDLB yang tidak benar. SKPD. Kepala Daerah dapat: mengurangkan atau menghapuskan sanksi administratif berupa bunga. Pembatalan. dan Penghapusan atau Pengurangan Sanksi Administratif Atas permohonan Wajib Pajak atau karena jabatannya. dan mengurangkan ketetapan pajak terutang berdasarkan pertimbangan kemampuan membayar Wajib Pajak atau kondisi tertentu objek pajak. mengurangkan atau membatalkan STPD.

hasil penerimaan Pajak Air Permukaan diserahkan sebesar 50%. hasil penerimaan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor diserahkan sebesar 70%. hasil penerimaan Pajak Rokok diserahkan sebesar 70%.BAGI HASIL Dari provinsi kepada kabupaten/kota: hasil penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor sebesar 30%.khusus daerah sumber diserahkan sebesar 80% .